Gong Perdamaian Dunia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Gong Perdamaian Dunia Yang Ke-39, Untuk Memperingati Kerusuhan Sosial Bermotif SARA di Maluku Khususnya Ambon Tahun 1996-2002. Terletak di ACC (Ambon City Centre)

Gong Perdamaian Dunia diciptakan oleh Presiden the World Peace Committee untuk 202 Negara YM Mr Djuyoto Suntani adalah sebuah gong yang merupakan sebagai simbol perdamaian dunia, pasca Bom Bali 12 Oktober 2002.

Lingkaran luar terdapat gambar bendera 202 Negara Anggota the World Peace Committee (www.twpc202.org).

Lingkaran tengah terdapat tulisan Gong Perdamaian Dunia, sepasang Bunga Melati dan tulisan World Peace Gong.

Lingkaran inti terdapat simbol sembilan agama Dunia. Lingkaran puncak terdapat gambar Bola Dunia.

Hak cipta Gong Perdamaian Dunia selamanya ada pada Presiden the World Peace Committee 202 Negara HE Mr Djuyoto Suntani.

Peluncuran pertama oleh Presiden Republik Indonesia HE Mrs Megawati Soekarnoputri di Bali pada 31 Desember 2002 pukul 00.00.

Peluncuran kedua oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) HE Mr Kofi Annan di Geneva, Swiss, Eropa, pada 5 Februari 2003 di depan 179 Kepala Nagara.

Pada saat itu 179 Kepala Negara sepakat menetapkan Gong Perdamaian Dunia sebagai Satu satunya Sarana Persaudaraan dan Pemersatu Umat Manusia di Planet Bumi sepanjang masa.

179 Kepala Negara di Geneva, Swiss, Eropa, pada saat itu mengangkat Tokoh Besar Dunia kelahiran Jepara Jawa Tengah Indonesia HE Mr Djuyoto Suntani sebagai "Dewa Perdamaian Dunia" karena ke genius an menciptakan simbol Perdamaian, Persaudaraan dan Pemersatu Umat Manusia di Planet Bumi.

Sekretaris Jenderal PBB HE Mr Kofi Annan bahkan menyebut HE Mr Djuyoto Suntani , manusia yang diutus Tuhan untuk mewujudkan Peradaban Baru Satu Keluarga Bumi.

Gong Perdamaian Dunia telah ditempatkan di lokasi penting di berbagai Negara di seluruh Dunia. Pertama kali dibangun di Kota Penglai, China. Diresmikan pada 20 Agustus 2004 oleh Presiden Republik Rakyat China HE Mr Hu Jintao bersama Presiden the World Peace Committee HE Mr Djuyoto Suntani.

Kota Penglai, Provinsi Shandong, China, merupakan Kota Para Dewa, tempat Asal "Delapan Dewa Abadi Bangsa China'. Setelah ditaruh Gong Perdamaian Dunia, masyarakat China menganggap HE Mr Djuyoto Suntani sebagai "Dewa Kesembilan Bangsa China". Masyarakat China Sangat menghormati HE Mr Djuyoto Suntani sebagai "Dewa Kesembilan Bangsa China".

Kedua kali dibangun di lokasi terbunuhnya Bapak Bangsa India HE Mr Mahatma Gandhi di New Delhi India, yang Diresmikan pada 11 September 2006 oleh Perdana Menteri India HE Mr Manmohan Singh bersama Presiden the World Peace Committee HE Mr Djuyoto Suntani.

Sampai tahun 2019 sudah dibangun permanen pada 50 Negara. Seperti di Maputo, Mozambique, Afrika, di Vientiane, Laos, di Kremenchuk, Ukraina, di KL Tower Malaysia. Yang ke 49 dibangun di Kota Paipa, Kolombia, Amerika Selatan, untuk mendamaikan Negara Kolombia yang Perang Selama 40 tahun dengan kelompok kartel FARC. Yang mendamaikan Pemerintah Negara Kolombia dengan pemberontak FARC adalah Presiden the World Peace Committee HE Mr Djuyoto Suntani, sehingga HE Mr Djuyoto Suntani ditetapkan oleh Pemerintah Kolombia sebagai Tokoh Perdamaian Dunia. Yang ke 50 di Kota Vukovar Kroasia Eropa yang Diresmikan Presiden the World Peace Committee HE Mr Djuyoto Suntani bersama Presiden Republik Kroasia.

Kota Vukovar Kroasia Eropa hancur pada Perang Balkans tahun 1990 an. Datang Presiden the World Peace Committee HE Mr Djuyoto Suntani ke Vukovar untuk membangun kembali sehingga HE Mr Djuyoto Suntani diangkat sebagai Pahlawan Perdamaian Eropa.

Di Indonesia, Gong Perdamaian Dunia dibangun permanen di Kota Ambon, Maluku, yang Diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Bapak Susilo Bambang Yudhoyono pada 25 November 2009 bersama Presiden the World Peace Committee 202 Negara HE Mr Djuyoto Suntani di depan ribuan undangan dari seluruh penjuru Dunia.

Gong Perdamaian Dunia di Kota Godollo, Hongaria, Eropa, diresmikan pada 2 Mei 2008 oleh Presiden the World Peace Committee HE Mr Djuyoto Suntani, bersama Presiden Republik Hongaria HE Mr Ferenc Madll, Ketua Parlemen National Republik Hongaria Dr Katalin Szili dan Walikota Godollo Dr Gyorgy Gemesi, dihadiri ratusan tokoh Dunia.

Selain menciptakan Gong Perdamaian Dunia, Presiden the World Peace Committee 202 Negara HE Mr Djuyoto Suntani, juga menciptakan Gong Perdamaian Asia Africa pada Peringatan 50 Tahun Konferensi Asia Afrika pada 14 April 2005, yang ditaruh permanen di Gedung Merdeka /Museum Konferensi Asia Africa di Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Gong Perdamaian Asia Africa diresmikan Presiden Republik Indonesia Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, di depan 112 Kepala Negara se Asia, Afrika dan Oceania serta Sekjen PBB HE Mr Kofi Annan.

Untuk Indonesia, Presiden the World Peace Committee 202 Negara HE Mr Djuyoto Suntani, menciptakan Gong Perdamaian Nusantara, yang tersebar di berbagai kota di Indonesia. Gong Perdamaian Nusantara Pertama diresmikan pada 20 Mei 2008 di Taman Pintar Yogyakarta oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X bersama Presiden the World Peace Committee HE Mr Djuyoto Suntani, untuk memperingati Satu Abad Kebangkitan Nasional Indonesia.

Gong Perdamaian Dunia dan Gong Perdamaian Nusantara dibangun di beberapa daerah. Yaitu di Bali[1], Ambon, Ciamis, Blitar, IPSC Sentul Bogor, Palu, Yogyakarta, Kupang, Jepara, Singkawang. Mamuju, Gedung Merdeka Bandung, dll. Museum Gong Perdamaian Dunia terdapat di Jepara tepatnya di Desa Plajan[2], di tempat kelahiran Tokoh Besar dan terhormat Dunia HE Mr Djuyoto Suntani. Di Kawasan Gong Perdamaian Dunia, Jalan Gong Perdamaian Dunia No I Plaza, Jepara 59452, Jawa Tengah, Indonesia, terdapat tiga Gong Perdamaian Dunia, Gong Perdamaian Asia Africa dan Gong Perdamaian Nusantara, yang dibangun simetris.

Museum ini diresmikan oleh Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia, yang lebih dikenal dengan nama Kawasan Gong Perdamaian Dunia, di lokasi kelahiran Tokoh Besar Dunia HE Mr Djuyoto Suntani. Museum Gong Perdamaian Dunia yang Diresmikan Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia Bapak Djoko Kirmanto pada 17 April 2012 di lokasi kelahiran Presiden the World Peace Committee HE Mr Djuyoto Suntani Jln Gong Perdamaian Dunia No I. Setelah Peresmian Kawasan Gong Perdamaian Dunia, besok paginya Tgl 18 April 2012, ayahanda Presiden the World Peace Committee, yaitu Bapak Suntani, meninggal Dunia yang dikubur di Kawasan Gong Perdamaian, sehingga makam tersebut melengkapi koleksi Kawasan Gong Perdamaian Dunia.

Nama Jalan Gong Perdamaian Dunia diresmikan Menteri Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia Bapak HR Agung Laksono pada 9 November 2009. Nama Jalan Gong Perdamaian Dunia ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Jepara, untuk memberi penghormatan serta mengenang Masa Kecil Tokoh paling Hebat dan paling Besar Dunia kelahiran Jepara HE Mr Djuyoto Suntani, yang sering Jalan kaki puluhan kilometers untuk bisa melanjutkan sekolah di SMP Negeri I di Kota Jepara. Yang Mulia Mr Djuyoto Suntani tinggal di Jepara sampai lulus SMA Negari Jepara. Setelah lulus SMA melanjutkan kuliah di Yogyakarta, kemudian menjelajah ke seluruh penjuru Dunia.


YM Mr Djuyoto Suntani adalah Tokoh teladan Dunia yang menginspirasi semua Umat manusia di seluruh penjuru Dunia. Tokoh paling berpengaruh dan paling dihormati di Planet Bumi ini lahir di Pelosok Desa Plaza (Plajan), Pakis Aji, Jepara, Jawa Tengah Indonesia. Tapi dengan ketulusan hidup, kebaikan, kemuliaan pada alam semesta dan tekad kuat untuk mewujudkan Peradaban Baru Satu Keluarga Bumi dengan Hati yang baik, beliau Sukses sebagai Tokoh Besar paling berpengaruh di planet Bumi, tokoh kebanggaan yang Menjadi idola masyarakat international pada 202 Negara.

Presiden the World Peace Commuttee HE Mr Djuyoto Suntani menyiapkan 1 Unit Gong Perdamaian Dunia dikirim ke Planet Bulan, yang melibatkan para Kepala Negara pada 202 Negara Anggota the World Peace Committee sebagai Panitia Pelaksana.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Gong Perdamaian Dunia Yang asli berasal dari keluarga Bapak Suntani dan Ibu Musrini, Orang Tua Presiden the World Peace Committee 202 Negara HE Mr Djuyoto Suntani. Gong Tua berdiameter 100 centimeters yang didesign sendiri oleh Presiden the World Peace Committee HE Mr Djuyoto Suntani Menjadi Gong Perdamaian Dunia, yang diluncurkan oleh Presiden Republik Indonesia pada 31 Desember 2002 pukul 00.00 di Bali Indonesia dan oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa di Geneva Swiss Eropa pada 5 Februari 2003.

Presiden the World Peace Committee HE Mr Djuyoto Suntani, lahir dari pasangan Bapak Suntani dan Ibu Musrini, pada Hari Pasaran Sabtu Pahing. Angka tertinggi bagi orang Jawa. Sabtu punya angka 9, pahing juga 9.

Waktu kecil, Presiden the World Peace Committee HE Mr Djuyoto Suntani dikenal sebagai Anak Pelangi, Karena dijepit oleh kakak dan Adik, yang meninggal Dunia. Sebagai Anak Pelangi, ketika disunat pada usia 11 tahun, Djuyoto kecil Harus mengenakan kain warna Pelangi Tujuh Warna, agar bisa Menjadi Pelangi Alam Semesta dan tehindar dari mara bahaya.

Tapi setelah disunat, esok harinya Djuyoto Suntani kecil justru meninggal Dunia selama Delapan Jam. Selama meninggal selama Delapan Jam, pada dimensi lain Djuyoto Suntani kecil, megembara ke dimensi yang serba Indah. Tapi oleh orang berjubah putih, DJUYOTO Suntani kecil diminta kembali pulang karena Dunia membutuhkan dirinya. Saat kembali itulah, DJUYOTO Suntani kecil merasa kedinginan, Lalu masuk ke dalam selimut, yang ternyata kain kafan, sehingga batal dikubur.

Saking gembiranya keluarga Besar Bapak Suntani dan seluruh orang desa, maka acara wayangan yang menggunakan Gong tua itu, dilanjutkan sampai Tujuh hari Tujuh malam. Gong Tua yang dibunyikan selama Tujuh Hari Tujuh Malam untuk menyambut hidup kembalinya Djuyoto Suntani kecil, yang Menjadi Gong Perdamaian Dunia yang asli.

Gong Tua itu ada sejak tahun 1.450, Menjadi Gong sakral yang dirawat turun temurun oleh leluhur Presiden the World Peace Committee HE Mr Djuyoto Suntani. Pernah dipakai dakwah Sunan Kalijaga di lereng Barat Gunung Muria. Gong sakral berasal dari desa Plajan Kecamatan Pakis Aji Kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah, Gong sacral ini telah berusia sekitar 450[3] tahun dan dijaga oleh Ibu Musrini yang merupakan pewaris milik gong generasi ketujuh, yang bertempat tinggal di desa Plajan lereng Barat gunung Muria. Gong ini dibuat oleh seorang wali yang berasal dari Kerajaan Demak dan gong ini digunakan sebagai sarana dakwah dalam mengajarkan agama Islam ke daerah pegunungan yang pada waktu itu masyarakat masih menganut kepercayaan animisme. Tokoh dunia peraih “Nobel Perdamaian” yang berkali-kali menjadi Perdana Menteri Israel, Shimon Perez, menyebut Gunung Muria di Jawa Tengah (Indonesia) memiliki kekuatan aura magik luar biasa. Yasser Arafat (Presiden Palestina), juga peraih “Nobel Perdamaian,” mengatakan: Muria merupakan gunung pilihan Alloh untuk dijadikan “Gunung Perdamaian”. Kedua tokoh peraih nobel asal Timur Tengah itu berpendapat, Gunung Muria di Jawa Tengah (Indonesia) merupakan “saudara kembar,” dengan Gunung Muria di Yerusalem (Palestina). Kedua Tokoh Timur Tengah itu selalu menyebut Presiden the World Peace Committee HE Mr Djuyoto Suntani, merupakan "Saudara Tua" yang Sangat dihormati. Karena itu lahir di lereng Barat Gunung Muria yang memiliki struktur ukuran tinggi dan besar, dibanding Gunung Moria di Jerusalem. Nama Muria (Moria) berasal dari bahasa Ibrani (Ibrahim), berarti “pilihan Allah”.

Menurut sejarah yang ada di gunung Muriah (Palestina) merupakan tempat yang sakral, mulai dari Nabi Ibrahim yang mendapatkan perintah langsung dari Allah di gunung Muria untuk menyebarkan agama kepada seluruh umat manusia mengenai ketauhidan (satu Tuhan). Para Tokoh Spiritual Dunia meyakini bahwa HE Mr Djuyoto Suntani adalah Keturunan Ibrahim dari Istri Sarah. Ibrahim dengan Sarah punya anak Iskak. Iskak punya anak Yakub. Yakub punya 12 anak. Salah Satu anak Yakub bernama Gad. Gad Ini menetap di Yepare Moria, yang salah Satu Keturunan adalah Presiden the World Peace Committee HE Mr Djuyoto Suntani. Ayah Djuyoto Suntani, yaitu Bapak Suntani memiliki wajah mirip orang Turki dengan kulit putih. Berbeda dengan orang Jawa pada Umumnya. Tapi Bapak Suntani maupun HE Mr Djuyoto Suntani lebih bangga disebut Orang Jawa yang tinggal di Pelosok Desa lereng Barat Gunung Muria Jepara Jawa Tengah Indonesia.


Gunung Muria di Jerusalem, Menjadi tempat Nabi Musa yang mendapat “10 Perintah Tuhan,” namun Nabi Musa kembali ke gunung Muria untuk meminta penjelasan tentang “10 Perintah Tuhan”. Setelah Nabi Musa, di Gunung Muria muncul Nabi Daud yang pada zamannya menjadi rajam. Ia mendapat perintah pertama dari Tuhan untuk membagun rumah ibadah di gunung Muriah, karena pembangunan rumah ibadah belum selesai kemudian dilanjutkan oleh anaknya Nabi Sulaiman (Solomon) yang juga sekaligus menjadi raja pada saat itu, ia melanjutkan pembangunan rumah ibadah hingga selesai secara sempurna di gunung Muriah. Pada generasi berikutnya muncul Nabi Isa setelah dibimbing oleh Nabi Yahya, ia mendapat wahyu untuk mengajarkan agama kepada Bani Israil, dan Nabi Isa memilih gunung Muria sebagai tempat pertama kali untuk mengajarkan ilmu agama. Kemudian yang terakhir Nabi Muhammad yang meakukan mi’raj dari Gunung Muria menuju sidratul-mutaha.

Gunung Muria di Jerusalem maupun Gunung Muria di Jawa Tengah Indonesia, memiliki dimensi spiritual yang Sangat tinggi. Tuhan tidak pernah Salah memilih tempat dan waktu. Jika di Gunung Muria Jerusalem Palestine, tempat sakral, tempat para Nabi memberi pelajaran moral pada Umat manusia, maka dari lereng Barat Gunung Muria Jepara Jawa Tengah Indonesia, melahirkan Peradaban Baru Satu Keluarga Bumi dengan Hati yang baik melalui Presiden the World Peace Committee HE Mr Djuyoto Suntani bersama Penciptaan Gong Perdamaian Dunia yang Sangat legendaris sejagad Raya sepanjang Zaman.

Meskipun Presiden the World Peace Committee HE Mr Djuyoto Suntani adalah manusia utama yang paling luhur, tapi beliau adalah figur yang Sangat santun, rendah Hati, bersahaja, mengayomi semua mahluk hidup di planet Bumi.

Presiden the World Peace Committee HE Mr Djuyoto Suntani, sebagai Pemimpin Besar Dunia memiliki keluarga di Eropa, Amerika Selatan, di Dubai, di Indonesia, tapi lebih senang disebut sebagai orang desa dari lereng Barat Gunung Muria Jepara Jawa Tengah Indonesia.

Tujuan[sunting | sunting sumber]

Berangkat dari latar belakang sejarah sebagaimana dipaparkan di atas, keberadaan Gunung Muria, secara kasat mata mendapat predikat “Gunung Perdamaian", untuk menyatukan seluruh umat manusia di muka Bumi. Di Gunung Muria terdapat situs Candi Angin atau juga dikenal dengan nama Candi Bubrah.

Di bawah Candi Angin Gunung Muria, Jepara, Jawa Tengah, Indonesia, menurut para Ilmuwan Dunia, tersimpan Satu Misteri Dunia, yang bisa terjawab oleh Presiden the World Peace Committee HE Mr Djuyoto Suntani.

Tapi sejauh Ini Presiden the World Peace Committee HE Mr Djuyoto Suntani, enggan Membuka misteri sejarah Dunia tersebut. Pada tahun 1999, Tokoh kebanggaan Umat manusia di seluruh penjuru Dunia ini mendapat Surat Pribadi dari Bapak Bangsa dan Presiden Israel HE Mr Shimon Peres, perihal misteri Candi Angin di Gunung Muria Jepara Jawa Tengah Indonesia. Presiden Israel HE Mr Shimon Peres, di berbagai kesempatan juga menjelaskan silsilah leluhur HE Mr Djuyoto Suntani yang sebenarnya. Para filosof Dunia juga tahu, siapa sebenarnya HE Mr Djuyoto Suntani yang dipilih Tuhan Menjadi juru damai dan Pemersatu Dunia! Tapi Presiden the World Peace Committee HE Mr Djuyoto Suntani, pada setiap kesempatan, lebih senang dan bangga sebagai Anak Desa Dari lereng Barat Gunung Muria Jepara Jawa Tengah Indonesia.

Para Tokoh Dunia meyakini, pada waktunya nanti seluruh Dunia tahu, bahwa HE Mr Djuyoto Suntani yang lahir di Pelosok Desa Jepara Jawa Tengah Indonesia adalah Satu satunya manusia istimewa yang dipilih Tuhan untuk menyelamatkan Bumi dari kehancuran karena nafsu serakah Umat manusia.

Karena itu cikal bakal “Gong Perdamaian Dunia” (World Peace Gong) sebagai sarana yang mampu menyatukan umat manusia di seluruh dunia, berasal dari Gunung Muria di Jawa Tengah-Indonesia. Alasan mengapa bukan di Palestina (Gunung Muria) karena di sana masih terjadi konflik pertikaian yang masih berlangsung hingga saat ini. Namun suatu saat nanti GPD akan di pasang secara permanen di Gunung Muria guna menghentikan pertikaan yang terjadi di Yerusalem dengan harapan dapat mewujudkan perdamaian secara permanen di seluruh kawasan Timur Tengah. Tujuan Gong Perdamaian Dunia adalah supaya tidak ada lagi perang, konflik sara, terorisme, dll.

Tempat[sunting | sunting sumber]

Gong Perdamaian Dunia terdapat dibeberapa tempat, yaitu:

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]