Gandrung Sewu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Festival Gandrung Sewu (Seribu Gandrung) di Pantai Boom, Banyuwangi
Gandrung Sewu episode Layar Kumendhung

Gandrung Sewu (berarti Seribu Gandrung) merupakan salah satu event dari Banyuwangi Festival. Gandrung Sewu diadakan sejak tahun 2012 hingga sekarang. Pada awalnya Gandrung Sewu digelar untuk mengenalkan kebudayaan Banyuwangi khususnya Gandrung ke khalayak luas. Pada saat ini Gandrung Sewu sudah menjadi ikon pariwisata budaya Banyuwangi. Event ini diadakan setiap tahun sekali di Pantai Boom, yang berlatarkan selat Bali Gandrung Sewu juga menceritakan sejarah Blambangan pada masa berdirinya Kerajaan Blambangan sampai Kolonial. Gandrung Sewu sudah menampilkan beberapa episode yaitu :

  1. Gandrung Sewu
  2. Paju Gandrung
  3. Seblang Subuh
  4. Padha Nonton
  5. Seblang Lukinto
  6. Kembang Pepe
  7. Layar Kumendhung
  8. Panji - Panji Sunangkoro

Penyelenggaraan[sunting | sunting sumber]

Tahun Tanggal Tema Jumlah Penari Ref
2012 17 November 2012 Jejer Gandrung 1.044 [1]
2013 23 November 2013 Paju Gandrung 2.106
2014 29 November 2014 Seblang Subuh 1.300
2015 26 September 2015 Podho Nonton 1.208
2016 17 September 2016 Seblang Lukinto 1.300
2017 8 Oktober 2017 Kembang Pepe 1.286
2018 20 Oktober 2018 Layar Kumendhung 1.173
2019 12 Oktober 2019 Panji - Panji Sunangkoro 1.350
2020 Ditiadakan karena Pandemi Covid-19
2021[A] 28 Desember 2021 Kembang Menur 250

A. Bernama Gandrung Sewu Nusantara 2021. Digelar secara virtual dari 24 daerah di Indonesia dan 1 Perwakilan Hong Kong.

  1. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama A

Tema[sunting | sunting sumber]

Jejer Gandrung[sunting | sunting sumber]

Tema Jejer Gandrung yang berkisah tentang sejarah kelahiran Tari Gandrung. Jejer Gandrung sejatinya merupakan bagian awal atau pembuka pertunjukan Tari Gandrung Terob yang menyajikan tari lincah dengan menonjolkan gerak pinggul dan getar jari.

Paju Gandrung[sunting | sunting sumber]

Kisah Paju Gandrung berasal dari salah satu babak yaitu Paju Gandrung. Pada babak ini penari akan mengajak pemaju untuk menari bersama. Mula-mula penari Gandrung melempar sampur (selendang) kepada pemaju atau mengalungi dengan sampur untuk menari bersama penari. Selain ada di salah satu babak pada Gandrung Semalam suntuk, Paju Gandrung juga biasa dimainkan pada saat menyambut tamu.

Seblang Subuh[sunting | sunting sumber]

Tema Seblang Subuh diambil dari salah satu babak Gandrung semalam suntuk, merupakan tarian penutup pada pertunjukan Gandrung Terop (Gandrung semalam suntuk). Tarian ini digunakan sebagai ajakan untuk sadar kembali setelah bersenang-senang atau nggandrung semalam suntuk. Ingat kembali kepada anak istri, pekerjaan esok hari, serta filosofi mendalam mengajak untuk mengigat kembali Tuhan Yang Maha Esa.

Padha Nonton

Tema Padha Nonton mengisahkan sebuah peristiwa setahun setelah perang perlawanan rakyat Blambangan terhadap VOC di Tegalperangan, Songgon. VOC melakukan serangan balas dendam ke Benteng Bayu kekuatan yang tidak berimbangpun membuat masyarakat Bayu menjadi terpojok, namun perlawanan tetap dilakukan dengan segenap jiwa hingga akhirnya banyak yang ditangkap oleh VOC. Kekejaman pun tidak berakhir di sini, banyak kepala yang dipenggal lalu di tancapkan di pagar sepanjang desa, banyak pula yang digantung di pohon-pohon. Sedangkan orang orang yang sudah lemah dan tidak sanggup lagi melawan ternyata juga tidak luput menjadi sasaran kekejaman VOC. Mereka dibawa ke Ulupangpang setelah diikat dengan tali dan diberi pemberat mereka pun dilempar ke Laut Sembulungan. Peristiwa inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya Syair Padha Nonton, yang dinyayikan oleh sekelompok orang dengan diiringi tabuhan rebana, gendhang, juga gong. Dibawakan sembri menari pada perkembangannya sampai saat ini disebutlah mereka Kelompok Seni Gandrung.

Seblang Lukinto[sunting | sunting sumber]

Seblang lukinto menceritakan perjuangan Rakyat Blambangan melawan Penjajah Belanda pada masa 1776-1810. Merupakan kelanjutan tema Podho Nonton yang menceritakan kebangkitan sisa-sisa prajurit Rempeg Jogopati.[1]

Kembang Pepe[sunting | sunting sumber]

Kembang Pepe diangkat dari barisan-barisan bait Seblang Lukinto yang menceritakan perjuangan masyarakat Blambangan melalui media seni budaya seperti gandrung, barong dan lain lain.

Layar Kumendhung[sunting | sunting sumber]

Tema Layar Kumendung menampilkan kisah heroisme Bupati pertama Banyuwangi Raden Mas Alit dalam menentang pendudukan VOC Belanda. Meski kemudian Raden Mas Alit harus gugur dalam sebuah ekspedisi pelayaran (Layar) hingga menyebabkan kesedihan (Kumendung) bagi rakyat Banyuwangi.

Panji-Panji Sunangkoro[sunting | sunting sumber]

Panji-Panji Sunangkoro merupakan kelanjutan tema Layar Kumendung. Mengisahkan perlawanan prajurit pahlawan Rempeg Jogopati yang terus melakukan perlawanan terhadap Belanda. Mereka mendapat dukungan secara diam-diam dari Bupati Banywuangi pertama, Mas Alit. Namun, dukungan ini terendus oleh VOC, dan Mas Alit dipanggil ke Semarang dengan menaikkan Mas Alit ke kapal berbendara VOC. Para prajurit yang sudah siap melakukan perlawanan di laut dengan membawa Panji Sunangkoro, begitu melihat kapal VOC melintas mereka langsung menyerang kapal tersebut tanpa tahu bahwa di dalamnya ada Mas Alit.

Kembang Menur[sunting | sunting sumber]

Kisah Kembang Menur berasal dari barisan bait Padha Nonton yang menceritakan bagaimana pentingnya nilai kerja keras dan nilai kemandirian, dengan tekad, usaha, dan kerja keras dalam mencapai sesuatu yang positif.

Refrensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Gandrung Sewu 2016 Angkat Tema "Seblang Lukinto"". jatim.antaranews.com. 14 September 2016. Diakses tanggal 2020-04-24.