Djong (kapal)

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Jong jawa bertiang tiga di Banten, 1610.

Djong (juga disebut jong, jung atau junk) adalah jenis kapal layar kuno yang berasal dari Jawa, dan digunakan secara umum oleh pelaut Jawa dan Melayu. Perkataan itu dulunya dan sekarang dieja sebagai "jong" dalam bahasa asalnya, ejaan "djong" sebenarnya adalah romanisasi kolonial Belanda.[1] Djong digunakan terutama sebagai kapal penumpang dan kapal kargo, dapat mencapai Ghana atau bahkan Brazil di zaman kuno. Bobot muatan rata-rata adalah 400-500 ton mati,[catatan 1] dengan kisaran 85-2000 ton. Pada zaman Majapahit kapal jenis ini digunakan sebagai kapal perang, tetapi masih dominan sebagai kapal angkut.[2]:308[3]

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Terdapat pandangan berbeda tentang apakah asal namanya itu dari dialek Cina, atau dari kata Jawa. Kata jong, jung atau junk dapat berasal dari kata Cina untuk kapal (船),[4][5] tadinya diucapkan sebagai ɦljon di bahasa Cina kuno. Namun, Paul Pelliot dan Waruno Mahdi menolak asal Cina untuk nama itu.[6][7]:38 Yang lebih mendekati adalah "jong" dalam bahasa Jawa yang artinya kapal. Kata jong dapat ditemukan dalam prasasti Jawa kuno abad ke 9.[8][9] Kata ini masuk bahasa Melayu dan bahasa Cina pada abad ke-15, ketika daftar catatan kata-kata China mengidentifikasikannya sebagai kata Melayu untuk kapal,[10] dengan demikian secara praktis menolak asal kata Cina untuk nama itu.[8] Undang-undang laut Melayu yang disusun pada akhir abad ke-15 sering menggunakan kata jung untuk menyebut kapal pengangkut barang.[10]

Asal kata "junk" dalam bahasa Inggris, dapat ditelusuri ke kata Portugis "junco", yang diterjemahkan dari kata Arab j-n-k (جنك). Kata ini berasal dari fakta bahwa aksara Arab tidak dapat mewakili digraf "ng".[7]:37 Kata itu dulunya digunakan untuk menunjukkan baik kapal Jawa / Melayu (jong) dan kapal Cina (chuán), meskipun keduanya merupakan kapal yang sangat berbeda. Setelah hilangnya jong pada abad ke-17, makna kata "junk" (dan kata-kata serupa lainnya dalam bahasa Eropa), yang sampai saat itu digunakan sebagai transkripsi kata "jong" dalam bahasa Melayu dan Jawa, berubah artinya menjadi hanya merujuk kapal Cina saja.[7]:222[11]

Perkataan "jung" juga boleh diperkatakan berasal dari bahasa Tionghoa, yaitu Teow Chew dan Hokkien yang berasal dari selatan China. Dalam bahasa Teow Chew kapal jung disebut "jung" dan dalam bahasa hokkien disebut sebagai "jun". Teknologi perkapalan China mempunyai sejarah yang lama sejak Dinasti Han (220 SM-200 M), tetapi pada saat ini masih berupa kapal-kapal pengarung sungai, bukan pengarung samudera. Untuk mengarungi samudera, orang China pada waktu itu justru lebih suka menumpang kapal-kapal negeri "K'un-lun", yang merujuk pada Jawa dan Sumatra.[4] Orang-orang Nusantara biasanya menyebut kapal China yang besar sebagai "wangkang", sedangkan yang kecil sebagai "top".[12] Ada juga sebutan dalam bahasa Melayu "cunea", "cunia", dan "cunya" yang berasal dari dialek Amoy China 船仔 (tsûn-á), yang merujuk pada kapal China sepanjang 10–20 m.[13][14]

Kata "djong" sendiri adalah penulisan Belanda untuk jong, karena fonem [d͡ʒ] ditulis sebagai /dj/, sedangkan pada penulisan di Indonesia digunakan kata jong.[1]

Para pelayar Nusantara[sunting | sunting sumber]

Seorang pelaut Jawa.

Kepulauan Nusantara dikenal untuk produksi jung-jung besar. Tatkala pelaut Portugis mencapai perairan Asia Tenggara pada awal tahun 1500-an mereka menemukan kawasan ini didominasi kapal-kapal Jung Jawa. Kapal dagang milik orang Jawa ini menguasai jalur rempah rempah yang sangat vital, antara Maluku, Jawa, dan Malaka. Kota pelabuhan Malaka pada waktu itu praktis menjadi kota orang Jawa. Di sana banyak saudagar dan nakhoda kapal Jawa yang menetap, dan sekaligus mengendalikan perdagangan internasional. Banyak tukang-tukang kayu Jawa yang terampil membangun galangan kapal di kota pelabuhan terbesar di Asia Tenggara itu.[10] Bukti kepiawaian orang Jawa dalam bidang perkapalan juga ditemukan pada relief Candi Borobudur yang memvisualkan perahu bercadik - belakangan disebut sebagai "Kapal Borobudur".

Untuk melintasi samudera, orang-orang Melayu secara mandiri menciptakan layar jung (junk rig), yang terbuat dari tikar tenunan yang diperkuat dengan bambu, setidaknya beberapa ratus tahun sebelum masehi. Pada masa Dinasti Han (206 SM hingga 220 M) orang Cina mulai menggunakan layar seperti itu, setelah mempelajarinya dari para pelaut Melayu yang mengunjungi pantai Selatan mereka. Selain jenis layar ini, mereka juga membuat layar lug yang seimbang (atau yang biasa disebut layar tanja). Penemuan layar-layar jenis ini membuat berlayar di sekitar pantai barat Afrika menjadi memungkinkan, karena kemampuannya untuk berlayar melawan angin.[15][16]

Selama era Majapahit, hampir semua komoditas dari Asia ditemukan di Jawa. Ini dikarenakan perdagangan laut ekstensif yang dilakukan oleh kerajaan Majapahit yang menggunakan berbagai jenis kapal, terutamanya jong, untuk berdagang ke tempat-tempat yang jauh.[2]:267-293 Ma Huan (penerjemah Cheng Ho) yang mengunjungi Jawa pada 1413, menyatakan bahwa pelabuhan di Jawa adalah memperdagangkan barang dan menawarkan layanan yang lebih banyak dan lebih lengkap daripada pelabuhan lain di Asia Tenggara.[2]:241 Juga pada era Majapahit penjelajahan orang-orang Nusantara mencapai prestasi terbesarnya. Ludovico di Varthema (1470-1517), dalam bukunya Itinerario de Ludouico de Varthema Bolognese menyatakan bahwa orang Jawa Selatan berlayar ke "negeri jauh di selatan" hingga mereka tiba di sebuah pulau di mana satu hari hanya berlangsung selama empat jam dan "lebih dingin daripada di bagian dunia mana pun". Penelitian modern telah menentukan bahwa tempat tersebut terletak setidaknya 900 mil laut (1666 km) selatan dari titik paling selatan Tasmania.[17]

Orang Jawa, seperti suku-suku Austronesia lainnya, menggunakan sistem navigasi yang mantap: Orientasi di laut dilakukan menggunakan berbagai tanda alam yang berbeda-beda, dan dengan memakai suatu teknik perbintangan sangat khas yang dinamakan star path navigation. Pada dasarnya, para navigator menentukan haluan kapal ke pulau-pulau yang dikenali dengan menggunakan posisi terbitnya dan terbenamnya bintang-bintang tertentu di atas cakrawala.[18]:10 Pada zaman Majapahit, kompas dan magnet telah digunakan, selain itu kartografi (ilmu pemetaan) telah berkembang: Penggunaan peta yang penuh garis-garis memanjang dan melintang, garis rhumb, dan garis rute langsung yang dilalui kapal dicatat oleh orang Eropa, sampai-sampai orang Portugis menilai peta Jawa merupakan peta terbaik pada awal tahun 1500-an.[17][19]

Ketika Afonso de Albuquerque menaklukkan Malaka (1511), orang Portugis mendapatkan sebuah peta dari seorang mualim Jawa, yang juga menampilkan bagian dari benua Amerika. Mengenai peta itu, Albuquerque berkata:[20]

"... peta besar seorang mualim Jawa, yang berisi Tanjung Harapan, Portugal dan tanah Brazil, Laut Merah dan Laut Persia, Kepulauan Cengkih, navigasi orang Cina dan Gom, dengan garis rhumb dan rute langsung yang bisa ditempuh oleh kapal, dan dataran gigir (hinterland), dan bagaimana kerajaan berbatasan satu sama lain. Bagiku, Tuan, ini adalah hal terbaik yang pernah saya lihat, dan Yang Mulia akan sangat senang melihatnya memiliki nama-nama dalam tulisan Jawa, tetapi saya punya saya orang Jawa yang bisa membaca dan menulis, saya mengirimkan karya ini kepada Yang Mulia, yang ditelusuri Francisco Rodrigues dari yang lain, di mana Yang Mulia dapat benar-benar melihat di mana orang Cina dan Gore (Jepang) datang, dan tentu saja kapal Anda harus pergi ke Kepulauan Cengkih, dan di mana tambang emas ada, pulau Jawa dan Banda, tindakan seperiodenya, dari siapa pun sezamannya, dan tampaknya sangat mungkin bahwa apa yang dia katakan adalah benar..." - Surat untuk raja Manuel I dari Portugal, April 1512.

Diogo de Couto dalam buku Da Asia, terbit tahun 1645, menyebutkan:[21]

"Orang Jawa adalah orang-orang yang sangat berpengalaman dalam seni navigasi, sampai mereka dianggap sebagai perintis seni paling kuno ini, walaupun banyak yang menunjukkan bahwa orang Cina lebih berhak atas penghargaan ini, dan menegaskan bahwa seni ini diteruskan dari mereka kepada orang Jawa. Tetapi yang pasti adalah orang Jawa yang dahulu berlayar ke Tanjung Harapan dan mengadakan hubungan dengan Madagaskar, dimana sekarang banyak dijumpai penduduk asli Madagaskar yang mengatakan bahwa mereka adalah keturunan orang Jawa."

Konstruksi[sunting | sunting sumber]

Selat Muria zaman Pati Unus (1513). Pada 1657 selat ini sudah mengecil atau menghilang.

Konstruksi perahu Nusantara sangat unik. Lambung perahu dibentuk sebagai menyambungkan papan-papan pada lunas kapal. Kemudian disambungkan pada pasak kayu tanpa menggunakan kerangka, baut, atau paku besi. Linggi haluan dan buritan kapal berbentuk lancip. Kapal ini dilengkapi dengan dua batang kemudi yang menyerupai dayung, serta layar berbentuk segi empat (layar tanja) atau layar lateen dengan sekat bambu (layar jung). Kapal Jawa jelas berbeda dengan kapal Tiongkok yang lambungnya dikencangkan dengan pasak-pasak kayu dan bukan paku besi. Selain itu kapal Tiongkok memiliki kemudi tunggal yang dipasang pada palang rusuk buritan.

Duarte Barbosa melaporkan bahwa kapal-kapal dari Jawa, yang memiliki empat tiang, sangat berbeda dari kapal Portugis. Terbuat dari kayu yang sangat tebal, dan ketika kapal menjadi tua, mereka memperbaikinya dengan papan baru dan dengan cara ini mereka memiliki tiga hingga empat papan penutup, ditumpuk berlapis. Tali dan layar dibuat dari anyaman rotan.[22] Kapal jung Jawa dibuat menggunakan kayu jati pada saat laporan ini (1512), pada waktu itu jung Cina masih menggunakan kayu lunak sebagai bahan utamanya.[23] Lambung kapal Jawa dibentuk dengan menggabungkan papan ke lunas dan kemudian ke satu sama lain dengan semat kayu, tanpa menggunakan rangka (kecuali untuk penguat berikutnya), maupun baut atau paku besi. Papannya dilubangi oleh bor tangan dan dimasukkan dengan pasak, yang tetap di dalam papan-papan itu, tidak terlihat dari luar.[24] Pada beberapa bagian kapal yang lebih kecil dapat diikat bersama dengan serat tumbuhan.[16] Kapal itu juga sama-sama lancip pada kedua ujungnya, dan membawa dua kemudi yang mirip dayung dan layar lateen (sebenarnya layar tanja)[catatan 2], tetapi ia juga dapat menggunakan layar jung yang berasal dari Melayu.[15] Ini sangat berbeda dari kapal Cina, yang lambungnya diikat oleh tali dan paku besi ke rangka dan ke sekat yang membagi ruang kargo. Kapal Cina memiliki kemudi tunggal di buritan, dan (kecuali di Fujian dan Guangdong) mereka memiliki bagian bawah yang rata tanpa lunas.[10]

Meriam Cetbang Majapahit, dari Metropolitan Museum of Art, yang diperkirakan berasal dari abad ke-14.[25] Perhatikan adanya lambang Surya Majapahit.

Penggambaran historis juga menunjukan adanya bowsprit (tiang cucur) dan layar bowsprit, dan juga adanya stempost (linggi haluan) dan sternpost (linggi buritan).[26] Memanjang dari bagian depan sampai belakang terdapat struktur seperti rumah, dimana orang-orang terlindung dari panasnya matahari, hujan dan embun. Di buritan terdapat sebuah kabin untuk nakhoda kapal.[27] Kabin ini berbentuk bujur sangkar dan menonjol ("menggantung") di atas buritan bawahnya yang tajam (linggi belakang). Haluannya juga memiliki 'platform' persegi yang menonjol di atas linggi depan, untuk tiang cucur dan perisai meriam yang menghadap ke depan (disebut apilan atau ampilan pada bahasa Melayu).[12][28] Sebuah jong dapat membawa hingga 100 berço (artileri yang diisi dari belakang - kemungkinan merujuk pada meriam cetbang lokal).[29] Menurut bapa Nicolau Pereira, jong mempunyai 3 kemudi, satu di setiap sisi dan satu di tengah. Laporan Pereira tidak biasa, karena laporan lain hanya menyebutkan 2 kemudi samping. Ini mungkin mengacu pada jong hibrida, dengan kemudi tengah seperti yang ada di kapal Cina (kemudi tengah menggantung) atau kemudi tengah Barat (kemudi pintle dan gudgeon).[30] Sebuah jong memiliki rasio lebar terhadap panjang sebesar 1: 3 sampai 1: 4,[2]:292 yang membuatnya masuk ke kategori "kapal bundar" (round ship).[3]:148 dan 169[31]

Orang-orang yang biasa membuat jong. Dari atas ke bawah: orang Jawa, orang Jawa di Pegu, dan orang Melayu. Digambarkan dalam Codex Casanatense dari tahun 1540 M.

Barbosa juga melaporkan berbagai barang yang dibawa oleh kapal-kapal ini, yang meliputi beras, daging sapi, domba, babi, dan rusa, baik dikeringkan dan maupun diasinkan, juga banyak ayam, bawang putih, dan bawang. Senjata yang diperdagangkan termasuk tombak, belati, dan pedang, semuanya dengan logam berornamen dan baja yang sangat bagus. Juga dibawa dengan mereka kemukus dan pewarna kuning yang disebut cazumba (kasumba) dan emas yang diproduksi di Jawa. Barbosa menyebutkan tempat dan rute yang dikunjungi kapal-kapal ini, yang meliputi Malaka, Cina, Kepulauan Maluku, Sumatra, Tenasserim, Pegu, Bengal, Palicat, Koromandel, Malabar, Cambay, dan Aden. Para penumpang membawa istri dan anak-anak mereka, bahkan sampai-sampai beberapa dari mereka tidak pernah meninggalkan kapal untuk pergi ke pantai, juga tidak memiliki tempat tinggal lain, karena mereka dilahirkan dan mati di kapal.[22] Dari catatan historis, diketahui bahwa kapal yang terbuat dari kayu jati dapat bertahan hingga 200 tahun.[32]

Ukuran dan konstruksi jung Jawa membutuhkan keahlian dan material yang belum tentu terdapat di banyak tempat, oleh karena itu jung Jawa raksasa hanya di produksi di 2 tempat di sekitar Jawa. Tempat itu adalah di pantai utara Jawa, di sekitar Cirebon dan Rembang-Demak (di selat Muria yang memisahkan gunung Muria dengan pulau Jawa), dan juga di pesisir Selatan Kalimantan, terutama di Banjarmasin dan pulau-pulau sekitarnya. Tempat ini sama-sama memiliki hutan jati, tetapi galangan kapal di Kalimantan tetap mendatangkan kayu jati dari Jawa, sedangkan Kalimantan sendiri menjadi pemasok kayu ulin.[26] Pegu (sekarang Bago), yang merupakan pelabuhan besar pada abad ke-16, juga memproduksi jong, oleh orang Jawa yang menetap disana.[23]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Zaman awal[sunting | sunting sumber]

Ahli astronomi Yunani dari Alexandria, Claudius Ptolemaeus, pada sekitar tahun 100 masehi dalam karyanya Geography berkata bahwa kapal besar datang dari Timur India. Ini dikonfirmasi juga oleh buku tak berpengarang yaitu Periplus Marae Erythraensis. Keduanya menyebutkan sebuah jenis kapal yang disebut kolandiaphonta (juga dikenal sebagai kolandia, kolandiapha, dan kolandiapha onta),[33][34] yang merupakan transkripsi langsung dari kata Cina K'un-lun po - yang berarti kapal "Kun-lun", nama Cina untuk Sumatra dan/atau Jawa.[34]

Buku abad ke-3 berjudul "Hal-Hal Aneh dari Selatan" (南州異物志) karya Wan Chen (萬震) mendeskripsikan kapal yang mampu membawa 600-700 orang bersama dengan lebih dari 10.000 hu (斛) kargo (menurut berbagai interpretasi, berarti 250-1000 ton - 600 ton bobot mati menurut Manguin).[8]:262 Kapal ini bukan berasal dari Cina, namun mereka berasal dari K'un-lun (berarti "kepulauan di bawah angin" atau "negeri Selatan"). Kapal-kapal yang disebut K'un-lun po (atau K'un-lun bo), yang besar lebih dari 50 meter panjangnya dan tingginya di atas air 5,2-7,8 meter. Bila dilihat dari atas kapal-kapal itu serupa galeri-galeri yang diatapi.[35] Dia menjelaskan desain layar kapal sebagai berikut:

"Orang-orang yang berada di luar penghalang, sesuai dengan ukuran kapalnya, terkadang memasang (sampai sebanyak) empat layar yang mereka bawa secara berurutan dari haluan ke buritan. (...) Keempat layar itu tidak menghadap ke depan secara langsung, tetapi diatur secara miring, dan diatur sedemikian rupa sehingga semuanya dapat diperbaiki ke arah yang sama, untuk menerima angin dan menumpahkannya. Layar-layar yang berada di belakang layar yang menghadap arah angin menerima tekanan angin, melemparkannya dari satu ke yang lain, sehingga mereka semua mendapat keuntungan dari kekuatannya. Jika sedang badai, (para pelaut) mengurangi atau memperbesar permukaan layar sesuai dengan kondisi. Sistem layar miring ini, yang memungkinkan layar untuk menerima angin dari satu dan lainnya, menghindarkan kecemasan yang terjadi ketika memiliki tiang tinggi. Dengan demikian kapal-kapal ini berlayar tanpa menghindari angin kencang dan ombak besar, dengan itu mereka dapat mencapai kecepatan tinggi." - Wan Chen, Hal-Hal Aneh dari Selatan[36][8]

Sebuah buku dari tahun 260 masehi yang dibuat K'ang T'ai (康泰) menjelaskan kapal berlayar tujuh yang disebut po untuk mengangkut kuda yang bisa melakukan perjalanan sejauh Suriah. Dia juga membuat rujukan untuk perdagangan muson antara pulau-pulau (atau kepulauan), yang memakan waktu satu bulan dan beberapa hari dalam sebuah po besar.[35] Kata "po" ini bukan bahasa China, melainkan berasal dari kata perahu. Perlu diketahui bahwa kata "perahu" sebelum abad ke-17 merujuk pada kapal-kapal besar.[37]:193

Faxian (Fa Hsien) dalam perjalanan pulangnya ke China dari India (413-414) menaiki sebuah kapal yang berisi 200 penumpang dan pelaut dari K'un-lun yang menarik kapal yang lebih kecil. Topan menghantam dan memaksa sebagian penumpang untuk pindah ke kapal yang lebih kecil, akan tetapi awak kapal kecil takut kapalnya akan kelebihan muatan, dan melepas tali pengikat untuk berpisah dari kapal besar. Untungnya kapal besar tidak tenggelam dan menjadikan penumpangnya terdampar di Ye-po-ti (Yawadwipa - Jawa).[catatan 3] Setelah 5 bulan, awak dan penumpangnya membangun kapal baru yang sebanding dalam ukurannya untuk berlayar ke China.[38]

Pada I-ch’ieh-ching yin-i, sebuah kamus yang disusun oleh Huei-lin sekitar 817 M, po disebutkan beberapa kali:

"Ssu-ma Piao, dalam komentarnya pada Chuang Tzü, mengatakan bahwa kapal laut besar disebut dengan "po". Menurut Kuang Ya, Po adalah kapal pengarung samudera. Ia memiliki draft (kedalaman)[catatan 4] 60 kaki (18 m). Kapal ini cepat dan membawa 1000 orang beserta barang dagangannya. Kapal itu juga disebut k'un-lun-po.
Dengan kulit kayu pohon kelapa yang berserat, mereka membuat tali yang mengikat bagian-bagian kapal menjadi satu (...). Paku dan penjepit tidak digunakan, karena khawatir panasnya besi akan menimbulkan kebakaran. Kapal-kapal itu dibangun dengan memasang beberapa lapis papan samping, karena papan-papan itu tipis dan mereka khawatir akan patah. Panjangnya lebih dari enam puluh meter (...). Layar dikibarkan untuk memanfaatkan angin, dan kapal-kapal ini tidak dapat digerakkan oleh kekuatan manusia saja."[8]

Kuang Ya adalah kamus yang disusun oleh Chang I sekitar 230 M, sedangkan Ssu-ma Piao hidup dari sekitar tahun 240 hingga sekitar 305 M.[35]
Pada 1178, petugas bea cukai Guangzhou Zhou Qufei, menulis dalam Lingwai Daida tentang kapal-kapal negeri Selatan:

"Kapal yang berlayar di laut Selatan (laut Natuna Utara) dan Selatannya lagi (Samudera Hindia) seperti rumah raksasa. Ketika layarnya mengembang mereka seperti awan besar di langit. Kemudi mereka panjangnya mencapai puluhan kaki. Sebuah kapal dapat membawa beberapa ratus orang, dan bekal beras untuk setahun. Babi diberi makan di dalamnya dan wine difermentasikan saat berlayar. Tidak ada laporan dari orang yang masih hidup atau sudah meninggal, bahwa mereka tidak akan kembali ke daratan saat mereka sudah berlayar ke lautan yang biru. Saat fajar, ketika gong berdentum di kapal, hewan-hewan dapat minum, kru dan penumpang sama-sama melupakan segala bahaya. Bagi siapapun yang naik semuanya tersembunyi dan hilang dalam angkasa, gunung-gunung, daratan-daratan, dan negeri-negeri asing. Pemilik kapal dapat berkata "Untuk mencapai negeri-negeri tersebut, dengan angin yang menguntungkan, dalam beberapa hari, kita pasti melihat gunung-gunung, dan kapal ini harus disetir ke arahnya". Tapi jika angin melambat, dan tidak cukup kuat untuk dapat melihat gunung dalam waktu yang ditentukan; pada kasus itu baringan mungkin harus diubah. Dan kapalnya bisa berjalan jauh melewati daratan dan kehilangan posisinya. Angin kuat mungkin muncul, kapalnya dapat terbawa kesana dan kemari, mungkin dapat bertemu dengan beting atau terdorong ke atas batu-batu tersembunyi, maka itu mungkin dapat merusak sampai ke atap rumah di atas deknya. Sebuah kapal besar dengan kargo berat tidak perlu takut akan lautan yang berombak, tetapi di air dangkal ia justru bersedih."[39]

Zaman Majapahit[sunting | sunting sumber]

Pada 1322 rahib Odoric dari Pordenone melaporkan bahwa kapal Nusantara dari tipe zunc[um] membawa sekitar 700 orang, baik pelaut maupun pedagang.[40]

Kerajaan Majapahit menggunakan jong secara besar-besaran sebagai kekuatan lautnya. Tidak diketahui berapa tepatnya jumlah total jong yang digunakan oleh Majapahit, tetapi mereka dikelompokkan menjadi 5 armada. Jumlah terbesar jong yang dikerahkan dalam sebuah ekspedisi adalah sekitar 400 jong yang disertai dengan malangbang dan kelulus yang tak terhitung banyaknya, yakni ketika Majapahit menyerang Pasai.[41] Ekspedisi militer terbesar kedua, invasi Singapura pada tahun 1398, Majapahit mengerahkan 300 jong dengan tidak kurang dari 200.000 orang (lebih dari 600 orang di setiap jong).[42] Di antara jong terkecil yang tercatat, yang digunakan oleh Chen Yanxiang untuk mengunjungi Korea, panjangnya 33 meter dengan perkiraan kapasitas 220 ton bobot mati, dengan awak 121 orang.[43]:150, 153-154 Yang besar dapat membawa 800 orang dan panjangnya mencapai 50 depa (sekitar 91,44–100 m).[44] Sebuah jong Bali yang digunakan oleh Bujangga Manik untuk melakukan perjalanan dari Bali ke Blambangan memiliki lebar 8 depa (14,6-16 m) dan panjang 25 depa (45,7-50 m).[45][46] Kapal ini dipersenjatai meriam sepanjang 3 meter, dan banyak cetbang berukuran kecil.[47] Sebelum tragedi Bubat tahun 1357, raja Sunda dan keluarganya datang di Majapahit setelah berlayar di laut Jawa dalam armada dengan 200 kapal besar dan 2000 kapal yang lebih kecil.[48] Kapal yang dinaiki keluarga kerajaan adalah sebuah jong hibrida Cina-Asia tenggara bertingkat sembilan (Bahasa Jawa kuno: Jong sasanga wagunan ring Tatarnagari tiniru). Kapal hibrida ini mencampurkan teknik China dalam pembuatannya, yaitu menggunakan paku besi selain menggunakan pasak kayu dan juga pembuatan sekat kedap air (watertight bulkhead), dan penambahan kemudi sentral.[24][49]

Sebuah jong hibrida Cina-Asia tenggara. Bendera yang menampilkan bulan sabit menunjukkan bahwa jong ini berasal dari salah satu kesultanan Islam di Indonesia.

Buku karangan Wang Dayuan tahun 1349, Daoyi Zhilüe Guangzheng Xia ("Deskripsi Orang Barbar dari Kepulauan") menjelaskan "perahu kuda" di sebuah tempat bernama Gan-mai-li di Asia Tenggara. Kapal-kapal ini lebih besar dari kapal dagang biasa, dengan sisi lambungnya dibangun dari beberapa papan. Kapal-kapal ini tidak menggunakan paku atau mortir untuk menggabungkan mereka, sebaliknya mereka menggunakan serat kelapa. Mereka memiliki dua atau tiga dek, dengan "rumah" di atas dek teratas. Di bagian bawah mereka membawa kemenyan yang sudah ditekan, di atas itu mereka membawa beberapa ratus kuda. Wang menyebutkan secara khusus kapal-kapal ini karena lada, yang juga diangkut oleh mereka, dibawa ke tempat-tempat yang jauh dengan jumlah besar. Kapal dagang biasa biasanya hanya membawa kurang dari 1/10 dari kargo mereka.[50]

Biasanya, kapal utama menarik kapal kecil dibelakangnya untuk pendaratan. Data dari catatan Marco Polo memungkinkan untuk menghitung ukuran kapal-kapal ini, yang terbesar mungkin memiliki kapasitas 500-800 ton, hampir sama dengan kapal-kapal Tiongkok yang digunakan untuk berdagang pada abad ke-19. Kapal kecil itu sendiri mungkin bisa membawa sekitar 70 ton.[51]

Niccolò da Conti dalam perjalanannya di Asia tahun 1419-1444, mendeskripsikan kapal yang jauh lebih besar dari kapal Eropa, yang mampu mencapai berat 2.000 ton, dengan lima layar dan tiang. Bagian bawah dibangun dengan tiga lapis papan, untuk menahan kekuatan badai. Kapal tersebut dibangun dengan kompartemen, sehingga jika satu bagian hancur, bagian lainnya tetap utuh untuk menyelesaikan pelayaran.[52]

Fra Mauro dalam petanya menjelaskan bahwa sebuah jong berhasil mengitari Tanjung Harapan dan berlayar jauh ke Samudera Atlantik, pada tahun 1420:

"Sekitar tahun 1420 M sebuah kapal, yang disebut zoncho India, pada saat melewati samudra Hindia menuju "Pulau Pria dan Wanita", dialihkan melewati "Tanjung Diab" (Ditunjukan sebagai Tanjung Harapan di peta), melewati "Kepulauan hijau" ("isole uerde", Pulau Cabo Verde), ke "Lautan kegelapan" (Samudera Atlantik) ke arah Barat dan Barat daya. Tidak ada apa pun kecuali udara dan air yang terlihat selama 40 hari dan menurut perhitungan mereka, mereka berlayar sejauh 2.000 mil sampai keberuntungan meninggalkan mereka. Ketika cuaca mereda mereka kembali ke "Tanjung Diab" dalam 70 hari dan mendekati pantai untuk memenuhi perbekalan mereka, para pelaut melihat telur burung yang disebut roc, yang telurnya sebesar amphora." - Tulisan di peta Fra Mauro, 10-A13[53]

Kapal Borobudur telah memainkan peran besar dalam segenap urusan orang Jawa di bidang pelayaran, selama beratus-ratus tahun sebelum abad ke-13. Memasuki awal abad ke-8, peran kapal Borobudur digeser oleh kapal kapal Jawa yang berukuran lebih besar, dengan tiga atau empat layar sebagai Jung. Pelaut Portugis menyebut juncos, pelaut Italia menyebut zonchi. Istilah jung dipakai pertama kali dalam catatan perjalanan Rahib Odorico, John dari Marignolli, dan Ibn Battuta[54] yang berlayar ke Nusantara, awal abad ke-14 mereka memuji kehebatan kapal Jawa berukuran raksasa sebagai penguasa laut Asia Tenggara. Teknologi pembuatan Jung tak jauh berbeda dengan pengerjaan kapal Borobudur; seluruh badan kapal dibangun tanpa menggunakan paku.

Zaman pelayaran Eropa[sunting | sunting sumber]

Pertemuan dengan kapal jung raksasa terjadi sebelum invasi Malaka. Sejarawan Portugis João de Barros (1496–1570) menulis bahwa ketika badai besar terjadi saat armada Albuquerque's berada diantara Sri Lanka dan Aceh, sebuah kapal dibawah komando Simão Martinho tenggelam, tapi krunya diselamatkan oleh Fernão Pires de Andrade dan dibawa ke kapalnya. Untuk menebus kehilangan ini, orang Portugis menangkap 5 kapal dari Gujarat yang berlayar diantara Melaka dan Sumatra. Armada kecil Albuquerque bertempur dengan sebuah jung musuh dari para muslim Melaka dekat sebuah pulau antara Lumut dan Belawan. Menurut Barros, mereka bertarung selama 2 hari.[55] Awak jung itu menggunakan taktik untuk membakar bahan berminyak dan mudah terbakar sebagai cara membakar kapal Albuquerque dan memukul mundur tindakan boarding (melompat ke kapal musuh),[56] saat armada Albuquerque melakukan penubrukan dan penembakan meriam dari jarak dekat. Meskipun jung itu menyerah; orang Portugis mendapat kekaguman atas jung dan awaknya yang menjulukinya O Bravo (Jung Pemberani). Para kru Portugis meminta Fernão Pires untuk membujuk Albuquerque supaya awak jung tersebut diampuni dan dipandang sebagai bawahan dari Portugal yang tidak mengetahui dengan siapa mereka bertempur. Albuquerque akhirnya setuju akan ini.[55]

Saat melewati Pacem (Samudera Pasai), orang Portugis bertemu dengan dua buah jung, salah satu berasal dari koromandel, yang yang segera dihancurkan,[57]:62 dan satunya lagi dari Jawa, yang yang lebih besar dan lebih cepat dari kapal terbesar mereka, Flor do Mar. Portugis saat ini memiliki satu skuadron (40-43 kapal). Portugis memerintahkannya untuk berhenti tetapi ia menembaki armada, setelah itu Portugis membalas tembakan. Dilaporkan oleh Gaspar Correia:[58]

“Karena junco itu memulai serangan, sang Gubernur mendekatinya bersama seluruh armadanya. Kapal-kapal Portugis mulai menembaki junco, tetapi tidak ada pengaruhnya sama sekali. Lalu junco berlayar pergi …. Kapal-kapal Portugis lalu menembaki tiang-tiang junco …. dan layarnya berjatuhan. Karena sangat tinggi, orang-orang kami tidak berani menaikinya, dan tembakan kami tidak merusaknya sedikit pun karena junco memiliki empat lapis papan. Meriam terbesar kami hanya mampu menembus tak lebih dari dua lapis …Melihat hal itu, sang Gubernur memerintahkan nau-nya untuk datang ke samping junco. (Kapal Portugis) ini adalah Flor de la Mar, kapal Portugis yang tertinggi. Dan ketika berusaha untuk menaiki junco, bagian belakang kapal tidak bisa mencapai jembatannya.[catatan 5] Awak Junco mempertahankan diri dengan baik sehingga kapal Portugis terpaksa berlayar menjauhi kapal itu lagi. (Setelah pertempuran selama dua hari dua malam) sang Gubernur memutuskan untuk mematahkan dua buah kemudi yang ada diluar kapal. Setelah itu barulah junco itu menyerah."

— Albuquerque.

Setelah menyadari bahwa meriam bombard mereka sebagian besar tidak efektif (bola meriam mereka memantul di lambung kapal),[58] orang Portugis menggunakan taktik lain: Grapple (melemparkan kait pengikat dan menarik kapal) untuk mendekati jung, lalu menyerang dalam pertempuran jarak dekat dan membakar jung itu. Awak kapal jung itu menyerah setelah memadamkan kebakaran dengan susah payah dan setidaknya 40 orang tewas. Setelah naik, Portugis menemukan seorang anggota keluarga kerajaan Pasai, yang Albuquerque berharap dia dapat menukar tahanan Portugis dengannya. Jung itu membawa sekitar 600 ton muatan, dengan 300 orang tentara di dalamnya.[57]:62-64

Pada Januari 1513 Pati Unus mencoba mengejutkan Malaka Portugis, membawa sekitar 100 kapal dengan 5.000 tentara Jawa dari Jepara dan Palembang. Sekitar 30 dari mereka adalah jung besar seberat 350-600 ton (pengecualian untuk kapal utama Pati Unus), sisanya adalah kapal jenis lancaran, penjajap, dan kelulus. Jung-jung itu sendiri membawa 12.000 orang.[12] Kapal-kapal itu membawa banyak artileri yang dibuat di Jawa.[catatan 6] Meskipun dikalahkan, Patih Unus berlayar pulang dan mendamparkan kapal perangnya sebagai monumen perjuangan melawan orang-orang yang disebutnya paling berani di dunia. Ini memenangkannya beberapa tahun kemudian dalam tahta Demak.[59] Dalam sebuah surat kepada Alfonso de Albuquerque, dari Cannanore, 22 Februari 1513, Fernão Pires de Andrade, Kapten armada yang menghalau Pate Unus, mengatakan:[23]

"Jung milik Pati Unus adalah yang terbesar yang dilihat oleh orang-orang dari daerah ini. Ia membawa seribu orang tentara di kapal, dan Yang Mulia dapat mempercayaiku ... bahwa itu adalah hal yang sangat luar biasa untuk dilihat, karena Anunciada di dekatnya tidak terlihat seperti sebuah kapal sama sekali. Kami menyerangnya dengan bombard, tetapi bahkan tembakan yang terbesar tidak menembusnya di bawah garis air, dan (tembakan) esfera (meriam besar Portugis) yang saya miliki di kapal saya berhasil masuk tetapi tidak tembus; kapal itu memiliki tiga lapisan logam, yang semuanya lebih dari satu cruzado tebalnya.[catatan 7] Dan kapal itu benar-benar sangat mengerikan bahkan tidak ada orang yang pernah melihat sejenisnya. Butuh waktu tiga tahun untuk membangunnya, Yang Mulia mungkin pernah mendengar cerita di Malaka tentang Pati Unus, yang membuat armada ini untuk menjadi raja Malaka."

— Fernão Pires de Andrade, Suma Oriental.

Castanheda mencatat bahwa jung Pati Unus dibangun dengan 7 papan, yang disebut lapis dalam bahasa Melayu, diantara tiap papan diberi lapisan yang terdiri dari campuran aspal, kapur, dan minyak.[12] Pati Unus menggunakannya sebagai benteng terapung untuk memblokade area di sekitar Malaka.[49]

Orang Portugis mencatat bahwa kapal besar dan susah dikendalikan itu menjadi kelemahan. Orang Portugis berhasil menghalau serangan itu dengan kapal yang lebih kecil dan lincah, menggunakan taktik melompat naik (boarding) dan membakar jung.[12] Dengan begitu, armada Portugis bisa menghalau jung Jawa dari perairan Malaka. Takjub akan kekuatan kapal ini, Albuquerque mempekerjakan 60 tukang kayu dan arsitek kapal Jawa dari galangan kapal Malaka dan mengirimnya ke India, dengan harapan bahwa para pengrajin ini sanggup memperbaiki kapal-kapal Portugis di India. Akan tetapi mereka tidak pernah sampai di India, mereka memberontak dan membawa kapal Portugis yang mereka tumpangi ke Pasai, dimana mereka disambut dengan luar biasa.[60] Setidaknya 1 jong dibawa ke Portugal, untuk digunakan sebagai kapal penjaga pantai di Sacavem dibawah perintah raja John III.[61][catatan 8]

Giovanni da Empoli (pedagang Florentine) mengatakan bahwa di tanah Jawa, jung tidak berbeda kekuatannya dibanding benteng, karena ia memiliki tiga dan empat lapis papan, satu di atas yang lain, yang tidak dapat dirusak dengan artileri. Mereka berlayar bersama dengan wanita, anak-anak, dan keluarga mereka, dan semua orang menjaga kamarnya sendiri.[62]

Tome Pires pada 1515 diberitahukan bahwa penguasa Kanton (sekarang Guangzhou) membuat hukum yang mewajibkan kapal asing berlabuh di sebuah pulau di tepi pantai. Dia bilang orang China membuat hukum tentang pelarangan masuknya kapal ke Kanton ini karena mereka takut akan orang Jawa dan Melayu, karena mereka yakin satu buah kapal jong milik Jawa atau Melayu bisa mengalahkan 20 kapal jung China. China mempunyai lebih dari 1000 jung, tetapi satu kapal jong berukuran 400 ton dapat menghancurkan Kanton, dan penghancuran ini akan membawa kerugian besar bagi China. Orang China takut jika kota itu dirampas dari mereka, karena Kanton adalah salah satu kota terkaya di China.[23]

Atlas Lopo Homem-Reineis (atlas Miller) tahun 1519 adalah salah satu peta Eropa paling awal yang menggambarkan jong. Jong-jong itu bertiang tiga hingga tujuh, dengan ujung yang sama tajamnya (karena adanya linggi haluan dan linggi buritan), dan dikemudikan menggunakan kemudi kuartal ganda. Namun, ada ketidakakuratan dalam penggambaran tersebut. Kapal-kapal itu digambarkan dengan kastil depan tinggi yang mirip dengan kerakah. Layarnya digambarkan seperti layar persegi, meskipun sang seniman mungkin telah mencoba untuk menggambarkan layar persegi panjang miring (layar tanja). Struktur seperti panah di haluan mungkin merupakan upaya untuk menggambarkan barunastra.[63]

Pada 1574, ratu Kalinyamat dari Jepara menyerang Melaka Portugis dengan 300 kapal, yang meliputi 80 jong dengan tonase 400 ton dan 220 kelulus di bawah komando Ki Demat, tetapi dengan sedikit artileri dan senjata api. Saat perbekalan menipis dan udara menjadi tercemar oleh penyakit,[64] Tristão Vaz da Veiga memutuskan untuk mempersenjatai armada kecil sebuah galai dan empat galai kecil dan sekitar 100 tentara dan menuju ke Sungai Malaios, di tengah malam. Sesampai di sana, armada Portugis memasuki sungai tanpa terdeteksi oleh kru Jawa, dan menggunakan bom api yang dilemparkan dengan tangan membakar sekitar 30 jung dan perahu lainnya, menyerang armada Jawa secara mengejutkan, dan menangkap banyak persediaan ditengah-tengah orang Jawa yang sedang panik. Setelah pengepungan 3 bulan, pasukan Jawa mundur.[65]

François Pyrard dari Raval (hidup sekitar tahun 1578-1623) menyebutkan tentang sebuah bangkai kapal jung Sunda di Guradu, atoll Malé selatan, Maladewa. Kapal itu membawa semua jenis rempah-rempah dan barang dagangan lainnya dari Cina dan Sunda. Di kapal ada sekitar 500 pria, wanita, dan anak-anak, dan hanya 100 yang selamat saat ia tenggelam. Raja Maladewa menegaskan bahwa itu adalah kapal terkaya yang dapat dibayangkan. Pyrard berpikir bahwa itu adalah kapal terbesar yang pernah dilihatnya, dengan tiang yang lebih tinggi dan lebih tebal daripada kerakah Portugis, dan dek paling atas yang jauh lebih besar daripada dek kerakah Portugis. Orang tua dari ratu Sunda adalah pemilik jung itu, keduanya meninggal saat kapal itu tenggelam. Sang ratu, yang masih seorang anak kecil selama tenggelam, selamat dari kejadian itu.[66]

Perbedaan dengan jung China[sunting | sunting sumber]

Perbandingan antara kapal harta Cheng Ho ("kapal harta") (1405) dengan kapal "Santa Maria" Colombus, 1492/93. Santa Maria panjangnya 19 m sedangkan kapal harta Cheng Ho 136 m. Akan tetapi, ukuran ini didasari dari sebuah novel fantasi, penelitian modern menunjukkan bahwa panjang kapal Cheng Ho adalah 61–76 m (200–250 kaki).

Kapal jung Jawa berbeda dengan jung China dari kemudi (rudder)-nya. Jung China memiliki 1 buah kemudi di tengah sedangkan jung Jawa memiliki 2 di bagian samping. Jung Jawa dapat dipasang dengan layar jung (ada tulang/sekat bambunya) atau layar tanja (layar segi empat yang miring, mirip layar kapal Borobudur). Haluan dan buritan jung Jawa berbentuk meruncing atau lancip, sedangkan jung China tumpul atau datar. Bagian bawah jung China berbentuk U tanpa lunas (keel), sehingga kurang cocok mengarungi samudera, sedangkan jung Jawa memiliki lunas dan berbentuk mirip V, yang lebih stabil untuk mengarungi samudra. Kapal jung China disambungkan dengan paku atau sambungan logam lainnya, sedangkan jung Jawa tidak memakai sambungan logam seperti paku.

Kapal harta China dikatakan memiliki panjang 137 meter dan lebar 55 m. Akan tetapi, ukuran ini bersumber dari sebuah novel fantasi, menjadikannya tidak cocok sebagai sumber sejarah. Penelitian modern menunjukkan kapal Cheng Ho hanya sebesar 61–76 m (200–250 kaki) panjangnya.[67][68] Menurut Irawan Djoko Nugroho, jung Jawa besarnya 4-5 kali kapal Flor de La Mar, kapal terbesar Portugis tahun 1513. Jika replika kapal Flor de La Mar berukuran tepat, yaitu 36 m panjangnya, jung memiliki panjang 144–180 m dan tonase 1600-2000 ton. Tetapi jika menurut perhitungan Irawan Djoko Nugroho sendiri, Flor de La Mar memiliki panjang 78 m, dan itu berarti ukuran jung Jawa adalah 313–391 m.[2] Peneliti lain berpendapat bahwa tonase jung Jawa setidaknya adalah 1000 ton, yang mengindikasikan panjang antara 70–90 m.[8]

Hilangnya jung Jawa dari sejarah[sunting | sunting sumber]

Jong dari Banten (kanan) dengan 2 layar dan layar bowsprit, menampilkan jembatannya (bukaan dek bawah tempat barang disimpan). Jong hibrida dapat terlihat di kiri.

Anthony Reid berpendapat bahwa kegagalan jong dalam pertempuran melawan kapal Barat yang lebih kecil dan lincah kemungkinan meyakinkan pembuat kapal Jawa bahwa jong yang besar tetapi kurang lincah menghadapi risiko terlalu besar sesudah orang Portugis memperkenalkan pertempuran laut cara Eropa, sehingga kapal-kapal yang mereka bangun setelahnya lebih kecil dan laju.[69] Sejak pertengahan abad ke-16 kekuatan-kekuatan maritim di Nusantara mulai menggunakan tipe-tipe perahu tempur gesit baru yang dapat dilengkapi dengan meriam berukuran lebih besar: Dalam berbagai serangan atas Malaka yang dilancarkan pada Melaka Portugis setelah kekalahan Pati Unus, mereka tidak lagi menggunakan jong, tetapi menggunakan lancaran, ghurab dan ghali.[11] Jong-jong yang berlayar di Nusantara setelah tahun 1600-an daya muat rata-ratanya hanya sebesar 100 ton,[70] tetapi masih ada beberapa dari mereka yang dapat membawa 200 hingga 300 last muatan (sekitar 360-400 sampai 540-600 ton metrik)[catatan 9] pada awal tahun 1700-an.[71]

Dalam kata pengantar antologi cerpen berjudul jung Jawa oleh Rendra Fatrisna Kurniawan yang diterbitkan Babel Publishing tahun 2009 dengan ISBN 978-979-25-3953-0, disebutkan hilangnya tradisi maritim Jawa tersebut adalah akibat kebijakan kerajaan Jawa sendiri setelah kekalahan mereka terhadap Portugis dalam penyerbuan Malaka, yang kemudian lebih memusatkan pada kekuatan angkatan darat. Serta, sikap represif Amangkurat I dari Mataram terhadap kota kota pesisir utara Jawa. Amangkurat I pada 1655 memerintahkan agar pelabuhan ditutup dan kapal-kapal dihancurkan agar mencegah kota-kota pesisir menjadi kuat dan memberontak. Ini menghancurkan ekonomi Jawa dan kekuatan maritimnya yang dibangun sejak zaman Singhasari dan Majapahit, dan Mataram berubah menjadi negara agraris.[72]

Galangan kapal di Rembang, sekitar 1772.

Hilangnya selat Muria juga menjadi faktor hilangnya Jung Jawa. Galangan kapal besar sepanjang Rembang-Demak menjadi "terdampar" di tengah daratan tanpa akses ke laut. Pada tahun 1657 Tumenggung Pati mengusulkan penggalian jalur air baru dari Demak ke Juwana, tetapi sepertinya tidak dilakukan. Ini membuktikan bahwa pada saat itu selat Muria sudah hilang atau sudah mengecil. Kantor Maskapai Perdagangan Hindia Belanda (VOC) yaitu Batavia Daghregister melaporkan pada 1677 bahwa orang-orang Mataram di Jawa Tengah dan Jawa Timur kekurangan kapal sendiri bahkan untuk penggunaan yang diperlukan, dan bersikap sangat tidak peduli tentang laut.[73] Ketika VOC mendapatkan pijakan di Jawa, mereka melarang penduduk setempat untuk membangun kapal dengan tonase lebih dari 50 ton, dan menugaskan pengawas Eropa ke setiap galangan kapal.[49] Setelah tahun 1700-an, peran jong telah digantikan oleh jenis kapal dari Eropa, yaitu bark dan brigantine, yang dibuat di galangan kapal lokal di Rembang dan Juwana (yang merupakan tempat pembuatan jong),[18] kapal-kapal jenis ini bisa mencapai 400-600 ton muatannya, dengan rata-rata sebesar 92 last (165.6-184 ton metrik).[74]

Replika[sunting | sunting sumber]

Di media populer[sunting | sunting sumber]

  • Jong merupakan unit istimewa peradaban Indonesia dalam permainan komputer Sid Meier's Civilization VI. Akan tetapi, model yang digunakan malah meniru kapal Borobudur, bukan jong sebenarnya.

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Ukuran berat yang digunakan di halaman ini adalah DWT atau tonase bobot mati, sebuah ukuran dari berapa banyak yang bisa dibawa sebuah kapal.
  2. ^ Layar lateen ini bisa jadi merujuk kepada layar tanja atau layar jung. Layar tanja, pada laporan awal bangsa Eropa, disebut layar lateen atau layar segi empat. Jika dilihat dari kejauhan, layar tanja dapat terlihat seperti berbentuk segi tiga.
  3. ^ Beberapa peneliti percaya Yepoti ini adalah Kalimantan.
  4. ^ Bisa jadi ada kesalahan pengartian. Ia bisa jadi merujuk pada tinggi lambung kapal, dari lunasnya sampai ke dek teratas.
  5. ^ Jembatan disini merujuk pada bukaan pada sisi kapal untuk memuat kargo, yang berada di bawah dek atas. Dalam bahasa Inggris lebih tepat disebut "gankplank" dan "brow".
  6. ^ Menurut Horst H. Liebner, sebagian besar meriam tersebut berjenis meriam putar (swivel gun), kemungkinan dari jenis cetbang atau rentaka, yaitu sejenis meriam ukuran kecil dan sedang yang biasa dipasang di pinggir kapal. Meriam tetap yang ukurannya lebih besar pada kapal-kapal Melayu biasanya dipasang di apilan (gunshield atau perisai meriam).
  7. ^ Sejenis uang Portugis berdiameter 3,8 cm.
  8. ^ Dari sepucuk surat dari raja João III untuk Conde da Castanheira, tanggal 22 Agustus 1536: "Pareceo me bem mandardes a Sacavem pelo galleam Trimdade e pelo junco" (Tampaknya bagi saya Anda melakukan yang benar dalam memerintahkan penyebaran geliung Trimdade dan jong, yang berada di Sacavem).
  9. ^ Satu last awalnya adalah satuan volume muatan, kemudian menjadi satuan berat, bervariasi menurut sifat dari muatan itu, yang kira-kira setara dengan 1,8 sampai 2 ton metrik.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Illustrated Oxford Dictionary. London: DK. 1998. 
  2. ^ a b c d e Nugroho, Irawan Djoko (2011). Majapahit Peradaban Maritim. Suluh Nuswantara Bakti. ISBN 9786029346008. 
  3. ^ a b Reid, Anthony (2012). Anthony Reid and the Study of Southeast Asian Past. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies. ISBN 9814311960.
  4. ^ a b Coelho, P. (2002). Collins Compact Dictionary. HarperCollins. p. 483. ISBN 0-00-710984-9
  5. ^ Junk, Online Etymology Dictionary .
  6. ^ Pelliot, P. (1933). Les grands voyages maritimes chinois au début du XVe siècle. T'oung Pao, 30(3/5), second series, 237-452. Retrieved from http://www.jstor.org/stable/4527050
  7. ^ a b c Mahdi, Waruno (2007). Malay Words and Malay Things: Lexical Souvenirs from an Exotic Archipelago in German Publications Before 1700. Otto Harrassowitz Verlag. ISBN 9783447054928. 
  8. ^ a b c d e f Manguin, Pierre-Yves (1993). Trading Ships of the South China Sea. Journal of the Economic and Social History of the Orient. 253-280.
  9. ^ Zoetmulder, P. J. (1982). Old Javanese-English dictionary. The Hague: Martinus Nijhoff. ISBN 9024761786. 
  10. ^ a b c d Reid, Anthony (2000). Charting the Shape of Early Modern Southeast Asia. Silkworm Books. ISBN 9747551063. 
  11. ^ a b Manguin, Pierre-Yves. (1993). 'The Vanishing Jong: Insular Southeast Asian Fleets in Trade and War (Fifteenth to Seventeenth Centuries)', in Anthony Reid (ed.), Southeast Asia in the Early Modern Era (Ithaca: Cornell University Press), 197-213.
  12. ^ a b c d e Crawfurd, John (1856). A Descriptive Dictionary of the Indian Islands and Adjacent Countries. Bradbury and Evans. 
  13. ^ Pramono, Djoko (2005). Budaya bahari. Gramedia Pustaka Utama. hlm. 112. ISBN 9789792213515. 
  14. ^ Jones, Russel (2007). Loan-Words in Indonesian and Malay. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. hlm. 51. 
  15. ^ a b Johnstone, Paul (1980). The Seacraft of Prehistory. Cambridge: Harvard University Press. ISBN 978-0674795952. 
  16. ^ a b Shaffer, Lynda Norene (1996). Maritime Southeast Asia to 1500. M.E. Sharpe.
  17. ^ a b Jones, John Winter (1863). The travels of Ludovico di Varthema in Egypt, Syria, Arabia Deserta and Arabia Felix, in Persia, India, and Ethiopia, A.D. 1503 to 1508. Hakluyt Society. 
  18. ^ a b Liebner, Horst H. (2002). Perahu-Perahu Tradisional Nusantara. Jakarta. 
  19. ^ "Teknologi Era Majapahit". Nusantara Review (dalam bahasa Inggris). 2018-10-02. Diakses tanggal 2020-06-11. 
  20. ^ Cartas de Afonso de Albuquerque, Volume 1, p. 64, April 1, 1512
  21. ^ Couto, Diogo do (1645). Da Asia: Nine decades. Lisbon: Regia Officina Typografica, 1778-88. Reprint, Lisbon, 1974.
  22. ^ a b Barbosa, Duarte (1866). A Description of the Coast of East Africa and Malabar in the Beginning of the Sixteenth Century. The Hakluyt Society.
  23. ^ a b c d Pires, Tome (1944). The Suma oriental of Tomé Pires : an account of the East, from the Red Sea to Japan, written in Malacca and India in 1512-1515 ; and, the book of Francisco Rodrigues, rutter of a voyage in the Red Sea, nautical rules, almanack and maps, written and drawn in the East before 1515. London: The Hakluyt Society. ISBN 9784000085052.
  24. ^ a b Manguin, Pierre-Yves (September 1980). "The Southeast Asian Ship: An Historical Approach". Journal of Southeast Asian Studies. 11: 266–276 – via JSTOR. 
  25. ^ "Cannon | Indonesia (Java) | Majapahit period (1296–1520) | The Met". The Metropolitan Museum of Art, i.e. The Met Museum. Diakses tanggal 6 August 2017. 
  26. ^ a b Tarling, Nicholas (1999). The Cambridge History of Southeast Asia. Cambridge: Cambridge University Press.
  27. ^ Rouffaer, G.P. (1915). De eerste schipvaart der Nederlanders naar Oost-Indië onder Cornelis de Houtman. Den Haag: 'S-Gravenhage M. Nijhoff. 
  28. ^ Monleón, Rafael (1890). Historia gráfica de la navegación y de las construcciones navales en todos los tiempos y en todos los países. 
  29. ^ Historia das ilhas de Maluco, in A. B. de Sa, Documentacao para a Historia das missoes do Padroado portugues do Oriente - Insulindia, Lisboa, 1954-58, vol. III, p. 322.
  30. ^ Maguin, Pierre-Yves (September 1980). "The Southeast Asian Ship: An Historical Approach". Journal of Southeast Asian Studies. 11: 266–276 – via JSTOR. 
  31. ^ Casparis, Johannes G. de (1956). Prasasti Indonesia: Selected Inscriptions from the 7th to the 9th Century A.D. Bandung: Masa Baru. 
  32. ^ Kurniawan, Rendra F. Jung Jawa: Kumpulan Cerpen. Babel Publishing. ISBN 978-979-25-3953-0
  33. ^ Coedès, George (1968). The Indianized States of South-East Asia. University of Hawaii Press. ISBN 9780824803681. 
  34. ^ a b Dick-Read, Robert (2005). The Phantom Voyagers: Evidence of Indonesian Settlement in Africa in Ancient Times. Thurlton. 
  35. ^ a b c Christie, Anthony (1957). "An Obscure Passage from the "Periplus: ΚΟΛΑΝΔΙΟϕΩΝΤΑ ΤΑ ΜΕΓΙΣΤΑ"". Bulletin of the School of Oriental and African Studies, University of London. 19: 345–353 – via JSTOR. 
  36. ^ "Strange Things of the South", Wan Chen, dari Robert Temple
  37. ^ Rafiek, M. (December 2011). "Ships and Boats in the Story of King Banjar: Semantic Studies". Borneo Research Journal. 5: 187–200. 
  38. ^ Micheal Jacq-Hergoualc'h (2002). The Malay Peninsula: Crossroads of the Maritime Silk-Road (100 BC-1300 AD). BRILL. hlm. 51–52. 
  39. ^ Needham, Volume 4, Part 3, 464.
  40. ^ Yule, Sir Henry (1866). Cathay and the way thither: Being a Collection of Medieval Notices of China vol. 1. London: The Hakluyt Society. 
  41. ^ Hikayat Raja-Raja Pasai, 3: 98: Sa-telah itu, mak disuroh baginda musta'idkan segala kelengkapan dan segala alat senjata peperangan akan mendatangi negeri Pasai itu, sa-kira-kira empat ratus jong yang besar-besar dan lain daripada itu banyak lagi daripada malangbang dan kelulus.
  42. ^ Sejarah Melayu, 10.4: 77: ... maka baginda pun segera menyuruh berlengkap tiga ratus buah jung, lain dari pada itu kelulus, pelang, jongkong, tiada terbilang lagi.
  43. ^ Cho, Hung-guk (2009). Han'guk-gwa Dongnam Asia-ui Gyoryusa 한국과 동남아시아의 교류사 [History of Exchanges between Korea and Southeast Asia]. Seoul: Sonamu. 
  44. ^ Tirmizi (November 2016). "Budaya Bahari dan Dinamika Kehidupan Bangsa dalam Perspektif Sejarah". Prosiding Konferensi Sejarah Nasional. 4: 93–120. 
  45. ^ Setiawan, Hawe. Bujangga Manik dan Studi Sunda (PDF). 
  46. ^ Kitab Bujangga Manik, bait 995-999: Parahu patina ageung, jong kapal buka dalapan, pa(n)jangna salawe deupa. [Perahu ini cukup besar, kapal jong selebar delapan depa, panjangnya 25 depa.]
  47. ^ Solution, Kataku co id by Magma IT. "Kapal Terbesar Dunia Yang Dimiliki Kerajaan Majapahit". bapakita.id - Selalu Ada Kata (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2020-08-07. 
  48. ^ Berg, C. C., 1927, Kidung Sunda. Inleiding, tekst, vertaling en aanteekeningen, BKI LXXXIII : 1-161.
  49. ^ a b c Lombard, Denys (1990). Le carrefour javanais. Essai d'histoire globale (The Javanese Crossroads: Towards a Global History) vol. 2. Paris: Éditions de l'École des Hautes Études en Sciences Sociales. 
  50. ^ Kwee, H. K. (1997). Dao Yi Zhi Lue as a maritime traders’ guidebook. Unpublished honour’s thesis, National University of Singapore.
  51. ^ Wake, Christopher (1997). "The Great Ocean-Going Ships of Southern China in the Age of Chinese Maritime Voyaging to India, Twelfth to Fifteenth Centuries". International Journal of Maritime History.
  52. ^ R. H. Major, ed. (1857), "The travels of Niccolo Conti", India in the Fifteenth Century, Hakluyt Society, hlm. 27  Discussed in Needham, Science and Civilisation in China, p. 452
  53. ^ Tulisan dari peta Fra Mauro, 10-A13, original Italian: "Circa hi ani del Signor 1420 una naue ouer çoncho de india discorse per una trauersa per el mar de india a la uia de le isole de hi homeni e de le done de fuora dal cauo de diab e tra le isole uerde e le oscuritade a la uia de ponente e de garbin per 40 çornade, non trouando mai altro che aiere e aqua, e per suo arbitrio iscorse 2000 mia e declinata la fortuna i fece suo retorno in çorni 70 fina al sopradito cauo de diab. E acostandose la naue a le riue per suo bisogno, i marinari uedeno uno ouo de uno oselo nominato chrocho, el qual ouo era de la grandeça de una bota d'anfora." [1][pranala nonaktif permanen]
  54. ^ IbnBatutaTravel, Saudi Aramco world .
  55. ^ a b Dion, Mark. "Sumatra through Portuguese Eyes: Excerpts from João de Barros' 'Decadas da Asia',". Indonesia (Volume 9, 1970): 128–162.
  56. ^ Marsden, William (1811). The history of Sumatra, containing an account of the government, laws, customs, and manners of the native inhabitants. Longman, Hurst, Rees, Orme, and Brown. 
  57. ^ a b Albuquerque, Afonso de (1875). The Commentaries of the Great Afonso Dalboquerque, Second Viceroy of India, translated from the Portuguese edition of 1774. London: The Hakluyt society. 
  58. ^ a b Correia, Gaspar. Lendas da India vol. 2. p. 219.
  59. ^ Winstedt. A history of Malay. p.70.
  60. ^ Reid, Anthony (1988). Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450-1680: The lands below the winds, Volume 1. Yale University Press. ISBN 9780300039214. 
  61. ^ Schottenhammer, Angela (2019). Early Global Interconnectivity across the Indian Ocean World, Volume II. Switzerland: Palgrave Macmillan. hlm. 173. ISBN 978-3-319-97801-7. 
  62. ^ da Empoli, Giovanni (2010). Lettera di Giovanni da Empoli. California.
  63. ^ Siebold, Jim (2016). The Atlas Miller. hlm. 15. 
  64. ^ Marsden, William (2012). The History of Sumatra: Containing an Account of the Government, Laws, Customs, and Manners of the Native Inhabitants. Cambridge University Press. p. 431.
  65. ^ Monteiro, Saturnino (2011). Portuguese Sea Battles, Volume III - From Brazil to Japan, 1539-1579. 
  66. ^ Pyrard, François (1887). The voyage of François Pyrard of Laval to the East Indies, the Maldives, the Moluccas and Brazil. London: Hakluyt Society. hlm. 258. 
  67. ^ Church, Sally K. (2005). Zheng He: An Investigation into the Plausibility of 450-ft Treasure Ships. Monumenta Serica Institute. 
  68. ^ Xin Yuanou: Guanyu Zheng He baochuan chidu de jishu fenxi (A Technical Analysis of the Size of Zheng He's Ships). Shanghai 2002, p.8
  69. ^ Reid, Anthony (1992): 'The Rise and Fall of Sino-Javanese Shipping', in V.J.H. Houben, H.M.J. Maier, and Willem van der Molen (eds.), Looking in Odd Mirrors (Leiden: Vakgroep Talen en Culturen van Zuidoost-Azië en Oceanië), 177-211.
  70. ^ Liebner, Horst H. (2016). Beberapa Catatan Akan Sejarah Pembuatan Perahu Dan Pelayaran Nusantara. Jakarta: Indonesian Ministry of Education and Culture.
  71. ^ Mahdi, Waruno (2007). Malay Words and Malay Things: Lexical Souvenirs from an Exotic Archipelago in German Publications Before 1700. Otto Harrassowitz Verlag. ISBN 9783447054928. 
  72. ^ Ricklefs, M.C. (2008). A History of Modern Indonesia Since C.1200. Macmillan International Higher Education. ISBN 9781137052018. 
  73. ^ Schrieke, B.J.O. 1955-1957. Indonesian Sociological Studies. 2 vols.The Hague: Van Hoeve. Schulte Nordholt, H. 1980. "Macht, mensen en middelen: patronenvan dynamiek in de Balische politiek." M.A. thesis, Vrije Universiteit.
  74. ^ Lee, Kam Hing (1986): 'The Shipping Lists of Dutch Melaka: A Source for the Study of Coastal Trade and Shipping in the Malay Peninsula During the 17th and 18th Centuries', in Mohd. Y. Hashim (ed.), Ships and Sunken Treasure (Kuala Lumpur: Persatuan Muzium Malaysia), 53-76.
  75. ^ "I ship it! Historic Ship Harbour at RWS". S.E.A. Aquarium at Resorts World Sentosa (dalam bahasa Inggris). 2014-06-04. Diakses tanggal 2018-08-14. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

  1. Ancient Technology
  2. The Jung Ship