Kabupaten Blora

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Kabupaten Blora
ꦑꦧꦸꦥꦠꦺꦤ꧀ꦨ꧀ꦭꦺꦴꦫ
Tugu mbloro.jpg
Locator kabupaten blora.gif
Peta lokasi Kabupaten Blora
ꦑꦧꦸꦥꦠꦺꦤ꧀ꦨ꧀ꦭꦺꦴꦫ
Koordinat: 111016' - 1110338' BT, 60528' - 70248' LS
Provinsi Jawa Tengah
Hari jadi 11 Desember 1749
Dasar hukum UU No. 13/1950
Ibu kota Blora
Pemerintahan
 - Bupati Djoko Nugroho
 - DAU Rp753.830.036.000.-(2013)[1]
Luas 1.821,59 km2
Populasi
 - Total 844.490 jiwa (2006)
 - Kepadatan 463,6 jiwa/km2
Demografi
 - Bahasa Bahasa Jawa Blora
 - Kode area telepon 0296
Pembagian administratif
 - Kecamatan 16
 - Kelurahan 295
Simbol khas daerah
 - Flora resmi Jati Blora
 - Fauna resmi Burung Betet
 - Situs web www.blorakab.go.id
Kantor Bupati Blora atau sering disebut sebagai Kantor Pemda atau Kantor Setda Kabupaten Blora.
Alun Alun Kota Blora
Alun Alun Blora
Tugu Adipura Blora
Tugu Adipura di Jalan Jendral Ahmad Yani Blora
RSUD Blora adalah salah satu rumah sakit umum yang ada di kabupaten Blora Jawa Tengah.
Pintu Gerbang Masuk Kota Blora dari arah Semarang

Kabupaten Blora (bahasa Jawa: Hanacaraka ꦨ꧀ꦭꦺꦴꦫ​) adalah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Blora, sekitar 127 km sebelah timur Semarang. Berada di bagian timur Jawa Tengah, Kabupaten Blora berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Timur.

Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Rembang dan Kabupaten Pati di utara, Kabupaten Tuban dan Kabupaten Bojonegoro (Jawa Timur) di sebelah timur, Kabupaten Ngawi (Jawa Timur) di selatan, serta Kabupaten Grobogan di barat.

Blok Cepu, daerah penghasil minyak bumi paling utama di Pulau Jawa, terdapat di bagian timur Kabupaten Blora.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Lahan pertanian di Kabupaten Blora.
Jalan daerah di Kabupaten Blora.
Jalan Raya Kunduran Menuju Kota Blora
Jalan Raya Blora - Cepu Masuk Kecamatan Cepu
Jalan Raya Cepu Menuju Kota Blora
Jalan Pemuda Kota Blora
Jalan Pemuda Blora menuju arah Semarang
Hutan jati di Kabupaten Blora.

Wilayah Kabupaten Blora terdiri atas dataran rendah dan perbukitan dengan ketinggian 20-280 meter dpl. Bagian utara merupakan kawasan perbukitan, bagian dari rangkaian Pegunungan Kapur Utara. Bagian selatan juga berupa perbukitan kapur yang merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng, yang membentang dari timur Semarang hingga Lamongan (Jawa Timur). Ibukota kabupaten Blora sendiri terletak di cekungan Pegunungan Kapur Utara.

Separuh dari wilayah Kabupaten Blora merupakan kawasan hutan, terutama di bagian utara, timur, dan selatan. Dataran rendah di bagian tengah umumnya merupakan areal persawahan.

Sebagian besar wilayah Kabupaten Blora merupakan daerah krisis air (baik untuk air minum maupun untuk irigasi) pada musim kemarau, terutama di daerah pegunungan kapur. Sementara pada musim penghujan, rawan banjir longsor di sejumlah kawasan.

Kali Lusi merupakan sungai terbesar di Kabupaten Blora, bermata air di Pegunungan Kapur Utara (Rembang), mengalir ke arah barat melintasi kota Purwodadi yang akhirnya bergabung dengan Kali Serang.

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan tutur bahasa Jawa, dialek bahasa Jawa Blora merupakan bahasa pergaulan dan termasuk tataran ngoko atau bahasa kasar. Jadi, di daerah Blora tataran Krama (halus) maupun Madya (biasa, campuran krama dan ngoko) tetap digunakan selain tataran dialek pergaulan ngoko kasar tersebut.

Madya adalah salah satu tingkatan bahasa Jawa yang paling umum dipakai di kalangan orang Jawa. Tingkatan ini merupakan bahasa campuran antara ngoko dan krama, bahkan kadang dipengaruhi dengan bahasa Indonesia. Bahasa madya ini mudah dipahami dan dimengerti.

Bahasa yang digunakan di daerah kabupaten Blora adalah bahasa Indonesia dan bahasa Jawa Blora dalam tingkat tutur ngoko, madya maupun krama oleh penggunanya masing-masing.

Pembagian administratif[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Blora terdiri atas 16 kecamatan yang dibagi lagi atas sejumlah 271 desa dan 24 kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Blora. Di samping Blora, kota-kota kecamatan lainnya yang cukup signifikan adalah Cepu, Jiken, Ngawen, Randublatung, dan Kunduran.

Berikut adalah kecamatan di Kabupaten Blora:

Kecamatan Luas Km2
Kota Blora 79,786
Cepu 49,145
Randublatung 211,13
Kunduran 127,983
Jepon 107,724
Ngawen 100,982
Jati 183,621
Jiken 168,167
Banjarejo 103,522
Bogorejo 49,805
Japah 103,052
Kradenan 109,508
Kedungtuban 106,858
Sambong 88,750
Todanan 128,739
Tunjungan 101,815

Pembagian Wilayah:

Tokoh[sunting | sunting sumber]

Tokoh terkenal asal Kabupaten Blora adalah:

Tokoh kolosal[sunting | sunting sumber]

Tokoh politik[sunting | sunting sumber]

Tokoh selebriti[sunting | sunting sumber]

Perwakilan[sunting | sunting sumber]

DPRD Kabupaten Blora Hasil PILEG 2014 dari 12 Parpol. Ketua DPRD Blora Bambang Susilo asal Partai Demokrat dari Dapil IV (Kunduran, Todanan, Japah)

Partai Kursi
Golkar 8
Partai Demokrat 8
PDIP 6
PKB 5
PKS 5
PPP 5
Gerindra 4
Nasdem 3
Hanura 1
PAN 0
PBB 0
PKPI 0
Total 45

Daftar Bupati Blora[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah daftar Bupati Blora.

No Foto Nama Mulai Jabatan Akhir Jabatan Keterangan
1. - Toemenggoeng Wilatikta 1749 1762  
2. - Toemenggoeng Djajeng Tirtanata 1762 1782  
3. - RT Tirtakoesoema 1782 1812  
4. - RT Prawirajoeda 1812 1823  
5. - RT Tirtanegara 1823 1742  
6. - RT A Tjakranegara I 1842 1843  
7. - RT Tirtanegara 1843 1847  
8. - RT Natawidjaja 1847 1857  
9. - RT A Tjakranegara II 1857 1886  
10. - RMT Tjakranegara III 1886 1912  
11. COLLECTIE TROPENMUSEUM Portret van de Regent van Blora Raden Toemenggoeng Ario Said temidden van zijn ambtenaren ter herinnering aangeboden aan assistent resident J.B. Prins bij zijn vertrek uit Blora TMnr 60042319.jpg RM Said Abdoelkadir Djaelani 1912 1926  
12. - RM Tjakraningrat 1926 1938  
13. - RM Moerdjana Djajadigda 1938 1942  
14. - RM Soedjana 1942 1945  
15. - Mr. Iskandar 1945 1948  
16. - R. Wibisono 1948 1949  
17. - R. Siswadi Djajadigda 1949 1952  
18. - R. Soedjono 1952 1957  
19. - R. Soenartio 1957 1960  
20. - R. Soekirno Sastrodimedjo 1960 1967  
21. - Srinardi 1967 1973  
22. - Soepandi Joedodarmo 1973 1979  
23. - H. Soemarno, S.H 1979 1989  
24. - H. Soekardi Hardjoprawiro, MBA 1989 1999  
25. H Basuki Widodo - bupati ke 25.jpg Ir. H. Basuki Widodo 1999 2007  
26. Bupati Blora 26.jpg R.M Yudhi Sancoyo 2007 2010  
27. Kokok - Bupati Blora - Djoko Nugroho.jpg Djoko Nugroho 2010 2015  
28. Pejabat Bupati Blora.jpg Ihwan Sudrajat 1 September 2015 17 Febuari Pejabat Bupati;
29. Kokok - Bupati Blora - Djoko Nugroho.jpg Djoko Nugroho 17 Febuari 2016 Sekarang  


Wakil Bupati Blora.

No Foto Nama Mulai Jabatan Akhir Jabatan Keterangan
1. Bupati Blora 26.jpg R.M Yudhi Sancoyo 1999 2007
2. Abu nafi.jpg H.Abu Nafi 13 Juni 2010 Agustus 2015
3. Arief Rohman 17 Febuari 2016 Sekarang

Sejarah Blora[sunting | sunting sumber]

Pemanfaatan lahan hutan dengan penanaman padi gogo di Kabupaten Blora.

Asal usul nama Blora[sunting | sunting sumber]

Menurut cerita rakyat Blora berasal dari kata BELOR yang berarti lumpur, kemudian berkembang menjadi mbeloran yang akhirnya sampai sekarang lebih dikenal dengan nama BLORA.

Secara etimologi Blora berasal dari kata WAI + LORAH. Wai berarti air, dan Lorah berarti jurang atau tanah rendah.

Dalam bahasa Jawa sering terjadi pergantian atau pertukaran huruf W dengan huruf B, tanpa menyebabkan perubahan arti kata. Sehingga seiring dengan perkembangan zaman kata WAILORAH menjadi BAILORAH, dari BAILORAH menjadi Balora dan kata Balora akhirnya menjadi Blora.

Jadi nama Blora berarti tanah rendah berair, ini dekat sekali dengan pengertian tanah berlumpur.

Blora Era Kerajaan di bawah Kadipaten Jipang[sunting | sunting sumber]

Blora di bawah Pemerintahan Kadipaten Jipang pada abad XVI, yang pada saat itu masih di bawah pemerintahan Demak. Adipati Jipang pada saat itu bernama Aryo Penangsang, yang lebih dikenal dengan nama Aria Jipang. Daerah kekuasaan meliputi:

Pati, Lasem, Blora, dan Jipang sendiri. Akan tetapi setelah Jaka Tingkir (Hadiwijaya) mewarisi takhta Demak, pusat pemerintahan dipindah ke Pajang. Dengan demikian Blora masuk Kerajaan Pajang.

Blora di bawah Kerajaan Mataram[sunting | sunting sumber]

Kerajaan Pajang tidak lama memerintah, karena direbut oleh Kerajaan Mataram yang berpusat di Kotagede Yogyakarta. Blora termasuk wilayah Mataram bagian Timur atau daerah Bang Wetan.

Pada masa pemerintahan Paku Buwana I (1704-1719) daerah Blora diberikan kepada putranya yang bernama Pangeran Blitar dan diberi gelar Adipati. Luas Blora pada saat itu 3.000 karya (1 karya = ¾ hektare). Pada tahun 1719-1727 Kerajaan Mataram dipimpin oleh Amangkurat IV, sehingga sejak saat itu Blora berada di bawah pemerintahan Amangkurat IV.

Blora pada zaman Perang Mangkubumi (tahun 1727–1755)[sunting | sunting sumber]

Pada saat Mataram di bawah Paku Buwana II (1727-1749), terjadi pemberontakan yang dipimpin oleh Mangku Bumi dan Mas Sahid, Mangku Bumi berhasil menguasai Sukawati, Grobogan, Demak, Blora, dan Yogyakarta. Akhirnya Mangku Bumi diangkat oleh rakyatnya menjadi raja di Yogyakarta.

Berita dari Babad Giyanti dan Serat Kuntharatama menyatakan bahwa Mangku Bumi menjadi raja pada tanggal 1 Sura tahun Alib 1675, atau 11 Desember 1749. Bersamaan dengan diangkatnya Mangku Bumi menjadi raja, maka diangkat pula para pejabat yang lain, di antaranya adalah pemimpin prajurit Mangkubumen, Wilatikta, menjadi Bupati Blora.

Blora di bawah Kasultanan Perang Mangku Bumi diakhiri dengan perjanjian Giyanti, tahun 1755, yang terkenal dengan nama 'palihan negari', karena dengan perjanjian tersebut Mataram terbagi menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Surakarta di bawah Paku Buwana III, sedangkan Yogyakarta di bawah Sultan Hamengku Buwana I. Di dalam Palihan Negari itu, Blora menjadi wilayah Kasunanan sebagai bagian dari daerah Mancanegara Timur, Kasunanan Surakarta. Akan tetapi Bupati Wilatikta tidak setuju masuk menjadi daerah Kasunanan, sehingga dia pilih mundur dari jabatannya

Blora sebagai kabupaten[sunting | sunting sumber]

Sejak zaman Pajang sampai dengan zaman Mataram, Kabupaten Blora merupakan daerah penting bagi Pemerintahan Pusat Kerajaan, hal ini karena Blora terkenal dengan hutan jatinya.

Blora mulai berubah statusnya dari apanage menjadi daerah kabupaten pada hari Kamis Kliwon, tanggal 2 Sura tahun Alib 1675, atau tanggal 11 Desember 1749 Masehi, yang sampai sekarang dikenal dengan HARI JADI KABUPATEN BLORA. Adapun Bupati pertamanya adalah WILATIKTA.

Perjuangan rakyat Blora menentang penjajahan[sunting | sunting sumber]

Perlawanan Rakyat Blora yang dipelopori petani muncul pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Perlawanan petani ini tak lepas dari makin memburuknya kondisi sosial dan ekonomi penduduk pedesaan pada waktu itu.

Pada tahun 1882, pajak kepala yang diterapkan oleh Pemerintah Penjajah sangat memberatkan bagi pemilik tanah (petani). Di daerah-daerah lain di Jawa, kenaikan pajak telah menimbulkan pemberontakan petani, seperti peristiwa Cilegon pada tahun 1888. Selang dua tahun kemudian seorang petani dari Blora mengawali perlawanan terhadap pemerintahan penjajah yang dipelopori oleh Samin Surosentiko.

Gerakan Samin sebagai gerakan petani antikolonial lebih cenderung mempergunakan metode protes pasif, yaitu suatu gerakan yang tidak merupakan pemberontakan radikal bersenjata.

Beberapa indikator penyebab adanya pemberontakan untuk menentang kolonial penjajah Belanda antara lain:

  • Berbagai macam pajak diimplementasikan di daerah Blora
  • Perubahan pola pemakaian tanah komunal
  • Pembatasan dan pengawasan oleh Belanda mengenai penggunaan hasil hutan oleh penduduk

Indikator-indikator ini mempunyai hubungan langsung dengan gerakan protes petani di daerah Blora. Gerakan ini mempunyai corak millinarisme, yaitu gerakan yang menentang ketidakadilan dan mengharapkan zaman emas yang makmur.

Situs-situs kuno[sunting | sunting sumber]

Kerajinan kayu jati
Kerajinan barongan
Waduk Tempuran Kabupaten Blora
Waduk Greneng

Situs fosil fauna purba[sunting | sunting sumber]

Lokasi situs fosil hewan purba terletak di Dukuh Kawung dan Singget, Desa Menden dan Dukuh Sunggun, Desa Medalem, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Blora. Lokasinya berada di tepian daerah aliran sungai Bengawan Solo dan berjarak kurang lebih 65 km arah selatan dari Kota Blora. Di Lokasi ini telah ditemukan fosil Kepala kerbau purba, kura-kura purba, dan Gajah Purba. Diperkirakan umur fosil antara 200.000-300.000 tahun. Fosil ini awalnya ditemukan oleh penduduk kemudian diamankan oleh Yayasan Mahameru. Sekarang sedang diteliti oleh ahli antropologi dari Bandung, Fahrul Azis dan tim dari Wolongong University, Australia, yang dipimpin Gertz Vandenburg.

Situs Wura-Wari[sunting | sunting sumber]

Lokasi situs Wura-Wari ini terletak di desa Ngloram. Haji Wura-Wari adalah penguasa bawahan (vasal) yang pada tahun 1017 Masehi menyerang Kerajaan Mataram Hindu (semasa Raja Darmawangsa Teguh). Saat itu Kerajaan Mataram Hindu berpusat di daerah yang sekarang dikenal dengan Maospati, Magetan, Jawa Timur. Serangan dilakukan ketika pesta pernikahan putri Raja Darmawangsa Teguh dengan Airlangga, yang juga keponakan raja, sedang dilangsungkan. Membalas dendam atas kematian istri, mertua, dan kerabatnya, Airlangga yang lolos dari penyerangan dan tinggal di Wanagiri (di daerah perbatasan Jombang-Lamongan), akhirnya balik menghancurkan Haji Wura-Wari. Namun, sebelumnya Haji Wura-Wari terlebih dahulu menyerang Airlangga sehingga dia terpaksa mengungsi dan keluar dari keratonnya di Wattan Mas (sekarang Kecamatan Ngoro, Pasuruan, Jawa Timur). Serangan balik Airlangga, yang ketika itu sudah dinobatkan menggantikan Darmawangsa Teguh, ditulis dalam Prasasti Pucangan (abad XI) yang terjadi pada tahun 1032 M. Serangan itu pula yang memperkuat dugaan batu bata kuno berserakan di sekitar situs tersebut. Situs yang ditemukan tim ekspedisi berada di tengah tegalan, di tepi persawahan, berupa tumpukan batu bata kuno berlumut yang kini dijadikan areal pemakaman. Sejak tahun 2000, telah dikumpulkan serpihan batu bata kuno berukuran 20 x 30 sentimeter dengan tebal sekitar 4 cm, serpihan keramik, serta serpihan perunggu yang kini disimpan di Museum Mahameru. Temuan di situs itu memperkuat isi Prasasti Pucangan bertarikh Saka 963 (1041/1042 Masehi) yang pernah diuraikan ahli huruf kuno (epigraf) Boechori dari Universitas Indonesia. Boechori menyebutkan, "Haji Wura-Wari mijil sangke Lwaram". Mijil mempunyai arti keluar (muncul dari). Hasil analisis toponimi (nama tempat), kemungkinan nama Lwaram berubah menjadi Desa Ngloram sekarang. “Pelesapan konsonan ’w’, penyengauan di awal kata, dan perubahan vokal ’a’ menjadi ’o’ menjadikan nama lama Lwaram menjadi Ngloram sekarang. Penjelasan seperti itu pula yang membantah berbagai pendapat terdahulu yang menyebutkan Haji Wura-Wari berasal dari daerah Indocina atau Sumatera sebagai koalisi Sriwijaya. Cepu memiliki data arkeologis, toponimi, dan geografis kuat untuk melokasikannya di tepian Bengawan Solo di Desa Ngloram.

Petilasan Kadipaten Jipang Panolan[sunting | sunting sumber]

Petilasan Kadipaten Jipang Panolan berada di Desa Jipang, sekitar 8 kilometer dari Cepu. Petilasannya berwujud makam Gedong Ageng yang dahulu merupakan pusat pemerintahan dan bandar perdagangan Kadipaten Jipang. Di tempat tersebut juga terlihat Petilasan Siti Hinggil, Petilasan Semayam Kaputren, Petilasan Bengawan Sore, dan Petilasan Masjid.

Ada juga makam kerabat kerajaan, antara lain makam R. Bagus Sumantri, R. Bagus Sosrokusumo, R. A. Sekar Winangkrong, dan Tumenggung Ronggo Atmojo. Di sebelah utara Makam Gedong Ageng, terdapat Makam Santri Songo. Disebut demikian karena di situ ada sembilan makam santri dari Kerajaan Pajang yang dibunuh oleh prajurit Jipang karena dicurigai sebagai telik sandi atau mata-mata Sultan Hadiwijaya.

Perekonomian[sunting | sunting sumber]

Pertanian merupakan sektor utama perekonomian di Kabupaten Blora. Pada subsektor kehutanan, Blora adalah salah satu daerah utama penghasil kayu jati berkualitas tinggi di Pulau Jawa.

Daerah Cepu sejak lama dikenal sebagai daerah tambang minyak bumi, yang dieksploitasi sejak era Hindia Belanda. Blora mendapat sorotan internasional ketika di kawasan Blok Cepu ditemukan cadangan minyak bumi sebanyak 250 juta barel. Bulan Maret 2006 Kontrak Kerja Sama antara Pemerintah dan Kontraktor (PT. Pertamina EP Cepu, Exxon Mobil Cepu Ltd, PT Ampolex Cepu telah ditandatangani, dan Exxon Mobil Cepu Ltd. ditunjuk sebagai operator lapangan, sesuai kesepakatan Joint Operating Agreement (JOA) dari ketiga kontraktor tersebut, perkembangan terakhir untuk saat ini Plan Of Development (POD)I Lapangan Banyu Urip telah disahkan Menteri ESDM.

Namun ironinya, walau Blora terkenal dengan hutan Jati dan Minyak bumi yang dikelola sejak zaman kolonial Belanda sampai dengan pemerintah NKRI sekarang ini, tetapi perekonomian rakyat Blora termasuk salah satu yang terendah di Jawa Tengah. Kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang dimiliki oleh kabupaten Blora ternyata tidak mampu mengangkat taraf kehidupan dan taraf ekonomi masyarakatnya. Hal ini disebabkan karena semua hasil SDA dinikmati oleh pemerintah pusat dan pegawai perusahaan yang sebagian besar dari luar Blora, tanpa ada program yang jelas untuk meningkatkan perekonomian rakyat sekitar.

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Bus[sunting | sunting sumber]

Blora dilalui jalan provinsi yang menghubungkan Kota Semarang dengan Surabaya lewat Purwodadi. Jalur ini cukup ramai, jika dibandingkan dengan jalur Semarang-Surabaya lewat Rembang, karena kondisi jalannya yang kalah lebar. Blora juga dapat dicapai dengan menempuh jalur Semarang-Kudus-Rembang-Blora. Blora sendiri setidaknya memiliki tiga terminal bus tipe B; yaitu Terminal Gagak Rimang di Kecamatan Blora, Terminal Lama Blora dekat Stasiun Blora, dan Terminal Cepu di Cepu. Terminal Cepu ini juga memiliki tiga subterminal bertipe C; diantaranya Subterminal Kunduran, Subterminal Ngawen, dan Subterminal Randublatung.

Kereta api[sunting | sunting sumber]

Jalur kereta api melewati wilayah Kabupaten Blora, namun tidak melintasi ibukota kabupaten ini. Jalur tersebut melintas di bagian selatan. Stasiun kereta api Cepu merupakan yang terbesar, di mana berhenti kereta api jurusan Surabaya-Jakarta (KA Sembrani), Surabaya-Semarang (KA Rajawali), serta kereta api lokal Semarang-Bojonegoro (KRD). Pada jalur kereta Semarang-Demak-Godong-Purwodadi-Wirosari-Kunduran-Blora-Cepu sebenarnya terdapat empat stasiun yang kini sudah tak beroperasi, yaitu Stasiun Kunduran, Stasiun Ngawen, Stasiun Blora, dan Stasiun Jepon. Jalur kereta itu sendiri saat ini sudah tidak difungsikan lagi.

Pesawat[sunting | sunting sumber]

Blora terdapat moda trasportasi jalur udara dengan adanya Bandar Udara Ngloram.

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Tempat wisata di Kabupaten Blora:

Perayaan[sunting | sunting sumber]

Blora mempunya beberapa acara perayaan, yaitu:

Pusat Perbelanjaan[sunting | sunting sumber]

mall dan swalayan di Blora:

Luwes Blora Pusat Perbelanjaan Modern terbesar di Blora
MD Mall Blora
Gajah Mas Centre
Bravo Mall Cepu
  • Luwes Mall Blora
  • MD Mall Blora
  • Alfim Swalayan Blora
  • Gajah Mas swalayan Blora
  • Gajah Mas Centre Blora
  • Morodadi Swalayan Blora
  • Bravo Mall Cepu
  • Blok T Blora

Pasar Pasar di Blora:

  • Pasar Induk Kota Blora
  • Pasar Modern Jepon
  • Pasar Medang (Blok M)
  • Pasar Jiken
  • Pasar Sambong
  • Pasar Induk Cepu
  • Pasar Kedungtuban
  • Pasar Menden
  • Pasar Randublatung
  • Pasar Doplang
  • Pasar Kunduran
  • Pasar Todanan
  • Pasar Japah
  • Pasar Tunjungan
  • Pasar Banjarejo
  • Pasar Puledagel
  • Pasar Bleboh
  • Pasar Pelem
  • Pasar Ponan
  • Pasar Ngronggah
  • Pasar Tinapan
  • Pasar Ngawen

Kesenian[sunting | sunting sumber]

Kesenian khas Blora adalah:

Kuliner khas Blora[sunting | sunting sumber]

Makanan[sunting | sunting sumber]

Makanan khas Blora adalah:

Minuman[sunting | sunting sumber]

Minuman khas Blora adalah:

Potensi[sunting | sunting sumber]

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Pendidikan formal TK atau RA SD atau MI SMP atau MTs SMA atau MA SMK Perguruan tinggi Lainnya
Negeri 1 647 60 9 2 0 0
Swasta 518 76 78 33 26 1 2
Total 519 723 138 42 28 1 2
Data sekolah di Kabupaten Blora
Sumber:[2]

Perguruan tinggi[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Blora memiliki beberapa perguruan tinggi, yaitu:

Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Fasilitas kesehatan yang ada di Kabupaten Blora:

Radio[sunting | sunting sumber]

Beberapa stasiun radio di Kabupaten Blora:

  • RSPD Blora (RSPD Gagak Rimang), AM 711 kHz
  • Radio Blora Sakti (RBS), AM 909v kHz
  • Radio GPN FM, FM 92.5 MHz
  • Radio M.9 (Radio Elshinta), FM 92.0 MHz
  • Radio Raka fm,98.7 MHz
  • Radio Thomson, FM 94.1 MHz
  • Radio XFM, FM 99.2 MHz
  • Radio Citra FM, FM 100.8 MHz
  • Radio Duta Suara FM, FM 102.7 MHz
  • RSPD Blora (RSPD Gagak Rimang), FM 105.9 MHz
  • Radio Gloria FM, FM 106.7 MHz
  • Radio Sion Blora, FM 107.7 MHz

Julukan[sunting | sunting sumber]

Kota sate[sunting | sunting sumber]

Dujuluki kota sate, karena Blora terdapat sate khas dengan bumbu khas Blora.

Kota barongan[sunting | sunting sumber]

Dijuluki kota barongan, karena Blora adalah kota yang paling gencar melestarikan seni budaya Barongan.

Kota Samin[sunting | sunting sumber]

Dijuluki kota Samin, karena kota ini merupakan ibukota kabupaten yang masyarakatnya banyak terdapat masyarakat Samin, pusat kegiatannya berada di Desa Klopoduwur, Banjarejo,Blora.

Kota Kayu Jati[sunting | sunting sumber]

Dijuluki kota Kayu Jati, karena Blora merupakan penghasil kayu jati terbesar se pulau Jawa. Kayu Jati dari Blora dikenal memiliki kualitas paling baik se Indonesia, bahkan kayu jati Blora juga dikenal di mancanegara.

Perencanaan[sunting | sunting sumber]

Bupati Blora dan Pemkab Blora mempunyai beberapa rencana jangka panjang dan jangka pendek untuk membangun Kabupaten Blora, diantaranya:

Galeri[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses tanggal 2013-02-15. 
  2. ^ Data Pokok Pendidikan (DAPODIK) Wilayah Kabupaten Blora (2010/2011)

Pranala luar[sunting | sunting sumber]