Suku Pakpak

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Orang Pakpak

Kalak Pakpak
ᯇᯂ᯲ᯇᯂ᯲
Liberty Manik.jpeg BUPATI DAIRI Master Parulian Tumanggor.JPG Yade Setiawan Ujung.jpg
Eddy Keleng Ate Berutu 2019.png Remigo Berutu.jpeg Wali Kota Subulussalam Affan Alfian.jpg
MakmurSBancin-1stRegentofAcehSingkil.JPG Franc Bernhard Tumanggor.jpg Irwansyah Pasi Wakil Bupati Dairi.png
Mutsyuhito Solin.jpg Ponirin Meka.jpg Bachtiar Ujung.jpg
Jumlah populasi
± 600.000 jiwa
Daerah dengan populasi signifikan
Bahasa
Pakpak, Indonesia, Toba
Agama
Kristen, Islam
Etnis terkait
Toba, Karo, Alas, Singkil

Suku Pakpak (Pakpak: ᯇᯂ᯲ᯇᯂ᯲) atau lazim juga disebut Batak Pakpak (Pakpak: ᯅᯗᯂ᯲ ᯇᯂ᯲ᯇᯂ᯲) adalah salah satu suku bangsa yang termasuk kedalam sub-suku Batak dan umumnya terdapat di Pulau Sumatra, Indonesia. Orang Pakpak tersebar di beberapa kabupaten/kota di Sumatra Utara dan Aceh, yakni di Kabupaten Dairi, Kabupaten Pakpak Bharat, Kabupaten Humbang Hasundutan, Tapanuli Tengah (Sumatra Utara), serta sebagian Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Subulussalam (Aceh).

Pembagian

Gedung Nasional Djauli Manik di Kota Sidikalang bermotifkan rumah adat Pakpak

Suku Pakpak terdiri atas 5 subsuku, dalam istilah setempat sering disebut dengan istilah Pakpak Silima Suak yang terdiri dari:

  1. Pakpak Klasen, berdomisili di wilayah Parlilitan yang masuk wilayah Kabupaten Humbang Hasundutan dan wilayah Manduamas yang merupakan bagian dari Kabupaten Tapanuli Tengah.
  2. Pakpak Simsim, berdiam di Kabupaten Pakpak Bharat.
  3. Pakpak Pegagan, bermukim di Sumbul dan sekitarnya di Kabupaten Dairi.
  4. Pakpak Keppas, bermukim di Kota Sidikalang dan sekitarnya di Kabupaten Dairi.
  5. Pakpak Boang, bermukim di provinsi Aceh yaitu di Kabupaten Aceh Singkil dan Kota Subulussalam. Suku Pakpak menganggap Suku Singkil sebagai Pakpak Boang, sedangkan Suku Singkil menganggap mereka sebagai suku tersendiri.

Marga Pakpak

Masyarakat Pakpak diikat oleh struktur sosial yang dalam istilah setempat dengan Sulang Silima. Sulang Silima terdiri dari lima unsur yakni:

  1. Sinina tertua (Perisang-isang (keturunan atau generasi tertua)
  2. Sinina penengah (Pertulan tengah (keturunan atau generasi yang di tengah)
  3. Sinina terbungsu (perekur-ekur = keturunan terbungsu)
  4. Berru (kerabat penerima gadis)
  5. Puang (kerabat pemberi gadis)

Kelima unsur ini sangat berperan dalam proses pengambilan keputusan dalam berbagai aspek kehidupan terutama dalam sistem kekerabatan, upacara adat maupun dalam konteks komunitas lebbuh atau kuta. Artinya ke lima unsur ini harus terlibat agar keputusan yang diambil menjadi sah secara adat.

Upacara adat Pakpak dinamakan dengan istilah kerja atau kerja-kerja. Namun saat ini sering juga digunakan istilah pesta. Upacara adat tersebut terbagi atas dua bagian besar yakni:

  1. Upacara adat yang terkait dengan suasana hati gembira dinamakan kerja baik;
  2. Upacara adat dalam suasana tidak gembira dinamakan kerja jahat.

Contoh kerja baik adalah: merbayo (upacara perkawinan), menanda tahun (upacara menanam padi), merkottas (upacara untuk memulai sesuatu pekerjaan yang beresiko) dan lain-lain. Contoh kerja jahat adalah mengrumbang dan upacara mate ncayur ntua (upacara kematian).[1]

Sumber

  1. ^ Lister Berutu 2006. Mengenal Upacara Adat Pada Masyarakat Pakpak, Medan, Monoratama.

Pranala luar