Suku Lamaholot

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Lamaholot (atau Lamkolot, Lamholot, Solor, Larantuka[1]) adalah salah satu suku bangsa yang berdiam di dalam wilayah Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Suku Lamaholot mendiami sebagian besar wilayah kabupaten tersebut, yang meliputi bagian timur Pulau Flores, Pulau Adonara, Pulau Lembata, Pulau Solor, dan Pulau Alor.[2] Dalam kabupaten ini mereka hidup berdampingan dengan kelompok-kelompok lain, seperti orang Kedang, orang Labala, bersama dengan kelompok pendatang seperti Bugis, Makassar, Buton, serta keturunan Cina.[2]

Lokasi dan lingkungan alam[sunting | sunting sumber]

Kabupaten tempat Suku Lamaholot berdiam ini merupakan wilayah kepulauan vulkanis dengan rangkaian bukit-bukit dengan sejumlah gunung berapi yang masih aktif, yaitu Gunung Lewotobi Laki-laki, Gunung Lewotobi Perempuan, Gunung Leraboleng dan Gunung Iliboleng.[3] Letak geografis wilayah kabupaten ini berdampak pada klimatologi yaitu mengalami dua musim seperti daerah-daerah lain di Indonesia yaitu musim kemarau dan musim hujan. Adapun pemanfaatan lahan berupa tanah sawah, tanah pekarangan, tanah tegalan, hutan, perkebunan, perikanan, peternakan dengan sumber mata air umumnya berada pada kawasan hutan.[3]

Demografi[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2017 jumlah penduduk Kabupaten Flores Timur diproyeksikan sebanyak 251.611 jiwa.[4] Belum ada data yang pasti berapa jumlah orang Lamaholot di antara jumlah penduduk kabupaten ini seperti tersebut di atas. Namun dapat dipastikan bahwa orang Lamaholot merupakan bagian mayoritas dari keseluruhan penduduk yang ada di kabupaten tersebut.[2] Bagian yang terkecil adalah suku bangsa Kedang dan Labala yang berdiam di Pulau Lomblen, serta pendatang dari daerah lain atau peranakan. Ada pendapat bahwa penduduk asal daerah Nusa Tenggara Timur umumnya menunjukkan tingkat mobilitas yang rendah karena dipengaruhi oleh letak pemukiman mereka yang berada di puncak-puncak bukit dan juga karena keterikatan pada adatnya. Namun orang Lamaholot tingkat mobilitasnya lebih tinggi yaitu banyak berada di luar daerahnya sendiri sehubungan dengan ragam matapencaharian mereka yaitu sebagai petani, nelayan, pedagang, dan juga pelaut.

Sehubungan dengan asal-usul orang Lamaholot ini ada sejarah lisan yang mengatakan bahwa mereka berasal dari Keroko Pukeng atau Lepan Batang, sebuah pulau kecil di sebelah utara Pulau Pantar yang kini termasuk wilayah Kabupaten Alor. Pada suatu masa pulau kecil itu terkena bencana dimana rumah-rumah tergenang air dan mereka terpaksa pindah dan akhirnya sampai di Flores Timur ini.[2] Sedangkan asal usul turunan orang Lamaholot disebut merupakan pengaruh Hindu-Budha dari India belakang yang diikuti pengaruh Islam dari Gujarat dan Persia dengan arus aliran persinggahan dari India ke Malaka serta dari Cina ke Muangthai dan bertemu di pusaran nusantara dengan persinggahan di Sumatra, Jawa dan Kalimantan.[5]

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Suku Lamaholot memiliki bahasa sendiri yaitu Bahasa Lamaholot yang digolongkan oleh para ahli ke dalam rumpun bahasa Ambon Timur. Bahasa ini terdiri atas bahasa Lamaholot Barat, Lamaholot Tengah, dan Lamaholot Timur. Bahasa Lamaholot Barat adalah bahasa yang paling besar jumlah penuturnya, yaitu terdiri atas beberapa dialek, yaitu Pukaunu, Lewotobi, Lewolaga, Barna, Lewolwma, Waibulan, Baipito, Tanjung, Buton, Horowura, Waiwadan, Watan, Kiwang Ona, Dulhi, Wua Kerong, Belang, Lamalera, Mulan, Lamahora, Merdeka, Ile Ape, Ritaebang, dan Lemakera. Bahasa Lamaholot Tengah terdiri atas dialek Mingar, Lewo Penutu, Lewotala, Lewokukun, Imaldo, Lewuka, Kalikara, dan Painara. Sedangkan Bahasa Lamaholot Timur yang paling sedikit jumlah penuturnya terdiri atas dialek Lewowlong dan Lamatuka.[2]

Pemukiman[sunting | sunting sumber]

Pada masa lampau Suku Lamaholot umumnya memilih tempat bermukim di puncak-puncak bukit yang sulit untuk dijangkau. Namun ada juga yang mendirikan rumah dan bermukim di daerah dataran suatu lembah dan di sepanjang pantai. Pada masa kini sebagian desa-desa Suku Lamaholot masih memperlihatkan ciri-ciri tradisi, meskipun sudah masuk unsur-unsur pengaruh dari luar. Wilayah tempat tinggal Suku Lamaholot ini berupa desa yang disebut lowo tanah atau niilaga.[2] Pola perkampungan ini padat dan berbentuk empat persegi panjang, yaitu membujur dari arah utara ke selatan dan tampak berorientasi pada empat arah mata angin sehingga mereka menyebutnya kampung bagian utara, kampung bagian timur, serta selatan dan barat. Kampung-kampung lama biasanya dikelilingi pagar batu dengan tujuan melindungi diri dari serangan musuh atau dari gangguan binatang. Sekarang batas itu sudah tidak jelas karena kawasannya terlalu luas yang meliputi ladang atau bekas ladang.

Rumah adat atau rumah tradisional Lamaholot biasanya menghadap ke laut atau membelakangi gunung dan biasanya berupa rumah panggung. Bagian depan dan belakang rumah menjadi beranda, bagian kiri dan kanan sebagai tempat untuk tidur dan tempat upacara, bagian tengah sebagai dapur, serta di bagian atas atau loteng sebagai tempat untuk menyimpan benda-benda pusaka. Bahan untuk pembuatan rumah adalah kayu, lontar dan bambu dengan atapnya terbuat dari rerumputan dan ijuk serta lantai terbuat dan papan atau bambu. Selain itu, setiap rumah memiliki tiang utama yang suci sebagai tempat arwah leluhur.[2]

Rumah adat yang dalam istilah lokal disebut korke biasanya tidak berdinding yang ditopang dengan enam buah tiang utama dan 18 buah tiang bantu (penyangga).[6] Pembangunan rumah adat ini sangat panjang prosesnya, yaitu melalui serangkaian upacara ritual dari tahap pemilihan bahan sampai rumah selesai dibangun. Proses pembangunan dilakukan pada siang hari sedangkan di malam harinya masyarakat menjaganya sambil menari dan bernyanyi tentang asal usul dan mitologinya. Rumah adat ini pun sangat penting dan dianggap sakral oleh para masyarakat.

Mata pencaharian[sunting | sunting sumber]

Mata pencaharian utama Suku Lamaholot adalah bercocok tanam di ladang dengan tanaman utamanya yaitu padi dan dilakukan dengan sistem tebang bakar.[2] Tanah yang dikerjakan merupakan milik adat yang disebut tanah wungu dan pada masa lalu pengerjaannya pun diatur oleh kepala adat. Setiap tahap pekerjaan harus diawali dengan upacara dan pembagian kerja dilakukan berdasarkan seks. Pekerjaan berat seperti pembukaan hutan dilakukan oleh laki-laki, dan tahap menanam dan panen dikerjakan oleh laki-laki dan perempuan. Mereka juga mengenal sistem gotong-royong. Tanaman lain yang dibudidayakan adalah ubi kayu, jagung, kacang-kacangan, pisang, nangka, kopi, kemiri, kelapa, dan lain-lain. Alat-alat pertanian yang digunakan masih sederhana yaitu berupa parang, kapak, tofa untuk membersihkan rumput, tugal, pisau alat memanen padi.

Upacara dalam rangka bercocok tanam di ladang dimulai dengan makan sirih-pinang ketika mereka berkumpul, yang menyimbolkan rasa kesatuan mereka. Acara dilanjutkan dengan doa yang disampaikan oleh imam yang disebut Marang, kemudian diadakan pemotongan hewan korban (belo buno) yang dipersembahkan kepada dewa tertinggi atau Yang Maha Kuasa, dan juga kepada roh nenek moyang. Tujuan upacara ini adalah untuk mendapatkan keselamatan dan mendapatkan hasil panen. Upacara tersebut juga untuk menghormati dewi padi (Tonu Wujo) dengan mengorbankan hewan dan sajian berupa sirih-pinang yang diletakkan di tengah ladang dan dengan tari-tarian yang dilakukan pada waktu panen.

Padi hasil panen biasanya dimasukkan dalam sebuah wadah yang disebut hora, terbuat dari anyaman daun lontar. Tangkai padi ini diirik (pula hama) dan disimpan di dalam lumbung dan hanya diambil bila diperlukan yaitu saat ingin ditumbuk atau dijual gabahnya. Panen jagung dilakukan dengan mematahkan tongkol-tongkolnya dengan tangan. Terdapat beberapa cara penyimpanan tongkol-tongkol jagung yaitu dengan cara menggantungnya pada bambu yang diletakkan di luar rumah, diletakkan di atas perapian di dapur, dan kadang-kadang disimpan dalam gubuk di ladang.

Selain bercocok tanam, mata pencaharian tambahan Suku Lamaholot adalah menyadap tuak.[2] Pekerjaan menyadap tuak ini merupakan salah satu tolok ukur untuk menilai kedewasaan seorang lelaki. Lelaki disebut dewasa jika ia sudah terampil bekerja di ladang dan menyadap tuak (ola here a tau); sebaliknya ukuran kedewasaan bagi seorang anak perempuan adalah sudah pandai bertenun (neket tane). Mereka juga bertemak babi, kambing, ayam, dan kerbau. Kerbau biasanya disembelih dalam rangka upacara serta berfungsi juga sebagai mas kawin. Sebagian dari Suku Lamaholot juga menangkap ikan dengan alat-alat sederhana, seperti jaring (nere) dari anyaman tulang daun lontar, busur panah dari bambu, pancing, dan lain-lain. Mereka yang tinggal di daerah pantai malahan menganggap pekerjaan menangkap ikan merupakan mata pencaharian yang penting. Penduduk desa Lamalera di Pulau Lembata terkenal sebagai desa nelayan yang biasa berburu ikan paus dengan menggunakan alat tempuling.

Organisasi sosial[sunting | sunting sumber]

Kesatuan sosial terkecil Suku Lamaholot adalah keluarga inti yang disebut langeuma. Beberapa langeuma bergabung membentuk suatu kesatuan keluarga lebih luas, yang disebut manuk one atau amang. Gabungan manuk one membentuk klen yang disebut nua newa atau wungu. Prinsip keturunan menganut sistem patrilineal, khususnya dalam pemujaan dan penerimaan harta warisan. Dalam keluarga inti, ayah lebih banyak berfungsi sebagai pengambil keputusan. Anak laki-laki dibiasakan mengikuti upacara-upacara adat. Anak laki-laki bertanggung jawab terhadap saudara perempuannya dan hubungan anak laki-laki dengan ibunya biasanya terjalin erat. Sebaliknya hubungan antara anak perempuan dengan ayahnya ditandai oleh hubungan yang sungkan.

Dalam perkawinan, Suku Lamaholot menganut prinsip eksogami klen, artinya mencari jodoh harus di luar klen sendiri.[2] Klen pemberi gadis disebut bela ke dan klen penerima gadis disebut ona opu. Adat menetap sesudah nikah adalah virilokal, dimana pasangan penganten akan menetap di sekitar kediaman kerabat suami. Salah satu syarat dalam perkawinan adalah mas kawin yang menandai bahwa si wanita telah keluar dari klennya dan juga sebagai alat mempererat hubungan kekeluargaan. Mas kawin berupa gading (bala) dengan bermacam-macam ukuran. Semakin besar ukuran gading itu tentu semakin baik. Yang menentukan besar kecilnya mas kawin itu adalah saudara laki-laki dari ibu si gadis (nana) dan orang tua, serta saudara-saudara si gadis (na 'aama). Apabila mas kawin belum dilunasi maka sang suami harus tinggal dan bekerja di rumah orang tua istrinya.

Suku bangsa Lamaholot juga mengenal sistem pelapisan sosial berdasarkan prinsip keturunan dari klen yang dipandang lebih senior. Ada tiga lapisan sosial, yaitu lapisan bangsawan (tatkabelen), lapisan rakyat biasa (atakabelen), dan lapisan budak (aziana). Pada masa kini diperkirakan telah muncul dasar-dasar pelapisan sosial yang baru, sepeti pendidikan, kekuasaan dalam sistem birokrasi, atau dasar keagamaan.

Agama dan kepercayaan[sunting | sunting sumber]

Suku Lamaholot menganut agama Katolik, Kristen dan Islam. Agama Islam diduga lebih dahulu masuk ke NTT umumnya.[2] Masuknya muslim di Lamaholot disinyalir kuat sebagai perpindahan arus konflik dari Ternate dan Tidore (Maluku) antara Kesultanan Ternate dan Tidore (Muslim), meski sebelumnya Islam Malaka telah masuk lebih dahulu melalui arus Sina-Jawa-Malaka. [5] Perkembangan agama Islam itu dimulai di daerah pantai Pulau Solor, Alor. Daerah Solor dan sekitarnya merupakan bandar penting. Pada waktu Portugis datang, Pulau Solor telah dikuasai oleh penganut agama Islam. Perkembangan agama Katolik erat hubungannya dengan masuknya kekuasaan Portugis. Imperialisme Bangsa Portugis menularkan agama nasrani (Katolik) di Lamaholot. [5]

Meskipun agama dan era modernisasi sudah tampil dalam kehidupan masyarakat Lamaholot, sistem kepercayaan generasi primitif masih cenderung bertahan. Mereka percaya kepada dewa tertinggi yang disebut Lera wulan tana ekan sebagai sang pencipta. Mereka percaya juga kepada roh-roh nenek moyang yang mempunyai hubungan langsung dengan anak cucu yang masih hidup. Hal ini menyebabkan mereka mempunyai suatu tradisi pemberian bayi yang baru lahir dengan nama salah seorang nenek moyangnya. Roh-roh nenek moyang ini dianggap menjadi perantara mereka dengan dewa tertinggi dan bisa memberi berkat maupun kutukan kepada keturunannya, yang berbuat baik atau sebaliknya. Keadaan dunia roh para nenek moyang serupa dengan dunia kita yaitu mempunyai kebun, perkampungan dan lain-lain. Suku Lamaholot juga percaya akan adanya makhluk-makhluk halus penunggu desa, sumber-sumber alam dan kekuatan gaib. Kematian dianggap sebagai akhir perjalanan masa kehidupan di dunia fana, dan awal perjalanan panjang menuju dunia seberang untuk bergabung dengan para leluhur yang lebih dahulu pergi dan menyediakan tempat bagi mereka.

Pemujaan dewa tertinggi, roh nenek moyang, dan makhluk halus diwujudkan dalam bentuk upacara-upacara yang biasanya dilakukan dalam rumah ibadat. Rumah ibadat mereka yang disebut korke dan nuba nara merupakan bangunan megalitik berbentuk menhir dan dolmen. Lambang wujud tertinggi dalam agama asli suku bangsa di Flores Timur adalah tiang kayu suci yang disebut rie lima wana (tiang tangan kanan), biasanya terdapat dalam korke maupun rumah adat kepala suku atau rumah penduduk umumnya. Orang biasanya berdiri di depan tiang suci ini untuk memohon berkat atau perlindungan Lera wulan tana ekan. Selain itu, ada pemotongan hewan dalam suatu upacara tertentu dan darah hewan tersebut dioleskan pada tiang suci yang mereka anggap sebagai tempat hadirnya Lera wulan tana ekan di tengah umatnya.

Suku Lamaholot juga memiliki ritual yang dinamakan Bao Lolong.[7] Dalam ritual ini, arak dituangkan ke atas batu yang disebut Nubanara. Seusai menyiramkan beberapa tetes arak, mereka menenggak arak yang merupakan simbol pemersatu alam, manusia, dan sosok yang tidak kelihatan. Biasanya kaum perempuan memasak arak secara tradisional dengan bahan baku tuak putih dan dimasukkan ke tembikar. Perlahan arak disuling dan dimasukkan ke kendi kemudian diserahkan kepada para lelaki. Tuak dan arak memiliki nilai sakral dalam budaya Lamaholot, tapi banyak disalahgunakan untuk mabuk-mabukan. Oleh karena itu, untuk menjaga budaya Lamaholot, pada tahun 2018 Gereja Paroki St Arnoldus Jansen Waikomo yang terletak di Kelurahan Lewoleba Barat, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur menampilkan pementasan teater bertema tradisi pembuatan arak dan upacara adat dengan arak yang dilakukan masyarakat adat Lamaholot.[7]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Hidayah, Zulyani (2015). Ensiklopedia Suku Bangsa di Indonesia. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. ISBN 978-979-461-929-2. 
  2. ^ a b c d e f g h i j k Melalatoa, M. Junus (1995). Ensiklopedia Suku Bangsa di Indonesia Jilid L-Z. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. 
  3. ^ a b "Geografis Umum". Website Resmi Pemkab Flores Timur. Diakses tanggal 2019-03-10. 
  4. ^ "Kabupaten Flores Timur Dalam Angka 2018". BPS Kabupaten Flores Timur. Diakses tanggal 2019-03-10. 
  5. ^ a b c "Asal Usul Orang Lamaholot Yang Mendiami Flores Timur Daratan". Academia. Diakses tanggal 2019-03-10. 
  6. ^ "Studi Teknis Rumah Adat Lewokluwok, Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur". Kemdikbud. Diakses tanggal 2019-03-11. 
  7. ^ a b "Mengembalikan Arak dalam Adat Lamaholot". Media Indonesia. Diakses tanggal 2019-03-09.