Sungai Brantas

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Kali Brantas)
Sungai Brantas
Kali Brantas
COLLECTIE TROPENMUSEUM Een kabelbrug over de rivier Brantas bij Kesamben residentie Kediri Oost-Java TMnr 10007555.jpg
Sebuah jembatan gantung di atas sungai Brantas dekat Kesamben (1922).
Sungai Brantas is located in Jawa
Sungai Brantas
Lokasi sungai
Lokasi
NegaraIndonesia
ProvinsiJawa Timur
Kabupaten/KotaKabupaten Malang, Kabupaten Blitar, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Kediri, Kabupaten Jombang, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Gresik, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Pasuruan, Kota Batu, Kota Kediri
Ciri-ciri fisik
Hulu sungaiGunung Arjuno Gunung Welirang
 - lokasiDesa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu
 - elevasi2.000 m (6.600 ft)
Muara sungaiKali Mas, Kali Porong, Selat Madura
 - elevasi0 m (0 ft)
Panjang320 km (200 mi)
Daerah Aliran Sungai
Ukuran cekungan11.800 km2 (4.600 sq mi)
Informasi lokal
Zona waktuWIB (UTC+7)
GeoNames6881549
Litografi Sungai Brantas berdasarkan lukisan Abraham Salm (1865-1872)
Sungai Brantas sebelum tahun 1940

Sungai Brantas adalah sebuah sungai yang mengalir di provinsi Jawa Timur, Indonesia.[1] Sungai ini merupakan sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa, setelah Bengawan Solo. Penduduk yang tinggal di wilayah Sungai Brantas mencapai 15,2 juta orang (1999) atau 43% dari penduduk Jatim, dan mempunyai kepadatan rata-rata 1,2 kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata Jatim. Adapun Sungai Brantas mempunyai peran yang cukup besar dalam menunjang Provinsi Jatim sebagai lumbung pangan nasional. Antara tahun 1994–1997, Provinsi Jatim rata-rata berkontribusi 470.000 ton beras/tahun atau sebesar 25% dari stok pangan nasional.

Hidrologi[sunting | sunting sumber]

Sungai Brantas bermata air di Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, yang berasal dari simpanan air Gunung Arjuno, lalu mengalir ke Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Jombang, Mojokerto. Di Kabupaten Mojokerto sungai ini bercabang dua manjadi Kali Mas (ke arah Surabaya) dan Kali Porong (ke arah Porong, Kabupaten Sidoarjo). Sungai Brantas mempunyai Daerah Aliran Sungai (DAS) seluas 11.800 km² atau ¼ dari luas Provinsi Jatim.[2] Panjang sungai utama 320 km mengalir melingkari sebuah gunung berapi yang masih aktif yaitu Gunung Kelud.[3] Curah hujan rata-rata mencapai 2.000 mm per-tahun dan dari jumlah tersebut sekitar 85% jatuh pada musim hujan. Potensi air permukaan pertahun rata-rata 12 miliar m³. Potensi yang termanfaatkan sebesar 2,6-3,0 miliar m³ per-tahun.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sungai Brantas di Kediri. Jauh di latar belakang adalah Gunung Wilis.
Sungai Brantas di wilayah Surabaya, awal abad ke-20

Sejak abad ke-8, di DAS Brantas telah berdiri sebuah kerajaan dengan corak agraris, bernama Kanjuruhan. Kerajaan ini meninggalkan Candi Badut dan prasasti Dinoyo yang berangka tahun 760 M sebagai bukti keberadaannya. Wilayah hulu DAS Brantas di mana kerajaan ini berpusat memang cocok untuk pengembangan sistem pertanian sawah dengan irigasi yang teratur sehingga tidak mengherankan daerah itu menjadi salah satu pusat kekuasaan di Jawa Timur (Tanudirdjo, 1997). Sungai Brantas maupun anak-anak sungainya menjadi sumber air yang memadai. Bukti terkuat tentang adanya budaya pertanian yang ditunjang oleh pengembangan prasarana pengairan (irigasi) yang intensif ditemukan di DAS Brantas, lewat Prasasti Harinjing di Pare. Ada tiga bagian prasasti yang ditemukan, yang tertua berangka tahun 726 S atau 804 M dan yang termuda bertarikh 849 S atau 927 M. Dalam prasasti ini, disebutkan pembangunan sistem irigasi (yang terdiri atas saluran dan bendung atau tanggul) yang disebut dawuhan pada anak Sungai Konto, yakni Sungai Harinjing (Lombard, 2000).

Sungai Brantas memiliki fungsi yang sangat penting bagi Jawa Timur mengingat 60% produksi padi berasal dari areal persawahan di sepanjang aliran sungai ini. Akibat pendangkalan dan debit air yang terus menurun sungai ini tidak bisa dilayari lagi. Fungsinya kini beralih sebagai irigasi dan bahan baku air minum bagi sejumlah kota disepanjang alirannya. Adanya beberapa gunung berapi yang aktif di bagian hulu sungai, yaitu Gunung Kelud dan Gunung Semeru menyebabkan banyak material vulkanik yang mengalir ke sungai ini. Hal ini menyebabkan tingkat sedimentasi bendungan-bendungan yang ada di aliran sungai ini sangat tinggi.

Merujuk khazanah sastra periode klasik, sungai Brantas inilah yang diduga kuat disebut sebagai Ci Ronabaya dalam naskah Perjalanan Bujangga Manik.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Sungai ini mengalir di wilayah timur pulau Jawa yang beriklim muson tropis (kode: Am menurut klasifikasi iklim Köppen-Geiger).[4] Suhu rata-rata setahun sekitar 26 °C. Bulan terpanas adalah Oktober, dengan suhu rata-rata 30 °C, and terdingin Juni, sekitar 24 °C.[5] Curah hujan rata-rata tahunan adalah 2982 mm. Bulan dengan curah hujan tertinggi adalah Maret, dengan rata-rata 496 mm, dan yang terendah Agustus, rata-rata 28 mm.[6]

Sungai Brantas
Tabel iklim (penjelasan)
JFMAMJJASOND
 
 
459
 
28
21
 
 
453
 
27
22
 
 
496
 
27
21
 
 
282
 
28
22
 
 
144
 
29
22
 
 
175
 
27
20
 
 
65
 
29
20
 
 
28
 
32
20
 
 
35
 
35
21
 
 
111
 
37
22
 
 
295
 
35
23
 
 
439
 
30
21
Suhu rata-rata maks. dan min. dalam °C
Total presipitasi dalam mm
Sumber: [5]

Pengembangan sumber daya air[sunting | sunting sumber]

Sungai Brantas yang mendangkal di Kota Kediri. Di kejauhan, sampan penambang pasir.

Hingga dekade 1960-an, masalah utama di DAS Brantas adalah fluktuasi air permukaan yang ditandai oleh dua peristiwa, yakni kekeringan di musim kemarau dan banjir di musim hujan. Terjadi kegagalan panen dan kelaparan akibat kekurangan air di musim kemarau, sementara di musim hujan terjadi banjir yang mengakibatkan korban harta bahkan jiwa. Selain itu, kondisi aliran air Sungai Brantas juga terhambat endapan sedimen yang dihasilkan oleh letusan Gunung Kelud (+1.781 mdpl). Setiap 10 hingga 15 tahun, Gunung Kelud meletus dan melontarkan abu dan batu piroklastik ke bagian tengah dari DAS Brantas, yang pada akhirnya menimbulkan gangguan fluvial pada aliran air Sungai Brantas.

Tahapan[sunting | sunting sumber]

Pengembangan DAS Brantas dengan pendekatan modern dimulai sejak 1961 berlandaskan prinsip "satu sungai, satu rencana, dan satu manajemen terpadu" yang dilaksanakan secara bertahap sesuai kebutuhan dan kebijakan pemerintah dari waktu ke waktu. Pengembangan dilakukan melalui 4 (empat) rencana induk pengembangan DAS. Sasaran utama rencana induk berturut-turut adalah pengendalian banjir (1961), penyediaan air irigasi (1973), penyediaan air baku (1985) dan konservasi dan manajemen sumberdaya air (1998). Uraian selengkapnya adalah sebagai berikut:

  • Rencana induk pertama memiliki sasaran pengendalian banjir, hal ini dikarenakan jika pengembangan DAS Sungai Brantas tanpa adanya pengendalian maka pengembangan yang lain tidak bisa dilakukan. Pengendalian banjir dilakukan dengan membangun sejumlah bendungan untuk menampung kelebihan air, perbaikan alur sungai di bagian tengah DAS dan pembuatan jalur pelepas banjir (flood way). Selain itu disiapkan pula sistem peringatan dini banjir dan jejaring pemantauan hidrologi.
  • Rencana induk kedua memiliki sasaran penyediaan air irigasi, seiring kebijakan Pemerintah untuk mencukupi kebutuhan beras nasional dengan memperluas pertanian berbasis irigasi teknis. Sejumlah bendung dan bangunan pengambilan air dibangun dalam tahapan rencana induk ini.
  • Rencana induk ketiga memiliki sasaran penyediaan air baku, khususnya pelayanan air di daerah tengah dan hilir dari DAS Sungai Brantas. Sejumlah bendung, sistem suplesi (penambahan debit) dan infrastruktur lain yang dapat dipakai melayani air baku dibangun dalam tahapan rencana induk ini.
  • Rencana induk ke empat ditekankan pada konservasi dan pengelolaan sumberdaya air. Pengelolaan air tidak saja mencakup aspek kuantitas namun juga ke arah pengendalian kualitas – walaupun masih bersifat terbatas. Dalam tahap ini dikembangkan sistem pengelolaan informasi hidrologi.

Hasil pengembangan menghasilkan sejumlah prasarana pengairan. Manfaat pembangunan antara lain pengendalian banjir 50 tahunan di sungai utama yang mengurangi luas genangan seluas 80.000 ha; irigasi untuk sawah seluas 345.000 ha, yang mana 83.000 ha berupa irigasi teknis langsung dari sungai induk (2,5 miliar m³ per-tahun); energi listrik 1.000 GWh per tahun; serta suplai air baku untuk industri 130 juta m³ per-tahun dan air baku untuk rumah tangga 240 juta m³ per tahun.

Tahap pertama[sunting | sunting sumber]

Berbeda dengan pengembangan infrastruktur di Sungai Citarum yang dilakukan pada saat yang hampir bersamaan, untuk pengembangan infrastruktur di Sungai Brantas, pemerintah sengaja tidak menggunakan jasa kontraktor asing, sehingga hanya menggunakan jasa konsultan pengawas asing. Oleh karena itu, selama proses pembangunan, juga dilakukan pendidikan dan pelatihan yang diperlukan agar para pekerja dapat menyelesaikan pembangunan. Sehingga setelah pengembangan infrastruktur di Sungai Brantas selesai, para pekerja tersebut diharapkan mampu mengerjakan proyek-proyek lain yang serupa di seluruh Indonesia.[7] Tahap ini bertujuan untuk mengurangi pasir yang mengendap di Sungai Brantas dengan cara "push the top and pull the toe" (mendorong di hulu dan menarik di hilir). Di bagian hulu, dilakukan pembangunan Bendungan Karangkates dan Bendungan Selorejo, sementara di bagian hilir dilakukan pembangunan Bendung Lengkong Baru, perbaikan delta Sungai Brantas, dan perbaikan saluran irigasi di delta Sungai Brantas. Dengan adanya Bendungan Karangkates dan Bendungan Selorejo, tersedia air yang cukup banyak sepanjang tahun untuk menggelontor pasir yang mengendap di sepanjang Sungai Brantas. Selain berfungsi sebagai pengendali banjir di bagian hulu, kedua bendungan tersebut juga dapat difungsikan sebagai sumber air irigasi, pembangkit listrik, dan obyek pariwisata. Sementara itu, Bendung Lengkong Baru dibangun di bagian hilir untuk menggantikan Bendung Lengkong yang sudah sangat tua dan menghambat penggelontoran pasir yang mengendap di Sungai Brantas. Sedangkan perbaikan delta Sungai Brantas dan saluran irigasi di delta Sungai Brantas dimaksudkan untuk meningkatkan pemanfaatan air Sungai Brantas, sehingga selain meningkatkan hasil pertanian, diharapkan juga dapat mengurangi banjir di bagian hilir.[7]

Tahap selanjutnya[sunting | sunting sumber]

Tahap ini terutama berupa pembangunan Bendung Wlingi Raya yang awalnya ditujukan untuk "central load relieving" (mengurangi beban di tengah), yakni membuang pasir yang mengendap di Sungai Brantas ke Samudra Hindia. Selain itu, juga dilakukan pembangunan saluran irigasi Lodoyo untuk memanfaatkan air yang terbendung. Pada perkembangannya, pembangunan saluran pembuangan pasir ke Samudera Hindia akhirnya ditunda, dan digantikan dengan pembangunan pengganti Terowongan Neyama di Tulungagung, untuk difungsikan sebagai pengendali banjir dan pembangkit listrik.[8] Pada tahap ini pula, dilakukan pembangunan Bendungan Widas di Madiun dan Bendungan Lahor di dekat Bendungan Karangkates.[7]

Pengelolaan infrastruktur[sunting | sunting sumber]

Pada pertengahan tahun 1980-an, mulai timbul masalah mengenai siapa yang diberi tugas untuk mengelola bangunan prasarana pengairan pasca proyek selesai, agar bangunan di Sungai Brantas dengan total investasi sebesar Rp 7,38 triliun (nilai tahun 2000), dapat berfungsi sesuai yang direncanakan. Persoalan pengelolaan pasca pembangunan tersebut, terutama dalam hal institusi, sumber daya manusia, dan pendanaan. Mengacu pada pengalaman negara maju dan berdasar peraturan-perundangan yang ada, serta untuk menjaga keberlanjutan fungsi prasarana pengairan, maka pada tahun 1990, pemerintah resmi membentuk Perum Jasa Tirta I sebagai BUMN pengelola Sungai Brantas.

Terdapat sejumlah bendungan besar di sepanjang aliran sungai ini maupun di anak-anak sungainya, antara lain:

  • Bendungan Sengguruh
  • Bendungan Sutami (atau yang disebut juga Waduk Ir. Sutami)
  • Bendungan Lahor
  • Bendungan Selorejo
  • Bendungan Wlingi
  • Bendungan Bening
  • Bendungan Serut

Semua bendungan di atas dikelola oleh Perum Jasa Tirta I

Lumpur Lapindo[sunting | sunting sumber]

Terkait dengan luapan lumpur hidrokarbon dari Desa Siring Kecamatan Porong Kabupaten Sidoarjo yang dikenal dengan Lumpur Lapindo, aliran sungai ini dipergunakan untuk menggelontor sebagian semburan lumpur ke selat Madura. Sebagian lumpur ini dipompa masuk ke salah satu anak sungai di hilir, yakni Kali Porong.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Kali Brantas at Geonames.org (cc-by); Last updated 2013-06-04; Database dump downloaded 2015-11-27
  2. ^ Whitten, T; Soeriaatmadja, R. E.; Suraya A. A. (1996). The Ecology of Java and Bali. Hong Kong: Periplus Editions Ltd. hlm. 132. 
  3. ^ Ramu, Kikkeri (December 2004). "Brantas River Basin Case Study, Indonesia" (pdf). Background Paper. Worldbank: 36. 
  4. ^ Peel, M C; Finlayson, B L; McMahon, T A (2007). "Updated world map of the Köppen-Geiger climate classification". Hydrology and Earth System Sciences. 11: 1633–1644. doi:10.5194/hess-11-1633-2007. Diakses tanggal 30 January 2016. 
  5. ^ a b "NASA Earth Observations Data Set Index". NASA. 30 January 2016. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-05-10. Diakses tanggal 2019-02-11. 
  6. ^ "NASA Earth Observations: Rainfall (1 month - TRMM)". NASA/Tropical Rainfall Monitoring Mission. 30 January 2016. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-04-19. Diakses tanggal 2019-02-11. 
  7. ^ a b c Ir. Surjono (26 Agustus 1969). Menguasai dan Memanfaatkan Kali Brantas (PDF) (Laporan). Proyek Induk Serbaguna Kali Brantas. Diakses tanggal 23 Januari 2022. 
  8. ^ Staf Proyek Brantas (1 April 1972). Uraian Singkat Mengenai Proyek Bendungan Serbaguna Karangkates (PDF) (Laporan). Proyek Induk Serbaguna Kali Brantas. Diakses tanggal 23 Januari 2022. 

Koordinat: 7°27′36″S 112°25′49″E / 7.4599°S 112.4302°E / -7.4599; 112.4302