Kerajaan Galuh

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Kerajaan Galuh

669–1482
Wilayah Kerajaan Bersatu Sunda dan Galuh
Ibu kota Saunggalah (669-1311)
Kawali (1311-1482)
Bahasa Bahasa Sunda, Bahasa Banyumasan
Agama Hindu, Buddha, Sunda Wiwitan
Bentuk Pemerintahan Monarki
Sejarah
 -  Pemisahan diri dari Tarumanegara dibawah Wretikandayun 669
 -  Penyatuan Sunda dan Galuh dibawah Sri Baduga Maharaja 1482
Mata uang Mata uang emas dan perak
Artikel ini bagian dari seri
Sejarah Indonesia
Sejarah Indonesia.png
Lihat pula:
Garis waktu sejarah Indonesia
Sejarah Nusantara
Prasejarah
Kerajaan Hindu-Buddha
Salakanagara (130-362)
Kutai (abad ke-4)
Tarumanagara (358–669)
Kendan (536–612)
Galuh (612-1528)
Kalingga (abad ke-6 sampai ke-7)
Sriwijaya (abad ke-7 sampai ke-13)
Sailendra (abad ke-8 sampai ke-9)
Kerajaan Medang (752–1006)
Kerajaan Kahuripan (1006–1045)
Kerajaan Sunda (932–1579)
Kediri (1045–1221)
Dharmasraya (abad ke-12 sampai ke-14)
Singhasari (1222–1292)
Majapahit (1293–1500)
Malayapura (abad ke-14 sampai ke-15)
Kerajaan Islam
Penyebaran Islam (1200-1600)
Kesultanan Samudera Pasai (1267-1521)
Kesultanan Ternate (1257–sekarang)
Kerajaan Pagaruyung (1500-1825)
Kesultanan Malaka (1400–1511)
Kerajaan Inderapura (1500-1792)
Kesultanan Demak (1475–1548)
Kesultanan Kalinyamat (1527–1599)
Kesultanan Aceh (1496–1903)
Kesultanan Banjar (1520–1860)
Kesultanan Banten (1527–1813)
Kesultanan Cirebon (1430 - 1666)
Kesultanan Mataram (1588—1681)
Kesultanan Palembang (1659-1823)
Kesultanan Siak (1723-1945)
Kesultanan Pelalawan (1725-1946)
Kerajaan Kristen
Kerajaan Larantuka (1600-1904)
Kolonialisme bangsa Eropa
Portugis (1512–1850)
VOC (1602-1800)
Belanda (1800–1942)
Kemunculan Indonesia
Kebangkitan Nasional (1899-1942)
Pendudukan Jepang (1942–1945)
Revolusi nasional (1945–1950)
Indonesia Merdeka
Orde Lama (1950–1959)
Demokrasi Terpimpin (1959–1965)
Masa Transisi (1965–1966)
Orde Baru (1966–1998)
Era Reformasi (1998–sekarang)

Kerajaan Galuh adalah suatu kerajaan Sunda di pulau Jawa, yang wilayahnya terletak antara Sungai Citarum di sebelah barat dan Sungai Ci Serayu juga Cipamali (Kali Brebes) di sebelah timur. Kerajaan ini adalah penerus dari kerajaan Kendan, bawahan Tarumanagara.[1][2][3]

Sejarah mengenai Kerajaan Galuh ada pada naskah kuno Carita Parahiyangan, suatu naskah berbahasa Sunda yang ditulis pada awal abad ke-16. Dalam naskah tersebut, cerita mengenai Kerajaan Galuh dimulai waktu Rahiyangta ri Medangjati yang menjadi raja resi selama lima belas tahun. Selanjutnya, kekuasaan ini diwariskan kepada putranya di Galuh yaitu Sang Wretikandayun.[4]

Saat Linggawarman, raja Tarumanagara yang berkuasa dari tahun 666 meninggal dunia pada tahun 669, kekuasaan Tarumanagara jatuh ke Sri Maharaja Tarusbawa, menantunya dari Sundapura, salah satu wilayah di bawah Tarumanagara. Karena Tarubawa memindahkan kekuasaan Tarumanagara ke Sundapura, pihak Galuh, dipimpin oleh Wretikandayun (berkuasa dari tahun 612), memilih untuk berdiri sebagai kerajaan mandiri. Adapun untuk berbagi wilayah, Galuh dan Sunda sepakat menjadikan Sungai Citarum sebagai batasnya.

Kerajaan kembar[sunting | sunting sumber]

Wretikandayun mempunyai tiga anak lelaki: Rahiyang Sempakwaja (menjadi resiguru di Galunggung), Rahiyang Kidul (jadi resi di Denuh), dan Rahiyang Mandiminyak. Setelah menguasai Galuh selama sembilan puluh tahun (612-702), Wretikandayun diganti oleh Rahiyang Mandiminyak, putra bungsunya, sebab kedua kakaknya menjadi resiguru.[5]

Dari Nay Pwahaci Rababu, Sempakwaja mempunyai dua anak: Demunawan dan Purbasora. Akibat tergoda oleh kecantikan iparnya, Mandiminyak sampai terseret ke perbuatan nista, sampai melahirkan Sena (atau Sang Salah). Sedangkan dari istrinya, Dewi Parwati, putra dari Ratu Sima dan Raja Kartikeyasingha, Mandiminyak mempunyai putra perempuan yang bernama Sannaha. Sannaha dan Sena lantas menikah, dan mempunyai putra yang bernama Rakryan Jambri (atau disebut Sanjaya).

Kakuasaan Galuh yang diwariskan pada Mandiminyak (702-709), kemudian diteruskan oleh Sena. Karena merasa punya hak mahkota dari Sempakwaja, Demunawan dan Purbasora merebut kekuasaan Galuh dari Sena (tahun 716). Akibat terusir, Sena dan keluarganya lantas mengungsi ke Marapi di sebelah timur, dan menikah dengan Dewi Citrakirana, putra dari Sang Resi Padmahariwangsa, raja Indraprahasta.[6]

Raja-raja Galuh[sunting | sunting sumber]

Raja-raja yang pernah berkuasa di Galuh:

  1. Wretikandayun (Rahiyangta ri Menir, 612-702)
  2. Mandiminyak atau Prabu Suraghana (702-709)
  3. Sanna atau Séna/Sannaha (709-716)
  4. Purbasora (716-723)
  5. Rakeyan Jambri/Sanjaya, Rakai Mataram/Harisdarma (723-732); Galuh bersatu dengan Sunda
  6. Tamperan Barmawijaya (732-739)
  7. Sang Manarah (739-746)
  8. Rakeyan ri Medang (746-753)
  9. Rakeyan Diwus (753-777)
  10. Rakeyan Wuwus (777-849)
  11. Sang Hujung Carian (849-852)
  12. Rakeyan Gendang (852-875)
  13. Dewa Sanghiyang (875-882)
  14. Prabu Sanghiyang (882-893)
  15. Prabu Ditiya Maharaja (893-900)
  16. Sang Lumahing Winduraja (900-923)
  17. Sang Lumahing Kreta (923-1015)
  18. Sang Lumahing Winduraja (1015-1033)
  19. Rakeyan Darmasiksa (1033-1183)
  20. Sang Lumahing Taman (1183-1189)
  21. Sang Lumahing Tanjung (1189-1197)
  22. Sang Lumahing Kikis (1197-1219)
  23. Sang Lumahing Kiding (1219-1229)
  24. Aki Kolot (1229-1239)
  25. Prabu Maharaja (1239-1246)
  26. Prabu Bunisora (1357-1371)
  27. Mahaprabu Niskala Wastu Kancana (1371-1475)
  28. Dewa Niskala (1475-1483)
  29. Ningratwangi (1483-1502)
  30. Jayaningrat (1502-1528)

Atau menurut Naskah Wangsakerta daftar lengkap raja-raja yang bertahta di Kerajaan Galuh antara lain:

  • Sang Wretikandayun (534-592) Saka (S)/ (612/3-670/1) M (Masehi) sebagai Raja Galuh.
  • Sang Mandiminyak/ Suraghana (624-631) Saka/ (702/3-709/10) M.
  • Sang Senna atau Sanna, 631-638 Saka/ (709/10-716/7) M.
  • Sang Purbasura (638-645) Saka/ (716/7-723/4) M.
  • Sang Sanjaya, Rakai Mataram (645-654) Saka/ (723/4-732/3) M, sebagai Maharaja Galuh dan Sunda.
  • Sang Tamperan (654-661) Saka/ (732/3-739/40) M sebagai Maharaja Galuh dan Sunda.
  • Sang Manarah (661-705) Saka/ (740-784), sebagai penguasa Galuh.
  • Sang Manisri (705-721) Saka/ (783/4-799/800) Masehi sebagai raja Galuh.
  • Sang Tariwulan (721-728) Saka/ (799/800-806/7) sebagai raja Galuh.
  • Sang Welengsa (728-735) Saka (806/7-813/4) M sebagai raja Galuh.
  • Prabhu Linggabhumi (735-774) Saka/ (813/4-852/3) M sebagai raja Galuh.
  • Danghyang Guru Wisuddha (774-842) Saka/ (852/ 3-920/1) M sebagai ratu Galuh.
  • Prabhu Jayadrata (843-871) S/ (921/2-949/50 M sebagai ratu Galuh.
  • Prabhu Harimurtti (871-888) S/ (949/50-966/7) M.
  • Prabhu Yuddhanagara (888-910) S/ (966/7-988/9) M sebagai ratu Galuh.
  • Prabhu Linggasakti (910-934) S/ (988/9-1012/3) M sebagai ratu Galuh.
  • Resiguru Dharmmasatyadewa (934-949) S (1012/3-1027/8) M sebagai raja Galuh.
  • Prabhu Arya Tunggalningrat (987-1013) S/ (1065/6-1091/2) M sebagai raja wilayah Galuh.
  • Resiguru Bhatara Hyang Purnawijaya (1013-1033) S/ (1091-1111) M sebagai ratu Galuh.
  • Bhatari Hyang Janawati (1033-1074) S/ (1111/2-1152/3) M sebagai ratu Galuh dengan ibukota Galunggung.
  • Prabhu Dharmmakusuma (1074-1079) S/ (1152/3-1157/8) M sebagai maharaja Galuh dan Sunda.
  • Prabu Guru Darmasiksa (1097-1219) S/ (1157/8-1297/8) M sebagai maharaja Galuh dan Sunda.
  • Rakeyan Saunggalah (1109-1219) S/ (1167/8-1297/8) M sebagai ratu Galuh, (1219-1225) S/ (1297/8-1303/4) M menjadi Maharaja Galuh dan Sunda.
  • Maharaja Citragandha (1225-1233) S/ (1303/4¬-1311/2) M sebagai Maharaja Galuh dan Sunda.
  • Maharaja Linggadewata (1233-1255) S/ (1311/2-1333/4) M sebagai Maharaja Galuh dan Sunda.
  • Maharaja Ajiguna (1255-1262) S/ (1333/4-1340/1) M sebagai Maharaja Galuh dan Sunda.
  • Maharaja Ragamulya (1262-1272) S/ (1340/1¬-1350/1) M sebagai Maharaja Galuh dan Sunda.
  • Maharaja Linggabhuwana (1272-1279) S/ (1350/1-1357/8 M sebagai Maharaja Galuh dan Sunda.
  • Mangkubhumi Suradhipati (1279-1293) S/ (1357/8-1371/2) M, Maharaja Galuh dan Sunda .
  • Mahaprabu Niskala Wastu Kancana (1293-1397) S/ (1371/2¬-1475/6), penguasa Galuh dan Sunda.
  • Dewa Niskala atau Ningrat Kancana (1397-1404) S/ (1475/6-1482/3 M, sebagai raja Galuh.
  • Prabhu Ningratwangi (1404-1423) S/ (1482/3-1501/2) M, sebagai ratu Galuh mewakili kakaknya, Sri Baduga Maharaja penguasa Galuh dan Sunda.
  • Prabhu Jayaningrat (1423-1450) S/ (1501/2-1528/9) M sebagai ratu Galuh terakhir, karena kerajaan Galuh ditaklukkan oleh Kerajaan Cirebon yang diperintah oleh Susuhunan Jati. [7]

Wilayah Galuh Masa Kerajaan Cirebon[sunting | sunting sumber]

Penguasaan Kerajaan atau Kesultanan Cirebon atas Kerajaan Galuh tidak terlepas dari ekspansi kekuasaan dan penyebaran Islam ke seluruh wilayah Jawa Kulon (Jawa Barat) dengan dibantu Kesultanan Demak.

Diawali dengan tidak maunya Sultan Cirebon II, Sunan Gunung Djati memberikan upeti kepada Kerajaan Galuh karena sebelah timur Citarum dalam penguasaan Galuh. Tindakan ini awalnya mendapat respon keras dari Prabu Siliwangi, akan tetapi kemudian Prabu Siliwangi seakan-akan membiarkan keputusan yang diambil oleh Syarif Hidayatullah karena Prabu Siliwangi menghindari perang saudara (kakek dan cucu). Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja (1482-1521) M adalah kakek Syarif Hidayatullah, ibunya Rarasantang putri Sri Baduga Maharaja dan juga menantu Walangsungsang, Sri Mangana putra yang diangkatnya sebagai penguasa Cirebon.

Setelah Sri Baduga turun tahta tahun 1521 M, pada masa pemerintahan Prabu Surawisesa 15211535 M, Cirebon semakin berani dengan melakukan ekspansi ke berbagai wilayah di Jawa Kulon. Pada tahun 1527 M pasukan Demak di bawah pimpinan Faletehan atau Fatahillah atau Fadhilah Khan dengan bantuan pasukan Cirebon, Dipati eling, dan Dipati Cangkuang berhasil menaklukan Sunda Kelapa dan diganti namanya menjadi Jayakarta (Jakarta) dijadikan hari jadi. Banten lebih dulu diislamkan tahun 1526 M dan berdiri Kesultanan Banten tahun 1527 M.[8]

Prabu Jayaningrat, adalah putera Prabu Ningratwangi, cucu Prabu Dewa Niskala. Prabu Ningratwangi, adalah adik Sri Baduga Maharaja, yang menjadi penguasa Kerajaan Galuh, bawahan Kerajaan Sunda Pajajaran. Prabu Jayaningrat, menggantikan posisi ayahnya, menjadi penguasa Kerajaan Galuh, pada tahun 1501 Masehi.

Berdasarkan riwayat hak waris, wilayah Pakungwati Cirebon, adalah merupakan bagian dari kekuasaan Kerajaan Galuh. Oleh karena itu, Prabu Jayaningrat segera mengirimkan surat kepada Susuhunan Jati Kesultanan Cirebon yang isinya Agar Pakungwati Cirebon, kembali mengirirnkan upeti ke ibukota Kerajaan Galuh, seperti kebiasaan di masa silam. Kalau tidak, akan digempur.

Susuhunan Jati Cirebon menolak permintaan penguasa Kerajaan Galuh itu. Susuhunan Jati Cirebon, segera mengirimkan kabar kepada Fadhillah Khan, untuk datang dengan pasukannya ke Pakungwati Cirebon. Penolakan Susuhunan Jati Cirebon, membangkitkan amarah Prabu Jayaningrat. Pada tahun 1450 Saka (1528 Masehi), pasukan bersenjata Kerajaan Galuh, bergerak menuju wilayah perbatasan Pakungwati Cirebon. Serangan, dipimpin langsung oleh Prabu Jayaningrat, didampingi Adipati Rajagaluh Sang Arya Kiban.

Adipati Kuningan Sang Suranggajaya, oleh Susuhunan Jati Cirebon, diserahi tugas melindungi pondok pesantren, yang tersebar di perbatasan Cirebon Galuh. la adalah putera Ki Gedeng Luragung Jayaraksa yang diangkat anak oleh Arya Kamuning (Bratawiyana), sekaligus sebagai menantu Ratu Selawati.

Oleh karena itu, pasukan penyerang dari Kerajaan Galuh, dihadang oleh pasukan Sang Suranggajaya, di dekat Bukit Gundul. Akan tetapi pasukan Kerajaan Galuh, jumlahnya banyak, dan terlalu kuat untuk dihadapi oleh pasukan Sang Suranggajaya. la terdesak, segera mengirimkan berita ke Pakungwati, memohon bala bantuan.

Bala bantuan pasukan gabungan Pakungwati, Demak, Kuningan tiba, dipimpin oleh panglima perang senior Sri Mangana Pangeran Cakrabuana, pendiri Kesultanan Pakungwati Cirebon. Pertempuran sengit itu terjadi di palagan bukit Gula Sagandu. Dalam pertempuran ini, pasukan Demak memiliki kelebihan tersendiri, dilengkapi senjata meriam. Pasukan Kerajaan Galuh menyebutnya panah yang berbunyi seperti guntur, mengeluarkan asap hitam, sambil memuntahkan logam panas.[9]

Pasukan Kerajaan Galuh terdesak dan mengundurkan diri ke benteng pertahanan terakhir di Talaga (Majalengka). Kerajaan Galuh yang didirikan oleh Prabu Wretikandayun pada tahun 612 Masehi itu, runtuh dalam pertempuran di Bukit Gundul, Palimanan 1528 M. Sejak itulah, wilayah utara Kerajaan Galuh berada di bawah kekuasaan Kesultanan Pakungwati Cirebon. Setahun setelah berhasil mengalahkan pasukan Kerajaan Galuh, Sri Mangana Pangeran Cakrabuana Haji Abdullah Iman wafat (1529) Masehi. Wilayah Kerajaan Galuh semenjak tahun 1528 M merupakan bagian dari Kesultanan Cirebon.

Pada tahun 1452 Saka (1530 Masehi), pasukan gabungan Pakungwati, Demak, dan Kuningan, melakukan "pembersihan" terhadap sisa‑sisa pasukan Kerajaan Galuh yang bertahan di Talaga. Akhirnya Talaga, dapat ditaklukkan, berada di bawah kekuasaan Pakungwati Cirebon. Hingga tahun 1453 Saka (1531 Masehi), beberapa wilayah bawahan Kerajaan Sunda Pajajaran lainnya, berhasil direbut, oleh pasukan Pakungwati Cirebon.

Pada saat itu, Pangeran Pasarean diangkat oleh ayahnya (Susuhunan Jati), menjadi pembesar kerajaan, sebagai Patih Pakungwati Cirebon, yang mewakili Susuhunan Jati. Kebijakan itu dilakukan, agar Pangeran Pasarean, dapat berperan penting dalam menghadapi Kerajaan Sunda Pajajaran. Permusuhan Pakungwati Pajajaran dapat dihentikan. Kedua belah pihak menempuh jalan damai, mengadakan perjanjian pada tanggal 14 paro terang bulan Asadha tahun 1453 Saka (29 Juni 1531 Masehi).

Antara Sang Prabu Surawisesa dengan Susuhunan Jati Sunan Gunung Djati Cirebon, menyepakati, bahwa:

  1. Kedua belah pihak mengakui kedaulatan masing-masing;
  2. Tidak saling menyerang;
  3. Silih asih (saling menyayangi), atuntunan tangan (kerjasama), karena kita sedarah (sama‑sama keturunan Sri Baduga Maharaja), janganlah putus.

Peristiwa tersebut, tersirat dalam Kropak 406 Carita Parahiyangan, berupa penilaian terhadap Prabu Sanghiyang Surawisesa, dengan kalimat yang sangat singkat: "kadiran, kasuran, kuwanen. Prangrang lirnawelas kali henteu eleh" (perwira, perkasa, pemberani. Perang lima belas kali, tidak kalah). Maksud tidak kalah tersebut, mungkin karena diakhiri dengan jalan damai.

Galuh Kawali sepeninggal Prabu Jayaningrat[sunting | sunting sumber]

Sepeninggal Prabu Jayaningrat, penguasa Galuh Kawali dalam pengaruh Cirebon:

  • Pangeran Dungkut (lungkut) (1528 - 1575 M) putra Lanangbuana, raja kuningan menjadi penguasa Galuh Kawali pengganti Jayaningrat.
  • Pangeran Bangsit (1575-1592 M) disebut juga Mas Palembang putra Pangeran Dungkrut.
  • Pangeran Mahadikusumah/Apun di Anjung (1592 M) putra Pangeran Bangsit.
  • Pangeran Usman (1643) menikahi putri Pangeran Mahadikusumah dan ia yang pertama dimakamkan di situs kawali.
  • Dalem Adipati Singacala (1643-1718 M) putra Adidempul Cicit pangeran Bangsit, menikahi Nyi Anjungsari putri Pangeran Usman. [10]

Sementara di wilayah Galuh lain yaitu Galuh Pangauban (Ciamis Selatan). Nama Galuh muncul lagi yang ingin menjadi Ratu Galuh yang menguasai kerajaan kecil (semacam kandaga lante) tempat Pangauban (perlindungan). Terletak antara Cipamali dan Cisanggarung lalu ke daearah aliran Sungai Citanduy. Kerajaan Galuh yang dirancang oleh Pucuk Umum (Pangauban) dibangun oleh Kamalarang dibantu oleh masyarakat Pakidulan yang tempatnya di tengah hutan berjarak dari laut sepenyirihan (kurang lebih 5 km) luasnya kurang lebih 100 depa persegi (sekitar 1,2 m). [11]

Sekelilingnya dipagar tanaman Haur Kuning yang berduri, sebelah Utara dibuat alun-alun yang luasnya 50 depa persegi, di sebelah Selatan ada tanah kosong seluas 50 deupa persegi. Bangunan keratonnya sangat sederhana tenggaranya didirikan tujuh rumah untuk para menteri dan pegawai negara yang penting. Di sekitar rumpun haur dikelilingi oleh perumahan rakyat yang setia sebanyak 100 orang ditambah oleh rakyat Bagolo serta Kamulyan Maratama, Maradua, dan Maratiga yang setia kepada Prabu Haur Kuning dalam membangun pusat Galuh Pangauban. [12]

Pada tahun 1516 M Pucuk Umum (Pangauban) karena simpati kepada Islam dan ajarannya pernah memimpin pasukan ke Malaka membantu Patih Yunus dari Kesultanan Demak atas perintah Raden Patah. Tapi Pucuk Umum tidak mau diangkat menjadi pimpinan Islam karena alasannya harus menyerang kerajaan Pajajaran sedangkan Pajajaran itu adalah eyangnya, akhirnya Pucuk Umum dibuang ke Ujung Kulon bersama istrinya. [13]

Prabu Haur Kuning (1535 – 1580 M) putra Pucuk Umum (Pangauban). Maharaja Cipta Sanghiang (1580 – 1595 M ) putra Prabu Haur Kuning yang menjadi raja Galuh Gara Tengah dengan Gelar Maharaja Prabu Cipta Sanghyang Permana dan termasuk Raja Galuh terakhir yang beragama Hindu jasadnya dilarung di Ciputrapinggan. Prabu Cipta Permana (1595 – 1618 M) Ratu Galuh yang pertama masuk Islam karena menikahi Tanduran Tanjung putri Maharaja Mahadikusumah, penguasa Cirebon di Galuh Kawali.

Sebelum tahun 1596 M Cirebon belum terikat oleh Mataram bahkan daerah Ciamis Utara yang dimaksud utara Citanduy ada di bawah kekuasaan Cirebon termasuk Panjalu, Ciamis. Pada tahun 1618, Mataram menguasai Galuh dimulai pergantian gelar Raja yang tadinya bergelar Ratu atu Sanghyang dengan gelar Adipati yaitu bupati di bawah kekuasaan Mataram. [14]

Wilayah Galuh Masa Kerajaan Mataram[sunting | sunting sumber]

Pada awal abad ke-17 Masehi termasuk wilayah Kerajaan Mataram. Pada tahun 1618 Sultan Agung mengangkat putera Prabu di Galuh Cipta Permana yang bernama Ujang Ngoko bergelar Adipati Panaekan (1608-1625) sebagai Wedana Bupati yang mengepalai Bupati-bupati Priangan. [15].

Pada tahun 1641 Masehi Galuh dibagi menjadi 4 kabupaten ialah: Imbanagara, Utama, Bojong lopang, dan Kawasen. Ibukota (dayeuh) sama dengan nama kabupatennya. Dua kabupaten terletak di Galuh, dan dua lagi di wilayah Priangan. Penduduk pribumi Galuh semuanya berbahasa Sunda, demikian juga cara berpakaian, adat dan pengaturan desa tidak berbeda dengan wilayah Priangan dan daerah-daerah lain yang berbahasa Sunda.

Wilayah Galuh pada Masa Hindia-Belanda[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Galuh Ciamis, kejayaan zaman Kangjeng Prabu[sunting | sunting sumber]

Kangjeng Prabu sebagai bupati Galuh yang keenambelas ini paling ternama. Ia mempunyai ilmu yang tinggi dan merupakan bupati pertama di wilayah itu yang bisa membaca huruf latin. Memerintah dengan adil disertai dengan kecintaannya pada rakyat. Empat puluh tujuh tahun lamanya Raden Adipati Aria Kusumadiningrat memimpin Galuh Ciamis (1839-1886).

Pemerintah kolonial saat itu sedang menjalankan Tanam Paksa. Sebetulnya di tatar Priangan sejak tahun 1677 sudah dilaksanakan juga apa yang disebut Preangerstelsel atau sistem Priangan yang berkaitan dengan komoditi kopi. Sampai sekarang terabadikan dalam lagu yang berurai air mata yang bunyinya "Dengkleung dengdek, buah kopi raranggeuyan. Ingkeun saderek, ulah rek dihareureuyan", gambaran seorang wanita yang sedih berkepanjangan karena ditinggal pujaan hati bekerja dalam tanam paksa. Dari Preangerstelsel, di tempat lain dimekarkan menjadi Culturstelsel. Jelas di Kabupaten Galuh ini bukan cuma komoditi kopi yang dipaksa harus ditanam olah rakyat, tapi juga nila. Proyek nila ini menimbulkan insiden Van Pabst yang menyebabkan Bupati Ibanagara dicopot dari jabatannya.

Awal Mula adanya Perkebunan Kelapa di Galuh[sunting | sunting sumber]

Sungai Citarum menjadi pembatas antara Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh.

Tentu saja Kangjeng Prabu bersedih hati dan prihatin menyaksikan rakyatnya dipaksa harus menanam kopi dan nila, sementara hasilnya diambil oleh Belanda. Rakyat hanya kebagian mandi keringatnya, cuma kebagian repotnya saja, meninggalkan anak, isteri, dan keluarga, sehari-hari hanya mengurus kebun kopi dan teh. Di zaman tanam paksa kopi inilah saat kelahiran tembang sedih Dengkleung Dengdek. Tertulis dalam majalah Mangle, almarhum Kang Pepe Syafe'i R. A. diminta berceritera saat bersantai di perkebunan Sineumbra di Bandung selatan. Saat itu administratur Mangle adalah Max Salhuteru yang penuh perhatian pada kehidupan budaya tradisional Sunda. Pepe Syafe'i didaulat untuk menceriterakan sejarah lahirnya tembang dramatis Deungkleung Dengdek oleh administratur itu.

Kangjeng prabu sendiri menangis dalam hati, tidak tega menyaksikan rakyat tersiksa oleh pemerintah kolonial. Untuk mengurangi nestapa rakyat, agar selama bekerja tanam paksa tidak sampai perasaan kehilangan kerabat itu mengharu biru setiap waktu, dilakukanlah pembangunan berupa pembuatan beberapa saluran air dan bendungan, yang sekarang disebut saluran tersier dan sekunder termasuk dam yang kokoh. Sampai kini masih ada saluran air Garawangi yang dibangun tahun 1839, Cikatomas tahun 1842, Tanjungmanggu yang lebih terkenal dengan sebutan Nagawiru (berarti Naga biru) dibangun tahun 1843, dan saluran air Wangunreja tahun 1862.

Selanjutnya bupati yang kaya akan ilmu pengetahuan dan tidak bisa tidur sebelum berbakti pada rakyat itu membuka lahan persawahan baru dan kebun kelapa di berbagai tempat. Malah untuk sosialisasi kelapa, setiap pengantin lelaki saat seserahan diwajibkan untuk membawa tunas kelapa, yang selanjutnya harus ditanam di halaman rumah tempat mereka mengawali perjalanan bahtera rumah tangga.

Dari zaman Kangjeng prabu, perkebunan kelapa di Galuh Ciamis menjadi sangat subur, dengan produksinya yang menumpuk (ngahunyud) di setiap pelosok kampung. Dalam waktu tak terlalu lama, Ciamis tersohor menjadi gudang kelapa paling makmur di Priangan timur. Banyak pabrik minyak kelapa didirikan oleh para pengusaha, terutama Cina. Yang paling tersohor adalah Gwan Hien, yang oleh lidah orang Galuh menjadi Guanhin. Lalu pabrik Haoe Yen dan pabrik di Pawarang yang terkenal disebut Olpado (Olvado). Olpado ini musnah tertimpa bom saat Galuh dibombadir oleh Belanda. Guanhin juga tinggal nama, demikian juga yang lainnya. Saat ini, minyak kelapa terdesak oleh minyak kelapa sawit dan minyak goreng jenis lainnya.

Pembangunan Sekolah Sunda[sunting | sunting sumber]

Raden Aria Koesoemadininggrat, regent (bupati) Galuh (1879)

Dari tahun 1853 Kangjeng prabu tinggal di keraton Selagangga yang dibuat dari kayu Jati yang kokoh. Luas lahan tempat keraton itu berdiri adalah satu hektare, dengan kolam ikan, air mancur, dan bunga-bunga di pinggirnya. Di bagian lain dari keraton, ada kaputren, tempat para putri Bupati. Di komplek keraton juga ada mesjid. Tahun 1872 di komplek keraton ini dibangun Jambansari dan pemakaman keluarga Bupati. Di sebelah timur pemakaman ada situ yang sangat dikeramatkan. Dulu tidak ada yang berani melanggarnya, orang Galuh percaya air situ itu mengandung khasiat seperti yang dituliskan oleh Kangjeng prabu dalam guguritan yang dibuatnya, "Jamban tinakdir Yang Agung, caina tamba panyakit, amal jariah kaula, bupati Galuh Ciamis, Aria Kusumahdiningrat, medali mas pajeng kuning." Artinya kurang lebih, "Jamban takdir dari Yang Agung, airnya penyembuh penyakit, amal jariah saya, bupati Galuh Ciamis, Aria Kusumahdiningrat, medali mas pajeng kuning."

Menurut para menak Galuh zaman sekarang, terutama keturunan Kangjeng prabu, zaman dulu guguritan yang disusun dalam pupuh Kinanti ini suka dinyanyikan oleh anak-anak sekolah rakyat. Selain bangunan untuk kepentingan keluarga Bupati, Kanjeng prabu juga membangun gedung-gedung pemerintahan dan sarana lainnya. Antara tahun 1859 sampai 1877 pembangunan berlangsung tanpa henti. Diawali dengan dibangunnya gedung pemerintahan kabupaten yang megah, tepatnya di gedung DPRD sekarang, menghadap utara. Lantas gedung untuk Asisten Residen, yang sekarang menjadi gedung negara atau gedung kabupaten, sekaligus tempat tinggal Bupati sekeluarga. Bangunan lainnya adalah markas militer, rumah pemasyarakatan, mesjid agung, gedung kantor telepon.

Tampaknya Kangjeng prabu sama sekali tidak melupakan satu pun kepentingan masyarakat. Pendidikan diutamakan oleh Bupati yang mahir berbahasa Perancis ini. Untuk pendidikan putera-puteranya dan kadang keluarga Bupati, sengaja dipanggil guru Belanda J.A.Uikens dan J. Blandergroen ke kantor kabupaten untuk mengajarkan membaca dan berbicara bahasa Belanda. Tahun 1862, Kangjeng Dalem mendirikan Sekolah Sunda. Tahun 1874, Sekolah Sunda yang kedua berdiri di Kawali. Sekolah-sekolah ini merupakan sekolah pertama di Tatar Sunda.

Dalam upaya menyebarkan agama Islam, Kangjeng prabu mempunyai cara-cara tersendiri. Terutama dalam upaya menghilangkan kepercayaan sebagian masyarakat yang masih menyimpan sesembahan berupa arca batu setinggi manusia. Kangjeng prabu sengaja suka mengadakan silaturahmi dan pengajian dengan mengajak serta masyarakat.

Dalam kumpulan seperti itulah ia mengajak rakyatnya supaya mereka setiap akan pergi ke pengajian dan perkumpulan, membawa arca yang ada di rumahnya masing-masing. "Kita satukan dengan arca kepunyaan saya," katanya. Rakyat setuju saja diminta membawa arca seperti itu dan dengan jujur mengakui bahwa di rumahnya memiliki arca. Dengan demikian, tanpa memakan waktu yang lama, sudah tidak ada lagi arca yang disimpan di rumah-rumah rakyat. Masyarakat beribadah dengan sungguh-sungguh memuji keagungan Allah. Islam mekar memancar seputaran Galuh. Sementara arca-arca yang dikumpulkan rakyat, ditumpuk begitu saja di Jambansari. Sekelilingnya ditanami pepohonan yang rimbun. Itu sebabnya sampai sekarang banyak arca di pemakaman Kangjeng prabu di Selagangga.

Kangjeng prabu merupakan Bupati pertama di Tatar Sunda yang bisa membaca aksara latin, juga mempunyai ilmu kebatinan yang tinggi. Menurut ceritera yang berkembang di masyarakat Galuh Ciamis, Kangjeng prabu juga menguasai makhluk gaib yang di Ciamis terkenal disebut onom. Tahun 1861, jalan kereta api akan dibuka untuk melancarkan hubungan antar warga, dari Tasikmalaya ke Manonjaya, Cimaragas, Banjar, terus sampai Yogyakarta. Kangjeng prabu segera mengajukan permohonan, supaya jalan kereta api bisa melewati kota Galuh, pusat kabupaten, dan bukannya melewati Cimaragas - Manonjaya. Biaya pembuatannya memang jadi membengkak sebab perlu dibuat jembatan yang panjang di Cirahong dan Karangpucung. Tetapi akhirnya Belanda menerima permohonan itu. Walaupun stasiun yang dibangun Belanda kini sudah tua, tapi Ciamis sampai kini dilewati jalan kereta api, di antaranya kereta api Galuh.

Tahun 1886 Kangjeng prabu lengser kaprabon, jabatannya dilanjutkan oleh putranya yang bernama Raden Adipati Aria Kusumasubrata. Tapi walaupun sudah pensiun, Kangjeng prabu tidak hanya mengaso sambil ongkang-ongkang kaki di kursi goyang. Ia masih terus berbenah dan membangun Galuh Ciamis. Masih pada zamannya berkuasa, Undang-undang Agraria mulai dipakai, tepatnya tahun 1870. Oleh sebab itu, di Galuh Ciamis banyak perkebunan swasta, di antaranya Lemah Neundeut, Bangkelung, Gunung Bitung, Panawangan, Damarcaang, dan Sindangrasa.

Tahun 1915 Kabupaten Galuh secara resmi masuk ke Karesidenan Priangan, dan sebutannya menjadi Kabupaten Ciamis. Tanggal 1 Januari 1926 Pulau Jawa dibagi menjadi tiga provinsi, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Jawa Barat dibagi menjadi lima karesidenan, 18 Kabupaten dan enam kotapraja. Ciamis selanjutnya masuk ke Karesidenan Priangan Timur.

Di lokasi keraton Selagangga, Kangjeng prabu juga membuat mesjid megah. Orang yang dipercayai untuk mengurus dan menghidupkannya adalah Haji Abdul Karim. Untuk pemekaran agama Islam, Bupati Galuh memerintahkan para Kepala Desa supaya di tiap desanya didirikan mesjid, selain untuk ibadah secara umum, juga untuk anak-anak dan remaja belajar mengaji dan ilmu agama. Pendeknya untuk membangun mental spiritual masyarakat. Masjid Selagangga sangat ramai dikunjungi para remaja.

Peninggalan Kangjeng prabu[sunting | sunting sumber]

Namun kini yang ada hanya tinggal makam keluarga dan Jambansari yang tinggal secuil. Situ yang dulu ada di sebelah barat telah tiada bekasnya barang sedikitpun. Padahal dulu ada dua situ, di sebelah barat dan timur. Sekarang sudah berubah menjadi perkampungan. Tanah yang dulu menjadi milik anak dan cucu Christiaan Snouck Hurgronje, sebelah timur tapal batas dengan Jambansari, kini juga sudah menjadi perkampungan.

Pemakaman Kangjeng prabu sampai sekarang masih diurus dan dipelihara oleh Yayasan yang dipimpin oleh Toyo Djayakusuma. Sementara waktu ke belakang, sempat telantar kurang terurus karena tiadanya biaya. Jambansari hampir hilang terkubur ilalang. Maka didatangilah rumah keluarga Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia di Jakarta yang saat itu dijabat Ir. Radinal Muchtar. Oleh keluarga itu kemudian dilakukan pembenahan dan perbaikan serta diangkat lagi martabatnya. Kebetulan isteri dari Radinal masih menak Galuh Ciamis, keturunan Kangjeng prabu. Jadi masih merasa perlu bertanggungjawab untuk memelihara pemakanam dan komplek Jambansari yang oleh rakyat Galuh sangat dimulyakan.

Ada yang sedikit menggores ke dalam rasa dari orang Galuh Ciamis, terutama yang bertempat tinggal di Jalan Selagangga, seputaran komplek pemakanan dan Jambansari, yaitu saat Jalan Selagangga diganti namanya menjadi Jalan K.H. Ahmad Dahlan mengikuti nama pimpinan Muhammadiyah. Oleh sebab itu orang Galuh tetap menyebutnya Selagangga, sebab di situ ada peninggalan Kangjeng prabu yang dirasa telah besar jasanya dalam sejarah Galuh Ciamis. Tanpa mengurangi rasa hormat pada Ahmad Dahlan, mereka meminta bupati untuk mengembalikan nama Jalan Selagangga untuk mengenang Kanjeng prabu yang memiliki keraton di tempat itu, memimpin Galuh dari sana, bahkan dimakamkannya juga di pemakaman Sirnayasa (Jambansari) Selagangga. Mereka merasa tak melihat adanya alasan yang bisa diterima bila Jalan Selagangga harus berganti nama.

Peninggalah Kerajaan Galuh[sunting | sunting sumber]

Keberadaan Kerajaan Galuh diketahui melalui sumber-sumber sejarah baik yang berupa prasasti, candi maupun artefak lainnya.

Candi Cangkuang, salah satu warisan dari Kerajaan Galuh

Prasasti dari masa Kerajaan Galuh[sunting | sunting sumber]

Kepurbakalaan peninggalan Kerajaan Galuh[sunting | sunting sumber]

No. Kawasan Situs Artefak Koordinat
1. Sumedang Gunung Tampomas (Cimalaka) Teras berundak 108°05’BT, 06°47’LS, ±1020m dpl
Batu Kukus
Pabeasan
Astanagede (Darmaraja) Teras Berundak 108°05’BT, 06°53’LS, ±230m dpl
Embah Jalul
Lembu Agung
Dalem Demang
Astana Cipeueut (Darmaraja) Teras berundak 108°05’BT, 06°53’LS, ±230m dpl
2. Garut Cangkuan (Pulo-Leles) Struktur bangunan 107°55’BT, 07°06’LS, ±704m dpl
arca Nandi, Siwa,
Siwaguru
Neolitik
Megalitik
Ranca Gabus (Cibeureum) Teras Berundak (di 8 bukit) 107°57’BT, 07°07’LS, ±702m dpl
Pasir Lulumpang (13 teras)
Pasir Kiarapayung (10 teras)
Pasir Tengah (15 teras)
Pasir Kolecer (13 teras)
Pasir Astaria (19 teras)
Pasir Luhur (15 teras)
Pasir Gintung (12 teras)
Pasir Tunjung (19 teras)
3. Tasik Malaya Indihiyang struktur bangunan 108°12’BT, 07°11’LS, ±420m dpl
Sisa fondasi
Lingga-yoni
Lumpang, umpak
Batu
4. Ciamis Batu Kalde (Pangandaran) struktur bangunan 108°39’BT, 07°34’LS, ±03m dpl
Kanduruan (Batulawang-Banjar) serakan batu 108°32’ BT, 07°24’LS, ±43m dpl
Menhir
Stone-Cist
Kalipucang struktur batu 108°45’BT, 07°39’LS, ±50m dpl
Arca yoni, Nandi
Lingga
Ronggeng struktur bangunan 108°29’BT, 07°24’LS, ±98m dpl
Lingga, Yoni, Nandi
Karang Kamulyan (Cisaga) Batu Pangcalikan 108°29’BT, 07°21’LS, ±40m dpl
Sanghiyang Bedil
Panyambungan Hayam
Lamban Peribadatan
Cikahuripan
Panyandaan
Sri Bagawat Pohaci
Pamangkonan
Makam Adipati Panaekan
Gunung Padang (Cikoneng) Teras berundak (5 teras) 108°16’BT, 07°17’LS, ±430m dpl
Mata air
Kawali (Kawali) Teras berundak (5 teras) 108°23’BT, 07°11’LS, ±415m dpl
Prasasti batu (6 prasasti)
Batu Tapak
Batu Pangeunteungan
Batu Panyandaan
Batu Panyandungan
Sejumlah besar menhir
Kerakal andesit
5. Kuningan (Ciniru) Sukasari Lapik persegi 108°30' BT, 07° 03' LS, ± 310 m dpl
Yoni, Lumpang
Susukan (Ciawigebang) Lapik persegi 108°34'BT, 06° 57' LS, ± 303 m dpl
Yoni, meja batu (?)
Ciarca (Darma) serakan batu 108° 25' BT, 06° 58' LS, ± 945 m dpl
Lapik, Yoni
menhir
Hululingga Teras berundak 108° 25' BT, 06° 58' LS, ± 945 m dpl

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Bacaan lanjut[sunting | sunting sumber]

Linimasa Kerajaan Sunda[sunting | sunting sumber]

Kesultanan Banten Kesultanan Cirebon Kerajaan Sumedang Larang Kerajaan Denuh Kerajaan Arcamanik Kerajaan Pajajaran Kerajaan Rajagaluh Kerajaan Sindangkasih Kerajaan Sindang Parang Kerajaan Timbanganten Kerajaan Kawali Kerajaan Tanjung Singuru Kerajaan Panjalu Ciamis Kerajaan Talaga Kerajaan Sunda-Galuh Kerajaan Saunggalah Kerajaan Sunda Kerajaan Galunggung Kerajaan Galuh Kerajaan Medangjati Kerajaan Kendan Kerajaan Pasir Batang Kerajaan Indihiyang Kerajaan Pasir Sanggarung Kerajaan Pasir Muara Kerajaan Dua Kalapa Kerajaan Rajatapura Kerajaan Sundapura Kerajaan Wanajati Kerajaan Wanadatar Kerajaan Setyaraja Kerajaan Linggadewa Kerajaan Pura Dalem Kerajaan Rangkas Kerajaan Sagara Pasir Kerajaan Tanjung Camara Kerajaan Kalapa Girang Kerajaan Pakuwan Sumurwangi Kerajaan Tanjung Kalapa Kerajaan Bitung Giri Kerajaan Salaka Gadang Kerajaan Manik Parwata Kerajaan Alengka Kerajaan Cupugiri Kerajaan Kubang Giri Kerajaan Sagara Kerajaan Cangkuwang Kerajaan Purwagaluh Kerajaan Wanagiri Kerajaan Purwakerta Kerajaan Sindangjero Kerajaan Manukrawa Kerajaan Legon Kerajaan Kosala Kerajaan Paladu Kerajaan Bumi Sagandu Kerajaan Sabara Kerajaan Purbolinggi Kerajaan Gunung Kidul Kerajaan Ujung Kulon Kerajaan Purwanagara Kerajaan Nusa Sabey Kerajaan Cupunagara Kerajaan Indraprahasta Kerajaan Tarumanagara Kerajaan Karang Sindulang Kerajaan Malabar Kerajaan Agrabintapura Kerajaan Jampang Manggung Kerajaan Salakanagara


Catatan kaki[sunting | sunting sumber]