Lompat ke isi

Kerusuhan Banjarmasin

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kerusuhan Banjarmasin
Tanggal23 Mei 1997
LokasiBanjarmasin
SebabSaat itu Banjarmasin dilanda kerusuhan massal, menyusul kampanye Golkar pada hari terakhir putaran kampanye Partai Persatuan Pembangunan menjelang pemilihan umum legislatif Indonesia 1997.
HasilTim Pencari Fakta YLBHI mencatat 123 korban tewas, 118 luka-luka, dan 179 orang hilang. Menurut Komnas HAM, laporan mengenai angka yang hilang sebanyak 199 orang, tetapi kemudian dua orang sudah kembali, sehingga jumlah orang hilang sebanyak 197. Jika angka orang hilang ini dianggap sebagai tewas (yang sangat besar kemungkinannya), maka perkiraan korban tewas antara 302 hingga 320 orang. Korban tewas di Plaza Mitra dikunjungi tim pencari fakta Komnas HAM pada 31 Mei 1997.
Pihak terlibat
Warga, massa partai golkar, massa PPP, anggota TNI
Tokoh utama
Hasan Basri
Gusti Hasan Aman
Jumlah korban
123 korban, 118 luka-luka, 179 orang hilang, 5 anggota ABRI

Kerusuhan Banjarmasin terjadi pada tanggal 23 Mei 1997. Saat itu Banjarmasin dilanda kerusuhan massal, menyusul kampanye Golkar pada hari terakhir putaran kampanye Partai Persatuan Pembangunan menjelang pemilihan umum legislatif Indonesia 1997. Dilihat dari skala kerusuhan dan jumlah korban serta kerugiannya, peristiwa yang kemudian disebut sebagai Jumat Membara atau Jumat Kelabu itu termasuk salah satu yang terbesar dalam sejarah Orde Baru. Namun, akibat ketertutupan pemerintah, tidak ada laporan yang akurasinya bisa dipercaya penuh mengenai apa yang sesungguhnya terjadi di lapangan pada waktu itu. Dibandingkan dengan skalanya, berita-berita pers sangat terbatas dan tidak sebanding.[1]

Pada hari itu berlangsung putaran terakhir masa kampanye Pemilu 1997 dan bertepatan dengan hari Jumat, yang secara kebetulan merupakan hari kampanye Golkar. Menurut rencana semula, setengah hari kampanye diawali dengan kampanye simpatik berupa pendekatan kepada kalangan bawah dengan menyasar buruh, pengojek, dan tukang becak. Kemudian, setengah hari berikutnya, usai salat Jumat, kampanye akan dilanjutkan dengan panggung hiburan rakyat di Lapangan Kamboja. Pada acara tersebut akan hadir Menteri Sekretaris Kabinet Saadilah Mursjid, Ketua MUI Kiai Hasan Basri, dan artis-artis ibu kota. Rencana itu tidak pernah terwujud, karena yang terjadi kemudian adalah malapetaka berupa kerusuhan massal.[2]

Hingga tengah hari, semua kegiatan di tengah kota Banjarmasin masih berjalan normal. Begitu pula di mal terbesar di Banjarmasin kala itu Mitra Plaza, yang kemudian berubah sekejap menjadi pusat kerusuhan. Pengunjung dan pembeli ramai seperti biasanya, para pegawai pusat perbelanjaan berlantai empat itu pun bekerja sebagaimana hari-hari sebelumnya. Di lantai satu pusat perbelanjaan yang terletak di tepi sungai Martapura ini terdapat perkantoran, antara lain kantor Bank Bumi Daya (BBD). Lantai 2 digunakan sebagai tempat penjualan pakaian, sementara di lantai 3 terdapat swalayan Hero, toko buku Gramedia, restoran cepat saji CFC, dan sebuah bioskop. Di lantai 4 terdapat diskotek, kedai kopi, dan tempat hiburan, termasuk biliar dan sejenisnya.

Kronologi

[sunting | sunting sumber]
Masjid Noor Banjarmasin, salah satu saksi bisu Jum'at Kelabu,Banjarmasin.

Sekitar pukul 09.00, kegiatan kampanye mulai berlangsung meriah. Warna kuning tampak di berbagai sudut kota. Partai Golkar membagikan saputangan bergambar pohon beringin serta nasi bungkus, masing-masing sebanyak 10 ribu. Sasaran utama kampanye ini adalah para buruh, tukang becak, dan tukang ojek. Sekitar pukul 11.00, kegiatan pembagian nasi bungkus dan saputangan selesai dilaksanakan dengan tertib.

Pada sekitar pukul 12.00 atau waktu tengah hari, umat Islam melaksanakan salat Jumat. Ketika ibadah tengah berlangsung, sebagian massa kampanye Golkar yang kebanyakan terdiri atas anak muda dan remaja masih berkeliling kota dengan sepeda motor. Banyak di antara sepeda motor tersebut tidak menggunakan knalpot, sehingga suara bising dari raungan mesin dirasakan sangat mengganggu ketenangan para jemaah yang sedang beribadah.

Puncak ketegangan terjadi ketika arak-arakan sepeda motor melewati Masjid Noor di Jalan Pangeran Samudera, yang dikenal sebagai daerah basis Partai Persatuan Pembangunan. Berdasarkan laporan dari Tim Lembaga Bantuan Hukum Nusantara (LBHN) cabang Banjarmasin yang melakukan investigasi lapangan, saat massa kampanye melintas, jemaah salat Jumat yang memadati hingga ke badan jalan masih dalam posisi membaca doa.

Petugas kepolisian lalu lintas sebenarnya telah berupaya menghadang massa Golkar, tetapi satuan tugas partai tersebut bersikeras tetap melewati jalur itu dengan alasan bahwa pelaksanaan salat Jumat hanya tinggal pembacaan doa. Tidak lama setelah itu, kemarahan para jemaah pun meluas seusai salat Jumat dan menyebar dengan cepat ke berbagai penjuru kota Banjarmasin.

Usai salat Jumat, kerusuhan pecah di depan kantor DPD Golkar Kalimantan Selatan. Kabar mengenai kejadian itu dengan cepat menyebar, memicu kedatangan massa dalam jumlah besar yang sulit dikendalikan. Bentrokan pun terjadi antara massa dan satuan tugas (Satgas) Golkar yang sebagian besar berasal dari organisasi Pemuda Pancasila dan FKPPI. Karena jumlah massa jauh lebih banyak, Satgas Golkar akhirnya mundur untuk menyelamatkan diri. Akibat bentrokan tersebut, enam mobil peserta kampanye Golkar dibakar.

Sementara itu, di depan kantor Banjarmasin Post, ribuan orang dari arah timur menyerbu dengan membawa berbagai jenis senjata. Mereka berlari menuju Lapangan Kamboja, lokasi yang rencananya menjadi tempat kampanye Golkar berlangsung.

Sepanjang jalan, seluruh bendera, spanduk, dan umbul-umbul Golkar diturunkan lalu dibakar. Massa kemudian bergabung dengan kelompok penyerbu yang lebih dahulu muncul di pinggir lapangan. Panggung kampanye diserbu dan dirobohkan. Bentrokan sengit pun terjadi antara massa penyerbu dan sekitar dua puluh ribu pendukung Golkar yang sedang berkumpul di lokasi tersebut. Petugas keamanan tidak mampu mengendalikan kekacauan yang semakin meluas.

Sebuah rumah ibadah, yakni Gereja HKBP yang berada di dekat kantor Banjarmasin Post, mulai terbakar. Mobil pemadam kebakaran yang berusaha mencegah api menjalar ke gedung Banjarmasin Post terpaksa meninggalkan lokasi setelah petugasnya diancam dengan celurit oleh massa. Meski demikian, gedung Banjarmasin Post berhasil selamat dari kebakaran.

Sebagian massa kemudian menyerbu Hotel Istana Barito. Di lokasi tersebut, mereka berhadapan dengan ribuan pendukung Golkar yang sedang berkumpul di depan hotel untuk bersiap mengikuti kampanye pada sore hari. Dari arah barat, muncul ribuan massa lain yang sebagian mengenakan kaus hijau serta atribut PPP. Dengan membawa senjata tajam dan berbagai benda lainnya, mereka menyerbu kerumunan di depan hotel. Sejumlah mobil yang berada di sekitar lokasi hancur total, sementara kaca-kaca hotel pecah akibat lemparan batu.

Sekitar pukul 15.00, aliran listrik padam, menambah suasana menjadi semakin mencekam dan memperburuk situasi kerusuhan. Sebagian besar tamu Hotel Istana Barito masih berada di dalam kamar mereka dalam keadaan gelap gulita. Tiba-tiba, petugas keamanan hotel mengetuk pintu-pintu kamar sambil berteriak bahwa hotel terbakar. Para tamu pun berhamburan keluar menyelamatkan diri masing-masing.

Dalam waktu singkat, kerusuhan meluas ke berbagai penjuru kota. Massa terus melakukan perusakan sambil meneriakkan yel-yel PPP, sementara beberapa orang di antara mereka tampak mengenakan atribut PDI.

Suasana kota semakin kacau. Massa mulai merusak serta membakar mobil-mobil pribadi yang mereka temui di berbagai jalan, kemudian menjarah barang-barang di dalamnya. Sebuah mobil meledak setelah dibakar di tengah jalan. Di depan Mitra Plaza, sejumlah mobil tampak bergelimpangan, beberapa di antaranya terbakar hebat. Seorang perempuan terlihat mengendarai sepeda motor hanya dengan mengenakan pakaian dalam bagian atas, karena kaus bergambar Golkar yang dipakainya dirampas oleh massa. Jalanan dipenuhi batu berserakan dan pecahan kaca yang bertebaran di mana-mana.

Fasilitas umum di sepanjang jalan juga menjadi sasaran amuk massa. Mereka merusak serta melempari deretan rumah toko di sepanjang Jalan Hasanuddin H.M. hingga Jalan Ahmad Yani, kawasan Sudimampir, Jalan M.T. Haryono, dan Jalan Pangeran Samudera.

Di dalam kompleks Mitra Plaza, pimpinan Toko Buku Gramedia, setelah mendapat persetujuan dari manajemen pusat di Jakarta, memutuskan untuk menutup toko dan meminta seluruh karyawan segera meninggalkan tempat kerja. Para karyawan diminta pulang dengan pesan agar tidak mengenakan atribut Partai Persatuan Pembangunan dalam bentuk apa pun.

Di depan Mitra Plaza, petugas mulai menutup akses jalan dan membentuk pagar betis untuk melindungi kawasan pertokoan tersebut. Namun ribuan massa tak dapat dibendung. Mereka terus merangsek ke depan, memecahkan pagar betis petugas, menghancurkan kaca etalase, lalu memasuki gedung dan menjarah barang-barang yang ada. Gas air mata yang disemprotkan aparat tidak mampu membubarkan massa.

Pada saat itu, Mitra Plaza baru dirusak, belum terbakar. Namun, situasi berubah ketika sebuah mobil sedan putih didorong hingga menabrak kaca etalase toko mainan Toys Kids di lantai dasar, kemudian mobil tersebut dibakar. Api pun segera menjalar dan melahap seluruh bangunan Mitra Plaza.

Setelah Mitra Plaza terbakar, gedung-gedung lain segera ikut dilalap api. Malam itu, seluruh bangunan empat lantai Mitra Plaza hangus terbakar tanpa sisa. Sementara itu, kerusuhan tidak hanya melanda kawasan pertokoan, tetapi juga mulai menjangkau permukiman penduduk.

Kampung Kertak Baru Ulu, khususnya RT 10 yang dihuni sekitar 30 kepala keluarga, mulai terbakar sejak pukul 16.35 WITA. Kawasan permukiman ini terletak di belakang Jalan Pangeran Samudera. Api pertama kali muncul dari sebuah kelenteng, lalu menjalar ke rumah-rumah di belakangnya. Kobaran api bahkan mencapai asrama Polisi Militer ABRI yang hanya dipisahkan oleh sungai selebar tiga meter dari kawasan Kertak Baru Ulu.

Pada waktu yang bersamaan, di Jalan Veteran dan Jalan Lambung Mangkurat, enam gereja dan satu kelenteng juga dirusak dan dibakar massa. Beberapa rumah milik warga keturunan Tionghoa turut dilempari batu. Bahkan, ketika ada keluarga yang hendak menyelamatkan diri setelah mobil penjemput datang, kendaraan tersebut dihancurkan kacanya oleh massa, sehingga mereka terpaksa melarikan diri dengan berjalan kaki untuk menghindari amukan.

Rumah milik pemilik klub sepak bola Barito Putera yang juga merupakan calon anggota legislatif dari Partai Golkar menjadi sasaran amuk massa. Rumah tersebut diserbu dan dirusak. Kompleks perumahan perwira menengah ABRI juga mengalami kerusakan, kemungkinan karena beberapa penghuninya diketahui sebagai calon anggota legislatif dari Partai Golkar.

Sekitar pukul 17.00 WITA, massa bergerak kembali menuju kantor DPD I Partai Golkar, tetapi tidak langsung ke sana. Mereka terlebih dahulu berhenti di Junjung Buih Plaza. Generator listrik di plaza tersebut dibakar, menyebabkan gedung delapan lantai itu ikut terbakar. Di dalam gedung tersebut terdapat Hotel Kalimantan yang menjadi tempat menginap sejumlah artis dan juru kampanye yang mengikuti kegiatan kampanye.

Di hotel tersebut juga menginap Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, Kiai Hasan Basri, yang turut serta dalam rombongan kampanye. Di lokasi itu juga terdapat Gubernur Kalimantan Selatan beserta unsur musyawarah pimpinan daerah, yang akhirnya berhasil diselamatkan. Tidak diketahui secara pasti apakah terdapat korban jiwa di hotel tersebut, tetapi saat proses evakuasi berlangsung, banyak orang yang jatuh pingsan. Gubernur Kalimantan Selatan, Gusti Hasan Aman, mengaku sangat terkejut dan tidak percaya melihat tindakan massa yang begitu brutal.

Karena massa terus mengamuk, upaya pemadaman tidak dapat dilanjutkan. Petugas yang menyiram air terpaksa melarikan diri untuk menghindari kepungan massa. Beberapa tabung gas meledak setelah tersiram air dan ditinggalkan begitu saja akibat situasi yang semakin kacau. Sejumlah sepeda motor juga tidak dapat diselamatkan dan ikut terbakar dalam peristiwa tersebut.

Sekitar pukul 18.00 WITA, bagian belakang Gedung Anjung Surung mulai mengepulkan asap. Api membakar habis Apotek Kasio yang terletak di belakang gedung tersebut. Barisan pemadam kebakaran tidak berdaya karena massa menghalangi dan mengancam agar mereka tidak memadamkan api.

Secara luar biasa, meskipun api melahap bangunan-bangunan di sekitarnya, Gedung Anjung Surung tetap selamat dari kebakaran. Petugas Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Islam Banjarmasin melaporkan bahwa hingga pukul 17.30 WITA, rumah sakit tersebut merawat 12 orang korban. Delapan di antaranya mengalami luka akibat sabetan senjata tajam, sedangkan empat lainnya merupakan korban kecelakaan lalu lintas. Sementara itu, Rumah Sakit Umum Daerah Ulin merawat sedikitnya 20 orang pasien, termasuk Didik Triomarsidi, juru foto harian Banjarmasin Post, yang dianiaya massa saat meliput perusakan Gedung Dewan Pimpinan Daerah Golkar.

Pada saat itu, warga dari berbagai kampung mulai merasa cemas dan melakukan pengamanan di wilayah masing-masing. Mereka keluar rumah untuk menjaga setiap gang dan jalan masuk, lengkap dengan senjata tajam seperti mandau, pedang samurai, dan celurit. Penjagaan dilakukan sepanjang malam karena beredar kabar bahwa Golkar akan melakukan serangan balasan.

Sekitar pukul 20.30 WITA, massa bergerak menuju Supermarket Mitra yang merupakan pusat pertokoan terbesar di Banjarmasin dan terletak di Jalan Sumatra. Gedung berlantai empat tersebut berisi berbagai toko, antara lain toko elektronik, komputer, tempat hiburan malam, ruang pertemuan, ruang pamer mobil mewah, toko buku Gramedia, gerai CFC, bioskop 21, serta arena hiburan anak-anak. Massa berhasil menerobos blokade keamanan dan menjarah isi gedung sebelum melarikan diri. Sekitar pukul 20.00 WITA, gedung itu telah terbakar, dan api baru padam sekitar pukul 09.00 keesokan harinya.

Massa terus mengamuk dan merusak isi gedung. Pada saat itu beredar kabar bahwa pasukan keamanan telah mendapat izin untuk menangkap dan menembak di tempat, tetapi pasukan tersebut tidak mengambil tindakan apa pun. Akibatnya, massa yang membawa berbagai jenis senjata tajam terus bertindak anarkis.

Sekitar pukul 22.00 WITA, sebanyak 1.000 personel pasukan bantuan tiba menggunakan tiga pesawat Hercules. Berdasarkan laporan LBHN Banjarmasin, tidak diketahui asal kedatangan pasukan tersebut. Mereka kemudian bergerak mendekati Gedung Mitra Plaza untuk menghalau massa yang masih berada di dalam gedung. Senjata sempat meledak, tetapi LBHN Banjarmasin tidak memperoleh informasi mengenai jumlah korban dalam peristiwa tersebut.

Pada malam hari, jumlah massa mulai berkurang. Listrik masih padam dan seluruh kota berada dalam kegelapan, hanya diterangi oleh kobaran api di berbagai tempat. Beberapa lokasi telah diblokade oleh petugas keamanan, tetapi sekelompok massa masih berkerumun di sejumlah titik. Mereka memasuki kawasan permukiman sambil menyerang dengan celurit, kelewang, mandau, samurai, serta berbagai jenis senjata lainnya.

Beberapa rumah, kantor, dan warung di sekitar kantor Banjarmasin Post masih terbakar. Laporan awal menyebutkan bahwa secara keseluruhan ratusan rumah dan toko hancur, sementara sebuah gereja Katolik, sebuah bank, dan sebuah hotel juga mengalami kerusakan. Sekitar 80 orang dilaporkan terluka dan 50 orang lainnya ditahan.

Sekitar pukul 23.00 WITA, massa bergerak menuju ke luar kota dengan sasaran rumah-rumah calon anggota legislatif dari Partai Golkar. Tersiar kabar bahwa massa membawa formulir berisi Daftar Calon Tetap (DCT) Golkar. Empat rumah dibakar, meskipun belum dapat dipastikan apakah rumah tersebut milik calon legislatif Golkar atau bukan. Selain itu, toko-toko milik warga keturunan Tionghoa di sepanjang jalan juga menjadi sasaran perusakan dengan lemparan batu. Hampir seluruh toko di sepanjang Jalan Ahmad Yani mengalami kerusakan parah, dan kobaran api terlihat menjulang tinggi. Pada saat itu, pasukan keamanan mulai bergerak mengejar massa.

Sekitar pukul 00.00 WITA, seorang warga yang keluar rumah untuk melihat situasi ditemukan tergeletak akibat terkena tembakan. Berdasarkan laporan Tim LBHN Banjarmasin, suasana di jalan-jalan masih ramai. Banyak warga yang telah terlanjur berada di luar rumah kesulitan untuk kembali, karena sejumlah jalan telah diblokade oleh warga kampung. Orang yang bukan penduduk setempat tidak diizinkan masuk atau melintasi wilayah tersebut.

Sekitar pukul 01.00 WITA pada Sabtu, 24 Mei, massa mulai bergerak meninggalkan kota karena seluruh jalan telah diblokade oleh aparat keamanan. Suasana semakin tegang, terutama di pusat kota. Seluruh wilayah gelap gulita akibat listrik padam dan baru menyala kembali sekitar pukul 09.30 pagi.

Sekitar pukul 03.00 WITA, pasukan keamanan melakukan penggeledahan di Kampung Kelayan, yang dikenal sebagai kawasan terpadat di Banjarmasin dan memiliki banyak preman. Sebanyak 195 orang diamankan dan dibawa ke Markas Kepolisian Resor Kota Banjarmasin. Kondisi mereka dilaporkan babak belur, dan hampir seluruhnya sulit dikenali wajahnya.

Sekitar pukul 04.00 WITA, warga Perumahan Beruntung Jaya yang semalam suntuk berjaga karena isu akan diserang segera masuk ke rumah masing-masing ketika terdengar suara pasukan datang. Tidak diketahui secara pasti berapa orang yang diamankan dari kawasan tersebut.

Sekitar pukul 06.00 WITA, aparat keamanan yang berjumlah sekitar lima truk tiba di Kampung Teluk Tiram. Mereka melakukan pencarian terhadap massa yang diduga bersembunyi di wilayah itu. Aparat bersenjata lengkap berjaga di jalan-jalan utama dan memeriksa setiap orang yang melintas. Siapa pun yang tampak mencurigakan digeledah, bahkan warga yang berpakaian lusuh pun turut dihentikan untuk diperiksa.

Hingga keesokan harinya, Sabtu pagi, api masih tampak menyala di kompleks Mitra Plaza. Seluruh lantai gedung tersebut belum dapat dimasuki. Bau hangus dan busuk tercium hingga ke luar bangunan. Regu penyelamat belum dapat melakukan tindakan apa pun karena gedung masih dipenuhi api dan asap tebal. Proses evakuasi baru dapat dilakukan pada sore hari setelah sebagian api berhasil dipadamkan.

Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan melaporkan kepada Kepala Kepolisian Republik Indonesia mengenai kemungkinan adanya sejumlah korban yang terbakar di dalam kompleks pertokoan tersebut. Para pejabat dari Jakarta yang sebelumnya dijadwalkan mengikuti kegiatan kampanye diterbangkan kembali dari Banjarmasin, termasuk Sekretaris Kabinet Saadilah Mursyid dan Kiai Hasan Basri. Panglima Daerah Militer Tanjungpura, Mayor Jenderal Namoeri Anoem, kemudian menetapkan pemberlakuan jam malam di Kota Banjarmasin mulai pukul 20.00 hingga 05.00 WITA selama lima hari masa tenang kampanye, yaitu pada 24–29 Mei 1997.

Dari kerugian material, ratusan rumah, toko, gedung, dan bangunan lain, hancur luluh lantak. Yang hancur lebur termasuk gedung PLN Cabang Banjarmasin, Kantor Kanwil Depsos Kalsel, Kantor PDAM Banjarmasin, Kantor Pegadaian Banjarmasin, BDN, BRI, Bank Lippo, Bank Danamon, Bank Utama, BDNI, enam restoran, dua bioskop, tiga hotel (Hotel Kalimantan, Hotel Banjarmasin, Hotel Barito Palace). Selain Plaza Mitra, pusat-pusat pertokoan lain yang dihancurkan serta dijarah ialah Plaza Junjung Buih, Siolatama, Toserba Barata, Plaza Arjuna, Edwin Haouse, Toserba Lima Cahaya, dan pusat perbelanjaan Sudimampir.[3][4][5][6] Untuk data selanjutnya, lihat tabel.

Material Kondisi
Gereja Pantekosta di Jl. VeteranRusak
Gereja Kuning di Jl. VeteranHancur
Gereja Eben Etser di Jl. S. ParmanHancur
Gereja GKKA di Jl. VeteranHancur
Gereja HKBP di Jalan P. SamuderaLudes terbakar
Tempekong di Jl. VeteranHancur
Gedung Junjung Buih Plaza; Hotel Kalimantan, Pertokoan, Bank Lippodirusak dan dibakar
Departemen Store Lima Cahayadibakar habis
Swalayan Sari Kayadibakar habis
Banjarmasin Teaterdibakar habis
Swalayan Siaolatamahancur
Mitra Plazadibakar habis
Apotek Casiohancur
Arjuna Plazahancur
Kantor DPD I Golkar Kalseldibakar
Kantor Depdikbud di Jl. S. Parmandirusak
Kantor Depkesdirusak
Restoran Fajarhancur
Gedung PLNterbakar
Perusahaan Daerah Air Minumterbakar
Kantor Pegadaianterbakar
Bank Dagang Negara, BRI, Bank Danamon, Bank Utamaterbakar
Rumah Bos Barito Putera Galatamarusak
Rumah-rumah Cinarusak
Rumah penduduk belakang Gereja HKBPdibakar habis
Rumah penduduk di sepanjang jalan Bumi Masrusak
Rumah seorang pendetadigeledah dan dirusak
Sebuah panti Jompodibakar
SMA Katolikrusak berantakan
SD,SLTP, SMU di Jl.S Parmanterbakar
Kurang lebih enam mobil di depan kantor DPD I Golkarhangus terbakar
Dua mobil kijangdibakar
Satu ambulansrusak
Satu mobil Toyota Hard Toprusak
Dua sepeda motorrusak

Selain itu, ratusan penduduk tewas dan luka parah, belum termasuk yang luka-luka ringan. Jumlah korban jiwa 142 orang.[7] Jumlah angka korban ini bervariasi dan tidak sama. Pengumuman pertama mengenai jumlah tumpukan korban itu, dalam laporan Letkol (Pol) Friedy Tjiptoadi, Kapolres Banjarmasin, kepada Kol. (Pol) Sanimbar Kapolda Kalimantan Selatan, menyebut angka 60 orang. Sehari kemudian, angka itu menjadi 133 orang. Pangdam Mayjen Namoeri Anoem menyatakan, 187 orang ditahan sehubungan dengan kerusuhaan Jumat Membara. Polisi mengumumkan, 118 orang dibawa ke rumah sakit, banyak di antaranya dalam kondisi luka parah. Brigjen (Pol) Nurfaizi, Kadispen Polri, menyatakan, data terakhir menunjukkah 142 orang tewas, dengan rincian 140 tewas terbakar di Plaza Mitra, dan dua orang tewas di pusat perbelanjaan Lima Cahaya. Masih dalam pengumuman resmi ini, 118 orang luka-luka, ditambah 5 anggota ABRI. Tim Pencari Fakta YLBHI mencatat 123 korban tewas, 118 luka-luka, dan 179 orang hilang. Menurut Komnas HAM, laporan mengenai angka yang hilang sebanyak 199 orang, tetapi kemudian dua orang sudah kembali, sehingga jumlah orang hilang sebanyak 197. Jika angka orang hilang ini dianggap sebagai tewas (yang sangat besar kemungkinannya), maka perkiraan korban tewas antara 302 hingga 320 orang. Korban tewas di Plaza Mitra dikunjungi tim pencari fakta Komnas HAM pada 31 Mei 1997. Dua jam kemudian, 120 di antaranya dikuburkan secara massal dengan tata cara Islam di kompleks pemakaman Landasan Ulin Tengah, Kecamatan Landasan Ulin, Kota Administratif (sekarang kota otonom) Banjarbaru, yang terletak 22 kilometer sebelah tenggara Banjarmasin. Tiga korban lain sudah diambil keluarga mereka dan dikuburkan tersendiri. Komnas HAM melaporkan, tidak ada bukti telah digunakannya peluru tajam yang menyebabkan tewasnya korban kerusuhan. Dalam laporannya, Komnas HAM juga menyatakan, dalam memadamkan kerusuhan, aparat keamanan tidak menggunakan alat-alat yang mematikan, tetapi menggunakan letusan peringatan, granat asap, dan gas air mata.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Harris, Syamsudin (1999). Kecurangan dan Perlawanan Rakyat dalam Pemilihan Umum 1997. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. ISBN 979-461-313-4
  2. Sulistyo, Hermawan (1999). Anarki Enam Jam: Rekonstruksi Kerusuhan Jumat Membara di Banjarmasin. Hal.185
  3. (Inggris) The Nations:Violent was the breeze before the storm, June 2, 1997 page A-8 diakses 5 April 2011
  4. (Inggris) The New York Times:In Indonesia, A Deadly End To a Campaign, by Seth Midans, May 26, 1997 edition diakses 5 April 2011
  5. (Inggris) UNHCR:Chronology for Chinese in Indonesia, published 2004 diakses 5 April 2011
  6. (Inggris) The Independent:As Indonesia holds an election, a small town in Borneo burns, by Richard Lloyd Parry, 25 May 1997 edition Diarsipkan 2017-12-08 di Wayback Machine. diakses 5 April 2011
  7. Muhamad Hisyam, ed. (2003). Krisis masa kini dan Orde Baru. Yayasan Obor Indonesia. hlm. 225. ISBN 9794614602. ISBN 978-979-461-460-0

Pranala luar

[sunting | sunting sumber]