Serbuan Yuan-Mongol ke Jawa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Serbuan Yuan-Mongol ke Jawa
TanggalDesember 1292 - Juni 1293 (7 bulan)
LokasiJawa Timur, tepatnya di Daha dan Majapahit. Sepanjang sungai Kali Mas/Brantas.
Hasil Runtuhnya Kerajaan Kadiri, kemenangan Raden Wijaya dan didirikannya Majapahit
Pihak terlibat
大元 Kekaisaran Tiongkok-Mongol (Dinasti Yuan) Kerajaan Singhasari
Kerajaan Kadiri
Majapahit
Tokoh dan pemimpin
Kubilai Khan (komandan tertinggi)
Shi-bi (jenderal)
Ike Mese
Gaoxing
Jayakatwang (Raja Kadiri)
Raden Wijaya (Mantan Panglima Singhasari)
Aria Adikara (panglima laut)
Kekuatan
20.000-30.000 prajurit
1.000 kapal

Lebih dari 100.000 prajurit (sumber Mongol) 20.000-30.000 prajurit (perkiraan modern)[1]

Jumlah kapal yang terlibat tidak diketahui
Korban

Lebih dari 3.000 tentara elit tewas[2]

60% atau sekitar 12.000-18.000 total jumlah terbunuh[3]
Tidak diketahui jumlah orang yang ditawan
Sejumlah kapal hancur
Lebih dari 5.000 tewas dan tenggelam

Serbuan Yuan-Mongol ke Jawa adalah invasi Kekaisaran Tiongkok-Mongol di bawah Dinasti Yuan ke tanah Jawadwipa (pulau Jawa sekarang). Pada tahun 1293, Kubilai Khan, Khan Agung Kekaisaran Mongol dan pendiri Dinasti Yuan, mengirim invasi besar ke pulau Jawa dengan 20.000[4] sampai 30.000 tentara. Ini adalah ekspedisi untuk menghukum Raja Kertanegara dari Kerajaan Singhasari, yang menolak membayar upeti dan bahkan melukai utusan Mongol.

Latar Belakang[sunting | sunting sumber]

Kubilai Khan, penguasa Kekaisaran Mongol dan kaisar Dinasti Yuan, mengirim utusan ke banyak negara untuk meminta mereka tunduk di bawah kekuasaannya dan membayar upeti. Men Shi atau Meng-qi (孟琪), salah satu utusannya yang dikirim ke Jawadwipa, tidak diterima dengan baik di sana.[5]

Penguasa Kerajaan Singhasari, Kertanagara, tidak bersedia tunduk kepada Mongol. Kertanegara lalu mengecap wajah sang utusan dengan besi panas seperti yang biasa dilakukan terhadap pencuri, memotong telinganya, dan mengusirnya secara kasar.

Kubilai Khan sangat terkejut dengan kejadian tersebut. Pada tahun 1292, dia pun memerintahkan dikirimkannya ekspedisi untuk menghukum Kertanegara, yang dia sebut orang barbar. Serangan ini juga memiliki tujuan lain. Menurut Kubilai khan sendiri, jika pasukan Mongol mampu mengalahkan Jawa, negara-negara lain yang ada di sekitarnya akan tunduk dengan sendirinya.[3] Dengan begitu, Dinasti Yuan Mongol dapat menguasai jalur perdagangan laut Asia, karena posisi geografis Nusantara yang strategis dalam perdagangan.[6]

Berdasarkan naskah Yuan shi, yang berisi sejarah Dinasti Yuan, 20.000-30.000 prajurit dikumpulkan dari Fujian, Jiangxi dan Huguang di Tiongkok selatan, bersama dengan 1.000 kapal serta bekal untuk satu tahun.[7][8] Pemimpinnya adalah Shi-bi (orang Mongol), Ike Mese (orang Uyghur), dan Gaoxing (orang Tiongkok).

Sementara itu, setelah mengalahkan Kerajaan Sriwijaya di Sumatra pada tahun 1290, Kerajaan Singhasari menjadi kerajaan terkuat di daerah itu. Akan tetapi Jayakatwang, Adipati di Kediri, negara vasal Singhasari, memberontak dan berhasil membunuh Kertanagara.

Sebagian besar kerabat dan bekas keluarga kerajaan membencinya. Menantu Kertanegara, Raden Wijaya, diampuni oleh Jayakatwang dengan bantuan wali dari Madura, Arya Wiraraja. Raden Wijaya kemudian diberi tanah hutan di Tarik. Dia membuka hutan itu dan mendirikan sebuah desa di sana. Desa itu diberi nama Majapahit, yang diambil dari nama buah maja di sana yang memiliki rasa yang pahit, sehingga jadilah namanya Majapahit (maja+pahit).

Tentara[sunting | sunting sumber]

Prajurit bersenjata kapak dari Tiongkok

Kublai memilih pasukan dari Tiongkok Selatan, karena mereka memakai baju perang ringan. Baju perang ringan dianggap lebih cocok di Jawa, yang merupakan negara tropis, sementara unit berzirah berat tidak cocok, seperti yang dicatat oleh Khan sendiri.

Jumlah kepemilikan baju besi tentara Yuan yang baru hanya 20%, dan tentara dari Tiongkok Utara sedikit lebih dari itu. Mereka memiliki banyak busur dan perisai, dan mereka juga memiliki banyak penembak, para infanteri berbaju besi penjaga belakang mereka dipersenjatai dengan tombak dan kapak yang berat. Tentara Mongolia juga membawa kuda.

Sejarah Yuan juga menyebutkan penggunaan senjata bubuk mesiu, dalam bentuk meriam (Bahasa Tiongkok: Pao).[2] Jenis kapal yang digunakan tidak disebutkan dalam Yuan shi, tetapi Worcester memperkirakan kapal jung Dinasti Yuan memiliki lebar 11 meter dan panjang lebih dari 30 m. Dengan perbandingan jumlah kapal dan jumlah prajurit, setiap kapal kemungkinan dapat membawa 20-30 orang.[9]

Potret studio tahun 1800-an tentang prajurit Jawa. "Tentara petani" Jawa terdiri dari orang-orang berkelengkapan seperti ini.

Yuan Shi mencatat bahwa tentara Jawa memiliki lebih dari 100.000 orang. Ini adalah angka yang dilebih-lebihkan, karena medan lokal menentukan bahwa mereka tidak dapat ditempatkan di medan perang pada saat yang sama.

Tentara di berbagai bagian Laut Tiongkok Selatan terutama didominasi oleh infanteri ringan sampai orang-orang Arab membawa teknik penempaan dan senjata yang lebih canggih. Sebagian besar tentara Jawa dimobilisasi sementara dari petani dan beberapa prajurit bangsawan.

Para bangsawan berbaris di garis depan, dan pasukan belakang yang besar berformasi T terbalik. "Tentara petani" Jawa berpakaian setengah telanjang dan ditutupi dengan kain katun di bagian pinggangnya (sarung). Sebagian besar senjata adalah busur dan panah, tombak bambu, dan pedang pendek.

Kaum aristokrat sangat dipengaruhi oleh budaya India, biasanya dipersenjatai dengan pedang dan tombak, dan berpakaian putih.[2] Namun, angkatan laut Jawa lebih maju daripada Tiongkok. Jung jawa memiliki panjang lebih dari 50 m, mampu membawa 500-1000 orang. Kapal ini dibangun dengan beberapa papan tebal yang membuat tembakan artileri tidak mampu merusaknya.[6]

Invasi[sunting | sunting sumber]

Gambaran kapal jung dinasti Yuan.

Pasukan Yuan berangkat dari Quanzhou bagian selatan,[10] lalu menyusuri pesisir Dai Viet dan Champa untuk menuju sasaran utama mereka. Negara-negara kecil di Malaya dan Sumatra tunduk dan mengirim utusan kepada mereka, dan komandan Yuan meninggalkan beberapa darughachi di sana. Diketahui bahwa pasukan Yuan sempat berhenti di Ko-lan (Biliton, sekarang Pulau Belitung) pada bulan Januari 1293 untuk merencanakan penyerangan mereka. Pada Februari 1293, Ike Mese dan salah seorang komandan bawahannya berangkat terlebih dahulu untuk membawa perintah Kaisar ke Jawa.

Pasukan utama lalu berlayar ke Karimunjawa, dan dari sana berlayar ke Tuban. Berdasarkan Kidung Panji-Wijayakrama, pasukan Yuan kemungkinan sempat menjarah desa Tuban dalam perjalanan mereka. Setelah itu, para komandan memutuskan untuk membagi pasukan menjadi dua. Pasukan pertama akan turun ke darat, yang kedua akan mengikuti mereka menggunakan perahu. Shi Bi berlayar ke muara Sedayu, dan dari sana pergi ke sungai kecil bernama Kali Mas (yang merupakan percabangan sungai Brantas). Pasukan darat di bawah Gao Xing dan Ike Mese, yang terdiri dari kavaleri dan infantri, pergi ke Du-Bing-Zu. Tiga komandan berlayar menggunakan kapal cepat dari Sedayu ke jembatan terapung Majapahit dan kemudian bergabung dengan pasukan utama dalam perjalanan ke Kali Mas.[6]:112[3]:22

Ketika pasukan Yuan tiba di Jawadwipa, Raden Wijaya berusaha bersekutu dengan mereka untuk melawan Jayakatwang. Dia memberi pasukan Mongol peta daerah Kalang. Berdasarkan, Yuan-shi, Raden Wijaya pada awalnya sudah berusaha menyerang Jayakatwang sendirian namun tidak berhasil, sampai kemudian dia mendengar tentang kedatangan pasukan Yuan. Raden Wijaya lalu meminta bantuan mereka. Sebagai balasannya, Raden Wijaya berjanji akan tunduk pada kekuasaan Yuan.[6]:113[3]:23

Pada tanggal 1 Maret, semua pasukan telah berkumpul di Kali Mas. Di hulu sungai terdapat istana raja Tumapel (Singhasari). Sungai ini adalah jalan masuk ke Jawa, dan di sini mereka memutuskan untuk bertempur. Seorang menteri Jawa memblokir sungai dengan menggunakan perahu. Para komandan Yuan kemudian membuat perkemahan berbentuk bulan sabit di tepi sungai. Mereka menginstruksikan pasukan air, kavaleri dan infantri untuk bergerak maju bersama, yang kemudian berhasil menakuti menteri Jawa. Sang menteri meninggalkan perahunya dan melarikan diri di malam hari. Lebih dari 100 perahu besar yang digunakan untuk memblokir sungai berhasil direbut oleh pasukan Yuan.[3]:114[6]:23

Setelah itu, sebagian besar tentara ditugaskan untuk menjaga muara Kali Mas, sementara pasukan utama bergerak maju. Utusan Raden Wijaya mengatakan bahwa raja Kediri telah mengejarnya ke Majapahit dan memohon pasukan Yuan untuk melindunginya. Karena posisi tentara Kediri tidak dapat ditentukan, tentara Yuan kembali ke Kali Mas. Setelah mendengar informasi dari Ike Mese bahwa pasukan musuh akan tiba malam itu, tentara Yuan berangkat ke Majapahit.[6]:114[3]:23

Pada 7 Maret, pasukan Kediri tiba dari 3 arah untuk menyerang Wijaya. Pada pagi hari tanggal 8, Ike Mese memimpin pasukannya untuk menyerang musuh di barat daya, tetapi tidak dapat menemukan mereka. Gao Xing bertempur melawan musuh di arah tenggara, akhirnya memaksa mereka melarikan diri ke pegunungan. Menjelang tengah hari, pasukan musuh datang dari tenggara. Gao Xing menyerang lagi dan berhasil mengalahkan mereka di sore hari.[6]:114[3]:24

Pada 15 Maret, pasukan dibagi menjadi 3 untuk menyerang Kediri, dan disepakati bahwa pada tanggal 19 mereka akan bertemu di Daha untuk memulai serangan setelah mendengarkan tembakan pao (meriam). Pasukan pertama berlayar menyusuri sungai, pasukan kedua yang dipimpin oleh Ike Mese berjalan di tepi sungai bagian timur sementara pasukan ketiga yang dipimpin oleh Gao Xing berjalan di tepi sungai barat. Raden Wijaya dan pasukannya berjalan di belakang.[6]:115[3]:24

Sungai Brantas di Kediri pada abad ke-21.

Tentara tiba di Daha pada 19 Maret. Di sana, pangeran Kediri mempertahankan kotanya dengan pasukannya. Pertempuran berlangsung dari pukul 6.00 hingga pukul 14.00. Setelah menyerang 3 kali, pasukan Kediri dapat dikalahkan dan melarikan diri. Sementara pasukan Mongol dan Kediri sedang bertempur, pasukan Majapahit menyerang kota dari arah lain dan dengan cepat mengalahkan penjaganya. Istana Jayakatwang dijarah dan dibakar.[11] Beberapa ribu pasukan Kediri mencoba menyeberangi sungai dan tenggelam, sementara 5.000 tewas dalam pertempuran. Raja Jayakatwang mundur ke bentengnya, dan menemukan bahwa istananya telah terbakar. Pasukan Mongol kemudian mengepung kota Daha dan meminta Jayakatwang menyerah. Pada sore hari, Jayakatwang menyatakan takluk kepada bangsa Mongol.[6]:115[3]:24

Setelah Jayakatwang dikalahkan oleh pasukan Mongol, Raden Wijaya kembali ke Majapahit, berpura-pura hendak menyiapkan pembayaran upeti untuk Mongol, dan meninggalkan sekutu Mongolnya berpesta merayakan kemenangan mereka. Shi-bi dan Ike Mese mengizinkan Raden Wijaya kembali ke daerahnya untuk menyiapkan upeti serta surat penyerahan diri, namun Gaoxing tidak menyukai hal ini dan dia memperingatkan dua komandan lainnya. Raden Wijaya kemudian meminta sebagian pasukan Yuan untuk datang ke negaranya tanpa membawa senjata.[6]:115[3]:24

Akhirnya, dua ratus prajurit Yuan yang tak bersenjata dan dipimpin oleh dua orang perwira dikirim ke negara Raden Wijaya. Akan tetapi pada tanggal 19 April Raden Wijaya dengan cepat memobilisasi pasukannya dan menyergap rombongan pasukan Yuan. Setelah itu Raden Wijaya menggerakkan pasukannya menuju kamp utama pasukan Yuan dan melancarkan serangan tiba-tiba. Dia berhasil membunuh banyak prajurit Yuan sedangkan sisanya berlari kembali ke kapal mereka. Setelah mencapai sebuah candi, tentara Yuan disergap oleh tentara Jawa yang telah menunggu mereka. Mereka berhasil menerobos di bagian tengah, melanjutkan pelarian 123 km mereka ke arah timur dengan jalur sebelumnya. Raden Wijaya tidak menyerang Mongol secara langsung, sebaliknya ia menggunakan semua taktik yang memungkinkan untuk mengacaukan dan mengurangi pasukan musuh sedikit demi sedikit. Selama pelarian, tentara Yuan kehilangan semua rampasan yang ditangkap sebelumnya.[6]:115[3]:25

Di pantai, armada pasukan Jawa yang dipimpin oleh rakryan mantri Aria Adikara[12] juga menghancurkan sejumlah kapal Mongol.[13] Pasukan Yuan mundur secara kacau karena angin muson yang dapat membawa mereka pulang akan segera berakhir, sehingga mereka terancam terjebak di pulau Jawa untuk enam bulan berikutnya. Setelah semua pasukan naik ke kapal di pesisir, mereka bertarung di laut dengan armada Jawa.

Setelah berhasil menghalaunya[2] mereka berlayar ke Quanzhou selama 68 hari. Akibat dari serangan itu, pasukan Yuan kehilangan 3.000 prajurit terbaiknya, dengan total 12.000-18.000 terbunuh,[1][3] dengan jumlah orang yang ditawan tidak diketahui dan sejumlah kapal hancur.[10][13][2] Pada Juni 1293, pasukan mereka tiba di Cina. Mereka membawa anak-anak Jayakatwang dan beberapa perwiranya, yang berjumlah lebih dari 100. Mereka juga memperoleh peta negara, catatan populasi dan sebuah surat dengan huruf emas emas yang dituliskan oleh sang raja.[2]

Akibat[sunting | sunting sumber]

Tiga jenderal Yuan, kehilangan semangat karena terusir dari tanah Jawadwipa dan kehilangan banyak prajurit elit, akhirnya kembali ke Tiongkok bersama sisa pasukan yang selamat. Mengetahui bahwa pasukannya gagal, Kubilai Khan menjadi sangat marah. Dia menghukum Shi-bi dengan 70 cambukan dan menyita sepertiga harta kekayaannya karena membiarkan bencana itu terjadi. Ike Mese juga dihukum dan sepertiga harta kekayaannya disita. Sementara Gaoxing mengalami nasib yang berbeda, dia dihadiahi 50 tael emas karena melindungi pasukan dari kehancuran total. Di kemudian hari, Shi-bi dan Ike Mese dimaafkan, dan kaisar mengembalikan reputasi serta harta kekayaan mereka.[14]

Kegagalan ini sekaligus merupakan ekspedisi militer terakhir Kubilai Khan. Sebaliknya, Majapahit kemudian menjadi negara paling kuat pada masanya di Nusantara.[15] Kublai khan merencanakan invasi lain ke Jawa dengan kekuatan 100.000 tentara, tetapi rencana ini dibatalkan setelah kematian Kublai Khan.[2] Akan tetapi, tokoh lain yang melewati Nusantara, yaitu Ibn Battuta dan Odoric dari Pordenone, melaporkan bahwa Jawa diserang beberapa kali oleh Mongol, tetapi selalu berhasil digagalkan.[16][17] Selain itu, prasati Gunung Butak (tahun 1294 M) menyebutkan bahwa Aria Adikara berhasil mencegat invasi laut Dinasti Yuan selanjutnya dan mengalahkannya, sebelum mereka sampai di Jawa.[12]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b Nugroho, Irawan Djoko (2011). Majapahit Peradaban Maritim. Jakarta: Suluh Nuswantara Bakti.
  2. ^ a b c d e f g Song Lian. Sejarah Yuan.
  3. ^ a b c d e f g h i j k l W.P Groeneveldt (1880). Notes on the Malay Archipelago and Malacca Compiled from Chinese Sources. Batavia.
  4. ^ Weatherford, Jack (2004), Genghis khan and the making of the modern world, New York: Random House, hlm. 239, ISBN 0609809644 .
  5. ^ Grousset, Rene (1988), Empire of steppes, Wars in Japan, Indochina and Java, New Jersey: Rutgers University Press, hlm. 288, ISBN 0813513049 .
  6. ^ a b c d e f g h i j k Nugroho, Irawan Djoko (2011). Majapahit Peradaban Maritim. Jakarta: Suluh Nuswantara Bakti.
  7. ^ Weatherford (2004).
  8. ^ Man (2007).
  9. ^ Worcester, G. R. G. (1971). The Junks and Sampans of the Yangtze. Naval Institute Press.
  10. ^ a b Sen, Tan Ta (2009), Cheng Ho and Islam in Southeast Asia, Institute of Southeast Asian Studies, hlm. 186, ISBN 9789812308375 
  11. ^ Berg, C.C. (1931). Kidung Harsa-Wijaya. S-Gravenhage: Martinus Nijhoff. 
  12. ^ a b Nugroho, Irawan Djoko (2009). Meluruskan Sejarah Majapahit. Ragam Media.
  13. ^ a b Berg, C. C. (1930). Rangga Lawe, Middeljavaansche Historische Roman, BJ 1. Weltevreden: Albert & Co.
  14. ^ Man 2007, hlm. 281.
  15. ^ Saunders, J. J. (2001), The history of Mongol conquests, Philadelphia: University of Pennsylvania Press, ISBN 0812217667 .
  16. ^ da Pordenone, Odoric (2002). The Travels of Friar Odoric. W. B. Eerdmans Publishing Company.
  17. ^ "Ibn Battuta's Trip: Chapter 9 Through the Straits of Malacca to China 1345–1346". The Travels of Ibn Battuta A Virtual Tour with the 14th Century Traveler. Berkeley.edu. Diarsipkan dari versi asli tanggal 17 March 2013. Diakses tanggal 14 June 2013. 

Daftar pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Man, John (2010), Kubilai Khan: Legenda Sang Penguasa Terbesar dalam Sejarah, Tangerang: Alvabet, ISBN 9789793064826 
  • Bade, David W. (2002), Khubilai Khan and the Beautiful Princess of Tumapel: the Mongols Between History and Literature in Java, Ulaanbaatar: A. Chuluunbat 
  • Man, John (2007), Kublai Khan: The Mongol king who remade China, London: Bantam Books, ISBN 0553817183 
  • Levathes, Louise (1994), When China Ruled the Seas, New York: Simon & Schuster, hlm. 54, ISBN 0671701584, The ambitious khan [Kublai Khan] also sent fleets into the South China Seas to attack Annam and Java, whose leaders both briefly acknowledged the suzerainty of the dragon throne 
  • d'Ohsson, Constantin Mouradgea (2002), "Chapitre 3 Kublai Khan, Tome III", Histoire des Mongols, depuis Tchinguiz-Khan jusqu'à Timour Bey ou Tamerlan, Boston: Adamant Media, ISBN 9780543947291