Sejarah Belanda

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Bagian dari seri artikel mengenai
Sejarah Belanda
Arms of the Kingdom of the Netherlands.svg
Flag of the Netherlands.svg Portal Belanda

Sejarah Negeri Belanda adalah sejarah bangsa bahari yang tumbuh dan berkembang di daerah tanah rendah delta sungai yang bermuara ke Laut Utara di kawasan barat laut Eropa. Catatan sejarah Negeri Belanda bermula dengan kurun waktu empat abad manakala daerah ini menjadi tapal batas wilayah Kekaisaran Romawi yang dijaga bala tentara. Daerah tapal batas ini kian lama kian terdesak oleh serbuan suku-suku bangsa Jermanik yang berpindah ke arah barat. Seiring runtuhnya Kekaisaran Romawi dan bermulanya Abad Pertengahan, tiga suku bangsa Jermanik terbesar tampil menguasai daerah ini, yakni suku bangsa Frisia di sebelah utara serta kawasan pesisir, suku bangsa Saksen Hilir di sebelah timur laut, dan suku bangsa Franka di sebelah selatan.

Pada Abad Pertengahan, kaum keturunan wangsa Karoling berhasil menguasai daerah ini, dan memperluas wilayah kekuasaan mereka hingga mencakup hampir seluruh kawasan barat Eropa. Negeri Belanda kala itu merupakan bagian dari Kadipaten Lotharingia Hilir di dalam wilayah Kekaisaran Romawi Suci yang didirikan dan diperintah oleh suku bangsa Franka. Selama beberapa abad, Negeri Belanda terbagi-bagi menjadi sejumlah swapraja feodal, antara lain Brabant, Holland, Zeeland, Friesland, dan Gelre, dengan tapal batas yang terus-menerus berubah. Belum ada wilayah kesatuan yang setara dengan wilayah negara Belanda sekarang ini.

Pada 1433, Adipati Burgundia berhasil menguasai seluruh daerah tanah rendah di Kadipaten Lotharingia Hilir, dan mendirikan swapraja Negeri Belanda Burgundia yang meliputi wilayah Belgia, Luksemburg, dan sebagian wilayah Prancis.

Raja-raja Spanyol yang beragama Katolik menindak keras penyebaran mazhab Protestan, yang menimbulkan perseteruan antarkelompok masyarakat di dua kawasan yang kini menjadi wilayah negara Belgia dan daerah Holland di Negeri Belanda. Pemberontakan rakyat Belanda yang berkobar sesudahnya mengakibatkan swapraja Negeri Belanda Burgundia pecah menjadi Negeri Belanda Spanyol dan Perserikatan Provinsi-Provinsi. Negeri Belanda Spanyol adalah wilayah selatan yang berpenduduk Kristen Katolik penutur bahasa Prancis dan bahasa Belanda (kurang lebih meliputi wilayah negara Belgia dan negara Luksemburg sekarang ini), sementara Perserikatan Provinsi-Provinsi adalah wilayah utara yang berpenduduk mayoritas Kristen Protestan dan minoritas Kristen Katolik penutur bahasa Belanda. Wilayah Perserikatan Provinsi-Provinsi inilah yang menjadi cikal bakal Negeri Belanda modern.

Pada Zaman Keemasan Negeri Belanda yang mencapai puncaknya sekitar tahun 1667, terjadi perkembangan di bidang perniagaan, industri, seni rupa, dan ilmu pengetahuan. Negari Belanda berkembang menjadi sebuah imperium makmur yang menguasai wilayah-wilayah jajahan di berbagai pelosok dunia, dan Kongsi Dagang Hindia Timur atau Kompeni Belanda muncul sebagai salah satu perusahaan dagang nasional tertua dan terpenting yang berasaskan kewirausahaan dan perniagaan.

Pada abad ke-18, kedigdayaan dan kemakmuran Negeri Belanda merosot. Negara ini melemah akibat berulang kali berperang melawan negara-negara jiran yang lebih kuat, yakni Inggris dan Prancis. Kerajaan Inggris merebut Nieuw Amsterdam, wilayah jajahan Belanda di Amerika Utara, dan mengganti namanya menjadi New York. Kerusuhan dan perseteruan sengit timbul di antara kaum pendukung Pangeran Oranje dan kaum Patriot. Revolusi Prancis merembet sampai ke Negeri Belanda selepas tahun 1789, dan bermuara pada pembentukan negara Republik Batavia pada tahun 1795. Napoleon menjadikan Republik Batavia sebagai salah satu negara satelit Prancis dengan nama Kerajaan Holland pada tahun 1806, namun di kemudian hari hanya menjadi salah satu provinsi Kekaisaran Prancis.

Setelah rezim Napoleon tumbang pada kurun waktu 1813–1815, berdiri Kerajaan Belanda Serikat dengan wilayah yang diperluas, dan diperintah oleh wangsa Oranje selaku kepala monarki yang juga berdaulat atas Belgia dan Luksemburg. Raja Belanda menerapkan pembaharuan-pembaharuan ala Kristen Protestan secara paksa di Belgia, sehingga rakyat Belgia bangkit memberontak pada tahun 1830, dan akhirnya merdeka pada tahun 1839. Setelah beberapa waktu tunduk pada pemerintah yang berhaluan konservatif, Negeri Belanda menjadi negara demokrasi parlementer yang dikepalai oleh seorang kepala monarki konstitusional berdasarkan konstitusi tahun 1848. Negara Luksemburg modern secara resmi merdeka dari Negeri Belanda pada tahun 1839, namun masih mengakui Raja Belanda sebagai kepala negara sampai dengan tahun 1890. Mulai dari 1890, jabatan kepala negara Luksemburg beralih ke cabang lain dari wangsa Nassau.

Negeri Belanda bersikap netral pada Perang Dunia I, tetapi tetap saja diserbu dan diduduki oleh Jerman Nazi pada Perang Dunia II. Jerman Nazi beserta antek-anteknya menciduk dan membunuh hampir semua warga Yahudi Belanda (yang paling terkenal adalah Anne Frank). Manakala perlawanan rakyat Belanda semakin sengit, Jerman Nazi menghambat pasokan pangan ke daerah-daerah, sehingga menimbulkan bencana kelaparan dahsyat pada kurun waktu 1944–1945. Pada tahun 1942, Hindia Belanda direbut Jepang, tetapi orang-orang Belanda sudah lebih dahulu menghancurkan sumur-sumur minyak yang sangat dibutuhkan Jepang. Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945. Suriname mendapatkan kemerdekaannya pada tahun 1975. Pada tahun-tahun pascaperang, Negeri Belanda mengalami pemulihan perekonomian (berkat penerapan Rencana Marshall yang dicetuskan Amerika Serikat), dan selanjutnya menerapkan konsep negara berkesejahteraan pada kurun waktu yang aman dan makmur. Negeri Belanda membentuk persekutuan baru di bidang ekonomi dengan Belgia dan Luksemburg, yang dinamakan Uni Beneluks. Ketiga negara ini kelak menjadi anggota pendiri Uni Eropa dan NATO. Pada beberapa dasawarsa terakhir ini, perekonomian Negeri Belanda telah terjalin rapat dengan perekonomian negara Jerman, dan kini sangat makmur.

Prasejarah (sebelum 800 SM)[sunting | sunting sumber]

Perubahan-perubahan bersejarah atas bentang alam[sunting | sunting sumber]

Prasejarah kawasan yang kini menjadi Negeri Belanda lebih banyak dibentuk oleh letak geografinya yang rendah dan terus-menerus berubah.

Negeri Belanda pada 5500 SM
Negeri Belanda pada 3850 SM
Negeri Belanda pada 2750 SM
Negeri Belanda pada 500 SM
Negeri Belanda pada 50 M
  Gisik dan gumuk
  Dataran endapan pasir akibat pasang surut, dataran endapan lumpur akibat pasang surut, rawa asin
  Rawa gambut dan daerah lanau dataran banjir
(termasuk alur sungai tua dan celah di tepian sungai yang sudah terisi lanau atau gambut)
  Lembah-lembah sungai utama (tidak tertutup gambut)
  Gumuk sungai (gumuk Pleistosen)
  Perairan terbuka (laut, laguna, sungai)
  Bentang alam Pleistosen (> -6 m dibandingkan dengan NAP)
  Bentang alam Pleistosen ( -6 m – 0 m)
  Bentang alam Pleistosen ( 0 m – 10 m)
  Bentang alam Pleistosen ( 10 m – 20 m)
  Bentang alam Pleistosen ( 20 m – 50 m)
  Bentang alam Pleistosen ( 50 m – 100 m)
  Bentang alam Pleistosen ( 100 m – 200 m)

Kelompok masyarakat pemburu-peramu tertua (sebelum 5000 SM)[sunting | sunting sumber]

Arca kecil dari kayu ek setinggi 125 cm (49,2 inci), ditemukan di Willemstad, Negeri Belanda. Diperkirakan dibuat sekitar tahun 4500 SM. Terpajang di Rijksmuseum van Oudheden, Leiden.

Kawasan yang kini menjadi Negeri Belanda sudah dihuni oleh manusia purba sekurang-kurangnya pada 37.000 tahun yang lampau, dibuktikan oleh penemuan alat-alat yang terbuat dari batu api di Woerden pada 2010.[1] Pada 2009, sisa-sisa sebuah tengkorak manusia Neanderthal berumur 40.000 tahun ditemukan dalam kegiatan pengerukan pasir dari dasar Laut Utara di perairan lepas pantai Zeeland.[2]

Pada Zaman Es terakhir, Negeri Belanda merupakan daerah beriklim tundra dengan vegetasi yang jarang, dan penduduknya bertahan hidup dengan bermata pencaharian sebagai pemburu-peramu. Selepas Zaman Es, Negeri Belanda didiami oleh pelbagai kelompok masyarakat berkebudayaan Batu Tua. Diketahui bahwa sekitar tahun 8000 SM, sekelompok masyarakat berkebudayaan Batu Madya bermukim di dekat Bergumermeer (Friesland). Sekelompok masyarakat yang bermukim di tempat lain diketahui sudah pandai membuat kano. Kano Pesse adalah kano tertua di dunia yang ditemukan di Negeri Belanda.[3][4] Berdasarkan analisis penentuan umur C14, kano ini dibuat pada kurun waktu 8200–7600 SM.[4] Kano Pesse kini terpajang di Museum Drents di Assen.

Masyarakat pribumi pemburu-peramu berkebudayaan Swifterbant terbukti sudah berdiam di Negeri Belanda sejak sekitar 5600 SM.[5] Kebudayaan ini berkaitan erat dengan sungai-sungai dan perairan terbuka serta masih berkerabat dengan kebudayaan Ertebølle (5300–4000 SM) di kawasan selatan Skandinavia. Di kawasan barat Negeri Belanda, suku-suku pengusung kebudayaan yang sama boleh jadi sudah mendirikan pondok-pondok perburuan untuk keperluan berburu selama musim dingin, termasuk berburu anjing laut.

Kedatangan budaya bercocok tanam (sekitar 5000–4000 SM)[sunting | sunting sumber]

Kepandaian bercocok tanam masuk ke Negeri Belanda sekitar 5000 SM bersama kebudayaan Tembikar Linear, yang mungkin dibawa oleh masyarakat-masyarakat tani dari kawasan tengah Eropa. Kegiatan bercocok tanam hanya dilakukan di dataran tinggi löss (tanah hasil endapan debu yang terbawa angin) di pelosok selatan Negeri Belanda (kawasan selatan Limburg), namun bahkan di tempat itu pun praktik bercocok tanam tidak bertahan lama. Lahan-lahan usaha tani tidak berkembang di semua daerah lain di Negeri Belanda.

Ada pula sejumlah jejak keberadaan permukiman-permukiman kecil yang tersebar di seluruh Negeri Belanda. Para pemukim di negeri ini mulai beternak antara 4800 SM dan 4500 SM. Arkeolog Belanda, Leendert Louwe Kooijmans, menulis bahwa "semakin lama semakin jelas bahwasanya transformasi bercocok tanam dari komunitas-komunitas prasejarah merupakan suatu proses yang sepenuhnya alamiah dan berlangsung sangat lamban."[5] Transformasi ini terjadi seawal-awalnya pada 4300 SM–4000 SM,[6] dan melibatkan pengenalan biji-bijian dalam jumlah kecil ke dalam spektrum perekonomian tradisional yang luas.[7]

Kebudayaan Bejana Corong dan kebudayaan-kebudayaan lainnya (sekitar 4000–3000 SM)[sunting | sunting sumber]

Hunebed D27, dolmen terbesar di Negeri Belanda, berlokasi di dekat Desa Borger, Provinsi Drenthe.

Kebudayaan Bejana Corong adalah sebuah kebudayaan tani yang berkembang mulai dari Denmark melewati Jerman sampai ke kawasan utara Negeri Belanda. Pada kurun waktu dalam prasejarah Negeri Belanda ini, didirikan peninggalan-peninggalan menonjol yang pertama, yakni dolmen-dolmen, monumen-monumen makam dari batu berukuran besar. Dolmen-dolmen ini ditemukan di Provinsi Drenthe, dan mungkin sekali didirikan antara 4100 SM dan 3200 SM.

Di kawasan barat, kebudayaan Vlaardingen (sekitar 2600 SM), yang tampaknya merupakan sebuah kebudayaan pemburu-peramu yang lebih primitif, terus bertahan hidup sampai memasuki Zaman Batu Muda.

Kebudayaan Gerabah Berlilit dan kebudayaan Bejana Genta (sekitar 3000–2000 SM)[sunting | sunting sumber]

Sekitar 2950 SM, terjadi peralihan dari kebudayaan tani Bejana Corong ke kebudayaan gembala Bejana Berlilit, sebuah ruang lingkup arkeologi yang luas muncul di kawasan barat dan tengah Eropa, yang dihubung-hubungkan dengan perkembangan rumpun bahasa India-Eropa. Peralihan ini mungkin sekali disebabkan oleh perkembangan-perkembangan di kawasan timur Jerman, dan berlangsung dalam dua generasi.[8]

Kebudayaan Bejana Genta juga berkembang di Negeri Belanda.[9][10]

Kebudayaan Bejana Berlilit dan kebudayaan Bejana Genta bukanlah kebudayaan asli Negeri Belanda namun pada hakikatnya merupakan kebudayaan-kebudayaan lintas Eropa yang berkembang di hampir seluruh kawasan utara dan tengah Eropa.

Bukti pertama penggunaan roda berasal dari kurun waktu ini, yakni sekitar 2400 SM. Kebudayaan ini juga mulai mencoba-coba mengolah tembaga. Bukti-bukti mengenai perkembangan ini meliputi paron-paron batu, pisau-pisau tembaga, dan sebilah mata tombak tembaga yang ditemukan di Veluwe. Temuan-temuan peralatan tembaga menunjukkan bahwa kala itu sudah ada perniagaan dengan kawasan-kawasan lain di Eropa karena tanah Negeri Belanda tidak mengandung tembaga.

Zaman Perunggu (sekitar 2000–800 SM)[sunting | sunting sumber]

Sarana upacara dari perunggu (bukan pedang, namun disebut "Pedang Jutphaas"), diperkirakan berasal dari 1800–1500 SM dan ditemukan di kawasan selatan Utrecht.

Zaman Perunggu mungkin sekali bermula sekitar 2000 SM dan berakhir sekitar 800 SM. Alat-alat perunggu tertua ditemukan di sebuah makam pribadi dari Zaman Perunggu yang disebut makam "Pandai Logam Wageningen". Lebih banyak lagi benda Zaman Perunggu dari masa-masa yang lebih kemudian telah ditemukan di Epe, Drouwen, dan daerah-daerah lain. Kepingan benda-benda perunggu yang ditemukan di Voorschoten tampaknya disiapkan untuk didaur ulang. Kegiatan daur ulang menunjukkan betapa berharganya perunggu bagi masyarakat Zaman Perunggu. Benda-benda perunggu yang lumrah dari kurun waktu ini meliputi pisau, pedang, kapak, fibula (peniti), dan gelang tangan.

Lokasi kebudayaan Elp dan kebudayaan Hilversum pada Zaman Perunggu.

Sebagian besar benda peninggalan Zaman Perunggu di Negeri Belanda ditemukan di Drenthe. Salah satu jenis dari benda-benda peninggalan ini menunjukkan bahwa jaringan perniagaan pada kurun waktu ini sudah membentang sampai ke tempat-tempat yang jauh, yakni sejumlah situlae (ember) perunggu berukuran besar hasil temuan di Drenthe yang agaknya dibuat di kawasan timur Prancis atau di Swiss. Benda-benda ini digunakan sebagai wadah untuk mencampur minuman anggur dengan air (adat Romawi/Yunani). Banyaknya barang temuan di Drenthe yang berupa barang-barang langka dan bernilai tinggi, misalnya beberapa untai kalung manik-manik timah, menyiratkan bahwa Drenthe merupakan sebuah pusat perniagaan di Negeri Belanda pada Zaman Perunggu.

Masyarakat-masyarakat pribumi berkebudayaan Bejana Genta (2700–2100 SM) berkembang menjadi masyarakat-masyarakat berkebudayaan Bejana Kawat Duri (2100–1800 SM). Pada milenium kedua SM, Negeri Belanda merupakan daerah perbatasan antara kawasan berkebudayaan Zaman Perunggu Atlantik dan kawasan berkebudayaan Zaman Perunggu Nordik, dan terbagi menjadi wilayah utara dan wilayah selatan yang dipisahkan aliran Sungai Rhein.

Di wilayah utara, berkembang kebudayaan Elp (sekitar 1800–800 SM),[11] yakni kebudayaan arkeologi Zaman Perunggu yang ditandai oleh pembuatan tembikar gerabah bermutu rendah yang disebut "Kümmerkeramik" (atau "Grobkeramik"). Tahap permulaan dari kurun waktu perkembangan kebudayaan Elp dicirikan oleh tumuli atau gundukan-gundukan makam (1800–1200 SM) yang berkaitan erat dengan tumuli semasa di kawasan utara Jerman serta Skandinavia, dan tampaknya masih berkerabat dengan kebudayaan Tumulus (1600–1200 SM) di kawasan tengah Eropa. Tahap permulaan ini disusul oleh tahap perkembangan berikutnya yang dicirikan oleh adat penguburan kebudayaan Padang Tempayan atau adat kremasi (1200–800 SM). Wilayah selatan didominasi oleh kebudayaan Hilversum (1800–800 M), yang tampaknya mewarisi keterkaitan budaya dengan Britania dari kebudayaan Bejana Kawat Duri sebelumnya.

Zaman pra-Romawi (800 SM – 58 SM)[sunting | sunting sumber]

Zaman Besi[sunting | sunting sumber]

Rekonstruksi tempat tinggal Zaman Besi di Reijntjesveld, dekat Desa Orvelte, Provinsi Drenthe.
Pedang besi lengkung asli dari Vorstengraf, Oss, tersimpan di Rijksmuseum van Oudheden.

Zaman Besi mendatangkan kemakmuran bagi masyarakat yang bermukim di Negeri Belanda. Bijih besi terdapat di seluruh pelosok Negeri Belanda, termasuk besi rawa gambut yang diekstrasi dari bijih di daerah rawa gambut (moeras ijzererts) di kawasan utara Negeri Belanda, bola-bola berkandungan besi alami yang ditemukan di Veluwe, dan bijih besi merah dekat sungai-sungai di Brabant. Para pandai logam berkelana dari satu permukiman kecil ke permukiman kecil lainnya dengan membawa serta perunggu dan besi untuk ditempa menjadi alat-alat berdasarkan pesanan, yakni kapak, pisau, jarum peniti, mata panah, dan pedang. Beberapa temuan bahkan menyiratkan bahwa para pandai logam ini sudah pandai pula membuat pedang berbahan baja Damaskus dengan menggunakan metode penempaan yang sudah lebih maju sehingga mampu memadukan kelenturan besi dengan kekuatan baja.

Di Oss, sebuah makam yang diperkirakan berasal dari tahun 500 SM ditemukan di dalam sebuah gundukan makam selebar 52 meter (gundukan makam terbesar di kawasan barat Eropa). Makam yang dijuluki "kubur raja" (Vorstengraf) ini berisi benda-benda yang luar biasa, antara lain sebilah pedang besi bertatahkan emas dan batu koral.

Pada abad-abad menjelang kedatangan bangsa Romawi, wilayah utara yang dahulu dihuni oleh masyarakat berkebudayaan Elp berkembang menjadi masyarakat yang mungkin sekali berkebudayaan Jermanik Harpstedt,[12] sementara wilayah selatan dipengaruhi oleh kebudayaan Hallstatt dan berasimilasi ke dalam kebudayaan Kelt La Tène. Suku-suku bangsa Jermanik yang berpindah ke arah selatan dan barat, serta kebudayaan Hallstatt yang meluas ke arah utara kala itu menarik masyarakat yang bermukim di Negeri Belanda ke dalam ruang lingkup pengaruh mereka.[13] Keadaan ini selaras dengan keterangan dalam catatan Yulius Kaisar bahwasanya Sungai Rhein merupakan batas antara wilayah suku bangsa Kelt dan wilayah suku bangsa Jermanik.

Kedatangan suku-suku bangsa Jermanik[sunting | sunting sumber]

Persebaran suku-suku bangsa Jermanik utama ca. 1 M.

Suku-suku bangsa Jermanik mula-mula mendiami kawasan selatan Skandinavia, Schleswig-Holstein, dan Hamburg,[14] tetapi masyarakat-masyarakat berkebudayaan Zaman Besi dari kawasan yang sama, seperti masyarakat berkebudayaan Wessenstedt (800–600 SM) dan masyarakat berkebudayaan Jastorf, mungkin pula termasuk dalam kelompok ini.[15] Memburuknya iklim di Skandinavia sekitar 850–760 SM yang semakin pesat sekitar 650 SM mungkin memicu perpindahan suku-suku bangsa ini. Bukti-bukti arkeologi menyiratkan bahwa pada sekitar 750 SM, Negeri Belanda sampai ke Vistula dan kawasan selatan Skandinavia didiami oleh masyarakat Jermanik yang relatif seragam.[14] Di kawasan barat Negeri Belanda, dataran-dataran banjir di daerah pesisir untuk pertama kalinya didiami oleh kaum pendatang baru ini, karena daerah-daerah yang lebih tinggi di sekitarnya sudah mengalami pertambahan populasi dan menjadi lahan tandus.[16]

Ketika proses perpindahan ini rampung sekitar 250 SM, terbentuklah kelompok-kelompok budaya dan bahasa.[17][18]

Kelompok pertama, yang diberi nama kelompok suku bangsa "Jermanik Laut Utara", mendiami kawasan utara Negeri Belanda (daerah di sebelah utara sungai-sungai besar) dan menyebar ke seluruh pesisir Laut Utara sampai ke Jutland. Kelompok ini kadang-kadang disebut pula kelompok suku bangsa "Ingveon", dan mencakup suku-suku bangsa yang di kemudian hari berkembang menjadi antara lain suku bangsa Frisia perdana dan suku bangsa Saksen perdana.[18]

Kelompok kedua, yang oleh para ahli diberi nama kelompok suku bangsa "Jermanik Weser-Rhein" (atau "Jermanik Rhein-Weser"), tersebar di sepanjang kawasan tengah dari daerah aliran Sungai Rhein serta Sungai Weser, dan mendiami kawasan selatan Negeri Belanda (daerah di sebelah selatan sungai-sungai besar). Kelompok ini kadang-kadang disebut pula kelompok suku bangsa "Istveon", dan terdiri atas suku-suku bangsa yang di kemudian hari berkembang menjadi suku bangsa Franka Sali.[18]

Suku bangsa Kelt di kawasan selatan Negeri Belanda[sunting | sunting sumber]

Persebaran diakronik masyarakat Kelt, menunjukkan perluasan wilayah di kawasan selatan Negeri Belanda:
  Pusat kebudayaan Hallstatt, pada abad ke-6 SM
  Perluasan wilayah maksimal suku bangsa Kelt, pada 275 SM
  Daerah orang Lusitania di Iberia, tempat keberadaan masyarakat Kelt tidak dapat dipastikan
  daerah-daerah tempat bahasa-bahasa Kelt masih dituturkan secara luas sampai sekarang

Kebudayaan Kelt berasal dari kebudayaan Hallstatt (ca. 800–450 SM) di kawasan tengah Eropa, yakni kebudayaan yang meninggalkan jejak berupa benda-benda bekal kubur yang ditemukan di Hallstatt, Austria.[19] Di kemudian hari, pada kurun waktu perkembangan kebudayaan La Tène (ca. 450 SM sampai Negeri Belanda ditaklukkan oleh bangsa Romawi), kebudayaan Kelt ini, baik melalui difusi maupun migrasi, menyebar luas sampai ke kawasan selatan Negeri Belanda. Kawasan selatan Negeri Belanda ini merupakan batas utara dari daerah persebaran suku bangsa Galia.

Pada bulan Maret 2005, 17 keping uang logam Kelt ditemukan di Echt, Limburg. Kepingan-kepingan uang perak yang bercampur tembaga dan emas ini diperkirakan berasal dari sekitar tahun 50 SM sampai 20 M. Pada bulan Oktober 2008, harta karun berupa 39 keping uang emas dan 70 keping uang perak Kelt ditemukan di daerah Amby, Maastricht.[20] Kepingan-kepingan uang emas diyakini berasal dari masyarakat Eburones.[21] Benda-benda buatan suku bangsa Kelt juga telah ditemukan di daerah Zutphen.[22]

Meskipun harta karun sangat jarang ditemukan, pada beberapa dasawarsa terakhir, sejumlah kepingan uang logam dan benda-benda buatan Kelt lainnya telah ditemukan di seluruh kawasan tengah, timur, dan selatan Negeri Belanda. Menurut para arkeolog, barang-barang temuan ini membuktikan bahwa sekurang-kurangnya daerah Lembah Sungai Maas di Negeri Belanda termasuk dalam ruang lingkup pengaruh kebudayaan La Tène. Para arkeolog Belanda bahkan berspekulasi bahwa Zutphen (yang terletak di kawasan tengah wilayah Negeri Belanda) merupakan daerah permukiman suku bangsa Kelt sebelum kedatangan bangsa Romawi, dan sama sekali bukan daerah permukiman suku bangsa Jermanik.[22]

Para ahli berbeda pendapat mengenai luas yang sebenarnya dari ruang lingkup pengaruh budaya Kelt.[16][23] Pengaruh budaya Kelt dan kontak-kontak antara kebudayaan Galia dan kebudayaan Jermani perdana di sepanjang Sungai Rhein diduga sebagai sumber dari sejumlah kata serapan dari bahasa Kelt dalam kosakata bahasa proto Jermanik. Namun menurut ahli bahasa berkebangsaan Belgia, Luc van Durme, bukti toponim dari keberadaan suku bangsa Kelt di Negeri-Negeri Dataran Rendah nyaris tidak ada sama sekali.[24] Meskipun suku bangsa Kelt pernah bermukim di Negeri Belanda, inovasi-inovasi Zaman Besi tidak menampakkan pengaruh budaya Kelt yang cukup berarti, dan justru menampakkan hasil pengembangan kebudayaan Zaman Perunggu yang dilakukan oleh masyarakat setempat.[16]

Teori Blok Barat Laut[sunting | sunting sumber]

Beberapa orang ahli (De Laet, Gysseling, Hachmann, Kossack, dan Kuhn) telah berspekulasi bahwa ada suku bangsa lain, bukan Jermanik maupun Kelt, yang mendiami Negeri Belanda sampai dengan Zaman Romawi. Ahli-ahli ini berpandangan bahwa Negeri Belanda pada Zaman Besi adalah bagian dari "Blok Barat Laut" (bahasa Belanda: Noordwestblok) yang membentang mulai dari Sungai Somme sampai ke Sungai Weser.[25][26] Menurut pandangan mereka, peradaban yang memiliki bahasa sendiri ini melebur ke dalam peradaban Kelt yang datang dari arah selatan dan peradaban Jermanik yang datang dari arah timur selambat-lambatnya pada Zaman Pra-Romawi.

Zaman Romawi (57 SM – 410 M)[sunting | sunting sumber]

Suku-suku pribumi[sunting | sunting sumber]

Pada masa Perang Galia, wilayah suku-suku Belgi di sebelah selatan Oude Rijn dan di sebelah barat Sungai Rhein ditaklukkan oleh bala tentara Romawi di bawah pimpinan Yulius Kaisar dalam serangkaian aksi militer yang dilancarkan sejak 57 SM sampai 53 SM.[26] Suku-suku yang mendiami Negeri Belanda kala itu tidak meninggalkan keterangan tertulis, sehingga segala informasi mengenai suku-suku ini pada kurun waktu pra-Romawi bersumber dari keterangan yang ditulis oleh orang Yunani dan Romawi mengenai mereka. Salah satu keterangan tertulis semacam ini adalah Commentarii de Bello Gallico (Ulasan Perihal Perang Galia) yang ditulis sendiri oleh Yulius Kaisar. Menurut keterangan Yulius Kaisar, dua suku utama penghuni kawasan yang kini menjadi wilayah kedaulatan Negeri Belanda adalah suku Menapii dan suku Eburones, kedua-duanya bermukin di kawasan selatan Negeri Belanda, yakni kawasan yang diperangi oleh Yulius Kaisar. Yulius Kaisar mencetuskan gagasan bahwa Sungai Rhein adalah tapal batas alamiah antara Galia dan Germania Magna. Akan tetapi Sungai Rhein bukanlah tapal batas yang kaku, karena Yulius Kaisar juga menerangkan bahwa sebagian wilayah Galia Belgika didiami oleh banyak suku pribumi (termasuk suku Eburones) yang tergolong suku-suku "Germani Cisrhenani" (suku-suku Jermanik seberang sini, suku-suku Jermanik di tepi barat Sungai Rhein) atau campuran berbagai suku bangsa yang berbeda-beda asal-usulnya.

Suku Menapii mendiami wilayah yang membentang dari kawasan selatan Zeeland, melewati Brabant Utara (dan mungkin sekali Holland Selatan), sampai ke kawasan tenggara Gelderland. Pada penghujung Zaman Romawi, wilayah kekuasaan mereka tampaknya terbagi-bagi atau menyusut, sehingga akhirnya hanya meliputi daerah yang kini menjadi kawasan barat negara Belgia.

Suku Eburones, suku terbesar di antara suku-suku Germani Cisrhenani, mendiami wilayah yang luas termasuk sekurang-kurangnya sebagian dari wilayah Limburg Belanda, membentang ke sebelah timur sampai ke Sungai Rhein di Jerman, dan juga ke sebelah barat laut sampai ke kawasan delta, sehingga berbatasan langsung dengan wilayah kekuasaan suku Menapii. Wilayah kekuasaaan kekuasaan suku Eburones mungkin pula membentang sampai ke Gelderland.

Mengenai daerah delta itu sendiri, Yulius Kaisar secara sambil lalu mengulas tentang Insula Batavorum (pulau orang Batavi) di Sungai Rhein, tanpa menjelaskan apa-apa mengenai penghuninya. Di kemudian hari, pada zaman Kekaisaran Romawi, suku yang bernama Batavi menjadi suku yang penting di daerah ini.[27] Di kemudian hari, sejarawan Tacitus mencatat bahwa suku Batavi pada mulanya merupakan salah satu puak suku Chatti, yakni salah satu suku di Jerman yang tidak pernah disebut-sebut oleh Yulius Kaisar.[28] Meskipun demikian, para arkeolog mendapati bukti-bukti adanya peradaban yang berkelanjutan di daerah delta. Oleh karena itu, para arkeolog menduga bahwa mungkin suku Chatti adalah suku kecil yang berpindah ke daerah delta, lalu berbaur dengan masyarakat (mungkin sekali bukan suku bangsa Jermanik) yang sudah lebih dahulu mendiami daerah itu, dan mungkin saja suku Chatti adalah bagian dari suku yang lebih terkenal, misalnya suku Eburones.[29]

Suku-suku yang tercatat dalam laporan Yulius Kaisar
Suku-suku pada zaman Kekaisaran Romawi

Kurun waktu penjajahan Romawi sekitar 450 tahun lamanya menimbulkan perubahan besar di kawasan yang kelak menjadi wilayah kedaulatan Negeri Belanda. Seringkali perubahan itu melibatkan konflik berskala besar antara bangsa Romawi dan suku-suku Jermanik merdeka di sepanjang Sungai Rhein.

Suku-suku lain yang pada akhirnya mendiami pulau-pulau di daerah delta pada zaman penjajahan Romawi sebagaimana yang diriwayatkan oleh Plinius Tua adalah orang Kananefati di Holland Selatan, orang Frisi di sebagian besar kawasan yang kini menjadi wilayah kedaulatan Negeri Belanda di sebelah utara Oude Rijn; Orang Frisiaboni di kawasan yang membentang mulai dari daerah delta sampai ke sebelah utara Brabant Utara, orang Marsaci di kawasan yang membentang mulai dari pesisir Flandria sampai ke daerah delta, dan orang Sturi.[30]

Yulius Kaisar melaporkan bahwa ia telah membinasakan orang Eburoni, namun sebagai gantinya orang Teksuandri mendiami sebagian besar daerah Brabant Utara, dan daerah yang sekarang menjadi wilayah provinsi Limburgh, yakni kawasan yang dilewati aliran Sungai Maas dan tampaknya pada zaman Kekaisaran Romawi dihuni oleh (dari utara ke selatan) orang orang Betasi, orang Katualini, orang Sunuci, dan orang Tungri (sejarawan Tacitus melaporkan bahwa Tungri adalah nama baru bagi masyarakat yang sebelumnya disebut orang Germani Cisrhenani).

Plinius Tua meriwayatkan bahwa di sebelah utara Alter Rhein, selain orang Frisi, ada pula sejumlah orang Chauci yang bermukim sampai ke daerah delta, dan dua suku lain yang diketahui berasal dari kawasan timur Negeri Belanda, yakni orang Tuihanti (atau orang Tubanti) dari daerah Twenthe di Overijssel, dan orang Kamavi dari Hamaland di kawasan utara Gelderland, salah satu dari suku-suku pertama yang kelak dinamakan orang Franka. Orang Sali, yang juga tergolong suku Franka, mungkin berasal dari daerah Salland di Overijssel, sebelum terpaksa pindah ke wilayah Kekaisaran Romawi akibat rongrongan suku bangsa Saksen pada abad ke-4. Mula-mula orang Sali berpindah ke Batavia, kemudian ke Toksandria.

Permukiman-permukiman bangsa Romawi di Negeri Belanda[sunting | sunting sumber]

Permukiman-Permukiman Bangsa Romawi
Topeng prajurit berkuda Romawi, ditemukan di dekat kota Leiden.
Tapal batas wilayah Kekaisaran Romawi di sekitar Sungai Rhein sekitar tahun 70 M.

Mulai sekitar tahun 15 SM, daerah sekitar Sungai Rhein di Negeri Belanda menjadi daerah pertahanan Limes Germanicus Hilir. Setelah berkali-kali dilanda peperangan, Sungai Rhein akhirnya menjadi tapal batas utara wilayah kekuasaan bangsa Romawi di daratan Eropa. Sejumlah kota kecil berdiri dan sejumlah perkembangan berlangsung di sepanjang tapal batas ini. Daerah di sebelah selatan tapal batas diintegrasikan ke dalam Kekaisaran Romawi. Daerah yang dulunya merupakan wilayah Gallia Belgica ini dijadikan bagian dari provinsi Germania Inferior. The Suku-suku yang sudah lebih dahulu mendiami atau dipindahkan ke daerah ini warga Kekaisaran Romawi. Daerah di sebelah utara Sungai Rhein, yang didiami orang Frisi dan orang Chauci, tetap berada di luar pemerintahan Romawi tetapi kerap didatangi dan dikendalikan oleh bangsa Romawi.

Bangsa Romawi mendirikan benteng-benteng militer di sepanjang Limes Germanicus, berikut sejumlah kota kecil dan permukiman yang lebih kecil lagi di Negeri Belanda. Kota-kota bangsa Romawi yang lebih menonjol berlokasi di Nijmegen (Ulpia Noviomagus Batavorum) dan Voorburg (Forum Hadriani).

Mungkin reruntuhan peninggalan bangsa Romawi yang paling menarik adalah puing-puing Brittenburg yang misterius itu, muncul dari balik pasir pantai di Katwijk beberapa abad yang lalu, hanya untuk dikubur kembali. Puing-puing ini merupakan bagian dari Lugdunum Batavorum.

Bekas-bekas permukiman, benteng kuil, dan bangunan-bangunan bangsa Romawi lainnya telah ditemukan di Alphen aan de Rijn (Albaniana), Bodegraven, Cuijk, Elst Overbetuwe, Ermelo, Esch, Heerlen, Houten, Kessel di Brabant Utara, Oss (yakni De Lithse Ham dekat Maren-Kessel), Kesteren di Neder-Betuwe, Leiden (Matilo), Maastricht, Meinerswijk (sekarang bagian dari Arnhem), Tiel, Utrecht (Traiectum), Valkenburg di Holland Selatan (Praetorium Agrippinae), Vechten (Fectio) sekarang bagian dari Bunnik, Velsen, Vleuten, Wijk bij Duurstede (Levefanum), Woerden (Laurium atau Laurum) dan Zwammerdam (Nigrum Pullum).

Pemberontakan orang Batavi[sunting | sunting sumber]

Sepanjang sejarah Negeri Belanda, teristimewa semasa Perang Delapan Puluh Tahun, orang Batavi diagung-agungkan sebagai pejuang-pejuang gagah berani yang menjadi cikal bakal bangsa Belanda. "Orang Batavi Mengalahkan Bangsa Romawi di Sungai Rhein", ca. 1613, karya Otto van Veen.
Konspirasi Klaudius Sivilis, 1661, karya Rembrandt, menggambarkan peristiwa sumpah setia orang Batavi kepada Gaius Iulius Civilis, pemimpin pemberontakan orang Batavi melawan penjajah Romawi pada tahun 69 M.

Orang Batavi, orang Kananefati, dan suku-suku perbatasan lainnya sangat disegani sebagai prajurit-prajurit tangguh di seluruh wilayah kekaisaran. Menurut tradisi, warga suku-suku ini menjalani masa bakti sebagai prajurit dalam barisan pasukan berkuda Romawi.[31] Budaya daerah perbatasan dipengaruhi oleh bangsa Romawi, suku-suku bangsa Jermanik, dan suku bangsa Galia. Pada abad-abad pertama sesudah Galia ditaklukkan oleh bangsa Romawi, perniagaan tumbuh subur. Peninggalan-peninggalan budaya bendawi bangsa Romawi, Galia, dan Jermanik ditemukan bercampur baur di kawasan ini.

Meskipun demikian, orang Batavi memberontak melawan bangsa Romawi dalam peristiwa Pemberontakan Batavia pada tahun 69 M. Pemimpin pemberontak adalah seorang pribumi Batavi yang bernama Gaius Iulius Civilis. Salah satu penyebab pemberontakan adalah karena pemuda-pemudi Batavia dijadikan budak belian oleh bangsa Romawi. Sejumlah castella Romawi diserang dan dibakar. Prajurit-prajurit Romawi di Xanten dan tempat-tempat lain, serta pasukan-pasukan bantu yang beranggotakan orang Batavi dan orang Kananefati dalam legiun-legiun pimpinan Vitellius turut bergabung dengan kubu pemberontak, sehingga memecah kesatuan bala tentara Romawi yang bertugas di kawasan utara wilayah kekaisaran. Pada bulan April 70 M, beberapa legiun yang dikerahkan Vespasianus di bawah pimpinan Quintus Petillius Cerialis pada akhirnya berhasil mengalahkan orang Batavi dan merundingkan penyerahan diri pemberontak dengan Gaius Iulius Civilis di suatu tempat yang terletak di daerah antara Sungai Waal dan Sungai Maas dekat Noviomagus (Nijmegen), yang mungkin sekali disebut "Batavodurum" oleh orang Batavi.[32] Di kemudian hari, orang Batavi berbaur dengan suku-suku lain dan menjadi bagian dari suku Franka Sali.

Para pujangga Belanda pada abad ke-17 dan ke-18 memandang pemberontakan orang Batavi, yang didorong oleh cinta kemerdekaan dan dilakukan demi memerdekakan diri sendiri ini, sebagai aksi yang serupa dengan pemberontakan bangsa Belanda melawan bangsa Spanyol dan segala bentuk lain dari tirani. Menurut pandangan nasionalis ini, orang Batavia adalah leluhur "sejati" bangsa Belanda. Pandangan semacam inilah yang menyebabkan nama "Batavia" berulang kali dipergunakan oleh bangsa Belanda. Jakarta dulunya adalah sebuah kota yang diberi nama "Batavia" oleh bangsa Belanda pada tahun 1619. Republik Belanda yang dibentuk pada tahun 1795 berdasarkan prinsip-prinsip revolusioner Prancis disebut Republik Batavia. Bahkan sekarang ini "orang Batavia" merupakan istilah yang kadang-kadang dipakai sebagai sebutan bagi orang Belanda, sama seperti istilah "orang Galia" dijadikan sebutan bagi orang Prancis dan istilah "orang Teuton" dijadikan sebutan bagi orang Jerman.[33]

Munculnya orang Franka[sunting | sunting sumber]

Peta persebaran orang Franka Sali (hijau) dan orang Franka Ripuari (merah) pada penghujung zaman pemerintahan Romawi.

Para pengkaji periode migrasi pada Zaman Modern sepakat bahwa identitas orang Franka muncul pada paruh pertama abad ke-3 dari berbagai kelompok-kelompok kecil masyarakat Jermanik yang sudah ada sebelumnya, termasuk orang Sali, orang Sikambri, orang Kamavi, orang Brukteri, orang Kati, orang Katuari, orang Ampsivari, orang Tenkteri, orang Ubi, orang Batavi, dan orang Tungri, yang mendiami bagian hilir dan bagian tengah lembah Sungai Rhein di antara Zuyder Zee dan Sungai Lahn serta membentang ke timur sejauh Weser, tetapi lebih banyak bermukim di sekitar IJssel dan daerah di antara Sungai Lippe dan Sungai Sieg. Konfederasi orang Franka mungkin sekali mulai terbentuk pada era 210-an.[34]

Orang Franka pada akhirnya terbagi menjadi dua kelompok, yakni orang Franka Ripuari (bahasa Latin: Ripuari) yang mendiami daerah tengah lembah Sungai Rhein pada zaman penjajahan Romawi, dan orang Franka Sali yang berasal dari Negeri Belanda.

Orang Franka diriwayatkan sebagai kawan maupun lawan (laeti maupun dediticii) dalam karya-karya tulis Romawi. Sekitar tahun 320, orang Franka berhasil menguasai daerah sekitar Sungai Scheldt (sekarang menjadi wilayah Flandria Barat dan kawasan barat daya Negeri Belanda), dan melakukan perompakan di Selat Inggris, menghambat kelancaran angkutan laut menuju Britania. Pasukan-pasukan Romawi dapat mengamankan kawasan itu, tetapi tidak mengusir orang Franka, yang tetap saja ditakuti sebagai gerombolan perompak di sepanjang daerah pesisir setidaknya sampai masa pemerintahan Yulianus Si Murtad (358), yakni masa ketika orang Franka Sali diizinkan menetap di Toksandria sebagai salah satu foederati Kekaisaran Romawi, menurut keterangan Ammianus Marcellinus.[34]

Lenyapnya orang Frisi[sunting | sunting sumber]

Kawasan sekitar Laut Utara ca. 250-500 M.

Ada tiga faktor yang menyebabkan orang Frisi menghilang dari kawasan utara Negeri Belanda. Yang pertama, menurut Panegyrici Latini (Naskah VIII), orang Frisi kuno dipaksa pindah ke permukiman baru di dalam wilayah Kekaisaran Romawi sebagai laeti (kaum hamba tani Romawi) sekitar tahun 296.[35] Keterangan ini adalah kabar paling akhir mengenai orang Frisi dalam catatan sejarah. Nasib mereka selanjutnya hanya dapat diduga melalui catatan arkeologi. Penemuan sejenis gerabah khas Frisia dari abad ke-4, yang disebut terp Tritzum, menyiratkan bahwa orang-orang Frisi, dalam jumlah yang tidak diketahui, berpindah ke Flandria dan Kent,[36] agaknya sebagai laeti di bawah paksaan bangsa Romawi. Yang kedua, lingkungan daerah pesisir yang rendah di kawasan barat laut Eropa mulai semakin amblas sekitar tahun 250, dan perlahan-lahan terhenti sepanjang 200 tahun berikutnya. Subsidensi tektonik, naiknya permukaan air tanah, dan pusuan ribut mengakibatkan sejumlah daerah terendam transgresi laut. Keadaan ini semakin diperparah oleh perubahan iklim di daerah pesisir menjadi lebih dingin dan lebih lembab. Andaikata masih ada orang Frisi yang tersisa di daerah pesisir, tentunya mereka punah akibat tenggelam.[37][38][39][40] Yang ketiga, selepas runtuhnya Kekaisaran Romawi, terjadi penurunan jumlah penduduk seiring terhentinya akitivitas bangsa Romawi dan penarikan mundur lembaga-lembaga bangsa Romawi. Sebagai akibat dari ketiga faktor ini, orang Frisi dan orang Frisievoni menghilang dari daerah bekas permukiman asli mereka. Sebagian besar daerah pesisir tetap tidak berpenghuni selama dua abad selanjutnya.[37][38][39][40]

Awal Abad Pertengahan (411–1000)[sunting | sunting sumber]

Orang Frisia[sunting | sunting sumber]

Perkiraan kasar persebaran orang Franka dan orang Frisia sekitar tahun 716 M

Seiring membaiknya keadaan iklim, suku-suku bangsa Jermanik sekali lagi beramai-ramai hijrah meninggalkan kampung halaman mereka di sebelah timur menuju tempat-tempat lain. Kurun waktu berlangsungnya migrasi besar-besaran ini dikenal dengan sebutan "Zaman Migrasi" (Volksverhuizingen). Kawasan utara Negeri Belanda dibanjiri kaum pendatang, yakni orang Angli, orang Yuti, dan terutama orang Saksen. Banyak di antara kaum pendatang ini tidak menetap di kawasan utara Negeri Belanda tetapi terus bergerak menuju Inggris, dan kini dikenal dengan sebutan orang Angli-Saksen. Kaum pendatang yang tidak melanjutkan perjalanan menuju Inggris kelak dikenal dengan sebutan "orang Frisia", sekalipun bukan keturunan orang Frisi. Para warga Frisia yang baru ini menetap di kawasan utara Negeri Belanda, dan menjadi cikal bakal bangsa Frisia modern.[41][42] Orang Frisia maupun orang Angli-Saksen terdahulu lahir dari konfederasi-konfederasi kesukuan yang identik, sehingga bahasanya pun sangat mirip. bahasa Frisia Lama berkerabat dekat dengan bahasa Inggris Lama,[43] sehingga dialek-dialek bahasa Frisia modern pun pada gilirannya berkerabat dekat dengan bahasa Inggris modern. Pada akhir abad ke-6, daerah kekuasaan orang Frisia di kawasan utara Negeri Belanda telah meluas sampai ke daerah pesisir Laut Utara, dan meluas sampai ke Dorestad di sebelah selatan pada abad ke-7. Selama kurun waktu ini, sebagian besar kawasan utara Negeri Belanda dikenal dengan sebutan Frisia. Daerah kekuasaan orang Frisia yang sangat luas ini adakalanya juga disebut Frisia Magna atau Frisia Raya.

Dorestad dan jalur-jalur utama perniagaan

Pada abad ke-7 dan ke-8, daerah ini disebut-sebut dalam catatan sejarah bangsa Franka sebagai kerajaan orang Frisia. Wilayah kerajaan ini meliputi provinsi-provinsi yang terletak di daerah pesisir Negeri Belanda dan daerah pesisir Laut Utara Jerman. Pada kurun waktu ini, bahasa Frisia dipertuturkan di seluruh kawasan selatan daerah pesisir Laut Utara. Pada abad ke-7, kerajaan orang Frisia (650–734) di bawah pemerintahan Raja Aldegisel dan Raja Redbad berpusat di kota Utrecht.

Dorestad adalah pekan (emporium) terbesar di kawasan barat laut Eropa, yang berkembang di sekitar sebuah bekas benteng Romawi. Pekan ini adalah tempat berdagang yang ramai, tiga kilometer panjangnya, dan terletak di daerah tempat aliran Sungai Rhein dan Sungai Lek berbelok ke sebelah tenggara kota Utrecht, tak jauh dari kota Wijk bij Duurstede modern.[44][45] Sekalipun terletak jauh dari pesisir, Dorestad merupakan pusat niaga di kawasan Laut Utara yang banyak memperjualbelikan barang-barang dari Rheinland Tengah.[45][46] Salah satu barang dagangan utama yang diperjualbelikan di Dorestad adalah minuman anggur, yang agaknya didatangkan dari kebun-kebun anggur di sebelah selatan Mainz.[46] Dorestad juga terkenal karena percetakan uang logamnya. Antara tahun 600 sampai kira-kira tahun 719, Dorestad berulang kali diperebutkan oleh orang Frisia dan orang Franka.

Orang Franka[sunting | sunting sumber]

Gerak ekspansi orang Franka dari tahun 481 sampai tahun 870 M

Setelah pemerintahan Romawi di kawasan ini runtuh, orang Franka bergerak memperluas daerah kekuasaan mereka sampai sehingga tumbuh banyak kerajaan kecil bentukan orang Franka, terutama di Köln, Doornik, Le Mans, dan Kamerijk.[34][47] Raja-raja Doornik akhirnya menundukkan raja-raja orang Franka lainnya. Pada kurun waktu 490-an, Klovis I berhasil menundukkan dan mempersatukan seluruh daerah kekuasaan orang Franka di sebelah barat Sungai Maas, termasuk kerajaan-kerajaan orang Franka di kawasan selatan Negeri Belanda. Klovis kemudian meneruskan aksi penaklukannya ke wilayah Galia.

Setelah Klovis I wafat pada tahun 511, keempat putranya membagi-bagi wilayah kerajaannya. Theuderik I mendapatkan daerah-daerah yang kelak menjadi wilayah Kerajaan Austrasia (termasuk kawasan selatan Negeri Belanda). Anak dan cucu Theuderik I berturut-turut memerintah menggantikannya sampai Kerajaan Austrasia dipersatukan dengan kerajaan-kerajaan orang Franka lainnya pada tahun 555 oleh Klothar I, yang menjadi penguasa tunggal atas seluruh wilayah kekuasaan orang Franka pada tahun 558. Klothar I membagi-bagikan wilayah kerajaannya kepada keempat putranya, tetapi keempat wilayah hasil pembagian ini berubah menjadi tiga kerajaan saja sepeninggal Karibert I pada tahun 567. Kerajaan Austrasia (termasuk kawasan selatan Negeri Belanda) diberikan kepada Sigebert I. Kawasan selatan Negeri Belanda seterusnya menjadi bagian dari wilayah Kerajaan Austrasia until sampai pada masa pemerintahan wangsa Karoling.

Orang-orang Franka yang berekspansi sampai ke Galia akhirnya menetap dan mengadopsi bahasa Latin Umum yang dituturkan masyarakat setempat.[18] Meskipun demikian, bahasa Jermanik masih tetap digunakan sebagai bahasa kedua oleh para pejabat publik di kawasan barat Austrasia dan Neustria sampai kurun waktu 850-an. Bahasa Jermanik punah di daerah-daerah ini pada abad ke-10.[48] Pada masa ekspansi ke Galia, banyak suku Franka yang tetap tinggal di utara (yakni di kawasan selatan Negeri Belanda, Flandria, dan sebagian kecil kawasan utara Prancis). Muncul kesenjangan budaya yang kian melebar antara masyarakat Franka yang tetap tinggal di utara dan para pemimpin Franka di Galia, yakni di kawasan yang sekarang menjadi wilayah negara Prancis.[49] Orang Franka Sali tetap tinggal di kampung halaman aslinya dan di daerah-daerah tetangga di sebelah selatan serta tetap menuturkan bahasa aslinya, bahasa Franka Lama, yang berkembang menjadi bahasa Belanda Lama pada abad ke-9.[18] Garis batas antara wilayah penutur bahasa Belanda dan wilayah penutur bahasa Prancis akhirnya terbentuk, tetapi mula-mula jauh lebih ke selatan dari letaknya saat ini.[18][47] Di daerah-daerah yang dilewati Sungai Maas dan Sungai Rhein di Negeri Belanda, orang Franka menguasai pusat-pusat politik dan perniagaan, khususnya di Nijmegen dan Maastricht.[47] Orang-orang Franka di daerah ini masih tetap berhubungan dengan orang Frisia di utara, terutama di tempat-tempat seperti Dorestad dan Utrecht.

Keraguan pada Zaman Modern mengenai perbedaan antara orang Frisia, orang Franka, dan orang Saksen[sunting | sunting sumber]

Santo Wilibrordus, misionaris Angli-Saksen dari Northumberland, Rasul Frisia, Uskup Utrecht yang pertama.

Pada akhir abad ke-19, para sejarawan Belanda meyakini bahwa orang Franka, orang Frisia, dan orang Saksen adalah cikal bakal bangsa Belanda. Beberapa sejarawan bahkan melangkah lebih jauh lagi dengan menjabarkan atribut-atribut, nilai-nilai, dan kelebihan-kelebihan tertentu yang konon dimiliki suku-suku bangsa ini, dan mengedepankannya sebagai cerminan pandangan-pandangan kebangsaan dan keagamaan pada abad ke-19. Pada khususnya, diyakini bahwa teori ini menjelaskan mengapa warga Belgia dan kawasan selatan Negeri Belanda (yakni orang Franka) memeluk agama Kristen Katolik, sementara warga kawasan utara Negeri Belanda (orang Frisia dan orang Saksen) memeluk agama Kristen Protestan. Salah satu penyebab kesuksesan teori ini adalah teori-teori antropologi yang didasarkan atas suatu paradigma kesukuan. Karena bersifat inklusif secara politis dan geografis, tetapi menjunjung tinggi keberagaman, teori ini selaras dengan kebutuhan bina bangsa dan integrasi pada kurun waktu 1890–1914. Teori ini diajarkan di sekolah-sekolah Negeri Belanda kala itu.

Meskipun demikian, kerugian-kerugian dari tafsir sejarah ini mulai muncul ke permukaan. Teori berasas kesukuan ini menyiratkan bahwa tapal-tapal batas eksternal sesungguhnya lemah atau tidak wujud, dan bahwasanya ada tapal-tapal batas internal yang jelas. Mitos asal usul ini menyajikan sebuah premis historis, teristimewa pada Perang Dunia II, bagi separatisme regional dan aneksasi ke Jerman. Selepas tahun 1945, paradigma kesukuan kehilangan daya pikatnya di kalangan antropolog dan sejarawan. Manakala keakuratan landasan tema tiga-suku dipertanyakan, teori ini pun tidak lagi diminati orang.[33]

Karena langkanya sumber-sumber tertulis, pengetahuan mengenai kurun waktu ini sangat bergantung pada penafsiran data arkeologi. Pandangan tradisional yang menyatakan bahwa ada keterpisahan yang jelas antara orang Frisia di sebelah utara serta daerah pesisir, orang Franka di sebelah selatan, dan orang Saksen di sebelah timur terbukti secara historis bermasalah.[50][51][52] Bukti-bukti arkeologi secara dramatis menunjukkan model-model yang berlainan dari satu daerah ke darah lain, dengan kesinambungan demografi untuk sejumlah kawasan di Negeri Belanda dan depopulasi serta kemungkinan bergantinya populasi di kawasan-kawasan lain, terutama di daerah pesisir Frisia dan Holland.[53]

Kemunculan bahasa Belanda[sunting | sunting sumber]

Bahasa yang menjadi cikal bakal bahasa belanda Lama (atau bahasa Franken Hilir Barat) dan bahasa Franken Hilir Lama (atau bahasa Franka Lama) tidak diketahui secara pasti, tetapi diduga bahwa bahasa tersebut adalah bahasa yang dituturkan oleh orang Franka Sali. Kendati orang Franka sudah lama digolongkan ke dalam rumpun suku Jermanik Weser-Rhein, bahasa Belanda memiliki sejumlah ciri khas rumpun bahasa Ingvaeonik, dan digolongkan ke dalam rumpun bahasa tersebut oleh ahli-ahli bahasa modern. Bahasa Belanda juga memiliki sejumlah ciri kas bahasa Saksen Lama. Bahasa Belanda Lama, bahasa Saksen Lama, bahasa Inggris Lama, dan bahasa Frisia Lama masih berkerabat dekat. Nyaris tidak ada peninggalan tertulis dalam bahasa yang dituturkan oleh orang Franka, dan peninggalan tertulis dalam bahasa Belanda Lama sangat langka serta tidak lagi utuh, sehingga tidak banyak yang dapat diketahui mengenai perkembangan bahasa Belanda Lama. Bahasa Belanda Lama bertransisi menjadi bahasa Belanda Pertengahan sekitar tahun 1150.[18]

Masuknya agama Kristen[sunting | sunting sumber]

Agama Kristen yang dibawa masuk ke Negeri Belanda oleh bangsa Romawi tampaknya hilang sama sekali (setidaknya di Maastricht) setelah bangsa Romawi hengkang dari Negeri Belanda sekitar tahun 411.[47]

Baca juga[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Neanderthal may not be the oldest Dutchman | Radio Netherlands Worldwide". Rnw.nl. Diakses tanggal 25 Maret 2012. 
  2. ^ "Neanderthal fossil discovered in Zeeland province | Radio Netherlands Worldwide". Rnw.nl. 16 Juni 2009. Diarsipkan dari versi asli tanggal 19 Mei 2014. Diakses tanggal 25 Maret 2012. 
  3. ^ Van Zeist, W. (1957), "De steentijd van Nederland", Nieuwe Drentse Volksalmanak, 75: 4–11 
  4. ^ a b "The Mysterious Bog People – Background to the exhibition". Canadian Museum of Civilization Corporation. 5 Juli 2001. Diarsipkan dari versi asli tanggal 9 Maret 2007. Diakses tanggal 1 Juni 2009. 
  5. ^ a b Louwe Kooijmans, L.P., "Trijntje van de Betuweroute, Jachtkampen uit de Steentijd te Hardinxveld-Giessendam", 1998, Spiegel Historiael 33, hlmn. 423–428
  6. ^ Volkskrant 24 Agustus 2007 "Lahan bercocok tanam prasejarah ditemukan di Swifterbant, 4300–4000 SM"
  7. ^ Raemakers, Daan. "De spiegel van Swifterbant Diarsipkan 10 April 2008 di Wayback Machine.", University of Groningen, 2006.
  8. ^ Dalam J.H.F. Bloemers & T. van Dorp (penyunting), Pre- & protohistorie van de lage landen. De Haan/Open Universiteit, 1991. ISBN 90-269-4448-9, NUGI 644
  9. ^ Lanting, J.N. & J.D. van der Waals, (1976), "Beaker culture relations in the Lower Rhine Basin", dalam Lanting dkk. (penyunting) Glockenbechersimposion Oberried 1974. Bussum-Haarlem: Uniehoek N.V.
  10. ^ Hlm. 93, dalam J. P. Mallory dan John Q. Adams (penyunting), The Encyclopedia of Indo-European Culture, Fitzroy Dearborn, 1997.
  11. ^ Menurut o "Het Archeologisch Basisregister" (ABR), versi 1.0 November 1992, [1], Elp Kümmerkeramik diberi tarikh BRONSMA (awal MBA) sampai BRONSL (LBA) dan perkiraan tarikh ini telah distandarisasi oleh "De Rijksdienst voor Archeologie, Cultuurlandschap en Monumenten" (RACM)" sebagai kurun waktu yang berawal pada 1800 SM dan berakhir pada 800 SM.
  12. ^ Mallory, J.P., In Search of the Indo-Europeans: Language, Archaeology and Myth, London: Thames & Hudson, 1989, hlm. 87.
  13. ^ Butler, J.J., Nederland in de bronstijd, Bussum: Fibula-Van Dishoeck, 1969}}.
  14. ^ a b Kinder, Hermann dan Werner Hilgemann, The Penguin Atlas of World History; diterjemahkan oleh Ernest A. Menze ; dengan peta-peta yang dirancang oleh Harald dan Ruth Bukor. Harmondsworth: Penguin Books. ISBN 0-14-051054-0 Jilid 1. hlm. 109.
  15. ^ The New Encyclopaedia Britannica, edisi ke-15, 20:67
  16. ^ a b c Verhart, Leo Op Zoek naar de Kelten, Nieuwe archeologische ontdekkingen tussen Noordzee en Rijn, ISBN 90-5345-303-2, 2006, hlmn. 67, 81–82
  17. ^ The New Encyclopædia Britannica, edisi ke-15, 22:641–642
  18. ^ a b c d e f g de Vries, Jan W., Roland Willemyns and Peter Burger, Het verhaal van een taal, Amsterdam: Prometheus, 2003, hlmn. 12, 21–27
  19. ^ Cunliffe, Barry. The Ancient Celts. Penguin Books, 1997, hlmn. 39–67.
  20. ^ Achtergrondinformatie bij de muntschat van Maastricht-Amby, Kotapraja Maastricht, 2008.
  21. ^ Unieke Keltische muntschat ontdekt in Maastricht, Archeonet.be, 15 November 2008. Diakses 6 Oktober 2011.
  22. ^ a b Het urnenveld van het Meijerink, Kotapraja Zutphen, Diakses Oktober 20116.
  23. ^ Delrue, Joke, University of Ghent
  24. ^ van Durme, Luc, "Oude taaltoestanden in en om de Nederlanden. Een reconstructie met de inzichten van M. Gysseling als leidraad" dalam Handelingen van de Koninklijke commissie voor Toponymie en Dialectologie, LXXV/2003.
  25. ^ Hachmann, Rolf, Georg Kossack and Hans Kuhn, Völker zwischen Germanen und Kelten, 1986, hlmn. 183–212
  26. ^ a b Lendering, Jona, "Germania Inferior", Livius.org. Diakses 6 Oktober 2011.
  27. ^ "C. Julius Caesar, Gallic War, Buku 4, bab 10". www.perseus.tufts.edu.  line feed character di |title= pada posisi 19 (bantuan)
  28. ^ Cornelius Tacitus, Germany and its Tribes 1.29
  29. ^ Nico Roymans, Ethnic Identity and Imperial Power. The Batavians in the Early Roman Empire. Amsterdam Archaeological Studies 10. Amsterdam, 2004. Bab 4. Lihat pula hlm. 249.
  30. ^ Plin. Nat. 4.29
  31. ^ Roymans, Nico, Ethnic Identity and Imperial Power: The Batavians in the Early Roman Empire, Amsterdam: Amsterdam University Press, 2005, hlmn. 226–27
  32. ^ Historiae, Tacitus, 109 M, diterjemahkan oleh Alfred John Church dan William Jackson Brodribb.
  33. ^ a b Beyen, Marnix, "A Tribal Trinity: the Rise and Fall of the Franks, the Frisians and the Saxons in the Historical Consciousness of the Netherlands since 1850" in European History Quarterly 2000 30(4):493–532. ISSN 0265-6914 Fulltext: EBSCO
  34. ^ a b c Previté-Orton, Charles, The Shorter Cambridge Medieval History, jld. I, hlmn. 51–52, 151
  35. ^ Grane, Thomas (2007), "From Gallienus to Probus – Three decades of turmoil and recovery", The Roman Empire and Southern Scandinavia–a Northern Connection! (PhD thesis), Copenhagen: Universitas Copenhagen, hlm. 109 
  36. ^ Looijenga, Jantina Helena (1997), "History, Archaeology and Runes", dalam SSG Uitgeverij, Runes Around the North Sea and on the Continent AD 150–700; Texts and Contexts (disertasi PhD) (PDF), Groningen: Universitas Groningen, hlm. 30, ISBN 90-6781-014-2 . Untuk kesimpulan ini, Looijenga mengutip D.A. Gerrets (1995), "The Anglo-Frisian Relationship Seen from an Archaeological Point of View" dalam Friesische studien 2, hlmn. 119–128.
  37. ^ a b Berglund, Björn E. (2002), "Human impact and climate changes – synchronous events and a causal link?", Quaternary International, 105 (1), Elsevier (dipublikasikan tanggal 2003), hlm. 10 
  38. ^ a b Ejstrud, Bo; et al. (2008), Ejstrud, Bo; Maarleveld, Thijs J., ed., The Migration Period, Southern Denmark and the North Sea, Esbjerg: Maritime Archaeology Programme, ISBN 978-87-992214-1-7 
  39. ^ a b Issar, Arie S. (2003), Climate Changes during the Holocene and their Impact on Hydrological Systems, Cambridge: Cambridge University, ISBN 978-0-511-06118-9 
  40. ^ a b Louwe Kooijmans, L. P. (1974), The Rhine/Meuse Delta. Four studies on its prehistoric occupation and Holocene geology (disertasi PhD), Leiden: Leiden University Press 
  41. ^ Bazelmans, Jos (2009), "The early-medieval use of ethnic names from classical antiquity: The case of the Frisians", dalam Derks, Ton; Roymans, Nico, Ethnic Constructs in Antiquity: The Role of Power and Tradition, Amsterdam: Universitas Amsterdam, hlm. 321–337, ISBN 978-90-8964-078-9 
  42. ^ Frisii en Frisiaevones, 25–08–02 (bahasa Belanda) Diarsipkan 3 October 2011[Date mismatch] di Wayback Machine., Bertsgeschiedenissite.nl. Diakses 6 Oktober 2011
  43. ^ Kortlandt, Frederik (1999). "The origin of the Old English dialects revisited" (PDF). University of Leiden. 
  44. ^ Willemsen, A. (2009), Dorestad. Een wereldstad in de middeleeuwen, Walburg Pers, Zutphen, pp. 23–27, ISBN 978-90-5730-627-3
  45. ^ a b MacKay, Angus; David Ditchburn (1997). Atlas of Medieval Europe. Routledge. hlm. 57. ISBN 0-415-01923-0. 
  46. ^ a b Hodges, Richard; David Whitehouse (1983). Mohammed, Charlemagne and the Origins of Europe. Cornell University Press. hlm. 99. ISBN 978-0-8014-9262-4. 
  47. ^ a b c d Milis, L.J.R., "A Long Beginning: The Low Countries Through the Tenth Century" dalam J.C.H. Blom & E. Lamberts History of the Low Countries, hlmn. 6–18, Berghahn Books, 1999. ISBN 978-1-84545-272-8.
  48. ^ Holmes, U.T dan A. H. Schutz (1938), A History of the French Language, hlm. 29, Biblo & Tannen Publishers, ISBN 0-8196-0191-8
  49. ^ Kesalahan pengutipan: Tag <ref> tidak sah; tidak ditemukan teks untuk ref bernama Milis, L.J.R. pp. 6-18
  50. ^ Blok, D.P. (1974), De Franken in Nederland, Bussum: Unieboek, 1974, hlmn. 36–38 mengenai ketidakpastian jati diri orang Frisia dalam sumber-sumber Franka terdahulu; hlmn. 54–55 mengenai masalah-masalah terkait “Saksen” sebagai sebuah nama suku.
  51. ^ van Eijnatten, J. dan F. van Lieburg, Nederlandse religiegeschiedenis (Hilversum, 2006), hlmn. 42–43, mengenai ketidakpastian jati diri "orang Frisia" dalam sumber-sumber Franka terdahulu.
  52. ^ de Nijs, T, E. Beukers dan J. Bazelmans, Geschiedenis van Holland (Hilversum, 2003), hlmn. 31–33 mengenai sifat fluktuatif dari ciri khas kesukuan dan kesukubangsaan pada kurun waktu Awal Abad Pertengahan.
  53. ^ Blok (1974), hlmn. 117 ff.; de Nijs dll. (2003), hlmn. 30–33

Bacaan lebih lanjut[sunting | sunting sumber]

Lihat pula: Kepustakaan sejarah Belanda (nl)

Geografi dan lingkungan hidup[sunting | sunting sumber]

  • Burke, Gerald L. The making of Dutch towns: A study in urban development from the 10th–17th centuries (1960)
  • Lambert, Audrey M. The Making of the Dutch Landscape: An Historical Geography of the Netherlands (1985); berfokus pada sejarah reklamasi daratan
  • Meijer, Henk. Compact geography of The Netherlands (1985)
  • Riley, R. C., and G. J. Ashworth. Benelux: An Economic Geography of Belgium, the Netherlands, and Luxembourg (1975) daring

Pranala luar[sunting | sunting sumber]