Pelabuhan Tanjung Perak

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Pelabuhan Tanjung Perak
Tanjung Perak Surabaya.jpg
Lokasi
Negara Bendera Indonesia Indonesia
Lokasi Surabaya
Koordinat 7°11′54″LS,112°43′22″BT
Detail
Pengelola PT. (Persero) Pelabuhan Indonesia III
Ukuran pelabuhan 1574,3 Hektare
Luas lahan 545 Hektare
Statistik
Website www.perakport.co.id

Pelabuhan Tanjung Perak adalah sebuah pelabuhan yang terdapat di Surabaya, Jawa Timur. Secara administratif, pelabuhan Tanjung Perak termasuk ke dalam Kelurahan Perak Timur, Kecamatan Pabean Cantikan, Kota Surabaya. Di pelabuhan ini juga terdapat terminal peti kemas. Tanjung Perak merupakan pelabuhan terbesar dan tersibuk kedua di Indonesia setelah Tanjung Priok dan juga sebagai pusat perdagangan di Indonesia bagian timur. Tanjung Perak juga menjadi kantor pusat PT. (Persero) Pelabuhan Indonesia III.

Di sebelah pelabuhan Tanjung Perak terdapat Pelabuhan Ujung, yakni pelabuhan kapal feri dengan tujuan Pelabuhan Kamal, Bangkalan, Madura.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Pelabuhan Tanjung Perak di masa Hindia Belanda.

Tanjung Perak merupakan salah satu pintu gerbang Indonesia, yang berfungsi sebagai kolektor dan distributor barang dari dan ke Kawasan Timur Indonesia, termasuk Jawa Timur. Karena letaknya yang strategis dan didukung oleh dataran gigir atau hinterland yang potensial maka Tanjung Perak juga merupakan Pusat Pelayaran Interinsulair Kawasan Timur Indonesia.

Dahulu kapal-kapal samudera membongkar dan memuat barang-barangnya di selat Madura untuk kemudian dengan tongkang dan perahu- perahu dibawa ke Jembatan Merah (pelabuhan pertama saat itu) yang berada di jantung kota Surabaya melalui sungai Kalimas.

Karena perkembangan lalu lintas perdagangan dan peningkatan arus barang serta bertambahnya arus transportasi maka fasilitas dermaga di Jembatan Merah itu akhirnya tidak mencukupi. Kemudian pada tahun 1875 Ir. W. de Jongth menyusun rencana pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak agar dapat memberikan pelayanan kepada kapal-kapal samudera untuk membongkar dan memuat secara langsung tanpa melalui tongkang-tongkang dan perahu-perahu. Akan tetapi rencana ini kemudian ditolak karena biayanya sangat tinggi.

Selama abad 19 tidak ada pembangunan fasilitas pelabuhan, padahal lalu lintas angkutan barang ke Jembatan Merah terus meningkat. Sementara rencana pembangunan pelabuhan yang disusun Ir. W. de Jongth dibiarkan terlantar.

Pada sepuluh tahun pertama abad ke-20 Ir. W.B. Van Goor membuat rencana yang lebih realistis yang menekankan suatu keharusan bagi kapal- kapal samudera untuk merapatkan kapalnya pada tambatan. Dua orang ahli didatangkan dari Belanda yaitu Prof. DR. Kraus dan G.J. de Jong untuk memberikan suatu saran mengenai rencana pembangunan Pelabuhan Tanjung Perak.

Setelah tahun 1910, pembangunan fisik Pelabuhan Tanjung Perak dimulai, dan selama dilaksanakan pembangunan ternyata banyak sekali permintaan untuk menggunakan kade/tambatan yang belum seluruhnya selesai itu.

Dengan selesainya pembangunan kade/tambatan, kapal-kapal Samudera dapat melakukan bongkar muat di pelabuhan. Pelabuhan Kalimas selanjutnya berfungsi untuk melayani angkutan tradlslonal dan kapal-kapal layar, sementara pelabuhan yang terletak dl Jembatan Merah secara perlahan mulal ditinggalkan.

Sejak saat itulah, Pelabuhan Tanjung Perak telah memberikan suatu kontribusl yang cukup besar bagi perkembangan ekonomi dan memiliki peranan penting, tidak hanya bagi peningkatan lalu lintas perdagangan di Jawa Timur tetapi juga bagi seluruh Kawasan Timur Indonesia.

Untuk mendukung peranan itu pada tahun 1983 telah diselesaikan pembangunan terminal antar pulau yang kemudian diberi nama terminal Mirah. Untuk keperluan pelayanan penumpang kapal laut antar pulau juga dibangun terminal penumpang yang terletak di kawasan Jamrud bagian utara. Berdampingan dengan terminal penumpang antar pulau dibangun pula terminal kapal feri untuk pelayanan penumpang Surabaya-Madura yang beroperasi 24 jam penuh. Terminal feri itu kini dikenal dengan nama Pelabuhan Ujung.

Seiring dengan berjalannya waktu pelabuhan Tanjung Perak telah pula membuktikan peranan strategisnya sebagai pintu gerbang laut nasional (Gateway Port). Untuk itu dipersiapkanlah pembangunan terminal petikemas bertaraf internasional yang pelaksanaan fisiknya akhirnya dapat diselesaikan pada tahun 1992. Terminal petikemas itu saat ini dikenal dengan nama Terminal Petikemas Surabaya.

Fasilitas[sunting | sunting sumber]

Terminal Gapura Surya Nusantara[sunting | sunting sumber]

Terminal Gapura Surya Nusantara, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Pelabuhan penumpang Tanjung Perak menghubungkan Surabaya dengan kota-kota pelabuhan lain di Indonesia. Terminal penumpang Tanjung Perak bernama Gapura Surya Nusantara yang merupakan terminal penumpang kapal laut termewah di Indonesia. Terdapat kapal ferry dengan rute Surabaya-Banjarmasin dan Surabaya-Makassar. Terminal Gapura Surya Nusantara dilengkapi dengan fasilitas dua buah garbarata untuk kapal yang menjadikan Tanjung Perak menjadi pelabuhan pertama di Indonesia yang menyediakan fasilitas ini.

Terminal Teluk Lamong[sunting | sunting sumber]

Terminal Teluk Lamong, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Pada 2015, kegiatan di Pelabuhan Tanjung Perak juga ditopang oleh kehadiran Terminal Teluk Lamong yang merupakan salah satu terminal pelabuhan tercanggih di dunia di mana seluruh sistem operasinya otomatis dan menggunakan komputer. Direncanakan antara Pelabuhan Tanjung Perak dan Terminal Teluk Lamong akan dihubungkan dengan sistem monorel petikemas pertama di dunia.[1]

Dermaga kapal pesiar[sunting | sunting sumber]

Fasilitas dermaga kapal pesiar di Pelabuhan Tanjung Perak.

Pelabuhan Tanjung Perak juga dilengkapi dengan fasilitas dermaga yang dapat melayani kapal pesiar baik dari dalam negeri maupun luar negeri.


Transportasi[sunting | sunting sumber]

Pelabuhan Tanjung Perak dapat diakses dari beberapa moda transportasi seperti jalan raya, jalan tol, maupun transportasi umum yang tersedia dari dan menuju Tanjung Perak, di antaranya bus kota, angkot, dan sebagainya. Jalan raya yang terhubung dengan Pelabuhan Tanjung Perak diantaranya adalah jalan lingkar timur Surabaya (Middle East Ring Road), dari arah Rungkut hingga Kenjeran, lalu belok ke arah Jalan Perak Timur, dan lain-lain. Sarana jalan tol yang menghubungkan dengan Pelabuhan Tanjung Perak yaitu Jalan Tol Surabaya-Porong yang terintegrasi dengan Jalan Tol Surabaya-Gresik dan Jalan Tol Waru-Juanda.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]