Kerajaan Kalingga

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kerajaan Kalingga

Ho-ling
Abad ke-6–Abad ke-7
Peta kerajaan Kalingga
Peta kerajaan Kalingga
Ibu kotaTidak diketahui, diperkirakan antara Pekalongan dan Jepara
Bahasa yang umum digunakanJawa Kuno, Sanskerta
Agama
Hindu dan Buddha
PemerintahanMonarki
Raja atau Ratu 
• sekitar 594
Wasumurti
• sekitar 674
Shima
Sejarah 
• Didirikan
Abad ke-6
• Runtuh
Abad ke-7
Didahului oleh
Digantikan oleh
Tarumanagara
Mataram Kuno
Sekarang bagian dari Indonesia
Catatan sejarah berdasarkan naskah-naskah dan catatan perdagangan Tiongkok.

Kerajan Kalingga (bahasa Jawa: ꦏꦫꦠꦺꦴꦤ꧀ꦏꦭꦶꦔ꧀ꦒ) atau Kerajaan Ho-ling (Hanzi: 訶 陵; Hēlíng atau 闍 婆; Dūpó dalam sumber-sumber Tiongkok) adalah kerajaan bercorak Hindu-Buddha yang pertama muncul di pantai utara Jawa Tengah pada abad ke-6 Masehi, bersamaan dengan Kerajaan Kutai dan Tarumanagara.

Historiografi[sunting | sunting sumber]

Temuan arkeologis dan catatan sejarah dari kerajaan ini langka, dan lokasi persis ibu kota kerajaan tidak diketahui. Diperkirakan ada di suatu daerah antara Pekalongan dan Jepara saat ini. Sebuah tempat bernama Kecamatan Keling ditemukan di pantai utara Kabupaten Jepara, namun beberapa temuan arkeologis di dekat Kabupaten Pekalongan dan Batang menunjukkan bahwa Kabupaten Pekalongan adalah pelabuhan kuno, nama Pekalongan mungkin merupakan nama yang diubah dari Pe-Kaling-an. Kalingga ada antara abad ke-6 dan ke-7, dan itu adalah salah satu kerajaan Hindu-Buddha paling awal yang didirikan di Jawa Tengah.[1]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Sumber lokal[sunting | sunting sumber]

Carita Parahyangan[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan naskah Carita Parahyangan yang berasal dari abad ke-16, putri Ratu Shima, bernama Parwati, menikah dengan putra mahkota Kerajaan Galuh yang bernama Rahyang Mandiminyak, yang kemudian menjadi raja kedua dari Kerajaan Galuh. Dikisahkan Ratu Shima memiliki cucu bernama Sannaha yang menikah dengan raja Galuh ketiga, yaitu Bratasenawa. Sannaha dan Bratasenawa memiliki anak yang bernama Rakryan Sanjaya yang kelak menjadi raja dan menggabungkan Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh.

Setelah Ratu Shima meninggal pada tahun 732 M, Rakryan Sanjaya menggantikan buyutnya dan menjadi raja Kalingga Selatan yang kemudian disebut Mataram, dan kemudian mendirikan dinasti baru bernama wangsa Sanjaya.

Kekuasaan di Sunda-Galuh diserahkan kepada putranya dari Tejakencana, yaitu Tamperan Barmawijaya alias Rakryan Panaraban. Kemudian Rakryan Sanjaya menikahi Sudiwara putri Rakryan Dewasingha, raja Kalingga Utara, dan memiliki putra yaitu Rakai Panangkaran.

Nama Ho-ling diperkirakan muncul pada abad ke-5 (kemudian disebut Keling) yang diperkirakan terletak di utara Jawa Tengah. Keterangan tentang Kerajaan Ho-ling didapat dari catatan dari Tiongkok. Pada tahun 752, Kerajaan Ho-ling menjadi wilayah taklukan Kerajaan Sriwijaya dikarenakan kerajaan ini menjadi bagian jaringan perdagangan, bersama Kerajaan Melayu dan Kerajaan Tarumanagara yang sebelumnya telah ditaklukan Sriwijaya. Ketiga kerajaan tersebut menjadi pesaing kuat jaringan perdagangan Sriwijaya.[2]

Kisah lokal[sunting | sunting sumber]

Terdapat kisah yang berkembang di Jawa Tengah mengenai seorang ratu legendaris yang menjunjung tinggi prinsip 'keadilan' dan 'kebenaran' dengan keras tanpa pandang bulu. Kisah legenda ini bercerita mengenai Ratu Shima yang mendidik rakyatnya agar selalu berlaku jujur dan menindak tegas kejahatan pencurian. Ia menerapkan hukuman yang tegas yaitu pemotongan tangan bagi siapa saja yang mencuri.

Pada suatu ketika seorang raja dari seberang lautan mendengar mengenai kemasyhuran rakyat Kalingga yang terkenal jujur dan taat hukum. Untuk mengujinya ia meletakkan sekantung uang emas di persimpangan jalan dekat pasar. Tak ada seorang pun rakyat Kalingga yang berani menyentuh apalagi mengambil barang yang bukan miliknya. Hingga tiga tahun kemudian kantung itu disentuh oleh putra mahkota dengan kakinya. Ratu Shima demi menjunjung hukum menjatuhkan hukuman mati kepada putranya. Dewan menteri memohon agar Ratu mengampuni kesalahan putranya. Karena kaki sang pangeranlah yang menyentuh barang yang bukan miliknya, maka sang pangeran dijatuhi hukuman potong kaki.[3]

Berita Tiongkok[sunting | sunting sumber]

Berita keberadaan Ho-ling juga dapat diperoleh dari berita yang berasal dari zaman dinasti Tang dan catatan I-Tsing, seorang biksu Buddha yang berkelana lewat laut ke India melalui jalur sutra.

Catatan dari zaman Dinasti Tang[sunting | sunting sumber]

Catatan pada zaman Dinasti Tang, memberikan keterangan tentang keberadaan Ho-ling sebagai berikut.

  • Ho-ling atau Jawa terletak di seberang lautan selatan. Di sebelah utaranya terletak Ta Hen La (Kamboja), di sebelah timurnya terletak Po-Li (Bali) dan di sebelah barat terletak Sumatra.
  • Ibu kota Ho-ling dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari tonggak kayu.
  • Raja tinggal di suatu bangunan besar bertingkat, beratap daun palem, dan singgasananya terbuat dari gading.
  • Penduduk Ho-ling sudah pandai membuat minuman keras dari bunga kelapa.
  • Daerah Ho-ling menghasilkan kulit penyu, emas, perak, cula badak dan gading gajah.

Catatan dari berita Tiongkok ini juga menyebutkan bahwa sejak tahun 674, rakyat Ho-ling diperintah oleh penguasa perempuan yang disebut Hsi-mo (Ratu Shima). Ia adalah seorang ratu yang sangat adil dan bijaksana. Pada masa pemerintahannya Ho-ling sangat aman dan tentram.

Catatan I-Tsing[sunting | sunting sumber]

Catatan I-Tsing (tahun 664/665 M) menyebutkan bahwa pada abad ke-7 tanah Jawa telah menjadi salah satu pusat pengetahuan agama Buddha. Di Ho-ling ada pendeta Tionghoa bernama Hwining, yang menerjemahkan salah satu kitab agama Buddha ke dalam bahasa Tionghoa. Ia bekerjasama dengan pendeta Jawa bernama Janabadra. Kitab terjemahan itu antara lain memuat cerita tentang Nirwana, tetapi cerita ini berbeda dengan cerita Nirwana dalam agama Buddha Hinayana.

Daftar raja-raja Kalingga[sunting | sunting sumber]

Belum ditemukan temuan berupa prasasti atau catatan sejarah sezaman mengenai keberadaan Kerajaan Kalingga secara pasti. Daftar ini merupakan penyebutan nama raja-raja Kalingga hingga masa raja Sanjaya yang mendirikan kerajaan Mataram Kuno. Kendati demikian, nama-nama raja Kalingga ini hanya ditemukan pada naskah-naskah seperti Carita Parahyangan dan Naskah Wangsakerta. Berikut daftar nama raja-raja yang diperkirakan pernah memerintah di Kerajaan Kalingga:

Tahun berkuasa Nama raja Keterangan
594-605 M Wasumurti Berkuasa selama 11 tahun. Memiliki dua orang anak, yaitu: Wasugeni dan Dewi Wasundari (menikah dengan Kiratasingha). Setelah ia wafat, takhta diteruskan oleh Wasugeni.
605-632 M Wasugeni Berkuasa selama 27 tahun. Ia menikah dengan Dewi Paramita, sebagai permaisuri. Dewi Paramita adalah putri raja dinasti Pallawa dari India. Mereka dikaruniai dua orang anak, yaitu: Wasudewa dan Dewi Wasuwari (Ratu Shima), yang menikah dengan Kartikeyasingha. Setelah ia wafat, takhta diteruskan oleh Wasudewa.
632-652 M Wasudewa Berkuasa selama 20 tahun. Ia memerintah bersama dengan adiknya, Dewi Wasuwari. Ia memiliki seorang putra bernama Wasukawi. Setelah ia wafat, takhta diteruskan oleh Wasukawi.
652-??? M Wasukawi Berkuasa hanya sebentar karena usianya yang masih mudah. Kemudian, takhta digantikan Kiratasingha
632-648 M Kiratasingha Berkuasa selama 20 tahun. Ia adalah menantu Wasumurti dan merupakan ayah dari Kartikeyasingha, putra yang berasal dari istri Melayu. Kiratasingha diketahui adalah seorang bangsawan dari Kerajaan Melayu yang mengungsi ke Jawa karena ekspansi dari Kerajaan Sriwijaya.
648-674 M Kartikeyasingha Berkuasa selama 26 tahun bersama istrinya, Ratu Shima. Ia merupakan menantu Wasugeni setelah menikahi Dewi Wasuwari (Ratu Shima). Kartikeyasingha dari pihak ibunya masih keturunan raja Kerajaan Melayu, karena ibunya adalah adik raja Melayu yang ditumpas oleh Sri Jayanasa dari Kerajaan Sriwijaya.
674-695 M Wasuwari (Ratu Shima) Berkuasa selama 21 tahun, menggantikan suaminya yang wafat. Ia memiliki dua orang anak, yaitu: Dewi Parwati dan Rakryan Dewasingha. Dewi Parwati kelak menikah dengan Rahyang Mandiminyak, yang menjadi raja kedua di Kerajaan Galuh. Kemudian memiliki anak bernama Dewi Sannaha. Kelak Dewi Sannaha menikah dengan Bratasenawa, raja ketiga Kerajaan Galuh.

Setelah Ratu Shima wafat, kemudian kerajaan Kalingga dibagi menjadi dua kekuasaan. Kalingga bagian selatan dipimpin oleh Dewi Parwati bersama Rahyang Mandiminyak, raja kedua Galuh. Sedangkan Kalingga bagian utara dipimpin adiknya, Rakryan Dewasingha. Berikut ini nama raja-raja yang berkuasa di kedua pecahan kerajaan Kalingga.

Kalingga Utara[sunting | sunting sumber]

  • Rakryan Narayana (695-742 M), bergelar Prabu Iswarakesawalingga Jagatnata Bhuwanatala
  • Rakryan Dewasingha (742-760 M), bergelar Prabu Iswaralingga Jagatnata
  • Rakryan Limwana (760-789 M) bergelar Prabu Gajayanalingga Jagatnata

Kalingga Selatan[sunting | sunting sumber]

  • Dewi Parwati (695-709 M), bergelar Sri Maharani Parwati Tunggalpratiwi
  • Dewi Sannaha (709-716 M)
  • Rakryan Sanjaya (716-746 M), bergelar Prabu Harisdharma Ksatrabhimaparakrama Yudhenipuna Bratasennawaputra

Sejak pemerintahan Rakryan Sanjaya, terjadi pemberontakan Purbasora di Kerajaan Galuh, yang dipimpin ayahnya, Bratasenawa. Ia kemudian mendirikan Kerajaan Mataram Kuno di daerah selatan dan mendirikan wangsa Sanjaya.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Mengenal Kerajaan Kalingga[1]
  2. ^ Munoz, Paul Michel (2006). Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. Singapore: Editions Didier Millet. hlm. pages 171. ISBN 981-4155-67-5. 
  3. ^ Drs. R. Soekmono, (1973 edisi cetak ulang ke-5 1988). Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, 2nd ed. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. hlm. 37. 

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Sudiono (2000). Peninggalan Prasejarah di Kabupaten Purworejo. Jakarta: Puslitkernas: Majalah Kalpataru Majalah Arkeologi 14 29-50. 
  • Munoz, Paul Michel (2006). Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. Singapore: Editions Didier Millet. hlm. pages 171. ISBN 981-4155-67-5. 
  • Drs. R. Soekmono, (1973 edisi cetak ulang ke-5 1988). Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, 2nd ed. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. hlm. 37. 
  • Ary Sulistyo (2008). Situs-situs Megalitik di Daerah Tenggara Gunung Slamet Purbalingga Jawa Tengah: Kajian Linguistik Fisik dan Karakteristik Situs. Universitas Indonesia Library (dalam bahasa Indonesia). 


Didahului oleh:
Tarumanagara
Kerajaan Hindu-Budha
594 - 782
Diteruskan oleh:
Mataram Kuno