Lompat ke isi

Sumbermanjing Wetan, Malang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Sumbermanjing Wetan
Dari atas ke bawah, kiri ke kanan: Tebing di Pulau Sempu, Teluk Asmara, siput nudibranchia di Selat Sempu
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Timur
KabupatenMalang
Pemerintahan
  CamatSujarwo Ady Wijayanto, S.STP.
Populasi
 (2024)
  Total104.738 jiwa
Kode pos
65176
Kode Kemendagri35.07.04 Suntingan nilai di Wikidata
Kode BPS3507060 Suntingan nilai di Wikidata
Luas239,49 km²
Desa/kelurahan15
Peta
PetaKoordinat: 8°19′3″S 112°42′29″E / 8.31750°S 112.70806°E / -8.31750; 112.70806

Sumbermanjing Wetan (juga sering disingkat Sumawe) adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Malang yang terletak di perbukitan kapur Malang selatan. Wilayahnya luas dari perbatasan Sungai Lesti di utara hingga Samudera Hindia di selatan. Bagian selatan Sumawe terkenal dengan kawasan pesisirnya yang indah seperti Pantai Teluk Asmara, Goa Cina, dan Watu Leter.[1][2] Selain itu, juga ada Pantai Sendangbiru yang dikenal sebagai kawasan kampung nelayan terbesar dan paling produktif di Malang dengan adanya pelabuhan perikanan serta tempat pelelangan ikan.[3] Di seberang Sendangbiru, terdapat Pulau Sempu yang merupakan pulau kecil terbesar di Malang. Pulau Sempu merupakan cagar alam yang dilindungi sejak zaman kolonial pada tahun 1928, dan sampai sekarang ekosistemnya masih terjaga.[4]

Sumbermanjing Wetan memiliki jumlah umat Kristen Protestan terbesar di Kabupaten Malang yaitu sekitar 13 ribu jiwa sekaligus gereja protestan terbanyak yaitu 48 unit pada tahun 2022.[5] Salah satu desa yang menjadi pusat penyebaran agama kristen di Sumbermanjing Wetan adalah Desa Sitiarjo.[6]

Peta administrasi dan lokasi Sumbermanjing Wetan

Sumbermanjing Wetan adalah kecamatan yang terletak di perbukitan kapur Malang selatan. Wilayah ini rawan krisis air saat musim kering, tetapi sering banjir pada musim hujan.[7][8] Sumbermanjing Wetan memiliki banyak lahan perkebunan dan hutan yang ditanami komoditas seperti tebu, cengkeh, kakao, karet, dan lainnya. Salah satu kebun yang terkenal adalah Kebun Pancursari yang dikelola PTPN XII di Desa Ringinkembar dan Tegalrejo.[9] Sumbermanjing Wetan kaya akan bahan tambang terutama batu kapur. Salah satu perusahaan besar yang aktif di wilayah ini adalah PT. Gunung Bale.[10]

Pusat ekonomi kecamatan ini terletak di ujung utara, yaitu Desa Sumbermanjing Wetan yang terdapat pasar dan dilalui jalan menuju Turen yang menyeberangi jembatan di Sungai Lesti. Namun, juga ada pasar desa lain yang kecil tetapi berkontribusi pada ekonomi sekitar seperti Pasar Klepu di timur dan Pasar Sitiarjo di selatan.[11] Pantai-pantai di selatan Sumawe dapat mudah diakses dari arah Turen di utara maupun dari Gedangan di timur melalui Jalur Lintas Selatan (JLS). Beberapa pantai seperti Pantai Teluk Asmara dan Pantai Tiga Warna memiliki pasir putih dengan air yang jernih, serta terdapat pulau-pulau kecil serta terumbu karang sehingga dijuluki Raja Ampat mini.[12] Di antara pulau-pulau kecil tersebut, terdapat pulau yang jauh lebih besar dari pulau lainnya yaitu Pulau Sempu. Pulau ini merupakan pulau terbesar di Kabupaten Malang dengan luas sekitar 877 hektar. Pulau Sempu berstatus cagar alam dengan pemandangan yang eksotis serta lingkungan yang asri dan terjaga. Sebagai cagar alam, Pulau Sempu dilarang digunakan untuk wisata walaupun masih ada jasa penyeberangan dari Pantai Sendangbiru.[4]

Batas wilayah Kecamatan Sumbermanjing Wetan adalah sebagai berikut:[11]

UtaraKecamatan Turen dan Kecamatan Dampit
TimurKecamatan Dampit
SelatanSamudera Hindia
BaratKecamatan Gedangan

Daftar desa dan dusun

[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Sumbermanjing Wetan terdiri dari 15 desa yang dibagi menjadi beberapa dusun / dukuh / kampung. Salah satu desa di kecamatan ini yaitu Desa Sidoasri merupakan pemekaran dari Desa Tambakasri pada tahun 2007.[13] Desa dan kampung tersebut yakni sebagai berikut:[11]

No. Nama Desa Nama Dusun / Dukuh / Kampung Ref
1 Argotirto Krajan, Karet Kurung, Penguluran, Sumber Bende, Tempur, Wonorejo [11]
2 Druju Krajan, Ngembul, Sumbernanas, Wonorejo [11]
3 Harjokuncaran Krajan, Majapurna (Transad), Mulyosari, Sumberasin, Sumberpalung [11]
4 Kedungbanteng Krajan, Kedungbanteng Bawah, Bendosawit, Gregel, Gunung Gadung, Gunung Petik, Kampung Dam, Kedungmas, Klakah, Pondok Bote, Pondok Klabang, Ringin, Templek, Tempuran, Tumpak Rempelas [11]
5 Klepu Klepu, Prangas, Sumbergentong [11]
6 Ringinkembar Krajan, Argosari (Pager Gunung), Jamberejo (Jambedawe), Jambesari, Kampung Baru, Pancursari, Sumberjo (Sumbermas), Talangsari [11]
7 Ringinsari Krajan, Mbambang, Semampir, Sentongan, Sidodadi, Sidomukti [11]
8 Sekarbanyu Krajan, Balisuko, Tamanasri [11]
9[a] Sidoasri Tambakasri Kulon, Tambakasri Wetan, Gopet, Gunung Ireng, Sobrah [11]
10 Sitiarjo Krajan Kulon, Krajan Tengah, Krajan Wetan, Gunung Tumo, Kemudinan, Kulon Gunung, Palung, Pegat, Pulungrejo, Rowotrate, Sumberembag, Sumbergayam, Tadah Batok, Tumpak Nangklik, Tumpakrejo [14]
11 Sumberagung Krajan, Darungan, Gunung Sudo, Kampung Manggis, Tanjung [11]
12 Sumbermanjing Wetan Krajan / Pletes, Tlogosari [11]
13 Tambakasri Kali Bang, Sidomakmur, Sidomulyo, Sidorejo (Glondong), Sumberkembang, Sumbersekar [11]
14 Tambakrejo Jeding, Kampung Baru, Kampung Raas, Sendangbiru, Tamban [11]
15 Tegalrejo Tegalrejo, Bokorsari, Bumiasri, Bumirejo, Donorejo, Glagaharum, Mulyosari, Pakel, Sumbermanggis [11]
  1. Desa Sidoasri merupakan pemekaran dari Desa Tambakasri pada tahun 2007, setelah disahkan sebagai desa persiapan pada tahun 2005 berdasarkan Peraturan Bupati Nomor 13 tahun 2005.[13]

Tempat terkenal

[sunting | sunting sumber]
Pantai Tiga Warna
Mangrove di Pantai Clungup
Pulau Sempu

Wisata bahari dan konservasi

[sunting | sunting sumber]
  • Pasar Sumbermanjing Wetan (Sumawe)
  • Pasar Sitiarjo
  • Pasar Klepu
  • Puncak Sumawe dan Rest Area Pletes
  • PTPN XII Kebun Pancursari
  • Kebun Percobaan Sumber Asin - kebun kopi yang dikelola Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia Jember
  • Pos TNI AL (Posal) Sendangbiru
  • Puskesmas Sumbermanjing Wetan
Perkebunan kopi dan lada Sumber Kerto

Pada zaman kolonial Belanda, wilayah Sumawe banyak berdiri kawasan perkebunan. Di desa Harjokuncaran dahulu berdiri sebuah kawasan perkebunan bernama Telogorejo yang dikelola oleh perusahaan kolonial Belanda dengan mempekerjakan warga lokal. Komoditas utama di perkebunan tersebut antara lain kopi dan karet. Bahkan wilayah ini menjadi titik awal penyebaran kopi robusta di Indonesia. Saat ini kebun kopi di Harjokuncaran bertransformasi menjadi Kebun Percobaan Sumber Asin yang dikelola oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) Jember.[15] Pada tahun 1947, Belanda melancarkan agresi militer untuk merebut aset-aset jajahannya kembali. Warga Harjokuncaran membantu perjuangan dengan melakukan penebangan besar-besaran pohon karet di perkebunan agar tidak direbut Belanda. Pada tahun itu pula, Desa Harjokuncaran berdiri secara resmi yang mengambil nama dari seorang tokoh bernama Harjo Kuncoro. Harjokuncaran mencakup Dukuh Wonosari, Margomulyo, Banaran, dan Sumberpalung. Warga dan pihak perkebunan menggarap tanah masing-masing dengan patok batas yang jelas. Situasi ini berubah dengan adanya musyawarah Batu yang tidak melibatkan pihak desa pada tahun 1970 yang menyatakan bahwa lahan yang digarap masyarakat harus dikembalikan ke perkebunan.[16]

Pada tahun 1973, wilayah perkebunan dikuasai oleh Komando Daerah Militer V/Brawijaya yang dengan sigap membagi kavling perkebunan kepada perwira TNI AD.[16] Warga desa yang tidak tahu tentang keputusan ini akhirnya terpaksa meninggalkan rumah dan lahan garapannya. Mereka yang melawan dicap sebagai anggota PKI, misalnya 6 warga (termasuk kepala dusun Margomulyo) yang hilang tanpa jejak pada tahun 1986. Tercatat tiga dusun yaitu Margomulyo, Banaran, dan Wonosari ditinggalkan oleh warga sehingga sekarang telah dihapus, dan di lahan ini berdiri pemukiman baru bernama Transad Majapurna sedangkan Dusun Mulyosari masih bertahan. Dasar kepemilikan warga sebenarnya sudah diakui oleh Direktorat Jenderal Agraria pada 1 Desember 1981 mengeluarkan Surat Keputusan Nomor 190/DJA/1981 yang menyatakan tanah sengketa itu merupakan objek landreform dengan verponding (hak milik zaman Belanda) nomor 1289 dan 1290 yang seharusnya sudah diberikan ke 2.525 keluarga di tiga dusun dalam Desa Harjokuncaran.[17]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Firtian Ramadhani (2024-12-23). "Pantai Watu Leter Malang, Destinasi Menarik untuk Liburan Nataru". DETIK.
  2. Imam Abu (2025-01-05). "Keindahan Pantai Goa Cina Malang, Rute, Harga Tiket dan Daya Tariknya". HAI MALANG.
  3. Ida Ayu Githa Girindra (2020). "SENDANG BIRU TOURISM PENCIPTAAN VALUE CREATION SEBAGAI OPTIMALISASI PENGEMBANGAN POTENSI WISATA BAHARI BERBASIS PENTA HELIX MODEL". Widya Publika. 8 (2). Denpasar: Universitas Ngurah Rai.
  4. 1 2 Eko Widianto (2019-01-13). "BKSDA Tegaskan Cagar Alam Pulau Sempu Bukan Tempat Wisata". MONGABAY.
  5. Kabupaten Malang Dalam Angka 2023. BPS Kabupaten Malang. 2023-02-28.
  6. Siti A'isyah (2016). "Kabut di Ujung Pelangi: Identitas dan Potensi Konflik Keagamaan di Sitiarjo Malang". Hikmah: Journal of Islamic Studies. 12 (1). STAI Al-Hikmah Jakarta.
  7. Uki Rama (2024-10-07). "Ribuan Warga Kecamatan Sumbermanjing Wetan Malang Masih Alami Kekeringan". VIVA MALANG.
  8. Ashaq Lupito (2025-09-21). Yunan Helmy (ed.). "Luapan Sungai Panguluran Picu Banjir di Sumawe dan Gedangan". TULUNGAGUNG TIMES.
  9. Rahmaningtyas (2012). "STRATEGI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS CENGKEH PADA KEBUN PANCURSARI PTPN XII DI KECAMATAN SUMBERMANJING WETAN KABUPATEN MALANG" (PDF). Repository BKG (Brawijaya Knowledge Garden). Malang: Universitas Brawijaya.
  10. Gindang Rain Pratama (2022). "Penerapan Good Mining Practice Di PT. Gunung Bale, Malang, Jawa Timur". Media Ilmiah Teknik Lingkungan (MITL). 7 (2). Universitas Muhammadiyah Palangkaraya.
  11. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Kabupaten Malang Dalam Angka Tahun 2015. BPS Kabupaten Malang. 2015-11-27.
  12. Nana (2017-06-01). Lazuardi Firdaus (ed.). "Raja Ampat-nya Jawa, Pantai Tiga Warna Curi Perhatian API 2017". MALANG TIMES.
  13. 1 2 "PENGESAHAN PEMBENTUKAN DESA PERSIAPAN SIDOASRI SEBAGAI PEMECAHAN DESA TAMBAK ASRI KEC SUMBERMANJING WETAN". jdihdprd.malangkab.go.id. Pemerintah Kabupaten Malang. 2005. Diakses tanggal 2025-09-23.
  14. Nenin Al Alaz (2017). "REVITALISASI SEJARAH LOKAL BERBASIS SEJARAH PERKEMBANGAN SITIARJO SEBAGAI BENTUK PENANAMAN NILAI-NILAI MULTIKULTURALISME DAN MENUMBUHKAN KESADARAN NASIONAL" (PDF). PROSIDING NASIONAL SEJARAH INDONESIA: CERDAS DAN HUMANIS DI ERA DIGITAL. Yogyakarta: SANATA DHARMA UNIVERSITY PRESS.
  15. Aisyah Nawangsari (2022-05-21). "Desa Harjokuncaran, Cikal Bakal Kopi Robusta di Indonesia". TUGU MALANG.
  16. 1 2 Karnaji (2003). "Konflik Tanah Perkebunan di Malang Selatan" (PDF). Masyarakat, Kebudayaan, dan Politik (4). Surabaya: Universitas Airlangga.
  17. Abdi Purnomo (2012-07-19). "Warga Harjokuncaran Datangi Kantor BPN Malang". TEMPO.