Kabupaten Kebumen

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Disambig gray.svg
Kabupaten Kebumen
ꦑꦧꦸꦥꦠꦺꦤ꧀ꦑꦼꦧꦸꦩꦺꦤ꧀
Locator kabupaten kebumen.png
Peta lokasi Kabupaten Kebumen
ꦑꦧꦸꦥꦠꦺꦤ꧀ꦑꦼꦧꦸꦩꦺꦤ꧀
Koordinat: -
Provinsi Jawa Tengah
Dasar hukum UU No. 13/1950
Tanggal -
Ibu kota Kebumen
Pemerintahan
 - Bupati H. Buyar Winarso, SE
 - Wakil Bupati Djuwarni, AMd
 - DAU Rp1.421.871.180.000.-(2014)[1]
Luas 1.581, 11 km2
Populasi
 - Total 1.155.437 (2008)
 - Kepadatan 738,7
Demografi
 - Kode area telepon 0287
Pembagian administratif
 - Kecamatan 26
 - Kelurahan 449/11
 - Flora resmi Kelapa Genjah Entog
 - Fauna resmi Walet Putih
 - Situs web www.kebumenkab.go.id

Kabupaten Kebumen (Bahasa Jawa: ꦑꦼꦧꦸꦩꦺꦤ꧀) adalah sebuah Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Kebumen.

Daftar isi

Geografi[sunting | sunting sumber]

Secara geografis Kabupaten Kebumen terletak pada 7°27' - 7°50' Lintang Selatan dan 109°22' - 109°50' Bujur Timur. Bagian selatan Kabupaten Kebumen merupakan dataran rendah, sedangkan pada bagian utara berupa pegunungan dan perbukitan yang merupakan bagian dari rangkaian Pegunungan Serayu Selatan. Sementara itu di barat wilayah Gombong, terdapat Kawasan Karst Gombong Selatan sebuah rangkaian pegunungan kapur yang membujur hingga pantai selatan berarah utara - selatan. Daerah ini memiliki lebih dari seratus gua ber stalagtit dan stalagmit. Sungai terbesar di Kabupaten Kebumen adalah Sungai Luk Ulo, Sungai Jatinegara, Sungai Karanganyar, Sungai Kretek, Sungai Kedungbener, Sungai Kemit, Sungai Gombong, Sungai Ijo, Sungai Kejawang, dan Sungai Gebang.

Luas wilayah dan penggunaan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Kebumen mempunyai luas wilayah sebesar 158.111, 50 ha atau 1.581, 11 km² dengan kondisi beberapa wilayah merupakan daerah pantai dan pegunungan, namun sebagian besar merupakan dataran rendah.

  • Dari luas wilayah Kabupaten Kebumen, tercatat 49.768, 00 hektare atau sekitar 31, 04% sebagai lahan sawah dan 108, 343.50 hektare atau 68.96% sebagai lahan kering.
  • Menurut penggunaannya, sebagian besar lahan sawah beririgasi teknis dan hampir seluruhnya (46, 18%) dapat ditanami dua kali dalam setahun, sebagian lagi berupa sawah tadah hujan (37, 82%) yang di beberapa tempat dapat ditanami dua kali dalam setahun, serta 11, 25% lahan sawah beririgasi setengah teknis dan sederhana.
  • Lahan kering digunakan untuk bangunan seluas 40.985, 00 hektare (37, 73%), tegalan/kebun seluas 33.777, 00 hektare (33, 57%) serta hutan negara seluas 22.861, 00 hektare (21, 08%) dan sisanya digunakan untuk padang penggembalaan, tambak, kolam, tanaman kayu-kayuan, serta lahan yang sementara tidak diusahakan dan tanah lainnya.

Perbatasan[sunting | sunting sumber]

Utara Kabupaten Banjarnegara
Selatan Samudra Hindia
Barat Kabupaten Banyumas dan kabupaten Cilacap
Timur Kabupaten Wonosobo dan kabupaten Purworejo

Sejarah rakyat[sunting | sunting sumber]

Nama Kebumen konon berasal dari kabumian yang berarti sebagai tempat tinggal Kyai Bumi setelah dijadikan daerah pelarian Pangeran Bumidirja atau Pangeran Mangkubumi dari Mataram pada 26 Juni 1677, saat berkuasanya Sunan Amangkurat I. Sebelumnya, daerah ini sempat tercatat dalam peta sejarah nasional sebagai salah satu tonggak patriotik dalam penyerbuan prajurit Mataram pada zaman Sultan Agung ke benteng pertahanan Belanda di Batavia. Saat itu Kebumen masih bernama Panjer.

Salah seorang cicit Pangeran Senopati yaitu Bagus Bodronolo yang dilahirkan di Desa Karanglo, Panjer, atas permintaan Ki Suwarno, utusan Mataram yang bertugas sebagai petugas pengadaan logistik, berhasil mengumpulkan bahan pangan dari rakyat di daerah ini dengan jalan membeli. Keberhasilan membuat lumbung padi yang besar artinya bagi prajurit Mataram, sebagai penghargaan Sultan Agung, Ki Suwarno kemudian diangkat menjadi Bupati Panjer, sedangkan Bagus Bodronolo ikut dikirim ke Batavia sebagai prajurit pengawal pangan.

Adapun selain daripada tokoh di atas, ada seorang tokoh legendaris pula dengan nama Joko Sangrib, ia adalah putra Pangeran Puger / Pakubuwono I dari Mataram, dimana ibu Joko Sangrib masih adik ipar dari Demang Honggoyudo di Kuthawinangun. Setelah dewasa ia memiliki nama Tumenggung Honggowongso, ia bersama Pangeran Wijil dan Tumenggung Yosodipuro I berhasil memindahkan keraton Kartosuro ke kota Surakarta sekarang ini. Pada kesempatan lain ia juga berhasil memadamkan pemberontakan yang ada di daerah Banyumas, karena jasanya kemudian oleh Keraton Surakarta ia diangkat dengan gelar Tumenggung Arungbinang I, sesuai nama wasiat pemberian ayahandanya. Dalam Babad Kebumen keluaran Patih Yogyakarta, banyak nama di daerah Kebumen adalah berkat usulannya. Di dalam "Babad Mataram" disebutkan pula Tumenggung Arungbinang I berperan dalam perang Mataram/Perang Pangeran Mangkubumi, saat itu ia bertugas sebagai Panglima Prajurit Dalam di Karaton Surakarta[2].

Pembagian administratif[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Kebumen terdiri atas 26 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah 449 desa dan 11 kelurahan dengan jumlah Rukun Warga (RW) sebanyak 1.930 buah dan dibagi menjadi 7.027 buah Rukun Tetangga (RT). Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Kebumen.

Banyaknya Wilayah Administratif di Kabupaten Kebumen tahun 2006-2008
Uraian 2006 2007 2008
Jumlah kecamatan 26 26 26
Jumlah desa 449 449 449
Jumlah kelurahan 11 11 11
Jumlah RW 1.877 1.926 1.930
Jumlah RT 6.755 6.963 7.027

Di samping Kebumen, kota-kota kecamatan lainnya yang cukup signifikan adalah Gombong, Karanganyar, Kutowinangun, Ayah, Sempor, Petanahan serta Prembun.

Pegawai Negeri Sipil[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2008 di Kabupaten Kebumen tercatat jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) Otonom sebanyak 14.321 orang dan PNS Instansi Vertikal sebanyak 1.846 orang sehingga jumlah PNS secara keseluruhan sebanyak 16.167 orang. Dari jumlah tersebut 57, 86% adalah PNS laki-laki, dan PNS perempuan sebanyak 42, 14%.

Daftar pemimpin Kebumen[sunting | sunting sumber]

Nama-Nama Tumenggung/Adipati/Bupati yang pernah memimpin Kebumen
No. Nama Tahun Nama Daerah
1 Panembahan Bodronolo 1642-1657 Panjer
2 Hastrosuto 1657-1677 Panjer
3 Kalapaking I 1677-1710 Panjer
4 KRT. Kalapaking II 1710-1751 Panjer
5 KRT. Kalapaking III 1751-1790 Panjer
6 KRT. Kalapaking IV 1790-1833 Panjer
7 KRT. Arungbinang IV 1833-1861 Panjer
8 KRT. Arungbinang V 1861-1890 Kebumen
9 KRT. Arungbinang VI 1890-1908 Kebumen
10 KRT. Arungbinang VII 1908-1934 Kebumen
11 KRT. Arungbinang VIII 1934-1942 Kebumen
12 R. Prawotosoedibyo S 1942-1945 Kebumen
13 KRT. Said Prawirosastro 1945-1947 Kebumen
14 RM. Soedjono 1947-1948 Kebumen
15 R.M. Istikno Sosrobusono 1948-1951 Kebumen
16 R.M. Slamet Projorahardjo 1951-1956 Kebumen
17 R. Projosudarto 1956-1961 Kebumen
18 R. Sudarmo Sumohardjo 1961-1963 Kebumen
19 R.M. Suharjo Notoprojo 1963-1964 Kebumen
20 DRS. R. Soetarjo Kolopaking 1964-1966 Kebumen
21 R. Suyitno 1966-1968 Kebumen
22 Mashud Mertosugondo 1968-1974 Kebumen
23 R. Soepeno Soerjodiprodjo 1974-1979 Kebumen
24 DRS. H. Dadiyono Yudoprayitno 1979-1984 Kebumen
25 Drs. Iswarto 1984-1985 Kebumen
26 H. M.C. Tohir 1985-1990 Kebumen
27 H.M. Amin Soedibyo 1990-1995 Kebumen
28 H.M. Amin Soedibyo 1995-2000 Kebumen
29 Dra. Rustriningsih, M.Si 2000-2005 Kebumen
30 Dra. Rustriningsih, M.Si 2005-2008 Kebumen
31 K.H. Nashiruddin Al Mansyur 2008-2010 Kebumen
32 H. Buyar Winarso, SE 2010- Kebumen

Legislatif[sunting | sunting sumber]

Pada Pemilu Legislatif 2014 lalu, DPRD Kabupaten Kebumen berjumlah 50 orang dengan perwakilan sepuluh partai politik.

Nama Partai Jumlah Kursi
Lambang PDI-P PDI Perjuangan 8
Lambang PKB Partai Kebangkitan Bangsa 6
Lambang Partai Golkar Partai Golkar 7
Lambang PKS Partai Keadilan Sejahtera 5
Lambang Partai Gerindra Partai Gerakan Indonesia Raya 7
Lambang Partai Hanura Partai Hati Nurani Rakyat 1
Lambang Partai Demokrat Partai Demokrat 4
Lambang PAN Partai Amanat Nasional 5
Lambang Partai NasDem Partai NasDem 3
Lambang PPP Partai Persatuan Pembangunan 3
Total 50

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Penduduk Kabupaten Kebumen pada tahun 2005 tercatat 1.212.809 jiwa, mengalami pertumbuhan sebesar 0, 79% dari tahun sebelumnya, dengan jumlah rumah tangga sebanyak 293.373 rumah tangga sehingga rata-rata jumlah jiwa per rumah tangga sebesar 4 jiwa. Kepadatan penduduk Kabupaten Kebumen sebesar 947 jiwa/km², dengan Kecamatan Kebumen merupakan daerah terpadat penduduknya dengan 2.867 jiwa/km² dan Kecamatan Sadang merupakan daerah terjarang penduduknya dengan 351 jiwa/km².

Jumlah penduduk laki-laki sebanyak 612.467 jiwa dan perempuan sebanyak 600.342 jiwa sehingga sex-ratio-nya sebesar 102. Ditinjau dari distribusi/persebaran penduduknya, penduduk terbanyak di Kecamatan Kebumen, yaitu sebesar 9,94 persen, dan penduduk paling sedikit di Kecamatan Padureso sebesar 1,16% dari seluruh penduduk Kabupaten Kebumen.

Dilihat menurut kelompok umur, penduduk di bawah 15 tahun sebesar 30, 45% atau 369.329 jiwa dan penduduk usia 65 tahun ke atas berjumlah 92.600 jiwa atau 7, 64 persen, sedang penduduk usia 15 – 65 tahun sebanyak 750.880 atau 61, 91 persen.

Jumlaha rumah tangga dan penduduk kabupaten Kebumen tahun 2003-2005
Uraian 2003 2004 2005
Rumah Tangga 288.852 291.104 293.373
Penduduk laki-laki 603.022 607.670 612.467
Penduduk perempuan 590.956 595.645 600.342
Penduduk usia produktif (15-64 tahun) 739.212 744.972 750.880
Penduduk usia tidak produktif (0-14 tahun & 65 tahun+) 454.766 458.343 461.929
Angkatan kerja 649.632 654.634 659.809
Bukan angkatan kerja 313.134 315.661 318.133

Daftar kecamatan di Kabupaten Kebumen beserta data lainnya[sunting | sunting sumber]

Nama kecamatan Jumlah penduduk Luas wilayah (km2) Jumlah kelurahan Jumlah desa
Adimulyo 53.634 Jiwa 54, 4 km2  - 22
Alian 44.723 Jiwa 67, 7 km2  - 16
Ambal 54.963 Jiwa 60, 4 km2  - 32
Ayah 50.371 Jiwa 116, 4 km2  - 18
Bonoworo 19.321 Jiwa 30, 8 km2  - 11
Buayan 44.472 Jiwa 93, 4 km2  - 20
Buluspesantren 48.072 Jiwa 53, 7 km2  - 20
Gombong 68.593 Jiwa 25, 5 km2  2 12
Karanganyar 105.758 Jiwa 62, 8 km2  4 7
Karanggayam 58.547 Jiwa 151, 2 km2 - 19
Karangsambung 32.441 Jiwa 95, 1 km2  - 14
Kebumen 128.956 Jiwa 52,04 km2  5 24
Klirong 55.246 Jiwa 56,7 km2  - 23
Kutowinangun 46.562 Jiwa 38,7 km2  - 18
Kwarasan 30.811 Jiwa 49,8 km2  - 22
Mirit 40.609 Jiwa 56,5 km2  - 22
Padureso 13.795 Jiwa 38,5 km2  - 9
Pejagoan 42.991 Jiwa 61, 7 km2  - 13
Petanahan 47.018 Jiwa 58, 8 km2 - 19
Poncowarno 15.479 Jiwa 37, 4 km2  - 11
Prembun 36.289 Jiwa 32, 9 km2  - 12
Puring 40.433 Jiwa 61, 9 km2  - 23
Rowokele 32.568 Jiwa 83, 7 km2  - 11
Sadang 16.422 Jiwa 69, 2 km2  - 7
Sempor 50.346 Jiwa 130, 2 km2  - 16
Sruweng/Kedung Prayoga 59.811 Jiwa 64, 6 km2  - 21

Profesi masyarakat Kebumen[sunting | sunting sumber]

Bila orang Minang lebih suka berdagang, orang Kebumen rata rata banyak yang suka menjadi Guru atau Dosen. Hampir di setiap daerah banyak guru atau dosen yang berasal dari Kabupaten Kebumen, peneliti asal Australia menyebut Kebumen sebagai Pengimpor Guru bukan hanya di Indonesia bahkan banyak juga dibeberapa negara seperti Malaysia, Suriname, Belanda, Kaledonia Baru. Bahkan dahulu ketika Malaysia dan Singapura kekurangan tenaga pengajar, sebagian besar tenaga pengajar yang dikirimkan adalah orang Kebumen. Orang Kebumen adalah perantau yang handal, di Lampung banyak pedagang dan pengusaha berasal dari Kebumen begitu pula di Kalimantan banyak orang Kebumen yang menjadi wirausaha atau pedagang, meskipun masyarakat Kebumen banyak yang menjadi perantau di luar negeri namun jarang temukan TKI yang menjadi pembantu di Luar Negeri, kebanyakan menjadi Karyawan atau Pedagang.

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Di bidang pendidikan, Kebumen memiliki sarana dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA, SMK hingga Perguruan Tinggi.

TK (Taman Kanak-Kanak)[sunting | sunting sumber]

  • TK Aisyiyah 9 Kalibeji
  • TK Pertiwi Kalirancang
  • RA Masyithoh Gombong

SD (Sekolah Dasar)[sunting | sunting sumber]

* SD N Sitirejo
  • SD N 4 Karanganyar
  • SD N 2 Pringtutul
  • SD N 2 Wonokromo
  • SD N Purwodadi
  • SD N 2 Sukomulyo
  • SD N 1 Candi
  • SD N Pondok Gebangsari
  • SD N 1 Sawangan
  • SD N 1 Kalirancang
  • SD N 2 Kalirancang
  • SD N 3 Kalirancang
  • MI N Grogolpenatus
  • SD N Jatiluhur
  • MI S Islamiyah Logede
  • SD N Ginandong
  • SD N 1 Kritig
  • SD N Panjatan
  • SD N 3 Klapasawit
  • SD N 1 Brecong
  • SD N 1 Jatijajar
  • SD N 1 Pangempon
  • SD N Menganti
  • SD N Karangsari
  • SD N 1 Kuwayuhan
  • SD N 3 Jatisari
  • SD N Arjosari

SMP (Sekolah Menengah Pertama)[sunting | sunting sumber]

  • SMP Islam Al Kahfi Somalangu Kebumen
  • SMP N 1 Gombong
  • SMP N 1 Alian
  • SMP Ma'arif 1 Alian
  • SMP N 1 Karanganyar
  • SMP N 2 Karanganyar
  • SMP N 3 Karanganyar
  • SMP N 1 Rowokele
  • MTs S Plus Nururrohmah Tambaksari
  • MTs S Mafatikhul Huda
  • SMP N 1 Kutowinangun
  • SMP N 4 Gombong
  • SMP Muhammadiyah 1 Gombong
  • SMP Muhammadiyah 1 Karanganyar
  • SMP Taman Dewasa Kebumen
  • MTs N Kaleng Puring
  • MTs N 2 Kebumen
  • SMP N 1 Kebumen
  • SMP N 2 Kebumen
  • SMP N 3 Kebumen
  • SMP N 4 Kebumen
  • SMP N 5 Kebumen
  • SMP N 6 Kebumen
  • SMP N 7 Kebumen
  • SMP Muhammadiyah 1 Kebumen
  • SMP Muhammadiyah 2 Kebumen

SMA / SMK / MA[sunting | sunting sumber]

  • SMA Negeri 1 Kebumen
  • SMA Negeri 2 Kebumen
  • SMA Negeri 1 Gombong
  • SMA Negeri 1 Karanganyar
  • SMA Negeri 1 Ayah
  • SMA Negeri 1 Buluspesantren
  • SMA Negeri 1 Karangsambung
  • SMA Negeri 1 Kutowinangun
  • SMA Negeri 1 Pejagoan
  • SMA Negeri 1 Mirit
  • SMA Negeri 1 Klirong
  • SMA Negeri 1 Petanahan
  • SMA Negeri 1 Prembun
  • SMA Negeri 1 Rowoekele
  • SMA Negeri 1 Karanggayam
  • SMK Negeri 1 Kebumen
  • SMK Negeri 2 Kebumen
  • SMK Negeri 1 Gombong
  • SMK Negeri 1 Karanganyar
  • SMK Negeri 1 Puring
  • SMK Negeri 1 Ambal
  • SMK Ma'rif 1 Kebumen
  • SMK Ma'arif 4 Kebumen
  • SMK Batik Sakti 1 Kebumen
  • SMK Batik Sakti 2 Kebumen
  • SMK Taman Karya Madya Kebumen
  • SMK Purnama 2 Gombong
  • SMK Tamtama Karanganyar
  • SMK Bina Karya 1 Karanganyar
  • SMK Plus Nurrohmah Kuwarasan
  • SMK Bina Nusantara Kebumen
  • SMK Ristek Rowokele
  • SMK Bina Teknika Sruweng
  • SMK Wongsorejo Gombong
  • SMK Muhammadiyah Kutowinangun
  • SMK Komputer Karanganyar
  • SMK Mutiara Alian
  • SMA PGRI Prembun
  • MAN 1 Kebumen
  • MAN 2 Kebumen
  • MAN Gombong

Perguruan Tinggi[sunting | sunting sumber]

Media massa[sunting | sunting sumber]

Kebumen memiliki media massa yang relatif lengkap, baik media cetak maupun elektronik. Saat ini di wilayah Kebumen telah terbit surat kabar harian "Kebumen Ekspres", yang merupakan bagian dari Jawa Pos Group. Di samping itu juga terdapat "Radar Kebumen".

Untuk media elektronik, terdapat beberapa stasiun radio komersial dan satu radio publik milik pemkab Kebumen, serta sebuah stasiun televisi lokal.

Radio[sunting | sunting sumber]

Radio siaran dari Kota Kebumen[sunting | sunting sumber]

  • Radio In FM
  • Bimasakti FM
  • Mas FM
  • Radio DVK
  • Ardana FM

Radio siaran dari Kota Karanganyar[sunting | sunting sumber]

  • Radio Ardana FM
  • Ratih FM
  • Mandala FM
  • Swara Kedu FM
  • Hasta Brata FM
  • Kedu Comunity FM
  • Radio Rodja AM
  • At Tarbiyah FM

Radio siaran dari Kota Gombong[sunting | sunting sumber]

  • SKB Pop FM
  • RP FM

Stasiun televisi[sunting | sunting sumber]

Stasiun televisi lokal[sunting | sunting sumber]

  • Ratih TV (Gelombang 47 UHF), stasiun televisi milik pemerintah kabupaten Kebumen.

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Kebumen berada di jalur lintas selatan Pulau Jawa. Angkutan umum antarkota dilayani oleh bus dan kereta api. Stasiun Kebumen, Gombong dan Karanganyar adalah stasiun besar yang ada di Kebumen, di samping itu terdapat stasiun kecil lainnya seperti Prembun, Soka, Kutowinangun dan di antara kereta api yang melintasi Kebumen adalah Senja Utama dan Fajar Utama (Jakarta Pasar Senen-Yogyakarta), Argo Wilis (Bandung-Surabaya Gubeng), Bima (Jakarta Kota-Surabaya Gubeng), Logawa (Purwokerto-Jember), dan Kutojaya (Kutoarjo-Jakarta) Sawunggalih (Jakarta-Kutoarjo).

Untuk menuju Bandara Adisutjipto, Maguwoharjo, Yogyakarta, dapat ditempuh dengan menggunakan Bus Damri tujuan Bandara, yang berpangkalan di jalan Pemuda Kebumen. Selain itu, bisa juga digunakan jasa Kereta api KRD Maguwo Ekspres (Purwokerto-Kebumen-Maguwo), langsung turun di stasiun Maguwo yang berada di lingkungan bandara.

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Wisata Goa[sunting | sunting sumber]

Goa Jatijajar[sunting | sunting sumber]

Goa Jatijajar di bentuk alam selama ribuan tahun dan menjadi tempat berpetualang indah di perut bumi, terletak 21 kilometer ke arah selatan Gombong, atau 42 kilometer arah barat Kebumen. Gua Jatijajar berada di kaki pegunungan kapur. Pegunungan kapur ini memanjang dari utara dan ujungnya di selatan menjorok ke laut berupa sebuah tanjung.

Sebagaimana umumnya objek wisata lain di Indonesia, Gua Jatijajar menyimpan legenda. Kata yang punya cerita, Gua Jatijajar ini pada zaman dahulu merupakan tempat bersemedi Raden Kamandaka, yang kemudian mendapat wangsit. Cerita Raden Kamandaka ini kemudian dikenal dengan legenda Lutung Kasarung. Visualisasi dari legenda tersebut dapat dilihat dalam diorama yang ada di dalam goa itu.

Masuk ke dalam gua ini, seperti merasa seperti masuk ke dalam mulut binatang purba Dinosaurus. Ruangan di dalam gua diterangi oleh lampu listrik dari ujung ke ujung. Meski mulut gua cukup lebar, namun ruang perut dinosaurus lebih lebar lagi. Pada langit-langit terdapat sebuah lubang sebagai ventilasi. Di tengah-tengah terdapat kursi melingkar tempat duduk pengunjung sambil menikmati indahnya ornamen stalagtit dan stalagnit serta diorama legenda Lutung Kasarung.

Perjalanan dapat dilanjutkan dengan menuruni tangga menuju ruang yang merupakan bagian "ekor dari dinosaurus" tersebut. Di dalam ruang ini, dapat dilihat sumber mata air yang disebut "Sendang". Jumlah sendang tersebut ada 4 buah, yaitu "Sendang Mawar", "Kantil", "Jombor" dan "Puserbumi". Sendang Mawar dipercayai mempunyai kekuatan gaib yang bisa membuat seseorang tetap awet muda, karenanya setiap pengunjung selalu menyempatkan diri untuk membasuh muka dengan air Sendang Mawar tersebut.

Dipenuhi oleh rasa kagum dan terpesona, tanpa terasa telah menempuh jarak 250 meter menyusuri perut dinosaurus. Bukan itu saja, bahkan tanpa disadari, telah masuk ke perut bumi sedalam 40 meter.

Obyek wisata Goa Jatijajar dilengkapi taman yang asri yang dilengkapi dengan taman bermain. Taman ini diberi nama Pulau Kera, karena di taman ini terdapat banyak patung kera. Di gerbang mulut Goa Jatijajar, terdapat lobang di antara stalagnit, sehingga bila cahaya matahari masuk terlihat sangat indah. Goa Jatijajar merupakan bukti dari legenda Kamandaka (Lutung Kasarung), di mana kisah ini secara tersirat dikisahkan melalui patung-patung yang ada di dalam Goa Jatijajar. Di dalam Goa Jatijajar terdapat sebuah mata air (sendang) yang konon kabarnya akan membuat awet muda bagi yang mencuci muka di sana.

Terletak 21 km sebelah barat daya Kecamatan Gombong, atau 42 km sebelah barat daya kota Kebumen. Legenda di dalam goa menggambarkan legenda Raden Kamandaka atau legenda Lutung Kasarung. Panjang goa adalah 250 meter. Di area Goa Jatijajar ini juga terdapat beberapa goa lainnya, seperti Goa Intan dan Goa Dempok serta tersedia taman dan Pulau Kera. Untuk menuju ke obyek wisata ini telah tersedia sarana dan prasara transportasi, penginapan serta rumah makan yang relatif representatif. Patung Dinosaurus yang seolah memuntahkan air dalam lokasi wisata ini sebenarnya merupakan muara dari mata air dari dalam Goa Jatijajar yang tiada pernah berhenti walau musim kemarau sekalipun.

Stalagtit yang terdapat di dalam Goa Dempok terbentuk secara alami selama ratusan atau bahkan ribuan tahun yang lalu. Hingga kini masih terjaga keasliannya. Goa Intan berada satu lokasi dengan obyek wisata Goa Jatijajar. Goa ini memiliki keunikan tersendiri dengan langit goa yang relatif tidak terlalu tinggi[3].

Goa Petruk[sunting | sunting sumber]

Terletak 7 km selatan Goa Jatijajar. Nama "Petruk" diturunkan dari nama pengikut setia Pandawa dalam cerita pewayangan "Mahabharata". Goa ini sangat mempesona. Tetesan air kapur terdengar bagaikan kebisingan yang tiada henti. Banyak stalaktit yang menyerupai bentuk kehidupan di dunia, seperti halnya stalaktit seperti anjing duduk ini. Stalaktit ini sangat memukau pengunjung karena menyerupai tokoh Semar dalam cerita pewayangan. Gorden raksasa akan mengingatkan betapa Maha Kuasanya Tuhan YME dan segala ciptaannya di bumi dan di langit.

Boneka-boneka mungil terdapat di dalam Goa Petruk di antara aliran air dalam gua yang sejuk. Stalaktit ini sangat mirip dengan payudara yang tidak terdapat di tempat lain. Tangan anda dapat menyentuhnya karena dinding goa yang tidak terlalu tinggi.

Wisata Pantai[sunting | sunting sumber]

Pantai Ayah[sunting | sunting sumber]

Pantai ini berada di Ayah. Terletak 9 km dari Goa Jatijajar. Pantai ini berada di dekat muara Sungai Bodo. Wisatawan dapat menyewa perahu sambil menatap indahnya perbukitan. Pantai Ayah juga digunakan sebagai Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) sehingga wisawatan bisa membeli ikan dan menikmati sajian seafood di kawasan ini. Di sini anda dapat menyaksikan matahari tenggelam yang mengagumkan karena pantai ini mengarah ke arah barat.

Pantai Karangbolong[sunting | sunting sumber]

Pantai Karangbolong terletak di Desa Karangbolong. Nuansa pantai yang dipagari perbukitan yang asri dan lambaian pohon kelapa serasa menyejukkan hati. Pantai Karangbolong menyimpan berbagai keindahan. Di samping pantai yang menawan, Pantai Karangbolong juga menyimpan keindahan karang yang bolong (berlubang) dengan sarang burung waletnya.

Pantai Suwuk[sunting | sunting sumber]

Terletak di Tambakmulyo, Kecamatan Puring. Untuk menuju ke lokasi pantai, banyak jalur alternatif yang dapat digunakan. pantai ini terletak 22 km sebelah selatan Gombong dan dapat ditempuh sekitar 45 menit, terletak sekitar 35 km sebelah barat daya Kota Karanganyar dapat ditempuh lebih dari 1 Jam, dan terletak 50 km dari Kota Kebumen maka dibutuhkan waktu sekitar satu setengah jam untuk menuju pantai suwuk. Bagi anda yang berasal dari arah timur yang kebetulan sedang melintasi jalan selatan-selatan atau jalan Daendels dari arah Yogyakarta dapat langsung lurus menuju pantai suwuk. Pantai ini memiliki fasilitas yang lengkap serta wahana lain yang mendukung seperti kebun binatang mini dan Mini Water Boom.

Pantai Petanahan[sunting | sunting sumber]

Terletak di Desa Karanggadung atau 17 km Barat daya Kota Kebumen. Dengan ombak besarnya, Pantai Petanahan memiliki daya tarik tersendiri. Di lokasi ini juga dilengkapi panggung terbuka bagi acara-acara seni rakyat. Selain itu juga terdapat hutan cemara udang yang rindang hasil kerjasama penghinjauan pantai antara Pemkab Kebumen dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Pantai petanahan juga merupakan pantai yang menjadi tempat bertelurnya penyu hijau.

Pantai Pasir[sunting | sunting sumber]

Pantai Pasir terletak di Desa Pasir atau 24 km sebelah selatan Kota Gombong atau 7 km sebelah barat Pantai Karangbolong. Di balik keindahan alam yang memukau, Pantai Pasir diyakini masyarakat setempat sebagai pintu gerbang Istana Nyi Roro Kidul. Adapun pintu gerbang tersebut berupa batu karang yang seperti berujud beruang yang sedang minum air telaga. Di samping wisata alam pantai yang menawan, Pantai Pasir juga merupakan lokasi menarik bagi yang suka berbelanja hasil laut, karena Pantai Pasir juga merupakan tempat pelelangan ikan (TPI) utama Kabupaten Kebumen. Pemandangan di sekeliling Pantai Pasir merupakan perpaduan antara alam laut yang indah, pegunungan yang anggun serta wilayah pertanian dan pertambakan yang subur. Pantai Pasir dipercayai sebagai pintu gerbang Nyi Roro Kidul.

Pantai Menganti[sunting | sunting sumber]

Pantai Menganti terletak di Desa Karangduwur. Pantai ini memiliki karang terjal dengan bukit serta tebing yang menjulang tinggi dibibir pantai. Pantai Menganti memiliki pasir putih yang menawan. Pantai ini juga sebagai Tempat Pelelangan Ikan (TPI) sehingga kegiatan nelayan menjadi hal lumrah di pantai ini. Keindahannya memukau siapapun yang berkunjung ke Pantai Menganti. Perpaduan ombak, pasir putih, nelayan, bukit dan tebing hijau akan menghadirkan keindahan tersendiri. Di bagian barat Pantai Menganti terdapat tebing raksasa yang memanjang. Jika musim hujan tiba, Tebing tersebut akan mengucurkan air terjun. Tak tanggung-tanggung, terdapat empat air terjun disana.

Pantai Karangbata[sunting | sunting sumber]

Pantai Karangbata terletak di Desa Karangduwur atau di sebelah timur dari Pantai Menganti. Pantai Karangbata merupakan pantai yang sempit dan dihiasi batuan vulkanik purba yang berserakan di Tanjung Karangbata. Lokasinya yang sangat dekat dengan Pantai Menganti seringkali disebut sebagai Pantai Menganti. Pantai Karangbata biasa dinikmati dari gubuk-gubuk diatas bukit. Kerasnya ombak Pantai Selatan tidak menggoyahkan tebing karang yang tegar ini. Bentuk karang laut inilah yang membuat pantai ini disebut Tanjungbata karena bentuknya yang mirip batu bata. Secara geologi Tanjung Karangbata merupakan bekas gunung api purba. Hal tersebut ditandai dengan adanya sisa lava beku yang membentuk kekar kolom

Pantai Pecaron[sunting | sunting sumber]

Pantai Pecaron berada di Desa Srati. Keindahan pantai ini terletak pada bukit hijau tinggi menjulang di bibir pantai yang cukup luas. Pantai ini dihiasi pasir putih keabuan dan pohon kelapa yang rapat disepanjang pantai hingga keatas puncak bukit. Pantai Pecaron juga memiliki karang yang membatasi pasir dengan lautan sehingga ombak ganas pantai selatan bisa diredam seusai tiba ke bibir pantai. Ditempat ini juga disediakan wahan Camping Groud yang memadai. Pantai Pecaron masih sangat alami sehingga belum banyak terjamah wisatawan umum.

Pantai Karang Agung[sunting | sunting sumber]

Pantai Karang Agung terletak di Desa Argopeni. Pantai ini berada di sebelah timur Pantai Ayah. Keindahan pantai ini terletak pada sebuah karang yang tinggi menjulang menjorok ke lautan. Pantai Karang Agung merupakan pantai berkarang sehingga tak banyak ditemui pasir pantai terlebih jika air laut pasang. Pantai Karang Agung memiliki panorama yang indah. Perpaduan birunya laut dan hijaunya pepohonan di sekitar pantai membuat pantai ini sangat istimewa. Pantai Karang Agung juga salah satu pantai paling alami dan bersih di Kebumen.

Pantai Lembupurwo[sunting | sunting sumber]

Pantai Lembupurwo terletak di Desa Lembupurwo. Pantai ini berada di batas timur Kabupaten Kebumen yang berbatasan dengan Kabupaten Purworejo. Pantai Lembupurwo memiliki garis pantai yang panjang serta berwarna hitam. Keunikan pantai ini adalah adanya Laguna serta Gumuk Pasir. Laguna yang membentuk danau air payah dibatasi hutan cemara yang rindang serta mangrove yang rapat. Pantai ini juga memiliki gumuk pasir yang masih aktif sehingga cocok untuk olahraga sandboarding.

Wisata Air[sunting | sunting sumber]

Arung Jeram Pedegolan[sunting | sunting sumber]

Arung Jeram ini menggunakan setengah dari panjang Sungai Padegolan yang merupakan sungai limpahan air di bawah Bendungan Wadaslintang. Jika anda petualang sejati, cobalah arungi tantangan ini dan raih kemenangan alami. Pemandangan sepanjang sungai terbilang indah dengan dipenuhi pepohonan. Karena air berasal dari Waduk, membuat air sungai ini sangat jernih. Bahkan dasar sungai bisa terlihat. Titik start petualangan Arung Jeram Padegolan berada di PLTA Wadaslintang di desa Sendangdalem dan akan berakhir di Bendung Pejengkolan yang masuk ke kawasan Jembangan Wisata Alam (JWA) di Desa Jembangan.

Pemandian Air Panas Krakal[sunting | sunting sumber]

Pemandian Air Panas (PAP) Krakal terletak di Desa Krakal Kecamatan Alian Kabupaten Kebumen. PAP Krakal memiliki mata air yang tidak pernah kering walau musin kemarau panjang sekalipun.

Kolam Renang Gading Splash Water (GSW)[sunting | sunting sumber]

Terletak di dalam area ibukota Kebumen hanya 300 m arah barat daya dari alun-alun Kebumen. Ini adalah kolam renang yang di desain sangat artistik, ada pencampuran bangunan budaya barat dan timur. Sangat cocok untuk tempat hiburan dan pembelajaran keluarga, karena di dalamnya terdapat banyak fasilitas pendukung, dari area bermain anak, cafe, mini market, tempat fitnes yang modern, hingga area aerobic. Ini benar-benar rest area yang akan membuat tubuh fress, sehat dan menghibur.

Wisata Air Jembangan[sunting | sunting sumber]

Terletak 10 kilometer utara Kutowinangun, masuk wilayah kecamatan Poncowarno. Terletak di sekitar bendungan Pejengkolan yang merupakan bagian dari sistem irigasi waduk wadaslintang. Sudah dilengkapi sarana dermaga dan perahu wisata, warung makan, sepeda air dan segera dilengkapi dengan waterboom.

Wisata Waduk[sunting | sunting sumber]

Waduk Serbaguna Sempor[sunting | sunting sumber]

Waduk Serbaguna Sempor memiliki pemandangan alam indah, dilengkapi dengan arena bermain anak-anak, tempat parkir, cottage serta panggung terbuka.

Waduk Wadas Lintang[sunting | sunting sumber]

Waduk Wadaslintang mempunyai luas sembilan kali Waduk Sempor. Letaknya 34 km arah timur laut Kota Kebumen.

Wisata Benteng[sunting | sunting sumber]

Benteng Van Der Wijk[sunting | sunting sumber]

Terletak di Kota Gombong Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Dibangun pada abad ke XVIII oleh Belanda untuk pertahanan, dan bahkan kadang-kadang untuk menyerang. Nama benteng ini diambil dari Van Der Wijk, nama yang terpampang pada pintu sebelah kanan, kemungkinan nama komandan pada saat itu. Mudah dicapai dengan kendaraan pribadi atau transportasi umum 21 km dari Kebumen atau 100 km dari Candi Borobudur. Benteng ini kadang dihubungkan dengan nama Frans David Cochius (1787 - 1876), seorang jenderal yang bertugas di daerah barat Bagelen yang namanya diabadikan menjadi Benteng Generaal Cochius. Selanjutnya benteng pertahanan ini digunakan untuk sekolah militer, berikut adalah data teknis benteng:

  • Luas benteng atas 3606, 625m²
  • Benteng bawah 3606, 625 m²
  • Tinggi benteng 9, 67 m, ditambang cerobong 3, 33 m
  • Terdapat 16 barak dengan ukuran masing-masing 7, 5 x 11, 32 m

Wisata Religi[sunting | sunting sumber]

Selain terkenal dengan wisata alamnya kebumen juga terkenal dengan wisata religinya. Hal ini dikarenakan di kebumen terdapat banyak makam para syeikh diantaranya adalah:

Makam Syeikh Anom Sida Karsa[sunting | sunting sumber]

Makam Syekh Anom Sida Karsa Terletak di desa Grogol Beningsari di kecamatan Petanahan, Kebumen, yang berjarak sekitar 15 km dari kota Kebumen atau sekitar 6 km dari Pantai Petanahan.[4] Makam ini selalu ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah terutama pada malam Jumat, bulan Saban, dan bulan Muharram.

Syekh Anom Sida Karsa yang diketahui adalah seorang waliyullah. Ditelusuri dari silsilahnya ternyata dia masih keturunan ke-5 dari Raden Fatah. "Dullah Sidiq" adalah nama aslinya. Dia hidup pada zaman Hamengku Buwono IV. Konon dia memang keturunan darah biru, namun karena kecintaannya pada Sang Kholiq dia lebih memilih untuk menyebarkan Agama Islam daripada mementingkan pangkat[5].

Sebelum singgah di desa ini, Syekh Anom pernah babad alas di daerah Demak. Selain itu dia juga pernah singgah di Sumpyuh tepatnya di Desa Ngadiasa, tempat lain yang pernah disinggahinya yaitu Banyumas, Setelah dari Banyumas dia kembali lagi ke Demak dengan tujuan untuk perang melawan Belanda. Kemudian dia melanjutkan dakwahnya hingga sampai desa ini dan disinilah dia tinggal sampai wafat[5].

Syekh Anom berguru pada Syekh Abdul Awal bersama tiga teman seperjuangannya yaitu Syekh Abdul Fatah yang saat ini makamnya terdapat di daerah Sentul, Syekh Syahrowardi yang makamnya terdapat di Desa Tanjungsari, dan salah seorang murid dari desa setempat yang bertugas untuk khutbah yang makamnya terdapat di Kuburan Panggel.

Dari sejarah Syekh Anom yang paling menarik yaitu Pada saat Syekh Abdul Awal akan menunaikan Ibadah Haji ke tanah Suci, dengan sengaja Syekh Abdul Awal tidak mengikutsertakan murid-muridnya karena Dia hanya berniat mengajak istrinya, oleh karena itu Dia memberi tugas kepada masing-masing muridnya. Tugas yang diberikan kepada Syekh Anom adalah diperintahkannya Dia untuk menunggu sepuluh beton (isi nangka) yang sedang dibenem (ditimbun dengan bara api) sampai matang untuk dibagikan kepada teman-temannya. Anehnya setelah betonnya matang hanya terdapat Sembilan buah, Hal ini menjadikan Syekh Anom ragu untuk membagikan kepada ketiga temannya. Untuk menanyakan kebimbangannya Dia berniat menyusul Sang Guru ke Tanah Suci. Disinilah terdapat karomah yang luar biasa pasalnya Syekh Anom hanya mengendarai bekong (tempat beras) untuk sampai ke Mekah, hal yang sama juga dialami oleh Gurunya yang hanya mengendarai mancung untuk mencapai tempat tujuan.

Sesampainya di Mekah Syekh Anom bertemu dengan Sang Guru dengan membawa Sembilan beton yang masih hangat, lalu Dia menanyakan mengapa beton yang ada hanya Sembilan buah padahal sebelumnya Syekh Abdul Awal mengatakan bahwa beton yang dibenem ada sepuluh buah. Pertanyaan itu diabaikan begitu saja oleh Syekh Abdul Awal, karena Syekh Anom sudah terlanjur ada di Tanah Suci maka Syekh Abdul Awal mengajaknya untuk menunaikan ibadah Haji bersama.

Cerita itulah yang menjadi dasar terciptanya sebuah nama SYEKH ANOM SIDA KARSA yang mempunyai arti, kata “SIDA” berarti JADI dan “ KARSA” berarti kesampaian.

Dalam sumber di lokasi menyebutkan, nama Syeh Anom Sidakarsa tersebut diketahui dari seorang yang selama dua tahun berturut-turut melakukan riyadloh di makam tersebut pada tahun 1935. Orang itu yakni almarhum Simbah Chamid dari Kajoran Magelang.

Menurut cerita Simbah Chamid kepada murid-muridnya yang kemudian diyakini hingga sekarang, Syeh Sidakarsa adalah cucu dari Sultan Bintoro/Raden Fatah di Demak. Syeh Sidakarsa yang sering juga disebut Syeh Anom datang ke Kebumen untuk berguru atau nyantri kepada Syeh Abdul Awwal.

Keberadaan Syeh Abdul Awwal sendiri bisa dilacak dari makam kiai tersebut yang terletak di Desa Kebonsari Kecamatan Petanahan atau sekitar 1, 5 km sebelah utara makam Syeh Anom.

Begitu dekat dan cintanya Syeh Anom dengan gurunya itu, dia merasa susah sepeninggal gurunya itu ke tanah suci. Karena sangat dekatnya, rindu tidak dapat tertahankan. Syeh Anom pun kemudian bermunajah kepada Allah SWT agar dapat menyusul gurunya.

Di tengah munajahnya itu, tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh. Setelah diperiksa ternyata sebuah blongkeng (mancung) pohon kelapa. Bagi Syeh Anom, kondisi itu seperti petunjuk dari Allah, maka dengan izin Allah, Syeh Anom dapat menyusul gurunya dengan naik blongkeng itu.

Syekh Anom Sida Karsa memilih tinggal di daerah ini karena mengetahui banyak orang yang masih membutuhkan pencerahan, diantaranya adalah daerah Ambal yang dihuni banyak berandal. Dia menetap di tempat ini sampai wafatnya.

Semasa hidupnya, Syekh Anon Sida Karsa terkenal memiliki kelebihan. Kabar itu akhirnya sampai ke telinga para berandal di Ambal. Mereka pun datang menyatroni rumah Syekh Anom, berjumlah 200-an orang. Sampai di lokasi mereka melihat ada keanehan, yaitu meskipun rumah Syekh Anom miring ke Utara namun justru yang di sebelah Selatan yang disangga kayu. Para berandal itu pun menganggap pemilik rumah sudah tak waras lagi.

Ketika Syekh Anom Sida Karsa mempersilahkan para begal masuk ke dalam rumah, lagi-lagi mereka menganggap tuan rumah tak waras. Bagaimana mungkin rumah sekecil itu sanggup menampung gerombolan yang berjumlah demikian banyak. Namun ketika akhirnya masuk, ternyata dalaman rumah itu luas sekali. Seluruh gerombolan hanya memenuhi satu pojok rumah saja. Barulah para berandal itu sadar bahwa Syekh Anom bukan orang sembarangan.

Berandal itu dijamu makan oleh Syekh Anom, satu hal yang selalu dilakukannya pada setiap tamu yang datang ke rumahnya. Makanan selalu ada, berapa pun tamu yang datang setiap harinya. Para berandal dipesan agar tidak membuang tulang ayam ke lantai. Namun seorang berandal sengaja membuang tulang ayam ke lantai, dan tiba-tiba tulang itu berubah menjadi ayam lagi! Akhirnya para berandal itu pun takluk kepada Syekh Anom[5].

Makam Syeikh Abdul Awal[sunting | sunting sumber]

Makam Syeikh Abdul Awal terletak di desa Kebon Sari kecamatan Petanahan, tidak terlalu jauh dari makam muridnya Syeikh Anom Sida Karsa. Syeikh ini dulu bernama "Mangkurat Mas", dari Yogyakarta, putra R. Pemanahan dari istri Padmi. Anak Ki Ageng Pemanahan ada 2 yaitu "Mangkurat Mas" dan "Mangkurat Kuning".

Cerita berawal saat Ki Ageng berpesan kepada anaknya, lewat adiknya Ki Ageng Giring yang bermukim di Cirebon. Ki Ageng Pemanahan memberi wangsit jika suatu saat Ki Ageng mangkat, maka kekuasaan keraton Yogyakarta diserahkan kepada anak sulungnya, Mangkurat Mas. Namun begitu ayahnya meninggal, Ki Ageng Giring malah tidak peduli dengan amanah untuk menyerahkan titipan kekuasaan kepada Mangkurat Mas. Melalui patih Martapala-Martapura, sehingga terjadi geger dan menjadikan Mangkurat Mas pergi dari keraton dengan prinsip bahwa kekuasaan hanya akan akan menjadikan seseorang bertaruh dan mungkin sampai di akhir ajal, hanya akan bertaruh dan memperebutkan kekuasaan saja. Dan akhirnya kekuasaan di Yogyakarta jatuh ke tangan Ki Ageng Giring, sedangkan Mangkurat Mas pergi dari kerajaan, menuju ke arah barat dan sampai di seputar desa yang sekarang ini disebut Kebonsari.

Pada satu saat datanglah Raden Patah putra dari Prabu Brawijaya V-Raja Majapahit terakhir ke tanah Jawa. Kedatangan R. Patah menjadikan tanah jawa geger karena dia bermisi menundukkan negara Pandawa tengah. Pada saat itu Mangkurat Mas yang juga dikenal sebagai Syech Abd. Awal sudah bermukim di Kebonsari, meski namanya belum Kebonsari. Lama-kelamaan, Di Kebonsari, Mangkurat Mas membawa ilmu para wali ibarat hanya sebulir padi/semenir, dipecah menjadi empat madzhab. Sembari bermukim disini, Mangkurat Mas memberikan wewarah kepada banyak orang tentang ilmu-ilmu para wali.

Kedatangan R. Patah ke tanah jawa diikuti dengan proses penyerangan perilaku ibadah umat-umat Islam yang merujuk pada ajaran wali, digeser dengan ilmu agama suci dari tanah Saudi-ajaran Rasul Muhammad saw. Awalnya di tanah jawa yang diamalkan ilmu Kuntadewa[6].

Di Kebumen, Mangkurat Mas alias Syech Abdul Awwal punya banyak murid, diantaranya di Guyangan, Syech Sidakarsa dan Syech Abdul Rosyid. Sebagai seorang pembawa ajaran Islam Jawa/sinkretik/ilmu kebatinan/ilmu ratu tanah jawa, Syech seorang diri mengajarkan ilmunya di daerah ini. Ada tokoh lain yang dikenal yaitu Syech Abdul Muhyi, namun dia membawa risalah Islam murni dari tanah Arab. Abdul Muhyi anak dari panembahan Sultan Imam Mahdi dari tanah Madinah.

Begitu lama merasa cukup lama bermukim di Kebumen, Syech ingat akan sebuah pesan yang tertulis di kitabnya untuk pergi ke tanah suci-naik haji. Pada saat Syech naik haji, dia menggunakan “mancung” dari pohon kelapa. Keajaiban itu bisa diwujudkan karena ilmu kebijaksanaan yang dimiliki oleh Sang Syech.

Saat mengembara ke Kebumen, Syech Abdul Awwal sudah menamatkan ilmu dari pesantren dan menikah dengan putri keraton Solo/Surakarta yang bernama Jonggrang, belum sempat bekerja mengamalkan ilmunya namun sudah didahului dengan geger perebutan kekuasaan di Yogyakarta dan pendudukan Belanda di tanah jawa. Seumur hidup, Syech Abdul Awwal hanya mempunyai satu istri yaitu Nyai Jonggrang.

Dalam ceritera, R. Patah yang membawa risalah rasul Muhammad adalah putra dari pernikahan putri Cempa-Cina dengan Raja Brawijaya-raja Majapahit yang terakhir. Versi dongeng, diberi nama Patah dari makna banyu patang wulan bali ngulon meng Cina. Dulu, ratu Sriwijaya alias sang ayah putri Cempa menciptakan Putri Cempa yang berwujud jin raksasa, dicipta menjadi putri cantik seperti putri di daerah tanah Jawa. Saat sudah menjadi cantik, ia berkeliling di seluruh tanah jawa membawakan seni lagu dan tari-tarian untuk dipertunjukkan. Ratu Brawijaya melalui Patih Gajah Mada, jatuh cinta pada putri Cempa dari Palembang dan ingin mempersunting menjadi istri sebagai istri ke-41. Setelah menikah dengan Raja Brawijaya, Putri Cempa hamil dan mengidam. Yang diinginkan Putri Cempa saat mengidam adalah rujak babi. Sebagai suami, Sang Prabu menuruti permintaan istrinya dengan memerintahkan kawulanya berburu babi dan memasaknya. Setelah makan, ternyata Putri Cempa yang cantik tiba-tiba berubah ke wujud semula, seorang raksasa. Dengan perubahan wujud itu, Sang Putri menjadi malu dan segera terbang kembali ke tanah asal, Banyu patang wulan alias R. Patah dibawa serta. Sat kembali ke negerinya, Putri Cempa dipersunting oleh Arya Damar-Raja Palembang. Disana, lahirlah R. Patah. Sebagai ayah, Prabu Brawijaya berpesan agar Arya Damar tidak menghilangkan identitas R.Patah yang merupakan keturunan langsung dari Majapahit. Di kemudian hari R. Patah pergi menuntut ilmu ke Mesir sehingga ia menjadi seorang alim dan kelak menjadi penyebar ajaran Islam-Rasul di tanah jawa, bahkan menyerang ayah kandungnya sendiri yang berkuasa di Majapahit yang nota benenya pemegang tradisi dan kepercayaan Hindu. R. Patah adalah anak kandung dari putri Cempa, hasil dari pernikahan keduanya dengan Prabu Brawijaya. Sedangkan sebelumnya Putri Cempa sudah pernah menikah dan berputrakan Raden Husen.

Awal sebelum R. Patah mengetahui keberadaan ayah kandungnya, ia bertanya kepada ibunya. Setelah ibunya menceritakan sebenarnya darah siapa yang mengalir pada diri R. Patah, maka segera R. Patah ingin menyusul ayah kandungnya di Majapahit. Sebelum ia tiba di Majapahit, ia singgah dulu di Demak Bintoro dan diterima oleh Sunan Ampel. Oleh Sunan Ampel, R. Patah dinikahkan dengan cucunya-putri Mloko, dan dijadikan Bupati Demak Bintoro. Setelah cukup lama menetap di Bintoro, R. Patah ingin melanjutkan ke Majapahit. Di tengah jalan ia bertemu dengan Sunan Giri. Saat R. Patah menyatakan maksudnya, Sunan Giri melarang dia melanjutkan niatnya dengan alasan ilmu para wali yang sudah mengakar di tanah jawa, tidak boleh diganggu gugat, dirubah atau dicampuri oleh ajaran Islam yang berasal dari tanah Arab. Namun dalam kenyataannya, R. Patah yang kemudian bertemu dengan saudara tirinya R. Husen, menegakkan agama rasul di tanah jawa. Pada saat itulah para wali pemegang ajaran sinkretik mundur agar tidak terjadi pertentangan di kalangan umat. Secara garis besarnya, agama Rasul dipandang sebagai ajaran yang mengutamakan syariat sedangkan para wali dianggap sebagai pembawa ajaran tarekat. Sedangkan idealnya seorang umat adalah mengamalkan ilmu Rasul dan meneladani perilaku wali, namun sekarang tidak demikian.

Di Kebumen, tempat mukim Syech Abdul Awwal adalah di pedukuhan Kedungamba, desanya Grogol Beningsari. Namun begitu direbut oleh Belanda daerah ini termasuk desa Kebonsari. Kedungamba diambil dari makna, kedung artine jero lan amba, melambangkan begitu dalam dan luasnya ilmu wali yang dibawa oleh Syech Abdul Awwal. Saat tiba di Kedungamba, Syech Abdul Awwal membawa rasa sedih karena terusir dari istananya. Saat tiba disini sudah ada sekitar 50 orang penduduk yang menghuni Kedungamba, namun hingga kini sulit ditelusuri siapakah mereka dan berasal dari mana[6].

Satu cerita lagi, pada suatu saat Ratu Yogyakarta yang merupakan permaisuri Ki Ageng Giring gering (sakit), Mangkurat Mas lah yang berhasil menyembuhkannya. Sesuai dengan janji yang diucapkan Ki Ageng Giring bahwa siapapun yang berhasil menyembuhkan istrinya akan dituruti segala permintaannya. Sebagai hadiah atas keberhasilannya, Mangkurat Mas muda meminta tanah seluas serban, yaitu bumi Mataram yang di kemudian hari ditempati, Kedungamba. Sebelumnya Ki Ageng Giring telah menawarkan tanah antara sebelah timur sungai Praga sampai Sitandu, namun Mangkurat Mas menolak. Karena merupakan tanah hadiah dari Sultan maka Kedungamba disebut sebagai tanah Keputihan yang tiap tahunnya tidak terkena pajak ke Mataram, namun hanya menyetorkan bulu bekti atau glondhong pengareng-pengareng berupa padi, palawija, dll saja tiap tahun pada musim panen sado ke Mataram berpakaian jarit wiru dan blangkon. Saat menyerahkan bulu bekti, yang ikut sowan 7 orang sebagai perlambang martabat desa yaitu Lurah, Congkog, Carik, Kebayan, Kaum, Polisi dan Kamituwa. Oleh Mataram yang diberi kewenangan menjadi Lurah Kedungamba adalah Mangkurat Mas atau "Syech Abdul Awwal". Begitu Belanda menyerang, barulah Kedungamba dikenai pajak. Zaman dulu, orang-orang tidak dikenai pajak[6].

Deretan makam yang ada di kanan-kiri Syech Abdul Awwal. Sebelah barat Syech adalah makam putranya Abdul Rauf yang konon ceritanya ia selalu ingin mengungguli ayahnya, misal jika ia menimba air, bukannya menggunakan wadah yang rapat malah menggunakan keranjang yang berlubang, angina yang berhembus juga berusaha ia kekang dengan diikat memakai selendang, dan berbagai perbuatan Abdul Rauf yang mengesankan ia ingin mengungguli kesaktian ayahnya. Informasi belum tertata dan diterjemahkan penuh ke dalam bahasa Indonesia.

Makam Syekh Abdul Kahfi Lemah Lanang Kebumen[sunting | sunting sumber]

Makam R.A. Tan Peng Nio Kalapaking Kebumen[sunting | sunting sumber]

Makam Tumenggung Kalapaking Kalijirek Kebumen[sunting | sunting sumber]

Wisata Air Terjun[sunting | sunting sumber]

Air Terjun Sudimoro[sunting | sunting sumber]

Air Terjun Sudimoro terletak di Dusun Kalikumbang, Desa Donorojo, kecamatan Sempor. Air terjun ini memiliki tiga undakan dengan total ketinggian hingga 35 meter. Air terjun Sudimoro memiliki formasi melebar sehingga air yang jatuh akan membentuk tirai air yang begitu mengagumkan. Air terjun ini juga memiliki debit air yang deras dan stabil terlebih jika musim penghujan tiba. Hal tersebut dikarenakan Curug Sudimoro terdapat di aliran Kali Putih yang berhulu di wilayah perbukitan pererbatan Kabupaten Kebumen dengan Banjarnegara. Curug Sudimoro dikelilingi bukit-bukit seperti Bukit Sigentong, Bukit Glagah, Bukit Cikini dan Bukit Sigandil sehingga pemandangan sekitarnya yang hijau sangat memanjakan mata. [7]

Air Terjun Silancur[sunting | sunting sumber]

Air Terjun Silancur terletak di Dusun Pujegan, Desa Wadasmalang, kecamatan Karangsambung. Air terjun Silancur memiliki ketinggian sekitar 25 meter dan berada di kawasan Cagar Alam Nasional Geologi Karangsambung pada ketinggian 220 mdpl. Air terjun ini terlihat membentuk sebuah garis putih tinggi menjulang. Bersamaan, terdengar suara gemericik air. Tidak seperti air terjun pada umumnya yang memiliki penampungan air di bawahnya, air di Air Terjun Silancur jatuh menghantam batuan besar hingga menghasilkan percikan air yang segar. Jika terik matahari dalam keadaan sempurna, percikan air yang terbawa angin terlihat berwarna-warni seperti pelangi. [8]

Makanan khas[sunting | sunting sumber]

Jenang Sabun[sunting | sunting sumber]

Makanan khas ini terdapat didaerah kecamatan petanahan. Rasanya manis dan khas, namun sudah mulai jarang.

Lanthing[sunting | sunting sumber]

Lanthing (kadang disebut klanthing), merupakan makanan ringan sejenis kerupuk yang terbuat dari singkong berbentuk angka delapan atau lingkaran kecil seperti cincin. Asal mulanya hanya mempunyai rasa yang gurih dan asin tetapi sekarang mulai muncul aneka rasa seperti asin pedas dan rasa keju.

Obang abing[sunting | sunting sumber]

Makanan ini terbuat dari beras ketan ditaburi gula pasir halus, namun makanan ini mulai sulit dicari.

Sale pisang[sunting | sunting sumber]

Sale pisang adalah makanan hasil olahan dari buah pisang yang disisir tipis kemudian dijemur. Tujuan penjemuran adalah untuk mengurangi kadar air buah pisang sehingga pisang sale lebih tahan lama. Pisang sale ini bisa langsung dimakan atau digoreng dengan tepung terlebih dahulu. selain itu, saat ini sale pisang mempunyai berbagai macam rasa seperti rasa keju. Saat ini, produksi pisang sale sudah menembus pasar internasional.

Sale pisang merupakan produk pisang yang dibuat dengan proses pengeringan dan pengasapan. Sale dikenal mempunyai rasa dan aroma yang khas.

Sate ambal[sunting | sunting sumber]

Sate ambal adalah makanan khas dari daging ayam yang berasal dari daerah Ambal, Kebumen, Jawa Tengah.

Yang membuat sate Ambal berbeda dari sate Madura adalah bumbunya. Bumbunya agak lebih encer, berwarna kuning tua dan sekilas terlihat seperti kuah masakan Padang. Dan istimewanya, bumbu ini dibuat dari tempe yang dihancurkan hingga halus. Cita rasanya manis-pedas-gurih dengan aroma keharuman rempah yang menggugah selera. Tempenya memang tidak terasa lagi.

Soto petanahan[sunting | sunting sumber]

Soto petanahan sungguh berbeda dengan soto daerah lain, rasanya yang khas membuat soto petanahan sangat digemari masyarakat pada umumnya, soto petanahan berisi ketupat, toge hijau, suwiran ayam kampung dan kuah yang gurih, namun soto ini belum setenar soto bandung maupun soto daerah lainnya, jika anda mampir ke kebumen cobalah menyempatkan diri mencoba kuliner yang satu ini. Pedagang soto petanahan banyak dijumpai di desa petanahannya sendiri dan daerah disekitar desa petanahan, adapun penjual yang sudah sangat kondang yaitu soto petanahan pak kored. Letaknya diselatan pasar petanahan.

Soto tahu[sunting | sunting sumber]

Makanan khas yang satu ini sekarang sudah sangat jarang dijumpai, bahkan makanan ini hanya tenar dikecamatan petanahan. Kalau dilihat dar, namanya mungkin kelihatan biasa saja, namun begitu anda mencobanya anda akan merasa ketagihan, soto ini terbuat dari tahu, engkol, toge dan tahu kebumen yang khas disiram kuah sambel kacang. rasanya segar, cocok dinikamati saat siang harim apabila anda berkunjung ke kebumen anda wajib mencoba makanan yang satu ini. makanan ini tidaklah disajikan direstoran mewah namun di pedagang kaki lima yang orang petanahan menyebutnya bango (semacam rumah berjualan terbuat dari bambu dan sederhana).

Empog empog[sunting | sunting sumber]

Kethek[sunting | sunting sumber]

Jipang kacang[sunting | sunting sumber]

Lenthis[sunting | sunting sumber]

Nasi penggel[sunting | sunting sumber]

Soto Tamanwinangun/Soto Kasaran[sunting | sunting sumber]

Thepleng pejet[sunting | sunting sumber]

Tokoh terkenal[sunting | sunting sumber]

Nomor telepon penting[sunting | sunting sumber]

  • Dishubkominfo: 0287 381794, 383349
  • Kodim 0709: 0287381103
  • PDAM: 0287381489
  • Pemadam Kebakaran: 0287382113
  • PLN: 0287382220
  • PMI Cabang: 0287381818
  • Polres: 0287382110
  • Presscenter: 0287385501
  • RSUD: 0287381101
  • Satlantas: 0287385514
  • Satpol PP: 0287 381885
  • Stasiun KA: 0287381215
  • UTD PMI: 0287381040

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses 2013-02-15. 
  2. ^ Catatan dari Babad Mataram: Di dalam perang tersebut hal yang tidak masuk akal adalah ia tidak menyerah ke Pangeran Mangkubumi, yang seharusnya berpihak ke Pangeran Mangkubumi karena dia termasuk putra Pakubuwono I/ Pangeran Puger. Ternyata ia bertugas sebagai mata-mata penghubung antara pihak Keraton Surakarta dengan Pangeran Mangkubumi, setiap kali ia sebagai utusan Kraton Surakarta untuk membawakan biaya perang kepada Pangeran Mangkubumi. Cara membawa biaya perang tersebut yang dalam bentuk emas dan berlian yang dimasukkan di dalam sebuah Kendang besar, tidak ada satupun yang tahu, baik Belanda, para punggawa Kraton Solo maupun para prajurit pihak Pangeran Mangkubumi sendiri. Cara membawanya dengan diselempangkan di belakang badannya sambil naik naik kuda, begitu berhasil menembus posisi yang dekat dengan Pangeran Mangkubumi maka dengan cepatnya Kendang tersebut ditaruh di dekat Pangeran Mangkubumi, kemudian pergi lagi. Demikian saat tiap kali Arungbinang melaksanakan misi rahasia tersebut, sehingga perang Pangeran Mangkubumi mendapatkan biaya, bahkan peperangan ini ada yang menyebutkan sebagai "perang Kendang". Tampaknya alasan inilah yang membuat posisi Arungbinang sebagai utusan rahasia. Tugas seperti itu dilakukan berulangkali.
  3. ^ Kebumen Societies
  4. ^ Ekspedisi Mapala: Internalisasi dan eksternalisasi terhadap Makam Syekh Anom Sida Karsa di Desa Grogol Beningsari, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen.
  5. ^ a b c Makam Syekh Anom Sida Karsa Kebumen
  6. ^ a b c Sejarah Desa Kebonsari Kecamatan Petanahan
  7. ^ [1]
  8. ^ [2]