Suku Muyu
Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia. |
Tarian pria suku Muyu di Kampung Katan, 1955 | |
| Daerah dengan populasi signifikan | |
|---|---|
| Papua Selatan (Kabupaten Boven Digoel) | |
| Bahasa | |
| Bahasa Muyu, Kati (Muyu Utara), Muyu Selatan | |
| Kelompok etnik terkait | |
| Sub-suku : Are · Kakaib · Kamindip · Kasaut · Kawiyet · Ningrum · Okpari · Yonggom |
Suku Muyu yaitu salah satu suku bangsa Ok di Indonesia dan terdapat di Papua Selatan yang menempati daerah di sekitar Sungai Muyu dan terletak di sebelah timur laut Merauke.[1] Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Muyu.[1]
Etimologi
Istilah Muyu sendiri muncul dari dua perkiraan, yaitu muncul seiring dengan masuknya misi Katolik dan Pastor Petrus Hoeboer yang berkebangsaan Belanda tahun 1933 karena penduduk setempatnya menyebut sungai tempat mereka tinggal, yang mengalir dari Sungai Kao di sebelah barat dan Sungai Fly di sebelah timur, dengan nama Ok Mui yang berarti "Sungai Mui", dan pengejaan oleh pemerintah Belanda kemudian berubah menjadi Muyu.[1]
Penjelasan kedua karena kontak pertama dengan ekspedisi Belanda pada tahun 1909 di Sungai digul, dekat muara Sungai Kao. Kemudian mereka berlayar lagi menuju hulu Sungai Kao. Diperkirakan mereka melakukan kontak dengan orang-orang yang tinggal di pinggiran Sungai Kao, yaitu sub-suku Kamindip. Salah satu klan Kamindip adalah Muyan, dan saat orang-orang ini memperkenalkan diri mereka berkata "neto muyannano" artinya "saya ini orang (dari klan) Muyan". Kemudian istilah ini yang pengejaannya berubah menjadi nama Muyu.[2]
Distribusi

Muyu terdapat di daerah pedalaman Pulau Papua, yang merupakan daerah perbatasan dengan negara Papua New Guinea.[3] Di sebelah Timur berbatasan dengan Papua New Guinea.[3] Sebelah Selatan dengan Sungai Kao, Sungai Digul, dan Kabupaten Merauke.[4] Sebelah Utara berbatasan dengan Pegunungan Bintang dan sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Boven Digoel.[3] Panjang daerah Muyu adalah 180 KM dan memiliki luas 7860 KM2, serta lebar 40-45 KM.[3] Data tahun 1956 menyebutkan bahwa jumlah penduduk di suku Muyu berjumlah 17.269 jiwa yang menempati 59 desa.[3] Bahasa yang digunakannya adalah bahasa Muyu dan menggunakan dialek Ninati juga dialek Metomka.[3] Alat tukar yang digunakannya adalah kulit kerang yang disebut istilah ot dan gigi anjing yang disebut dengan istilah mindit.[3] Daerah suku Muyu umumnya berupa bukit-nukit dalam ketinggian 100-700 meter di atas permukaan air laut.[3] Tekstur tanahnya kurang subur, dan berwarna coklat sedikit kemerah-merahan, dan akibatnya masyarakat Muyu sering kali mengalami kekurangan bahan makanan dan angka kematian di daerah Muyu pun terhitung tinggi.[3] Pada umumnya, mata pencaharian masyarakat Muyu adalah berburu, beternak babi dan anjing, menangkap ikan, dan produksi sagu.[3]
Sub suku
Suku bangsa Muyu sendiri terbagi menjadi beberapa sub-suku dengan wilayah dan dialeknya masing-masing.[5][6][7]
- Sub-suku Kamindip, bertepat di Kampung Amburan, Anggamburan, Kanggup, Sesnuk, Umap, dan Yomkondo
- Sub-suku Okpari, bertepat di ibukota distrik Mindiptana, Kampung Amuan, Imko, Kakuna, Mindiptanah, dan Wanggatkibi
- Sub-suku Kakaib, di bagian Timur dari distrik Mindiptana. Mereka mendiami Kampung Kombut, Mokbiran, Namas, dan sebagian Kampung Kawangtet
- Sub-suku Are, di bagian Utara, berbatasan langsung dengan suku Ngalum dan wilayah distrik Waropko. Mereka menghuni Kampung Benkim, Deto, Tembutka, dan Wametkapa
- Sub-suku Kasaut, di bagian utara, menempati Kampung Ikcan, Upkim, dan Waropko
- Sub-suku Jonggom yang mendiami bagian Timur Laut di Kampung Inggembit, Kawaktembut, Kunkim, Ninati, Timka, dan Yetetkun
- Sub-suku Ninggrum, berjumlah sekitar 1000 orang di wilayah Indonesia pada tahun 1975. Dialek Ninggrum terbagi menjadi tiga subdialek, Ningrum, Kasuwa, dan Daupka/Tedi Atas. Mereka menempati bagian Timur Laut di Kampung Ninggrum, Yetetkun, hingga wilayah PNG
- Sub-suku Kawibtet/Kawiyet, dari kata kaduk wip ('orang dari tengah'). Dialek Kawiyet sendiri terbagi menjadi tiga subdialek, Komoyan, Medewan, dan Metawan. Mereka mendiami Kampung Kanggewot, sebagian Kawangtet, Upyetetko, dan Wanggatkibi
Sistem kekeluargaan
Di dalam suku Muyu terdapat seorang ketua atau pemimpin tinggi dalam kehidupan sosial dan religiusnya.[3] Selain itu suku ini juga memiliki orang-orang yang berpengaruh dan berwibawa big man yang disebut keyepak dan Tomkot.[3] Kemudian yang membedakan dari keduanya adalah dari banyak sedikitnya benda-benda berharga (tukon) seperti ot, serta dari kurangnya pengetahuan tentang kekuatan gaib tapi dia memiliki pengaruh di dalam trahnya.[3] Tomkot ialah orang yang tidak mempunyai pengetahuan mengenai kekuatan gaib juga tidak banyak memiliki benda-benda berharga, dan menjalani kehidupannya dengan sederhana.[3] Sedangkan Kayapak dialah yang mempunyai banyak benda berharga dan menguasai kekuatan gaib.[3] Tokoh-tokoh tersebut berkuasa dalam kelompok kekerabatan patrilineal (trah) dalam sebuah keluarga inti.[3] Kebanyakan rumah yang mereka tempati adalah rumah pohon dan rumah panggung.[3] Di dalam rumahnya dibagi-bagi menjadi beberapa ruangan; ruangan khusus wanita dewasa dan ruangan untuk laki-laki dan untuk anak-anak.[3] Dalam sebuah keluarga inti bisa tinggal serumah atau membuat rumah secara berdekatan, hal ini bertujuan untuk mengamankan diri dari serangan-serangan musuh.[3] Di dalam suku Muyu, disahkan poligami, jadi tidak heran jika seorang pria memiliki lebih dari satu istri.[3]
Keluarga inti memiliki peran untuk mengatur cara-cara penguasaan harta dan tanah, cara mencari pangan, penataan pola pemukiman, serta mempunyai kuasa atas teritorial yang lebih besar dari trah (lineage) serta cara-cara meneruskan ilmu supranatural.[3] Keluarga inti akan membentuk kelompok kekerabatan patrilineal yang seterusnya dapat membangun kekerabatan yang lebih luas.[3]
Pakaian adat
Laki-laki Muyu menggunakan koteka kawet karuk yang terbuat dari paruh burung taun-taun disebut on kewet. Setelah dipisahkan dengan kepala burung lalu dikeringkan di perapian sebelum dilubangi untuk memasukkan tali pengikat di pinggang.[8] Biasanya digunakan saat acara makan-makan, atau tarian seperti Amewop, Urumanop, dan ketmom, oleh para pemuda.[9]
Selain itu ada pula koteka dari labu yang disebut wabot, berbentuk panjang dan sedikit melengkung sekitar 35 cm. Bagian ujungnya dihiasi bulu kuning dan putih dari marsupial kuskus tutul (bandep). Untuk sehari-hari lelaki Muyu menggunakan penutup kelamin selain koteka yang hanya menutupi kepala penis (seperi nega milik suku Lepki dan suku lainnya di Pegunungan Bintang), terdapat dua jenis yang pertama dari biji mangga hutan berbentuk oval dan sedikit gepeng, yang disebut orom yop. Jenis kedua berasal dari sejenis palem hutan (kemungkinan Pandanus) yang berbentuk bulat dan disebut mamundin yop. Penutup kepala penis ini berukuran kecil sekitar 2,5-3,5 cm untuk diameternya. Selain itu mereka juga menggunakan lilitan dari sejenis tanaman rambat yang dinamakan kobem nong pada pinggang mereka.[9]
Sedangkan perempuan suku Muyu menggunakan rok rumbai dari bulrush yaitu rumput panjang / lidi air/ ampet dari rawa-rawa yang bernama wonom. Pada badan mereka menggunakan kuiras dari rotan yirim nong.[9]
Rumah adat
Ambip adalah rumah tradisional suku Muyu. Bentuknya berupa rumah panggung yang ditopang dengan beberapa kolom dari batang dan kolom sentral dari pohon, sehingga membentuk rumah pohon. Umumnya sekarang dibangun setinggi 3-8 m, walau pada masa lampau bisa hingga 20 m dari tanah dengan luas 4-8 meter persegi. Terdapat pula rumah lebih tinggi lagi disebut Ayomru yang bisa memiliki ketinggian hingga 30 m lebih, rumah pohon ini berfungsi sebagai rumah pengawas.[10]
Dibangun dari daun dan batang pohon nibung. Kamar kaum wanita dan laki-laki dipisahkan dengan sekat dari daun nibung, biasanya luasan bilik wanita lebih kecil dari bilik pria. Di dalam akan terdapat beberapa amkotep (tungku) berjumlah dua untuk kauk wanita dan pria. Kaum perempuan selain anak kecil dilarang menghampiri tungku pria, sehingga jika anak tersebut sudah beranjak remaja, akan dibuatkan tungku sendiri.[10]
Referensi
- 1 2 3 "Suku Muyu di Papua | e-MISI". misi.sabda.org. Diakses tanggal 2019-04-01.
- ↑ Kandam, Maksimus Mamo. "Muyu atau Kati, kami sebenarnya Muyu atau Kati?". FISIP Universitas Cendrawasih.
- 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 "Kepercayaan Asli Suku "Muyu – Kati"". PAPUALIVES.COM-KORAN ONLINE BERITA DAN INFORMASI WARGA PAPUA. 2014-08-14. Diakses tanggal 2019-04-01.
- ↑ "Kepercayaan Asli Suku "Muyu – Kati"". PAPUALIVES.COM-KORAN ONLINE BERITA DAN INFORMASI WARGA PAPUA. 2014-08-14. Diakses tanggal 2019-04-01.
- ↑ "Budaya dan Sejarah Orang Muyu – JERAT PAPUA". JERAT PAPUA – Papua Peoples Network for Natural Resources and Ecosoc Rights. 2014-06-27. Diakses tanggal 2025-07-06.
- ↑ "Documentation of Muyu, a Lowland Ok language of Western New Guinea". Endangered Languages Archive. Diakses tanggal 2025-07-06.
- ↑ "Perda Kab. Boveb Digoel No 2 Tahun 2023" (PDF). Diakses tanggal 2025-07-06.
- ↑ Suroto, Hari (2017-11-09). "Uniknya Pakaian Pria Suku Muyu, Papua". CNN Indonesia. Diakses tanggal 2025-11-03.
- 1 2 3 Kirsch, Stuart (1991). The Yonggom of New Guinea, An Ethhnography of Sorcery, Magic, and Ritual (Phd thesis). Philadephia: University of Pennsylvania.
- 1 2 Dwi Laksono, Agung (2015). Anyiman, Studi Etnografi Makanan Suku Muyu. Sleman: PT Kanisius.