Fatahillah

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Fatahillah (Arab: فتح الله) adalah tokoh yang dikenal mengusir Portugis dari pelabuhan perdagangan Sunda Kelapa dan memberi nama "Jayakarta" yang berarti Kota Kemenangan, yang kini menjadi kota Jakarta. Ia dikenal juga dengan nama Falatehan. Ada pun nama "Sunan Gunung Jati" dan "Syarif Hidayatullah", yang sering dianggap orang sama dengan Fatahillah, kemungkinan besar adalah mertua dari Fatahillah.

Latar belakang[sunting | sunting sumber]

Nama Faletehan (Falatehan) pertama kali disebutkan oleh Joao de Barros (1496-1570), seorang ahli sejarah bangsa Portugis, dalam seri bukunya yang berjudul Decadas da Asia (terbit pertama kali 1552-1615). Di situ ia melaporkan bahwa salah satu kapal brigantin (sejenis kapal layar bertiang dua), bagian dari armada Duarte Coelho, yang terdampar di pantai (Sunda) Kalapa telah diserang oleh pasukan Muslim di bawah pimpinan Falatehan dan semua penumpangnya yang adalah laskar Portugis dibunuh.[1]

Barros juga mencatat bahwa Falatehan berasal dari Pasai, Aceh Utara, yang kemudian pergi meninggalkan Pasai ketika daerah tersebut dialahkan Portugis. Falatehan pergi ke Mekah untuk mempelajari agama Islam, dan setelah dua atau tiga tahun lalu kembali ke Pasai. Oleh karena Pasai telah dikuasai Portugis, Falatehan melanjutkan perjalanannya ke tanah Jawa, ke Jepara, dan mengabdikan diri kepada raja di sana. Merasa puas atas pengabdiannya, Raja memberikan seorang adiknya kepada Falatehan untuk diperistri.[2] Graaf dan Pigeaud menganggap bahwa raja Jepara yang dimaksud adalah Raja Demak ketika itu, Sultan Trenggana.[3]:112-3

Setelah itu Falatehan berangkat untuk mengislamkan Banten, dan diberi dukungan 2.000 orang prajurit dan pembantu oleh Raja. Dengan dukungan pasukan Muslim itulah Falatehan menaklukkan pelabuhan Sunda (Kalapa dan Banten).[2]:86-87 Adolf Heuken berpendapat bahwa peristiwa terdamparnya armada Duarte Coelho di pantai Kalapa terjadi pada akhir November 1526,[4]:66, 76 jadi penaklukan Falatehan atas Kalapa mungkin terjadi pada pertengahan bulan November itu.

Ada pendapat lain yang mengatakan[siapa?] bahwa Fatahillah adalah putra dari raja Makkah (Arab) yang menikah dengan putri kerajaan Pajajaran.[butuh rujukan] Pendapat lainnya lagi mengatakan[siapa?] Fatahillah dilahirkan pada tahun 1448 dari pasangan Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina, dengan Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran, Raden Manah Rasa.[butuh rujukan]. Namun tidak jelas dari tradisi mana kedua pendapat ini berasal.

Ada sumber sejarah yang mengatakan[siapa?] sebenarnya ia lahir di Asia Tengah (mungkin di Samarqand), menimba ilmu ke Baghdad, dan mengabdikan dirinya ke Kesultanan Turki, sebelum bergabung dengan Kesultanan Demak.[butuh rujukan] Namun pendapat ini juga tidak jelas berasal dari mana.

Hubungan antara Sunan Gunung Jati dan Fatahillah[sunting | sunting sumber]

Sejarawan pada umumnya menganggap bahwa Fatahillah dan Sunan Gunung Jati adalah orang yang sama. Di antaranya adalah Husein Djajadiningrat,[5] H.J. de Graaf dan Th.G.Th. Pigeaud,[3]:111-13,[6]:11, Slamet Muljana,[7]:101-2, 223-34 dan Adolf Heuken.[8]:96-7 Setelah mengabdikan diri ke Demak, pada sekitar 1524-1525 Fatahillah --dengan sokongan sekitar 1500 prajurit-- menyerbu dan mengalahkan Banten, pelabuhan penting Kerajaan Sunda yang beragama Hindu, serta menguasainya sebagai raja bawahan Sultan Demak. Tahun-tahun berikutnya (1526-1527) Fatahillah menyerang dan menundukkan Sunda Kalapa, serta mengusir tentara Portugis yang hendak mendirikan benteng di wilayah Sunda. Setelah berkuasa hampir 30 tahun, pada sekitar 1552 Fatahillah meninggalkan Banten menuju Cirebon; dan menyerahkan kekuasaannya atas Banten kepada puteranya, Maulana Hasanuddin. Fatahillah kemudian tinggal sebagai penguasa dan pemuka agama di Cirebon sampai dengan wafatnya, hingga kelak dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.[3]:111-15

Di samping itu, ada pula pendapat yang beranggapan Sunan Gunung Jati tidak sama dengan Fatahillah [9]. Sunan Gunung Jati adalah seorang ulama besar dan muballigh yang lahir turun-temurun dari para ulama keturunan cucu Muhammad, Imam Husayn.[butuh rujukan] Nama asli Sunan Gunung Jati adalah Syarif Hidayatullah putra Syarif Abdullah putra Nurul Alam putra Jamaluddin Akbar.[butuh rujukan] Jamaluddin Akbar adalah Musafir besar dari Gujarat, India yang memimpin putra-putra dan cucu-cucunya berdakwah ke Asia Tenggara, dengan Campa (pinggir delta Mekong, Kampuchea sekarang) sebagai markas besar.[butuh rujukan] Salah satu putra Syekh Jamaluddin Akbar (lebih dikenal sebagai Syekh Maulana Akbar) adalah Syekh Ibrahim Akbar (ayah Sunan Ampel).[butuh rujukan]

Sedangkan Fatahillah adalah seorang Panglima Pasai, bernama Fadhlulah Khan, orang Portugis melafalkannya sebagai Falthehan. Ketika Pasai dan Malaka direbut Portugis, ia hijrah ke tanah Jawa untuk memperkuat armada kesultanan-kesultanan Islam di Jawa (Demak, Cirebon dan Banten) setelah gugurnya Raden Abdul Qadir bin Yunus (Pati Unus, menantu Raden Patah Sultan Demak pertama).

Dalam wawancara dengan majalah Gatra di akhir dekade 90, alm. Sultan Sepuh Cirebon juga mengkonfirmasi perbedaan 2 tokoh besar ini dengan menunjukkan bukti 2 makam yang berbeda. Syarif Hidayatullah yang bergelar Sunan Gunung Jati sebenarnya dimakamkan di Gunung Sembung, sementara Fatahillah (yang menjadi menantunya dan Panglima Perang pengganti Pati Unus) dimakamkan di Gunung Jati.

Menurut Saleh Danasasmita sejarawan Sunda yang menulis sejarah Pajajaran dalam bab Surawisesa, Fadhlullah Khan masih berkerabat dengan Walisongo karena kakek buyutnya Zainal Alam Barakat adalah adik dari Nurul Alam Amin (kakek Sunan Gunung Jati) dan kakak dari Ibrahim Zainal Akbar (ayah Sunan Ampel) yang semuanya adalah putra-putra Syekh Maulana Akbar dari Gujarat,India.


Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Barros, J. de (1777) Da Asia De Joāo De Barros: dos feitos, que os Portuguezes fizeram no descobrimento et conquista dos mares et terras do Oriente. Decada Quarta, Livr. I, cap. XIII: 85. Lisboa: Na Regia Officina Typografica, MDCCLXXVII.
  2. ^ a b Barros, J. de (1777) op.cit.: 86.
  3. ^ a b c Graaf, H.J. de & Th.G.Th. Pigeaud. (1974). "De eerste Moslimse Vorstendommen op Java. Studiën over de staatkundige Geschiedenis van de 15e en 16e eeuw". Verhandelingen v.h. Kon. Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, vol. 69. 's-Gravenhage.
  4. ^ Heuken, A. (1999). Sumber-sumber asli sejarah Jakarta, Jilid I. Jakarta: Cipta Loka Caraka
  5. ^ Djajadiningrat, H. (1983). Tinjauan kritis tentang Sajarah Banten. Jakarta: Penerbit Djambatan. (Terjemahan disertasi 1913: Critische Beschouwing van de Sadjarah Banten. Bijdrage ter kenschetsing van de Javaansche geschiedschrijving. Haarlem 1913).
  6. ^ Graaf, H.J. de. (1976). "Islamic States in Java 1500-1700: eight Dutch books and articles by Dr. H.J. de Graaf". Verhandelingen v.h. Kon. Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, vol. 70. 's-Gravenhage.
  7. ^ Muljana, S. (2005). Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara. Jogyakarta: LKiS.
  8. ^ Heuken, A. (2001). Sumber-sumber asli sejarah Jakarta, Jilid III. Jakarta: Cipta Loka Caraka
  9. ^ "Ternyata Fatahillah tak Identik dengan Sunan Gunung Jati. Ini bukti Otentiknya!!". Lyceum.id. 2016-09-30. Diakses tanggal 2019-02-07.