Kabupaten Empat Lawang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kabupaten Empat Lawang
Sumatra 1rightarrow blue.svg Sumatra Selatan
Lambang resmi Kabupaten Empat Lawang
Lambang
Motto: 
Saling keruani sangi kerawati
Lokasi Sumatra Selatan Kabupaten Empat Lawang.svg
Kabupaten Empat Lawang berlokasi di Sumatra
Kabupaten Empat Lawang
Kabupaten Empat Lawang
Kabupaten Empat Lawang berlokasi di Indonesia
Kabupaten Empat Lawang
Kabupaten Empat Lawang
Koordinat: 3°45′S 103°00′E / 3.75°S 103°E / -3.75; 103
Negara Indonesia
ProvinsiSumatra Selatan
Tanggal peresmian20 April 2007
Dasar hukum-
Ibu kotaTebing Tinggi
Pemerintahan
 • BupatiJoncik Muhammad
 • Wakil BupatiYulius Maulana
Luas
 • Total2.256,44 km2 (87,122 sq mi)
Populasi
 ((2010))
 • Total221.176 jiwa
Zona waktuWIB (UTC+07:00)
Kode telepon0702
Kode Kemendagri16.11 Edit the value on Wikidata
Jumlah kecamatan9
Jumlah kelurahan5
DAURp308.418.229.000.-(2013)[1]
Situs webwww.empatlawangkab.go.id

Kabupaten Empat Lawang adalah sebuah kabupaten di Provinsi Sumatra Selatan, Indonesia. Ibukota kabupaten ini terletak di Tebing Tinggi. Kabupaten Empat Lawang diresmikan pada 20 April 2007 setelah sebelumnya disetujui oleh DPR dengan disetujuinya Rancangan Undang-Undangnya pada 8 Desember 2006 tentang pembentukan kabupaten Empat Lawang bersama 15 kabupaten/kota baru lainnya. Kabupaten Empat Lawang merupakan pemekaran dari kabupaten Lahat.

Geografis[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Empat Lawang merupakan salah satu kabupaten yang berada di bagian barat provinsi Sumatera Selatan. Secara geografis, kabupaten ini berada di antara 3°25'–4°15' Lintang Selatan dan 102°37'–103°45' Bujur Timur. Luas wilayah Kabupaten Empat Lawang adalah 2.256,44 km².[2]

Batas wilayah[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Empat Lawang mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut:

Utara Kabupaten Musi Rawas
Timur Kabupaten Lahat
Selatan Kabupaten Lahat dan kabupaten Bengkulu Selatan, Bengkulu
Barat Kabupaten Kepahiang dan Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu

Topografi[sunting | sunting sumber]

Secara topografis, wilayah Kabupaten Empat Lawang memiliki bentuk muka tanah bergelombang dan berbukit. Hal tersebut disebabkan oleh wilayah kabupaten ini yang sebagian besar merupakan daerah rangkaian Pegunungan Bukit Barisan di wilayah barat Pulau Sumatera. Kabupaten Empat Lawang terletak pada ketinggian wilayah yang bervariasi, antara 50 meter sampai dengan 2500 meter dari atas permukaan laut (dpl). Wilayah barat-timur memiliki ketinggian bervariasi antara 150 meter sampai dengan 450 meter di atas permukaan laut (dpl). Daerah dengan ketinggian antara 300 meter sampai dengan 450 meter di atas permukaan laut mencakup areal seluas 64%. Wilayah selatan–timur Kabupaten Empat Lawang termasuk dalam rangkaian Pegunungan Bukit Barisan, sehingga memiliki ketinggian yang signifikan yakni antara 500–700 meter di atas permukaan laut. Wilayah utara–timur kabupaten ini cenderung cukup landai yakni berketinggian antara 150 mdpl hingga 250 mdpl. Kecamatan dengan ketinggian terendah adalah Kecamatan Saling dengan ketinggian berkisar antara 80 mdpl hingga 670 mdpl. Sementara itu, kecamatan dengan ketinggian tertinggi adalah Kecamatan Muara Pinang dengan ketinggian berkisar antara 300 mdpl hingga 2500 mdpl.[2]

Geologi[sunting | sunting sumber]

Jenis tanah di wilayah Kabupaten Empat Lawang secara geologis terbagi menjadi tiga, yaitu:

  1. Alluvial, jenis tanah berwarna coklat kekuningan dan dapat dijumpai di sepanjang daerah aliran Sungai Musi, Sungai Lintang, dan sungai lainnya.
  2. Litosol, jenis tanah dapat dijumpai di wilayah Pegunungan Bukit Barisan
  3. Hidromorf, jenis tanah ini biasa dijumpai di wilayah yang daerahnya berada di ketinggian yang lebih rendah dan berada di wilayah yang kondisi muka tanahnya cenderung landai seperti di Kecamatan Tebing Tinggi.[2]

Hidrologi[sunting | sunting sumber]

Wilayah Kabupaten Empat Lawang dilalui oleh salah satu sungai besar di selatan Pulau Sumatera, yaitu Sungai Musi. Selain itu, banyak pula aliran anak sungai Musi yang menyebar di wilayah kabupaten ini. Di wilayah Pegunungan Bukit Barisan pun banyak dijumpai mata air yang merupakan hulu dari aliran-aliran sungai.[2]

Iklim[sunting | sunting sumber]

Sama halnya dengan wilayah lain di Indonesia, Kabupaten Empat Lawang beriklim tropis. Tipe iklim tropisnya adalah iklim hutan hujan tropis (Af) dengan curah hujan yang tinggi hampir sepanjang tahun. Suhu udara di wilayah Kabupaten Empat Lawang bervariasi antara 18°–30°C. Tingkat kelembapan nisbi di wilayah kabupaten ini cukup tinggi yaitu ±82%. Curah hujan tahunan di wilayah Empat Lawang berkisar antara 2700–3200 mm per tahun dengan jumlah hari hujan lebih dari 150 hari hujan per tahun. Curah hujan maksimum terjadi pada bulan DesemberJanuari dengan curah hujan bulanan lebih dari 330 mm per bulan, sedangkan curah hujan minimum terjadi pada bulan JuniJuli dengan curah hujan bulanan kurang dari 140 mm per bulan.

Data iklim Empat Lawang, Sumatera Selatan, Indonesia
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Tahun
Rata-rata tertinggi °C (°F) 29.6
(85.3)
30.1
(86.2)
30.2
(86.4)
30.5
(86.9)
30.7
(87.3)
30.2
(86.4)
29.5
(85.1)
29.7
(85.5)
30.1
(86.2)
29.9
(85.8)
29.8
(85.6)
29.4
(84.9)
29.97
(85.97)
Rata-rata harian °C (°F) 25
(77)
25.3
(77.5)
25.4
(77.7)
25.7
(78.3)
26
(79)
25.4
(77.7)
24.7
(76.5)
25
(77)
25.1
(77.2)
25.8
(78.4)
25.2
(77.4)
24.9
(76.8)
25.29
(77.54)
Rata-rata terendah °C (°F) 20.4
(68.7)
20.5
(68.9)
20.6
(69.1)
20.9
(69.6)
20.3
(68.5)
19.6
(67.3)
18.9
(66)
19.7
(67.5)
20.2
(68.4)
20.6
(69.1)
20.5
(68.9)
20.4
(68.7)
20.22
(68.39)
Presipitasi mm (inci) 336
(13.23)
292
(11.5)
265
(10.43)
259
(10.2)
207
(8.15)
136
(5.35)
137
(5.39)
159
(6.26)
208
(8.19)
284
(11.18)
303
(11.93)
334
(13.15)
2.920
(114,96)
Rata-rata hari hujan 22 19 17 16 14 10 10 11 14 18 20 22 193
% kelembapan 85 84 83 83 82 81 80 80 81 82 83 84 82.3
Rata-rata sinar matahari bulanan 131 150 172 191 202 211 214 212 196 163 148 137 2.127
Sumber #1: Climate-Data.org[3]
Sumber #2: Weatherbase[4]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Nama kabupaten ini, menurut cerita rakyat berasal dari kata Empat Lawangan, yang dalam bahasa setempat berarti "Empat Pendekar (Pahlawan)". Hal tersebut karena pada zaman dahulu terdapat empat orang tokoh yang pernah memimpin daerah ini.[5][6]

Pada masa penjajahan Hindia Belanda (sekitar 1870-1900), Tebing Tinggi memegang peran penting sebagai wilayah administratif (onderafdeeling) dan lalu lintas ekonomi karena letaknya yang strategis. Tebing Tinggi pernah diusulkan menjadi ibu kota keresidenan saat Belanda berencana membentuk Keresidenan Sumatra Selatan (Zuid Sumatra) tahun 1870-an yang meliputi Lampung, Jambi dan Palembang. Tebing Tinggi dinilai strategis untuk menghalau ancaman pemberontakan daerah sekitarnya, seperti Pagar Alam, Pasemah dan daerah perbatasan dengan Bengkulu. Rencana itu batal karena Belanda hanya membentuk satu keresidenan, yaitu Sumatra.

Pada masa penjajahan Jepang (1942-1945), Onderafdeeling Tebing Tinggi berganti nama menjadi wilayah kewedanaan dan akhirnya pada masa kemerdekaan menjadi bagian dari wilayah sekaligus ibu kota bagi Kabupaten Empat Lawang.

Ibu Kota[sunting | sunting sumber]

Dari awal mula terbentuknya Kabupaten ini, pemerintah mencanangkan ibu kota Pemerintahan berada di Kecamatan Tebing Tinggi, Sedangkan Kota Ekonomi Dicanangkan Di Kecamatan Pendopo

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Daftar Bupati[sunting | sunting sumber]

Bupati[sunting | sunting sumber]

  1. H. Budi Antoni Aljufri, S.E., M.M. (2008 - 2013 & 2013 - 2014, ±7 tahun)
  2. H. Syahril Hanafiah, S.E., M.M. (2015-, Pelaksana Harian / Plh Bupati. & 2016 Pelaksana Tugas/PLT Bupati)
  3. H. Joncik Muhammad, S.Si,S.H, M.H,M.M.(2018-sekarang)

Wakil bupati[sunting | sunting sumber]

  1. H. Sofyan Djamal, S.H., M.H. (2008 - 2013)
  2. H. Syahril Hanafiah, S.E., M.M. (2013 - 2015)
  3. H Yulius Maulana (2018-sekarang)

Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Ketua DPRD[sunting | sunting sumber]

  1. H. David Hadrianto Aljufri (2008 - 2018)
  2. Windera Safri (2018-2019)
  3. Persi SE (2019-2024)

Kecamatan[sunting | sunting sumber]

  1. Muara Pinang
  2. Lintang Kanan (pemekaran dari Muara Pinang)
  3. Pendopo Lintang
  4. Tebing Tinggi
  5. Ulu Musi
  6. Pasemah Air Keruh (pemekaran Ulu Musi)
  7. Talang Padang (pemekaran dari Tebing Tinggi)
  8. Pendopo Barat (pemekaran dari Pendopo)
  9. Saling (pemekaran dari Tebing Tinggi)
  10. Sikap Dalam (pemekaran dari Ulu Musi)

Demografi[sunting | sunting sumber]

Suku Bangsa[sunting | sunting sumber]

Sebagian besar penduduk bermayoritas Suku Lintang / Jemo Lintang (55%, bermukim di Muara Pinang, Lintang Kanan, Pendopo, Pendopo Barat, Ulu Musi, Sikap Dalam), sedangkan Suku & Suku Pasemah (19% bermukim di Pasemah Air Keruh), SALING (12% Bermukim di Saling) Suku KIKIM Tebing (5% bermukim di Tebing Tinggi) kemudian disusul dengan minoritas 9% seperti Jawa, sunda, dll.

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Wisata alam[sunting | sunting sumber]

selain matapencarian petani, kabupaten 4 lawang mempunya wisata alam, yakni curug tanjung alam yang ada di kecamatan lintang kanan, air lintang di kecamatan pendopo, yang merupakan pertemuan air bayau dan air lintang.

Makanan khas[sunting | sunting sumber]

Seperti daerah lainya, kabupaten empat lawang mempunyai kuliner yang sangat khas dan enak, selain empek-empek, ada Kelicuk, Lempeng, sanga duren, serabi, kue suba,lepat, bubur suro, gonjing, serta gulai kojo dan lempuk durian asli.

Budaya[sunting | sunting sumber]

Dikir adalah arak-arakan untuk mengiring kedua mempelai menuju rumah dilakukan siang hari atau malam hari sebelum ijab qabul

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses tanggal 2013-02-15. 
  2. ^ a b c d "Profil Empat Lawang" (PDF). 
  3. ^ "Pendopo, Sumatera Selatan, Indonesia". Climate-Data.org. Diakses tanggal 16 September 2020. 
  4. ^ "Empat Lawang, Indonesia". Weatherbase. Diakses tanggal 16 September 2020. 
  5. ^ Vebri Al Lintani, Puyang Kemiri: Pesan-pesan dan Asal usul Empat Lawang, situs Dapunta Online, 3 Oktober 2010. Diakses 8 Oktober 2010.
  6. ^ Ismajid, Asal Mula Nama Empat Lawang, situs Komunitas Lintang IV Lawang, 7 Agustus 2007. Diakses 8 Oktober 2010.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]