Lompat ke isi

Siregar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Siregar
Aksara Batak
Nama margaSiregar
Nama/
penulisan
alternatif
  • SRGR
Silsilah
Jarak
generasi
dengan
Siraja Batak
1Si Raja Batak
2Guru Tatea Bulan
3Tuan Saribu Raja
4Si Raja Lontung
5Toga Siregar
Nama lengkap
tokoh
Toga Siregar
Nama istri
Nama anak
Kekerabatan
Induk margaSiraja Lontung
Persatuan
marga
Siraja Lontung
Kerabat
marga
Turunan
Matani ari
binsar
Limbong
PadanNainggolan
Asal
SukuBatak
Etnis
Daerah asalMuara, Tapanuli Utara
Kawasan
dengan
populasi
signifikan
Paguyuban
Lokasi tuguBariba Niaek
2°20′25.1″N 98°53′39.0″E / 2.340306°N 98.894167°E / 2.340306; 98.894167

Siregar (Surat Batak: ᯘᯪᯒᯩᯎᯒ᯲; ᯚᯪᯒᯩᯎᯒ᯲) adalah salah satu marga Batak yang berasal dari Muara, Tapanuli Utara. Marga Siregar merupakan keturunan dari Toga Siregar, anak bungsu dari Si Raja Lontung.


Siregar SiloSorminBaumiSiregar DongoranSiregar SigurdaSiregar SalakSiregar DatupatnaSiregar SijomanSiregar PahuSiregar SilaliRitongaSiregar Siagian



Selain bermukim di wilayah Tapanuli Utara dengan kebudayaan Batak Toba, sebagian besar kelompok keturunan marga Siregar juga bermukim di daerah Tapanuli Selatan dan Mandailing Natal dengan kebudayaan Batak Angkola.

Tarombo (Silsilah)

[sunting | sunting sumber]
Toga Siregar
1. Boru Limbong
2. Boru Limbong
Silo
Boru Manurung
DongoranSilaliSiagian
Ompu Tuan Dihorbo
Boru Sarumpaet
Silima LombuTuan NahodaDatu MangambeDatu Bira
(Panopa Podang)
Ama ni Tuan Dihorbo
Boru Manurung
Datu Natungiron
Datu Nasangap
1. Boru Hutagaol
2. Boru Pasaribu
Isang Sorbaon
Jambe Ulubalang
Boru Pasaribu
Raja Naubanon
Boru Simanjuntak
Guru SotaraduMangasa PintorRaja BanuaMangasa Raja
Boru Sihombing
Tuan Sumar
(Sormin)

Boru Sihombing
Datu OnggangDatu OndopGuru NilainganTuan NasoungkatAmpangutangan
(Sormin)
AmpahajanganRaja Siampudan
Datu DormaOmpu Saurbarita
(Sormin)
Ompu PandurunganRaja Hundul
Raja Daulat Sumorong
Raja Tinamboran (Baumi)
Sutan Tinggi BaraniSutan NalobiSutan Raja LelaSutan Naga Oloan

Ket:

  • Keturunan Ompu Saurbarita, Ampautangan dan Tuan Sumar:memakai marga Sormin
  • Keturunan Raja Tinamboran:memakai marga Baumi


Toga Siregar
1. Boru Limbong
2. Boru Limbong
SiloDongoran
Boru Sagala
SilaliSiagian
Sahala Raja
Ompu Junjungan
Datu BaragasDatu NahurnukDatu MangapungDatu Parultop
Sunggu RajaDatu Nahurnuk IngotingotDatu BondongDatu ManggiangSahala Raja IISahala DatuPalti RajaOmpu Jungjungan IISapala RajaLambat Raja
Tangkulapa NabaraSayur MatuaOmpu ParlindunganOmpu Ni HatunggalOmpu Tunggal SohubangonOmpu Subang Nipahu
(Pahu)
Ompu PanaluanNamora Ompu Nigodung
(Sijoman)
Ja ManojangOmpu Palti Raja II
Raja SigurdaOmpu DoroJa MarmerongJa MangalempangOmpu Lintong SoruonSutan MulasontangBadai RajaJa HatunduhanGuru JunjunganTuan Sirataisang
Sutan Mangantar BilangJa DoaMangaraja UjungbatuTuan SorimanggitaSutan HatembalonJa HorboJa PagarSutan Parlindungan
(Salak)
Ja ManongingJa BaunJamanonging
Ja OnggangJa ManguhapJa ParlindunganJa MandageJa HolbungGuru Junjungan IISibontar Mata
(Pahu)
Mangaraja Sopujion
Ja LaloJa SemalapJa Hinundang (Datu Patna)

Ket:

  • Keturunan Raja Sigurda menyebut diri sebagai Siregar Sigurda
  • Keturunan Sutan Parlindungan menyebut diri sebagai Siregar Salak
  • Keturunan Ja Hinundang menyebut diri sebagai Siregar Datupatna
  • Keturunan Subangnipahu dan keturunan Sibontarmata menyebut diri sebagai Siregar Pahu
  • Keturunan Namora Ompu Nigodang menyebut diri sebagai Siregar Sijoman
Toga Siregar
1. Boru Limbong
2. Boru Limbong
SiloDongoranSilali
Boru Panjaitan
Siagian
Guru Sinungsungan
Boru Sagala
Parisangisang Sahorbangan
(Ritonga)
Raja Manaham (Manahan Laut)
Boru Hutagaol
Raja Pamoto
1.Boru Tampubolon
2. Boru Hutagaol
3. Boru Sihombing
Tuan HumalamosaTuan Banggur
Ompu Gaja NabolonPalangke SereOmpu Musu
Boru Sihombing
Guru Sinanti
Boru Manullang
Raja MarjorbingOmpu Tuan OjurRaja Manungkun Tahi
Ama ni Gaja NabolonParultopNamora HatahutanNamora Sende
Ompu Manaham II
Boru Hutagaol
Ompu Manarotang
Boru Siahaan
Ompu Mogot LautDatu Pamuha (Sitombuk Langit)Sigorga Timus

Toga Siregar sendiri menikah dengan Siboru Panggabean dan Siboru Pandan Somalos Boru Limbong serta memiliki empat orang putra yaitu: (1) Raja Silo, (2) Raja Dongoran, (3) Raja Silali, (4) Raja Siagian. Silali kemudian menikah dengan Boru Panjaitan serta memiliki dua orang putra yaitu

  1. Guru Sinungsungan yang kemudian menikah dengan Boru Sagala serta memiliki putra yaitu:
    1. Raja Manaham (Manahan Laut) yang merupakan anak dari Toga Parhusip kemudian sebagai gantinya Guru Sinungsungan memberikan anak perempuannya yang bernama Siboru Tatap Birong kepada Parhusip, Raja Manaham (Manahan Laut) menikah dengan Boru Hutagaol serta memiliki dua orang putra yaitu: (1) Ompu Gaja Nabolon; dan (2) Palengke Sere
    2. Raja Pamoto Pamostang Laut sendiri menikah dengan Boru Tampubolon; Boru Hutagaol; Boru Sihombing Lumbantoruan: dan Boru Pohan serta memiliki 8 orang putra yaitu, dari pernikahan pertama dengan Boru Tampubolon memperoleh seorang putra yaitu Manungkun Tahi, dari pernikahan kedua dengan Boru Hutagaol yang melahirkan Ompu Musu yang menikah dengan Boru Sihombing Lumbantoruan, dari Pernikahan ketiga dengan Boru Sihombing Lumbantoruan serta memperoleh tiga orang putra yaitu (1) Ompu Sinanti yang menikah dengan Boru Manullang; (2) Mandapot Raja (Raja Marjombing); (3) Ompu Tuan Ojur, dari pernikahan keempat dengan Boru Pohan melahirkan tiga orang putra yaitu (1) Namora Sende, (2) Namora Hatahutan, (3) Namora Banggur. Keturunan dari Boru Tampubolon dan Boru Pohan bermukim Di daerah Balige.
  2. Parisangisang Sahorbangan yang kemudian keturunannya bermarga Ritonga serta memiliki dua orang putra yaitu: (1) Ompu Tuan Humalamosa, serta (2) Ompu Tuan Banggur

Ket:

  • Keturunan Parisangisang Sahorbangan, memakai marga Ritonga
Toga Siregar
1. Boru Limbong
2. Boru Limbong
SiloDongoranSilaliSiagian
Boru Limbong
Giang Raja (Op.Tuan Jujur)
Boru Sagala
Mata Sopiak
Boru Purba
Guru Sinungsungan
Boru Gultom
Hutur Nabegu
Boru Sihombing
Datu Buntu
Boru Lubis
Manganji Raja
Boru Tampubolon
Sijangkal Naiborngin
1. Boru Siboro
2. Boru Harahap
3. Boru Manurung
Raja Patundokhon
Boru Gultom
Raja Soaloon
Boru Gultom
Raja Pandedipansurna
Boru Lumbantungkup
(?)Guru Pangolitan
Boru Rajagukguk
Ompu Rori
Boru Manurung
Ompu Bajomusu
Boru Sihotang
Bursok Datu
Boru Sihombing
Raja Ihutan
Boru Pakpahan
Raja Oloan
Boru Harianja
Ompu Saur
Boru Lubis
Ompu Tumpak
Boru Tampubolon
Ompu Ambatua (Raja Oloan)
Boru Siahaan
Guru Talebung (Ompu Batu Nanggar)
Boru Pasaribu

Toga Siregar menikah dengan Siboru Panggabean serta Siboru Pandan Somalos Boru Limbong kemudian memperoleh empat orang putra yaitu: (1) Raja Silo, (2) Raja Dongoran, (3) Raja Silali, (4) Raja Siagian. Kemudian Raja Siagian menikahi paribannya, Boru Limbong serta memperoleh dua orang putra yaitu (1) Giang Raja (Ompu Tuan Jujur), dan (2) Matasopiak yang menikah dengan Boru Purba. Giang Raja yang bergelar Ompu Tuan Jujur menikah dengan Boru Sagala dan memperoleh lima orang putra yaitu: (1) Guru Sinungsungan, (2) Hutur Nabegu, (3) Datu Buntu, (4) Manganji Raja, (5) Sijangkal Naiborngin.

Adapun putra pertama yang bernama Guru Sinungsungan, kemudian beliau menikah dengan Boru Gultom serta memiliki empat orang putra yaitu (1) Raja Patundukhon yang menikah dengan paribannya Boru Gultom; (2) Raja Soaloon yang kemudian menikahi Boru Gultom; (3) Raja Pandedipansurna yang kemudian menikah dengan Boru Lumbantungkup; (4) (?) putra keempat ini belum diketahui secara pasti nama dari Ompu ini. Adapun putra kedua yang bernama Hutur Nabegu, kemudian menikah dengan Boru Sihombing Lumbantoruan serta memiliki empat orang putra yaitu (1) Ompu Pangolitan yang kemudian menikah dengan Boru Rajagukguk; (2) Ompu Rori yang kemudian menikah dengan Boru Manurung; (3) Ompu Bajomusu yang kemudian menikahi Boru Sihotang; (4) Bursok Datu yang menikahi paribannya Boru Sihombing Lumbantoruan, Hutur Nabegu juga memiliki dua orang putri yaitu, (1) Sahat Nauli yang menikah dengan Ompu Binjori Sihombing Lumbantoruan Hariara; (2) Seorang putri yang dinikahi oleh Ompu Parail Bosi (Parpansa Batu/Datu) Ompusunggu sementara putra ketiga yang bernama Datu Buntu, kemudian menikah dengan Boru Lubis dan memperoleh dua orang putra yaitu (1) Raja Ihutan yang menikah dengan Boru Pakpahan; serta (2) Raja Oloan yang menikah dengan Boru Harianja.

Adapun putra keempat yang bernama Manganji Raja, kemudian Manganji Raja yang menikah dengan Boru Tampubolon, serta memperoleh dua orang putra yaitu (1) Ompu Saur yang menikah dengan Boru Lubis; (2) Ompu Tumpak yang menikah dengan Boru Tampubolon, Manganji Raja juga memiliki seorang putri yaitu yang menikah dengan Tuan Sampulu Silaban Sitio. Adapun putra kelima/bungsu dari Giang Raja (Ompu Tuan Jujur) yang bernama Sijangkal Naiborngin, kemudian menikah dengan Ramo Boru Siboro; Boru Harahap; dan Boru Manurung serta memiliki empat orang putra yaitu, dari pernikahan pertamanya dengan Ramo Boru Purba Siboro Sijangkal Naiborngin memperoleh dua orang putra yaitu, (1) Ompu Ambatua (Raja Oloan) yang menikah dengan Boru Siahaan yang merupakan putri dari Raja Oloan Siahaan Hinalang; beserta (2) Guru Talebung (Ompu Batu Nanggar) yang menikah dengan Boru Pasaribu. kemudian Sijangkal Naiborngin menikah lagi dengan Boru Harahap, dari Boru Harahap Sijangkal Naiborngin memperoleh seorang putra yaitu adapun putranya yang bernama Bursok Datu yang menikah dengan Boru Harahap serta bermukim di Lumban Siregar dan Boru Harahap juga melahirkan dua orang putri yaitu (1) Seorang putri yang menikah dengan Raja Niapul Marbun Banjar Nahor; dan (2) Siboru Tumpol Sopurpuron yang menikah dengan Raja Niantan Doloksaribu. kemudian Sijangkal Naiborngin menikah untuk ketiga kalinya dengan Boru Manurung dari Hasil pernikahan tersebut Sijangkal Naiborngin memperoleh seorang putra yang bernama Bursok Ronggur yang menikah dengan Boru Siagian serta bermukim di Lumban Bagasan, Boru Manurung juga melahirkan seorang putri yang bernama Sande Bona yang dinikahi oleh Raja Dogor Panjaitan.

Sub-marga Siregar di setiap suku:

Kekerabatan

[sunting | sunting sumber]

Menurut riwayat silsilah Batak, Siregar atau Toga Siregar merupakan generasi keempat keturunan Si Raja Batak. Toga Siregar bersama dengan enam toga lainnya yaitu Toga Sinaga, Tuan Situmorang, Toga Pandiangan, Toga Nainggolan, Toga Simatupang, dan Toga Aritonang adalah anak dari Si Raja Lontung, di mana Toga Siregar merupakan yang termuda di antara yang lainnya.

Parpadanan (Perjanjian) Nainggolan dan Siregar

[sunting | sunting sumber]

Turiturian (Legenda) Parpadanan

[sunting | sunting sumber]

Adapun cerita awal mula parpadanan tersebut adalah sebagai berikut: Dikisahkan bahwa pada zaman dahulu, istri dari marga Nainggolan dan marga Siregar sama-sama mengandung dan harapan mereka masing-masing adalah istri Nainggolan melahirkan anak perempuan dan istri Siregar melahirkan anak laki-laki. Namun kehendak Tuhan berkata lain, ketika mereka sama-sama melahirkan pada waktu yang sama, istri dari Nainggolan melahirkan anak laki- laki sedangkan istri dari Siregar melahirkan anak perempuan. Setelah melihat hal ini, kedua istri tersebut bersepakat untuk saling menukar anak yang mana anak laki-laki menjadi anak dari Siregar dan anak perempuan menjadi anak dari Nainggolan. Adapun menurut beberapa sumber, disebutkan bahwa kedua istri dari masing-masing marga Nainggolan dan Siregar ini adalah adik-kakak dan waktu mereka sama-sama bersalin, mereka dibantu oleh sibaso atau perempuan pembantu persalinan yang sama. Oleh karena hal inilah, mereka bisa saling mengenal dan saling menukar anak.

Tetapi beberapa saat setelah peristiwa penukaran anak tersebut, tiba-tiba ronggur (petir) yang kuat menyambar dan menggelegar dari langit pada waktu siang hari. Hal ini tentu membuat seluruh warga terkejut termasuk para sang suami yang sedang mencari ikan, kedua suami tersebut pun bingung dan takut dan memutuskan untuk pulang ke darat. Begitu mereka masing-masing pulang ke rumah masing-masing, mereka sangat gembira begitu melihat anak mereka telah lahir dalam keadaan sehat. Namun Nainggolan heran dan merasa curiga ketika melihat wajah dari bayi tersebut. Melihat wajah sang suami (Nainggolan) yang terlihat menunjukkan rasa curiga, sang istri menjadi gelisah. Rasa gelisah tersebut lambat laun menjadi rasa takut ketika petir sekali lagi datang secara tiba-tiba serta mengeluarkan suara yang dahsyat, suara petir itu juga membuat perasaan Nainggolan menjadi semakin curiga. Tidak menunggu lama, akhirnya istrinya tersungkur dan sujud di depan suaminya serta mengakui bahwa anak yang diberikan kepada suaminya itu bukan anaknya, melainkan putri dari Siregar yang telah ditukar dengan putranya.

Tidak lama kemudian Nainggolan langsung menyusul ke rumah Siregar dan membawa bayi yang baru dilahirkan itu ke rumah Siregar, melihat hal itu istri Siregar menjadi ketakutan dan sebelum Nainggolan ingin menjelaskan apa yang terjadi, dia langsung tersungkur di depan suaminya seperti istri Nainggolan dan kemudian ia mengakui perbuatannya di depan suaminya dan menceritakan semua yang terjadi. Mendengar hal itu, Siregar menjadi terkulai lemas setelah mengetahui bahwa bayi laki-laki yang ada padanya bukanlah anaknya. Begitu Nainggolan melihat Siregar tidak berdaya, Nainggolan langsung mengucapkan sumpah (padan) kepada Siregar: "olat ni on gabe sisada anak sisada boru ma hita. Anakmu tung na so jadi mangoli tu borungku, suang songon i nang anakku na so jadi mangoli tu borumu" (Mulai sekarang, keturunan kita harus saling mengasihi seperti sesama saudara kandung. Keturunan kita tidak diperkenankan untuk saling menikahi, putramu tidak boleh menikahi putriku, begitu juga sebaliknya putraku tidak boleh menikahi putrimu). Siregar langsung tersungkur dan ia menyetujui perkataan Nainggolan tersebut. Dan pada akhirnya, bayi laki-laki itu resmi menjadi putra dari Siregar serta bayi perempuan tersebut menjadi putri dari Nainggolan.[1][2][3]

Pendapat Terkait Asal Mula Parpadanan

[sunting | sunting sumber]

Menurut pendapat yang paling banyak beredar, Parhusip dan Guru Sinungsungan Silali yang menjadi sipungka padan atau orang yang mengikrarkan sumpah tersebut. Pendapat ini dapat dikatakan kuat dan masuk akal oleh karena kedua orang ini adalah sama-sama cucu dari Toga Nainggolan dan Toga Siregar, yang di mana Parhusip adalah cucu dari anak pertama Toga Nainggolan yaitu Sibatu, serta Guru Sinungsungan adalah cucu dari anak ketiga Toga Siregar yaitu Silali, serta disebutkan bahwa putra Parhusip yang ditukarkan tersebut bernama Manahan Laut, adik dari Tuan Marnaning dan menurut tarombo Siregar, anak pertama dari Guru Sinungsungan bernama Manaham atau Manahan Laut. Selanjutnya, anak perempuan Silali yang bernama Sitatap Birong menjadi anak perempuan dari Parhusip. Sitatap Birong menikah dengan Ompu Tahan Datu Sihotang Sorganimusu keturunan dari Raja Sigodang Ulu.

Pada awalnya padan ini hanya berlaku bagi Nainggolan Parhusip dan Siregar Silali karena leluhur mereka yang mengadakan parpadanan tersebut. Namun pada akhirnya, sebagaimana dengan istilah dalam Bahasa Batak Padan ni hahana, tong do padan ni anggina yang berarti jika seorang kakak mengadakan perjanjian, adiknya juga turut terlibat dalam perjanjian tersebut, semua marga Nainggolan dan marga Siregar tanpa terkecuali turut serta dalam parpadanan tersebut. Perjanjian (padan) ini berlaku dan dihormati hingga sampai sekarang.

Namun ada beberapa pendapat lain yang mengatakan bahwa yang mengikrarkan padan tersebut adalah Sibatu dan Silali yang di mana mereka berdua adalah anak dari Toga Nainggolan dan Toga Siregar. Pendapat inilah yang menjadi dasar bagi Batuara, sub-marga Nainggolan tertua yang mengklaim bahwa mereka juga turut terlibat dalam pengikraran padan tersebut.

Ada pendapat lain juga yang mengatakan bahwa yang mengikrarkan padan adalah Parhusip dan Toga Siregar. Bahkan ada pendapat lain yang mengatakan bahwa jauh sebelum adanya pengikraran padan, Toga Nainggolan dan Toga Siregar sudah menjadi pelopor dari parpadanan tersebut yang mana dikatakan bahwa Toga Nainggolan dan Toga Siregar merupakan adik-kakak yang sangat kompak dan saling menyayangi satu sama lain. Ada cerita yang mengatakan bahwa ketika Toga Siregar mengalami konflik dengan abang- abangnya yaitu Toga Sinaga, Tuan Situmorang, dan Toga Pandiangan. Abangnya Toga Nainggolan yang membantu dan melindungi Toga Siregar dalam konflik tersebut. Hal ini juga yang menandakan jauh sebelum adanya parpadanan yang diadakan keturunannya, hubungan antara Nainggolan dan Siregar sudah sangat erat.[1]

Pahlawan Nasional

Artis/Seniman/Musisi

Jurnalis

Atlet/Olahraga

Pelaku Politik/Pejabat

Tokoh Militer/Polisi

Ahli/Akademisi

Aktivis/Pejuang

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1 2 Siregar, Lambok Arnold (2016-04-04). "PATOGAR MUARA BUNGO: Kisah Janji/Padan Siregar Silali dan Nainggolan Parhusip". PATOGAR MUARA BUNGO. Diakses tanggal 2025-01-21.
  2. Silaban, Ta Hans (Jumat, 04 Mei 2018). "NAINGGOLAN DENGAN SIREGAR: NAINGGOLAN DAN SIREGAR". NAINGGOLAN DENGAN SIREGAR. Diakses tanggal 2025-01-21.
  3. Unknown (Kamis, 29 Oktober 2015). "PUNGUAN LUMBANRAJA TOGA SAHATA HELVETIA-MEDAN: Padan Nainggolan dengan Siregar". PUNGUAN LUMBANRAJA TOGA SAHATA HELVETIA-MEDAN. Diakses tanggal 2025-01-21.