Kabupaten Lumajang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Kabupaten Lumajang
Lumajang.jpg
Lambang Kabupaten Lumajang
Moto: Amreta Brata Wira Bhakti
Julukan: Oostenrijk van Java
Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Locator kabupaten lumajang.png
Peta lokasi Kabupaten Lumajang
Koordinat: 112°53' - 113°23' Bujur Timur dan 7°54' - 8°23' Lintang Selatan
Provinsi Jawa Timur
Dasar hukum Keputusan Bupati Kepala Derah Tingkat II Lumajang Nomor 414 Tahun 1990 tanggal 20 Oktober 1990
Tanggal Peresmian 20 Oktober 1990
Ibu kota Lumajang
Pemerintahan
 - Bupati Drs. H. As'at Malik, M.Ag
 - DAU Rp. 828.524.528.000.-(2013)[1]
Luas 1.790,90 km2
Populasi
 - Total 1,006,458 jiwa (2010)[2]
 - Kepadatan 0 jiwa/km2
Demografi
 - Kode area telepon 0334
Pembagian administratif
 - Kecamatan 21
 - Kelurahan 204
Simbol khas daerah
 - Situs web www.lumajang.go.id
Alun-alun Lumajang (1880-1920)

Kabupaten Lumajang, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibu kotanya adalah Lumajang. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Probolinggo di utara, Kabupaten Jember di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Malang di barat. Kabupaten Lumajang terletak di wilayah Tapal Kuda, Jawa Timur.

Sejarah pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Sisa-sisa Candi Kunir, ditemukan tahun 2013

Nama Lumajang berasal dari nama tempat "Lamajang" yang diketahui dari penelusuran sejarah, data prasasti, naskah-naskah kuno, bukti-bukti petilasan dan hasil kajian pada beberapa seminar dalam rangka menetapkan hari jadinya. Beberapa sumber itu antara lain:

  1. Prasasti Mula Malurung
  2. Naskah Negarakertagama
  3. Kitab Pararaton
  4. Kidung Harsawijaya
  5. Kitab Bujangga Manik
  6. Serat Babad Tanah Jawi
  7. Serat Kandha

Prasasti Mula Malurung adalah prasasti tertua yang menyebut keberadaan "Nagara Lamajang", karenanya dianggap sebagai titik tolak hari jadi Lumajang. Prasasti yang ditemukan pada tahun 1975 di Kediri dan berangka 1177 tahun Saka ini diterbitkan oleh Raja Kertanegara dari Singasari untuk memperingati anugerah Raja Seminingrat kepada Pranaraja berupa dua desa perdikan, Mula dan Malurung. Prasasti ini terdiri dari 12 lempengan tembaga, dan lempengan VII halaman A memuat nama-nama putera-puteri dan kerabat Raja Seminingrat yang diangkat menjadi raja-raja bawahan. Salah satunya, disebutkan bahwa Nararya Kirana yang telah dianggap seolah-olah putera sang Prabu, dijadikan raja di Lumajang.[3] Menurut prasasti tersebut penetapan itu terjadi pada tahun 1177 Saka, yang sesuai dengan tanggal 14 Dulkaidah 1165 tahun Jawa atau tanggal 15 Desember 1255 Masehi.

Mengingat cukup meyakinkan bahwa pada 1255 M itu "Negara Lamajang" sudah merupakan sebuah negara yang berpenduduk, mempunyai wilayah, mempunyai raja (pemimpin) dan pemerintahan yang teratur, maka ditetapkanlah tanggal 15 Desember 1255 M sebagai hari jadi Lumajang yang dituangkan dalam Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Lumajang Nomor 414 Tahun 1990 tanggal 20 Oktober 1990.

Dalam sejarahnya, wilayah ini sangat berhubungan dengan tokoh sejarah bernama Aria Wiraraja. Kitab Pararaton dan Harsawijaya mengisahkan bahwa tokoh yang ketika muda bernama Banyak Wide ini pada mulanya mengabdi di Singasari, namun oleh Raja Kertanegara kemudian dibuang secara halus dari ibukota Singasari dan dijadikan bupati di Sumenep, Madura timur. Aria Wiraraja kemudian berkesempatan memberikan bantuan dan perlindungan kepada Raden Wijaya ketika ia dan rombongannya melarikan diri ke Sumenep akibat kalah perang dengan Jayakatwang. Selanjutnya Pararaton dan Kidung Harsawijaya menceritakan bahwa Wiraraja diberi hadiah wilayah bagian timur Jawa Timur yang diberi nama "Lamajang Tigang Juru", ketika Raden Wijaya berhasil memenangkan perang dan menjadi raja pertama di kerajaan Majapahit. Akan tetapi wilayah itu baru dikuasai dan diperintahnya setelah kematian puteranya, Ranggalawe, yang memberontak kepada Majapahit (1295).[4]

Wilayah Lumajang kembali disebut-sebut dalam Kitab Negarakertagama ketika Raja Hayam Wuruk melakukan perjalanan keliling wilayah timur Majapahit pada tahun 1359 M; kala itu wilayah ini sudah dikuasai kembali oleh Majapahit.[5] Nama Lumajang (atau, dalam versi aslinya: Lamajang) ini mengacu pada satu wilayah yang luas di pojok timur (Bld.: Oosthoek) Jawa Timur, di mana termasuk pula di dalamnya wilayah kuna Pajarakan di sekitar Kraksaan, Probolinggo sekarang.[6]

Pada masa penjajahan Belanda, pada tahun 1882 wilayah Lumajang berstatus Distrik (setingkat kecamatan) yang dipimpin oleh seorang Wedana. Kemudian pada tahun 1886 statusnya dinaikkan menjadi Afdeeling (setingkat kabupaten), kepala pemerintahannya adalah seorang Patih Afdeeling. Tahun 1929 sistem pemerintahan di Lumajang dinaikkan lagi statusnya menjadi Kabupaten, dengan kepala pemerintahannya seorang Bupati.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Kepala Daerah[sunting | sunting sumber]

Perwakilan[sunting | sunting sumber]

DPRD Kabupaten Lumajang hasil Pemilu 2014 tersusun dari 10 partai politik, dengan perincian sebagai berikut:

Partai Kursi
Lambang PDI-P PDI-P 10
Lambang PKB PKB 9
Lambang Partai Demokrat Partai Demokrat 6
Lambang Partai NasDem Partai NasDem 5
Lambang Partai Golkar Partai Golkar 5
Lambang Partai Gerindra Partai Gerindra 5
Lambang PKS PKS 3
Lambang PAN PAN 3
Lambang Partai Hanura Partai Hanura 2
Lambang PPP PPP 2
Total 50

Pembagian administratif[sunting | sunting sumber]

Desa di daerah Dampar (1934)
Kali Mayong dekat Dampar (1934)

Kabupaten Lumajang terdiri atas 21 kecamatan, yang dibagi lagi atas 197 desa dan 7 kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Lumajang. Kecamatan-kecamatan itu ialah:

  1. Candipuro
  2. Gucialit
  3. Jatiroto
  4. Kedungjajang
  5. Klakah
  6. Kunir
  7. Lumajang
  8. Padang
  9. Pasirian
  10. Pasrujambe
  11. Pronojiwo
  12. Randuagung
  13. Ranuyoso
  14. Rowokangkung
  15. Sukodono
  16. Sumbersuko
  17. Senduro
  18. Tekung
  19. Tempeh
  20. Tempursari
  21. Yosowilangun

Keadaan fisik[sunting | sunting sumber]

Geografi[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Lumajang terletak pada 112°53' - 113°23' Bujur Timur dan 7°54' - 8°23' Lintang Selatan. Luas wilayah keseluruhan Kabupaten Lumajang adalah 1790,90 km2. Kabupaten Lumajang terdiri dari dataran yang subur karena diapit oleh tiga gunung berapi yaitu:

Adapun batas-batas wilayah Kabupaten Lumajang adalah sebagai berikut:

Relief[sunting | sunting sumber]

Lumajang merupakan salah satu kabupaten yang terletak di kawasan Tapal Kuda Provinsi Jawa Timur. Di bagian barat, yakni di perbatasan dengan Kabupaten Malang dan Kabupaten Probolinggo, terdapat rangkaian Pegunungan Bromo-Tengger-Semeru, dengan puncaknya Gunung Semeru (3.676 m) dan Gunung Bromo (2.392 m). Gunung Semeru adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa.

Bagian timur laut merupakan ujung barat Pegunungan Iyang. Sedangkan bagian selatan merupakan daerah datar, dengan sedikit wilayah berbukit hingga bergunung di sebelah barat.

Ketinggian daerah Kabupaten Lumajang bervariasi dari 0-3.676 m dpl., dengan daerah yang terluas adalah pada ketinggian 100–500 m dari permukaan laut, yakni seluas 63.405,50 Ha (35,40 % wilayah); dan yang tersempit adalah pada ketinggian 0–25 m dpl yaitu seluas 19.722,45 Ha atau 11,01 % dari luas keseluruhan Kabupaten.

Vulkanologi[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Lumajang dikelilingi tiga gunung berapi yaitu Gunung Semeru, Gunung Bromo dan Gunung Lemongan. Dari ketiga gunung berapi yang masih aktif tersebut, Gunung Semeru mendapat prioritas pemantauan lebih dibanding yang lainnya karena seringnya terjadi aktivitas gunung berapi yang membahayakan masyarakat sekitarnya.

Iklim[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Lumajang beriklim tropis. Berdasarkan klasifikasi curah hujan Schmidt dan Ferguson sebagian wilayah termasuk tipe C, yang bersifat agak basah, dan sebagian lainnya bertipe D. Bulan-bulan kering, dengan jumlah curah hujan kurang dari 100 mm perbulan, terjadi pada bulan-bulan Juli, Agustus dan September, sementara bulan-bulan lainnya adalah bulan basah. Jumlah curah hujan tahunan berkisar antara 1.500-2.500 mm.

Temperatur sebagian besar wilayah 24 °C - 32 °C, sedangkan di kawasan pegunungan dapat mencapai 5 °C, terutama di daerah lereng Gunung Semeru.

Hidrologi[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Lumajang mempunyai 31 sungai dan 6 air terjun. Selain itu juga terdapat danau (ranu) yakni Ranu Pakis, Ranu Klakah dan Ranu Bedali di Kecamatan Klakah serta Ranu Pane dan Ranu Kumbolo di Kecamatan Senduro.

Sungai-sungai yang cukup besar dengan daerah aliran di wilayah Lumajang dan sekitarnya antara lain Kali Besuk Sat, Kali Bondoyudo, Kali Asem, Kali Mujur, Kali Pancing dan Kali Rejali yang kesemuanya berakhir di Pantai Laut Selatan.

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Di Kabupaten Lumajang terdapat jalan raya antar provinsi dan jalur kereta api lintas Surabaya-Jember-Banyuwangi, namun kedua jalur transportasi utama tersebut tidak melalui ibukota Kabupaten Lumajang. Jalan Nasional Rute 25 berujung di Wonorejo, sekitar 6 km di utara pusat kota Lumajang, menghubungkan Jalan Nasional Rute 1 (lebih dikenal sebagai Jalur Pantura) di Probolinggo dengan Jalan Nasional Rute 3 yang melintasi Kota Lumajang dan berbelok ke timur di Wonorejo menuju Jember, Banyuwangi, dan berakhir di Ketapang, lokasi penyeberangan feri ke Bali. Jalan raya no 25 yang bersambung dengan Jalan raya no 3 itu dilintasi bus-bus AKAP (antar kota dan antar provinsi), terutama rute Surabaya - Jember dan Surabaya - Banyuwangi via Jember. Bus-bus penumpang yang lebih kecil menghubungkan Kota Lumajang dengan Jember via Kencong, dan Lumajang - Malang via Dampit.

Jalur kereta api melintasi beberapa ibukota kecamatan antara lain Ranuyoso, Klakah, Randuagung dan Jatiroto. Klakah merupakan kecamatan terdekat untuk akses kereta api dari kota Lumajang. Sebenarnya ada pula jalur kereta api yang melewati kota Lumajang sampai ke Pasirian dan dari Lumajang juga bercabang ke arah timur ke Rambipuji melewati Kencong, namun jalur peninggalan masa kolonial Belanda ini sudah tidak aktif lagi semenjak tahun 1988.

Selain transportasi umum di atas, masyarakat Lumajang mengenal transportasi rakyat yakni becak dan dokar (kereta kuda) untuk pengangkutan orang, serta pegon (kereta sapi) untuk pengangkutan barang dan hasil bumi. Keberadaannya perlahan tergeser dan tergantikan dengan mesin-mesin transportasi modern dan sekarang ini digunakan secara terbatas pada lokasi dan momen tertentu.

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Penduduk Kabupaten Lumajang umumnya adalah Suku Jawa dan Suku Madura, dan agama mayoritas adalah Islam. Di Pegunungan Tengger Kecamatan Senduro (terutama di daerah Ranupane, Argosari, dan sekitarnya), terdapat masyarakat Tengger yang memiliki bahasa khas dan beragama Hindu.

Di Senduro terdapat sebuah pura yang dikenal dengan nama Pura Mandara Giri Semeru Agung (MGSA), yang digunakan untuk ibadat baik di hari biasa maupun hari besar umat Hindu. Pada hari biasa, pura tersebut juga dijadikan sebagai tempat wisata.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Terdapat sejumlah sarana pendidikan dari tingkat TK hingga perguruan tinggi di Kabupaten Lumajang, baik yang dikelola pemerintah maupun swasta.

SD/MI[sunting | sunting sumber]

Kec. Candipuro[sunting | sunting sumber]

  1. MIS Ma`Arif NU Nurul Islam Candipuro
  2. MIS Miftahul Ulum Sumberwuluh
  3. MIS Nurul Islam Jarit
  4. MIS Nurul Islam Penanggal
  5. MIS Nurul Jadid Sumberejo
  6. MIS Salafiyah Tumpeng
  7. SDN Candipuro 01
  8. SDN Candipuro 02
  9. SDN Candipuro 03
  10. SDN Jarit 01
  11. SDN Jarit 02
  12. SDN Jarit 03
  13. SDN Jarit 04
  14. SDN Jugosari 01
  15. SDN Jugosari 02
  16. SDN Jugosari 03
  17. SDN Kloposawit 01
  18. SDN Kloposawit 02
  19. SDN Kloposawit 03
  20. SDN Penanggal 01
  21. SDN Penanggal 02
  22. SDN Penanggal 03
  23. SDN Penanggal 04
  24. SDN Penanggal 05
  25. SDN Sumberejo 01
  26. SDN Sumberejo 02
  27. SDN Sumberejo 03
  28. SDN Sumberejo 04
  29. SDN Sumbermujur 01
  30. SDN Sumbermujur 02
  31. SDN Sumbermujur 03
  32. SDN Sumbermujur 05
  33. SDN Sumberwuluh 01
  34. SDN Sumberwuluh 02
  35. SDN Sumberwuluh 03
  36. SDN Sumberwuluh 04
  37. SDN Sumberwuluh 05
  38. SDN Tambahrejo 01
  39. SDN Tambahrejo 02
  40. SDN Tambahrejo 03
  41. SDN Tumpeng 01
  42. SDN Tumpeng 02
  43. SDN Tumpeng 03
  44. SDS Islam Miftahul Ulum Jugosari
  45. SDSIT Permata

Kec. Rowokangkung[sunting | sunting sumber]

  1. MIS Al-Ishlah Sumberanyar
  2. MIS Al-Islamiyah Kedungrejo
  3. MIS Bustanul Ulum Rowokangkung
  4. MIS Bustanul Ulum Sumberanyar
  5. MIS Muhammadiyah Sidorejo
  6. SDN Dawuhan Wetan 01
  7. SDN Dawuhan Wetan 02
  8. SDN Dawuhan Wetan 03
  9. SDN Dawuhan Wetan 04
  10. SDN Kedungrejo 01
  11. SDN Kedungrejo 02
  12. SDN Kedungrejo 03
  13. SDN Nogosari 01
  14. SDN Nogosari 02
  15. SDN Rowokangkung 01
  16. SDN Rowokangkung 02
  17. SDN Rowokangkung 03
  18. SDN Rowokangkung 04
  19. SDN Rowokangkung 05
  20. SDN Sidorejo 01
  21. SDN Sidorejo 02
  22. SDN Sumbersari 01
  23. SDN Sumbersari 02
  24. SDN Sumbersari 03
  25. SDN Sumbersari 04
  26. SDS Islam Al Bahrudin Nogosari
  27. SDS Katolik Sidorejo

Kec. Padang[sunting | sunting sumber]

  1. MIS Al-Hikmah Kedawung
  2. MIS Ash Sholihin Barat
  3. MIS Bustanul Ulum Barat
  4. MIS Nurul Islam Barat
  5. MIS Tuhfatut Tholibin Tanggung
  6. SDN Babakan 01
  7. SDN Babakan 02
  8. SDN Barat 01
  9. SDN Barat 02
  10. SDN Barat 03
  11. SDN Bodang 01
  12. SDN Bodang 02
  13. SDN Bodang 03
  14. SDN Bodang 05
  15. SDN Kalisemut 01
  16. SDN Kalisemut 02
  17. SDN Kalisemut 03
  18. SDN Kedawung 01
  19. SDN Kedawung 02
  20. SDN Kedawung 03
  21. SDN Merakan 01
  22. SDN Merakan 02
  23. SDN Merakan 03
  24. SDN Mojo 02
  25. SDN Mojo 03
  26. SDN Padang 01
  27. SDN Tanggung 01
  28. SDN Tanggung 02
  29. SDS Islam Al-Asna Barat

Kec. Tempursari[sunting | sunting sumber]

  1. MIN Bulurejo
  2. MIS Bahrul Ulum Tegalrejo
  3. MIS Islamiyah Tempursari
  4. SDN Bulurejo 01
  5. SDN Bulurejo 02
  6. SDN Kaliuling 01
  7. SDN Kaliuling 02
  8. SDN Kaliuling 03
  9. SDN Kaliuling 04
  10. SDN Pundungsari 01
  11. SDN Pundungsari 02
  12. SDN Pundungsari 03

SMP[sunting | sunting sumber]

  1. SMP Negeri 1 Lumajang
  2. SMP Negeri 2 Lumajang
  3. SMP Negeri 3 Lumajang
  4. SMP Negeri 4 Lumajang
  5. SMP Negeri 5 Lumajang
  6. SMP Negeri 1 Jatiroto
  7. SMP Negeri 2 Jatiroto
  8. SMP Negeri 1 Klakah
  9. SMP Negeri 2 Klakah
  10. SMP Negeri 1 Senduro
  11. SMP Negeri 1 Sukodono, Lumajang
  12. SMP Negeri 1 Pasirian
  13. SMP Negeri 2 Pasirian
  14. SMP Negeri 3 Pasirian
  15. SMP Negeri 1 Rowokangkung
  16. SMP Negeri 2 Rowokangkung
  17. SMP Negeri 1 Tempeh
  18. SMP Negeri 1 Yosowilangun
  19. SMP Negeri 2 Yosowilangun
  20. SMP Negeri 3 Yosowilangun
  21. MTs Negeri Lumajang
  22. MTsS Al Islamiyah Kedungrejo
  23. SMP Al-Ikhlash Lumajang
  24. SMP Islam (SMI) Lumajang
  25. SMP Katolik Bhara Widya
  26. SMPS Muhammadiyah 1 Lumajang
  27. SMP Muhammadiyah 2 Jatiroto

SMA[sunting | sunting sumber]

  1. SMAS Muhammadiyah 1 Lumajang
  2. SMA Negeri 1 Lumajang
  3. SMA Negeri 2 Lumajang
  4. SMA Negeri 3 Lumajang
  5. SMA Negeri Candipuro
  6. SMA Negeri Jatiroto
  7. SMA Negeri Klakah
  8. SMA Negeri Senduro
  9. SMA Negeri Pasirian
  10. SMA Negeri Yosowilangun
  11. SMA Negeri Tempeh
  12. SMA Katolik Mgr. Soegijapranata
  13. SMK Negeri 1 Lumajang
  14. SMK Negeri 2 Lumajang
  15. SMK Negeri Gucialit
  16. SMK Negeri Klakah
  17. SMK Negeri Pasirian
  18. SMK Negeri Tekung (d/h SPP-SPMA Daerah Lumajang)
  19. SMK Negeri Tempeh
  20. SMK Negeri Tempursari
  21. SMK Pembangunan Candipuro
  22. SMK PGRI Lumajang
  23. SMK Muhammadiyah Lumajang
  24. SMK Muhammadiyah Jatiroto
  25. SMK 17 Lumajang

Perguruan tinggi[sunting | sunting sumber]

  1. Universitas Lumajang (UNILU)
  2. Sekolah Tinggi Agama Islam Bustanul Ulum (STAIBU)
  3. Sekolah Tinggi Agama Islam Syarifuddin (STAIS)
  4. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Widya Gama
  5. Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH)
  6. Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP)
  7. Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Lumajang
  8. Akademi Keperawatan Lumajang (AKPER Lumajang)
  9. Akademi Keperawatan Kosgoro Kota Mojokerto (cabang Lumajang)
  10. Universitas Bhakti Indonesia Banyuwangi (UBI cabang Lumajang)
  11. Akademi Komunitas Negeri Lumajang (AKN Lumajang)

Pondok Pesantren[sunting | sunting sumber]

  1. Pondok Pesantren Kiai Syarifudin Wonorejo
  2. Pondok Pesantren Mangunsari Tekung
  3. Pondok Pesantren Mansyaul Huda Tukum Tekong
  4. Pondok Pesantren Miftahul Ulum Banyuputih Kidul Jatiroto
  5. Pondok Pesantren Raudhatul Jadid Banyuputih Lor Randuagung
  6. Pondok Pesantren Lathifatul Amien Kedungrejo Rowokangkung
  7. Pondok Pesantren Nurusy Syuhada' Kedungrejo Rowokangkung

Olahraga[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Lumajang memiliki beberapa sarana olahraga baik indoor maupun outdoor. Selain itu, di Kabupaten Lumajang juga terdapat beberapa serikat olahraga.

Fasilitas Olahraga[sunting | sunting sumber]

Serikat Olahraga[sunting | sunting sumber]

  • PSIL Lumajang (sepak bola)
  • Gita Wira Bhakti (GWB) Korp Drumband Pemda Kab. Lumajang
  • Lumajang Jeep Club
  • Mahameru Jeep Club Cabang Lumajang

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Lumajang memiliki cukup banyak lokasi wisata pantai di Laut Selatan (Samudera Hindia) seperti Pantai Bambang, Watu Pecak, Watu Godeg dan Watu Gedeg. Di samping itu, di lereng-lereng timur Semeru terdapat beberapa lokasi wisata lokal seperti Piket Nol, yang menjadi puncak tertinggi di lintas perbukitan selatan, Goa Tetes, dan Gladak Perak di lintas selatan Lumajang-Malang. Di daerah Sumber Mujur juga terdapat kawasan hutan bambu di sekitar mata air Sumber Deling yang merupakan tempat pelestarian aneka jenis tanaman bambu, yang sekaligus menjadi habitat bagi kawanan kera dan ribuan kelelawar (kalong). Di Pasrujambe terdapat sebuah tempat wisata mata air suci dan Pura Watu Klosot yang menjadi tujuan wisata bagi peziarah Hindu dari Bali.

Media massa[sunting | sunting sumber]

  • Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) di 21 Kecamatan (blogger)
  • www.lumajangsatu.com (media online)
  • kabarlumajang.net (media online)
  • lumajangcyber.web.id (media online)
  • pedomannusantara.com
  • Gloria FM
  • Semeru FM
  • Suara Lumajang FM
  • Sentra FM
  • Radio Komunitas Wiraraja FM

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses tanggal 2013-02-15. 
  2. ^ "Badan Pusat Statistik". Diakses tanggal 2011-11-02. 
  3. ^ Muljana, S. 2006. Tafsir Sejarah Nagara Kretagama: 87. Yogyakarta: LKiS.
  4. ^ Muljana, S. 2005. Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit. Yogyakarta: LKiS.
  5. ^ Muljana, S. 2006. op.cit.: 1-10.
  6. ^ Krom, N.J. 1914. De eigennamen in den Nâgarakŗtâgama. Tijdschrift voor de Indische Taal-, Land-, en Volkenkunde, uitgegeven door het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Deel LVI: 250. Batavia: Albrecht & Co.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]