Lompat ke isi

Fundamentalisme

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Fundamentalisme adalah kecenderungan di antara kelompok atau individu tertentu yang ditandai dengan penerapan interpretasi literal yang ketat terhadap kitab suci, dogma, atau ideologi, disertai dengan keyakinan yang kuat akan pentingnya membedakan anggota kelompok dan bukan kelompok.[1][2][3] yang membawa penekanan pada beberapa konsepsi tentang "kemurnian", dan dorongan untuk kembali ke bentuk awal yang menurut para pendukungnya telah menyimpang. Istilah ini biasanya digunakan dalam konteks agama untuk mengindikasikan keterikatan yang tak tergoyahkan pada serangkaian keyakinan yang tidak dapat diubah ("dasar-dasar").[4]

Istilah "fundamentalisme" secara umum dianggap oleh para ahli agama untuk merujuk pada fenomena keagamaan yang sebagian besar berkembang pada masa modern yang, merupakan penafsiran ulang atas agama sesuai dengan parameter modernisme, mereifikasi agama sebagai reaksi terhadap kecenderungan modernis, sekularis, liberal, dan ekumenis yang berkembang dalam agama maupun masyarakat secara umum, yang dirasakan baru dalam tradisi keagamaan tersebut.[5] Tergantung pada konteksnya, label "fundamentalisme" dapat menjadi karakterisasi yang merendahkan alih-alih netral, mirip dengan cara menyebut perspektif politik "sayap kanan" atau "sayap kiri" yang dapat memiliki konotasi negatif.[6][7]

Dalam politik modern, fundamentalisme telah diasosiakan dengan ideologi sayap kanan konservatif, terutama konservtisme sosial. Konservatif sosial sering mendukung kebijakan yang sejalan dengan fundamentalisme agama, seperti mendukung ibadah di sekolah serta menentang hak-hak LGBT dan aborsi.[8] Sebaliknya, sekularisme telah dikaitkan dengan ideologi sayap kiri atau liberal, karena mengambil sikap yang berlawanan dengan kebijakan tersebut,[butuh rujukan] tetapi, berbagai kebijakan sayap kiri juga dianggap sebagai bentuk fundamentalisme,[9] terutama bentuk kewaspadaan yang lebih kuat.[10]

Penggunaan politik dari istilah "fundamentalisme" telah dikritik. Ini telag digunakan oleh kelompok politik untuk mencaci lawan, menggunakan istilah tersebut secara suka-suka tergantung pada kepentingan politik mereka. Menurut Judith Nagata, seorang profesor Asia Research Institute di National University of Singapore, "Para mujahidin Afganistan, yang bertempur melawan musuh Soviet pada tahun 1980-an, dulu bisa dipuji sebagai ‘pejuang kebebasan’ oleh para pendukung mereka di Amerika. Namun, Taliban masa kini — yang dianggap, antara lain, sebagai pelindung musuh Amerika, Osama bin Laden — secara tegas disebut sebagai ‘kaum fundamentalis'."[11]

"Fundamentalis" telah digunakan secara peyoratif untuk merujuk filsafat yang dianggap berpikiran literal atau membela diri seolah-olah menjadi satu-satunya sumber kebenaran objektif, terlepas dari apakah itu biasanya disebut agama. Sebagai contoh, Uskup Agung Wales telah mengkritik "fundamentalisme ateistik" secara luas[12][13][14] dan mengatakan "segala jenis fundamentalisme, baik itu Alkitabiah, ateistik, atau Islamis, berbahaya".[15] Dia juga berkata, "fundamentalisme baru di zaman kita ... mengarah pada bahasa pengusiran dan eksklusivitas, ekstremisme dan polarisasi, serta klaim bahwa, karena Tuhan ada di pihak kita, Dia tidak berada di pihak Anda.[16] Ia mencontohkan akibatnya dalam masyarakat: seperti dewan kota yang mengganti kata Natal dengan Winterval, sekolah yang tak lagi menggelar drama Natal (nativity play), atau salib yang dihapus dari kapel. Yang lain membantah bahwa pembatasan perayaan Natal adalah kabar yang dilebih-lebihkan, tidak semua sekolah melakukan drama kelahiran karena mereka memilih untuk menampilkan drama tradisional lainnya seperti A Christmas Carol atau "The Snow Queen" dan, karena meningkatnya ketegangan antara berbagai agama, membuka ruang publik untuk pertunjukan alternatif daripada adegan Natal adalah upaya untuk menjaga pemerintah tetap netral terhadap agama.[17]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Kunst, Jonas R.; Thomsen, Lotte; Sam, David L. (June 2014). "Late Abrahamic reunion? Religious fundamentalism negatively predicts dual Abrahamic group categorization among Muslims and Christians: Late Abrahamic reunion". European Journal of Social Psychology. 44 (4): 337–348. doi:10.1002/ejsp.2014.
  2. Kunst, J. R.; Thomsen, L. (2014). "Prodigal sons: Dual Abrahamic categorization mediates the detrimental effects of religious fundamentalism on Christian-Muslim relations". The International Journal for the Psychology of Religion. 25 (4): 293–306. doi:10.1080/10508619.2014.937965. hdl:10852/43723. S2CID 53625066.
  3. Hunsberger, B (1995). "Religion and prejudice: The role of religious fundamentalism, quest, and right-wing authoritarianism". Journal of Social Issues. 51 (2): 113–129. doi:10.1111/j.1540-4560.1995.tb01326.x. ... the fundamentalism and quest relationships with prejudice are especially meaningful in light of an association with right‐wing authoritarianism. ... In the end, it would seem that it is not religion per se, but rather the ways in which individuals hold their religious beliefs, which are associated with prejudice.
  4. Nagata, Judith (Jun 2001). "Beyond Theology: Toward an Anthropology of "Fundamentalism"". American Anthropologist. 103 (2): 481–498. doi:10.1525/aa.2001.103.2.481. Once considered exclusively a matter of religion, theology, or scriptural correctness, use of the term fundamentalism has recently undergone metaphorical expansion into other domains [...].
  5. Armstrong, Karen (2004). "Fundamentalism and the Secular Society". International Journal. 59 (4): 875–877. doi:10.2307/40203988. JSTOR 40203988.
  6. Harris, Harriet (2008). Fundamentalism and Evangelicals. Oxford: Oxford University Press. ISBN 978-0-19-953253-7. OCLC 182663241.
  7. Boer, Roland (2005). "Fundamentalism" (PDF). Dalam Tony Bennett; Lawrence Grossberg; Meaghan Morris; Raymond Williams (ed.). New keywords: a revised vocabulary of culture and society. Cambridge, Massachusetts: Blackwell Publishing. hlm. 134–137. ISBN 978-0-631-22568-3. OCLC 230674627. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal September 10, 2008. Diakses tanggal Juli 27, 2008. Widely used as a pejorative term to designate one's fanatical opponents – usually religious and/or political – rather than oneself, fundamentalism began in Christian Protestant circles in the eC20. Originally restricted to debates within evangelical ('gospel-based') Protestantism, it is now employed to refer to any person or group that is characterized as unbending, rigorous, intolerant, and militant. The term has two usages, the prior one a positive self-description, which then developed into the later derogatory usage that is now widespread.
  8. Martin, William (1996). With God on Our Side: The Rise of the Religious Right in America. New York: Broadway Books. ISBN 978-0-553-06745-3.
  9. Graham, Peter (2006-06-08), Lackey, Jennifer; Sosa, Ernest (ed.), "Liberal Fundamentalism and Its Rivals", The Epistemology of Testimony, Oxford University Press, hlm. 0, ISBN 978-0-19-927601-1, diakses tanggal 2025-01-15
  10. Kaufmann, Eric (2020-11-20). "Liberal Fundamentalism: A Sociology of Wokeness". American Affairs Journal (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-01-15.
  11. Nagata, Judith. 2001. Toward an Anthropology of "Fundamentalism." Toronto: Blackwell Publishing, p.9.
  12. Alister McGrath and Joanna Collicutt McGrath, The Dawkins Delusion? Atheist Fundamentalism and the Denial of the Divine, Society for Promoting Christian Knowledge (SPCK), February 15, 2007, ISBN 978-0-281-05927-0
  13. "Yr Eglwys yng Nghymru | The Church in Wales". Diarsipkan dari asli tanggal March 16, 2008. Diakses tanggal December 30, 2007.
  14. "'Atheistic fundamentalism' fears". BBC News. December 22, 2007. Diakses tanggal May 3, 2010.
  15. "Archbishop of Wales fears the rise of "Atheistic Fundamentalism"". Diarsipkan dari asli tanggal Desember 27, 2007. Diakses tanggal November 4, 2013.
  16. "Atheistic fundamentalism" fears". BBC News. 22 December 2007. Diakses tanggal November 4, 2013.
  17. Toynbee, Polly (December 21, 2007). "Sorry to disappoint, but it's nonsense to suggest we want to ban Christmas". The Guardian. London. Diakses tanggal May 3, 2010.