Gandrung Sewu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Festival Gandrung Sewu (Seribu Gandrung) di Pantai Boom, Banyuwangi
Gandrung Sewu episode Layar Kumendhung

Gandrung Sewu atau Seribu Gandrung merupakan salah satu event dari Banyuwangi Festival. Gandrung Sewu diadakan sejak tahun 2012 hingga sekarang. Pada awalnya Gandrung Sewu digelar untuk mengenalkan kebudayaan Banyuwangi khususnya Gandrung ke khalayak luas. Pada saat ini Gandrung Sewu sudah menjadi ikon pariwisata budaya Banyuwangi. Event ini diadakan setiap tahun sekali di Pantai Boom, yang berlatarkan selat Bali Gandrung Sewu juga menceritakan sejarah Blambangan pada masa berdirinya Kerajaan Blambangan sampai Kolonial. Gandrung Sewu sudah menampilkan beberapa episode yaitu :

  1. Gandrung Sewu
  2. Paju Gandrung
  3. Seblang Subuh
  4. Padha Nonton
  5. Seblang Lukinto
  6. Kembang Pepe
  7. Layar Kumendhung
  8. Panji - Panji Sunangkoro

Tema Gandrung Sewu[sunting | sunting sumber]

  1. Tema Paju Gandrung : Tema ini berasal dari salah satu babak yaitu Paju Gandrung. Pada babak ini penari akan mengajak pemaju untuk menari bersama. Mula-mula penari Gandrung melempar sampur (selendang) kepada pemaju atau mengalungi dengan sampur untuk menari bersama penari. Selain ada di salah satu babak pada Gandrung Semalam suntuk, Paju Gandrung juga biasa dimainkan pada saat menyambut tamu.
  2. Tema Seblang Subuh : Diambil dari salah satu babak Gandrung semalam suntuk, merupakan tarian penutup pada pertunjukan Gandrung Terop (Gandrung semalam suntuk). Tarian ini digunakan sebagai ajakan untuk sadar kembali setelah bersenang-senang atau nggandrung semalam suntuk. Ingat kembali kepada anak istri, pekerjaan esok hari, serta filosofi mendalam mengajak untuk mengigat kembali Tuhan Yang Maha Esa.
  3. Tema Padha Nonton : Al kisah sebuah peristiwa setahun setelah perang perlawanan rakyat Blambangan terhadap VOC di Tegalperangan, Songgon. VOC melakukan serangan balas dendam ke Benteng Bayu kekuatan yang tidak berimbangpun membuat masyarakat Bayu menjadi terpojok, namun perlawanan tetap dilakukan dengan segenap jiwa hingga akhirnya banyak yang ditangkap oleh VOC. Kekejaman pun tidak berakhir di sini, banyak kepala yang dipenggal lalu di tancapkan di pagar sepanjang desa, banyak pula yang digantung di pohon-pohon. Sedangkan orang orang yang sudah lemah dan tidak sanggup lagi melawan ternyata juga tidak luput menjadi sasaran kekejaman VOC. Mereka dibawa ke Ulupangpang setelah diikat dengan tali dan diberi pemberat mereka pun dilempar ke Laut Sembulungan. Peristiwa inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya Syair Padha Nonton, yang dinyayikan oleh sekelompok orang dengan diiringi tabuhan rebana, gendhang, juga gong. Dibawakan sembri menari pada perkembangannya sampai saat ini disebutlah mereka Kelompok Seni Gandrung.
  4. Tema Seblang Lukinto : Menceritakan perjuangan Rakyat Blambangan melawan Penjajah Belanda pada masa 1776-1810. Merupakan kelanjutan tema Podho Nonton yang menceritakan kebangkitan sisa-sisa prajurit Rempeg Jogopati.[1]
  5. Tema Kembang Pepe : diangkat dari barisan-barisan bait Seblang Lukinto yang menceritakan perjuangan masyarakat Blambangan melalui media seni buadaya seperti gandrung, barong dan lain lain.
  6. Tema Layar Kumendhung.

Refrensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Gandrung Sewu 2016 Angkat Tema "Seblang Lukinto"". jatim.antaranews.com. 14 September 2016. Diakses tanggal 2020-04-24.