Kebajikan pokok
| Bagian dari seri tentang |
| Filsafat Katolik |
|---|
| Etika |
| Cabang |
|
|
Kebajikan pokok atau kebajikan kardinal (bahasa Inggris: cardinal virtues) adalah empat nilai luhur dalam pikiran dan karakter menurut filsafat klasik. Keempatnya meliputi kebijaksanaan, keadilan, keberanian, dan penguasaan diri. Seluruhnya membentuk sebuah teori etika kebajikan. Istilah "kardinal" berasal dari bahasa Latin cardo yang berarti 'poros'. Keempat kebajikan ini disebut "kardinal" karena semua kebajikan lainnya bernaung di bawahnya dan berporos pada keempat nilai tersebut.[1]
Kebajikan-kebajikan ini pada awalnya bersumber dari pemikiran Plato dalam Republik Buku IV, 426-435.[a] Aristoteles kemudian menguraikannya secara sistematis dalam karyanya Etika Nikomakheia. Selain itu, kaum Stoa juga mengakuinya, dan Cicero memperluas pembahasan mengenai nilai-nilai tersebut. Dalam tradisi Kristen, kebajikan-kebajikan ini tercantum dalam kitab-kitab Deuterokanonika, tepatnya dalam Kebijaksanaan Salomo 8:7 dan 4 Makabe 1:18-19. Para Pujangga Gereja seperti Ambrosius, Agustinus, dan Aquinas[2] kemudian menguraikan pasangan supranatural dari kebajikan tersebut, yaitu tiga kebajikan teologal: iman, pengharapan, dan kasih.
Empat kebajikan pokok
[sunting | sunting sumber]- Kebijaksanaan (φρόνησις, phrónēsis; Latin: prudentia; juga kearifan, sophia, sapientia), yaitu kemampuan untuk membedakan tindakan tepat yang harus diambil dalam situasi tertentu pada waktu yang tepat, dengan mempertimbangkan konsekuensi yang mungkin terjadi; kecermatan.
- Keadilan (δικαιοσύνη, dikaiosýnē; Latin: iustitia): juga dianggap sebagai kepatutan;[3] kata dalam bahasa Yunani untuk istilah ini juga memiliki makna kebenaran moral. also considered as fairness; the Greek word also having the meaning righteousness.
- Keberanian (ἀνδρεία, andreía; Latin: fortitudo): mencakup kesabaran, kekuatan, daya tahan, kegigihan, dedikasi, serta kemampuan untuk menghadapi ketakutan, ketidakpastian, dan intimidasi (keberanian, ketegasan, keberanian heroik, tekad). Secara khusus, kata ἀνδρεία (andreia), yang berkaitan erat dengan ἀνήρ (anēr; "laki-laki dewasa"), juga dapat diterjemahkan sebagai "kejantanan".
- Penguasaan diri (σωφροσύνη, sōphrosýnē; Latin: temperantia): juga dikenal sebagai pengekangan diri, praktik pengendalian diri, pantang, kebijaksanaan dalam bertindak, dan moderasi yang mengendalikan hasrat. Plato menganggap sōphrosynē, yang juga dapat diterjemahkan sebagai kesehatan pikiran, sebagai kebajikan yang paling utama. Istilah sōphrosýnē sering digunakan dalam konteks minum minuman keras dan "mengetahui takaran yang tepat" guna menghindari perilaku kasar atau pertengkaran.
Catatan
[sunting | sunting sumber]- ↑ Lihat pula Protagoras 330b, yang juga memasukkan kesalehan (hosiotes).
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Catholic Straight Answers website
- ↑ Thomas Aquinas. Summa Theologica. II(I).61.
- ↑ "Cardinal Virtues of Plato, Augustine and Confucius". ThePlatonist.Com. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-03-04.
Daftar pustaka
[sunting | sunting sumber]Pranala luar
[sunting | sunting sumber]- John Rickaby (1913). "Cardinal Virtues". In Herbermann, C. G., ed.
- Seven Virtues (atheism.com) Diarsipkan 2006-02-25 di Wayback Machine.
- Cardinal Virtues according to Aquinas (New Advent)