Barong Bali

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Tiga genre tari tradisional di Bali
COLLECTIE TROPENMUSEUM Krisdansers met Rangda tijdens een Barong dansvoorstelling TMnr 20018470.jpg
Pertunjukan tari Barong dengan penari yang memegang kris dan Rangda di Bali.
NegaraIndonesia
Referensi617
KawasanAsia dan Pasifik
Sejarah Inskripsi
Inskripsi2015
Unesco Cultural Heritage logo.svg
Tarian Suci Wali(Rejang, Sanghyang Dedari, Baris Upacara), Bebali Tarian Semi Sakral (Topeng Sidhakarya/Topeng Pajegan, Gambuh, Wayang wong), Tari Hiburan Balih-balihan(Legong Kraton, Joged Bumbung, Barong Ket)

Barong Bali adalah satu di antara begitu banyak ragam seni pertunjukan Bali. Barong merupakan sebuah tarian tradisional Bali yang ditandai dengan Topeng dan kostum badan yang dapat dikenakan oleh satu atau dua orang untuk menarikannya. Di Bali ada beberapa jenis barong yakni Barong Ket, Barong Bangkal, Barong Landung, Barong Macan, Barong Gajah, Barong Asu, Barong Brutuk, Barong Lembu, Barong Kedingkling, Barong Kambing, dan Barong Gagombrangan.[1]

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Barong bali berasal sebagai perkembangan dari barong ponorogo atau Reog, yang oleh raja Airlangga dibawa saat mengungsi ke pulau Bali untuk menyelamatkan diri. Selain Barong Ponorogo, Airlangga juga membawa bentuk-bentuk seni sastra, aksara jawa, serta ritual keagamaan.

Pengaruh yang di dapat pada barong Bali bisa di lihat pada bentuk barong ponorogo saat tampil tanpa mahkota merak (Kucingan) dan pada Topeng Rangda yang mendapat pengaruh dari topeng bujang ganong. Serta kelompok orang yang mendalami ilmu kesaktian pada orang tua yang mendapat pengaruh pada perilaku kegiatan nyata warok muda dan warok tua yang sakti mandraguna yang saat ini masih terjaga di Ponorogo, meskipun kegiatan tersebut saat ini tertutup untuk kalangan tertentu.

Dengan begitu, muncul jenis barong bali dengan berbagai kepala hewan seperti Babi, Gajah, Anjing dan Burung yang menjadi kebanggaan tiap-tiap kota di bali.

Di sisi lain, Tari topeng Barong, bersama dengan tarian sanghyang dianggap sebagai tarian asli Bali, mendahului pengaruh Hindu. Penduduk asli Indonesia dari warisan Austronesia sering memiliki tarian topeng serupa yang mewakili roh leluhur atau alam; contohnya Dayak dengan tarian Hudoq atau latihan pemujaan beruang yang serupa. Istilah barong diduga berasal dari istilah lokal bahruang, yang saat ini sesuai dengan kata Indonesia yang berarti "beruang".[2] Ini mengacu pada roh yang baik, yang berwujud binatang sebagai penjaga hutan.[3]

Dalam mitologi Bali, roh baik diidentifikasi sebagai Banas Pati Raja. Banas Pati Raja adalah "saudara" keempat atau anak roh yang menemani seorang anak sepanjang hidup mereka, yang konsepnya mirip dengan malaikat pelindung. Banas Pati Raja adalah roh yang menjiwai Barong. Seorang roh pelindung, ia sering digambarkan sebagai singa. Barong sering digambarkan ditemani dua kera.

Barong digambarkan sebagai singa dengan kepala merah, ditutupi bulu putih tebal, dan mengenakan perhiasan berlapis emas yang dihiasi dengan potongan-potongan cermin. Bentuk singa Barong agak mirip dengan anjing Pekingese. Asal usul Barong jauh ke belakang dan tidak pasti. Asal-usulnya bisa dari pemujaan animisme, sebelum agama Hindu muncul, ketika penduduk desa masih percaya pada kekuatan pelindung supranatural hewan.[4]

Dalam konsep keagamaan, Barong diartikan dalam dua kata bar/bor dan ong. Bor disebut sebagai poros, sedangkan ong merupakan sebutan untuk Tuhan Yang Maha Esa. Dalam hal ini, Ida Sang Hyang Widhi dimanifestasikan dalam wujud Bhatara Wisnu sebagai Maha Pemelihara yang menjaga kehidupan di atas dan di bawah langit.[5]

Mitos[sunting | sunting sumber]

Barong Bali
Barong Bali sedang menggaruk seperti kucing

Masyarakat Bali percaya bahwa roh tersebut adalah kaki tangan Ratu Gede Macaling, penguasa alam gaib di Lautan Selatan Bali yang beristana di Pura Dalem Ped, Nusa Penida. Saat itu, seorang pendeta sakti menyarankan masyarakat untuk membuat patung yang mirip Ratu Gede Mecaling, yang sosoknya tinggi besar, hitam dan bertaring, lalu mengaraknya keliling desa. Rupanya, tipuan ini manjur. Para mahluk halus ketakutan melihat bentuk tiruan bos mereka, lalu menyingkir. Hingga kini, di banyak desa, secara berkala masyarakat mengarak Barong Landung untuk menangkal bencana.

Jenis Tarian[sunting | sunting sumber]

Barong Ket atau Barong Keket[sunting | sunting sumber]

Barong Ket atau Barong Keket adalah barong yang sosoknya menjulang tinggi. Sosoknya menyerupai manusia dengan tinggi dua kali tinggi badan orang dewasa. Sosok laki-laki dinamakan Jero Gede, sedangkan pasangannya disebut Jero Luh. Konon, barong jenis dibuat untuk mengelabui mahluk-mahluk halus yang menebar bencana.

Barong Ket adalah tari Barong yang paling banyak terdapat di Bali dan paling sering dipentaskan. Barong ini juga memiliki pebendaharaan gerak tari yang paling lengkap. Dari wujudnya, Barong Ket merupakan perpaduan bentuk antara singa, macan,sapi dan naga. Badan Barong Ket dihiasi dengan kulit berukiran rumit dan ratusan kaca cermin berukuran kecil. Kaca-kaca cermin itu bagai permata dan tampak berkilauan ketika tertimpa cahaya. Bulu Barong Ket terbuat dari kombinasi perasok (serat daun tanaman sejenis pandan) dan ijuk. Ada pula yang mengganti ijuk dengan bulu burung gagak.

Barong Ket ditarikan oleh dua orang penari yang disebut Juru Saluk atau Juru Bapang. Juru Bapang pertama menarikan bagian kepala, Juru Bapang yang lainnya di bagian ekor. Biasanya Barong Ket ditarikan berpasangan dengan Rangda, yaitu sosok seram yang melambangkan adharma (keburukan). Barong Ket sendiri dalam tarian tersebut melambangkan dharma (kebajikan). Pasangan Barong Ket dan Rangda melambangkan pertempuran abadi andara dua hal yang berlawanan (rwa bhineda) di semesta raya ini. Tari Barong Ket diiringi dengan gamelan Semar Pagulingan.

Barong Bangkal[sunting | sunting sumber]

adalah barong yang menyerupai babi dewasa. Di Bali, babi dewasa jantan dinamakan bangkal, sedangkan yang betina dinamakan bangkung. Itu sebabnya barong jenis ini disebut juga dengan Barong Bangkung. Biasanya Barong Bangkal dipentaskan dengan cara ngelelawang atau menari dari pintu ke pintu berkeliling desa pada saat perayaan hari raya Galungan-Kuningan. Barong ini ditarikan oleh dua orang penari dengan iringan gamelan batel/tetamburan.

Barong Landung[sunting | sunting sumber]

Miniatur Barong Landung di Museum Nasional, Jakarta

Barong Landung ditarikan oleh satu orang. Ada sebuah lubang di bagian perut barong sebagai celah pandangan sang penari. Di beberapa tempat di Bali ada juga Barong Landung yang tidak sepasang. Barong-barong tersebut diberi peran seperti Mantri (raja), Galuh (permaisuri), Limbur (dayang) dan sebagainya. Musik pengiring tarian Barong Landung adalah Gamelan Batel. Melihat Barong Landung, kamu mungkin teringat dengan Ondel-ondel. Ya, barong ini sangat mirip dengan tarian khas Betawi itu.

Barong Macan[sunting | sunting sumber]

Seperti namanya, barong ini menyerupai seekor Harimau. Jenis barong ini cukup terkenal di kalangan masyarakat Bali. Pementasan barong ini sama dengan barong bangkal, yakni ngelawang berkeliling desa. Adakalanya pementasan barong ini dilengkapi dengan dramatari semacam Arja (opera tradisional Bali). Barong macan ditarikan oleh dua penari dengan iringan musik gamelan batel.

Barong Kedingling[sunting | sunting sumber]

Barong Kedingkling disebut juga Barong Blasblasan. Ada juga yang menyebutnya barong Nong nong Kling. Secara bentuk, barong jenis ini berbeda jauh dengan barong jenis lainnya. Barung ini lebih menyerupai kostum topeng yang masing-masing karakter ditarikan oleh seorang penari. Tokoh-tokoh dalam barong Kedingkling persis dengan tokoh-tokoh dalam Wayang Wong. Saat menari, cerita yang dibawakannya pun adalah lakon cuplikan dari cerita Ramayana terutama pada adegan perangnya. Pementasan barong kedingkling ini biasanya dilakukan dengan ngelawang dari rumah ke rumah berkeliling desa pada perayaan hari Raya Galungan dan Kuningan. Pertunjukan Barong Kedingkling diiringi dengan gamelan batel atau babonangan (gamelan batel yang dilengkapi dengan reyong). Barong Kedingkling banyak terdapat di daerah Gianyar, Bangli dan Klungkung.

Barong Gajah[sunting | sunting sumber]

Barong Gajah tentu saja menyerupai Gajah. Barong ini ditarikan oleh dua orang. Karena barong ini termasuk jenis yang langka dan dikeramatkan, masyarakat Bali pun jarang menjumpai barong jenis ini. Sekali waktu, pada saat-saat khusus, barong ini dipentaskannya secara ngelewang dari pintu ke pintu berkeliling desa dengan iringan gamelan batel atau tetamburan. Barong Gajah terdapat di daerah Gianyar, Tabanan, Badung dan Bangli.

Barong Asu[sunting | sunting sumber]

Barong Asu menyerupai anjing. Sama seperti Barong Gajah, Barong Asu juga termasuk jenis barong yang langka. Barong ini hanya terdapat di beberapa desa di daerah Tabanan dan Badung. Biasanya dipentaskan dengan berkeliling desa (ngelelawang) pada hari-hari tertentu dengan iringan gamelan batel atau tetamburan atau Balaganjur.

Barong Brutuk[sunting | sunting sumber]

Barong Brutuk termasuk jenis tarian langka yang ditarikan hanya pada saat-saat khusus. Barong ini memiliki bentuk yang lebih primitif dibandingkan dengan jenis barong Bali yang lain. Topeng barong ini terbuat dari batok kelapa dan kostumnya terbuat dari keraras atau daun pisang yang sudah kering. Barong ini melambangkan makhluk-makhluk suci (para pengiring Ida Ratu Pancering Jagat) yang berstana di Pura Pancering Jagat, Trunyan. Penarinya adalah remaja yang telah disucikan, yang masing-masing membawa cambuk yang dimainkan sambil berlari-lari mengelilingi pura.

Barong yang ditarikan dengan iringan gamelan Balaganjur atau Babonangan ini hanya terdapat di daerah Trunyan-Kintamani, Bangli.

Jenis - jenis barong bali di banyuwangi[sunting | sunting sumber]

Variasi bentuk[sunting | sunting sumber]

Barong Singa adalah salah satu dari lima barong tradisional. Di Bali, setiap daerah di pulau itu memiliki roh pelindung sendiri untuk hutan dan tanahnya. Masing-masing roh pelindung ini digambarkan dalam bentuk satwa tertentu, antara lain:

Barong Ket[sunting | sunting sumber]

Singa barong sebagai banaspati raja yang berarti raja hutan, adalah manifestasi Barong yang paling banyak, yang menjadi simbol roh baik, hiasan kepala menggunakan sekar taji yang terbuat dari ukiran kulit dan diiris dengan prada dan ditambahkan dengan beberapa hiasan cermin kecil.[6]

Barong Bangkal[sunting | sunting sumber]

Barong Bangkal atau Barong Celeng adalah babi tua di Bali dan dianggap sebagai binatang mitos yang memiliki kekuatan. Itu terbuat dari kain beludru. Diarak pada liburan Galungan dan Kuningan.[6]

Barong Macan[sunting | sunting sumber]

Barong Macan berbentuk seperti harimau yang hidup di hutan, bulunya menyerupai bulu harimau yang terbuat dari kain beludru. Harimau adalah binatang mistis terkenal dalam cerita di Bali, terutama tantri.[6]

Barong Asu[sunting | sunting sumber]

Barong Asu sangat sakral ada di Pacung, Buleleng. diarak terutama pada hari libur Galungan dan Kuningan.[6]

Barong Gajah[sunting | sunting sumber]

Bentuknya menyerupai gajah dari India. Barong diarak keliling desa pada hari libur Galungan dan Kuningan.[6]

Barong Landung[sunting | sunting sumber]

Barong landung memiliki bentuk yang berbeda dengan barong di Bali. Barong ini tidak ditarikan oleh 2 penari seperti pada umumnya, barong ini bermanifestasi seperti dua boneka pria dan wanita, yang disebut Jero Luh (perempuan) dan Jero Gede(Laki-laki), bentuknya mirip dengan Ondel-ondel Betawi.[6]

Barong Naga[sunting | sunting sumber]

Barong berbentuk naga atau ular.

Catatan kaki[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Times, I. D. N.; Sadhu, I. Putu Yoga. "Sangat Dipuja, 8 Macam Barong Bali yang Masih Eksis Dipentaskan". IDN Times. Diakses tanggal 2021-11-11. 
  2. ^ "Tari Barong". Kebudayaan Indonesia. 24 March 2014. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2015-03-24. Diakses tanggal 27 March 2015. 
  3. ^ Indonesia, Daihatsu. "Daihatsu Indonesia - Merk Mobil Keluarga Terbaik, Mobil Terlaris 2021". Daihatsu Indonesia. Diakses tanggal 2021-11-11. 
  4. ^ "Barong ket (banaspati rajah)". MASCASIA. MASCASIA. Diarsipkan dari versi asli tanggal 1 July 2013. Diakses tanggal 29 April 2013. 
  5. ^ "Barong, Karakter Mitologis Pelindung Bali". MerahPutih. 2018-04-27. Diakses tanggal 2021-11-11. 
  6. ^ a b c d e f Widarakusuma. "Jenis-Jenis Barong". ISI Denpasar. Diakses tanggal 12 Maret 2019. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]