Kebangkitan Nasional Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Penandatangan Hari Kebangkitan Nasional 1948.

Kebangkitan Nasional Indonesia adalah periode pada paruh pertama abad ke-20, di mana rakyat Indonesia mulai menumbuhkan rasa kesadaran nasional sebagai "orang Indonesia". Masa ini ditandai dengan dua peristiwa penting yaitu berdirinya Boedi Oetomo (20 Mei 1908) dan ikrar Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928).[1] Masa ini merupakan salah satu dampak politik etis yang mulai diperjuangkan sejak masa Multatuli.

Tokoh[sunting | sunting sumber]

Tokoh-tokoh yang mempelopori Kebangkitan Nasional, antara lain yaitu:

  1. Soetomo (EBI: Sutomo)
  2. Dr. Tjipto Mangunkusumo (EBI: Cipto Mangunkusumo)
  3. Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EBI: Suwardi Suryaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hajar Dewantara)
  4. Dr. Douwes Dekker

Faktor pendorong[sunting | sunting sumber]

Secara garis besar, faktor pendorong kebangkitan nasional terbagi menjadi dua, yaitu faktor eksternal dan internal. Faktor internal, yakni [2]:

  1. Penderitaan rakyat yang berkepanjangan akibat penjajahan.
  2. Kenangan kejayaan masa lalu, seperti pada masa Kerajaan Sriwijaya atau Majapahit.
  3. Munculnya kaum intelektual yang menjadi pemimpin gerakan.

Sedangkan faktor eksternal, yakni:

  1. Timbulnya paham-paham baru di Eropa dan Amerika. Paham-paham baru tersebut seperti nasionalisme, liberalisme, dan sosialisme.
  2. Munculnya gerakan Turki Muda, Kongres Nasional India, dan Gandhisme. Gerakan-gerakan ini muncul karena kebangkitan nasional di Asia pada masa itu.
  3. Kemenangan Jepang atas Rusia pada perang Jepang-Rusia yang menyadarkan negara-negara di Asia untuk melawan negara barat.

Asal usul[sunting | sunting sumber]

Berdirinya Budi Utomo (BO) pada 20 Mei 1908 dinilai sebagai awal gerakan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Tanggal berdirinya BO diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Namun, penetapan waktu tersebut masih mengundang diskusi yang bersifat polemis.[3][4] Dasar pemilihan BO sebagai pelopor kebangkitan nasional dipertanyakan lantaran keanggotaan BO masih sebatas etnis dan teritorial Jawa. Kebangkitan nasional dianggap lebih terwakili oleh Sarekat islam, yang mempunyai anggota di seluruh Hindia.[5][6]

Pada tahun 1912, Douwes Dekker bersama Cipto Mangunkusumo dan Suwandi Suryaningrat mendirikan Indische Partij (Partai Hindia).[7] Pada tahun itu juga, Sarekat Dagang Islam yang didirikan Haji Samanhudi bertransformasi dari koperasi pedagang batik menjadi organisasi politik.[8] Selain itu, KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah, orang yang bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.[9]

Pada November 1913, Soewardi Soerjaningrat membentuk Komite Boemi Poetera. Komite tersebut melancarkan kritik terhadap Pemerintah Belanda yang bermaksud merayakan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjahan Perancis, tetapi dengan pesta perayaan yang biayanya berasal dari negeri jajahannya. Ia pun menulis "Als ik eens Nederlander was" ("Seandainya aku seorang Belanda") yang dimuat dalam surat kabar de Expresm milik Douwes Dekker. Karena tulisan inilah Suwardi Suryaningrat dihukum buang oleh pemerintah kolonial Belanda.[10]

Pada 4 Juli 1927, Sukarno dan Algemeene Studieclub memprakarsai berdirinya Perserikatan Nasional Indonesia sebagai partai politik baru. Pada Mei 1928, nama partai ini diubah menjadi Partai Nasional Indonesia. Menurut sejarawan MC Ricklefs, ini merupakan partai politik penting pertama yang beranggotakan etnis Indonesia, semata-mata mencita-citakan kemerdekaan politik.[11]

Peringatan[sunting | sunting sumber]

Sejak 1959, tanggal 20 Mei ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional, disingkat Harkitnas, yaitu hari nasional yang bukan hari libur yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia melalui Keppres No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959 untuk memperingati peristiwa Kebangkitan Nasional Indonesia.

Galeri[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Hannigan 2015, hlm. 176.
  2. ^ "Faktor Pendorong Munculnya Pergerakan Nasional". 
  3. ^ Akira Nagazumi (1989). Bangkitnya nasionalisme Indonesia: Budi Utomo, 1908-1918. Grafitipers. hlm. v. ISBN 978-979-444-066-7. 
  4. ^ "Kebangkitan Nasional". Republika Online. 2015-05-20. Diakses tanggal 2020-08-30. 
  5. ^ Wildan Sena Utama. "110 Tahun Boedi Oetomo: Bukan Satu-Satunya Pelopor Kebangkitan". tirto.id. Diakses tanggal 2020-08-30. 
  6. ^ Valina Singka Subekti (2014). Partai Syarikat Islam Indonesia: Konstestasi Politik hingga Konflik Kekuasaan Elite. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. hlm. 1–2. ISBN 978-979-461-859-2. 
  7. ^ "Indo yang Jadi Menteri". Historia - Majalah Sejarah Populer Pertama di Indonesia. Diakses tanggal 2020-08-30. 
  8. ^ M. Fuad Nasar (2017). Islam dan Muslim di Negara Pancasila. Gre Publishing. hlm. 2–3. ISBN 978-602-7677-24-1. 
  9. ^ M. Nasruddin Anshoriy Ch (2010). Matahari pembaruan: rekam jejak K.H. Ahmad Dahlan. Galangpress Group. hlm. 56–57. ISBN 978-602-97032-1-4. 
  10. ^ Anshoriy,Ch, HM Nasruddin (2008-01-01). Rekam Jejak ; Dokter Pejuang & Pelopor Kebangkitan Nasional. Lkis Pelangi Aksara. ISBN 978-979-1283-61-8. 
  11. ^ Merle Calvin Ricklefs (2008). Sejarah Indonesia Modern 1200–2008. Penerbit Serambi. hlm. 392–393. ISBN 978-979-024-115-2. 

Daftar Pustaka[sunting | sunting sumber]

Hannigan, Tim (2015). A brief history of Indonesia : sultans, spices, and tsunamis : the incredible story of Southeast Asia's largest nation. Tokyo; Vermont: Singapore: TUTTLE Publishing. ISBN 9781462917167.