Gong Perdamaian Dunia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Gong Perdamaian Dunia Yang Ke-39, Untuk Memperingati Kerusuhan Sosial Bermotif SARA di Maluku Khususnya Ambon Tahun 1996-2002. Terletak di ACC (Ambon City Centre)

Gong Perdamaian Dunia adalah sebuah gong yang merupakan sebagai simbol perdamaian dunia. Gong Perdamaian Dunia telah ditempatkan di beberapa daerah yaitu Bali[1], Ambon, Palu, dll. Tujuan Gong Perdamaian Dunia adalah supaya tidak ada lagi perang, konflik sara, terorisme, dll. Museum Gong Perdamaian Dunia terdapat di Jepara tepatnya di Desa Plajan[2], Museum ini diresmikan oleh Mentri PU.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Gong Perdamaian Dunia telah ada sebelumnya yang berasal dari desa Plajan Kecamatan Pakis Aji Kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah, Gong sacral ini telah berusia sekitar 450[3] tahun dan dijaga oleh Ibu Musrini yang merupakan pewaris milik gong generasi ketujuh, yang bertempat tinggal di desa Plajan lereng Barat gunung Muria. Gong ini dibuat oleh seorang wali yang berasal dari Kerajaan Demak dan gong ini digunakan sebagai sarana dakwah dalam mengajarkan agama Islam ke daerah pegunungan yang pada waktu itu masyarakat masih menganut kepercayaan animisme. Tokoh dunia peraih “Nobel Perdamaian” yang berkali-kali menjadi Perdana Menteri Israel, Shimon Perez, menyebut Gunung Muria di Jawa Tengah (Indonesia) memiliki kekuatan aura magik luar biasa. Yasser Arafat (Presiden Palestina), juga peraih “Nobel Perdamaian,” mengatakan : Muria merupakan gunung pilihan Alloh untuk dijadikan “Gunung Perdamaian”. Kedua tokoh peraih nobel asal Timur Tengah itu berpendapat, Gunung Muria di Jawa Tengah (Indonesia) merupakan “saudara kembar,” dengan Gunung Muria di Yerusalem (Palestina). Karena memiliki struktur ukuran tinggi dan besar. Nama Muria (Moria) berasal dari bahasa Ibrani (Ibrahim), berarti “pilihan Allah”.

Menurut sejarah yang ada di gunung Muriah (Palestina) merupakan tempat yang sakral, mulai dari Nabi Ibrahim yang mendapatkan perintah langsung dari Allah di gunung Muria untuk menyebarkan agama kepada seluruh umat manusia mengenai ketauhidan (satu Tuhan). Kemudian Nabi Musa yang mendapat “10 Perintah Tuhan” namun Nabi Musa kembali ke gunug Muria untuk meminta penjelasan tentang “10 Perintah Tuhan” setelah Nabi Musa muncul Nabi Daud yang pada zamannya menjadi raja, ia mendapat perintah pertama dari Tuhan untuk membagun rumah ibadah di gunung Muriah, karena pembangunan rumah ibadah belum selesai kemudian dilanjutkan oleh anaknya Nabi Sulaiman (Solomon) yang juga sekaligus menjadi raja pada saat itu, ia melanjutkan pembangunan rumah ibadah hingga selesai secara sempurna di gunung Muriah. Pada generasi berikutnya muncul Nabi Isa setelah dibimbing oleh Nabi Yahya, ia mendapat wahyu untuk mengajarkan agama kepada Bani Israil, dan Nabi Isa memilih gunung Muria sebagai tempat pertama kali untuk mengajarkan ilmu agama. Kemudian yang terakhir Nabi Muhammad yang meakukan mi’raj dari Gunung Muria menuju sidratul-mutaha.

Tujuan[sunting | sunting sumber]

Berangkat dari latar belakang sejarah sebagaimana dipaparkan di atas, keberadaan Gunung Muria, secara kasat mata mendapat predikat “Gunung Perdamaian", untuk menyatukan seluruh umat manusia di muka Bumi. Karena itu cikal bakal “Gong Perdamaian Dunia” (World Peace Gong) sebagai sarana yang mampu menyatukan umat manusia di seluruh dunia, berasal dari Gunung Muria di Jawa Tengah-Indonesia. Alasan mengapa bukan di Palestina (Gunung Muria) karena di sana masih terjadi konflik pertikaian yang masih berlangsung hingga saat ini. Namun suatu saat nanti GPD akan di pasang secara permanen di Gunung Muria guna menghentikan pertikaan yang terjadi di yerusalem dengan harapa dapat mewujudkan perdamaian secara permanen di seluruh kawasan Timur Tengah. Tujuan Gong Perdamaian Dunia adalah supaya tidak ada lagi perang, konflik sara, terorisme, dll.

Tempat[sunting | sunting sumber]

Gong Perdamaian Dunia terdapat dibeberapa tempat, yaitu:

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]