Kabupaten Kerinci

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Kabupaten Kerinci
كابوڤاتين كرينچي
Kab.Kerinci.svg
Lambang Kabupaten Kerinci
كابوڤاتين كرينچي


Moto: Sakti Alam Kerinci



Lokasi Jambi Kabupaten Kerinci.svg
Peta lokasi Kabupaten Kerinci
كابوڤاتين كرينچي di Jambi
Koordinat:
Provinsi Jambi
Dasar hukum UU No. 58 Tahun 1958
Tanggal peresmian 10 November 1958
Ibu kota Siulak
Pemerintahan
-Bupati Dr. H. Adirozal, M.Si.
-Wakil Bupati Zainal Abidin, SH, MH.
APBD
-DAU Rp. 594.747.481.000.-(2013)[1]
Luas 3807,283 [2]
Populasi
-Total 253.256 jiwa (2014)
-Kepadatan 66,51
Demografi
-Suku bangsa Kerinci, Minang, Jawa, Batak, Tionghoa
-Kode area telepon 0748
Pembagian administratif
-Kecamatan 16
-Kelurahan 287
Simbol khas daerah
-Flora resmi Bunga Bangkai
-Fauna resmi Harimau Sumatera
Situs web http://www.kerincikab.go.id/

Kabupaten Kerinci adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jambi, Indonesia. Kerinci ditetapkan sebagai Kabupaten sejak awal berdirinya Provinsi Jambi dengan pusat pemerintahan di Sungai Penuh. Pada tahun 2011, pusat pemerintahan berpindah ke Siulak.[3] Nama kerinci berasal dari bahasa tamil yaitu kurinji, yang merupakan nama bunga yang tumbuh di daerah pegunungan india selatan.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Kerinci berada di ujung barat Provinsi Jambi dengan batas wilayah sebagai berikut:

Utara Kabupaten Solok Selatan, Provinsi Sumatera Barat
Selatan Kabupaten Muko-Muko, Provinsi Bengkulu
Barat Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat
Timur Kabupaten Bungo dan Kabupaten Merangin

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Rumah controleur (pegawai kolonial di Hindia Belanda) Kerinci pada tahun 1931-1938

Berdasarkan Catatan China menyebut ada sebuah negeri yang bernama Koying yang berdiri pada Abad 2 SM terletak disebuah dataran tinggi dan memiliki Gunung api. Beberapa Ahli berpendapat bahwa Koying identik dengan dataran tinggi Kerinci.[4] Abad 14 M, Kerajaan Dharmasraya mulai menetapkan undang-undang kepada para Kepala suku atau luhah disetiap dusun di Selunjur bhumi Kurinci, Kepala suku tersebut disebut sebagai Depati sebagaimana yang tercantum dalam kitab Undang-undang Tanjung Tanah. Menurut Uli Kozok, negeri Kurinci atau Kerinci tidak sepenuhnya di bawah kendali Dharmasraya, para Depati tetap memiliki hak Penuh atas kekuasaannya, penetapan Undang-undang disebabkan Kerajaan Dharmasraya ingin menguasai perdagangan emas yang saat itu melimpah ruah di Bumi Kerinci.[5] Abad 15 M, Kerajaan Jambi mulai memegang kendali atas Para Depati di Bumi Kerinci, Kerajaan Jambi yang berada di Tanah Pilih, Kota Jambi sekarang. Menunjuk Pangeran Temenggung Kebul di Bukit sebagai wakil Kerajaan Jambi di wilayah hulu berkedudukan di Muaro Masumai, untuk mengontrol dan mengendalikan para Depati di Kerinci Rendah dan Kerinci Tinggi. Para depati yang dulunya terpisah-pisah dalam sebuah kampung atau kelompok kecil disatukan dalam pemerintahan yang dibuat oleh Kerajaan Jambi, Pemerintahan ini disebut dengan Pemerintahan Depati Empat,berpusat di Sandaran Agung. Abad 16 M, Terjadinya perjanjian di Bukit Sitinjau Laut antara Kesultanan Jambi yang diwakili oleh Pangeran Temenggung,Kesultanan Inderapura diwakili oleh Sultan Muhammadsyah dikenal dengan sebutan Tuanku Berdarah Putih dan Alam Kerinci diwakili oleh Depati Rencong Telang dan Depati Rajo Mudo. Isi Perjanjian tersebut intinya untuk saling menjaga keamanan antar tiga wilayah sebab saat itu banyak para penyamun dan perompak yang berada di jalur perdagangan antara Kerinci-Indrapura maupun Kerinci-Jambi.

Abad 17 M, terbentuk Pemerintahan Mendapo nan Selapan Helai Kain yang berpusat di Hamparan Rawang, serta beberapa wilayah Otonomi tersendiri seperti Tigo Luhah Tanah Sekudung di Siulak, Pegawai jenang Pegawai Raja di Sungai Penuh.Tahun 1901 M, Belanda Mulai Masuk Ke Alam Kerinci melewati renah Manjuto di Lempur hingga terjadi peperangan dengan beberapa Pasukan Belanda, Pasukan Belanda gagal memasuki Alam Kerinci.Tahun 1903 M, Belanda berhasil membujuk Sultan Rusli, Tuanku Regent sekaligus menjabat Sultan Indrapura untuk membawa pasukan Belanda ke Alam Kerinci dengan tujuan agar tidak terjadi perlawanan dari rakyat Kerinci. Ternyata yang terjadi sebaliknya, Perlawanan Rakyat Kerinci begitu hebatnya hingga terjadi peperangan selama Tiga bulan di Pulau Tengah. Peperangan Pulau Tengah di bawah komando Depati Parbo memakan korban perempuan dan anak-anak yang begitu banyak setelah Belanda membakar habis Kampung tersebut.[6] Tahun 1904 M, Kerinci takluk di bawah pemerintahan Belanda setelah kalah Perang dan Depati Parbo di Buang Ke Ternate

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Kerinci masuk ke dalam Karesidenan Jambi (1904-1921), kemudian berganti di bawah Karesidenan Sumatra's Westkust (1921-1942). Pada masa itu, Kerinci dijadikan wilayah setingkat onderafdeeling yang dinamakan Onderafdeeling Kerinci-Indrapura. Setelah kemerdekaan, status administratifnya dijadikan Kabupaten Pesisir Selatan-Kerinci. Sedangkan Kerinci sendiri, diberi status daerah administratif setingkat kewedanaan.[7]. Kewedanan Kerinci terbagi menjadi tiga Kecamatan yaitu:

  1. Kecamatan Kerinci Hulu terdiri dari Kemendapoan Danau Bento, Kemendapoan Natasari, Kemendapoan Siulak (Wilayah Adat tanah Sekudung) serta Kemendapoan Semurup,
  2. Kecamatan Kerinci tengah terdiri dari Kemendapoan Depati Tujuh, Kemendapoan Kemantan, Kemendapoan Rawang, Kemendapoan Sungai Tutung, Kemendapoan Limo Dusun, Kemendapoan Penawar, Kemendapoan Hiang,dan Kemendapoan Keliling danau,
  3. Kecamatan Kerinci Hilir terdiri dari kemendapoan seleman,Kemendapoan 3 Helai Kain, kemendapoan Lempur, dan Kemendapoan Lolo.

Pada tahun 1957, Provinsi Sumatera Tengah dipecah menjadi 3 provinsi:

  1. Sumatera Barat, meliputi daerah darek Minangkabau dan Rantau Pesisir
  2. Riau, meliputi wilayah Kesultanan Siak, Pelalawan, Rokan, Indragiri, Riau-Lingga, ditambah Rantau Hilir Minangkabau : Kampar dan Kuantan.
  3. Jambi, meliputi bekas wilayah Kesultanan Jambi ditambah Pecahan dari Kabupaten Pesisir Selatan -Kerinci : Kerinci.

Tahun 1970, Sistem Kemendapoan ( setingkat kelurahan]] yang telah dipakai sejak ratusan tahun lalu, dihapuskan. Istilah Dusun diganti menjadi desa.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Nama "Kerinci" berasal dari bahasa Tamil "Kurinci". Tanah Tamil dapat dibagi menjadi empat kawasan yang dinamakan menurut bunga yang khas untuk masing-masing daerah. Bunga yang khas untuk daerah pegunungan ialah bunga Kurinci (Latin Strobilanthus. Dengan demikian Kurinci juga berarti 'kawasan pegunungan'.

Zaman dahulu, Sumatera dikenal dengan istilah Swarnadwipa atau Swarnabhumi (tanah atau pulau emas). Kala itu Kerinci, Lebong, dan Minangkabau menjadi wilayah penghasil emas utama di Indonesia (walaupun kebanyakan sumber emas terdapat di luar Kabupaten Kerinci di daerah Pangkalan Jambu, Kabupaten Merangin). Di daerah Kerinci banyak ditemukan batu-batuan Megalitik dari zaman Perunggu (Bronze Age) dengan pengaruh Budha termasuk keramik Tiongkok. Hal ini menunjukkan wilayah ini telah banyak berhubungan dengan dunia luar.

Awalnya "Kerinci" adalah nama sebuah gunung dan danau (tasik), tetapi kemudian wilayah yang berada di sekitarnya disebut dengan nama yang sama. Dengan begitu daerahnya disebut sebagai Kerinci (Kinci atau Kince atau “Kincai” dalam bahasa setempat), dan penduduknya pun disebut sebagai orang Kerinci.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Daftar Bupati[sunting | sunting sumber]

Berikut Daftar Bupati Kerinci dari masa ke masa:

No Nama Lama Menjabat Keterangan
1 Mohd. Noeh 1958 - 1960 Pejabat
2 Yusuf Nasri 1960 - 1964 Bupati
3 H. Ali Hamzah 1964 - 1964 Pejabat
4 Drs. Z. Mukhtar Daeng Maguna 1964 - 1965 Pejabat
5 Yusuf Rusdi (Letkol) 1965 - 1966 Pejabat
6 Syamsu Bahrun 1966 - 1968 Pejabat
7 M. Koekoeh (Kolonel) 1968 - 1969 Bupati
8 M.A.A.DT.Majo Indo 1969 - 1969 Bupati
9 Drs. Ahmad Daud 1969 - 1972 Bupati
10 Rusdi Sayuti, BA 1972 - 1977 Bupati
11 Jamaludin Tambunan, SH 1977 - 1978 Pejabat
12 Nazar Efendi (Letkol) 1978 - 1983 Bupati
13 Drs. H.Mohd. Awal 1983 - 1988 Bupati
14 Drs. Hasmi Mukhtar 1988 - 1993 Bupati
15 H. Bambang Sukowinarno (Kol) 1993 - 1998 Bupati
16 Fauzi Siin 1999-2009 Bupati
17 Murasman 2009-2014 Bupati
18 Adirozal 2014-sekarang Bupati
19 Agus Sunaryo 14 Februari 2018–23 Juni 2018 Penjabat sementara

Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Kerinci terdiri atas 16 kecamatan, sebagai berikut :

  1. Air Hangat
  2. Air Hangat Barat
  3. Air Hangat Timur
  4. Batang Merangin
  5. Bukit Kerman
  6. Danau Kerinci
  7. Depati Tujuh
  8. Gunung Kerinci
  9. Gunung Raya
  10. Gunung Tujuh
  11. Kayu Aro
  12. Kayu Aro Barat
  13. Keliling Danau
  14. Sitinjau Laut
  15. Siulak
  16. Siulak Mukai

Pemekaran[sunting | sunting sumber]

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2008, beberapa bekas kecamatan di Kabupaten Kerinci ditetapkan untuk menjadi bagian dari Kota Sungaipenuh. Kecamatan-kecamatan yang dimaksud adalah:

Demografi[sunting | sunting sumber]

Budaya[sunting | sunting sumber]

Masyarakat Kerinci menganut sistem adat matrilineal. Rumah suku Kerinci disebut "Larik", yang terdiri dari beberapa deretan rumah petak yang bersambung-sambung dan dihuni oleh beberapa keluarga yang masih satu keturunan.Suku Kerinci memiliki banyak tarian tradisional seperti Tarian Asyeik Naik Mahligai, Mandi Taman, Ngayun Luci tarian ini merupakan peninggalan dari tradisi Animisme. Setelah masuknya Islam, Berkembang Tarian yang lebih Islami seperti tari Rangguk, Sike Rebana, dan Iyo-iyo. Suku Kerinci juga memiliki sastra Lisan yang tertuang dalam bentuk Tale, Barendih, Mantau, Nyaho, Kunun dan K'ba. Selain itu,Suku Kerinci memiliki seni bela diridan permainan tradisional seperti Pencak Silat dan Ngadu Tanduk.

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Bahasa Kerinci termasuk salah satu anak cabang Bahasa Austronesia, yang dekat dengan Bahasa Minangkabau.[8] Ada lebih dari 130 dialek bahasa yang berbeda di tiap-tiap desa di daerah Kerinci.

Berkas:4lOGO.jpg
Lambang Kabupaten Kerinci

Arti Lambang[sunting | sunting sumber]

  1. Dasar Biru, menunjukkan daerah Kerinci yang terletak diatas pegunungan
  2. Latar Belakang sket Gunung Kerinci, menunjukkan keagungan Sejarah dan Kebudayaan
  3. Masjid, melambangkan ketaqwaan masyarakat Kerinci terhadap Tuhan Yang Maha Esa
  4. Jenjang Tingkat Lima, menunjukkan jiwa Pancasila
  5. Gong, menunjukkan persatuan dan kesatuan serta ketinggian seni budaya
  6. Keris, melambangkan kepahlawanan rakyat Kerinci dan keadilan penguasanya.
  7. Padi : Sepuluh butir sebelah kiri menunjukkan tanggal 10 Sebelas butir sebelah kanan menunjukkan bulan 11 atau November
  8. Daun Teh :
    • Lima helai sebelah kiri
    • Delapan helai sebelah kanan Keduanya menunjukkan angka 58 (dari kedua hasil pertanian dan perkebunan tersebut padi dan the tercermin waktu kelahiran daerah Kabupaten Kerinci, yaitu tanggal 10 November 1958.
  9. Empat Buah Kunci, melambangkan penguasa adat di Kerinci yang disebut orang empat jenis, yaitu:
    • Depati Ninik Mamak,
    • Orang tua Cerdik Pandai,
    • Alim Ulama,dan
    • Hulubalang.
  10. Pada Pita tertulis, SAKTI ALAM KERINCI, sebagai motto daerah.

Maskot[sunting | sunting sumber]

Gunung Kerinci sebagai Ikon Pariwisata Provinsi Jambi sekaligus Maskot Kabupaten Kerinci, sebagai tujuan wisata yang menarik wisata domestik maupun mancanegara.

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Agrobisnis[sunting | sunting sumber]

Sumber perekonomian utama masyarakat di kabupaten Kerinci adalah dari sektor agrobisnis yang meliputi pertanian, perkebunan, perikanan dan peternakan. Hasil pertanian & perkebunan meliputi:

  • Sayur mayur: tomat, kubis, wortel, sawi, kol, buncis, kacang panjang, mentimun, kentang, dll
  • Padi
  • Tebu
  • Tanaman hias
  • Kayu-kayuan: Sengon, Jabon

Hasil perikanan & peternakan meliputi:

  • Daging & telur ayam kampung (Ayam Buras)
  • Daging & telur ayam ras
  • Daging Sapi
  • Ikan Lele
  • Ikan Nila

Industri[sunting | sunting sumber]

Industri di Kabupaten Kerinci banyak bergerak dibidang pengolahan dan perdagangan hasil bumi meliputi:

  • Industri teh
  • Industri makanan olahan (dodol kentang, keripik kentang, aneka camilan, dll)
  • Industri minuman olahan (Teh Kulit Kayu Manis/Teh Kayu Manis, Minuman Herbal dari rempahan, (seperti : Sari Kunyit Sirih, Sari Kunyit Putih, Sari Jahe Merah, Sari Temulawak), sirup kayu manis, dll)
  • Industri pemotongan & pengolahan kayu
  • Industri pengolahan daging ayam kampung

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Bus[sunting | sunting sumber]

Terminal Semurup, salah satu terminal bayangan. Ada 2 lagi Terminal namun masih tahap pembangunan.

Pesawat[sunting | sunting sumber]

Bandar Udara Depati Parbo yang terletak di Sitinjau Laut saat ini melayani jurusan penerbangan Kerinci - Jambi ( Wings Air ), rencana jurusan baru Kerinci - Pekanbaru, Kerinci - Jakarta, Kerinci - Palembang, Kerinci - Batam, Kerinci - Padang dan Kerinci - Kuala Lumpur.

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Kerinci dikenal sebagai daerah tujuan wisata utama Jambi. Berikut ini adalah beberapa tempat wisata menarik di Kabupaten Kerinci.

Wisata Gunung[sunting | sunting sumber]

Wisata Danau[sunting | sunting sumber]

Berkas:Air trjun pncro ry.JPG
Air Terjun Pancaro Rayo

Wisata Air Terjun[sunting | sunting sumber]

Wisata Sejarah[sunting | sunting sumber]

Wisata Agro[sunting | sunting sumber]

Wisata Religi[sunting | sunting sumber]

Kuliner Khas[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Kerinci mempunyai beberapa masakan khas, di antaranya:

Makanan ringan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Kerinci mempunyai beberapa makanan ringan yang khas, di antaranya:

Minuman[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Kerinci mempunyai beberapa minuman khas, di antaranya:

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Sekolah Menengah Atas[sunting | sunting sumber]

Saat Ini Kabupaten Kerinci memiliki 13 SMA Negeri yang tersebar di tiap daerah Kabupaten Kerinci.

Perguruan Tinggi[sunting | sunting sumber]

Kerinci memiliki bebrepa perguruan tinggi diantaranya sebagai berikut.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ (PDF) http://www.djpk.depkeu.go.id/wp-content/uploads/2016/11/RINCIAN-ALOKASI-DAU-MURNI-TA-2017-UPLOAD.pdf.  Tidak memiliki atau tanpa |title= (bantuan)
  2. ^ http://www.jambiprov.go.id/index.php?letluaswil
  3. ^ Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2011 Tentang Pemindahan Ibu Kota Kabupaten Kerinci Dari Wilayah Kota Sungaipenuh ke Wilayah Kecamatan Siulak
  4. ^ Idris jakfar, Sejarah Kerinci Purba,Tahun 1994, Kerinci : Balai Pustaka
  5. ^ Uli Kozok, Kitab Undang-undang Tnjung Tanah Naskah Melayu yang tertua tahun 2006, Yayasan obor Indonesia
  6. ^ H. Rasyid Yakin, Menggali Adat Lama Pusaka Usang di Sakti Alam Kerinci tahun 1984,Kerinci: CV. Utama
  7. ^ Gusti Asnan, Memikir ulang regionalisme: Sumatera Barat tahun 1950-an, Yayasan Obor Indonesia
  8. ^ Narendra S. Bisht, T. S. Bankoti, Encyclopaedia of the South East Asian Ethnography, Global Vision Publishing House, 2004

Pranala luar[sunting | sunting sumber]