Cacarakan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Cacarakan
ꦕꦕꦫꦏꦤ꧀
Aksara Sunda Cacarakan[1]
Aksara Sunda Basisir Kalér[2]
Aksara Sunda Jawa[3]
Ngalagena or Consonants in Cacarakan Script.svg
Jenis aksara
BahasaBahasa Sunda Priangan
Periode
abad ke-18 hingga 20
Aksara terkait
Silsilah
Menurut hipotesis hubungan antara abjad Aramea dengan Brahmi, maka silsilahnya sebagai berikut:
Dari aksara Brahmi diturunkanlah:
Aksara kerabat
Carakan Madura
 Artikel ini mengandung transkripsi fonetik dalam Alfabet Fonetik Internasional (IPA). Untuk bantuan dalam membaca simbol IPA, lihat Bantuan:IPA. Untuk penjelasan perbedaan [ ], / / dan  , Lihat IPA § Tanda kurung dan delimitasi transkripsi.

Cacarakan adalah sebutan untuk aksara Jawa yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa Sunda yang terutama pernah digunakan di wilayah yang sekarang merupakan bekas keresidenan Priangan.[4] Jenis aksara seperti ini sempat digunakan untuk menulis bahasa Sunda terutama dialek Priangan pada sekitar abad ke-18 sampai awal abad ke-20.[5] Sekarang, aksara ini sudah tidak digunakan lagi dan keberadaannya tergantikan oleh aksara Sunda Baku.[6][7]

Etimologi dan Penamaan[sunting | sunting sumber]

Dalam bahasa Sunda Cacarakan memiliki makna "meniru-niru aksara Carakan/Jawa". Dari sudut pandang tata bahasa Sunda Istilah "cacarakan" tebentuk dari kata dasar "caraka" yang mengalami proses reduplikasi dengan dwipurwa yang ditambah akhiran -an.[8]

Penamaan aksara ini kemudian lambat laun berubah penyebutannya seiring dengan meluasnya penggunaan aksara ini di Tatar Sunda, sehingga aksara ini juga disebut sebagai aksara Sunda, penamaan ini berawal dari buku karya G.J Grashuis yang berjudul "Handleiding voor Aanleren van het Soendaneesch Letterschrift" (Buku Petunjuk untuk Belajar Aksara Sunda) yang berisi tentang pedoman untuk menuliskan bahasa Sunda menggunakan aksara Cacarakan yang diterbitkan pada tahun 1860.[9]

Perbedaan dengan Aksara Carakan Jawa[sunting | sunting sumber]

Terdapat beberapa perbedaan ortografi antara Cacarakan (Sunda) dengan Carakan (Jawa), yaitu:[3]

  • Vokal [ɨ] <eu> ditulis sebagai◌ꦼꦴ atau◌ꦼꦵ, yang disebut sebagai paneuleung dalam Cacarakan (vokal ini tidak terdapat dalam Carakan).
  • Vokal Mandiri yang terdapat di awal kata dalam Cacarakan ditulis dengan aksara sora (bahasa Jawa: aksara swara). Misalnya dalam Carakan, untuk menuliskan kata aksara, dapat diwakili dengan huruf /ha/ menjadi /haksara/ walaupun tetap dibaca sebagai aksara, sedangkan dalam Cacarakan tidak mengalami perubahan sehingga tetap ditulis sebagai /aksara/ untuk dibaca sebagai aksara.
  • Vokal Mandiri [i] ditulis sebagaiꦄꦶ dalam Cacarakan. Meskipun, bisa juga ditulis sebagaimana vokal i dalam aksara Carakan pada umumnya.
  • Konsonan [ɲ] <ny> ditulis sebagaiꦤꦾ untuk ngalagéna yang berdiri sendiri, sedangkan untuk pasangan diakritik ditulis sebagai◌꧀ꦚ. Aksara dalam Carakan tidak digunakan dalam Cacarakan.

Selain itu, jika dalam Carakan Jawa terdapat sebanyak 20 huruf konsonan, maka dalam Cacarakan Sunda hanya ada 18 huruf konsonan (aksara <dha> dan <tha> tidak dipakai dalam Cacarakan) walaupun pada kenyataanya bentuk ortografi aksara <dha> pada Carakan digunakan untuk menggantikan bentuk ortografi aksara <da> pada Cacarakan.[10] Untuk melihat perbedaan keduanya dengan lebih jelas, perhatikan tabel di bawah ini:

Aksara Ngalagéna
Bunyi Cacarakan Carakan Bunyi Cacarakan Carakan
ha pa
na dha -
ca ja
ra ya
ka nya ꦤꦾ
da ma
ta ga
sa ba
wa tha -
la nga

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa bentuk aksara /dha/ pada Carakan digunakan untuk merepresentasikan bunyi "da" dalam Cacarakan. Sedangkan untuk merepresentasikan bunyi "nya", digunakan huruf /na/ yang ditambahkan dengan pengkal dalam Carakan atau pamingkal dalam Cacarakan. Untuk pasangan huruf yang lainnya, Cacarakan tetap menggunakan pasangan yang sama dengan yang terdapat pada Carakan. Hanya saja saat pemberian sandhangan (Carakan) atau rarangkén (Cacarakan) menggunakan aturan yang dimodifikasi untuk merepresentasikan bunyi vokal pada bahasa Sunda.[10]

Ngalagena (konsonan)
Latin ka ga nga ca ja nya ta da na pa ba ma ya ra la wa sa ha
Cacarakan ꦤꦾ
Pasangan ꧀ꦏ ꧀ꦒ ꧀ꦔ ꧀ꦕ ꧀ꦗ ◌꧀ꦚ ꧀ꦠ ꧀ꦣ ꧀ꦤ ꧀ꦥ ꧀ꦧ ꧀ꦩ ꧀ꦪ ꧀ꦫ ꧀ꦭ ꧀ꦮ ꧀ꦱ ꧀ꦲ
Aksara Sora (vokal)
Latin a i u é o e eu
Cacarakan ꦄꦶ /ꦆ ꦄꦼ ꦄꦼꦴ/ꦄꦼꦵ
Pasangan ◌꧀ꦲ꦳ ◌꧀ꦲ꦳ꦶ ◌꧀ꦲ꦳ꦸ ꦺ꧀ꦲ꦳ ◌꧀ꦲ꦳ꦴ ◌꧀ꦲ꦳ꦼ ◌꧀ꦲ꦳ꦼꦴ/◌꧀ꦲ꦳ꦼꦵ

Dalam aksara sora, huruf /i/ ditulis dengan rangkaian huruf /a/ yang ditambah dengan wulu (Carakan) atau panghulu (Cacarakan). Dalam Carakan tidak ada vokal khusus yang digunakan untuk bunyi /e/ (pepet), sedangkan dalam Cacarakan huruf /e/ pepet ditulis secara mandiri dengan menuliskan rangkaian huruf /a/ yang ditambah dengan pepet (Carakan) atau pamepet (Cacarakan). Vokal lain yang hanya terdapat dalam Cacarakan adalah vokal yang digunakan untuk merepresentasikan bunyi [ö] atau huruf /eu/ yang cukup dominan digunakan dalam bahasa Sunda. Huruf /eu/ ditulis dengan rangkaian huruf /a/ ditambah dengan tarung (Carakan) dan pepet (Carakan) yang disebut sebagai paneuleung dalam Cacarakan.[11][3]

Rarangkén (diakritik)
Latin -a panghulu (-i) panyuku (-u) panéléng (-é) panolong (-o) pamepet (-e) paneuleung (-eu) panyecek (-ng) pangwisad (-h) panglayar (-r) pamingkal (-y-) panyakra (-r-) pamaéh (ø)
Cacarakan - ꦴ/ꦵ ◌ꦼꦴ /◌ꦼꦵ ꦿ
Latin ka ki ku ko ke keu kang kah kar kya kra k
Cacarakan ꦏꦶ ꦏꦸ ꦏꦺ ꦏꦺꦴ ꦏꦼ ꦏꦼꦴ/ꦏꦼꦵ ꦏꦁ ꦏꦃ ꦏꦂ ꦏꦾ ꦏꦿ ꦏ꧀
Wilangan (angka)
Angka Arab 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
enol hiji dua tilu opat lima genep tujuh dalapan salapan
Cacarakan
ꦄꦼꦤꦺꦴꦭ꧀ ꦲꦶꦗꦶ ꦢꦸꦮ ꦠꦶꦭꦸ ꦲꦺꦴꦥꦠ꧀ ꦭꦶꦩ ꦒꦼꦤꦼꦥ꧀ ꦠꦸꦗꦸꦃ ꦢꦭꦥꦤ꧀ ꦱꦭꦥꦤ꧀
Pungtuasi
Cacarakan koma

(koma)

titik

(titik)

pipa

(pembatas angka)

adeg-adeg

(tanda mulai)

Contoh[sunting | sunting sumber]

UDHR Pasal 1:

Sakumna jalma gubrag ka alam dunya téh sipatna merdika jeung boga martabat katut hak-hak anu sarua. Maranéhna dibéré akal jeung haté nurani, campur-gaul jeung sasamana aya dina sumanget duduluran.
ꦱꦏꦸꦩ꧀ꦤ​ꦗꦭ꧀ꦩ​ꦒꦸꦧꦿꦒ꧀​ꦏ​ꦄꦭꦩ꧀​ꦝꦸꦤꦾ​ꦠꦺꦃ​ꦱꦶꦥꦠ꧀ꦤ​ꦩꦼꦂꦝꦶꦏ​ꦗꦼꦵꦁ​ꦧꦺꦴꦒ​ꦩꦂꦠꦧꦠ꧀​ꦏꦠꦸꦠ꧀​ꦲꦏ꧀​ꦲꦏ꧀​ꦄꦤꦸ​ꦱꦫꦸꦮ꧉​​ꦩꦫꦤꦺꦃꦤ​ꦢꦶꦧꦺꦫꦺ​ꦄꦏꦭ꧀​​ꦗꦼꦵꦁ​ꦲꦠꦺ​ꦤꦸꦫꦤꦶ꧈​​ꦕꦩ꧀ꦥꦸꦂ​ꦒꦲꦸꦭ꧀​​ꦗꦼꦵꦁ​ꦱꦱꦩꦤ​ꦄꦪ​ꦢꦶꦤ​ꦱꦸꦩꦔꦼꦠ꧀​ꦢꦸꦢꦸꦭꦸꦫꦤ꧀

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Rosyadi 1997, hlm. 16.
  2. ^ Rosyadi 1997, hlm. 51.
  3. ^ a b c Coolsma 1985, hlm. 7.
  4. ^ Permadi 2019, hlm. 262.
  5. ^ Ruhailah 2010, hlm. 49.
  6. ^ Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat Nomor 343/SK.614-Dis.PK/99
  7. ^ Republik Indonesia 2014.
  8. ^ Ekadjati 1999.
  9. ^ Rosyadi 1997, hlm. 17.
  10. ^ a b Coolsma 1985, hlm. 5.
  11. ^ Coolsma 1985, hlm. 6.

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]