Perang Bubat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Tragedi Bubat)
Perang Bubat
Tanggal1357
LokasiAlun-alun Bubat, kawasan utara Trowulan, Majapahit, Jawa
Hasil Kemenangan mutlak pihak Majapahit, gugurnya bala sentana Raja Sunda, dan rusaknya hubungan baik di antara kedua kerajaan
Pihak terlibat
Kemaharajaan Majapahit Kerajaan Sunda
Tokoh dan pemimpin
Gajah Mada
(Mahapatih Majapahit)
Maharaja Linggabuana 
(Raja Sunda)
Kekuatan
Pasukan-pasukan Majapahit yang ditempatkan di ibu kota, jumlah pastinya tidak diketahui Sentana Raja Sunda, pejabat-pejabat Kerajaan Sunda, hamba-sahaya, prajurit pengawal, dan prajurit laut, jumlah pastinya tidak diketahui
Sekurang-kurangnya 2.200 kapal (tidak semua penumpang turun ke medan perang).
Korban
Tidak diketahui Hampir semua anggota rombongan Kerajaan Sunda gugur, termasuk Raja Sunda dan Putri Pitaloka

Perang Bubat yang juga disebut Pasunda Bubat adalah pertempuran antara bala sentana Raja Sunda dan angkatan perang Majapahit yang berlangsung di alun-alun Bubat, kawasan utara Trowulan, ibu kota Majapahit, pada tahun 1279 Saka atau 1357 Masehi.[1]

Catatan sejarah[sunting | sunting sumber]

"Manak deui Prebu Maharaja. Lawasniya ratu tujuh tahun. Kena kabawa ku kalawisaya, kabancana ku seuweu dimanten, ngaran Tohaan. Mundut agung dipipanumbasna. Urang réya sangkan nu angkat ka Jawa, mumul nu lakian di Sunda, pan prangrang di Majapahit."

"Berputra seorang, Sang Prěbu Maharaja. Tujuh tahun lamanya meraja. Terseret oleh ulah khianat, celaka lantaran anak dipersunting, bernama Tohaan. Besar nian tuntut pintanya. Ramai orang berangkat ke Jawa, sebab dia enggan berlaki Sunda, sampai-sampai orang berperang di Majapahit."

Carita Parahyangan[2]:391

Insiden Pasunda Bubat disinggung di dalam Carita Parahyangan (abad ke-16) dan Pararaton (abad ke-15),[3] tetapi tidak terdapat di dalam Nagarakretagama (abad ke-14). Meskipun demikian, pertempuran di Bubat menjadi tema utama Kidung Sunda, naskah Bali dari sekitar pertengahan abad ke-16.[1]

Perang Bubat disinggung di dalam salah satu pupuh Pararaton, tawarikh Jawa dari abad ke-15. Jati diri penulisnya tidak diketahui. Pararaton disusun dalam bentuk catatan peristiwa yang terjadi sekitar tahun 1474-1486, sementara bagian sastrawinya disusun sebagai uraian sejarah antara tahun 1500-1613. Naskah ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1896 oleh J.L.A. Brandes, seorang filolog Belanda, lengkap dengan terjemahan, keterangan, dan ulasan.[3]

Meskipun berlangsung pada pertengahan abad ke-14, peristiwa Perang Bubat baru mengemuka pada abad ke-16 di dalam karya sastra Sunda yang berjudul Carita Parahyangan, kendati hanya berupa sepotong informasi singkat mengenai insiden itu. Di dalam Carita Parahyangan, putri Raja Sunda disebut Tohaan,[i] artinya "yang dituakan atau yang dimuliakan".[1] Carita Parahyangan memuat bait "pan prangrang di Majapahit" yang diterjemahkan menjadi "orang berperang di Majapahit."[4]

Menurut Nagarakretagama, alun-alun Bubat terletak di kawasan utara Trowulan, ibu kota Majapahit, mungkin di sekitar Gapura Wringin Lawang atau candi Brahu

Pada awal abad ke-20, CC Berg, sejarawan Belanda, menerbitkan teks Kidung Sunda berikut terjemahannya (1927). Karya sastra Bali ini menyingkap insiden Bubat, dan merupakan bentuk ringkas dari Kidung Sundayana (1928). Di bidang penulisan sejarah Jawa, Berg menyebut Kidung Sunda — yang kemungkinan besar disusun sesudah tahun 1540 di Bali — memuat fakta-fakta bersejarah karena insiden Bubat dikukuhkan oleh naskah Sunda kuno, Carita Parahyangan. Berg menyimpulkan bahwa, "di dalam Kidung Sunda haruslah kita lihat sisa-sisa sastrawi dari cerita-cerita rakyat dan dalam tema yang sama dengan fragmen Pararaton..."[1]

Patut dicermati bahwa Nagarakretagama yang dikarang Mpu Prapanca pada tahun 1365, dan secara luas dipandang sebagai sumber primer sejarah Majapahit, sama sekali tidak menyinggung peristiwa ini. Oleh karena itu beberapa sejarawan mempertanyakan keaslian Pararaton, serta berpendapat bahwa Kidung Sunda hanyalah sebuah novel fiksi kuno dan Perang Bubat tidak pernah terjadi.[5] Demi merukunkan beragam kajian ini, penting untuk dipahami bahwa Nagarakretagama adalah sebuah pujasastra.[ii] Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto memaparkan di dalam Sejarah Nasional Indonesia II bahwa "peristiwa ini tampaknya sengaja dikesampingkan Prapanca[iii] karena tidak berkontribusi bagi kegemilangan Majapahit, bahkan dapat dianggap sebagai kegagalan politis Gajah Mada untuk menundukkan orang Sunda."[3]

Pinangan[sunting | sunting sumber]

"... Tumuli Pasunda Bubat. Bhre Prabhu ayun ing Putri ring Suṇḍa. Patih Maḍu ingutus anguṇḍangeng wong Suṇḍa, ahiděp wong Suṇḍa yan awawarangana ...,"

"... Sebab Pasunda Bubat. Bhre Prabu berahikan putri di Sunda. Patih Maḍu diutus mengundang orang Sunda. Lantaran tidak keberatan menjadi besan,[iv] datanglah (Prabu Maharaja narendra) Sunda (ke Majapahit)."

"... Alih-alih dijamu dengan meriah, kedatangan mereka justru disambut tuntutan semena-mena Mahapatih Gajah Mada agar putri Raja Sunda diserahkan sebagai persembahan. Orang Sunda tidak sudi menurut, dan membulatkan tekad untuk berperang."

Pararaton[3][2]:402

Perang Bubat diawali dari rencana perkawinan politik antara Raja Hayam Wuruk (Sri Rajasanagara) dengan Dyah Pitaloka Citraresmi, putri raja Sunda, Prabu Linggabuana.

Hayam Wuruk kemudian mengirimkan surat kehormatan kepada Linggabuana untuk melamar putrinya dan menyatakan pernikahan akan dilangsungkan di Majapahit.

Meski Linggabuana sebenarnya keberatan dengan lokasi pernikahannya, ia tetap berangkat bersama rombongan ke Majapahit.

Rombongan Linggabuana diterima dan ditempatkan di Pesanggrahan Bubat.

Gajah Mada yang berambisi menguasai Kerajaan Pajajaran (Sunda) demi memenuhi Sumpah Palapa, menganggap kedatangan rombongan Sunda sebagai bentuk penyerahan diri.

Gajah Mada mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka Citraresmi bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai upeti.

Hal inilah yang memicu perselisihan antara pihak Sunda dengan Gajah Mada.

Sebelum Hayam Wuruk memberikan keputusannya, Gajah Mada telah mengerahkan pasukannya ke Pesanggrahan Bubat dan memaksa Linggabuana mengakui superioritas Majapahit.

Pihak Sunda yang tidak terima dan merasa dihina akhirnya memutuskan untuk melawan meski jumlah tentara yang dibawa hanya sedikit.

Pertempuran tidak seimbang antara tentara Kerajaan Sunda dengan Majapahit memakan banyak korban.

Bahkan seluruh rombongan Linggabuana dikabarkan tewas, menyisakan Dyah Pitaloka Citraresmi.

Dyah Pitaloka Citraresmi kemudian memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri dengan menancapkan tusuk konde ke jantungnya.

Setelah Dyah Pitaloka Citraresmi meninggal, Hayam Wuruk meratapi kematiannya dan menyesalkan tindakan Gajah Mada.

Akibat Perang Bubat, hubungan Hayam Wuruk dan Gajah Mada menjadi renggang.

Bantahan Perang Bubat[sunting | sunting sumber]

Menganalisa isi yang disampaikan oleh kitab Kidung Sunda mengenai kejadian perang Bubat, mari perhatikan petikan dari kitab Kidung Sunda:

Petikan sebagian kitab Kidung Sunda (terjemahan) Pupuh I:

“Maka Madhu kembali ke Majapahit membawa surat balasan raja Sunda dan memberi tahu kedatangan mereka. Tak lama kemudian mereka bertolak disertai banyak sekali iringan. Ada dua ratus kapal kecil dan jumlah totalnya adalah 2.000 kapal, berikut kapal-kapal kecil. Kapal jung.

Ada kemungkinan rombongan orang Sunda menaiki kapal semacam ini. Namun ketika mereka naik kapal, terlihatlah pratanda buruk. Kapal yang dinaiki Raja, Ratu dan Putri Sunda adalah sebuah “jung Tatar (Mongolia/Cina) seperti banyak dipakai semenjak perang Wijaya.” (bait 1. 43a.)”.

Informasi Penting Kitab Kidung Sunda

Informasi penting yang diperoleh dari sebagian petikan kitab Kidung Sunda diatas salah satunya yaitu mengenai jumlah armada rombongan dari Kerajaan Sunda, yang terdiri dari 200 buah kapal ukuran kecil, jumlah total armada itu sekitar 2.000 buah perahu terdiri dari sebagian besar jumlah kapal dalam ukuran besar ditambah 200 kapal dalam ukuran kecil.

Hitungan matematis sederhana, kalau dimisalkan 1 buah perahu rata-rata memuat atau membawa awak 10 orang, berarti jumlah rombongan sekitar 20.000 orang, ini jumlah yang terlalu over dosis atau berlebihan untuk sebuah acara perkawinan.

Bayangkan lagi kalau muatannya dalam 1 buah perahu minimal mengangkut rata-rata awak 20 orang, berarti jumlah rombongan bisa mencapai sekitar 40.000 orang, dan itu juga bukan jumlah sedikit, jumlah itu cukup untuk sebuah rencana menggempur atau menyerang suatu negara atau kerajaan lain pada saat itu.

Perjalanan berlayar dari tanah Sunda ke tanah Jawa ujung timur dengan memakai perahu-perahu, pasti bukanlah jenis perahu kecil-kecil yang digunakan.

Perahu-perahu ini mestinya harus bisa memuat jumlah personil atau awak perahu lebih dari 30 orang dalam 1 buah perahu, kalau dihitung lagi dan dijumlahkan dari rata-rata 1 buah perahu memuat awak 30 orang, maka total jumlah orang akan mencapai jumlah kisaran lebih dari 60.000 orang, jumlah yang cukup fantastis dan ideal untuk sebuah rencana penyerangan, sekaligus membumihanguskan kerajaan seperti Majapahit yang notabene mereka sedang sibuk melakukan invasi ke luar wilayah kerajaannya.

Teknologi maritim atau teknologi pembuatan perahu, lalu kemudian disesuaikan dengan keberadaan kerajaan Sunda yang masa perdamainnya ratusan tahun lamanya, tentunya pembuatan perahu dan teknologi akan sangat dimungkinkan.

Bisa jadi hasil membeli dari negara lain seperti yang diungkapkan bahwa perahu-perahu besar yang digunakan mirip dengan perahu-perahu tentara Mongol waktu menyerang kerajaan Kediri masa pemerintahan Jayakatwang, terlebih punya hubungan kedekatan sejarah dengan kerajaan Sriwijaya yang terkenal mempunyai teknologi maritim yang unggul, ditambah lagi pendanaan yang cukup untuk membeli atau membuat kapal atau perahu sejumlah itu.

Tradisi Jawa atau dimana pun dalam pernikahan, laki-laki yang harus datang ke tempat si calon istri, bukan malah sebaliknya. Seandainya raja Sunda dan pasukannya pada kisah kitab Kidung Sunda itu dikatakan merasa terhina sebagai alasan untuk berperang pada saat itu, dengan diceritakan bahwa mereka harus dan diminta takluk secara militer oleh Gajah Mada.

Maka secara logika akal sehat sebenarnya itu tidak mungkin, kalau alasannya seperti itu, artinya dari awal dia sudah menghinakan diri dengan datang mengantar sang putri Citraresmi sebagai calon istri raja Majapahit Hayam Wuruk (atau Sri Rajasanegara), kisah ini paradoks tentunya, tidak bisa diterima.

Walaupun mungkin pada daerah-daerah tertentu atau kondisi khusus ada yang seperti itu yaitu si pihak calon istri yang datang ke pihak laki-laki tapi itu tidak bisa disebut kebenaran umum.

Dalam kitab Kidung Sunda itu pula dibahas tentang Gajah Mada yang disalahkan oleh para seniornya (para penguasa wilayah Kerajaan Daha dan Kerajaan Kahuripan) dikeraton kerajaan Majapahit yang merupakan paman Hayam Wuruk, yaitu ketika berakhirnya perang Bubat, tapi mengapa dalam kitab kidung Sunda dinyatakan bahwa diantara pimpinan Sunda termasuk rajanya yang terbunuh, bahwa merekalah (para senior) yang melakukannya.

Ketika peristiwa itu berlangsung, suatu hal yang tidak singkron satu sama lain yaitu Hayam Wuruk ikut serta dalam peperangan itu. Disini realistik juga, kelihatan jelas sisi fantasi si pengarang, dalam kenyataan perang sesungguhnya siapapun bisa saling membunuh tidak hanya raja dengan raja, patih dengan patih, prajurit biasa pun bisa membunuh seorang raja, atau bisa jadi mereka tidak terbunuh langsung tapi karena terkena panah atau tombak jarak jauh.

Walau pun ada sisi sentimentil dari Kidung Sunda itu yang mengatakan Hayam Wuruk menyesalkan kematian Dyah Pitaloka atau Citraresmi yang dikisahkan bunuh diri.

Padahal kematian seperti itu bagi yang sudah sering mengalami peperangan adalah sesuatu hal biasa apalagi ajaran yang dianut memungkinkan si istri atau keluarga mengorbankan diri setelah suami atau orang tuanya tiada, atau memang secara kemanusiaan walaupun perang adalah suatu pilihan, melihat ribuan orang melayang jiwanya, tentunya sebagai kesatria perang semua melakukan penghormatan kepada pihaknya sendiri ataupun pihak lawan dengan rasa duka mendalam.

Dalam kitab Kidung Sunda juga dijelaskan ada utusan dari Majapahit ke kerajaan Sunda , yang diceritakan dan diterangkan membawa maksud dari raja Hayam Wuruk untuk melamar puteri kerajaan.

Analisa yang mungkin untuk kejadian atau saat peristiwa datangnya utusan dari Majapahit, adalah bahwa utusan kerajaan Majapahit itu sebenarnya utusan kerajaan untuk meminta raja Sunda untuk tunduk dan takluk dibawah kerajaan Majapahit, pola utusan-utusan seperti itu hal biasa kalau salah satu kerajaan punya keinginan untuk menakhlukan kerajaan yang lainnya, semacam peringatan tidak menyerang tiba-tiba tanpa alasan.

Pada akhirnya kalau diterima berarti kedua belah pihak berdamai dengan syarat-syarat ditentukan bersama, kalau sebaliknya kedua belah pihak harus sudah mempersiapkan diri untuk memulai peperangan.

Seandainya perang itu sudah diniatkan oleh Raja Sunda, pertanyaannya adalah mengapa pramesuri dan putri keraton ikut serta. Hal ini mudah dijawab, karena asumsinya perjalanan panjang, sebuah rencana operasi militer dari tanah Sunda ke Majapahit setidaknya memerlukan waktu yang lama.

Pastinya ada kapal-kapal utama yang nyaman untuk mereka, dikapal-kapal besar sudah tentunya bisa untuk anggota keluarga kerajaan melakukan kegiatan yang tidak terganggu oleh kondisi perjalan perang dari prajurit-prajuritnya yang lain, bisa dibuat senyaman mungkin.

Keikutsertaan mereka dalam perjalanan pertempuran adalah hal biasa, seperti halnya pasukan Mongol yang melakukan perjalanan panjang (long march) ke negara lain, mereka sering membawa serta keluarganya, sekaligus mereka bisa dimanfaatkan dalam persiapan upacara keagamaan sebelum memulai peperangan dan lain sebagainya. Dalam waktu-waktu tertentu bisa jadi untuk motifator bagi pasukan dan sang raja, menambah semangat tempur prajuritnya.

Jumlah sekitar 2000 buah kapal adalah kemegahan yang sangat luar bisa, masuk akal bagi kerajaan Sunda Galuh yang hidup makmur dan besar secara luas wilayah kekuasaannya, ingin menunjukan superioritas perekonomian dan kemampuan dana mereka.

Pasukan besar yang dipimpin raja Sunda itu merupakan hal wajar, gabungan dari koloninya, daerah-daerah kerajaan bawahan kekuasan kerajaan Sunda pada waktu itu.

Jumlah itu merupakan jumlah pasukan tentara gabungan dan pasti ada keyakinan dari mereka dapat mengalahkan pasukan tentara kerajaan Majapahit yang kemungkinan sebagian besar pasukanya masih melakukan ekspedisi atau invasi keluar wilayah ke negara atau kerajaan lainya.

Sumber sejarah lain yang menjadi pendukung kisah terjadinya perang Bubat yaitu kitab Pararaton (kitab para raja), yang salah satu petikan tentang peristiwa diantaranya :

“Orang Sunda akan mempersembahkan puteri raja, tetapi tidak diperkenankan oleh bangsawan bangsawannya, mereka ini sanggup gugur dimedan perang di Bubat, tak akan menyerah, akan mempertaruhkan darahnya.”

Petikan diatas memberikan informasi yaitu adanya pemberitahuan dari Raja Sunda kepada para bangsawannya, tentang pilihan penyerahan puteri raja sebagai persembahan bagi Raja Majapahit.

Para bangsawan menolak pilihan itu tadi, ini artinya teori rencana penyerahan atau iring-iringan untuk mengantar sang puteri yang akan dinikahkan dengan raja Majapahit Hayam Wuruk itu tidak pernah terjadi, yang ada adalah raja Sunda beserta para pembesar kerajaanya sepakat untuk menyatakan perang terhadap Majapahit.

Kesimpulan yang bisa ditarik adalah bahwa peperangan ini sudah direncanakan sebelumnya, sedang dipilih daerah Bubat adalah karena lokasi dan pilihan strategi mereka yang sudah mereka tetapkan untuk menggempur atau menyerang kerajaan Majapahit.

Petikan dari kitab Pararaton

“Kesanggupan bangsawan bangsawan itu mengalirkan darah, para terkemuka pada pihak Sunda yang bersemangat, ialah: Larang Agung, Tuhan Sohan, Tuhan Gempong, Panji Melong, orang orang dari Tobong Barang, Rangga Cahot, Tuhan Usus, Orang Pangulu, Orang Saja, Rangga Kaweni, Orang Siring, Satrajali, Jagadsaja, semua rakyat Sunda bersorak.

Bercampur dengan bunyi bende, keriuhan sorak tadi seperti guruh. Sang Prabu Maharaja telah mendahului gugur, jatuh bersama sama dengan Tuhan Usus.

Sri Baginda Parameswara menuju ke Bubat, ia tidak tahu bahwa orang orang Sunda masih banyak yang belum gugur, bangsawan bangsawan, mereka yang terkemuka lalu menyerang, orang Majapahit rusak.

Adapun yang mengadakan perlawanan dan melakukan pembalasan, adalah: Arya Sentong, Patih Gowi, Patih Marga Lewih, Patih Teteg, dan Jaran Baya.

Semua menteri araman itu berperang dengan naik kuda, terdesaklah orang Sunda, lalu mengadakan serangan ke selatan dan ke barat, menuju tempat Gajah Mada, masing masing orang Sunda yang tiba dimuka kereta, gugur, darah seperti lautan, bangkai seperti gunung, hancurlah orang orang Sunda, tak ada yang ketinggalan, pada tahun saka: Sembilan Kuda Sayap Bumi, atau: 1279.”

Petikan diatas seperti gayung bersambut, seirama atau sesuai dengan informasi yang diberikan kitab Kidung Sunda mengenai jumlah pasukan tentara Kerajaan Sunda yang ikut berperang, yaitu dengan skala jumlah pasukan tentara yang luar biasa besar.

Tambahan informasi yang menguatkan dari petikan diatas tentang adanya pernyataan bunyi bende dan keriuhan sorak seperti gemuruh, serta dinyatakan pula bahwa pasukan tentara Sunda yang gugur digambarkan dengan situasi bahwa sebaran aliran darah akibat banyaknya prajurit yang gugur diibaratkan seperti lautan, bangkai-bangkai manusia atau tentara seperti gunung, dan kehancuran total tanpa bersisa.

Seandainya jumlah mayat sampai menggunung itu bukanlah jumlah sedikit dan kematian seperti itu dalam perang jaman seperti itu mungkin sudah biasa dan sering terjadi, soalnya ketika pasukan Jenghis Khan menyerang kesultanan Kwarizmi, terjadi pembantaian luar bisa yang mencapai angka jutaan jiwa manusia.

Konon katanya penggambaran situasinya waktu itu, kepala yang dipenggal saja pada waktu itu kalau digambarkan membentuk bukit-bukit piramida besar, belum badan yang bergelimpangan dan berserakan dimana-mana. Sungguh pemandangan yang mengerikan, tetapi ini fakta sejarah dan kejadian ini pula yang bisa terjadi saat itu.

Pertanyaan kemudian adalah mengapa pasukan besar tentara kerajaan Sunda dapat dikalahkan dalam perang itu, terbantai habis tak bersisa.

Hal ini dikarenakan sudah ratusan tahun lamanya kerajaan Sunda tidak pernah lagi berperang dalam sekala besar dan panjang, setelah masa-mas kedamaian dan kemakmuran (abad ke-10 sampai ke-14 Masehi), walau pun setatusnya kerajaan besar yang merupakan salah satu negara adidaya ditataran pulau Jawa bahkan nusantara.

Kondisi sebaliknya untuk pasukan tentara kerajaan dari Majapahit yang pada saat itu terus-menerus melakukan invasi milter ke negara-negara lain dan itu artinya selalu berselimut dengan pengalaman perang sampai saat itu.

Pasukan tentara Majapahit pada waktu itu diasumsikan masih gencar-gencarnya melakukan invasi atau ekspedisi ke negara-negara lain, tentunya pasukan-pasukannya sebagian tidak ada di posisi wilayah kerajaan.

Logika jumlah keterlibatan pasukan tentara Majapahit pada saat itu sendiri pasti berkurang dari jumlah keseluruhan total pasukan kerjaan secara keseluruhan, perkiraan paling sekitar 1/2 atau 2/3 dari pasukan tentara kerajaan Sunda yang ada disana.

Tetapi dengan jumlah seperti itu pun bisa mengalahkan pasukan tentara Sunda, mengapa? Hal ini dikarenakan meraka sudah terlatih, terbiasa, tertempa dan berpengalaman dalam kehidupan perang selama itu.

Satu hal yang jadi pertanyaan besar dalam kidung Sunda ini, pengarangnya tidak menyebut nama jelas prameswari dan puteri raja Sunda yaitu Citraresmi atau Dyah Pitaloka dan bahkan nama Raja Sunda Galuh pada waktu itu juga tidak disebut.

Logikanya orang yang mengarang kitab (buku) Kidung Sunda adalah orang yag terbatas pengetahuannya tentang sejarah itu sendiri, atau ini hanyalah fiksi dari cerita-cerita sebelumnyaan yang mana puteri Citraresmi atau Dyah Pitaloka sendiri hanya ada di kitab Pararaton, kitab yang dianggap benar oleh masyarakat umum, walau sebenarnya kitab Pararaton ini banyak keanehan dan kebenarnya yang sama-sama harus dibuktikan.

Akhir kata, Sri Rajasa (Ken Arok – versi Kitab Pararaton), Kertanegara, Gajah Mada dan Sri Rajasanagara (Hayam Wuruk) adalah para penganut pola dan metoda Jenghis khan, dan diterapkan sesuai kehidupan ditataran tanah Jawa dan Nusantara pada pencapaian lebih jauh.

Keterangan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Istilah Sunda kuno ini berkerabat dengan kata Tuan di dalam bahasa Melayu-Indonesia.
  2. ^ Karya sastra yang dimaksudkan sebagai penghormatan kepada Hayam Wuruk, Raja Majapahit, dan untuk menggambarkan kegemilangan daulat Majapahit.
  3. ^ Kemungkinan besar insiden yang dianggap sebagai aib bagi istana Majapahit ini secara sengaja ditiadakan dan dikesampingkan Prapanca.
  4. ^ Besan adalah istilah yang menyifatkan hubungan antarorang tua kedua mempelai.

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d "Perang Bubat dalam Memori Orang Sunda". Historia - Obrolan Perempuan Urban. 22 Mei 2015. Diakses tanggal 06 Mei 2018. 
  2. ^ a b Marwati Djoened Poesponegoro; Nugroho Notosusanto (2008). Sejarah Nasional Indonesia: Zaman kuno. Balai Pustaka. ISBN 978-9794074084. OCLC 318053182. Diakses tanggal 3 Juni 2018. 
  3. ^ a b c d "Tragedi Perang Bubat dan Batalnya Pernikahan Hayam Wuruk-Dyah Pitaloka". Historia - Obrolan Perempuan Urban. 22 Mei 2015. Diakses tanggal 06 Mei 2018. 
  4. ^ M.M, Drs Haris Daryono Ali Haji, S. H. (2012-05-01). Menggali Pemerintahan Negeri Doho : Dari Majapahit Menuju Pondok Pesantren: Penerbit Elmatera. Diandra Kreatif. ISBN 9786021222645. 
  5. ^ VIVA, PT. VIVA MEDIA BARU - (28 Mei 2015). "Perang Bubat, Kisah Nyata atau Rekaan? – VIVA". Diakses tanggal 06 Mei 2018.