Suku Pamona

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Suku Pamona
Suku To Pamona
Suku Poso
Suku Bare'e
To Pamona Bridewealth exchange.jpg
Pertukaran kain katun (mas kawin) di sebuah pernikahan To Pamona pada tahun 1991.
Total populasi
167,000[1]
Kawasan dengan populasi yang signifikan
Sulawesi Tengah & Sulawesi Selatan, Indonesia
Bahasa
Bahasa Pamona
Agama
Kristen (mayoritas), Islam, Agama rakyat
Kelompok etnis terkait
Tau Taa Wana, Suku Toraja

Pamona (seringkali disebut sebagai suku Poso, Bare'e, atau To Pamona) mendiami hampir seluruh wilayah Kabupaten Poso, sebagian Kabupaten Tojo Una-Una dan sebagian Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah; bahkan ada juga beberapa yang tinggal di Kabupaten Luwu Timur di Sulawesi Selatan, dan sebagian kecil yang tersisa hidup di bagian lain di Indonesia.

Pendahulu suku Pamona berasal dari tanah Salu Moge (Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan) karena mereka berasal dari pemerintahan pusat yang pada akhirnya ditundukkan oleh Macoa Bawalipu dari Wotu, Kabupaten Luwu Timur agar lebih dekat dengan pemerintah pusat, yang saat itu berada di Mangkutana, Luwu Timur.[2] Keadaan ini bertahan hingga pemberontakan Darul Islam (DI/TII) yang membuat mereka menyebar ke Sulawesi Tengah dan wilayah lainnya.[3] Jika terdapat suku Pamona di wilayah tertentu, maka merupakan hal yang umum jika Rukun Poso (asosiasi komunitas orang Poso) dibentuk disana, yang berfungsi sebagai sarana sekelompok orang dari latar belakang etnis yang umum untuk terlibat dalam berbagai kegiatan di kawasan ini.

Hampir seluruh orang Pamona memeluk agama Kristen. Kristen masuk ke wilayah Poso tahun 1892 (2017 adalah tahun ke-125) dan hingga saat ini diterima secara umum sebagai agama rakyat. Hingga hari ini, semua gereja dengan denominasi yang umum dikelompokkan ke dalam Gereja Kristen Sulawesi Tengah yang bermarkas di kota Tentena, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.[4] Hampir semua orang menggunakan bahasa Pamona dan bahasa Indonesia yang dicampurkan dengan kalimat slang lokal. Pekerjaan orang suku Pamona biasanya sebagai petani, pendeta, pastor, wirausahawan, pejabat pemerintahan, dan sebagainya.

Antara Pamona & Poso[sunting | sunting sumber]

Sesungguhnya suku Pamona tidak identik dengan suku Poso, Karena pada prinsipnya suku Poso tidak ada, yang ada adalah daerah yang bernama Poso, didiami oleh suku Pamona. ada yang berpendapat bahwa poso berasal dari Kata "maPoso" sendiri dalam bahasa Pamona berarti "pecah". sedangkan menurut beberapa tokoh poso kata poso sebenarnya berasal dari kata poso'o yang artinya pengikat, dinamakan sebagai kota poso karena bertujuan sebagai pengikat atau pemersatu antara orang pamona yang berasal dari gunung (pinggir danau, dan juga dengan suku pamona yang berasal dari pinggir pantai) sedangkan Asal nama Poso yang berarti pecah, konon dimulai dari terbentuknya Danau Poso. Konon, danau Poso terbentuk dari sebuah lempengan tanah berbukit, di mana di bawah lempengan bukit tersebut terdapat mata air. Disekeliling bukit merupakan dataran rendah, sehingga aliran air dari pegunungan terkumpul disekeliling bukit tersebut. Genangan air tersebut menggerus tanah disekeliling bukit sehingga makin lama air yang menyisip kedalam tanah, bertemu dengan air yang di dalam perut bumi. Akibatnya terjadi abrasi yang menjadi penyebab labilnya struktur tanah yang memang agak berpasir. Lambat laun pinggiran bukit tidak kuat lagi menahan beban bukit yang diatasnya, sehingga mengakibatkan pecahnya bukit yang terbawah masuk, jatuh kedalam kubangan mata air di bawah bukit, sehingga membentuk danau kecil. Bagi masyarakat suku Pamona zaman tersebut kejadian tersebut dituturkan sebagai pecahnya gunung yang membentuk danau tersebut, sehingga dinamai "Danau Poso" Danau yang baru terbentuk tersebut, kian lama kian membesar, karena sumber mata air di pegunungan sekelilingnya mengalir kearah danau baru tersebut. Akibatnya debit air danau dari waktu ke waktu terus naik, sehingga luas permukaannya menjadi demikian lebar. sesuai dengan sifat air yang selalu mencari dataran rendah, maka pada ketinggian permukaan tertentu, tebentuklah sebuah sungai yang mengarah ke pantai laut akibat danau tidak mampu lagi menampung debit air. Karena sungai tersebut berasal dari danau Poso, maka sungai baru tersebut, dinamai dengan nama yang sama, yakni Poso (sungai Poso). Muara sungai baru yang terbentuk itu kemudian didiami oleh sejumlah penduduk, karena di sungai baru tersebut ternyata terdapat banyak ikan. Kata poso sendKumpulan penduduk pemukim baru itu kemudian menamai kampung tersebut dengan sebutan yang sama, yakni Poso.

Adapun beberapa suku yang mendiami tanah poso adalah sebagai berikut :

1. Suku Pamona

2. Suku Mori

3. Suku Bada atau Badar

4. Suku Napu

5. Suku Tojo

6. Suku Kaili

7. Suku Padoe

8. Suku Lore

9. Suku Taa

Lembaga Adat Pamona[sunting | sunting sumber]

Nama Pamona juga merujuk kepada persatuan dari beberapa etnis, yang merupakan singkatan dari Pakaroso Mosintuwu Naka Molanto (Pamona).[5] Kemudian, Pamona menjadi sebuah suku bangsa yang disatukan di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Nama Pamona dideklarasikan di Tentena, dan bahkan sebuah peringatan untuk deklarasi tersebut diabadikan menjadi sebuah monumen dengan nama Watu Mpoga'a sebagai pengingat asal-usul[4] dan juga menamakan sebuah jalan dengan nama Pamona. Secara historis, adat Pamona yang dilembagakan sebelumnya dibagi dengan beberapa otoritas. Untuk Poso, dipimpin oleh Datu Poso dan beberapa kabosenya (tetua) yang merepresentasikan kelompok suku mereka masing-masing.[6] Di Luwu, dipimpin oleh Makole Tawi dan keberadaan institusi adat Pamona saat ini terbagi menjadi dua lembaga. Di Poso, dinamakan Majelis Adat Lemba Pamona Poso, sedangkan di Tanah Luwu (Kabupaten Luwu Timur dan Kabupaten Luwu Utara) disebut Lembaga Adat Lemba Pamona Luwu. Saat ini, keberadaan dari beberapa lembaga ini masih dijaga oleh komunitas Pamona yang berada di Mangkutana (Luwu Timur) dan Masamba (Luwu Utara), maupun orang-orang yang berada di Poso.

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Dua gadis mengenakan pakaian adat Poso, Sulawesi, kr. 1920–1930.

Bahasa yang digunakan oleh suku Pamona adalah bahasa Pamona. Struktur bahasa Pamona termasuk unik dalam hal suku kata dari akar kata, dimana akar kata mungkin memiliki arti yang berbeda ketika awalan, akhiran, sisipan atau imbuhan ditambahkan. Contoh dari akar kata yang telah berubah setelah awalan, akhiran atau imbuhan ditambahkan dan membentuk arti yang berbeda untuk itu, seperti:-

Bahasa Pamona Bahasa Indonesia Bahasa Inggris
Akar kata Ja'a Jahat Evil, Bad
Awalan

Maja'a
Kaja'a

Rusak, Jahat
Kejahatan

Spoilt, Damage
Crime, Wickedness

Akhiran

Ja'andaya
Ja'anya
Ja'asa
Ja'ati

Kemarahan
Kerugiannya, sayangnya
Alangkah jahatnya
Dirusaki

Anger
Loss
How wicked is that
Tempered, Damaged

Imbuhan Kakaja'ati Sayang (untuk barang yang rusak) How wasted, What a waste
Sisipan Ja'a-ja'a Buruk Bad, Not good

Contoh lain:-

Bahasa Pamona Bahasa Indonesia Bahasa Inggris
Akar kata Monco Benar True
Imbuhan Kamonconya Sesungguhnya, Sebenarnya Indeed, Actually
Akhiran

Moncoro
Moncou

Bersiaga
Terayun

Alert
Swung

Sisipan Monco-monco Sungguh-sungguh Earnest

Ada juga beberapa kata-kata akar yang diklasifikasikan sebagai kata-kata inventif (seperti contoh sebelumnya yang merupakan bagian dari kata-kata inventif namun tidak diklasifikasikan sebagai kata-kata inventif) dengan hanya perubahan posisi abjad, sehingga menciptakan makna lain. Sebagai contoh:-

Bahasa Pamona Bahasa Indonesia Bahasa Inggris
Soe Ayun Swing
Soa Kosong Empty
Sue Mencontoh Imitate
Sia Sobek Torn
Sou, Sau Turunkan Lower down
Sua Masuk Enter
Sai Kais As in a chicken digging the ground with its claws
Seo Sobek (karena lapuk) Worn out

Bahasa Pamona termasuk unik karena memiliki banyak fase suku kata yang bisa diputar untuk membentuk arti yang berbeda, misalnya:-

Bahasa Pamona Bahasa Indonesia Bahasa Inggris
Mekaju Mencari kayu bakar Finding firewood
Mokuja Sedang berbuat apa? What are you doing?
Makuja Bertanya mengenai jenis kelamin bayi yang baru lahir Inquiring the gender of a newborn baby
Makijo Bunyi teriakan riuh sebangsa monyet Sound of a primate shouting
Mokeju Bersanggama Copulate

Contoh lain:-

Bahasa Pamona Bahasa Indonesia Bahasa Inggris
Koyo Usung Stretcher
Kuya Jahe Ginger
Kayu Usungan yang terbuat dari pelepah rumbia A sort of stretcher made of sago palm leaves
Koyu Simpul tali berkali-kali pada suatu rentang tali Weaving of knots into a form of a rope
Bahasa Pamona Bahasa Indonesia Bahasa Inggris
Lio Wajah Face
Lou Ayun badan kebawah Swinging downwards
Lau Berada di tempat yang lebih rendah Located at lower lands
Lua Muntah Vomit
Loe Jinjing Tote
Liu Lewat Late

Kesenian[sunting | sunting sumber]

Perayaan Ekaristi di Poso, Sulawesi Tengah, 1937.

Musik[sunting | sunting sumber]

Secara tradisional, suku Pamona memiliki gaya musik dalam bentuk kata yang diucapkan. Salah satu contoh dari gaya musik yang sering dinyanyikan di antara rakyat desa di tahun 1940-an:-

Bahasa Pamona Bahasa Indonesia Bahasa Inggris

Ee nona ee nona iwenu pai nu kabaga?
Pai ku kabaga, bonce be manana,

Ee bonce, ee bonce, iwenu pai be manana?
Pai be manana, kaju wota-wota,

Ee kaju, ee kaju, iwenu pai nu ka wota?
Pai ku ka wota, na tudusi uja,

Ee uja, ee uja, iwenu pai nu katudu?
Pai ku katudu, da napandiu ntumpa,

Ee tumpa, ee tumpa, iwenu pai nu pandiu?
Pai ku pandiu, da natungku ule,

Ee ule, ee ule, iwenu pai nu patungku?
Pai ku patungku, kina'a ntu'aku,

Eh nona, mengapa perutmu buncit?
Perutku buncit karena makan bubur yang tidak matang,

Eh bubur, mengapa engkau tidak matang?
Karena (dimasak dengan) kayu bakar basah,

Eh kayu, mengapa engkau (kayu bakar) basah?
Aku (kayu bakar) basah karena hujan turun,

Eh hujan, mengapa engkau turun?
Aku (hujan) turun karena akan dipakai kodok untuk mandi,

Eh kodok, mengapa engkau mandi (air hujan)?
Aku (kodok) mandi, karena aku akan di santap ular,

Eh ular, mengapa engkau (hendak) menyantap si kodok?
Aku (ular) akan menyantap kodok, (karena) makanan moyangku,

Eh lady, eh lady, why is your stomach distended?
My stomach is distended because I ate uncooked porridge,

Eh porridge, eh porridge, why are you uncooked?
I'm uncooked because I was cooked with wet firewood,

Eh wood, eh wood, why are you wet?
I'm wet because of the rain,

Eh rain, eh rain, why did you rained down?
I rained down because the frog wants to bathe,

Eh frog, eh frog, why do you want to bathe?
I wanted to bathe because the snake is going to eat me,

Eh snake, eh snake, why do you want to eat the frog?
I want to eat the frog because that is the food of my ancestors,

Tarian[sunting | sunting sumber]

Tarian Dero, atau modero merupakan tarian populer di kalangan Suku Pamona. Tarian ini diadakan pada pesta-pesta rakyat. Biasanya dilakukan oleh orang-orang muda. Tarian melingkar dilakukan dengan saling bergandengan tangan, sambil berbalas pantun diringi musik ceria. Beberapa daerah di Palu melarang kegiatan tarian dero atau modero karena sering menjadi pemicu perkelahian antar pemuda yang saling berebut perhatian gadis-gadis. Tarian Dero, dibedakan atas tiga macam gerakan dan langkah kaki sesuai dengan ritme musik. Yang pertama disebut dengan ende ntonggola, melangkahkan kaki kekanan dua langkah, selangkah ke belakang dan seterusnya berulang. Ditarikan saat menyambut bulan purnama, di mana waktu mulai persiapan lahan menunggu waktu bercocok. Waktu bercocok tanam adalah saat bulan mulai gelap. Gerakan tari yang berikutnya disebut dengan ende ngkoyoe atau ende ntoroli, yaitu dua langkah kekanan dan selangkah kekiri. Gerakan ini dilakukan saat mengantar panen, perayaan hari besar atau pesta. Gerakan tari yang terakhir disebut ende ada (adat), yang ditampilkan untuk penyambutan hari-hari adat atau perayaan. Gerakannya sama dengan ende ntoroli, perbedannya terletak pada tangan para penari yang tidak bergandengan atau berpegangan.[5] Tarian Dero juga berfungsi sebagai sarana hubungan sepasang kekasih di depan umum, kecuali untuk tari Raego yang agak kental dengan budaya dan tidak terkait dengan hubungan sepasang kekasih.[4]

Marga[sunting | sunting sumber]

Marga Pamona terdiri dari:-

  • Awundapu
  • Awusi
  • Banumbu
  • Bali'e
  • Baloga
  • Belala
  • Betalino
  • Beto
  • Botilangi
  • Bulinde
  • Bungkundapu
  • Bungu
  • Buntinge
  • Bakumawa
  • Dike
  • Dongalemba
  • Gilirante
  • Gimbaro
  • Gugu
  • Gundo
  • Kaluti
  • Kampindo
  • Kambodji
  • Kalembiro
  • Kalengke
  • Karape
  • Karebungu
  • Kayori
  • Kayupa
  • Koedio
  • Kogege
  • Kolombuto
  • Kolobinti
  • Kuko
  • Lakiu
  • Langgari
  • Ladjamba
  • Lambangasi
  • Labiro
  • Liante
  • Lidongi
  • Lu'o
  • Lumaya
  • Lolongudju
  • Manganti
  • Meringgi
  • Mogadi
  • Mossepe
  • Mowose
  • Monepa
  • Monipo
  • Nyolo-nyolo
  • Nggau
  • Nggo'u
  • Nua
  • Nyaua
  • Pakuli
  • Palaburu
  • Parimo
  • Pariu
  • Paroda
  • Pasunu
  • Patara
  • Pebadja
  • Penina
  • Pekita
  • Penyami
  • Pesudo
  • Poa
  • Pombaela
  • Pobonde
  • Podala
  • Polempe
  • Purasongka
  • Rangga
  • Ratengku
  • Pusuloka
  • Rampalino
  • Rampalodji
  • Rantelangi
  • Rare'a
  • Ruagadi
  • Rubo
  • Rumbani
  • Ruutana
  • Satigi
  • Sancu'u
  • Sawiri
  • Sigilipu
  • Sipatu
  • So'e
  • Sowolino
  • Tabanci
  • Tadanugi
  • Tadalangi
  • Tadale
  • Tadadja
  • Tadjaji
  • Taiso
  • Talasa
  • Tambo'eo
  • Tarante
  • Tara'u
  • Tasiabe
  • Tawuku
  • Tawurisi
  • Tekora
  • Tepara
  • Tiladuru
  • Tolala
  • Tobondo
  • Tobogu
  • Tolimba
  • Torau
  • Toumbo
  • Tumonggi
  • Turuka
  • Ule
  • Ululai
  • Warara
  • Wenali
  • Werokila nce'i to mori
  • Wuri
  • Wutabisu

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

  • Katiana Upacara kehamilan Suku Pamona

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Pamona, Poso in Indonesia". Joshua Project. Diakses tanggal 2014-11-05. 
  2. ^ Idwar Anwar (2005). Ensiklopedi Sejarah Luwu. Collaboration of Komunitas Kampung Sawerigading, Pemerintah Kota Palopo, Pemerintah Kabupaten Luwu, Pemerintah Kabupaten Luwu Utara, and Pemerintah Kabupaten Luwu Timur. ISBN 979-98372-1-9. 
  3. ^ Eva-Lotta E. Hedman (2008). Conflict, Violence, and Displacement in Indonesia. SEAP Publications. ISBN 0-87727-745-1. 
  4. ^ a b c Albert Schrauwers (2000). Colonial "Reformation" In The Highlands of Central Sulawesi, Indonesia, 1892–1995. University of Toronto Press. ISBN 978-0-8020-8303-6. 
  5. ^ a b "Pamona Tribe". Modero Dance Company. Diakses tanggal 2014-11-11. 
  6. ^ Hasan (2004). Sejarah Poso. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Poso & Penerbit Tiara Wacana Yogya. ISBN 979-9340-50-0.