Naskah Wangsakerta
Naskah Wangsakerta adalah kumpulan manuskrip yang diklaim telah disusun oleh sebuah panitia yang dipimpin oleh Pangeran Wangsakerta dari Cirebon. Manuskrip itu ditemukan di luar istana Cirebon. Manuskrip ini diklaim telah disusun sejak abad ke-18. Setidaknya perpustakaan Kesultanan Cirebon telah mengumpulkan 1.703 judul manuskrip.
Manuskrip ini dianggap kontroversial karena ditolak oleh akademisi Indonesia, karena isinya sama dengan pandangan atau tulisan para arkeolog dan sejarawan Belanda abad ke-20. Manuskrip kontroversial ini sekarang disimpan di Museum Sri Baduga di Kota Bandung.[1]
Isi manuskrip
[sunting | sunting sumber]Manuskrip-manuskrip tersebut, yang diduga dibuat oleh panitia Wangsakerta, terbagi menjadi beberapa manuskrip, masing-masing berjudul:
- Pustaka Nagarakretabhumi
- Pustaka Dwipantaraparwa
- Pustaka Pararatwan i Bhumi Jawadwipa
- Pustaka Rajya Rajya i Bhumi Nusantara
- Pustaka Carita Parahyangan i Bhumi Jawa Kulwan
- Pustaka Samastabhuwana
Manuskrip yang disusun oleh panitia Wangsakerta tersebut terbuat dari kertas daluang dengan sampul karton yang dibungkus kain katun putih dan cokelat, tinta hitam, dan ukuran huruf 5 mm. Manuskrip-manuskrip tersebut ditulis menggunakan bahasa Jawa dan aksara Jawa yang terkesan dikuno-kunokan.
Panitia Wangsakerta
[sunting | sunting sumber]Pendahuluan pada setiap Naskah Wangsakerta selalu memberikan informasi tentang proses pembuatannya. Panitia yang dipimpin oleh Pangeran Wangsakerta dimaksudkan untuk memenuhi amanat ayahnya, Panembahan Girilaya, agar Pangeran Wangsakerta dapat menyusun manuskrip berisi kisah kerajaan-kerajaan di Nusantara.
Komite tersebut dibentuk untuk menyelenggarakan gotrasawala (simposium atau seminar) antara para ahli sejarah dari seluruh Nusantara. Hasil penelitian tersebut kemudian dikumpulkan dan ditulis dalam bentuk manuskrip yang sekarang dikenal sebagai Naskah Wangsakerta. Penyelenggaraan gotrasawala ini berlangsung pada tahun 1599 Saka (1677 M), sedangkan penyusunan manuskrip memakan waktu hingga 21 tahun dan selesai pada tahun 1620 Saka (1698 M).
Kontradiksi sejarah
[sunting | sunting sumber]Manuskrip ini diperkirakan ditulis pada abad ke-17, tetapi para ahli meragukan hal ini dan mungkin saja ditulis pada tahun 1960-an. Manuskrip yang dihasilkan oleh panitia Wangsakerta, meskipun menggunakan aksara Jawa Kuno umum sebagaimana pada abad ke-17, namun kenyataannya tulisan tersebut meniru penulisan aksara Jawa Kuno namun gagal. Hal ini dapat dibuktikan dari manuskrip-manuskrip yang ditemukan pada tahun 1970-an, yang tidak memuat informasi tambahan terkait temuan para sejarawan pada dekade-dekade berikutnya (tahun 1980-an hingga sekarang).[2]
Dalam Naskah Wangsakerta, istilah Jawa Kulwan, Jawa Madya, dan Jawa Wetan selalu ditemukan. Sesuai konteksnya, yang dimaksud dengan istilah ini adalah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur, pembagian administratif semacam itu belum terjadi pada abad ke-17.[2]
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), kertas tersebut berusia sekitar 100 tahun, dihitung dari tahun 1988 ketika manuskrip tersebut diuji. Manuskrip yang dibeli dan disimpan di Museum Sri Baduga adalah salinan yang baru ditulis sekitar abad ke-19, meskipun dalam manuskrip itu sendiri tertulis bahwa manuskrip tersebut disusun pada tahun 1677 dan diselesaikan pada tahun 1698.[2]
M.C. Ricklefs, profesor sejarah dari Universitas Monash, menjelaskan bahwa ia telah melihat manuskrip tersebut di Museum Sri Baduga dan ia menyatakan bahwa dilihat dari tulisan aksara yang "kasar", menunjukkan bahwa ini adalah manuskrip baru, bukan manuskrip yang berasal dari abad ke-17. Ia mempertanyakan mengapa manuskrip-manuskrip ini, yang menurutnya palsu, digunakan sebagai sumber oleh sejarawan Indonesia. Masalah yang menarik adalah setelah kontroversi seputar manuskrip ini beredar, Naskah Wangsakerta kini muncul kembali karena digunakan dalam penyusunan sumber-sumber sejarah Indonesia.[2] Dengan melakukan kritik eksternal terhadap Naskah Wangsakerta, terbukti bahwa manuskrip ini bukanlah sejarah yang autentik, sebagai sumber penyusunan sejarah Indonesia. Oleh karena itu, nilai historis yang diberikan oleh Naskah Wangsakerta sangat lemah.[2]
Kontroversi
[sunting | sunting sumber]Penemuan Naskah Wangsakerta pada awal tahun 1970-an, selain menimbulkan kegembiraan dan kekaguman karena kelengkapannya, bagi banyak pihak, hal ini justru menimbulkan keraguan dan kecurigaan. Bahkan para cendekiawan dan sejarawan pun menduga bahwa manuskrip ini asli tetapi dipalsukan. Di antara alasan-alasan yang meragukan manuskrip ini, yaitu:
- Terlalu bersifat historis, isinya tidak sepopuler manuskrip kontemporer (babad, kidung, tambo, hikayat).
- Tidak ada catatan mengenai siapa saja anggota panitia Wangsakerta.
- Tidak ada sumber dari kerajaan-kerajaan dari Nusantara atau dari VOC mengenai keberadaan pertemuan "pakar sejarah" (panitia Wangsakerta) pada abad ke-17.
- Kesesuaian isi naskah dengan karya para sarjana Barat (J.G. de Casparis, N.J. Krom, Eugene Dubois dll.), oleh karena itu, ada dugaan bahwa manuskrip ini disusun dengan merujuk pada karya para ahli tersebut (yang tidak dibuat pada abad ke-17). Bahkan penyusun Naskah Wangsakerta pun melakukan kesalahan yang sama seperti De Casparis, yang terungkap setelah ditemukan bukti baru.[3]
- Kurangnya informasi tentang kerajaan Tarumanagara persis seperti yang ditemukan dalam sejarah modern.[3] Jika Naskah Wangsakerta dapat menyebutkan keberadaan kerajaan Salakanagara (yang menurut manuskrip Wangsakerta lebih tua dari Tarumanagara), selain urutan raja-raja secara berurutan, manuskrip ini juga seharusnya memuat informasi tentang Tarumanagara secara lebih rinci daripada sejarah modern.
- Bahasa Jawa Kuno yang digunakan tampak dikuno-kunokan dan tidak mewakili bahasa Jawa pada akhir abad ke-17. Bahkan para wali yang hidup pada abad ke-15 sudah menggunakan bahasa Jawa baru.[3]
- Kondisi fisik manuskrip (kertas/teks, tinta, struktur tulisan) menunjukkan bahwa manuskrip yang digunakan sebagai referensi adalah salinan dan tulisannya kasar, tidak seperti manuskrip kuno pada umumnya.[4]
- Termasuk nama kerajaan Sriwijaya, meskipun nama ini baru muncul pada abad ke-20, melalui sebuah penelitian yang dilakukan oleh George Cœdès.
- Membahas manusia purba, padahal studi ini baru muncul pada abad ke-19.
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Resensi buku "Jejak Naskah Pangeran Wangsakerta"
- 1 2 3 4 5 H. Lubis, Nina (Februari 2002). "Kontroversi Tentang Naskah Wangsakerta". Humaniora. XIV.
- 1 2 3 https://majalah.tempo.co/amp/ilmu-dan-teknologi/25644/naskah-itu-ternyata-palsu
- ↑ Kondisi fisik naskah sudah diteliti. Lihat Lubis (2002). Humaniora XIV:20-26
Daftar pustaka
[sunting | sunting sumber]- Ayatrohaedi (2005). Sundakala: cuplikan sejarah Sunda berdasarkan naskah-naskah "Panitia Wangsakerta" Cirebon. Pustaka Jaya, Jakarta. ISBN 979-419-330-5.
- Edi S. Ekajati (2005). Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta. Pustaka Jaya, Jakarta. ISBN 979-419-329-1.