Kerajaan Sunda

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Kerajaan Pajajaran)
CC-devnations.svg
Kerajaan Sunda
ᮊᮛᮏᮃᮔ᮪ ᮞᮥᮔ᮪ᮓ

932–1579
Cakupan wilayah Kerajaan Sunda
Cakupan wilayah Kerajaan Sunda
Ibu kota
Bahasa yang umum digunakanSunda Kuno, Kawi, Melayu Kuno
Agama
Sunda Wiwitan, Hindu, Buddha, Islam (mulai abad ke-14)
PemerintahanMonarki
Maharaja 
• ca. 1030-1042
Sri Jayabhupati
• ca. 1371-1475
Niskala Wastu Kancana
• ca. 1482-1521
Sri Baduga Maharaja
• ca. 1521–1535
Surawisesa
Sejarah 
• Prasasti Kebon Kopi II: pemulihan kekuasaan raja Sunda
932
1579
Mata uangMata uang emas dan perak
Didahului oleh
Digantikan oleh
Kerajaan Tarumanagara
Kesultanan Cirebon
Kesultanan Banten
Kesultanan Demak
Kerajaan Sumedang Larang
Sekarang bagian dari Indonesia
Gunung Pulosari, tempat kramat kerajaan Sunda

Kerajaan Sunda (Sunda: (ka) (ra) (ja) (a)ᮔ᮪ (n) ᮞᮥ (su)ᮔ᮪ (n) (da), translit. Karajaan Sunda, pengucapan bahasa Sunda: [sunˈda]) adalah kerajaan yang pernah ada antara tahun 932 dan 1579 Masehi di bagian Barat pulau Jawa (sekarang bagian dari Provinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, sebagian wilayah barat Provinsi Jawa Tengah dan sebagian wilayah selatan Pulau Sumatra). Kerajaan ini merupakan penerus dari Kerajaan Tarumanagara yang bercorak Hindu dan Buddha,[1] kemudian sekitar abad ke-14 diketahui kerajaan ini telah beribu kota di Kawali serta memiliki dua kawasan pelabuhan utama di Kalapa dan Banten.[2]

Kerajaan Sunda runtuh setelah ibu kota kerajaan ditaklukan oleh Maulana Yusuf pada tahun 1579. Sementara sebelumnya kedua pelabuhan utama Kerajaan Sunda itu juga telah dikuasai oleh Kesultanan Demak pada tahun 1527, Kalapa ditaklukan oleh Fatahillah dan Banten ditaklukan oleh Maulana Hasanuddin.

Sumber sejarah[sunting | sunting sumber]

Data arkeologi[sunting | sunting sumber]

Sejarah Kerajaan Sunda berasal dari sumber primer berupa prasasti dan sumber sekunder berupa naskah-naskah dari abad ke-17. Nama Kerajaan Sunda dapat ditemukan dari berbagai sumber, di antaranya:

Prasasti Kebon Kopi II (932 M)[sunting | sunting sumber]

Prasasti Kebonkopi II ditemukan di Ciaruteun Ilir, Cibungbulang, Bogor, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Prasasti ini diteliti oleh arkeolog F.D.K. Bosch, yang mengemukakan bahwa prasasti ini bertarikh 932 Masehi ditulis menggunakan bahasa Melayu Kuno, dan berisi pernyataan seorang "Raja Sunda yang menduduki kembali takhtanya".[3]
Alih aksara:

Terjemahan:

Prasasti Sanghyang Tapak (1030 M)[sunting | sunting sumber]

Menurut Prasasti Sanghyang Tapak yang berangka tahun 1030 (952 Saka), diketahui bahwa kerajaan Sunda dipimpin oleh Maharaja Sri Jayabhupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuwana Mandala Swaranindita Haro Gowardhana Wikramottunggadewa. Prasasti ini terdiri dari 40 baris yang ditulis dalam Aksara dan bahasa Kawi pada 4 buah batu, ditemukan di tepi sungai Cicatih di Cibadak, Sukabumi. Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nasional dengan nomor kode D 73 (dari Cicatih), D 96, D 97 dan D 98. Isi ketiga batu pertama berisi tulisan sebagai berikut:[4]

Catatan sejarah dari China[sunting | sunting sumber]

Menurut Hirth dan Rockhil,[5] ada sumber Cina tertentu mengenai Kerajaan Sunda. Pada saat Dinasti Sung Selatan, inspektur perdagangan dengan negara-negara asing, Zhao Rugua mengumpulkan laporan dari para pelaut dan pedagang yang benar-benar mengunjungi negara-negara asing. Dalam laporannya tentang negara Jauh, Zhufan Zhi, yang ditulis tahun 1225, menyebutkan pelabuhan di "Sin-t'o". Zhao melaporkan bahwa:

Buku perjalanan China Shunfeng xiangsong dari sekitar 1430 mengatakan:

Catatan Perjalanan Tomé Pires dari Portugal[sunting | sunting sumber]

Dalam bukunya yang berjudul Suma Oriental (1513–1515) ia menulis bahwa:

Naskah Kuno[sunting | sunting sumber]

Selain dari beberapa prasasti dan berita dari luar, beberapa karya sastra juga digunakan untuk mengetahui keberadaan Kerajaan Sunda,[6] diantaranya :

  1. Naskah Carita Parahyangan,
  2. Serat Pararaton,
  3. Catatan Bujangga Manik,
  4. Naskah Sanghyang siksakanda ng karesian,
  5. Naskah Sajarah Banten.[7]

Ibukota kerajaan[sunting | sunting sumber]

Nama Ibukota kerajaan dapat diketahui dari beberapa sumber, diantaranya:

Prasasti Batutulis (1533 M)[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan Prasasti Batutulis berangka tahun 1533 (1455 Saka), disebutkan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata, sebagai raja yang bertahta di Pakuan Pajajaran. Prasasti ini terletak di Jalan Batutulis, Kelurahan Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor.[8]

Prasasti ini dikaitkan dengan Kerajaan Sunda. Pada batu ini berukir kalimat-kalimat dalam bahasa Sunda Kuno dan aksara Kawi. Prasasti ini dibuat oleh Prabu Sanghiang Surawisesa (yang melakukan perjanjian dengan Portugis) dan menceritakan kemashuran ayahandanya tercinta (Sri Baduga Maharaja) sebagai berikut:

Penemuan arkeologi[sunting | sunting sumber]

Di wilayah Jawa Barat ditemukan beberapa candi, antara lain Percandian Batujaya di Karawang (abad ke-2 sampai ke-12) yang bercorak Buddha, serta percandian Hindu yaitu Candi Bojongmenje di Kabupaten Bandung yang berasal dari abad ke-7 (sezaman dengan percandian Dieng), dan Candi Cangkuang di Leles, Garut yang bercorak Hindu Siwa dan diduga berasal dari abad ke-8 Masehi. Siapa yang membangun candi-candi ini masih merupakan misteri, namun umumnya disepakati bahwa candi-candi ini dikaitkan dengan kerajaan Hindu yang pernah berdiri di Jawa Barat, yaitu Tarumanagara, Sunda dan Galuh.

Di Museum Nasional Indonesia di Jakarta terdapat sejumlah arca yang disebut "arca Caringin" karena pernah menjadi hiasan kebun asisten-residen Belanda di tempat tersebut. Arca tersebut dilaporkan ditemukan di Cipanas, dekat kawah Gunung Pulosari, dan terdiri dari satu dasar patung dan 5 arca berupa Shiwa Mahadewa, Durga, Batara Guru, Ganesha dan Brahma. Coraknya mirip corak patung di Jawa Tengah dari awal abad ke-10.

Di situs purbakala Banten Girang, yang terletak kira-kira 10 km di sebelah selatan pelabuhan Banten sekarang, terdapat reruntuhan dari satu istana yang diperkirakan didirikan pada abad ke-10. Banyak unsur yang ditemukan dalam reruntuhan ini yang menunjukkan pengaruh Jawa Tengah.

Situs-situs arkeologi lain yang berkaitan dengan keberadaan Kerajaan Sunda, masih dapat ditelusuri terutama pada kawasan muara Sungai Ciliwung termasuk situs Sangiang di daerah Pulo Gadung (sekarang Pulo Gadung, Jakarta Timur). Hal ini mengingat jalur sungai merupakan salah satu alat transportasi utama pada masa tersebut.[9]

Berdirinya kerajaan Sunda[sunting | sunting sumber]

Kerajaan Sunda merupakan kerajaan yang berdiri menggantikan kerajaan Tarumanagara yang mengalami keruntuhan.WIlayah kekuasaannya meliputi bagian barat dari pulau Jawa dan membentang dari Ujung Kulon hingga ke Ci Sarayu dan Ci Pamali.[10] Keterangan tentang berdirinya Kerajaan Sunda sebagai penerus Kerajaan Tarumanagara diperoleh dari naskah Wangsakerta, naskah yang oleh sebagian orang diragukan keasliannya serta diragukan sebagai sumber sejarah karena sangat sistematis.[11][12]

Wilayah kekuasaan[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan naskah primer berbahasa Sunda kuno Perjalanan Bujangga Manik (yang menceriterakan perjalanan Bujangga Manik, seorang pendeta Hindu Sunda yang mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di Pulau Jawa dan Bali pada awal abad ke-16), yang saat ini disimpan pada Perpustakaan Boedlian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627), batas Kerajaan Sunda di sebelah timur adalah Ci Pamali ("Sungai Pamali", sekarang disebut sebagai Kali Brebes) dan Ci Serayu (yang saat ini disebut Kali Serayu) di Provinsi Jawa Tengah. Wilayah vasal Kerajaan Sunda membentang dari ujung barat di Pasar Talo, Bengkulu hingga ke Jatimalang, Purworejo di ujung Timur. Kerajaan Sunda yang beribukota di Pajajaran juga mencakup wilayah bagian selatan pulau Sumatra (prasasti Ulubelu). Setelah Kerajaan Sunda diruntuhkan oleh Kesultanan Banten maka kekuasaan atas wilayah selatan Sumatra dilanjutkan oleh Kesultanan Banten.[2]

Daftar raja-raja Sunda[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan arkeologi dan catatan bangsa asing[sunting | sunting sumber]

Nama raja-raja Sunda, berdasarkan bukti arkeologis berupa prasasti-prasasti, serta catatan bangsa asing sbb.:

Raja-raja Sunda berdasarkan temuan prasasti dan catatan bangsa asing
No Nama raja Masa pemerintahan Ditemukan pada
1 Sri Jayabhupati ca. 1030-1042 Prasasti Sanghyang Tapak (1030 M)
2 Niskala Wastu Kancana ca. 1371-1475 Prasasti Kawali (paruh kedua abad ke-14) & Prasasti Batutulis (1533)
3 Sri Baduga Maharaja ca. 1482-1521 Prasasti Batutulis (1533)
4 Ratu Samian/Rei Samião (Ratu Sanghyang) ca. 1521–1535 Padrão dan Perjanjian Sunda-Portugal (1522) &
Décadas da Ásia (1777–78, De Barros)

Raja-raja Sunda dari tahun (1482 – 1579)[sunting | sunting sumber]

  1. Sri Baduga Maharaja (1482 – 1521), bertakhta di Pakuan (Bogor sekarang)
  2. Surawisesa (1521 – 1535), bertakhta di Pakuan
  3. Ratu Dewata (1535 – 1543), bertakhta di Pakuan
  4. Ratu Sakti (1543 – 1551), bertakhta di Pakuan
  5. Ratu Nilakendra (1551 – 1567), meninggalkan Pakuan karena serangan Sultan Maulana Hasanuddin dan anaknya, Maulana Yusuf
  6. Raga Mulya (1567 – 1579), dikenal sebagai Prabu Surya Kencana, memerintah dari Pandeglang.

Perjanjian dengan Portugal[sunting | sunting sumber]

Prasasti Perjanjian Sunda-Portugal, sebuah tugu batu untuk memperingati perjanjian antara Kerajaan Portugal dan Sunda yang saat ini berada di Museum Nasional Indonesia, Jakarta.

Pada tahun 1522, Kerajaan Sunda menandatangani Perjanjian Sunda-Portugis yang membolehkan orang Portugis membangun benteng dan gudang di pelabuhan Sunda Kelapa. Sebagai imbalannya, Portugis diharuskan memberi bantuan militer kepada Kerajaan Sunda dalam menghadapi serangan dari Demak dan Cirebon[13] yang memisahkan diri dari Kerajaan Sunda.

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Bacaan lanjut[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Geoffrey C. Gunn, (2011), History Without Borders: The Making of an Asian World Region, 1000-1800, Hong Kong University Press, ISBN 988-8083-34-1
  2. ^ a b Guillot, Claude. (1990). The Sultanate of Banten. Gramedia Book Publishing Division. ISBN 979-403-922-5. 
  3. ^ Marwati Djoened Poesponegoro; Nugroho Notosusanto (2008). Sejarah Nasional Indonesia: Zaman kuno (dalam bahasa Indonesian). Balai Pustaka. ISBN 979407408X. Diakses tanggal 3 June 2018. 
  4. ^ Zahorka, Herwig (2007). The Sunda Kingdom of West Java From Tarumanagara to Pakuan Pajajaran with the Royal Center of Bogor. Yayasan Cipta Loka Caraka. 
  5. ^ Hirth, F., Rockhill, W.W., (1911). Chao Ju-kua, His Work on the Chinese and Arab Trade in the Twelfth and Thirteen centuries, entitled Chu-fan-chi. St Petersburg
  6. ^ Noorduyn, Kerajaan Sunda dan Pakuan Pajajaran dilihat dari sumber-sumber prasasti dan naskah-naskah lama, Panitia Seminar, 1991
  7. ^ Nana Supriatna, Mamat Ruhimat, Kosim, IPS Terpadu (Sosiologi, Geografi, Ekonomi, Sejarah), PT Grafindo Media Pratama, ISBN 979-758-337-6
  8. ^ Casparis, J. G. de (1975). Indonesian Palaeography: A History of Writing in Indonesia from the Beginnings to C. A.D. 1500 (dalam bahasa Inggris). BRILL. ISBN 978-90-04-04172-1. 
  9. ^ Uka Tjandrasasmita, (2009), Arkeologi Islam Nusantara, Kepustakaan Populer Gramedia, ISBN 979-9102-12-X
  10. ^ BPS Provinsi Banten (2019). Pariwisata Banten dalam Angka Tahun 2019 (PDF). Dinas Pariwisata Provinsi Banten. hlm. 47–48. 
  11. ^ Lubis, Nina H. (2012-08-03). "Kontroversi Tentang Naskah Wangsakerta". Humaniora. 14 (1): 20–26. doi:10.22146/jh.v14i1.741 (tidak aktif 31 July 2022). ISSN 2302-9269. 
  12. ^ "Mengungkap Kontroversi Naskah Wangsakerta - Radar Cirebon". Radar Cirebon. 2013-12-14. Diakses tanggal 2018-06-03. 
  13. ^ Herwig Zahorka (2007). The Sunda Kingdoms of West Java: From Tarumanagara to Pakuan Pajajaran with the Royal Center of Bogor. Yayasan Cipta Loka Caraka.