Żul Qarnain

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Dzul Qarnain)
Lompat ke: navigasi, cari
Eskatologi Islam
Portal Islam

Żul Qarnain (Arab: ذو القرنين Dzū al-Qarnayn) adalah julukan seorang raja yang disebutkan di dalam Qur'an, ia digambarkan sebagai seorang pemimpin yang adil dan bijaksana. Dikisahkan bahwa ia telah membangun tembok besi yang tinggi untuk melindungi kaum lemah dari serangan Ya’juj dan Ma’juj. Menurut Ibnu Abbas, Żul Qarnain adalah seorang raja yang shalih dan suka mengembara.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Secara harfiah Żul Qarnain memiliki arti "pemilik dua tanduk" atau "ia yang memiliki dua tanduk." Dzu (Arab: ذو, ḏżū) berarti "pemilik." Beberapa pendapat mengenai etimologi dari Żul Qarnain adalah sebagai berikut:[1]

  • Ia pernah meninggal dan hidup kembali setelah mendapat pukulan tepat di kepala bagian kanan dan kiri.[2]
  • Rancangan ketopong besinya memiliki tanduk.
  • Dia bisa melihat dengan jelas di siang hari dan di kegelapan malam.
  • Dia pernah hidup selama dua abad sehingga ia dapat disebut "Żu al-Qarnain" (ذوالقرن ن)

Sedangkan kata qarn (قرن) memiliki beberapa arti, di antaranya adalah kekuasaan (wilayah kekuasaannya meliputi wilayah Barat hingga Timur), kuat dan berani.

Genealogi[sunting | sunting sumber]

Menurut kisah dari Ubaid bin Umair (tokoh dari kalangan tabi'in) bahwa Żul Qarnain adalah sepupu Khidr dari pihak ibu, bertepatan dengan masa Ibrahim dan Luth, dikatakan pula bahwa Khidr menjadi penasehat spiritualnya.

Sedangkan menurut sejarawan Muslim yang lain, Żul Qarnain memiliki nama asli Abu Bakr Al-Himyari atau Abu Bakar bin Ifraiqisy dari daulah Al-Jumairiyah (115 SM – 552 M) dan kerajaannya disebut At-Tababi’ah.[3]

Dalam buku yang berjudul Jejak Yakjuj dan Makjuj karya Wisnu Sasongko di Books.google.com, Dzul Qarnain seorang raja Arab memiliki nama asli Abdullah bin adh Dhahhak, catatan lain mengisahkan namanya Mush'ab bin Abdullah keturunan Kahlal bin Saba'.[4]

Kisah Żul Qarnain[sunting | sunting sumber]

Pertemuan dengan Nabi Ibrahim[sunting | sunting sumber]

Al-Azraqi menyebutkan bahwa Żul Qarnain beragama Islam atas ajakan Khalilullah Ibrahim dan melakukan tawaf di Ka’bah al-Mukarramah bersama Ismail, diriwayatkan dari Ubaid bin Umair dan anaknya Abdullah dan lainnya bahwa Żul Qarnain melakukan ibadah Haji dengan jalan kaki, tatkala Ibrahim mengetahui kehadirannya, ia menemuinya, mendoakan dan meridainya. Kemudian Allah menundukkan untuknya awan yang bisa membawanya kemana ia mau.

Menurut Ibnu Katsir Żul Qarnain hidup di masa Nabi Ibrahim, 2.000 tahun sebelum masa Aleksander Agung orang Macedonia, Yunani. Ibnu Katsir juga menuliskan dalam Kitab Al-Bidayah wa an-Nihayah, bahwa Nabi Khadr adalah menterinya dan pergi haji dengan berjalan kaki. Ketika Ibrahim mengetahui bahwa kedatangannya, maka ia keluar dari Mekkah untuk menyambutnya. Ibrahim juga mendoakan dan memberikan nasihat-nasihat yang baik kepadanya.[5]

Dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir, menuliskan kisah dari Adhraqi bahwa Żul Qarnain melakukan thawaf dengan Ibrahim kemudian melaksanakan kurban.

Petualangan Żul Qarnain[sunting | sunting sumber]

Kisah perjalanan-perjalanan Żul Qarnain berikut ini terdapat pada Al-Qur'an surah Al-Kahfi 18:83-98. Berikut adalah kisah-kisah yang ditanyakan oleh Rabi Yahudi kepada Nabi Muhammad yang di wahyukan melalui Jibril kepadanya.

Menemukan umat tak beragama[sunting | sunting sumber]

Ketika Żul Qarnain sedang melakukan perjalanan kearah barat ia melihat matahari terbenam di dalam laut yang memiliki lumpur berwarna hitam, ia melihat sekelompok umat yang tidak memiliki agama, sehingga ia diperintahkan oleh Allah boleh untuk menyiksa atau mengajarkan agama kepada umat ini.

Menemukan umat teramat miskin[sunting | sunting sumber]

Pada perjalanan berikutnya kearah timur, Żul Qarnain menemukan umat lain yang sangat teramat miskin. Saking miskinnya mereka tidak bisa melindungi diri mereka sendiri dengan tempat untuk berteduh dari sinar matahari.

Membina tembok besi setinggi gunung[sunting | sunting sumber]

Sebuah peta Al-Idrisi (Selatan berada diatas) menunjukkan Ya'juj dan Ma'juj ditutupi dalam pegunungan gelap dibagian kiri-bawah dari daratan Eurasia.
Dzu al-Qarnain dilukiskan sedang dalam perundingan pembangunan dinding besi Ya’juj dan Ma’juj, (lukisan miniatur abad ke-16 dari Persia.

Kemudian Żul Qarnain melakukan perjalanan kembali hingga ia sampai didaerah pegunungan. Di antara dua gunung ia menemukan suatu kaum yang tidak ia mengerti bahasanya. Umat tersebut meminta tolong kepada Żul Qarnain untuk membuat pembatas untuk menghalau dua kelompok umat perusak, yaitu Ya'juj dan Ma'juj, mereka juga menjanjikan akan memberikan bayaran kepada Żul Qarnain, jika telah selesai pembuatan dinding pembatas tersebut. Akan tetapi Żul Qarnain menolak diberikan bayaran oleh mereka, pada akhirnya Żul Qarnain memberikan syarat kepada mereka untuk membantu Żul Qarnain dan pasukannya dalam membangun dinding pembatas tersebut.

Dikisahkan Żul Qarnain berhasil membangun dinding berupa potongan-potongan besi yang ditumpuk sama rata dengan kedua gunung, kemudian dituangkan tembaga panas ditumpukkan besi tersebut. Kemudian ia pun mengatakan kepada umat itu, bahwa kaum perusak itu tidak akan bisa mendaki atau melubanginya, sampai waktu yang dijanjikan oleh Allah akan berlubang dan runtuh, kemudia Ya'juj dan Ma'juj akan keluar dari celah tersebut seperti air bah.

Namun tidak diketahui secara persis di daerah mana keberadaan dinding tersebut. Hanya ada beberapa riwayat yang menyebutkan tentang masalah ini, namun riwayat tersebut terdapat kelemahan dalam sanadnya. Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu juga menyebutkan sebuah kisah tentang Khalifah Al-Watsiq yang mengirim sebagian utusannya untuk meneliti dinding tersebut, namun ia menyebutkan riwayat ini tanpa sanad.[6]

Mencari Air Kehidupan[sunting | sunting sumber]

Dzu al-Qarnayn dan Al-Khiḍr (kanan), takjub dengan penglihatannya terhadap seekor ikan air asin yang kembali hidup ketika ditaruh ke dalam Air Kehidupan.

Menurut sebuah kitab[7] Żul Qornain pernah mencari ‘Ayn al-Hayat (Air Kehidupan) yang didampingi oleh Malaikat Rofa'il dan Nabi Khidr. Kisah ini diriwayatkan oleh Ats-Tsa’Labi dari Ali.

  • Ketertarikan Żul Qarnain

Pada saat Raja Żul Qarnain pada tahun 322 S. M. berjalan di atas bumi menuju ke tepi bumi, Allah mewakilkan seorang malaikat yang bernama Rofa’il untuk mendampingi Raja Żul Qarnain. Di tengah perjalanan mereka berbincang-bincang, Raja Żul Qarnain berkata kepada Malaikat Rofa’il: “Wahai Malaikat Rofa’il ceritakan kepadaku tentang ibadah para malaikat di langit.”

Malaikat Rofa’il berkata, “Ibadah para malakat di langit di antaranya ada yang berdiri tidak mengangkat kepalanya selama-lamanya, dan ada pula yang rukuk tidak mengangkat kepala selama-lamanya.”

Kemudian Żul Qarnain berkata, “Alangkah senangnya seandainya aku hidup bertahun-tahun dalam beribadah kepada Allah.” Lalu malaikat Rofa’il berkata, “Sesungguhnya Allah telah menciptakan sumber air bumi, namanya ‘Ayn al-Hayat’ yang berarti, sumber air hidup. Maka barang siapa yang meminumnya seteguk, maka tidak akan mati sampai hari kiamat atau sehingga ia mohon kepada Allah supaya dirinya dimatikan.”

Kemudianya Żul Qarnain bertanya kepada malaikat Rofa’il, “Apakah kau tahu tempat ‘Ayn al-Hayat itu?” Malakat Rofa’il menjawab, “Bahwa sesungguhnya ‘Ayn al Hayat itu berada di bumi yang gelap."

  • Persiapan pencarian

Setelah raja mendengar keterangan dari Malaikat Rofa’il tentang ‘Ayn al hayat, maka raja segera mengumpulkan ‘alim ulama’ pada zaman itu, dan raja bertanya kepada mereka tentang ‘Ayn al Hayat itu, tetapi mereka menjawab, “Kita tidak tahu khabarnya, namun seorang yang alim di antara mereka menjawab, “Sesungguhnya aku pernah membaca di dalam wasiat Nabi Adam, ia berkata bahwa sesungguhnya Allah meletakkan ‘Ayn al Hayat di bumi yang gelap.”

“Di manakah tempat bumi gelap itu?” tanya raja. Seorang yang alim menjawab, “Di tempat keluarnya matahari.” Kemudian raja bersiap-siap untuk mendatangi tempat itu, lalu raja bertanya kepada sahabatnya. “Kuda apa yang sangat tajam penglihatannya di waktu gelap?” Para sahabat menjawab, “Kuda betina yang perawan.”

Kemudian raja mengumpulkan 1000 ekor kuda betina yang perawan-perawan, lalu raja memilih-milih di antara tentaranya, sebanyak 6.000 orang dipilih yang cendikiawan dan yang ahli mencambuk.

Di antara mereka adalah Nabi Khidir, bahkan ia menjabat sebagai perdana menteri. Kemudian berjalanlah mereka dan Nabi Khidir berjalan di depan pasukannya. Dalam perjalanan mereka menjumpai tempat keluarnya matahari itu tepat pada arah kiblat.

  • Perjalanan yang sangat jauh dan tempat yang gelap

Kemudian mereka tidak berhenti-henti menempuh perjalanan dalam waktu 12 tahun, sehingga sampai ditepi bumi yang gelap itu, dan ternyata gelapnya itu memancar seperti asap, bukan seperti gelapnya waktu malam.

Kemudian seorang yang sangat cendikiawan dan para pasukannya mencegah raja masuk ke tempat gelap itu dan berkatalah ia kepada raja: ”Wahai raja, sesungguhnya raja-raja yang terdahulu tidak ada yang masuk tempat yang gelap ini, karena tempat yang gelap ini berbahaya.” Lalu raja berkata: ”Kita harus memasukinya, tidak boleh tidak.”

Mereka semua membiarkan raja yang hendak masuk. Kemudian raja berkata kepada pasukannya: ”Diamlah, tunggulah kalian ditempat ini selama 12 tahun, jika aku bisa datang pada kalian dalam masa 12 tahun itu, maka kedatanganku dan penungguan kalian termasuk baik, dan jika aku tidak datang sampai 12 tahun, maka pulanglah kembali ke negeri kalian.”

Kemudian raja bertanya kepada Malaikat Rofa’il: ”Apabila kita melewati tempat yang gelap ini, apakah kita dapat melihat kawan-kawan kita?” “Tidak bisa kelihatan” jawab Malaikat Rofa’il. ”Akan tetapi aku memberimu sebuah merjan atau mutiara, jika merjan itu ke atas bumi, maka mutiara tersebut dapat menjerit dengan suara yang keras, dengan demikian maka kawan-kawan kalian yang tersesat jalan dapat kembali kepada kalian.”

Kemudian Raja Żul Qurnain masuk ke tempat yang gelap itu bersama sekelompok pasukannya, mereka berjalan di tempat yang gelap itu selama 18 hari tidak pernah melihat matahari dan bulan, tidak pernah melihat malam dan siang, tidak pernah melihat burung dan binatang liar, dan raja berjalan dengan didampingi oleh Nabi Khadr.

  • Ditemukan oleh Nabi Khidr

Di saat mereka berjalan, maka Allah memberi wahyu kepada Nabi Khidr, ”Bahwa sesungguhnya ‘Ayn al Hayat itu berada di sebelah kanan jurang dan ‘Ayn al Hayat ini Aku khususkan untuk kamu.”

Setelah Nabi Khidr menerima wahyu tersebut, kemudian ia berkata kepada raja dan para sahabatnya: “Berhentilah kalian di tempat kalian masing-masing dan janganlah kalian meninggalkan tempat kalian sehingga aku datang kepada kalian.”

Kemudian ia berjalan menuju ke sebelah kanan jurang, maka didapatilah olehnya sebuah ‘Ayn al Hayat yang dicarinya itu. Kemudian Nabi Khidr turun dari kudanya dan langsung melepas pakaiannya dan turun ke ‘Ayn al Hayat tersebut. Ia lalu mandi dan minum sumber air kehidupan tersebut, maka ia merasakan airnya lebih manis daripada madu.

Setelah ia mandi dan minum di ‘Ayn al Hayat tersebut, kemudian ia keluar dari tempat itu lalu menemui Raja Żul Qarnain, sedangkan raja tidak mengetahui apa yang telah terjadi pada Nabi Khidr, tentang penemuan dan mandi di sumber air tersebut.

  • Penyesalan pasukan Żul Qarnain

Menurut riwayat yang diceritakan oleh Wahab bin Munabbah, dia berkata, bahwa Nabi Khidr adalah anak dari bibi Raja Żul Qarnain, dan Raja Żul Qarnain keliling di dalam tempat yang gelap itu selama 40 hari, tiba-tiba tampak sinar seperti kilat dan sinar itu terlihat olehnya. Sinar itu berasal dari bumi yang berpasir merah dan terdengar oleh raja suara gemercik di bawah kaki kuda, kemudian raja bertanya kepada Malaikat Rofa’il, lalu malaikat itu menjawab: “Gemercik ini adalah suara benda, apabila seseorang mengambilnya, niscaya ia akan menyesal dan apabila tidak mengambilnya, niscaya ia akan menyesal juga.”

Kemudian setelah mereka keluar dari tempat gelap itu, di antara pasukan ada yang membawa benda itu, namun hanya sedikit saja, dan ternyata benda tersebut adalah batu permata, yakut yang berwarna merah dan zamrud yang berwarna hijau. Maka pasukan yang mengambil benda itu menyesal, karena mereka hanya mengambil sedikit, demikianlah pula dengan pasukan yang tidak mengambilnya mereka juga menyesal.

Kota dan seluruh isinya membatu[sunting | sunting sumber]

As-Sa'di menceritakan bahwa setelah Żul Qarnain mengelilingi berbagai negeri dan pernah memasuki kota Rass, disana ia menemukan raja, penduduk, pria, wanita, anak-anak, hewan-hewan, barang-barang, pepohonan, dan buah-buah, semuanya menjadi batu hitam, karena satu teriakan Malaikat Jibril. Penduduk ini biasa menggauli para wanitanya pada duburnya dan mereka juga tidak beriman kepada nabi mereka yaitu Hanzhalah bin Shafwan, dan mereka juga telah membunuh nabi tersebut.

Beberapa pendapat mengenai Żul Qornain[sunting | sunting sumber]

Diriwayatkan Waqi dari Israil dari Jabir dari Mujahid dari Abdullah bin Amr, dia berkata: “Żul Qornain seorang nabi”, diriwayatkan al-Hafid bin Asakir dari hadits Abi Muhammad bin Abi Nasr dari Abi Ishaq bin Ibrahim bin Muhammad bin Abi Duaib, berkata Muhammad bin Hamad, bercerita Abdu Razzaq dari Muammar dari Ibnu Abi Duaib dari Muqbiri dari Abu Hurairah ia berkata: “Rasulullah bersabda: Aku tidak tahu atau tidak, aku tidak tahu khudud itu menghapus dosa pelakunya atau tidak dan aku tidak tau Żul Qarnain itu seorang nabi atau bukan, dan ini garib dari sisi ini.

Berkata Ishaq bin Basyar dari Ustman bin as-Syaj dari Khusoif dari Ikrimah dari Ibnu Abbas berkata: “Żul Qarnain adalah seorang raja yang sholeh, Allah meridhoi amalnya” dan memuji dalam kitabnya. Dia adalah orang yang ditolong, Khidir adalah menterinya, dan disebutkan bahwa Khidir adalah pemimpin tentaranya, dia orang yang diajak bermusyawarah oleh sang raja sebagai menterinya dalam rangka memperbaiki masyarakat saat itu.

Berkata sebagian ahli kitab, karena dia raja Persia dan Romawi, dan dikatakan: Karena dia sampai pada dua ujung matahari barat dan timur dan menguasai keduanya, dan ini menyerupai kesalahannya yaitu perkataan az-Zuhri. Berkata Hasan al-Bashri: Dia memiliki dua jalinan rambut yang melingkar maka dinamakan Żul Qarnain. Berkata Ishaq bin Abdillah bin Basyar dari Abdillah bin Ziyad bin Sam’an dari Umar bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata: Dia memanggil raja yang zalim kepada Allah kemudian memukul tanduknya, mematahkanya dan meremukkannya, maka dinamakan Żul Qarnain.


Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Zulqarnain di Alhassanain.com
  2. ^ Al-Bidayah Wan Nihayah karya Ibnu Katsir lebih jauh menjelaskan, Żul Qarnain adalah nama gelar atau julukan seorang penglima penakluk sekaligus raja saleh. Karena kesalehannya ia selalu mengajak manusia untuk menyembah Allah. Namun mereka ingkar, malah memukul tanduknya (Qarnun, yaitu rambut kepala yang diikat) sebelah kanan, hingga ia mati. Lalu Allah menghidupkannya kembali, dan ia pun kembali berdakwah. Tetapi sekali lagi tanduknya yang kiri dipukul, sehingga ia mati lagi. Kemudian Allah menghidupkannya kembali dan menjulukinya Żul Qarnain, pemilik dua tanduk, serta memberinya kekuasaan.
  3. ^ Ya’juj Ma’juj & Dzulqornain ditulis oleh Budi Yahya di Oaseimani.com.
  4. ^ Jejak Yakjuj Dan Makjuj oleh Wisnu Sasongko hal.85 di Google Books.
  5. ^ Al-Bidayah wa an-Nihayah, hal. 108, jilid 3.
  6. ^ Kitab Tafsir Ibnu Katsir, 3/105.
  7. ^ Kisah Dzul Qarnain, Nabi Khadr dan Malaikat Rofa'il mencari Air Kehidupan, diriwayatkan oleh Ats-tsa’Labi dari Ali. Kitab Baidai’iz, karangan Syeikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas., halaman 166 – 168.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]