Alamsyah Ratu Perwiranegara
Alamsyah Ratu Perwiranegara | |
|---|---|
| Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Republik Indonesia ke-6 | |
| Masa jabatan 19 Maret 1983 – 21 Maret 1988 | |
| Presiden | Soeharto |
| Pendahulu | Surono Reksodimejo |
| Pengganti | Soepardjo Rustam |
| Menteri Agama Indonesia ke-13 | |
| Masa jabatan 31 Maret 1978 – 16 Maret 1983 | |
| Presiden | Soeharto |
| Pendahulu | Mukti Ali |
| Pengganti | Munawir Sjadzali |
| Informasi pribadi | |
| Lahir | 25 Desember 1925 Kotabumi, Lampung Utara, Hindia Belanda |
| Meninggal | 8 Januari 1998 (umur 72) Jakarta, Indonesia |
| Suami/istri | Siti Maemunah (m. 1952) |
| Anak | 5 |
| Almamater | Gyu Gun (1943) U.S Army General and Command Staff College (1962) |
| Karier militer | |
| Pihak | Indonesia |
| Dinas/cabang | TNI Angkatan Darat |
| Pangkat | |
| Satuan | Infanteri |
| Pertempuran/perang | |
| NRP | 14343 |
Alamsyah Ratu Perwiranegara (25 Desember 1925 – 8 Januari 1998, juga ditulis Alamsjah Ratoe Prawiranegara) adalah tokoh militer Indonesia yang pernah menjabat sebagai menteri dan duta besar.
Kehidupan
[sunting | sunting sumber]Pendidikan dan masa sekolah
[sunting | sunting sumber]Ketika masih menempuh pendidikan dasar, H. Alamsjah Ratu Perwiranegara mengawali perjalanan pendidikannya di SR Tanjungkarang, Lampung. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, ia melanjutkan pendidikannya ke tingkat SMP di Lampung Gakuen, Tanjungkarang, dan berhasil memperoleh ijazah pada tahun 1943. Berbeda dengan jenjang pendidikan sebelumnya yang ditempuh di Lampung, Alamsjah kemudian melanjutkan pendidikannya dan menyelesaikan tingkat sekolah di LPPU di Palembang setingkat SMA. Perjalanan akademiknya berlanjut hingga ke perguruan tinggi, dengan menempuh pendidikan di Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan Universitas Indonesia, Jakarta, pada periode 1963–1964.
Di samping pendidikan formal, perjalanan pendidikan Alamsjah juga banyak dipengaruhi oleh pengalamannya di bidang kemiliteran. Pada masa pendudukan Jepang, tepatnya sekitar tahun 1943, ia mengikuti pendidikan militer Gyu Gun. Pendidikan tersebut menjadi salah satu pengalaman awal yang memperkenalkannya pada dunia kemiliteran dan kemudian turut membentuk perjalanan kariernya setelah Indonesia merdeka. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Alamsjah melanjutkan pengembangan kemampuan militernya melalui pendidikan di luar negeri. Ia dikirim ke India untuk mengikuti Senior Officer Course di Mhow, kemudian melanjutkan pendidikan di General Staff College di Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat[1]
Pengalaman pendidikan formal dan kemiliteran tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk perjalanan Alamsjah sebagai seorang perwira sekaligus tokoh yang mana kemudian didukung dengan kepiawaian dan keaktifannya dalam kehidupan politik dan pemerintahan Indonesia. Sebelum melanjutkan berbagai pendidikan militernya setelah kemerdekaan, pada tahun 1943 ia telah mulai menjalankan tugas dalam lingkungan kemiliteran sebagai Perwira Administrasi atau Kepala Staf Kompi Giyugun Pengawal Pantai di Krui, Lampung, hingga tahun 1944.
Karier militer dan politik
[sunting | sunting sumber]Pangkat kemiliteran terakhir yang dicapainya sebelum masuk menjadi anggota kabinet sebagai Sekretaris Negara adalah letnan jenderal - Men/Pangad (perbendaharaan). Alamsjah juga sempat menjadi Duta Besar RI untuk Belanda pada tahun 1972-1974. Karena kondisi kesehatannya menurun, Alamsjah digantikan oleh Letjen Sutopo Juwono. Ia kemudian diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) pada awal 1975, dan diangkat menjadi wakil ketua pada tahun 1977 menggantikan Letjen Sarbini.[2]
Dalam Kabinet Pembangunan III (1978-1983) Alamsjah diangkat sebagai Menteri Agama dan dalam Kabinet Pembangunan IV (1983-1988) menjabat sebagai Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat.[2]
Alamsjah sempat vakum dari dunia politik pada tahun 1989-1991 karena menderita penyakit jantung koroner yang akhirnya dilakukan tindakan operasi by-pass di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura.
Setelah diselenggarakannya KTT Non-Blok di Indonesia pada tahun 1992, Alamsjah diangkat menjadi Duta Besar Keliling Non-Blok untuk urusan Timur Tengah (1992-1995).
Riwayat jabatan
[sunting | sunting sumber]- Perwira Administrasi / Kepala Staf Kompi Giyugun Pengawal Pantai di Krui, Lampung (1943 – 1944)[3]
- Komandan Pleton Kesehatan, Kompi Giyugun Tanjungkarang, Lampung (1944 – 1945)[3]
- Wakil Ketua Penjaga Keamanan Rakyat / PKR di Kotabumi, Lampung (1945)[3]
- Sekretaris dan Ajudan Ketua PKR Karesidenan Lampung (1945)[3]
- Instruktur Sekolah Opsir Kadet Divisi II TKR Komandemen Sumatra (1945 – 1946)[3]
- Kepala Staf Operasi Divisi Garuda II Sub Komandemen Sumatera Selatan (1946 – 1947)[3]
- Pejabat Kepala Staf Brigade Garuda Merah Divisi VIII / Garuda (1947)[3]
- Pejabat Komandan Resimen 44 Brigade Garuda Merah Divisi VIII / Garuda (1947 – 1948)[3]
- Komandan Batalyon 12 Sub Teritorial Palembang, TNI Sub Komandemen Sumatera Selatan (1948 – 1949)[3]
- Kepala Seksi Operasi Brigade Sumatera Selatan, Tentara & Teritorium Sumatra (1949 – 1950)[3]
- Kepala Seksi Operasi & Latihan Brigade X Tentara & Teritorium II / Sriwijaya (1950)[3]
- Asisten II/Operasi Kepala Staf T&T II / Sriwijaya (1950 – 1954)[3]
- Asisten I/Intelijen Kepala Staf T&T II / Sriwijaya merangkap Komandan KMKB Palembang (1954 – 1956)[3]
- Kepala Staf Harian Penguasa Perang Daerah Sumatera Selatan (1956 – 1958)[3]
- Kepala Staf T&T II / Sriwijaya kemudian menjadi Kodam IV / Sriwijaya (1958 – 1959)[3]
- Perwira Siswa di Senior Officer Courses of the Infantry School, Mhow, India (1958 – 1959)[3]
- Pamen Dpb Komando Pendidikan & Latihan Angkatan Darat (1959 – 1960)[3]
- Pamen Dpb Deputi I Kepala Staf Angkatan Darat (1960 – 1961)[3]
- Perwira Siswa di U.S Army General and Command Staff College, Fort Leavenworth, Kansas, USA (1961 – 1962)[3]
- Wakil Asisten VII Menteri / Panglima Angkatan Darat (1962 – 1965)[3]
- Asisten VII/Keuangan Menteri / Panglima Angkatan Darat (25 Oktober 1965 – 1967)[3]
- Koordinator Staf Pribadi Ketua Presidium Kabinet Ampera (1966 – Februari 1968)[3]
- Deputi 3/Urusan Khusus Menteri/Panglima Angkatan Darat (11 Mei 1967 – Februari 1968)[3]
- Menteri Sekretaris Negara Republik Indonesia pada Kabinet Pembangunan I (30 Januari 1968 – 1972)[3]
- Sekretaris Proyek-Proyek Nasional[3]
- Sekretaris Pengendalian Operasi Pembangunan (10 Februari 1968 – ?)[3]
- Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda (8 Januari 1972 – 22 Maret 1974)[3]
- Pensiun dari Dinas kemiliteran[3]
- Anggota Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia (12 Maret 1975 – 31 April 1978)[3]
- Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia (September 1977 – 31 April 1978)[3]
- Menteri Agama Republik Indonesia pada Kabinet Pembangunan III (31 April 1978 – 19 Maret 1983)[3]
- Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat pada Kabinet Pembangunan IV (19 Maret 1983 – 1988)[3]
Riwayat kepangkatan militer
[sunting | sunting sumber]- Giyu-Shoi (1943-1945).
- Kapten Inf (1945-1948).
- Letnan Satu Inf (1948-1950), Mengalami penurunan pangkat karena adanya kebijakan Re-Ra (Reorganisasi dan Rasionalisasi) TNI.
- Kapten Inf (1950-1954).
- Mayor Inf (1954-1959).
- Letnan Kolonel Inf (1959-1962).
- Kolonel Inf (1962-1965).
- Brigadir Jenderal TNI (1965-1966).
- Mayor Jenderal TNI (1966-1972).
- Letnan Jenderal TNI (1972-1974).[4]
Masa pensiun dan akhir hayat
[sunting | sunting sumber]
Setelah memasuki masa pensiumnnya dari dunia politik Alamsjah akhirnya memimpin perusahan yang bernama Perwira Penanggan Ratu dan menghabiskan waktunya di kediamannya di daerah Pejaten Jakarta Selatan.
Pada 18 November 1997 Alamsjah mendapat serangan asma berat dan sempat dirawat di Rumah Sakit MMC, Kuningan, Jakarta Selatan, sebelum akhirnya meninggal pada 8 Januari 1998.[5] Alamsjah dimakamkan secara militer dengan upacara kemiliteran yang dipimpin oleh Panglima ABRI Jenderal Wiranto di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Kehidupan pribadi
[sunting | sunting sumber]Keluarga
[sunting | sunting sumber]Ayahnya bernama Baharuddin Yoesoef (1885–1929) dan ibunya, Siti Mariam (1892–1935). Alamsjah adalah anak bungsu dari sembilan bersaudara; nama-nama saudaranya adalah Achmad Bermawi, Siti Arbain, Siti Hafsyah, Siti Amenah, Mohammad Adenan, Siti Rohaya, Mohammad Sirod dan Marsiyem.
Pada 12 Januari 1952 Alamsjah menikah pada dengan Siti Maemunah, yang lahir di Palembang pada 15 April 1930. Pasangan ini dikaruniai lima orang anak yaitu Jusuf Haery Utama Alamsjah, Muhammad Ali Muda Eddy Alamsjah, Muhammad Soleh Bingsiwijaya Alamsjah, Siti Mariam Alamsjah, dan Siti Hafsah Alamsjah. Dari anak-anaknya, Alamsjah dan istrinya memperoleh 12 orang cucu. Salah satunya adalah Abdul Sattar yang dilahirkan pada (30 September 1984) dari pasangan Siti Mariam Merry Alamsjah dan Dr Abadi Soetisna, MSI.
Beberapa cucu Alamsjah yang lain di antaranya adalah Achmad Syamsuri Muda, yang kemudian lebih dikenal dengan nama panggilan Amot, yang lahir pada 25 April 1987 dari pasangan Atty Alamsjah dan Ir. Agus Bachtiar. Kehadiran Achmad Syamsuri Muda menjadi salah satu bagian dari generasi berikutnya dalam keluarga Alamsjah yang berasal dari garis keturunan Atty Alamsjah. Selain itu, Alamsjah juga memiliki cucu bernama Ahmad Syukri, yang lahir pada 3 November 1988 dari pasangan Muhammad Soleh Denny Alamsjah dan Ginna. Kedua cucu tersebut menjadi bagian dari keluarga Alamsjah yang lahir dari keturunan anak-anaknya dan turut melanjutkan garis keluarga ke generasi berikutnya.
Selain kedua cucu tersebut, Alamsjah juga dikaruniai dua orang cucu dari pernikahan anak laki-laki keduanya, Muhammad Ali Muda Eddy Alamsjah dengan Hartanti Yuniari Soeharto. Dari pasangan tersebut lahir Siti Fatimah Hapsari Ayuningdyah Ariswari Alamsjah dan Muhamad Yusuf Baharuddin Satria Muda Alamsjah. Keduanya menambah jumlah generasi cucu dalam keluarga Alamsjah sekaligus memperluas garis keturunan keluarga melalui anak laki-laki keduanya. Dengan demikian, para cucu Alamsjah berasal dari beberapa garis keturunan anak-anaknya, dengan masing-masing memiliki latar keluarga dan hubungan kekerabatan yang berbeda. Keberadaan mereka menjadi bagian penting dalam perjalanan keluarga Alamsjah karena menandai berlanjutnya keturunan keluarga tersebut dari generasi ke generasi.
Adapun cucu dari pasangan putra tertuanya Jusuf Haery Utama Alamsjah dan Dewi Arimbi Soeharto yang merupakan putri dari dr. H.Soeharto & Sinta Tedjasukmana Soeharto, adalah Siti Maimunah Jibrilia, Abdullah M. Abi Alamsjah, Siti Khadijah Mikhailia Tikha Alamsjah (istri Bupati Ogan Ilir 2021-2030 Panca Wijaya Akbar), Abdurahman M. Dumas dan Abdurahim M. Khairy Alamsjah Muda. Putra tertua Alamsjah juga mengikuti jejak sang ayah dalam pengabdian kepada negara sebagai wakil rakyat di DPR/MPR RI sejak tahun 1992 dan sempat bertugas di DPP GOLKAR serta ICMI Pusat.
Penghargaan
[sunting | sunting sumber]Tanda Jasa
[sunting | sunting sumber]Ia mendapatkan tanda kehormatan baik dari dalam maupun luar negeri, diantaranya;[6][7]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Roeder, O.G. (1971). WHO'S WHO IN INDONESIA Biographies of prominent Indonesian personalities in all fields. Jakarta: PT Gunung Agung. hlm. 21.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - 1 2 Azra, Azyumardi; Umam, Saiful (1998). Menteri-Menteri Agama RI biografi sosial-politik. Jakarta: Diterbitkan atas kerjasama Indonesian-Netherlands Cooperation in Islamic Studies (INIS), Pusat Pengkajian Islam dan Masarakat [i.e. Masyarakat] (PPIM), Badan Litbang Agama, Depertemen [i.e. Departemen] Agama RI. hlm. 360. ISBN 9789799524836.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 Bachtiar, Harsya W. (1988). Siapa Dia? Perwira Tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD). Jakarta. hlm. 64–65. ISBN 9789794281000.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Parikesit, Suparwan G.; Sempurnadjaja, Krisna R. (1995). Haji Alamsyah Ratu Perwiranegara : Perjalanan Hidup Seorang Anak Yatim Piatu. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. ISBN 979-416-361-9.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Ummat Volume 3, Issues 25-31. Jakarta: Mahkota Mediatara Utama. 1998.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Status URL (link) - ↑ Lembaga Pemilihan Umum 1983, hlm. 488-489.
- ↑ "Kodam II Sriwijaya". www.kodam-ii-sriwijaya.mil.id. Diakses tanggal 2023-04-13.
- ↑ Daftar WNI yang Mendapat Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera tahun 1959 s.d. 2003 (PDF). Diakses tanggal 3 September 2021.
{{cite book}}: Pemeliharaan CS1: Tanggal diterjemahkan otomatis (link) - ↑ Administrator (1988-12-03). "Penghargaan". Tempo (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2023-04-24.
| Jabatan politik | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Surono Reksodimedjo |
Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Indonesia 1983–1988 |
Diteruskan oleh: Soepardjo Roestam |
| Didahului oleh: Mukti Ali |
Menteri Agama Indonesia 1978–1983 |
Diteruskan oleh: Munawir Sjadzali |
| Didahului oleh: Mohammad Ichsan Abdul Wahab Surjodiningrat |
Menteri Sekretaris Negara Indonesia 1968–1972 |
Diteruskan oleh: Soedharmono |
| Jabatan diplomatik | ||
| Didahului oleh: Taswin Almalik Natadiningrat |
Duta Besar Indonesia untuk Belanda 1972–1974 |
Diteruskan oleh: Sutopo Yowono Projohandoko |
- Kelahiran 1925
- Kematian 1998
- Meninggal usia 72
- Pejuang kemerdekaan Indonesia
- Tokoh militer Indonesia
- Tokoh TNI
- Tokoh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat
- Tokoh Lampung
- Tokoh dari Lampung Utara
- Tokoh Angkatan 45
- Politikus Indonesia
- Duta Besar Indonesia untuk Belanda
- Menteri Indonesia
- Menteri Koordinator Indonesia
- Menteri Sekretaris Negara Indonesia
- Menteri Agama Indonesia
- Tokoh Orde Baru
- Penerima Bintang Mahaputera Adipradana
- Penerima Bintang Mahaputera Utama
- Penerima Bintang Dharma
- Penerima Bintang Kartika Eka Paksi
- Penerima Bintang Gerilya
- Penerima Bintang Sewindu APRI