Gunung Muria

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Gunung Muria
Moerjo, Moerija
MountMuriaFromSpace.jpg
Gunung Muria yang difoto pada tahun 1999 oleh ISS dalam misi STS-93.
Titik tertinggi
Ketinggian1602 m (5253 kaki)[1][2]
Masuk dalam daftarRibu
KoordinatKoordinat: 6°37′00″S 110°53′00″E / 6.616667°S 110.883333°E / -6.616667; 110.883333
Geografi
Gunung Muria berlokasi di Jawa
Gunung Muria
Gunung Muria
Lokasi di Pulau Jawa
Letak
NegaraIndonesia
DaerahJawa Tengah
Geologi
Letusan terakhir320.000 tahun yang lalu[3]
Ilustrasi rupa Gunung Muria dan Gunung Genuk oleh Natuurkundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië pada tahun 1887.

Gunung Muria (di masa kolonial dikenal sebagai Moerjo atau Moerija) adalah sebuah gunung yang terletak di pantai utara Jawa Tengah, di sebelah timur laut Kota Semarang. Gunung ini termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Kudus di sisi selatan, wilayah Kabupaten Jepara di sisi barat, dan wilayah Kabupaten Pati di sisi timur dan tenggara.

Sejak tahun 1975, sisi utara gunung ini dipilih oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) sebagai lokasi pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir karena memiliki risiko bencana alam terkecil jika dibandingkan dengan wilayah-wilayah lain di Jawa dan Bali. Namun, akhirnya rencana tersebut dibatalkan pada tahun 2015 karena gunung ini diketahui masih aktif dan gempa bumi yang beberapa kali mengguncang di sisi utara.

Aktivitas vulkanisme di gunung ini terakhir kali terjadi pada sekitar tahun 160 SM.[4][5]

Geologi[sunting | sunting sumber]

Gunung Muria merupakan salah satu gunung di Jawa yang berhubungan dengan zona subduksi berumur Miosen, bukan zona subduksi yang aktif (seperti Gunung Merapi atau Gunung Kelud). Meskipun demikian, aktivitas magmatik diketahui masih ada di bawah gunung ini, setidaknya di tahun 2000.[6]

Gunung Muria berbagi sejarah dengan Gunung Genuk, terutama dalam pembentukan bentang alam Semenanjung Muria. Keduanya menghasilkan lava koheren baik kubah lava dan sumbat lava maupun maar yang terdapat di kaki gunung dan daratan.[3] Selain itu, dijumpai pula breksi gunung api, lapili, dan tuf yang banyak mengeliling sekitar gunung. Namun, densitasnya tidak terlalu besar dibanding dengan persebaran batuan yang lain, dengan densitas yang hanya mencapai 2.4 gr/cm3.[7]

Program nuklir[sunting | sunting sumber]

Perencanaan[sunting | sunting sumber]

Pada bulan April 1975, BATAN dan Departemen Pekerjaan Umum membentuk sebuah komisi untuk memulai proses pemilihan lokasi tapak PLTN yang bernama Komisi Persiapan Pembangunan PLTN (KP2PLTN).[8] Komisi tersebut terdiri dari BATAN, Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Pertahanan dan Keamanan, Departemen Dalam Negeri, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dan PLN.[9]

Pemilihan tersebut menghasilkan lima calon lokasi dari 14 lokasi yang diusulkan. Lima lokasi tersebut adalah Tanjung Pujut (Banten), Parigi (Jawa Barat), Lasem (Jawa Tengah), Muria (Jawa Tengah), dan Situbondo (Jawa Timur).[10]

Antara bulan Juli hingga September 1975, diadakan sebuah survei untuk menentukan lokasi tapak terbaik dari kelima lokasi tersebut. Hasilnya berupa dua lokasi, yaitu Keling di Muria dan Sluke di Lasem.[10] Kemudian, BATAN mengadakan studi kelayakan terhadap kedua lokasi tersebut yang dibantu oleh firma teknik nuklir asal Italia, NIRA.[11][12] Hasil studi tersebut kemudian keluar pada tahun 1982, dengan menyimpulkan bahwa Ujungwatu di Keling (kini bagian dari Donorojo) adalah calon lokasi tapak terbaik.[10]

Pada tahun 1991, diadakan perjanjian antara Kementerian Keuangan dan BATAN dengan perusahaan konsultasi energi asal Jepang, NEWJEC Inc.[11] Perjanjian ini pada dasarnya mengontrak NEWJEC selama empat tahun setengah untuk melakukan analisis dan evaluasi terhadap lokasi tapak. Dengan adanya ini, lokasi yang sebelumnya hanya Ujungwatu diperbarui menjadi enam lokasi, yaitu Ujungwatu, Ujung Bantungan, Ujung Grenggengan, Ujung Lemahabang, Ujung Bayuran, dan Ujung Piring. Pilihan akhirnya jatuh di Ujung Lemahabang (ULA), sebuah dukuh di Balong, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara.[13][14][15]

NEWJEC mengeluarkan sebuah laporan pada tahun 1993 yang berjudul Feasibility Study of the First Nuclear Power Plants at Muria Peninsula Region yang memproyeksikan permintaan dan penawaran kebutuhan energi nuklir. Laporan tersebut menyarankan Pemerintah Indonesia untuk membangun 12 reaktor berkekuatan 600 Megawatt, dimulai dari tahun 1996 dan diharapkan bisa berjalan pada tahun 2003.[12]

Pemilihan tapak akhirnya selesai pada bulan Mei 1996,[16] dan pembangunannya direncanakan mulai pada tahun 1997, tetapi tertunda karena krisis finansial Asia 1997.[17] PLTN ini diproyeksikan dapat memasok energi listrik sebesar 4.000-6.000 Megawatt.[18][19][20]

Reaksi dari masyarakat[sunting | sunting sumber]

Ketika masyarakat lokal awalnya mengetahui rencana ini, kebanyakan dari mereka menyetujui ini, dengan harapan bahwa mereka bisa meningkatkan pendapatan (dengan adanya kesempatan kerja) dan dapat menikmati pengguna dan pelayanan listrik yang lebih baik. Selain itu, tumbuh pula kekhawatiran akan rencana tersebut, mulai dari pemindahan penduduk hingga ketakutan pada radiasi, terlebih karena Bencana Chernobyl dan limbah radioaktif yang akan mengkontaminasi makanan dan barang.[21]

Pada tahun 2007, muncul penentangan dari berbagai kalangan. Ribuan masyarakat Jepara dan Kudus menggelar unjuk rasa di berbagai tempat, termasuk di depan Gedung DPR,[22] untuk menolak pembangunan PLTN.[23][17] Pengusaha-pengusaha di Jepara, Kudus, dan Pati mengancam akan pergi dari sana jika PLTN jadi dibangun.[24]

Organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama ikut menentang dengan memutuskan pengharaman pembangunan PLTN di Semenanjung Muria, dengan alasan PLTN hanya bisa memasok kebutuhan energi nasional sebesar 2-4 persen, sementara limbah radioaktif yang dibuang dapat berbahaya bagi lingkungan. Namun, mereka menegaskan bahwa keputusan ini hanya berlaku di sana.[25][26] PKB dan Walhi mendukung keputusan ini.[27][28]

Galeri[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Widjanarko 2016, hlm. 112.
  2. ^ Balulu 2011, hlm. 104.
  3. ^ a b Bronto & Mulyaningsih 2007, hlm. 46.
  4. ^ "Global Volcanism Program | Muria". Smithsonian Institution | Global Volcanism Program (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-01-14. 
  5. ^ "IEDA / DECADE Detail". decade.earthchem.org. Diakses tanggal 2021-01-14. 
  6. ^ Balulu 2011, hlm. 104-105.
  7. ^ Balulu 2011, hlm. 106.
  8. ^ Nuclear Power Plant Development In Indonesia 2001.
  9. ^ Suntoko 1999, hlm. 174.
  10. ^ a b c Suntoko 1999, hlm. 178.
  11. ^ a b Nuclear Power Plant Development In Indonesia 2001, hlm. 963.
  12. ^ a b Cogswell et al. 2017, hlm. 20.
  13. ^ Suntoko 1999, hlm. 179.
  14. ^ "Menggugat Nuklir Gunung Muria". lipi.go.id. Diakses tanggal 2021-01-16. 
  15. ^ "Ujung Lemahabang site | Nautilus Institute for Security and Sustainability". nautilus.org (dalam bahasa Inggris). 2011-12-19. Diakses tanggal 2021-01-16. 
  16. ^ Suntoko 1999, hlm. 180.
  17. ^ a b "Warga Jepara Tolak PLTN Muria". koran.tempo.co. 2007-06-05. Diakses tanggal 2021-01-16. 
  18. ^ Cogswell et al. 2017, hlm. 9.
  19. ^ "PLTN Diantara Dampak dan Kebutuhan – Pusat Studi Lingkungan Hidup UGM" (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2021-01-17. 
  20. ^ "Akademisi Desak Pembatalaan Pembangunan PLTN Muria". KOMPAS.com. 2008-02-23. Diakses tanggal 2021-01-17. 
  21. ^ Suntoko 1999, hlm. 183.
  22. ^ "LSM Lingkungan Demo DPR Tolak Pembangunan PLTN Muria". Detik.com. Diakses tanggal 2021-01-17. 
  23. ^ Purwanto, Heru (2007-06-11). "Ribuan Warga Kudus Tolak Pembangunan PLTN Muria". Antara News. Diakses tanggal 2021-01-17. 
  24. ^ "Pengusaha Siap Hengkang jika PLTN Muria Jadi Dibangun". Detik.com. Diakses tanggal 2021-01-17. 
  25. ^ "NU Haramkan PLTN Muria - Nusa - koran.tempo.co". Tempo. 2007-09-02. Diakses tanggal 2021-01-17. 
  26. ^ "NU Jepara: PLTN Muria Haram!". Detik.com. Diakses tanggal 2021-01-17. 
  27. ^ "6 Alasan PKB Menolak PLTN Muria". Detik.com. Diakses tanggal 2021-01-17. 
  28. ^ "Walhi Puji NU Haramkan Pembangunan PLTN Muria". Detik.com. Diakses tanggal 2021-01-17. 

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]