Wahyu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Untuk kitab Wahyu sebagai istilah Kristen, lihat Wahyu kepada Yohanes.

Wahyu adalah petunjuk dari Allah yang diturunkan hanya kepada para nabi dan rasul.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Etimologinya berasal dari kata kerja bahasa Arab وَحَى (waḥā) yang berarti memberi wangsit, mengungkap, atau memberi inspirasi.

Dalam agama Islam[sunting | sunting sumber]

Dalam syariat Islam, wahyu adalah qalam atau pengetahuan dari Allah, yang diturunkan kepada seluruh makhluk-Nya dengan perantara malaikat ataupun secara langsung. Kata "wahyu" adalah kata benda, dan bentuk kata kerjanya adalah awha-yuhi, arti kata wahyu adalah pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat.

Selanjutnya dijelaskan lebih dalam bahwa pengertian makna wahyu meluas menjadi beberapa makna, di antaranya adalah sebagai:

  • Perintah
  • Isyarat, seperti yang terjadi pada kisah Zakaria
  • Ilham secara kodrati dan insting

Ustad Muhammad Abduh mendefinisikan wahyu di dalam Risalah at-Tauhid adalah pengetahuan yang didapat oleh seseorang dari dalam dirinya dengan disertai keyakinan bahwa pengetahuan itu datang dari Allah melalui perantara ataupun tidak.

Penerima wahyu[sunting | sunting sumber]

Bentuk penyampaian wahyu[sunting | sunting sumber]

Ibnul Qoyim menyebutkan bahwa penyampaian wahyu yang diterima oleh Muhammad ada beberapa bentuk, diantaranya adalah:

  • Mimpi,[11]
  • Bisikan hati,[12]
  • Mendengar seperti gemerincing lonceng yang sangat dahsyat,[13]
  • Mendengar suara keras, seperti rantai yang digesekkan ke batu,
  • Perantara Malaikat Jibril dengan wujud manusia,[14] atau wujud aslinya,[15]
  • Wahyu yang disampaikan ketika menerima perintah sholat di langit ke-7,[16]
  • Allah berbicara langsung kepadanya, seperti kisah Musa tanpa perantara.[17]

Dalam agama Kristen[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman." Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka." (Al Anfaal 8:12)
  2. ^ "Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, Isa, Ayub, Yunus, Harun dan Sulayman, dan Kami berikan Zabur kepada Daud." (Al-Baqarah 4:163)
  3. ^ "Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami (Allah SWT) berkata, "Hai Zulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka." (Al-Kahfi: 86)
  4. ^ "...dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil), dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul." (Al Qashash 28:7)
  5. ^ Yuhanaz Bilzal namanya disebutkan di dalam buku Arjuzah Jauharah At-Tauhid, by Ibrahim bin Ibrohim bin Hasan Al-Laqqani, Lajnah Aqidah wal Filsafat Universitas Al-Azhar, Cairo, 2007-2008.
  6. ^ "Maka Maryam mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata, "Sesungguhnya aku berlindung dari padamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa." (Maryam: 17-18)
  7. ^ "...dan (ingatlah), ketika Aku ilhamkan kepada pengikut Isa yang setia: "Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku." Mereka menjawab: Kami telah beriman dan saksikanlah (wahai rasul) bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)." (Al Maa'idah 5:111)
  8. ^ "...dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia", (An-Nahl: 68)
  9. ^ "Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya, dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (Fushshilat: 12)
  10. ^ "Apabila bumi diguncangkan dengan guncangannya (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya, dan manusia bertanya, "Mengapa bumi (jadi begini)?", pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah mewahyukan kepadanya. (Az-Zalzalah: 1-5)
  11. ^ inilah permulaan wahyu yang diterima oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana keterangan Aisyah radhiyallahu ‘anha, أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مِنَ الْوَحْىِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِى النَّوْمِ ، فَكَانَ لاَ يَرَى رُؤْيَا إِلاَّ جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ "Awal permulaan wahyu yang datang kepada rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mimpi yang benar ketika beliau tidur.. setiap kali beliau bermimpi, beliau melihat seperti fajar subuh…" (HR. Bukhari 3 & Muslim 422).
  12. ^ beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, إنّ رُوحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي أَنّهُ لَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتّى تَسْتَكْمِلَ رِزْقَهَا "Sesungguhnya Ruh Kudus (Malaikat Jibril) membisikkan dalam hatiku, bahwa siapapun jiwa tidak akan mati sampai dia menghabiskan semua jatah rizkinya." (HR. Abdurrazaq dalam Mushannaf, 20100).
  13. ^ Al-Harith bin Hisham bertanya, ‘’Wahai rasulullah, bagaimana wahyu itu sampai padamu?’’ Beliau menjawab, ‘’Kadang-kadang seperti bunyi lonceng, dan itu sesuatu yang paling dahsyat yang sampai kepadaku, kemudian lenyap dan aku dapat mengulang apa yang dikatakan. Kadang-kadang malaikat hadir dalam jelmaan manusia dan berkata kepadaku dan aku dapat memahami apa yang dikatakannya.’’
  14. ^ Sebagaimana yang terjadi pada hadis dari Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu tentang iman, islam dan ihsan, yang dikenal dengan "Hadits Jibril".
  15. ^ Tiadalah yang diucapkan Muhammad itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan, yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat…. sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan… "...dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain." (An-Najm: 3-14).
  16. ^ "Sesungguhnya Aku Ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang haqq) selain aku, Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku." (Thaha:14).
  17. ^ Kejadian ini disebutkan dalam hadis isra’ mi’raj. (Zadul Ma’ad, 1/76).

Pranala luar[sunting | sunting sumber]