Prasasti Pucangan

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Prasasti Pucangan merupakan sebuah prasasti yang berbahasa Sanskerta dan Jawa Kuno,[1] berasal dari tahun 963 Saka atau 1042 Masehi.[2][3] Prasasti ini peninggalan zaman pemerintahan Airlangga, yang menjelaskan tentang beberapa peristiwa serta silsilah keluarga raja secara berurutan. Prasasti ini disebut juga dengan nama Calcutta Stone. Sekarang prasasti ini disimpan di Museum India di Kolkata (Calcutta), India.

Prasasti Pucangan terdiri dari dua prasasti berbeda yang dipahat pada sebuah batu, di sisi depan menggunakan bahasa Jawa Kuno dan di sisi belakang menggunakan bahasa Sanskerta, tetapi kedua prasasti tersebut ditulis dalam aksara Kawi (Jawa Kuno). Prasasti ini berbentuk blok berpuncak runcing serta pada bagian alas prasasti berbentuk bunga teratai.

Penamaan prasasti ini berdasarkan kata "Pucangan" yang ditemukan pada prasasti tersebut, yang menceritakan adanya perintah membangun pertapaan di Pucangan, sebuah tempat di sekitar Gunung Penanggungan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.[4]

Penemuan[sunting | sunting sumber]

Prasasti ini ditemukan pada masa Thomas Stamford Raffles menjadi Letnan Gubernur pemerintahan kolonial Inggris di Batavia. Pada tahun 1812, Raffles menyerahkan prasasti itu kepada atasannya, Gubernur Jenderal Inggris di India, Lord Minto. Prasasti itu lalu disimpan dan menjadi bagian dari rumah keluarga Minto di Kolkata.[5] Ketika keluarga Lord Minto pulang ke Hawick Skotlandia, prasasti ini tidak turut dibawa, melainkan disimpan di museum di Kolkata, India.[6]

Isi Prasasti[sunting | sunting sumber]

Prasasti Pucangan ditulis satu sisi bertulis Jawa kuno dan satu sisi berbahasa sansekerta. Berikut isi bagian yang berbahasa Sansekerta.

Silsilah Raja Airlangga, dimulai dari Sri Isyana Tunggawikrama (Mpu Sindok) yang mempunyai anak Sri Isyana Tunggawijaya. Dari perkawinan anaknya dengan Sri Lokapala, lahir Sri Makutawangsawardhana. Anak Makutawangsawardhana yang bernama Gunapriyadharmapatni (Mahendradatta) kawin dengan Udayana, dan lahirlah Airlangga.

Dalam prasasti juga disampaikan bahwa Airlangga menikah dengan putri raja sebelumnya, tetapi pada pernikahan itu keraton terbakar sehingga Airlangga harus melarikan diri ke hutan ditemani Mpu Narotama. Airlangga kemudian didatangi rakyat yang dipimpin oleh para Brahmana, mereka meminta agar Airlangga bersedia menjadi raja.

Kemudian di prasasti juga disampaikan pertempuran-pertempuran yang dimenangkan Airlangga, sehingga semua musuhnya ditaklukan satu persatu dan akhirnya pada tahun 959 saka (1037) Airlangga berhasil duduk di atas takhta dengan meletakkan kakinya di atas kepala semua musuhnya. Selanjutnya disebutkan juga bahwa Airlangga mendirikan sebuah pertapaan di Pugawat sebagai tanda terima kasihnya kepada para dewa.

Sedang pada bagian yang berbahasa Jawa Kuna disebutkan pada tanggal 10 paro terang bulan kartika 963 saka (6 November 1041), Airlangga yang bergelar Sri Maharaja Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Airlangga Anantawiramottunggadewa memerintahkan agar daerah-daerah Pucangan, Brahem, dan Bapuri dijadikan Sima untuk kepentingan sebuah pertapaan yang telah didirikannya.

Hal itu dilakukan untuk memenuhi janjinya ketika Pulau Jawa mengalami pralaya sebagai akibat serangan Raja Wurawari yang menyerbu lawan pada tahun 938 saka (1016) dan mengakibatkan raja yang memerintah sebelumnya (Dharmawangsa Teguh) berikut beberapa pejabat tinggi lainya tewas.

Teks prasasti berbahasa Sanskerta[sunting | sunting sumber]

Alih Aksara[sunting | sunting sumber]

Alih aksara prasasti bahasa Sanskerta (Witasari, 2009) adalah sbb.:[2][7]

  1. //svasti// tribhir api guṇair upeto nŗņāvvidhāne sthitau tathā pralaye aguņa iti yaḥ prasiddhas tasmai dhātre namassatatam
  2. agaṇivikramaguruņā praņamaya mānassurādhipena sadā api yas trivikramaitiprathito loke namastasmai
  3. yas sthāṇur apy atitara apy avepsitārthaprado guṇair jagatām kalpadrumam atanum adhaḥ karoti tasmai śivāya namaḥ
  4. kīrtyā khaṇḍita yā dhiyā karuṇ[ā]yā yas strīparatva[m] dadhac ca āp[a] karșaṇataś ca yaḥ praṇihitantībraṅkalaṅkaṅkare yaś ca asac carite parāṅmukhat[ā]ya śūro rathe bhīrutām svaja[i]rdoșān bhajate guṇais sa jayātadeirlaṅganāmānṛpaḥ
  5. āsīn nirjitabhūribūdharagaṇo bhūpālacūḍāmaṇiḥ prakhyāto bhuvanatraye pi mahatā śauryyeṇa siṃhopamaḥ yeno rvīsucira[m]dhṛtāmitaphalālakṣmīś cano gatvarī sa śrī kīrt[ī] valānvito yavapatiś śrīśānatuṅgāh vayaḥ
  6. tasya atmajā akaluşamanāsavāsaramyā hamsī yathā sugatapakşa sadābhavad dhā rājahaṃsamud[ā]m eva vivarddhayantī śrī iśanātungavijayeti rarāja rājñī

Alih Bahasa[sunting | sunting sumber]

Alih bahasa prasasti bahasa Sanskerta (Witasari, 2009) adalah sbb.

  1. Selamat! Hormat selalu baginya, yang diberkati dengan ketiga guna ketika takdir (milik) para manusia telah ditetapkan, hingga ketika kehancuran telah diatur, demikian bagi Pencipta (Brahma) tidak memiliki guṇa.
  2. Hormat baginya, demikianlah triwikrama (tiga langkah, Wisnu) yang dikenal di dunia oleh langkah(nya) yang besar tanpa perhitungan, juga selalu hormat oleh pikiran raja para dewa (Indra)
  3. Hormat bagi Śiwa, ia adalah sthanu yang melebihi pohon pengharapan yang besar milik dunia, juga menurunkan anugerah kesejahteraan yang sangat didambakan dengan segala guṇa
  4. Memanglah dia raja yang bernama Airlanga, seorang pahlawan yang telah menghancurkan di atas kereta perang dengan kemasyhuran ketika berperang. Dia telah menempatkan keunggulan wanita dengan pemahaman belas kasih, ketika memimpin ia berpaling membelakangi keburukan dan bersungguh-sungguh menghapus noda buruk di tangan, dia diberkati dengan segala guṇa karena rasa takut oleh dosa-dosanya sendiri.
  5. Adalah ia, bagaikan puncak perhiasan milik pelindung dunia yang sangat terkenal di tiga dunia, menaklukan pasukan yang berlimpah bagaikan gunung, kejayaan oleh tindakan kepahlawanan yang seperti singa. Sejak dahulu kala berbagai macam kesejahteraan berupa hadiah yang tak terhitung telah dimiliki bumi menuju pada kesenangan, dialah Śrī Īśānatuṅga, paduka yang mulia yang memiliki kembali kemasyhuran raja Jawa
  6. Anak perempuannya pengikut Buddha, ibarat angsa betina yang berada pada telaga Manasa yang suci sebuah tempat kediaman yang disenangi, yang selalu memberikan keharuman pada raja yang bagaikan angsa (jantan). Demikianlah, menjadi makmurlah ratu Śrī Īśānatuṅgawijaya, dia memerintah sebagai ratu.

Usaha pengembalian[sunting | sunting sumber]

Peter Brian Ramsey Carey, sejarawan asal Inggris, meminta Pemerintah Indonesia melakukan pendekatan kepada Pemerintah India dan keluarga Lord Minto, untuk dapat memulangkan Prasasti Pucangan dan Prasasti Sanggurah.[8][9] Sebab, Prasasti Pucangan dalam kondisi kurang terawat dan tergeletak terkena hujan dan panas di luar gudang Museum Kalkuta, sedangkan Prasasti Sanggurah juga kurang terawat dalam taman keluarga Minto di Skotlandia.[8] Namun, kepastian pengembalian kedua prasasti penting tersebut belum jelas hingga kini.[8][9]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Poesponegoro, M.D.; Notosusanto, N. (1992). Sejarah nasional Indonesia: Jaman kuno. PT Balai Pustaka. ISBN 979-407-408-X. 
  2. ^ a b Vernita Hapri, Witasari (2009). Prasasti Pucangan Sansekerta 954 Saka (Suatu Kajian Ulang) (PDF). FIB Universitas Indonesia. hlm. 22–42. 
  3. ^ Ekspedisi bengawan Solo: laporan jurnalistik Kompas : kehancuran peradaban sungai besar. Penerbit Buku Kompas. 2008. ISBN 9789797093907. 
  4. ^ Kern, H., (1917), Steen van den berg Pananggungan (Soerabaja), thans in’t India Museum te Calcutta, Verspreide Gescriften VII, 85-114, Gravenhage: Martinus Nijhoff.
  5. ^ Raffles, Sir Thomas Stamford, (1817), The History of Java, Vol. II, London:Black, Parbury, and Allen.
  6. ^ "Tolong! 2 Prasasti Sejarah Milik RI ini Telantar di Inggris dan India". detiknews. Diakses tanggal 2018-03-23. 
  7. ^ Vernita Hapri, Witasari (2009). hlm. 43-221.
  8. ^ a b c "International Institute for Asian Studies". iias.asia (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-09-17. 
  9. ^ a b Carey, Peter B. "A Tale of Two Governor Generals: Lord Minto and Jean-Chretien Baud and the Return of Indonesian National Heritage" (dalam bahasa Inggris). 

Bacaan lanjutan[sunting | sunting sumber]

  • Kern, H., (1913), Een Oud-Javaansche steeninscriptie van Koning Er-Langga, Gravenhage: Martinus Nijhoff, 13 h.
  • Stutterheim, W.E., (1937), Oudheidkundige aantekeningen:XLVIII. Waar lag Erlangga's kluizenarij van den Pucangan?, BKI, 95.
  • Poerbatjaraka, R. N., (1941), Strophe 14 van de-Sanskrit-zijde der Calcutta-steen, TBG, LXXXI, 425-437.