Kerajaan Blambangan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kerajaan Blambangan
1489–1777
Blambangan di ujung timur Pulau Jawa (sekarang Banyuwangi)
Blambangan di ujung timur Pulau Jawa (sekarang Banyuwangi)
Ibu kota
Bahasa yang umum digunakanJawa Kuno,Osing
Agama
Hindu, Buddha, Islam
PemerintahanMonarki
Menak/Gusti/Prabu 
• 1489-1500
Bima Koncar
• 1500-1546
Menak Pentor
• 1572-1597
Sontoguno
• 1597-1638
Tawang Alun I
• 1645-1691
Tawang Alun II
• 1736-1763
Danuningrat
• 1763-1768
Wong Agung Wilis
Sejarah 
• Bima Koncar menjadi penguasa Semenanjung Blambangan
1489
• dibawah kekuasaan Kerajaan Gelgel
1546-1572
• dibawah kekuasaan Kesultanan Mataram
1638-1649
• Perang Saudara antara keturunan Tawang Alun II
1691-1736
1767-1768
1771-1772
• menjadi wilayah kekuasaan Hindia Belanda
1777
Didahului oleh
Digantikan oleh
Kerajaan Majapahit
Hindia Belanda

Kerajaan Blambangan atau Balambangan adalah kerajaan yang berada di Semenanjung Blambangan, Ujung timur Pulau Jawa. Kerajaan Blambangan dianggap sebagai kerajaan bercorak Hindu terakhir di Pulau Jawa. Diketahui bahwa Kerajaan Blambangan dulunya merupakan kota pelabuhan, bagian dari Majapahit Timur. Pada tahun 1527 menjadi tempat pelarian bagi keturunan raja Majapahit Girindrawardhana Dyah Ranawijaya, yang tersingkir karena diserang oleh Kesultanan Demak.

Sejarah Blambangan[sunting | sunting sumber]

Menjelang awal abad ke-15, pada tahun 1489, cucu Lembu Miruda (penguasa Tengger), putra Menak Sembar (penguasa Lumajang) yang bernama Bima Koncar telah meneguhkan dirinya sebagai penguasa Lumajang dan Semenanjung Blambangan yang memerintah hingga tahun 1500.

Dari laporan Tome Pires, Bima Koncar memiliki putra bernama Menak Pentor, memerintah antara 1500-1546, yang berhasil memperluas wilayah Blambangan. Di bawah kekuasaan Menak Pentor, Blambangan menjadi kerajaan yang kuat, kaya, dan makmur. Wilayahnya meliputi Lumajang di bagian selatan dan Panarukan di utara, hingga ujung timur Pulau Jawa. Letaknya pun cukup strategis, karena dikelilingi oleh lautan di ketiga sisinya, sehingga banyak memiliki pelabuhan. Salah satu pelabuhan di pesisir utara Blambangan yang paling terkenal adalah Panarukan. Berita dari Serat Kanda menyebutkan, bahwa Dyah Ranawijaya, setelah Daha jatuh ke pasukan Demak, melarikan diri ke Panarukan (kini nama kecamatan di Kab. Situbondo, Jawa Timur, utara Banyuwangi). Panarukan sendiri ketika itu merupakan sebuah pelabuhan yang cukup ramai dan sejak abad ke-14 telah menjadi salah satu pangkalan kapal terpenting bagi Kerajaan Majapahit, dan menjadi salah satu persinggahan bagi kapal-kapal yang hendak melanjutkan pelayaran ke Maluku untuk berdagang rempah-rempah. Dengan tibanya Dyah Ranawijaya di kota pelabuhan ini, wilayah Panarukan bisa dianggap sebagai kelanjutan Kadiri. Dan berdasarkan penuturan orang Hindia Belanda kemudian, daerah Panarukan ini dapat diidentifikasi sebagai Kerajaan Blambangan. Hal ini sesuai berita Portugis yang menyebutkan adanya utusan Kerajaan Hindu dari Panarukan ke Malaka pada 1528—setahun setelah Dyah Ranawijaya diserang Demak. Utusan dari Panarukan ini bermaksud mendapatkan dukungan orang-orang Portugis, yang tentunya bermaksud menghadang pengaruh Islam-Demak di Jawa. Bukti lain bahwa Panarukan adalah bagian dari Blambangan adalah peristiwa terbunuhnya Sultan Trenggana raja ke-3 Demak pada 1546. Pada saat Kerajaan Demak memperlebar wilayah kekuasaannya di bawah kepemimpinan Sultan Trenggana, sebagian wilayah Jawa Timur berhasil dikuasainya, termasuk Pasuruan yang ditaklukan pada 1545 dan sejak saat itu menjadi kekuatan Islam yang penting di ujung timur Jawa. Akan tetapi, usaha Demak menaklukkan Blambangan mengalami kendala karena kerajaan ini menolak Islam. Bahkan, pada 1546, Sultan Trenggana sendiri terbunuh di dekat Panarukan, setelah selama tiga bulan tidak mampu menembus kota Panarukan.

Setelah Demak mundur, giliran Kerajaan Gelgel dan Kerajaan Mengwi dari Bali yang menyerang dan merebut Blambangan dari Menak Pentor. Hingga antara tahun 1546-1572, Blambangan berada di bawah kekuasaan Kerajaan Gelgel.

Pada 1572, cucu Bima Koncar, putra Menak Djinggo bernama Sontoguno, berhasil merebut Panarukan dari Kerajaan Gelgel-Mengwi dan memperkuat kembali kerajaan Blambangan, beribukota di Baluran. Selama masa kekuasaan Sontoguno, Blambangan mendapat kunjungan delegasi Portugis, yang berhasil mengajak beberapa keluarga kerajaan Blambangan masuk Katolik.

Pada tahun 1597, giliran Blambangan diserang oleh pasukan Pasuruan yang dibantu Kesultanan Demak. Setelah mengalahkan aliansi Pasuruan-Demak, Sontoguno digantikan oleh Pangeran Singosari atau Prabhu Tawang Alun I. Kemudian pada tahun 1638, giliran Kesultanan Mataram menyerang dan menduduki Blambangan, hingga membuat Tawang Alun I terpaksa melarikan diri, sedangkan putra mahkotanya, Mas Kembar, menjadi tawanan.

Dibawah kekuasaan Kesultanan Mataram, pada tahun 1645, Mas Kembar naik tahta dengan gelar Prabhu Tawang Alun II, Blambangan kembali menyatakan diri sebagai wilayah yang merdeka, dan akibatnya pertempuran antara Mataram dan Blambangan pun terjadi kembali, dan berakhir dengan kemenangan Mataram. Menyebabkan Tawang Alun II melarikan diri dan pada tahun 1649 memindahkan pusat kerajaan Blambangan ke wilayah selatan, ke daerah Macanputih dan pelabuhan utama ke Muncar. Dibawah pemerintahan Tawang Alun II, kerajaan Blambangan maju dengan pesat di mana kekuasaannya menyatu dari Bali, Banyuwangi, Jember hingga ke Lumajang.

Kemudian, usaha para penguasa Mataram dalam menundukkan Blambangan mengalami kegagalan. Hal ini mengakibatkan kawasan Blambangan (dan Banyuwangi pada umumnya) tidak pernah masuk ke dalam budaya Jawa Tengah. Maka dari itu, sampai sekarang kawasan Banyuwangi memiliki ragam bahasa yang cukup berbeda dengan bahasa Jawa baku. Pengaruh Bali-lah yang lebih menonjol pada berbagai bentuk kesenian dari wilayah Blambangan.

Keruntuhan Blambangan[sunting | sunting sumber]

Perang Saudara keturunan Tawang Alun II[sunting | sunting sumber]

ketika Kangjeng Susuhunan Prabhu Tawang Alun II wafat tahun 1691 terjadi pengangkatan Pangeran Pati sebagai Raja Blambangan Macan Putih. Pangeran Pati dikalahkan, namun kemudian pangeran Putro (Danurejo) menjadi raja, tercatat perang saudara tersebut berlangsung lama dan baik Macanapuro, Danurejo dan Sosronegoro (Dipati Rayi) sempat memimpin Blambangan menjadi raja namun hanya sebentar mengingat perang perebutan kekuasaan tersebut terus menerus berlangsung. Perang saudara setelah meninggalnya Sinuhun Gusti Prabhu Tawang Alun II, membuat kedathon macan putih menjadi rusak.

  • Kisah yang paling mengesankan adalah kemarahan Dipati Rayi yang sangat sakti dia juga adalah murid Ki Buyut Wongsokaryo yang juga guru dari Gusti Prabhu Tawang Alun. Kesaktian Dipati Rayi atau Prabhu Sosronegoro membuat Kedhaton Macan Putih hancur, para agul agul berperang secara lingsem (malu). Dipati Rayi yang mengamuk dan merusak Kedhaton Macan Putih baru berhenti karena meninggal akibat senjata Ki Buyut Wongsokaryo, gurunya sendiri, yaitu Tulup Ki Baru Klitik.

Akhir perang ini mengakibatkan Gusti Prabhu Macanapuro, Gusti Prabhu Sosronegoro (Dipati Rayi), Pangeran Pati maupun Gusti Prabu Danurejo seluruhnya tewas.

Gusti Prabhu Danurejo (Pangeran Putro) memiliki permasuri:

  • Mas Ayu Gendhing dari perkawinan tersebut memiliki Putra:
    • Pangeran Agung Dupati
  • Dari selir (kakak Ipar Gusti Agung Mengwi/Raja Mengwi) dia berputra:

Karena kacaunya perang saudara, Pangeran Agung Dupati dan Pangeran Mas Sirno diungsikan, setelah perang berakhir, Pangeran Agung Dupati diangkat Menjadi Raja Blambangan yang bergelar Sinuhun Gusti Prabhu Danuningrat memerintah Blambangan Kedhaton Macan putih pada tahun 1736-1763

Perang melawan VOC[sunting | sunting sumber]

Di akhir abad ke-17, setelah meninggalnya Danuningrat pada tahun 1763, VOC secara sepihak menyatakan bahwa Blambangan adalah wilayah kekuasaannya, maka pada 1767-1768, terjadilah Perang Wilis, yang dipimpin oleh Wong Agung Wilis melawan VOC.[1] Setelah Wong Agung Wilis dikalahkan, kemudian terjadi Perang Bayu pada tahun 1771-1772, dan menjadi perang habis-habisan (puputan) pasukan Blambangan yang dipimpin oleh Pangeran Jagapati melawan pasukan VOC. Setelah Jagapati kalah dan terbunuh, VOC mengisi kekosongan pemerintahan dan menggabungkan Blambangan kedalam karesidenan Besuki, dengan mengangkat Mas Alit bergelar KRT Wiroguno sebagai Bupati Pertama.

Setelah dipimpin oleh KRT Wiroguno inilah dinasti Kerajaan Blambangan secara pasti dan tepercaya telah memeluk Islam. Generasi diatas KRT Wiroguno tidak terdapat sumber tepercaya telah memeluk Agama Islam.

Runtuhnya Kerajaan Blambangan, bagi Bali merupakan suatu peristiwa yang sangat berarti dari segi kebudayaan. Para raja Bali percaya bahwa nenek-moyang mereka berasal dari Majapahit. Dengan masuknya Blambangan ke dalam kekuasaan VOC, Bali menjadi lepas dari Jawa.

Silsilah Kerajaan Blambangan[sunting | sunting sumber]

Silsilah Wangsa Blambangan[sunting | sunting sumber]

Keturunan Lembu Miruda[sunting | sunting sumber]

  • Lembu Miruda (Minak Anisraya) (memerintah Tengger, Lumajang), menurunkan:
  • Minak Sembar (Mas Sembar) (memerintah Pager, Lumajang), menurunkan:
  • Minak Koncar (Bima Koncar) (Penguasa Lumajang dan Semenanjung Blambangan pada tahun 1489-1500), menurunkan:
    • Minak Pentor (memerintah di Babadan, Lumajang tahun 1500-1546)
    • Minak Cucu (memerintah di Panarukan, Candi Bang (Kedathon Baluran)): Minak Cucu disebut juga Minak Djinggo penguasa Djinggan, dia berputra:
    • Minak Gadru (memerintah di Prasada, Lumajang), menurunkan:
      • Minak Lampor yang memerintah di (Werdati, Teposono, Lumajang), Menurunkan:
        • Minak Lumpat (Prabhu Rebut Payung) (memerintah di Werdati, Lumajang), berputra:
          • Minak Seruyu (Tawang Alun I) 1597-1638
        • Minak Luput (Sebagai Senopati)
        • Minak Sumendhe (sebagai Karemon (Agul Agul))

Silsilah Tawang Alun I[sunting | sunting sumber]

Minak Lumpat mempunyai putra yaitu Minak Seruyu disebut juga Pangeran Singosari bergelar Prabhu Tawang Alun I. Pada masa pemerintahannya, Tawang Alun I menaklukkan Mas Kriyan dan seluruh keluarga Mas Kriyan, sehingga tidak ada keturunannya. Kemudian Prabhu Tawang Alun I menjadi penguasa wilayah Kedawung (Lumajang) dan Candi Bang (Baluran) pada tahun 1597-1638.

Prabhu Tawang Alun I memiliki Putra :

  • Gede Buyut
  • Mas Ayu Widharba
  • Mas Lanang Dangiran (Mbah Mas Brondong) menurunkan:
    • Mas Aji Reksonegoro
    • Mas Danuwiryo
  • Mas Senepo (Mas Kembar) (Tawang Alun II)
  • Mas Lego menurunkan:
    • Mas Surangganti
    • Mas Surodilogo (Mbah Kopek)

Silsilah Tawang Alun II[sunting | sunting sumber]

Putra Tawang Alun I, Mas Senepo (Mas Kembar) inilah yang kemudian memindahkan ibukota Blambangan ke Kedhaton Macan Putih (sekarang daerah Macanputih, Kabat, Banyuwangi) bergelar Kangjeng Susuhunan Prabhu Tawang Alun II, di mana dia memerintah pada wilayah Kerajaan Blambangan 1649 hingga 1691. Kangjeng Susuhunan Prabhu Tawang Alun II memiliki beberapa istri dan selir, sehingga menjadi beberapa garis keturunan.

Kangjeng Susuhunan Prabhu Tawang Alun II, memiliki putra putri dari:

  • Mas Ayu Rangdiyah dari Mataram, berputra:
  • Mas Ayu Dewi Sumekar (Blater) menurunkan:
    • Dalem Patih Sasranegoro (Pangeran Dipati Rayi)
    • Pangeran Keta (Ketanegara)
    • Dalem Agung Macanapuro
    • Pangeran Macanegara
    • Pangeran Gajah Binarong
  • Dari para selir menurunkan:
    • Mas Dalem Jurang mangun
    • Mas Dalem Puger
    • Mas Dalem ki Janingrat
    • Mas Dalem Wiroguno, menurunkan:
    • Mas Dalem Wiroluko
    • Mas Dalem Wiroludro
    • Mas Dalem Wilokromo
    • Mas Dalem Wilo Atmojo
    • Mas Dalem Wiroyudo
    • Mas Dalem Wilotulis

Arkeologi[sunting | sunting sumber]

Beberapa penemuan sejarah yang menjadi objek cukup menarik dari peninggalan kerajaan blambangan adalah Tembok Rejo, berupa tembok bekas benteng kerajaan Blambangan sepanjang lebih kurang 5 km terpendam pada kedalaman 1 - 0.5 m dari permukaan tanah dan membentang dari masjid pasar muncar hingga di areal persawahan Desa Tembok Rejo.

Siti Hinggil atau oleh masyarakat lebih di kenal dengan sebutan setinggil yang artinya Siti adalah tanah, Hinggil/inggil adalah tinggi. Objek Siti Hinggil ini berada di sebelah timur pertigaan pasar muncar (lebih kurang 400 meter arah utara TPI/Tempat Pelelangan ikan). Siti Hinggil ini merupakan pos pengawasan pelabuhan/syah bandar yang berkuasa pada masa kerajaan Blambangan, berupa batu pijakan yang terletak di atas gundukan batu tebing yang mempunyai "keistimewaan" untuk mengawasi keadaan di sekitar teluk Pang Pang dan Semenanjung Blambangan. Beberapa benda peninggalan sejarah Blambangan yang kini tersimpan di museum daerah berupa Guci dan asesoris gelang lengan, sedangkan kolam dan Sumur kuno yang ditemukan masih berada di sekitar Pura Agung Blambangan yaitu di Desa Tembok Rejo kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi.

Di samping itu pada lokasi Keraton Macan Putih didaerah Kabat, Banyuwangi didapati relief arkeologi dan benda benda yang terkubur saat ini dilokasi seluas 44 Hektar yang telah menjadi persawahan dan kebun sering didapati benda arkeologi milik kerajaan, beberapa puing tembok batas kerajaan pun terkubur rusak dan hancur, masyarakat setempat sering memindahkan dan atau menyimpan puing puing tersebut. Ditemui juga beberapa koleksi di beberapa museum di Belanda yang berisi gambar, foto maupun artefak Keraton Macan Putih.

Setelah Keraton Macan Putih hancur penerus Raja Blambangan yaitu Mas Jaka Rempeg (Pangeran Jagapati) mendirikan Kerajaan Bayu yang berada di sekitar Rawa Bayu (Bayu, Songgon, Banyuwangi), kerajaan ini tidak bertahan lama hanya beberapa bulan saja, karena terjadi perang Puputan Bayu 1771-1772. Disini dapat ditemukan beberapa sisa artefak dan bekas peperangan dengan VOC.

Hingga kini meskipun Kerajaan sudah hancur Para kerabat Kerajaan secara turun temurun tetap menjaga beberapa pusaka penting peninggalan Kerajaan.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Sumber[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Basri, Hasan (Ed). 2006. Pangeran Jagapati, Wong Agung Wilis dan Sayu Wiwit. 3 Pejuang Dari Blambangan. Banyuwangi: Penerbit Pemda Kabupaten Banyuwangi
  2. ^ Babad Tawang Alun (ditulis pada tahun 1826) dalam Winarsih PA, Babad Blambangan, Bentang, Yogyakarta, 1995.