Lompat ke isi

Harimau

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Harimau
Rentang waktu: Pleistosen Awal–Kini
Harimau benggala betina di Cagar Harimau Kanha, India
CITES Apendiks I (CITES)[1]
Klasifikasi ilmiah Sunting klasifikasi ini
Kerajaan: Animalia
Filum: Chordata
Kelas: Mammalia
Ordo: Carnivora
Subordo: Feliformia
Famili: Felidae
Subfamili: Pantherinae
Genus: Panthera
Spesies:
P. tigris
Nama binomial
Panthera tigris
(Linnaeus, 1758)[2]
Subspesies
Persebaran harimau per tahun 2022
Sinonim[3]

Harimau (Panthera tigris) adalah kucing besar dan anggota genus Panthera yang berasal dari Asia. Hewan ini memiliki tubuh yang kekar dan berotot dengan kepala dan kaki yang besar, ekor yang panjang, serta bulu berwarna jingga dengan loreng-loreng hitam yang sebagian besar vertikal. Secara tradisional, harimau diklasifikasikan ke dalam sembilan subspesies terkini, meskipun beberapa ahli hanya mengakui dua subspesies, yaitu harimau daratan Asia dan harimau kepulauan di Kepulauan Sunda.

Di seluruh wilayah sebarannya, harimau utamanya menghuni hutan, mulai dari hutan konifer serta hutan campur dan gugur iklim sedang di Timur Jauh Rusia dan Tiongkok Timur Laut, hingga hutan gugur lembap tropis dan subtropis di anak benua India dan Asia Tenggara. Harimau adalah predator puncak dan utamanya memangsa ungulata, yang diburunya dengan cara menyergap. Hewan ini menjalani hidup yang sebagian besar soliter dan menempati daerah jelajah, serta mempertahankannya dari individu lain yang berjenis kelamin sama. Daerah jelajah harimau jantan tumpang tindih dengan daerah jelajah beberapa betina yang dikawininya. Betina biasanya melahirkan dua atau tiga anak yang tinggal bersama induknya selama sekitar dua tahun. Saat menjadi mandiri, anak-anak harimau tersebut meninggalkan daerah jelajah induknya dan membangun daerah jelajah mereka sendiri.

Sejak awal abad ke-20, populasi harimau telah kehilangan setidaknya 93% dari wilayah sebaran historisnya dan telah punah secara lokal di Asia Barat dan Tengah, di wilayah luas Tiongkok, serta di pulau Jawa dan Bali. Saat ini, wilayah sebaran harimau terfragmentasi parah. Harimau terdaftar sebagai spesies Genting dalam Daftar Merah Spesies Terancam IUCN, karena wilayah sebarannya diperkirakan telah menyusut sebesar 53% hingga 68% sejak akhir 1990-an. Ancaman utama bagi harimau adalah perusakan habitat dan fragmentasi akibat deforestasi, perburuan liar untuk diambil kulitnya, serta perdagangan ilegal bagian tubuh untuk tujuan pengobatan. Harimau juga menjadi korban konflik manusia dengan satwa liar karena mereka menyerang dan memangsa ternak di daerah yang mangsa alaminya langka. Harimau dilindungi secara hukum di semua negara sebarannya. Langkah konservasi nasional terdiri dari rencana aksi, patroli antiperburuan, dan skema pemantauan populasi harimau. Di beberapa negara sebaran, koridor satwa liar telah dibangun dan reintroduksi harimau sedang direncanakan.

Harimau termasuk salah satu megafauna karismatik yang paling populer di dunia. Hewan ini telah dipelihara di penangkaran sejak zaman kuno dan dilatih untuk tampil di sirkus serta pertunjukan hiburan lainnya. Harimau tampil secara menonjol dalam mitologi dan cerita rakyat kuno dari berbagai budaya di seluruh wilayah sebaran historisnya dan terus muncul dalam budaya di seluruh dunia.

Etimologi

[sunting | sunting sumber]

Kata "harimau" diserap dari bahasa Melayu dan berakar dari Proto-Melayu-Polinesia Barat (Proto West Malayo Polynesian: PWMP) yang direkonstruksi sebagai *qari-maquŋ.[4] Bentuk ini memiliki bentuk sekerabat dalam berbagai bahasa Austronesia lainnya dengan variasi makna yang merujuk pada jenis kucing liar. Dalam Bahasa Kankanaey [en], bentuk alimaoŋ merujuk pada musang atau kucing civet, sedangkan dalam Bahasa Jarai, kata remoŋ memiliki arti harimau. Selain itu, ditemukan pula bentuk harimauŋ dalam bahasa Ngaju Dayak dan Bahasa Ma'anyan, serta rimaʔuŋ dalam Bahasa Samihim yang ketiganya merujuk pada macan tutul.[4]

Seorang ahli bahasa, Otto Dempwolff (1934–38), sebelumnya mengelompokkan kata harimauŋ dalam bahasa Ngaju Dayak ke dalam rekonstruksi *harimaw bersama dengan kata halimaw ("binatang buas") dalam Bahasa Tagalog, arimo ("macan tutul") dalam Bahasa Batak Toba, dan harimau dalam bahasa Melayu. Meskipun hubungan historis antara bentuk-bentuk tersebut belum sepenuhnya jelas, distribusi bentuk-bentuk yang disebutkan terakhir (seperti dalam Tagalog dan Batak) kemungkinan besar terjadi akibat peminjaman kata dari bahasa Melayu, alih-alih turunan langsung dari satu proto-bahasa yang sama.[4]

Taksonomi

[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 1758, Carl Linnaeus mendeskripsikan harimau dalam karyanya Systema Naturae dan memberinya nama ilmiah Felis tigris, karena genus Felis pada masa itu digunakan untuk semua kucing. Deskripsi ilmiah yang ia buat didasarkan pada deskripsi oleh naturalis terdahulu seperti Conrad Gessner dan Ulisse Aldrovandi.[2] Pada tahun 1929, Reginald Innes Pocock menempatkan spesies ini dalam genus Panthera dengan menggunakan nama ilmiah Panthera tigris.[5][6]

Subspesies

[sunting | sunting sumber]

Sembilan subspesies harimau terkini telah diusulkan antara awal abad ke-19 dan awal abad ke-21, yaitu harimau benggala, malaya, indocina, tiongkok selatan, siberia, kaspia, jawa, bali, dan sumatera.[7][8] Validitas beberapa subspesies harimau dipertanyakan pada tahun 1999 karena sebagian besar subspesies dugaan tersebut dibedakan berdasarkan panjang dan pewarnaan bulu, pola loreng, serta ukuran tubuh spesimen dalam koleksi museum sejarah alam yang belum tentu mewakili keseluruhan populasi. Diusulkan untuk hanya mengakui dua subspesies harimau sebagai valid, yaitu P. t. tigris di daratan Asia dan P. t. sondaica yang lebih kecil di Kepulauan Sunda Besar.[9]

Usulan dua subspesies ini ditegaskan kembali pada tahun 2015 melalui analisis komprehensif terhadap ciri-ciri morfologis, ekologis, dan DNA mitokondria (mtDNA) dari semua subspesies harimau dugaan.[8] Pada tahun 2017, Gugus Tugas Klasifikasi Kucing dari Kelompok Spesialis Kucing IUCN merevisi taksonomi felid sesuai dengan usulan dua subspesies tahun 2015 dan hanya mengakui P. t. tigris serta P. t. sondaica.[10] Hasil studi pengurutan genom keseluruhan tahun 2018 terhadap 32 sampel dari enam subspesies dugaan yang masih hidup—harimau benggala, malaya, indochina, tiongkok selatan, siberia, dan sumatera—menemukan bahwa mereka adalah klad yang berbeda dan terpisah.[11] Hasil ini diperkuat pada tahun 2021 dan 2023.[12][13] Sebuah studi tahun 2023 menemukan validitas untuk kesembilan subspesies terkini tersebut.[14] Kelompok Spesialis Kucing menyatakan bahwa "Mengingat beragamnya interpretasi data, taksonomi [subspesifik] spesies ini saat ini sedang ditinjau oleh Kelompok Spesialis Kucing IUCN SSC."[15]

Tabel berikut didasarkan pada klasifikasi harimau per tahun 2005,[7] dan juga mencerminkan klasifikasi yang diakui oleh Gugus Tugas Klasifikasi Kucing pada tahun 2017.[10]

Panthera tigris tigris (Linnaeus, 1758)[2]
PopulasiDeskripsiGambar
Harimau benggala sebelumnya P. t. tigris (Linnaeus, 1758)[2] Populasi ini menghuni anak benua India.[16] Harimau benggala memiliki bulu yang lebih pendek dibandingkan harimau di wilayah utara yang lebih jauh,[6] dengan pewarnaan kuning kecokelatan terang hingga merah-jingga,[6][17] serta lubang hidung yang relatif panjang dan sempit.[18]
Harimau kaspia sebelumnya P. t. virgata (Illiger, 1815)[19] Populasi ini pernah ada dari Turki hingga sekitar Laut Kaspia.[16] Harimau ini memiliki bulu berwarna merah karat terang dengan loreng-loreng kecokelatan yang tipis dan rapat,[20] serta tulang oksipital yang lebar.[9] Analisis genetik mengungkapkan bahwa harimau ini berkerabat dekat dengan harimau siberia.[21] Hewan ini telah punah sejak tahun 1970-an.[22]
Harimau siberia sebelumnya P. t. altaica (Temminck, 1844)[23] Populasi ini hidup di Timur Jauh Rusia, Tiongkok Timur Laut, dan kemungkinan di Korea Utara.[16] Harimau siberia memiliki bulu yang panjang dan lebat.[23] Warna dasarnya sangat bervariasi dari kuning-oker di musim dingin menjadi lebih kemerahan dan cerah setelah ganti bulu.[24] Tengkoraknya lebih pendek dan lebar dibandingkan tengkorak harimau di wilayah selatan yang lebih jauh.[18]
Harimau tiongkok selatan sebelumnya P. t. amoyensis (Hilzheimer, 1905)[25] Secara historis, harimau ini hidup di Tiongkok tengah-selatan.[16] Tengkorak dari lima spesimen tipe memiliki gigi karnassial dan geraham yang lebih pendek daripada harimau dari India, kranium yang lebih kecil, orbit yang lebih rapat, dan prosesus pascaorbita yang lebih besar; kulitnya kekuningan dengan loreng menyerupai belah ketupat.[25] Harimau ini memiliki haplotipe mtDNA yang unik akibat perkawinan silang dengan garis keturunan harimau purba.[10][14][26] Harimau ini punah di alam liar karena belum ada penampakan yang terkonfirmasi sejak tahun 1970-an,[1] dan hanya bertahan hidup di penangkaran.[13]
Harimau indocina sebelumnya P. t. corbetti (Mazák, 1968)[27] Populasi harimau ini terdapat di Semenanjung Indochina.[16] Spesimen harimau indochina memiliki kranium yang lebih kecil daripada harimau benggala dan tampak memiliki bulu yang lebih gelap dengan loreng yang agak tipis.[27][28]
Harimau malaya sebelumnya P. t. jacksoni (Luo et al., 2004)[29] Harimau malaya diusulkan sebagai subspesies terpisah berdasarkan mtDNA dan urutan mikrosatelit yang berbeda dari harimau indochina.[29] Harimau ini tidak berbeda secara signifikan dalam warna bulu atau ukuran tengkorak dari harimau indochina.[28] Tidak ada penghalang geografis yang jelas antara populasi harimau di Malaysia utara dan Thailand selatan.[1]
Panthera tigris sondaica (Temminck, 1844)[10]
PopulasiDeskripsiGambar
Harimau jawa sebelumnya P. t. sondaica (Temminck, 1944)[23] Harimau ini dideskripsikan berdasarkan sejumlah kulit dengan bulu yang pendek dan halus.[23] Harimau dari Jawa berukuran kecil dibandingkan dengan harimau dari daratan Asia, memiliki tengkorak yang relatif memanjang dibandingkan harimau sumatera, serta loreng yang lebih panjang, lebih tipis, dan lebih banyak.[28] Harimau jawa diperkirakan telah punah pada tahun 1980-an.[22]
Harimau bali sebelumnya P. t. balica (Schwarz, 1912)[30] Harimau ini hidup di Bali dan memiliki bulu yang lebih cerah serta tengkorak yang lebih kecil daripada harimau jawa.[30][31] Ciri khas tengkorak harimau bali adalah tulang oksipital yang sempit, yang mirip dengan tengkorak harimau jawa.[32] Populasi ini punah pada tahun 1940-an.[22]
Harimau sumatera sebelumnya P. t. sumatrae (Pocock, 1929)[33] Spesimen tipe dari Sumatera memiliki bulu gelap.[33] Harimau sumatera memiliki bulu yang sangat panjang di sekitar wajah,[16] loreng tubuh yang tebal, serta tulang hidung yang lebih lebar dan lebih kecil dibandingkan harimau kepulauan lainnya.[28]
Panthera
Filogeni genus Panthera berdasarkan sebuah studi DNA inti tahun 2016[34]

Harimau berbagi genus Panthera dengan singa, macan tutul, jaguar, dan macan tutul salju. Hasil analisis genetik menunjukkan bahwa harimau dan macan tutul salju adalah spesies saudara yang garis keturunannya terpisah satu sama lain antara 2,70 hingga 3,70 juta tahun yang lalu.[35] Pengurutan genom keseluruhan harimau menunjukkan urutan berulang yang serupa dengan yang terdapat pada genom kucing lainnya.[36]

Spesies fosil Panthera palaeosinensis dari Pleistosen awal di Tiongkok utara dideskripsikan sebagai kemungkinan nenek moyang harimau ketika ditemukan pada tahun 1924, tetapi kladistik modern menempatkannya sebagai spesies basal bagi Panthera modern.[37][38] Panthera zdanskyi hidup pada waktu dan tempat yang sama, dan diusulkan sebagai spesies saudara dari harimau modern ketika diteliti pada tahun 2014.[37] Namun, pada tahun 2023, setidaknya dua studi lanjutan menganggap P. zdanskyi kemungkinan besar merupakan sinonim dari P. palaeosinensis, dengan catatan bahwa perbedaan yang diusulkan dari spesies tersebut masih berada dalam rentang variasi individu.[39][40] Kemunculan paling awal spesies harimau modern dalam catatan fosil adalah fragmen rahang dari Lantian di Tiongkok yang bertarikh Pleistosen awal.[37]

Fosil harimau dari Pleistosen Tengah hingga Akhir telah ditemukan di seluruh Tiongkok, Sumatera, dan Jawa. Subspesies prasejarah meliputi Panthera tigris trinilensis dan P. t. soloensis dari Jawa dan Sumatera serta P. t. acutidens dari Tiongkok; fosil harimau dari Pleistosen akhir dan Holosen awal juga ditemukan di Kalimantan dan Palawan, Filipina.[41] Spesimen fosil harimau juga dilaporkan dari Pleistosen Tengah-Akhir di Jepang.[42] Hasil studi filogeografi menunjukkan bahwa semua harimau yang masih hidup memiliki nenek moyang yang sama yang hidup antara 108.000 dan 72.000 tahun yang lalu.[29] Studi genetik menunjukkan bahwa populasi harimau menyusut sekitar 115.000 tahun yang lalu akibat glasiasi. Populasi harimau modern berasal dari refugium di Indochina dan menyebar ke seluruh Asia setelah Maksimum Glasial Terakhir. Saat mereka mengolonisasi Tiongkok timur laut, nenek moyang harimau tiongkok selatan bercampur dengan populasi harimau relik.[26][14]

Harimau dapat kawin silang dengan kucing Panthera lainnya dan telah melakukannya di penangkaran. Liger adalah keturunan dari harimau betina dan singa jantan, sedangkan tigon adalah keturunan dari harimau jantan dan singa betina.[43] Pejantan singa mewariskan gen pemicu pertumbuhan, namun gen penghambat pertumbuhan yang sesuai dari harimau betina tidak ada, sehingga liger tumbuh jauh lebih besar daripada kedua spesies induknya. Sebaliknya, harimau jantan tidak mewariskan gen pemicu pertumbuhan sementara singa betina mewariskan gen penghambat pertumbuhan; oleh karena itu, tigon memiliki ukuran yang kurang lebih sama dengan induknya.[44] Karena hibrida ini sering mengalami cacat lahir yang mengancam jiwa dan mudah mengalami obesitas, pembiakan hewan-hewan ini dianggap tidak etis.[43]

Deskripsi

[sunting | sunting sumber]
Gambar kerangka harimau
Rangka harimau dari Royal Natural History Volume 1 (1839)

Harimau memiliki morfologi felid yang khas, dengan tubuh berotot, kaki yang memendek, tungkai depan yang kuat dengan tapak depan yang lebar, kepala yang besar, dan ekor yang panjangnya sekitar setengah dari panjang tubuh lainnya.[45][46] Harimau memiliki lima jari, termasuk satu jari sisa, pada kaki depan dan empat jari pada kaki belakang, yang semuanya memiliki cakar yang dapat ditarik ke dalam (retraktil), padat, dan melengkung, serta dapat mencapai panjang 10 cm (3,9 in).[45][47] Telinganya membulat dan matanya memiliki pupil bundar.[45] Moncongnya berakhir pada ujung merah muda berbentuk segitiga dengan bintik-bintik hitam kecil, yang jumlahnya bertambah seiring bertambahnya usia.[48] Tengkorak harimau kokoh, dengan bagian depan yang menyempit, orbit elips yang secara proporsional kecil, tulang hidung yang panjang, dan kranium yang memanjang dengan krista sagitalis yang besar.[49][45] Tengkorak ini menyerupai tengkorak singa, namun berbeda pada bagian bawah rahang bawah yang cekung atau rata dan pada tulang hidungnya yang lebih panjang.[49][41] Harimau memiliki 30 gigi yang cukup kokoh dan gigi taringnya yang agak melengkung adalah yang terpanjang dalam keluarga kucing, dengan ukuran 6,4–7,6 cm (2,5–3,0 in).[45][50]

Harimau memiliki panjang kepala-tubuh 1,4–2,8 m (4 ft 7 in – 9 ft 2 in) dengan ekor sepanjang 06–11 m (20–36 ft) dan tinggi bahu mencapai 0,8–1,1 m (2 ft 7 in – 3 ft 7 in).[51] Harimau siberia dan benggala adalah yang terbesar.[45] Harimau benggala jantan memiliki berat 200–260 kg (440–570 pon), dan betina memiliki berat 100–160 kg (220–350 pon); harimau kepulauan adalah yang terkecil, kemungkinan karena kekerdilan pulau.[9] Harimau sumatera jantan memiliki berat 100–140 kg (220–310 pon), dan betina seberat 75–110 kg (165–243 pon).[52] Harimau secara populer dianggap sebagai spesies felid terbesar yang masih hidup; namun karena harimau dari berbagai subspesies dan populasi sangat bervariasi dalam ukuran dan berat, ukuran rata-rata harimau mungkin kurang dari singa, sementara harimau terbesar lebih besar daripada singa terbesar.[41]

Tampilan dekat bulu harimau
Bulu bagian panggul (samping) harimau siberia

Bulu harimau biasanya pendek, mencapai 35 mm (1,4 in), meskipun bulu harimau siberia yang hidup di utara dapat mencapai 105 mm (4,1 in). Bulu perut cenderung lebih panjang daripada bulu punggung. Kepadatan bulu mereka biasanya tipis, meskipun harimau siberia menumbuhkan bulu musim dingin yang sangat tebal. Harimau memiliki gurat-gurat bulu di sekitar wajah dan misai yang panjang, terutama pada pejantan.[45] Hewan ini memiliki pewarnaan jingga yang bervariasi dari kekuningan hingga kemerahan.[53] Bulu putih menutupi bagian bawah tubuh, dari kepala hingga ekor, serta permukaan bagian dalam kaki dan bagian wajah tertentu.[45][54] Di bagian belakang telinganya, terdapat bintik putih yang menonjol, yang dikelilingi oleh warna hitam.[45] Harimau ditandai dengan loreng hitam atau cokelat tua yang khas, dengan pola yang unik pada setiap individu.[45][55] Loreng-loreng tersebut sebagian besar vertikal, tetapi pada tungkai dan dahi berbentuk horizontal. Loreng tersebut lebih terkonsentrasi ke arah bagian belakang tubuh dan loreng pada batang tubuh dapat memanjang hingga ke bawah perut. Ujung loreng umumnya runcing dan beberapa mungkin terbelah atau terbelah dan menyatu kembali. Loreng ekor berupa pita tebal dan ujung berwarna hitam menandai bagian akhirnya.[54]

Harimau adalah salah satu dari sedikit spesies kucing yang memiliki loreng.[56] Loreng bermanfaat untuk kamuflase di vegetasi dengan pola cahaya dan bayangan vertikal, seperti pepohonan, gelagah, dan rumput tinggi.[55][57] Hal ini didukung oleh sebuah studi analisis Fourier yang menunjukkan bahwa pola loreng tersebut selaras dengan lingkungannya.[58] Warna jingga juga dapat membantu dalam penyamaran, karena mangsa harimau mengalami buta warna dan kemungkinan memandang harimau berwarna hijau sehingga menyatu dengan vegetasi.[59]

Variasi warna

[sunting | sunting sumber]
Harimau putih dengan loreng tebal sedang berbaring
Harimau putih pseudo-melanistik

Tiga varian warna harimau benggala – putih salju yang hampir tanpa loreng, putih, dan emas – kini nyaris tidak ada di alam liar akibat penurunan populasi harimau liar, namun terus ada dalam populasi penangkaran. Harimau putih memiliki warna dasar putih dengan loreng cokelat sepia. Harimau emas berwarna emas pucat dengan loreng cokelat kemerahan. Harimau putih salju adalah morf dengan loreng yang sangat samar dan ekor bercincin cokelat sepia pucat. Morf putih dan emas merupakan hasil dari sifat resesif autosomal, masing-masing dengan lokus putih dan lokus pita lebar. Variasi putih salju disebabkan oleh poligen dengan lokus putih dan pita lebar sekaligus.[60] Pembiakan harimau putih bersifat kontroversial karena tidak memiliki manfaat bagi konservasi. Hanya 0,001% harimau liar yang memiliki gen untuk morf warna ini, dan representasi berlebihan harimau putih di penangkaran adalah hasil dari perkawinan sedarah. Oleh karena itu, pembiakan mereka yang berkelanjutan akan berisiko menyebabkan depresi perkawinan sekerabat dan hilangnya variabilitas genetik pada harimau penangkaran.[61]

Harimau pseudo-melanistik dengan loreng yang tebal dan menyatu telah tercatat di Taman Nasional Simlipal dan tiga kebun binatang India; analisis genetika populasi terhadap sampel harimau India mengungkapkan bahwa fenotipe ini disebabkan oleh mutasi gen aminopeptidase transmembran. Sekitar 37% populasi harimau Simlipal memiliki fitur ini, yang dikaitkan dengan isolasi genetik.[62]

Persebaran dan habitat

[sunting | sunting sumber]
Gambar harimau di hutan pada malam hari
Kamera jebak yang merekam seekor harimau siberia di Rusia

Secara historis, harimau tersebar dari Turki timur, Iran utara, dan Afganistan hingga Asia Tengah, serta dari Pakistan utara melalui anak benua India dan Indochina hingga Siberia tenggara, Sumatera, Jawa, dan Bali.[45] Per tahun 2022, harimau menghuni kurang dari 7% wilayah persebaran historisnya dan memiliki jangkauan yang tersebar secara terpisah di anak benua India, Semenanjung Indochina, Sumatera, Tiongkok timur laut, dan Timur Jauh Rusia.[1] Per tahun 2020, India memiliki habitat harimau terluas di dunia dengan 300.508 km2 (116.027 sq mi), diikuti oleh Rusia dengan 195.819 km2 (75.606 sq mi).[63]

Harimau terutama hidup di habitat hutan dan sangat mudah beradaptasi.[52] Catatan di Asia Tengah menunjukkan bahwa harimau utamanya menghuni hutan sungai tugay serta hutan perbukitan dan dataran rendah di Kaukasus.[64] Di wilayah Amur-Ussuri di Rusia dan Tiongkok, harimau menghuni hutan pinus korea serta hutan campur dan gugur iklim sedang; hutan riparian berfungsi sebagai koridor dispersi, yang menyediakan makanan dan air bagi harimau maupun ungulata.[65] Di anak benua India, harimau utamanya menghuni hutan gugur lembap tropis dan subtropis, hutan campur dan gugur iklim sedang, hutan hijau abadi lembap tropis, hutan kering tropis, dataran aluvial, dan hutan bakau di Sundarbans.[66] Di Himalaya Timur, harimau terdokumentasi di hutan iklim sedang hingga ketinggian 4.200 m (13.800 ft) di Bhutan, 3.630 m (11.910 ft) di Perbukitan Mishmi, dan 3.139 m (10.299 ft) di County Mêdog, Tibet tenggara.[67][68][69] Di Thailand, harimau hidup di hutan gugur dan hijau abadi.[70] Di Sumatera, harimau menghuni hutan rawa gambut dataran rendah dan hutan pegunungan yang terjal.[71]

Kepadatan populasi

[sunting | sunting sumber]

Kamera jebak yang dipasang selama tahun 2010–2015 di hutan gugur dan pinus subtropis Taman Nasional Jim Corbett, India utara, mengungkapkan kepadatan populasi harimau yang stabil sebesar 12–17 individu per 100 km2 (39 sq mi) di area seluas 521 km2 (201 sq mi).[72] Di Myanmar utara, kepadatan populasi di area sampel seluas kurang lebih 3.250 km2 (1.250 sq mi) di mosaik hutan berdaun lebar tropis dan padang rumput diperkirakan sebesar 0,21–0,44 harimau per 100 km2 (39 sq mi) per tahun 2009.[73] Kepadatan populasi di hutan gugur campuran dan semi-hijau abadi di Suaka Margasatwa Huai Kha Khaeng Thailand diperkirakan sebesar 2,01 harimau per 100 km2 (39 sq mi); selama tahun 1970-an dan 1980-an, penebangan kayu dan perburuan liar telah terjadi di Mae Wong dan Khlong Lan yang berdekatan, di mana kepadatan populasinya jauh lebih rendah, diperkirakan hanya 0,359 harimau per 100 km2 (39 sq mi) per tahun 2016.[74] Kepadatan populasi di hutan dipterokarpa dan pegunungan di Malaysia utara diperkirakan sebesar 1,47–2,43 harimau dewasa per 100 km2 (39 sq mi) di Taman Negara Bagian Royal Belum, tetapi 0,3–0,92 harimau dewasa per 100 km2 (39 sq mi) di Hutan Lindung Temengor yang tidak dilindungi dan mengalami penebangan selektif.[75]

Perilaku dan ekologi

[sunting | sunting sumber]
Harimau di dalam air
Harimau sedang mandi

Data jebakan kamera menunjukkan bahwa harimau di Taman Nasional Chitwan menghindari lokasi yang sering dikunjungi manusia dan lebih aktif pada malam hari daripada siang hari.[76] Di Taman Nasional Sundarbans, enam harimau yang dipasangi kalung radio paling aktif dari subuh hingga pagi hari dan mencapai puncaknya sekitar pukul 7:00 pagi.[77] Survei jebakan kamera selama tiga tahun di Taman Nasional Shuklaphanta mengungkapkan bahwa harimau paling aktif dari senja hingga tengah malam.[78] Di Tiongkok timur laut, harimau bersifat krepuskular dan aktif pada malam hari dengan puncak aktivitas saat subuh dan senja; mereka sebagian besar aktif pada waktu yang sama dengan mangsanya.[79]

Harimau adalah perenang yang kuat dan dengan mudah menyeberangi sungai selebar 8 km (5,0 mi); hewan ini merendam diri di dalam air, terutama pada hari-hari yang panas.[55] Secara umum, harimau kurang mampu memanjat pohon dibandingkan banyak kucing lainnya karena ukurannya, tetapi anak harimau di bawah usia 16 bulan mungkin sering melakukannya.[80] Seekor harimau dewasa pernah terekam memanjat 10 m (33 ft) ke atas pohon pipal yang licin.[45]

Penjarakan sosial

[sunting | sunting sumber]

Harimau dewasa menjalani kehidupan yang sebagian besar soliter di dalam daerah jelajah atau teritori, yang ukurannya sangat bergantung pada kelimpahan mangsa, area geografis, dan jenis kelamin individu tersebut. Jantan dan betina mempertahankan daerah jelajah mereka dari individu lain yang berjenis kelamin sama, dan daerah jelajah seekor jantan mencakup daerah jelajah beberapa betina.[45][55] Dua betina di Sundarbans memiliki daerah jelajah seluas 106 dan 141 km2 (41 dan 54 sq mi).[81] Di Cagar Harimau Panna, daerah jelajah lima betina yang direintroduksi bervariasi dari 53–67 km2 (20–26 sq mi) di musim dingin hingga 55–60 km2 (21–23 sq mi) di musim panas dan 46–94 km2 (18–36 sq mi) selama musim muson; tiga jantan memiliki daerah jelajah seluas 84–147 km2 (32–57 sq mi) di musim dingin, 82–98 km2 (32–38 sq mi) di musim panas, dan 81–118 km2 (31–46 sq mi) selama musim muson.[82] Di Cagar Biosfer Sikhote-Alin, 14 betina memiliki daerah jelajah 248–520 km2 (96–201 sq mi) dan lima jantan residen memiliki daerah jelajah seluas 847–1.923 km2 (327–742 sq mi) yang tumpang tindih dengan daerah jelajah hingga lima betina.[83] Ketika harimau betina di cagar yang sama memiliki anak berusia hingga empat bulan, mereka mengurangi luas daerah jelajahnya agar tetap dekat dengan anaknya dan secara bertahap memperluasnya hingga keturunan mereka berusia 13–18 bulan.[84]

Harimau benggala menyemprotkan urine (atas) dan menggosokkan badan ke pohon untuk menandai teritori

Harimau adalah spesies dengan daya jelajah jauh dan individu dapat menyebar hingga jarak 650 km (400 mi) untuk mencapai populasi harimau di area lain.[85] Harimau betina muda membangun daerah jelajah pertama mereka dekat dengan induknya, sementara jantan bermigrasi lebih jauh dibandingkan rekan betinanya.[86] Empat betina yang dipasangi kalung radio di Chitwan menyebar antara 0 dan 432 km (0 dan 268 mi) dan 10 jantan antara 95 dan 657 km (59 dan 408 mi).[87] Pejantan sub-dewasa hidup sebagai pengelana di daerah jelajah jantan lain sampai ia cukup tua dan kuat untuk menantang pejantan residen.[86][88] Harimau menandai daerah jelajahnya dengan menyemprotkan urine pada vegetasi dan bebatuan, mencakar atau menggosok bau pada pohon, serta menandai jalan setapak dengan feses, sekresi kelenjar anal, dan garukan tanah.[55][89][90][91] Penandaan bau juga memungkinkan individu untuk mendapatkan informasi tentang identitas individu lain. Daerah jelajah tak bertuan, terutama yang milik individu yang sudah mati, dapat diambil alih dalam hitungan hari atau minggu.[55]

Harimau jantan umumnya kurang toleran terhadap jantan lain di dalam daerah jelajahnya dibandingkan betina terhadap betina lain. Perselisihan biasanya diselesaikan dengan intimidasi alih-alih perkelahian. Setelah dominansi terbentuk, seekor jantan mungkin menoleransi bawahan di dalam wilayahnya, selama mereka tidak mendekatinya. Perselisihan paling serius cenderung terjadi antara dua jantan yang bersaing memperebutkan betina yang sedang estrus.[92] Meskipun harimau sebagian besar hidup sendiri, hubungan antarindividu bisa menjadi rumit. Harimau menjadi cukup sosial saat mendapatkan hasil buruan dan harimau jantan terkadang berbagi bangkai dengan betina dan anak-anak di dalam daerah jelajah ini; tidak seperti singa jantan, ia akan membiarkan mereka memakan hasil buruan sebelum ia menyelesaikannya. Namun, betina lebih tegang saat bertemu betina lain di tempat makan.[93][94]

Komunikasi

[sunting | sunting sumber]

Selama pertemuan yang bersahabat dan untuk mempererat ikatan, harimau menggosokkan diri ke tubuh satu sama lain.[95] Ekspresi wajah mencakup "ancaman pertahanan", yang melibatkan wajah berkerut, gigi yang dipamerkan, telinga yang ditarik ke belakang, dan pupil yang melebar.[96][45] Baik jantan maupun betina menunjukkan respons flehmen, yaitu seringai bibir melengkung yang khas, saat mencium penandaan urine. Jantan juga menggunakan flehmen untuk mendeteksi penandaan yang dibuat oleh harimau betina yang sedang estrus.[45] Harimau akan menggerakkan telinganya untuk memperlihatkan bintik putih, terutama selama pertemuan agresif dan antara induk dengan anaknya.[97] Mereka juga menggunakan ekor untuk memberi sinyal suasana hati mereka. Untuk menunjukkan keramahan, ekor ditegakkan dan digoyangkan perlahan, sedangkan harimau yang cemas menurunkan ekornya atau mengibaskannya ke kiri dan kanan. Saat tenang, ekornya menggantung rendah.[98]

Harimau biasanya diam tetapi dapat menghasilkan berbagai vokalisasi.[99][100] Mereka mengaum untuk memberi sinyal keberadaan mereka kepada individu lain dalam jarak jauh. Vokalisasi ini dipaksa keluar melalui mulut yang terbuka saat menutup dan dapat terdengar sejauh 3 km (1,9 mi). Mereka mengaum beberapa kali berturut-turut dan individu lain merespons dengan cara yang sama. Harimau juga mengaum selama perkawinan dan induk akan mengaum untuk memanggil anak-anaknya. Saat tegang, harimau mengerang, suara yang mirip dengan auman tetapi lebih lembut dan dibuat saat mulut setidaknya tertutup sebagian. Erangan dapat terdengar sejauh 400 m (1.300 ft).[45][101] Pertemuan agresif melibatkan geraman, dengkusan, dan desisan.[102] Sebuah "auman batuk" atau "dengkusan batuk" yang eksplosif dikeluarkan melalui mulut yang terbuka dan gigi yang terekspos.[45][102][97] Dalam situasi yang lebih bersahabat, harimau melakukan prusten, suara dengusan frekuensi rendah yang lembut mirip dengan dengkuran pada kucing kecil.[103] Induk harimau berkomunikasi dengan anak-anaknya dengan mendengus, sementara anak-anaknya membalas dengan ngeongan.[104] Saat terkejut, mereka mengeluarkan suara "guk". Mereka menghasilkan suara "pok" seperti rusa karena alasan yang tidak diketahui, tetapi paling sering saat mendapatkan hasil buruan.[105][106]

Perburuan dan diet

[sunting | sunting sumber]
Harimau menyerang rusa sambar dari belakang, menarik punggungnya
Harimau benggala menyerang rusa sambar di Cagar Harimau Ranthambore

Harimau adalah karnivora dan predator puncak. Kelimpahan dan berat tubuh spesies mangsa diasumsikan menjadi kriteria utama bagi pemilihan mangsa harimau, baik di dalam maupun di luar kawasan lindung.[107] Harimau terutama memangsa ungulata berukuran besar dan sedang seperti rusa sambar, wapiti manchuria, barasinga, gaur, dan babi hutan.[108][109][110] Harimau juga memangsa secara oportunistik spesies yang lebih kecil seperti monyet, merak dan burung darat lainnya, landak, serta ikan.[45][55] Serangan sesekali terhadap gajah asia dan badak india juga pernah dilaporkan.[111] Lebih seringnya, harimau memangsa anak hewan yang lebih rentan.[112] Mereka terkadang memangsa ternak dan anjing yang berada dekat dengan pemukiman.[45] Harimau sesekali mengonsumsi vegetasi, buah, dan mineral untuk serat pangan dan suplemen.[113]

Harimau belajar berburu dari induknya, meskipun kemampuan berburu mungkin sebagian merupakan bawaan lahir.[114] Tergantung pada ukuran mangsanya, mereka biasanya membunuh setiap minggu, meskipun induk harus membunuh lebih sering.[52] Keluarga harimau berburu bersama ketika anak-anaknya sudah cukup besar.[115] Mereka mencari mangsa menggunakan penglihatan dan pendengaran.[116] Seekor harimau juga akan menunggu di lubang air menunggu mangsa datang, terutama selama hari-hari musim panas yang terik.[117][118] Harimau adalah predator penyergap dan ketika mendekati calon mangsa, ia merunduk dengan kepala diturunkan dan bersembunyi di dedaunan. Ia bergantian antara merayap maju dan diam tak bergerak. Seekor harimau bahkan mungkin tertidur dan dapat tinggal di tempat yang sama selama sehari, menunggu mangsa dan melancarkan serangan ketika mangsa sudah cukup dekat,[119] biasanya dalam jarak 30 m (98 ft).[52] Jika mangsa melihatnya sebelum itu, kucing besar ini tidak mengejar lebih jauh.[117] Harimau dapat berlari cepat hingga 56 km/h (35 mph) dan melompat sejauh 10 m (33 ft);[120][121] ia bukan pelari jarak jauh dan akan menyerah mengejar jika mangsa berlari lebih cepat darinya dalam jarak tertentu.[117]

Dua harimau menyerang seekor babi
Dua harimau benggala menyerang seekor babi hutan di Cagar Harimau Kanha

Harimau menyerang dari belakang atau samping dan mencoba menjatuhkan target agar kehilangan keseimbangan. Ia mencengkeram mangsa dengan tungkai depannya, memutar dan membalikkan tubuh selama pergulatan, dan mencoba menariknya ke tanah. Harimau umumnya melakukan gigitan pada tenggorokan sampai korbannya mati karena tercekik.[45][122][123][124] Harimau memiliki kekuatan gigitan rata-rata di ujung gigi taring sebesar 1234,3 newton.[125] Menahan tenggorokan membuat kucing besar ini terhindar dari jangkauan tanduk, gading, dan kuku mangsa.[122][126] Harimau adalah pembunuh yang mudah beradaptasi dan mungkin menggunakan metode lain, termasuk merobek tenggorokan atau mematahkan leher. Mangsa besar mungkin dilumpuhkan dengan gigitan pada bagian belakang tumit, yang memutuskan tendon. Pukulan dari tapak depannya yang besar mampu membuat pingsan atau mematahkan tengkorak kerbau air.[127] Mereka membunuh mangsa kecil dengan gigitan di bagian belakang leher atau kepala.[128][52] Estimasi tingkat keberhasilan harimau berburu berkisar dari terendah 5% hingga tertinggi 50%. Mereka terkadang terbunuh atau terluka oleh mangsa yang besar atau berbahaya seperti gaur, kerbau, dan babi hutan.[52]

Harimau biasanya memindahkan hasil buruan ke tempat yang tersembunyi, biasanya bervegetasi, tidak lebih dari 183 m (600 ft), meskipun mereka pernah tercatat menyeretnya sejauh 549 m (1.801 ft). Mereka cukup kuat untuk menyeret bangkai kerbau dewasa untuk jarak tertentu. Mereka beristirahat sejenak sebelum makan dan dapat mengonsumsi sebanyak 50 kg (110 pon) daging dalam satu sesi, tetapi memakan bangkai selama beberapa hari, menyisakan sedikit untuk hewan pemakan bangkai.[129]

Lukisan kawanan ajag menyerang seekor harimau
Ilustrasi tahun 1807 yang memperlihatkan ajag menyerang seekor harimau

Di sebagian besar wilayah sebarannya, harimau berbagi habitat dengan macan tutul dan ajag. Harimau biasanya mendominasi kedua spesies tersebut, meskipun dominasi terhadap ajag bergantung pada ukuran kawanan mereka. Interaksi antara ketiga predator ini melibatkan pengejaran, pencurian hasil buruan, dan pembunuhan langsung.[130] Kawanan ajag yang besar dapat membunuh harimau.[131] Harimau, macan tutul, dan ajag hidup berdampingan dengan memburu mangsa yang berbeda ukuran.[132] Di Taman Nasional Nagarhole, berat rata-rata hasil buruan harimau tercatat sebesar 915 kg (2.017 pon), dibandingkan dengan 376 kg (829 pon) untuk macan tutul dan 434 kg (957 pon) untuk ajag.[133] Di Taman Nasional Kui Buri, menyusul penurunan jumlah mangsa, harimau terus membunuh mangsa kesukaannya sementara macan tutul dan ajag meningkatkan konsumsi mangsa kecil.[109]

Baik macan tutul maupun ajag dapat hidup dengan baik di habitat harimau ketika terdapat makanan dan tutupan vegetasi yang melimpah.[132][134] Sebaliknya, mereka tampak lebih jarang ditemui di tempat di mana harimau melimpah. Pemulihan populasi harimau di Taman Nasional Rajaji selama tahun 2000-an menyebabkan penurunan kepadatan populasi macan tutul.[135] Demikian pula, di dua lokasi di India tengah, ukuran kawanan ajag berkorelasi negatif dengan kepadatan harimau.[136] Persebaran macan tutul dan ajag di Kui Buri berkorelasi dengan akses terhadap mangsa dan kelangkaan harimau.[137] Di Taman Nasional Jigme Dorji, harimau ditemukan menghuni bagian hutan yang lebih dalam sementara predator yang lebih kecil terdesak mendekati pinggiran hutan.[138]

Reproduksi dan siklus hidup

[sunting | sunting sumber]
Harimau dengan anak-anaknya
Keluarga harimau benggala di Cagar Harimau Kanha

Harimau umumnya kawin sepanjang tahun, terutama antara bulan November dan April. Seekor harimau betina mengalami estrus selama tiga hingga enam hari dalam satu waktu, dengan interval tiga hingga sembilan minggu.[45] Pejantan residen kawin dengan semua betina di dalam daerah jelajahnya, yang memberi sinyal penerimaan mereka dengan mengaum dan menandai wilayah.[139][140] Pejantan pengelana yang lebih muda juga tertarik, yang menyebabkan perkelahian di mana pejantan residen yang lebih dominan mengusir perebut kekuasaan tersebut.[141][139] Selama masa pacaran, pejantan berhati-hati dengan betina sampai betina menunjukkan kesiapan untuk kawin dengan memposisikan dirinya dalam keadaan lordosis dengan ekor menyamping. Kopulasi biasanya berlangsung tidak lebih dari 20 detik, dengan pejantan menggigit tengkuk leher betina. Setelah selesai, pejantan dengan cepat menjauh karena betina mungkin berbalik dan menamparnya.[139] Pasangan harimau dapat tetap bersama hingga empat hari dan kawin beberapa kali.[142] Masa kehamilan berlangsung sekitar atau lebih dari tiga bulan.[45]

Harimau betina melahirkan di lokasi terpencil, baik di vegetasi lebat, di dalam gua, atau di bawah naungan batu.[143] Anak sekelahiran dapat mencapai hingga tujuh anak sekaligus, tetapi dua atau tiga anak lebih umum.[141][143] Anak harimau yang baru lahir memiliki berat 785–1.610 g (27,7–56,8 oz) serta buta dan altrisial.[143] Induk menjilat dan membersihkan anak-anaknya, menyusui mereka, dan dengan ganas melindungi mereka dari segala ancaman potensial.[141] Anak-anak harimau membuka mata mereka pada usia tiga hingga 14 hari dan penglihatan mereka menjadi jelas setelah beberapa minggu kemudian.[143] Mereka dapat meninggalkan sarang setelah dua bulan dan sekitar waktu yang sama mereka mulai makan daging.[141][144] Induk hanya meninggalkan mereka sendirian untuk berburu dan bahkan kemudian ia tidak pergi jauh.[145] Ketika ia mencurigai suatu area tidak lagi aman, ia memindahkan anak-anaknya ke tempat baru, mengangkut mereka satu per satu dengan mencengkeram tengkuk leher mereka menggunakan mulutnya.[146] Seekor harimau betina di Cagar Biosfer Sikhote-Alin memaksimalkan waktu yang dihabiskan bersama anak-anaknya dengan mengurangi daerah jelajahnya, membunuh mangsa yang lebih besar, dan kembali ke sarangnya lebih cepat daripada saat tanpa anak; ketika anak-anaknya mulai makan daging, ia membawa mereka ke lokasi pembunuhan mangsa, sehingga mengoptimalkan perlindungan dan akses makanan bagi mereka.[147] Di cagar yang sama, satu dari 21 anak harimau mati dalam pemantauan selama lebih dari delapan tahun dan mortalitas tidak berbeda antara harimau muda jantan dan betina.[148] Pemantauan harimau selama enam tahun di Cagar Harimau Ranthambore menunjukkan tingkat kelangsungan hidup tahunan rata-rata sekitar 85 persen untuk 74 anak harimau jantan dan betina; tingkat kelangsungan hidup meningkat menjadi 97 persen untuk harimau muda jantan dan betina berusia satu hingga dua tahun.[149] Penyebab kematian anak harimau meliputi predator, banjir, kebakaran, kematian induk, dan cedera fatal.[146][150][151][149]

Harimau betina dengan anaknya di salju
Seekor harimau siberia betina dengan anaknya di Kebun Binatang Buffalo

Setelah sekitar dua bulan, anak-anak harimau sudah dapat mengikuti induknya. Mereka masih bersembunyi di vegetasi saat induknya pergi berburu. Harimau muda menjalin ikatan melalui permainan perkelahian dan latihan mengintai. Hierarki berkembang dalam kelompok anak harimau, dengan anak terbesar, seringkali jantan, menjadi yang paling dominan dan yang pertama makan sampai kenyang saat ada hasil buruan.[152] Sekitar usia enam bulan, anak-anak harimau sepenuhnya disapih dan memiliki kebebasan lebih untuk menjelajahi lingkungan mereka. Antara usia delapan dan sepuluh bulan, mereka menemani induknya berburu.[115] Seekor anak harimau dapat membunuh mangsa sedini usia 11 bulan dan mencapai kemandirian sebagai remaja pada usia 18 hingga 24 bulan; jantan menjadi mandiri lebih awal daripada betina.[153][149] Harimau yang dipasangi kalung radio di Chitwan mulai meninggalkan daerah kelahiran mereka pada usia 19 bulan.[87] Betina muda mencapai kematangan seksual pada usia tiga hingga empat tahun, sedangkan jantan pada usia empat hingga lima tahun.[45] Panjang generasi harimau adalah sekitar 7–10 tahun.[154] Harimau benggala liar hidup selama 12–15 tahun.[155] Data dari Studbook Harimau Internasional 1938–2018 menunjukkan bahwa harimau di penangkaran hidup hingga 19 tahun.[156]

Ayah harimau tidak berperan dalam membesarkan anak, tetapi ia bertemu dan berinteraksi dengan mereka. Pejantan residen tampak mengunjungi keluarga induk-anak di dalam daerah jelajahnya. Mereka bersosialisasi dan bahkan berbagi hasil buruan.[157][158] Seekor jantan pernah tercatat merawat anak-anak yang induknya telah mati.[159] Dengan mempertahankan daerah jelajahnya, pejantan melindungi betina dan anak-anak dari pejantan lain.[160] Ketika pejantan baru mengambil alih, anak-anak yang masih bergantung berisiko mengalami infantisida karena pejantan tersebut berusaha untuk menghasilkan keturunannya sendiri dengan betina-betina itu.[161] Studi selama tujuh tahun di Taman Nasional Chitwan mengungkapkan bahwa 12 dari 56 anak harimau dan remaja yang terdeteksi dibunuh oleh pejantan baru yang mengambil alih daerah jelajah.[151]

Kesehatan dan penyakit

[sunting | sunting sumber]

Harimau tercatat sebagai inang bagi berbagai parasit, termasuk cacing pita seperti Diphyllobothrium erinacei dan Taenia pisiformis di India, serta nematoda seperti spesies Toxocara di India, maupun spesies Physaloptera preputialis, Dirofilaria ursi, dan Uiteinarta di Siberia.[45] Distemper anjing diketahui menjangkiti harimau siberia.[162] Infeksi morbillivirus kemungkinan besar menjadi penyebab kematian seekor harimau betina di Timur Jauh Rusia yang juga dinyatakan positif mengidap panleukopenia kucing dan koronavirus kucing.[163] Sampel darah dari 11 harimau dewasa di Nepal menunjukkan adanya antibodi terhadap parvovirus anjing-2, herpesvirus kucing, koronavirus kucing, leptospirosis, dan Toxoplasma gondii.[164]

Harimau telah terdaftar sebagai spesies Genting dalam Daftar Merah IUCN sejak tahun 1986 dan populasi harimau global diperkirakan terus mengalami penurunan dari estimasi populasi 5.000–8.262 ekor pada akhir tahun 1990-an menjadi 3.726–5.578 individu menurut estimasi tahun 2022.[1] Sepanjang periode 2001–2020, bentang alam yang menjadi habitat harimau menyusut dari 1.025.488 km2 (395.943 sq mi) menjadi 911.901 km2 (352.087 sq mi).[63] Perusakan habitat, fragmentasi habitat, dan perburuan liar untuk diambil kulit serta bagian tubuhnya merupakan ancaman utama yang berkontribusi terhadap penurunan populasi harimau di seluruh negara persebarannya.[1]

Kawasan lindung di India tengah sangat terfragmentasi akibat infrastruktur linier seperti jalan raya, jalur kereta api, jalur transmisi, saluran irigasi, dan aktivitas pertambangan di sekitarnya.[165] Di Wilayah Tanintharyi di Myanmar selatan, deforestasi yang beriringan dengan aktivitas pertambangan dan tekanan perburuan yang tinggi mengancam populasi harimau.[166] Di Thailand, sembilan dari 15 kawasan lindung yang menjadi habitat harimau kini terisolasi dan terfragmentasi, sehingga memberikan probabilitas yang rendah bagi penyebaran antar-kawasan tersebut; empat di antaranya sudah tidak lagi dihuni harimau sejak sekitar tahun 2013.[167] Di Semenanjung Malaysia, habitat harimau seluas 83.157 km2 (32.107 sq mi) telah dibuka selama kurun waktu 1988–2012, yang sebagian besarnya diperuntukkan bagi perkebunan industri.[168] Akuisisi lahan berskala besar seluas sekitar 23.000 km2 (8.900 sq mi) untuk pertanian komersial dan ekstraksi kayu di Kamboja berkontribusi terhadap fragmentasi habitat potensial harimau, terutama di Dataran Timur.[169] Depresi penangkaran sanak yang disertai dengan perusakan habitat, sumber daya mangsa yang tidak mencukupi, serta perburuan liar merupakan ancaman bagi populasi harimau yang kecil dan terisolasi di Pegunungan Changbai di sepanjang perbatasan Tiongkok–Rusia.[170] Di Tiongkok, harimau menjadi target kampanye 'anti-hama' berskala besar pada awal 1950-an, di mana habitat yang sesuai terfragmentasi menyusul deforestasi dan pemukiman kembali penduduk ke daerah pedesaan, yang kemudian memburu harimau dan spesies mangsanya. Meskipun perburuan harimau telah dilarang pada tahun 1977, populasinya terus menurun dan dianggap punah di Tiongkok Selatan sejak tahun 2001.[171][172]

Permadani kulit harimau dipajang di dinding di belakang seorang pria bersenjata
Kulit harimau Jawa, 1915

Populasi harimau di India telah menjadi sasaran pemburu liar sejak tahun 1990-an dan mengalami kepunahan lokal di dua cagar alam harimau pada tahun 2005 dan 2009.[173] Antara Maret 2017 dan Januari 2020, 630 aktivitas pemburu yang menggunakan jerat, jaring hanyut, panggung berburu, dan anjing pemburu ditemukan di hutan lindung seluas sekitar 1.000 km2 (390 sq mi) di Myanmar selatan.[174] Taman Nasional Nam Et-Phou Louey dianggap sebagai situs penting terakhir bagi harimau di Laos, namun harimau belum tercatat lagi di sana setidaknya sejak tahun 2013; populasi ini kemungkinan besar menjadi korban penjeratan tanpa pandang bulu.[175] Unit anti-perburuan liar di bentang alam Kerinci Seblat Sumatra berhasil menyingkirkan 362 jerat harimau dan menyita 91 kulit harimau selama periode 2005–2016; tingkat perburuan liar tahunan meningkat seiring dengan naiknya harga kulit.[176] Perburuan liar juga menjadi ancaman utama bagi populasi harimau di Timur Jauh Rusia, di mana jalan penebangan kayu mempermudah akses bagi para pemburu liar dan orang-orang yang memanen hasil hutan, yang sebenarnya penting bagi kelangsungan hidup spesies mangsa di musim dingin.[177]

Bagian tubuh dari 207 harimau ditemukan selama 21 survei pada periode 1991–2014 di dua pasar satwa liar di Myanmar yang melayani pembeli di Thailand dan Tiongkok.[178] Selama tahun 2000–2022, setidaknya 3.377 harimau disita dalam 2.205 kasus penyitaan di 28 negara; penyitaan tersebut mencakup 665 individu hidup dan 654 mati, 1.313 kulit harimau utuh, 16.214 bagian tubuh seperti tulang, gigi, telapak kaki, kuku, kumis, dan 11 t (11 ton panjang; 12 ton pendek) daging; 759 penyitaan di India mencakup bagian tubuh dari 893 harimau; dan 403 penyitaan di Thailand sebagian besar melibatkan harimau hasil penangkaran.[179] Penyitaan di Nepal antara Januari 2011 dan Desember 2015 berhasil mengamankan 585 potong bagian tubuh harimau dan dua bangkai utuh di 19 distrik.[180] Data penyitaan dari India selama 2001–2021 mengindikasikan bahwa kulit harimau adalah bagian tubuh yang paling sering diperdagangkan, diikuti oleh kuku, tulang, dan gigi; jalur perdagangan ilegal terutama melewati negara bagian Maharashtra, Karnataka, Tamil Nadu, dan Assam.[181] Sebanyak 292 bagian tubuh harimau ilegal disita di pintu masuk Amerika Serikat dari bagasi pribadi, kargo udara, dan pos antara tahun 2003 dan 2012.[182]

Permintaan bagian tubuh harimau untuk digunakan dalam pengobatan tradisional Tionghoa juga telah disebut sebagai ancaman utama bagi populasi harimau.[183] Wawancara dengan penduduk setempat di Sundarbans Bangladesh mengungkapkan bahwa mereka membunuh harimau untuk konsumsi lokal serta perdagangan kulit, tulang, dan daging, sebagai bentuk balas dendam atas serangan harimau dan demi kesenangan semata.[184] Bagian tubuh harimau seperti kulit, tulang, gigi, dan bulu dikonsumsi secara lokal oleh warga Bangladesh dari kalangan berada dan diselundupkan secara ilegal dari Bangladesh ke 15 negara termasuk India, Tiongkok, Malaysia, Korea, Vietnam, Kamboja, Jepang, dan Britania Raya melalui perbatasan darat, bandara, dan pelabuhan laut.[185] Lem tulang harimau merupakan produk harimau yang paling umum dibeli untuk tujuan pengobatan di Hanoi dan Kota Ho Chi Minh.[186] Fasilitas "peternakan harimau" di Tiongkok dan Asia Tenggara membiakkan harimau untuk diambil bagian tubuhnya, namun hal ini tampaknya justru memperburuk ancaman terhadap populasi liar dengan meningkatkan permintaan akan produk harimau.[187]

Pembunuhan harimau oleh masyarakat setempat sebagai bentuk pembalasan atas serangan dan pemangsaan ternak merupakan ancaman di beberapa negara wilayah persebaran harimau, mengingat konsekuensi dari konflik manusia–satwa liar ini turut berkontribusi terhadap penurunan populasi mereka.[188][189][190][191][192]

Konservasi

[sunting | sunting sumber]
Populasi harimau liar global
Negara Tahun Estimasi
India India20223.167–3.682[193]
Rusia Rusia2022573–600[194]
Indonesia Indonesia2022393[194]
Nepal Nepal2022316–355[195]
Thailand Thailand2022148–189[194]
Malaysia Malaysia2022<150[194]
Bhutan Bhutan2022131[196]
Bangladesh Bangladesh2022118–122[197]
Tiongkok Tiongkok2022>60[194]
Myanmar Myanmar202228[194]
Total5.638–5.899

Secara internasional, harimau dilindungi di bawah Appendiks I CITES, yang melarang perdagangan harimau hidup maupun bagian tubuhnya.[1] Di Rusia, perburuan harimau telah dilarang sejak tahun 1952.[198] Di Bhutan, satwa ini telah dilindungi sejak tahun 1969 dan terdaftar sebagai satwa yang dilindungi sepenuhnya sejak tahun 1995.[199] Sejak tahun 1972, harimau mendapatkan tingkat perlindungan tertinggi di bawah Undang-Undang Perlindungan Satwa Liar, 1972 India.[200] Di Nepal dan Bangladesh, harimau telah dilindungi sejak tahun 1973.[200][185] Sejak tahun 1976, harimau dilindungi sepenuhnya di bawah Undang-Undang Perlindungan Satwa Liar Malaysia,[201] dan Undang-Undang Konservasi Satwa Liar negara tersebut yang disahkan pada tahun 2010 meningkatkan hukuman bagi kejahatan terkait satwa liar.[194] Di Indonesia, hewan ini telah dilindungi sejak tahun 1990.[202] Di Tiongkok, perdagangan bagian tubuh harimau dilarang pada tahun 1993.[203] Undang-Undang Pelestarian dan Perlindungan Satwa Liar Thailand disahkan pada tahun 2019 guna memerangi perburuan liar dan perdagangan bagian tubuh satwa.[204]

Pada tahun 1973, Otoritas Konservasi Harimau Nasional dan Project Tiger didirikan di India untuk menghimpun dukungan publik bagi konservasi harimau.[173] Sejak saat itu, 53 cagar alam harimau yang mencakup area seluas 75.796 km2 (29.265 sq mi) telah ditetapkan di negara tersebut hingga tahun 2022.[193] Upaya-upaya ini berkontribusi pada pemulihan populasi harimau India antara tahun 2006 dan 2018 sehingga kini menempati wilayah seluas sekitar 138.200 km2 (53.400 sq mi).[205]

Strategi konservasi harimau nasional Myanmar yang dikembangkan pada tahun 2003 mencakup tugas-tugas manajemen seperti restorasi habitat yang terdegradasi, perluasan kawasan lindung dan koridor satwa liar, perlindungan spesies mangsa harimau, pencegahan pembunuhan dan perdagangan ilegal bagian tubuh harimau, serta peningkatan kesadaran publik melalui program edukasi satwa liar.[206] Rencana Aksi Harimau pertama Bhutan yang dilaksanakan selama 2006–2015 berfokus pada konservasi habitat, manajemen konflik manusia–satwa liar, pendidikan, dan kesadaran; Rencana Aksi kedua bertujuan meningkatkan populasi harimau di negara tersebut sebesar 20% hingga tahun 2023 dibandingkan dengan tahun 2015.[199] Pada tahun 2009, Rencana Aksi Harimau Bangladesh diinisiasi untuk menstabilkan populasi harimau di negara tersebut, memelihara habitat dan ketersediaan mangsa yang cukup, meningkatkan penegakan hukum, serta membina kerja sama antar-lembaga pemerintah yang bertanggung jawab atas konservasi harimau.[207] Rencana Aksi Harimau Thailand yang disahkan pada tahun 2010 menargetkan peningkatan populasi harimau negara itu sebesar 50% di Kompleks Hutan Barat dan Kompleks Hutan Dong Phayayen–Khao Yai serta membangun kembali populasi di tiga bentang alam potensial hingga tahun 2022.[208] Program Pemulihan Harimau Nasional Indonesia yang disahkan pada tahun 2010 bertujuan untuk meningkatkan populasi harimau Sumatra pada tahun 2022.[209] Rencana strategi dan aksi ketiga untuk konservasi harimau Sumatra tahun 2020–2030 berfokus pada penguatan manajemen unit populasi harimau kecil yang berjumlah kurang dari 20 individu dewasa serta konektivitas antara 13 kantong hutan di provinsi Sumatra Utara dan Sumatra Barat.[210]

Foto wajah harimau di malam hari dekat dengan kamera
Harimau Sumatra liar yang tertangkap oleh kamera jebak

Peningkatan upaya patroli anti-perburuan liar di empat kawasan lindung Rusia selama periode 2011–2014 berkontribusi dalam menekan angka perburuan liar, menstabilkan populasi harimau, serta meningkatkan perlindungan terhadap populasi ungulata.[211] Perburuan liar dan perdagangan ilegal dinyatakan sebagai tindak pidana sedang dan berat pada tahun 2019.[194] Operasi anti-perburuan liar juga dibentuk di Nepal pada tahun 2010, disertai dengan peningkatan kerja sama dan pertukaran intelijen antar-lembaga. Kebijakan-kebijakan ini telah menghasilkan capaian "nol perburuan liar" selama bertahun-tahun dan populasi harimau di negara tersebut telah meningkat dua kali lipat dalam satu dekade.[194] Patroli anti-perburuan liar di area inti Taman Negara yang seluas 1.200 km2 (460 sq mi) menyebabkan penurunan frekuensi perburuan liar dari 34 insiden yang terdeteksi pada 2015–2016 menjadi 20 insiden selama 2018–2019; penangkapan tujuh kelompok pemburu liar dan pembersihan jerat memfasilitasi kelangsungan hidup tiga harimau betina residen dan setidaknya 11 anak harimau.[212] Personel tentara dan kepolisian dikerahkan untuk berpatroli bersama dengan staf kawasan lindung di Malaysia.[194]

Koridor satwa liar merupakan langkah konservasi yang penting karena memfasilitasi populasi harimau untuk terhubung antar-kawasan lindung; harimau menggunakan setidaknya sembilan koridor yang dibangun di Bentang Alam Terai Arc dan Bukit Siwalik baik di Nepal maupun India.[213] Koridor di kawasan berhutan dengan tingkat perambahan manusia yang rendah dinilai sangat sesuai.[214][215] Di Sumatra Barat, 12 koridor satwa liar diidentifikasi sebagai prioritas tinggi untuk memitigasi konflik manusia–satwa liar.[216] Pada tahun 2019, Tiongkok dan Rusia menandatangani nota kesepahaman untuk kerja sama lintas batas antara dua kawasan lindung, yakni Taman Nasional Harimau dan Macan Tutul Tiongkok Timur Laut dan Taman Nasional Land of the Leopard, yang mencakup pembuatan koridor satwa liar serta pemantauan dan patroli bilateral di sepanjang perbatasan Tiongkok–Rusia.[217]

Harimau bermasalah yang diselamatkan dan direhabilitasi serta anak harimau yatim piatu telah dilepasliarkan ke alam liar dan dipantau di India, Sumatra, dan Rusia.[82][218][219] Di Kazakhstan, pemulihan habitat dan reintroduksi spesies mangsa di Cagar Alam Ile-Balkash telah mengalami kemajuan dan reintroduksi harimau direncanakan pada tahun 2025.[220] Reintroduksi harimau dianggap memungkinkan di Kamboja timur, apabila pengelolaan kawasan lindung ditingkatkan dan laju kehilangan hutan berhasil distabilkan.[221] Harimau Tiongkok Selatan dipelihara dan dikembangbiakkan di kebun binatang Tiongkok, dengan rencana untuk mereintroduksi keturunan mereka ke kawasan lindung terpencil.[13][114] Program pembiakan yang terkoordinasi antar-kebun binatang telah menghasilkan keragaman genetik yang memadai pada harimau untuk bertindak sebagai "asuransi terhadap kepunahan di alam liar".[222]

Hubungan dengan manusia

[sunting | sunting sumber]
Lukisan orang-orang yang berburu harimau dengan menunggang gajah
Perburuan harimau dengan menunggang gajah di India, 1808

Perburuan

[sunting | sunting sumber]

Harimau telah diburu oleh manusia selama ribuan tahun, seperti yang diindikasikan oleh sebuah lukisan di Situs perlindungan batu Bhimbetka di India yang bertarikh 5.000–6.000 tahun yang lalu. Mereka diburu di seluruh wilayah persebarannya di Asia, dikejar dengan menunggang kuda, gajah, atau bahkan dengan anjing penarik kereta luncur, lalu dibunuh dengan tombak dan kemudian senjata api. Perburuan semacam itu dilakukan baik oleh pemerintah dan kekaisaran Asia seperti Kekaisaran Mughal, maupun oleh para penjajah Eropa. Harimau sering diburu sebagai trofi dan karena dianggap membahayakan.[223] Diperkirakan 80.000 harimau dibunuh antara tahun 1875 dan 1925.[224][225]

Harimau berdiri di sepanjang tepian rawa bakau
Seekor harimau Benggala di Sundarban

Di sebagian besar wilayah, harimau menghindari manusia, namun serangan menjadi risiko di mana pun manusia hidup berdampingan dengan mereka.[226][227] Pertemuan yang berbahaya lebih mungkin terjadi di habitat tepi antara kawasan liar dan pertanian.[226] Sebagian besar serangan terhadap manusia bersifat defensif, termasuk untuk melindungi anak-anaknya; akan tetapi, harimau terkadang memang memandang manusia sebagai mangsa.[227] Harimau pemangsa manusia cenderung sudah tua dan cacat.[55] Harimau yang terusir dari daerah jelajahnya juga berisiko beralih menjadi pemangsa manusia.[228]

Pada awal abad ke-20, Harimau Champawat bertanggung jawab atas lebih dari 430 kematian manusia di Nepal dan India sebelum ia ditembak oleh Jim Corbett.[229] Harimau betina ini menderita patah gigi dan tidak mampu membunuh mangsa normal. Penulis modern berspekulasi bahwa bertahan hidup dengan daging manusia yang sedikit memaksa kucing besar ini untuk membunuh semakin banyak korban.[230] Serangan harimau sangat tinggi di Singapura selama pertengahan abad ke-19, ketika perkebunan meluas ke habitat harimau.[231] Pada tahun 1840-an, jumlah kematian di daerah tersebut berkisar antara 200 hingga 300 orang setiap tahunnya.[232] Serangan harimau di Sundarban menyebabkan 1.396 kematian manusia pada periode 1935–2006 menurut catatan resmi Departemen Kehutanan Bangladesh.[233] Korban serangan ini adalah penduduk desa setempat yang memasuki wilayah kekuasaan harimau untuk mengumpulkan sumber daya seperti kayu dan madu. Nelayan secara khusus menjadi sasaran yang umum. Metode untuk menanggulangi serangan harimau mencakup penggunaan topeng wajah yang dikenakan menghadap ke belakang, pakaian pelindung, tongkat, dan boneka listrik yang ditempatkan dengan cermat.[234]

Penangkaran

[sunting | sunting sumber]
Harimau di Big Cat Rescue pada tahun 2014
Foto publisitas pelatih hewan Gunther Gebel-Williams dengan beberapa harimau terlatihnya, ca 1969

Harimau telah dipelihara dalam penangkaran sejak zaman kuno. Di Romawi kuno, harimau dipamerkan di amfiteater; mereka dibantai dalam perburuan venatio dan digunakan untuk membunuh penjahat.[235] Penguasa Mongol Kubilai Khan dilaporkan telah memelihara harimau pada abad ke-13. Bermula pada Abad Pertengahan, harimau mulai dipelihara di taman hewan Eropa.[236] Harimau dan hewan eksotis lainnya terutama digunakan untuk hiburan kaum elit, namun sejak abad ke-19 dan seterusnya, mereka lebih banyak dipamerkan kepada masyarakat umum. Harimau menjadi daya tarik yang sangat besar dan populasi penangkarannya melonjak.[237] Pada tahun 2020, terdapat lebih dari 8.000 harimau di penangkaran di Asia, lebih dari 5.000 di AS, dan tidak kurang dari 850 di Eropa.[238] Terdapat lebih banyak harimau di penangkaran daripada di alam liar.[222] Harimau di penangkaran dapat menunjukkan perilaku stereotip seperti mondar-mandir atau ketidakaktifan. Kebun binatang modern mampu mengurangi perilaku tersebut dengan pameran yang dirancang sedemikian rupa sehingga hewan dapat berpindah di antara kandang-kandang yang terpisah namun saling terhubung.[239] Benda-benda pengayaan juga penting bagi kesejahteraan kucing besar ini serta stimulasi perilaku alaminya.[240]

Harimau telah memainkan peran menonjol dalam sirkus dan pertunjukan langsung lainnya. Ringling Bros menyertakan banyak pawang harimau pada abad ke-20, termasuk Mabel Stark, yang menjadi daya tarik besar dan memiliki karier yang panjang. Ia terkenal karena kemampuannya mengendalikan harimau meskipun bertubuh mungil; menggunakan alat-alat "jantan" seperti cambuk dan senjata api. Pelatih lainnya adalah Clyde Beatty, yang menggunakan kursi, cambuk, dan senjata api untuk memprovokasi harimau dan binatang buas lainnya agar bertindak garang, yang membuatnya tampak berani. Ia biasa tampil dengan sebanyak 40 harimau dan singa dalam satu babak pertunjukan. Mulai tahun 1960-an dan seterusnya, pelatih seperti Gunther Gebel-Williams menggunakan metode yang lebih lembut untuk mengendalikan hewan mereka. Sara Houcke dijuluki "Pembisik Harimau" karena ia melatih kucing-kucing besar tersebut untuk mematuhinya dengan cara berbisik kepada mereka.[241] Siegfried & Roy menjadi terkenal karena tampil bersama harimau putih di Las Vegas. Pertunjukan tersebut berakhir pada tahun 2003 ketika seekor harimau menyerang Roy saat sedang tampil.[242] Pada tahun 2009, harimau adalah hewan sirkus yang paling banyak diperdagangkan.[243] Penggunaan harimau dan hewan lain dalam pertunjukan akhirnya menurun di banyak negara akibat tekanan dari kelompok hak asasi hewan dan keinginan yang lebih besar dari masyarakat untuk melihat mereka dalam lingkungan yang lebih alami. Beberapa negara membatasi atau melarang pertunjukan semacam itu.[244]

Harimau menjadi populer dalam perdagangan peliharaan eksotis, terutama di Amerika Serikat[245] di mana hanya 6% dari populasi harimau penangkaran pada tahun 2020 ditempatkan di kebun binatang dan fasilitas lain yang disetujui oleh Asosiasi Kebun Binatang dan Akuarium.[187] Kolektor pribadi dianggap tidak memiliki perlengkapan yang memadai untuk memberikan perawatan yang tepat bagi harimau, sehingga mengorbankan kesejahteraan satwa tersebut. Mereka juga dapat mengancam keselamatan publik dengan membiarkan orang berinteraksi dengan harimau.[187] Pemeliharaan harimau dan kucing besar lainnya oleh perorangan dilarang di AS pada tahun 2022.[246] Sebagian besar negara di Uni Eropa telah melarang pembiakan dan pemeliharaan harimau di luar kebun binatang berlisensi dan pusat penyelamatan, namun beberapa negara masih mengizinkan kepemilikan pribadi.[247]

Dalam budaya

[sunting | sunting sumber]
Lencana harimau hitam dengan garis-garis emas
Jie (lencana otoritas) berbentuk harimau dengan tatahan emas, dari makam Zhao Mo

Harimau merupakan salah satu yang paling masyhur di antara megafauna karismatik. Kailash Sankhala menyebutnya sebagai "kombinasi langka antara keberanian, kebuasan, dan warna yang cemerlang",[141] sementara Candy d'Sa melukiskannya sebagai sosok yang "garang dan berwibawa di luar, namun mulia dan bijaksana di dalam". Dalam sebuah jajak pendapat daring tahun 2004 yang melibatkan lebih dari 50.000 orang dari 73 negara, harimau terpilih sebagai hewan favorit dunia dengan perolehan 21% suara, mengungguli anjing dengan selisih tipis.[248] Senada dengan itu, sebuah studi tahun 2018 menemukan bahwa harimau adalah hewan liar yang paling populer berdasarkan survei, serta kemunculannya di situs web kebun binatang besar dan poster beberapa film animasi.[249]

Jika singa melambangkan kerajaan dan kekuasaan dalam budaya Barat, harimau memegang peranan tersebut dalam berbagai budaya Asia. Di Tiongkok kuno, harimau dipandang sebagai "raja hutan" dan menyimbolkan kekuasaan kaisar.[250] Dalam Astrologi Tiongkok, harimau adalah simbol ketiga dari 12 lambang dalam zodiak Tionghoa dan menguasai periode waktu antara pukul 15.00 dan 17.00 sore. Tahun Harimau dipercaya membawa "peristiwa dramatis dan ekstrem". Harimau Putih adalah salah satu dari Empat Simbol dalam Rasi bintang Tiongkok, yang mewakili arah barat bersama dengan yin dan musim gugur. Ia adalah pasangan dari Naga Biru, yang sebaliknya melambangkan timur, yang, dan musim semi.[251] Harimau adalah salah satu hewan yang ditampilkan pada Segel Pashupati dari Peradaban Lembah Indus. Kucing besar ini juga digambarkan pada segel dan koin selama masa Dinasti Chola di India selatan, karena hewan ini merupakan lambang resmi dinasti tersebut.[252]

Lukisan dewi berlengan delapan menunggangi harimau yang menggigit iblis kerbau
Dewi Hindu Durga menunggangi seekor harimau. Aliran Guler, awal abad ke-18

Harimau memiliki signifikansi religius dan folklor. Dalam Buddhisme, harimau, monyet, dan rusa adalah Tiga Makhluk Tidak Berakal (Three Senseless Creatures), dengan harimau melambangkan kemarahan.[253] Dalam Hinduisme, harimau adalah wahana bagi Durga, dewi kekuatan feminin dan perdamaian, yang diciptakan para dewa untuk memerangi iblis. Demikian pula, dalam dunia Yunani-Romawi, dewa Dionisos digambarkan menunggangi harimau. Dalam mitologi Korea, harimau adalah pembawa pesan para Dewa Gunung.[254] Baik dalam budaya Tionghoa maupun budaya Korea, harimau dipandang sebagai pelindung dari roh jahat dan citranya digunakan untuk menghiasi rumah, makam, dan pakaian.[250][255][256] Dalam cerita rakyat Malaysia dan Indonesia, "pawang harimau" menyembuhkan orang sakit dengan memanggil roh kucing besar tersebut. Keyakinan tentang manusia yang berubah menjadi harimau dan sebaliknya juga tersebar luas; khususnya harimau jadian, yakni orang yang dapat mengubah wujud menjadi harimau dan kembali lagi menjadi manusia. Suku Mnong di Indocina percaya bahwa harimau dapat berubah wujud menjadi manusia.[256] Di antara beberapa penduduk asli Siberia, diyakini bahwa pria akan merayu wanita dengan mengubah diri menjadi harimau.[250]

Puisi karya William Blake tahun 1794 berjudul "The Tyger" menggambarkan hewan ini sebagai dualitas antara keindahan dan keganasan. Puisi ini adalah pasangan dari "The Lamb" dalam kumpulan puisi Blake Songs of Innocence and of Experience, di mana ia merenungkan bagaimana Tuhan dapat menciptakan makhluk yang begitu berbeda. Harimau ditampilkan dalam novel Tiongkok abad pertengahan Tepi Air, di mana kucing besar ini bertarung dan dibunuh oleh bandit Wu Song, sementara harimau Shere Khan dalam karya Rudyard Kipling, The Jungle Book (1894), adalah musuh bebuyutan dari protagonis manusia Mowgli. Harimau jinak yang bersahabat juga hadir dalam budaya populer, terutama Tigger, karakter dalam Winnie-the-Pooh, dan Tony the Tiger, maskot sereal Kellogg's.[257]

Lihat pula

[sunting | sunting sumber]

Catatan kaki

[sunting | sunting sumber]

    Referensi

    [sunting | sunting sumber]
    1. 1 2 3 4 5 6 7 8 Goodrich, J.; Wibisono, H.; Miquelle, D.; Lynam, A.J; Sanderson, E.; Chapman, S.; Gray, T. N. E.; Chanchani, P. & Harihar, A. (2022). "Panthera tigris" e.T15955A214862019. doi:10.2305/IUCN.UK.2022-1.RLTS.T15955A214862019.en. ;
    2. 1 2 3 4 Linnaeus, C. (1758). "Felis tigris". Caroli Linnæi Systema naturæ per regna tria naturæ, secundum classes, ordines, genera, species, cum characteribus, differentiis, synonymis, locis (dalam bahasa Latin). Vol. Tomus I (Edisi decima, reformata). Holmiae: Laurentius Salvius. hlm. 41.
    3. Ellerman, J. R. & Morrison-Scott, T. C. S. (1951). "Panthera tigris, Linnaeus, 1758". Checklist of Palaearctic and Indian mammals 1758 to 1946. London: British Museum. hlm. 318–319.
    4. 1 2 3 Blust, Robert; Trussel, Stephen (2020). "PWMP *qari-maquŋ Wild Feline". Austronesian Comparative Dictionary. Diakses tanggal 4 Desember 2025.
    5. Pocock, R. I. (1929). "Tigers". Journal of the Bombay Natural History Society. 33 (3): 505–541.
    6. 1 2 3 Pocock, R. I. (1939). "Panthera tigris". The Fauna of British India, Including Ceylon and Burma. Vol. Mammalia. Volume 1. London: T. Taylor and Francis, Ltd. hlm. 197–210.
    7. 1 2 Wozencraft, W. C. (2005). "Species Panthera tigris". Dalam Wilson, D. E.; Reeder, D. M. (ed.). Mammal Species of the World: A Taxonomic and Geographic Reference (Edisi 3). Johns Hopkins University Press. hlm. 546. ISBN 978-0-8018-8221-0. OCLC 62265494.
    8. 1 2 Wilting, A.; Courtiol, A.; Christiansen, P.; Niedballa, J.; Scharf, A. K.; Orlando, L.; Balkenhol, N.; Hofer, H.; Kramer-Schadt, S.; Fickel, J. & Kitchener, A. C. (2015). "Planning tiger recovery: Understanding intraspecific variation for effective conservation". Science Advances. 11 (5) e1400175. Bibcode:2015SciA....1E0175W. doi:10.1126/sciadv.1400175. PMC 4640610. PMID 26601191.
    9. 1 2 3 Kitchener, A. (1999). "Tiger distribution, phenotypic variation and conservation issues" in Seidensticker, Christie & Jackson 1999, hlm. 19–39
    10. 1 2 3 4 Kitchener, A. C.; Breitenmoser-Würsten, C.; Eizirik, E.; Gentry, A.; Werdelin, L.; Wilting, A.; Yamaguchi, N.; Abramov, A. V.; Christiansen, P.; Driscoll, C.; Duckworth, J. W.; Johnson, W.; Luo, S.-J.; Meijaard, E.; O'Donoghue, P.; Sanderson, J.; Seymour, K.; Bruford, M.; Groves, C.; Hoffmann, M.; Nowell, K.; Timmons, Z. & Tobe, S. (2017). "A revised taxonomy of the Felidae: The final report of the Cat Classification Task Force of the IUCN Cat Specialist Group" (PDF). Cat News (Special Issue 11): 66–68. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 17 January 2020. Diakses tanggal 27 August 2019.
    11. Liu, Y.-C.; Sun, X.; Driscoll, C.; Miquelle, D. G.; Xu, X.; Martelli, P.; Uphyrkina, O.; Smith, J. L. D.; O'Brien, S. J. & Luo, S.-J. (2018). "Genome-wide evolutionary analysis of natural history and adaptation in the world's tigers". Current Biology. 28 (23): 3840–3849. Bibcode:2018CBio...28E3840L. doi:10.1016/j.cub.2018.09.019. PMID 30482605.
    12. Armstrong, E. E.; Khan, A.; Taylor, R. W.; Gouy, A.; Greenbaum, G.; Thiéry, A; Kang, J. T.; Redondo, S. A.; Prost, S.; Barsh, G.; Kaelin, C.; Phalke, S.; Chugani, A.; Gilbert, M.; Miquelle, D.; Zachariah, A.; Borthakur, U.; Reddy, A.; Louis, E.; Ryder, O. A.; Jhala, Y. V.; Petrov, D.; Excoffier, L.; Hadly, E. & Ramakrishnan, U. (2021). "Recent evolutionary history of tigers highlights contrasting roles of genetic drift and selection". Molecular Biology and Evolution. 38 (6): 2366–2379. doi:10.1093/molbev/msab032. PMC 8136513. PMID 33592092.
    13. 1 2 3 Wang, C.; Wu, D. D.; Yuan, Y. H.; Yao, M. C.; Han, J. L.; Wu, Y. J.; Shan, F.; Li, W. P.; Zhai, J. Q.; Huang, M; Peng, S. H.; Cai, Q .H.; Yu, J. Y.; Liu, Q. X.; Lui, Z. Y.; Li, L. X.; Teng, M. S.; Huang, W.; Zhou, J. Y.; Zhang, C.; Chen, W. & Tu, X. L. (2023). "Population genomic analysis provides evidence of the past success and future potential of South China tiger captive conservation". BMC Biology. 21 (1): 64. doi:10.1186/s12915-023-01552-y. PMC 10111772. PMID 37069598.
    14. 1 2 3 Sun, X.; Liu, Y.-C.; Tiunov, M. P.; Gimranov, D. O.; Zhuang, Y.; Han, Y.; Driscoll, C. A.; Driscoll, C. A.; Pang, Y.; Li, C.; Pan, Y; Velasco, M. S.; Gopalakrishnan, S.; Yang, R.-Z.; Li, B.-G.; Jin, K.; Xu, X.; Uphyrkina, O.; Huang, Y.; Wu, X.-H.; Gilbert, M. T. P.; O'Brien, S. J.; Yamaguchi, N. & Luo, S.-J. (2023). "Ancient DNA reveals genetic admixture in China during tiger evolution". Nature Ecology & Evolution. 7 (11): 1914–1929. Bibcode:2023NatEE...7.1914S. doi:10.1038/s41559-023-02185-8. PMID 37652999.
    15. "Tiger". CatSG. Diarsipkan dari asli tanggal 12 November 2014. Diakses tanggal 14 June 2024.
    16. 1 2 3 4 5 6 Nowell, K. & Jackson, P. (1996). "Tiger, Panthera tigris (Linnaeus, 1758)" (PDF). Wild Cats: Status Survey and Conservation Action Plan. Gland, Switzerland: IUCN. hlm. 55–65. ISBN 2-8317-0045-0. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 25 January 2024. Diakses tanggal 25 January 2024.
    17. Srivastav, A.; Malviya, M.; Tyagi, P. C. & Nigam, P. (2011). Indian National Studbook of the Bengal Tiger (Panthera tigris tigris) (PDF) (Report). Central Zoo Authority, Wildlife Institute of India. Diakses tanggal 27 May 2024.
    18. 1 2 Mazák, J. H. (2010). "Craniometric variation in the tiger (Panthera tigris): Implications for patterns of diversity, taxonomy and conservation". Mammalian Biology. 75 (1): 45–68. Bibcode:2010MamBi..75...45M. doi:10.1016/j.mambio.2008.06.003.
    19. Illiger, C. (1815). "Überblick der Säugethiere nach ihrer Verteilung über die Welttheile". Abhandlungen der Königlichen Preußischen Akademie der Wissenschaften zu Berlin. 1804–1811: 39–159.
    20. Sludskii 1992, hlm. 137.
    21. Driscoll, C. A.; Yamaguchi, N.; Bar-Gal, G. K.; Roca, A. L.; Luo, S.; MacDonald, D. W. & O'Brien, S. J. (2009). "Mitochondrial phylogeography illuminates the origin of the extinct Caspian Tiger and its relationship to the Amur Tiger". PLOS ONE. 4 (1) e4125. Bibcode:2009PLoSO...4.4125D. doi:10.1371/journal.pone.0004125. PMC 2624500. PMID 19142238.
    22. 1 2 3 Seidensticker, J.; Christie, S. & Jackson, P. (1999). "Preface" in Seidensticker, Christie & Jackson 1999, hlm. xv–xx
    23. 1 2 3 4 Temminck, C. J. (1844). "Aperçu général et spécifique sur les Mammifères qui habitent le Japon et les Iles qui en dépendent". Dalam Siebold, P. F. v.; Temminck, C. J.; Schlegel, H. (ed.). Fauna Japonica sive Descriptio animalium, quae in itinere per Japoniam, jussu et auspiciis superiorum, qui summum in India Batava imperium tenent, suscepto, annis 1825–1830 collegit, notis, observationibus et adumbrationibus illustravit Ph. Fr. de Siebold. Leiden: Lugduni Batavorum.
    24. 1 2 Hilzheimer, M. (1905). "Über einige Tigerschädel aus der Straßburger zoologischen Sammlung". Zoologischer Anzeiger. 28: 594–599.
    25. 1 2 Hu, J.; Westbury, M. V.; Yuan, J.; Wang, C.; Xiao, B.; Chen, S.; Song, S.; Wang, L.; Lin, H.; Lai, X. & Sheng, G. (2022). "An extinct and deeply divergent tiger lineage from northeastern China recognized through palaeogenomics". Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences. 289 (1979) 20220617. doi:10.1098/rspb.2022.0617. PMC 9326283. PMID 35892215.
    26. 1 2 Mazák, V. (1968). "Nouvelle sous-espèce de tigre provenant de l'Asie du sud-est". Mammalia. 32 (1): 104–112. doi:10.1515/mamm.1968.32.1.104. S2CID 84054536.
    27. 1 2 3 4 Mazák, J. H. & Groves, C. P. (2006). "A taxonomic revision of the tigers (Panthera tigris) of Southeast Asia" (PDF). Mammalian Biology. 71 (5): 268–287. Bibcode:2006MamBi..71..268M. doi:10.1016/j.mambio.2006.02.007. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 31 May 2023. Diakses tanggal 15 January 2024.
    28. 1 2 3 Luo, S.-J.; Kim, J.-H.; Johnson, W. E.; van der Walt, J.; Martenson, J.; Yuhki, N.; Miquelle, D. G.; Uphyrkina, O.; Goodrich, J. M.; Quigley, H. B.; Tilson, R.; Brady, G.; Martelli, P.; Subramaniam, V.; McDougal, C.; Hean, S.; Huang, S.-Q.; Pan, W.; Karanth, U. K.; Sunquist, M.; Smith, J. L. D. & O'Brien, S. J. (2004). "Phylogeography and genetic ancestry of tigers (Panthera tigris)". PLOS Biology. 2 (12) e442. doi:10.1371/journal.pbio.0020442. PMC 534810. PMID 15583716.
    29. 1 2 Schwarz, E. (1912). "Notes on Malay tigers, with description of a new form from Bali". Annals and Magazine of Natural History. 8. 10 (57): 324–326. doi:10.1080/00222931208693243.
    30. Mazak, V. (2004). Der Tiger (dalam bahasa Jerman). Madgeburg: Westarp Wissenschaften Hohenwarsleben. ISBN 978-3-89432-759-0.
    31. Mazák, V.; Groves, C. P. & Van Bree, P. (1978). "Skin and Skull of the Bali Tiger, and a list of preserved specimens of Panthera tigris balica (Schwarz, 1912)". Zeitschrift für Säugetierkunde. 43 (2): 108–113.
    32. 1 2 Pocock, R. I. (1929). "Tigers". Journal of the Bombay Natural History Society. 33: 505–541.
    33. Li, G.; Davis, B. W.; Eizirik, E.; Murphy, W. J. (2016). "Phylogenomic evidence for ancient hybridization in the genomes of living cats (Felidae)". Genome Research. 26 (1): 1–11. doi:10.1101/gr.186668.114. PMC 4691742. PMID 26518481.
    34. Davis, B. W.; Li, G. & Murphy, W. J. (2010). "Supermatrix and species tree methods resolve phylogenetic relationships within the big cats, Panthera (Carnivora: Felidae)". Molecular Phylogenetics and Evolution. 56 (1): 64–76. Bibcode:2010MolPE..56...64D. doi:10.1016/j.ympev.2010.01.036. PMID 20138224.
    35. Cho, Y. S.; Hu, L.; Hou, H.; Lee, H.; Xu, J.; Kwon, S.; Oh, S.; Kim, H. M.; Jho, S.; Kim, S.; Shin, Y. A.; Kim, B. C.; Kim, H.; Kim, C. U.; Luo, S. J.; Johnson, W. E.; Koepfli, K. P.; Schmidt-Küntzel, A.; Turner, J. A.; Marker, L.; Harper, C.; Miller, S. M.; Jacobs, W.; Bertola, L. D.; Kim, T. H.; Lee, S.; Zhou, Q.; Jung, H. J.; Xu, X. & Gadhvi, P. (2013). "The tiger genome and comparative analysis with lion and snow leopard genomes". Nature Communications. 4 2433. Bibcode:2013NatCo...4.2433C. doi:10.1038/ncomms3433. hdl:2263/32583. PMC 3778509. PMID 24045858.
    36. 1 2 3 Mazák, J. H.; Christiansen, P. & Kitchener, A. C. (2011). "Oldest Known Pantherine Skull and Evolution of the Tiger". PLOS ONE. 6 (10) e25483. Bibcode:2011PLoSO...625483M. doi:10.1371/journal.pone.0025483. PMC 3189913. PMID 22016768.
    37. Tseng, Z. J.; Wang, X.; Slater, G. J.; Takeuchi, G. T.; Li, Q.; Liu, J. & Xie, G. (2014). "Himalayan fossils of the oldest known pantherine establish ancient origin of big cats". Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences. 281 (1774) 20132686. doi:10.1098/rspb.2013.2686. PMC 3843846. PMID 24225466.
    38. Hemmer, Helmut (2023). "The identity of the "lion", Panthera principialis sp. nov., from the Pliocene Tanzanian site of Laetoli and its significance for molecular dating the pantherine phylogeny, with remarks on Panthera shawi (Broom, 1948), and a revision of Puma incurva (Ewer, 1956), the Early Pleistocene Swartkrans "leopard" (Carnivora, Felidae)". Palaeobiodiversity and Palaeoenvironments. 103 (2): 465–487. Bibcode:2023PdPe..103..465H. doi:10.1007/s12549-022-00542-2.
    39. Jiangzuo, Q.; Wang, Y.; Ge, J.; Liu, S.; Song, Y.; Jin, C.; Jiang, H. & Liu, J. (2023). "Discovery of jaguar from northeastern China middle Pleistocene reveals an intercontinental dispersal event". Historical Biology. 35 (3): 293–302. Bibcode:2023HBio...35..293J. doi:10.1080/08912963.2022.2034808. S2CID 246693903.
    40. 1 2 3 Kitchener, A. & Yamaguchi, N. (2009). "What is a Tiger? Biogeography, Morphology, and Taxonomy" in Tilson & Nyhus 2010, hlm. 53–84
    41. Hasegawa, Y., Takakuwa, Y., Nenoki, K. & Kimura, T. Fossil tiger from limestone mine of Tsukumi City, Oita Prefecture, Kyushu Island, Japan. Bull. Gunma Museum Nat. Hist. 23, (2019) (in Japanese with English abstract)
    42. 1 2 Gabryś, J.; Kij, B.; Kochan, J. & Bugno-Poniewierska, M. (2021). "Interspecific hybrids of animals-in nature, breeding and science–a review". Annals of Animal Science. 21 (2): 403–415. doi:10.2478/aoas-2020-0082.
    43. "Genomic Imprinting". Genetic Science Learning Center, Utah.org. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 4 September 2019. Diakses tanggal 26 August 2018.
    44. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 Mazák, V. (1981). "Panthera tigris". Mammalian Species (152): 1–8. doi:10.2307/3504004. JSTOR 3504004.
    45. Sludskii 1992, hlm. 98.
    46. Thapar 2004, hlm. 26.
    47. Zhao, C.; Dai, W.; Liu, Q.; Liu, D.; Roberts, N. J.; Liu, Z.; Gong, M.; Qiu, H.; Liu, C.; Liu, D.; Ma, G. & Jiang, G. (2024). "Combination of facial and nose features of Amur tigers to determine age". Integrative Zoology. 20 (1): 186–198. doi:10.1111/1749-4877.12817. PMID 38509845.
    48. 1 2 Sludskii 1992, hlm. 103.
    49. Thapar 2004, hlm. 25.
    50. Novak, R. M. & Walker, E. P. (1999). "Panthera tigris (tiger)". Walker's Mammals of the World (Edisi 6th). Baltimore: Johns Hopkins University Press. hlm. 825–828. ISBN 978-0-8018-5789-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 May 2024. Diakses tanggal 17 October 2020.
    51. 1 2 3 4 5 6 Sunquist, M. (2010). "What is a Tiger? Ecology and Behaviour" in Tilson & Nyhus 2010, hlm. 19−34
    52. Thapar 2004, hlm. 28.
    53. 1 2 Sludskii 1992, hlm. 99–102.
    54. 1 2 3 4 5 6 7 8 Miquelle, D. "Tiger" in MacDonald 2001, hlm. 18–21
    55. Allen, W. L.; Cuthill, I. C.; Scott-Samuel, N. E. & Baddeley, R. (2010). "Why the leopard got its spots: relating pattern development to ecology in felids". Proceedings of the Royal Society B. 278 (1710): 1373–1380. doi:10.1098/rspb.2010.1734. PMC 3061134. PMID 20961899.
    56. Caro, T. (2005). "The adaptive significance of coloration in mammals". BioScience. 55 (2): 125–136. doi:10.1641/0006-3568(2005)055[0125:TASOCI]2.0.CO;2.
    57. Godfrey, D.; Lythgoe, J. N. & Rumball, D. A. (1987). "Zebra stripes and tiger stripes: the spatial frequency distribution of the pattern compared to that of the background is significant in display and crypsis". Biological Journal of the Linnean Society. 32 (4): 427–433. doi:10.1111/j.1095-8312.1987.tb00442.x.
    58. Fennell, J. G.; Talas, L.; Baddeley, R. J.; Cuthill, I. C. & Scott-Samuel, N. E. (2019). "Optimizing colour for camouflage and visibility using deep learning: the effects of the environment and the observer's visual system". Journal of the Royal Society Interface. 16 (154) 20190183. doi:10.1098/rsif.2019.0183. PMC 6544896. PMID 31138092.
    59. Xu, X.; Dong, G. X.; Schmidt-Küntzel, A.; Zhang, X. L.; Zhuang, Y.; Fang, R.; Sun, X.; Hu, X. S.; Zhang, T. Y.; Yang, H. D.; Zhang, D. L.; Marker, L.; Jiang, Z.-F.; Li, R. & Luo, S.-J. (2017). "The genetics of tiger pelage color variations" (PDF). Cell Research. 27 (7): 954–957. doi:10.1038/cr.2017.32. PMC 5518981. PMID 28281538. Diakses tanggal 25 August 2018.
    60. Xavier, N. (2010). "A new conservation policy needed for reintroduction of Bengal tiger-white" (PDF). Current Science. 99 (7): 894–895. Diakses tanggal 29 January 2024.
    61. Sagar, V.; Kaelin, C. B.; Natesh, M.; Reddy, P. A.; Mohapatra, R. K.; Chhattani, H.; Thatte, P.; Vaidyanathan, S.; Biswas, S.; Bhatt, S. & Paul, S. (2021). "High frequency of an otherwise rare phenotype in a small and isolated tiger population". Proceedings of the National Academy of Sciences. 118 (39) e2025273118. Bibcode:2021PNAS..11825273S. doi:10.1073/pnas.2025273118. PMC 8488692. PMID 34518374.
    62. 1 2 Sanderson, E. W.; Miquelle, D. G.; Fisher, K.; Harihar, A.; Clark, C.; Moy, J.; Potapov, P.; Robinson, N.; Royte, L.; Sampson, D.; Sanderlin, J.; Yackulic, C. B.; Belecky, M.; Breitenmoser, U.; Breitenmoser-Würsten, C.; Chanchani, P.; Chapman, S.; Deomurari, A.; Duangchantrasiri, S.; Facchini, E.; Gray, T. N. E.; Goodrich, J.; Hunter, L.; Linkie, M.; Marthy, W.; Rasphone, A.; Roy, S.; Sittibal, D.; Tempa, T.; Umponjan, M. & Wood, K. (2023). "Range-wide trends in tiger conservation landscapes, 2001–2020". Frontiers in Conservation Science. 4 1191280. Bibcode:2023FrCS....491280S. doi:10.3389/fcosc.2023.1191280.
    63. Sludskii 1992, hlm. 108–112.
    64. Miquelle, D. G.; Smirnov, E. N.; Merrill, T. W.; Myslenkov, A. E.; Quigley, H.; Hornocker, M. G. & Schleyer, B. (1999). "Hierarchical spatial analysis of Amur tiger relationships to habitat and prey" in Seidensticker, Christie & Jackson 1999, hlm. 71–99
    65. Wikramanayake, E. D.; Dinerstein, E.; Robinson, J. G.; Karanth, K. U.; Rabinowitz, A.; Olson, D.; Mathew, T.; Hedao, P.; Connor, M.; Hemley, G. & Bolze, D. (1999). "Where can tigers live in the future? A framework for identifying high-priority areas for the conservation of tigers in the wild" in Seidensticker, Christie & Jackson 1999, hlm. 265–267
    66. Jigme, K. & Tharchen, L. (2012). "Camera-trap records of tigers at high altitudes in Bhutan". Cat News (56): 14–15.
    67. Adhikarimayum, A. S. & Gopi, G. V. (2018). "First photographic record of tiger presence at higher elevations of the Mishmi Hills in the Eastern Himalayan Biodiversity Hotspot, Arunachal Pradesh, India". Journal of Threatened Taxa. 10 (13): 12833–12836. doi:10.11609/jott.4381.10.13.12833-12836.
    68. Li, X. Y.; Hu, W. Q.; Wang, H. J. & Jiang, X. L. (2023). "Tiger reappearance in Medog highlights the conservation values of the region for this apex predator". Zoological Research. 44 (4): 747–749. doi:10.24272/j.issn.2095-8137.2023.178. PMC 10415778. PMID 37464931.
    69. Simcharoen, S.; Pattanavibool, A.; Karanth, K. U.; Nichols, J. D. & Kumar, N. S. (2007). "How many tigers Panthera tigris are there in Huai Kha Khaeng Wildlife Sanctuary, Thailand? An estimate using photographic capture-recapture sampling". Oryx. 41 (4): 447–453. Bibcode:2007Oryx...41..447S. doi:10.1017/S0030605307414107.
    70. Wibisono, H. T.; Linkie, M.; Guillera-Arroita, G.; Smith, J. A.; Sunarto; Pusarini, W.; Asriadi; Baroto, P.; Brickle, N.; Dinata, Y.; Gemita, E.; Gunaryadi, D.; Haidir, I. A. & Herwansyah (2011). "Population status of a cryptic top predator: An island-wide assessment of Tigers in Sumatran rainforests". PLOS ONE. 6 (11) e25931. Bibcode:2011PLoSO...625931W. doi:10.1371/journal.pone.0025931. PMC 3206793. PMID 22087218.
    71. Bisht, S.; Banerjee, S.; Qureshi, Q. & Jhala, Y. (2019). "Demography of a high-density tiger population and its implications for tiger recovery". Journal of Applied Ecology. 56 (7): 1725–1740. Bibcode:2019JApEc..56.1725B. doi:10.1111/1365-2664.13410.
    72. Lynam, A. J.; Rabinowitz, A.; Myint, T.; Maung, M.; Latt, K. T. & Po, S. H. T. (2009). "Estimating abundance with sparse data: tigers in northern Myanmar". Population Ecology. 51 (1): 115–121. Bibcode:2009PopEc..51..115L. doi:10.1007/s10144-008-0093-5.
    73. Phumanee, W.; Steinmetz, R.; Phoonjampa, R.; Weingdow, S.; Phokamanee, S.; Bhumpakphan, N. & Savini, T. (2021). "Tiger density, movements, and immigration outside of a tiger source site in Thailand". Conservation Science and Practice. 3 (12) e560. Bibcode:2021ConSP...3E.560P. doi:10.1111/csp2.560.
    74. Rayan, D. M. & Linkie, M. (2015). "Conserving tigers in Malaysia: A science-driven approach for eliciting conservation policy change". Biological Conservation. 184: 18–26. Bibcode:2015BCons.184...18R. doi:10.1016/j.biocon.2014.12.024.
    75. Carter, N. H.; Shrestha, B. K.; Karki, J. B.; Pradhan, N. M. B. & Liu, J. (2012). "Coexistence between wildlife and humans at fine spatial scales". Proceedings of the National Academy of Sciences. 109 (38): 15360–15365. Bibcode:2012PNAS..10915360C. doi:10.1073/pnas.1210490109. PMC 3458348. PMID 22949642.
    76. Naha, D.; Jhala, Y. V.; Qureshi, Q.; Roy, M.; Sankar, K. & Gopal, R. (2016). "Ranging, activity and habitat use by tigers in the mangrove forests of the Sundarban". PLOS ONE. 11 (4) e0152119. Bibcode:2016PLoSO..1152119N. doi:10.1371/journal.pone.0152119. PMC 4822765. PMID 27049644.
    77. Pokheral, C. P. & Wegge, P. (2019). "Coexisting large carnivores: spatial relationships of tigers and leopards and their prey in a prey-rich area in lowland Nepal". Écoscience. 26 (1): 1–9. Bibcode:2019Ecosc..26....1P. doi:10.1080/11956860.2018.1491512. S2CID 92446020.
    78. Yang, H.; Han, S.; Xie, B.; Mou, P.; Kou, X.; Wang, T.; Ge, J. & Feng, L. (2019). "Do prey availability, human disturbance and habitat structure drive the daily activity patterns of Amur tigers (Panthera tigris altaica)?". Journal of Zoology. 307 (2): 131–140. doi:10.1111/jzo.12622. S2CID 92736301.
    79. Thapar 2004, hlm. 26, 64–66.
    80. Barlow, A. C. D.; Smith, J. L. D.; Ahmad, I. U.; Hossain, A. N. M.; Rahman, M. & Howlader, A. (2011). "Female tiger Panthera tigris home range size in the Bangladesh Sundarbans: the value of this mangrove ecosystem for the species' conservation". Oryx. 45 (1): 125–128. doi:10.1017/S0030605310001456.
    81. 1 2 Sarkar, M. S.; Ramesh, K.; Johnson, J. A.; Sen, S.; Nigam, P.; Gupta, S. K.; Murthy, R. S. & Saha, G. K. (2016). "Movement and home range characteristics of reintroduced tiger (Panthera tigris) population in Panna Tiger Reserve, central India". European Journal of Wildlife Research. 62 (5): 537–547. Bibcode:2016EJWR...62..537S. doi:10.1007/s10344-016-1026-9. S2CID 254187854.
    82. Goodrich, J. M.; Miquelle, D. G.; Smirnov, E. M.; Kerley, L. L.; Quigley, H. B. & Hornocker, M. G. (2010). "Spatial structure of Amur (Siberian) tigers (Panthera tigris altaica) on Sikhote-Alin Biosphere Zapovednik, Russia". Journal of Mammalogy. 91 (3): 737–748. doi:10.1644/09-mamm-a-293.1.
    83. Klevtcova, A. V.; Miquelle, D. G.; Seryodkin, I. V.; Bragina, E. V.; Soutyrina, S. V. & Goodrich, J. M. (2021). "The influence of reproductive status on home range size and spatial dynamics of female Amur tigers". Mammal Research. 66: 83–94. doi:10.1007/s13364-020-00547-2.
    84. Joshi, A.; Vaidyanathan, S.; Mondol, S.; Edgaonkar, A. & Ramakrishnan, U. (2013). "Connectivity of Tiger (Panthera tigris) Populations in the Human-Influenced Forest Mosaic of Central India". PLOS ONE. 8 (11) e77980. Bibcode:2013PLoSO...877980J. doi:10.1371/journal.pone.0077980. PMC 3819329. PMID 24223132.
    85. 1 2 Thapar 2004, hlm. 76.
    86. 1 2 Smith, J. L. D. (1993). "The role of dispersal in structuring the Chitwan tiger population". Behaviour. 124 (3): 165–195. doi:10.1163/156853993X00560.
    87. Mills 2004, hlm. 54–55.
    88. Burger, B. V.; Viviers, M. Z.; Bekker, J. P. I.; Roux, M.; Fish, N.; Fourie, W. B. & Weibchen, G. (2008). "Chemical characterization of territorial marking fluid of male Bengal tiger, Panthera tigris". Journal of Chemical Ecology. 34 (5): 659–671. Bibcode:2008JCEco..34..659B. doi:10.1007/s10886-008-9462-y. hdl:10019.1/11220. PMID 18437496. S2CID 5558760. Diakses tanggal 29 June 2023.
    89. Smith, J. L. D.; McDougal, C. & Miquelle, D. (1989). "Scent marking in free-ranging tigers, Panthera tigris". Animal Behaviour. 37: 1–10. doi:10.1016/0003-3472(89)90001-8. S2CID 53149100.
    90. Thapar 2004, hlm. 105.
    91. Mills 2004, hlm. 85–86.
    92. Schaller 1967, hlm. 244–251.
    93. Mills 2004, hlm. 89.
    94. Schaller 1967, hlm. 262–263.
    95. Schaller 1967, hlm. 263.
    96. 1 2 Sunquist, M. E. & Sunquist, F. (2002). "Tiger Panthera tigris (Linnaeus, 1758)". Wild Cats of the World. Chicago: University of Chicago Press. hlm. 343–372. ISBN 978-0-226-77999-7.
    97. Thapar 2004, hlm. 29.
    98. Schaller 1967, hlm. 256.
    99. Thapar 2004, hlm. 99.
    100. Schaller 1967, hlm. 258–261.
    101. 1 2 Schaller 1967, hlm. 261.
    102. Peters, G. & Tonkin-Leyhausen, B. A. (1999). "Evolution of acoustic communication signals of mammals: Friendly close-range vocalizations in Felidae (Carnivora)". Journal of Mammalian Evolution. 6 (2): 129–159. doi:10.1023/A:1020620121416. S2CID 25252052.
    103. Schaller 1967, hlm. 257–258.
    104. Schaller 1967, hlm. 256–258.
    105. Mills 2004, hlm. 62.
    106. Biswas, S.; Kumar, S.; Bandhopadhyay, M.; Patel, S. K.; Lyngdoh, S.; Pandav, B. & Mondol, S. (2023). "What drives prey selection? Assessment of Tiger (Panthera tigris) food habits across the Terai-Arc Landscape, India". Journal of Mammalogy. 104 (6): 1302–1316. doi:10.1093/jmammal/gyad069.
    107. Hayward, M. W.; Jędrzejewski, W. & Jędrzejewska, B. (2012). "Prey preferences of the tiger Panthera tigris". Journal of Zoology. 286 (3): 221–231. doi:10.1111/j.1469-7998.2011.00871.x.
    108. 1 2 Steinmetz, R.; Seuaturien, N.; Intanajitjuy, P.; Inrueang, P. & Prempree, K. (2021). "The effects of prey depletion on dietary niches of sympatric apex predators in Southeast Asia". Integrative Zoology. 16 (1): 19–32. doi:10.1111/1749-4877.12461. PMID 32627329.
    109. Variar, A. S.; Anoop, N. R.; Komire, S.; Vinayan, P. A.; Sujin, N. S.; Raj, A. & Prasadan, P. K. (2023). "Prey selection by the Indian tiger (Panthera tigris tigris) outside protected areas in Indias Western Ghats: implications for conservation". Food Webs. 34 e00268. Bibcode:2023FWebs..3400268V. doi:10.1016/j.fooweb.2022.e00268.
    110. Karanth, K. U. (2003). "Tiger ecology and conservation in the Indian subcontinent" (PDF). Journal of the Bombay Natural History Society. 100 (2 & 3): 169–189.
    111. Karanth, K. U. & Nichols, J. D. (1998). "Estimation of tiger densities in India using photographic captures and recaptures" (PDF). Ecology. 79 (8): 2852–2862. doi:10.1890/0012-9658(1998)079[2852:EOTDII]2.0.CO;2. JSTOR 176521. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 27 November 2022. Diakses tanggal 16 December 2021.
    112. Perry, R. (1965). The World of the Tiger. London: Cassell. hlm. 133–134. ASIN B0007DU2IU.
    113. 1 2 Fàbregas, M. C.; Fosgate, G. T. & Koehler, G. M. (2015). "Hunting performance of captive-born South China tigers (Panthera tigris amoyensis) on free-ranging prey and implications for their reintroduction". Biological Conservation. 192: 57–64. Bibcode:2015BCons.192...57F. doi:10.1016/j.biocon.2015.09.007. hdl:2263/50208.
    114. 1 2 Thapar 2004, hlm. 63.
    115. Schaller 1967, hlm. 284–285.
    116. 1 2 3 Schaller 1967, hlm. 288.
    117. Thapar 2004, hlm. 120.
    118. Thapar 2004, hlm. 119–120, 122.
    119. Schaller 1967, hlm. 287.
    120. Thapar 2004, hlm. 23.
    121. 1 2 Thapar 2004, hlm. 121.
    122. Schaller 1967, hlm. 295.
    123. Mills 2004, hlm. 24.
    124. Christiansen, P. (2007). "Canine morphology in the larger Felidae: implications for feeding ecology". Biological Journal of the Linnean Society. 91 (4): 573–592. doi:10.1111/j.1095-8312.2007.00819.x.
    125. Schaller 1967, hlm. 295–296.
    126. Thapar 2004, hlm. 126.
    127. Schaller 1967, hlm. 289.
    128. Schaller 1967, hlm. 297–300.
    129. Srivathsa, A.; Ramachandran, V.; Saravanan, P.; Sureshbabu, A.; Ganguly, D. & Ramakrishnan, U. (2023). "Topcats and underdogs: intraguild interactions among three apex carnivores across Asia's forestscapes". Biological Reviews. 98 (6): 2114–2135. doi:10.1111/brv.12998. PMID 37449566. S2CID 259903849.
    130. Thapar 2004, hlm. 136.
    131. 1 2 Karanth, K. U. & Sunquist, M. E. (2000). "Behavioural correlates of predation by tiger (Panthera tigris), leopard (Panthera pardus) and dhole (Cuon alpinus) in Nagarahole, India". Journal of Zoology. 250 (2): 255–265. doi:10.1111/j.1469-7998.2000.tb01076.x.
    132. Karanth, K. U. & Sunquist, M. E. (1995). "Prey selection by tiger, leopard and dhole in tropical forests". Journal of Animal Ecology. 64 (4): 439–450. Bibcode:1995JAnEc..64..439K. doi:10.2307/5647. JSTOR 5647.
    133. Odden, M.; Wegge, P. & Fredriksen, T. (2010). "Do tigers displace leopards? If so, why?". Ecological Research. 25 (4): 875–881. Bibcode:2010EcoR...25..875O. doi:10.1007/s11284-010-0723-1.
    134. Harihar, A.; Pandav, B. & Goyal, S. P. (2011). "Responses of leopard Panthera pardus to the recovery of a tiger Panthera tigris population". Journal of Applied Ecology. 48 (3): 806–814. Bibcode:2011JApEc..48..806H. doi:10.1111/j.1365-2664.2011.01981.x.
    135. Habib, B.; Nigam P.; Ghaskadbi P. & Bhandari A. (2021). "Dhole pack size variation: Assessing the effect of prey availability and apex predator". Ecology and Evolution. 11 (9): 4774–4785. Bibcode:2021EcoEv..11.4774B. doi:10.1002/ece3.7380. PMC 8093734. PMID 33976847.
    136. Steinmetz, R.; Seuaturien, N. & Chutipong, W. (2013). "Tigers, leopards, and dholes in a half-empty forest: Assessing species interactions in a guild of threatened carnivores". Biological Conservation. 163: 68–78. Bibcode:2013BCons.163...68S. doi:10.1016/j.biocon.2012.12.016.
    137. Thinley, P.; Rajaratnam, R.; Lassoie, J. P.; Morreale, S. J.; Curtis, P. D.; Vernes, K.; Leki Leki; Phuntsho, S.; Dorji, T. & Dorji, P. (2018). "The ecological benefit of tigers (Panthera tigris) to farmers in reducing crop and livestock losses in the eastern Himalayas: Implications for conservation of large apex predators". Biological Conservation. 219: 119–125. Bibcode:2018BCons.219..119T. doi:10.1016/j.biocon.2018.01.015.
    138. 1 2 3 Mills 2004, hlm. 42.
    139. Thapar 2004, hlm. 145.
    140. 1 2 3 4 5 Sankhala, K. S. (1967). "Breeding behaviour of the tiger Panthera tigris in Rajasthan". International Zoo Yearbook. 7 (1): 133–147. doi:10.1111/j.1748-1090.1967.tb00354.x.
    141. Thapar 2004, hlm. 148.
    142. 1 2 3 4 Thapar 2004, hlm. 45.
    143. Mills 2004, hlm. 50–51.
    144. Mills 2004, hlm. 50.
    145. 1 2 Thapar 2004, hlm. 51.
    146. Petrunenko, Y. K.; Seryodkin, I. V.; Bragina, E. V.; Soutyrina, S. S.; Mukhacheva, A. S.; Rybin, N. N. & Miquelle, D. G. (2019). "How does a tigress balance the opposing constraints of raising cubs?". Mammal Research. 65 (2): 245–253. doi:10.1007/s13364-019-00466-x.
    147. Robinson, H. S.; Goodrich, J. M.; Miquelle, D. G.; Miller, C. S. & Seryodkin, I. V. (2015). "Mortality of Amur tigers: The more things change, the more they stay the same". Integrative Zoology. 10 (4): 344–353. doi:10.1111/1749-4877.12147. PMID 26096683.
    148. 1 2 3 Sadhu, A.; Jayam, P. P. C.; Qureshi, Q.; Shekhawat, R. S.; Sharma, S. & Jhala, Y. V. (2017). "Demography of a small, isolated tiger (Panthera tigris tigris) population in a semi-arid region of western India". BMC Zoology. 2 16. doi:10.1186/s40850-017-0025-y.
    149. Mills 2004, hlm. 51.
    150. 1 2 Barlow, A. C. D.; McDougal, C.; Smith, J. L. D.; Gurung, B.; Bhatta, S. R.; Kumal, S.; Mahato, B. & Taman, D. B. (2009). "Temporal variation in Tiger (Panthera tigris) populations and its implications for monitoring". Journal of Mammalogy. 90 (2): 472–478. doi:10.1644/07-MAMM-A-415.1.
    151. Mills 2004, hlm. 61, 66–67.
    152. Schaller 1967, hlm. 270, 276.
    153. Pacifici, M.; Santini, L.; Di Marco, M.; Baisero, D.; Francucci, L.; Grottolo Marasini, G.; Visconti, P. & Rondinini, C. (2013). "Generation length for mammals". Nature Conservation. 5 (5): 87–94. doi:10.3897/natureconservation.5.5734.
    154. Majumder, A. (2023). "Survival strategy – Temporal segregation of different age and sex classes of a Bengal tiger (Panthera tigris tigris Linnaeus) population in Pench Tiger Reserve, Madhya Pradesh India". Journal of Animal Diversity. 5 (3): 43–54. doi:10.61186/JAD.2023.5.3.5.
    155. Tidière, M.; Müller, P.; Sliwa, A.; Siberchicot, A. & Douay, G. (2021). "Sex-specific actuarial and reproductive senescence in zoo-housed tiger (Panthera tigris): The importance of sub-species for conservation" (PDF). Zoo Biology. 40 (4): 320–329. doi:10.1002/zoo.21610. PMID 33861886.
    156. Mills 2004, hlm. 59, 89.
    157. Thapar 2004, hlm. 55–56.
    158. Pandey, G. (2011). "India male tiger plays doting dad to orphaned cubs". BBC News. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 April 2024. Diakses tanggal 14 February 2024.
    159. Mills 2004, hlm. 59.
    160. Thapar 2004, hlm. 66.
    161. Seimon, T. A.; Miquelle, D. G.; Chang, T. Y.; Newton, A. L.; Korotkova, I.; Ivanchuk, G.; Lyubchenko, E.; Tupikov, A.; Slabe, E. & McAloose, D. (2013). "Canine distemper virus: an emerging disease in wild endangered Amur tigers (Panthera tigris altaica)". mBio. 4 (4) e00410-13. doi:10.1128/mbio.00410-13. PMC 3747579. PMID 23943758.
    162. Quigley, K. S.; Evermann, J. F.; Leathers, C. W.; Armstrong, D. L.; Goodrich, J.; Duncan, N. M. & Miquelle, D. G. (2010). "Morbillivirus infection in a wild Siberian tiger in the Russian Far East". Journal of Wildlife Diseases. 46 (4): 1252–1256. doi:10.7589/0090-3558-46.4.1252. PMID 20966275.
    163. McCauley, D.; Stout, V.; Gairhe, K. P.; Sadaula, A.; Dubovi, E.; Subedi, S. & Kaufman, G. E. (2021). "Serologic survey of selected pathogens in free-ranging Bengal tigers (Panthera tigris tigris) in Nepal". The Journal of Wildlife Diseases. 57 (2): 393–398. doi:10.7589/JWD-D-20-00046. PMID 33822151.
    164. Schoen, J. M.; Neelakantan, A.; Cushman, S. A.; Dutta, T.; Habib, B.; Jhala, Y. V.; Mondal, I.; Ramakrishnan, U.; Reddy, P. A.; Saini, S. & Sharma, S. (2022). "Synthesizing habitat connectivity analyses of a globally important human-dominated tiger-conservation landscape". Conservation Biology. 36 (4) e13909. Bibcode:2022ConBi..36E3909S. doi:10.1111/cobi.13909. PMC 9545158. PMID 35288989.
    165. Aung, S. S.; Shwe, N. M.; Frechette, J.; Grindley, M. & Connette, G. (2017). "Surveys in southern Myanmar indicate global importance for tigers and biodiversity". Oryx. 51 (1): 13. doi:10.1017/S0030605316001393.
    166. Suttidate, N.; Steinmetz, R.; Lynam, A. J.; Sukmasuang, R.; Ngoprasert, D.; Chutipong, W.; Bateman, B. L.; Jenks, K. E.; Baker-Whatton, M.; Kitamura, S. & Ziółkowska, E. (2021). "Habitat connectivity for endangered Indochinese tigers in Thailand". Global Ecology and Conservation. 29 e01718. Bibcode:2021GEcoC..2901718S. doi:10.1016/j.gecco.2021.e01718.
    167. Shevade, V. S.; Potapov, P. V.; Harris, N. L. & Loboda, T. V. (2017). "Expansion of industrial plantations continues to threaten Malayan tiger habitat". Remote Sensing. 9 (7): 747. Bibcode:2017RemS....9..747S. doi:10.3390/rs9070747. hdl:1903/31503.
    168. Debonne, N.; van Vliet, J. & Verburg, P. (2019). "Future governance options for large-scale land acquisition in Cambodia: impacts on tree cover and tiger landscapes". Environmental Science & Policy. 94: 9–19. Bibcode:2019ESPol..94....9D. doi:10.1016/j.envsci.2018.12.031. hdl:1871.1/1dced676-560b-46fb-a7c5-e0c888c5cff1.
    169. Wang, D.; Smith, J. L.; Accatino, F.; Ge, J. & Wang, T. (2023). "Addressing the impact of canine distemper spreading on an isolated tiger population in northeast Asia". Integrative Zoology. 18 (6): 994–1008. doi:10.1111/1749-4877.12712. PMID 36881515.
    170. Tilson, R.; Defu, H.; Muntifering, J. & Nyhus, P. J. (2004). "Dramatic decline of wild South China tigers Panthera tigris amoyensis: field survey of priority tiger reserves". Oryx. 38 (1): 40–47. doi:10.1017/S0030605304000079.
    171. Nyhus, P. (2008). "Panthera tigris ssp. amoyensis" e.T15965A5334628. doi:10.2305/IUCN.UK.2008.RLTS.T15965A5334628.en.
    172. 1 2 Jhala, Y.; Gopal, R.; Mathur, V.; Ghosh, P.; Negi, H. S.; Narain, S.; Yadav, S. P.; Malik, A.; Garawad, R. & Qureshi, Q. (2021). "Recovery of tigers in India: Critical introspection and potential lessons". People and Nature. 3 (2): 281–293. Bibcode:2021PeoNa...3..281J. doi:10.1002/pan3.10177.
    173. Shwe, N. M.; Grainger, M.; Ngoprasert, D.; Aung, S. S.; Grindley, M. & Savini, T. (2023). "Anthropogenic pressure on large carnivores and their prey in the highly threatened forests of Tanintharyi, southern Myanmar". Oryx. 57 (2): 262–271. doi:10.1017/S0030605321001654. hdl:11250/3040580.
    174. Rasphone, A.; Kéry, M.; Kamler, J. F. & Macdonald, D. W. (2019). "Documenting the demise of tiger and leopard, and the status of other carnivores and prey, in Lao PDR's most prized protected area: Nam Et-Phou Louey". Global Ecology and Conservation. 20 e00766. Bibcode:2019GEcoC..2000766R. doi:10.1016/j.gecco.2019.e00766.
    175. Linkie, M.; Martyr, D.; Harihar, A.; Mardiah, S.; Hodgetts, T.; Risdianto, D.; Subchaan, M. & Macdonald, D. (2018). "Asia's economic growth and its impact on Indonesia's tigers". Biological Conservation. 219: 105–109. Bibcode:2018BCons.219..105L. doi:10.1016/j.biocon.2018.01.011.
    176. Slaght, J. C.; Milakovsky, B.; Maksimova, D. A.; Zaitsev, V. A.; Seryodkin, I.; Panichev, A. & Miquelle, D. (2017). "Anthropogenic influences on the distribution of a Vulnerable coniferous forest specialist: habitat selection by the Siberian musk deer Moschus moschiferus". Oryx. 53 (1): 174–180. doi:10.1017/S0030605316001617.
    177. Nijman, V. & Shepherd, C. R. (2015). "Trade in tigers and other wild cats in Mong La and Tachilek, Myanmar – A tale of two border towns". Biological Conservation. 182: 1–7. Bibcode:2015BCons.182....1N. doi:10.1016/j.biocon.2014.10.031.
    178. Wong, R. & Krishnasamy, K. (2022). Skin and Bones: Tiger Trafficking Analysis from January 2000 – June 2022 (PDF). Petaling Jaya, Selangor, Malaysia: TRAFFIC, Southeast Asia Regional Office. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 17 January 2024. Diakses tanggal 1 March 2024.
    179. Paudel, P. K.; Acharya, K. P.; Baral, H. S.; Heinen, J. T. & Jnawali, S. R. (2020). "Trends, patterns, and networks of illicit wildlife trade in Nepal: A national synthesis". Conservation Science and Practice. 2 (9) e247. Bibcode:2020ConSP...2E.247P. doi:10.1111/csp2.247.
    180. Nittu, G.; Shameer, T. T.; Nishanthini, N. K. & Sanil, R. (2023). "The tide of tiger poaching in India is rising! An investigation of the intertwined facts with a focus on conservation". GeoJournal. 88 (1): 753–766. Bibcode:2023GeoJo..88..753N. doi:10.1007/s10708-022-10633-4. PMC 9005341. PMID 35431409.
    181. Khanwilkar, S.; Sosnowski, M. & Guynup, S. (2022). "Patterns of illegal and legal tiger parts entering the United States over a decade (2003–2012)". Conservation Science and Practice. 4 (3) e622. Bibcode:2022ConSP...4E.622K. doi:10.1111/csp2.622.
    182. Van Uhm, D. P. (2016). The Illegal Wildlife Trade: Inside the World of Poachers, Smugglers and Traders (Studies of Organized Crime). New York: Springer. hlm. 224–226.
    183. Saif, S.; Rahman, H. T. & MacMillan, D. C. (2018). "Who is killing the tiger Panthera tigris and why?". Oryx. 52 (1): 46–54. doi:10.1017/S0030605316000491.
    184. 1 2 Uddin, N.; Enoch, S.; Harihar, A.; Pickles, R. S. & Hughes, A. C. (2023). "Tigers at a crossroads: Shedding light on the role of Bangladesh in the illegal trade of this iconic big cat". Conservation Science and Practice. 5 (7) e12952. Bibcode:2023ConSP...5E2952U. doi:10.1111/csp2.12952.
    185. Davis, E. O.; Willemsen, M.; Dang, V.; O'Connor, D. & Glikman, J. A. (2020). "An updated analysis of the consumption of tiger products in urban Vietnam". Global Ecology and Conservation. 22 e00960. Bibcode:2020GEcoC..2200960D. doi:10.1016/j.gecco.2020.e00960.
    186. 1 2 3 Henry, L. (2020). "5 Things Tiger King Doesn't Explain About Captive Tigers". World Wildlife Fund for Nature. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 February 2024. Diakses tanggal 19 February 2024.
    187. Singh, R.; Nigam, P.; Qureshi, Q.; Sankar, K.; Krausman, P. R.; Goyal, S. P. & Nicholoson, K. L. (2015). "Characterizing human–tiger conflict in and around Ranthambhore Tiger Reserve, western India". European Journal of Wildlife Research. 61 (2): 255–261. Bibcode:2015EJWR...61..255S. doi:10.1007/s10344-014-0895-z.
    188. Chowdhurym, A. N.; Mondal, R.; Brahma, A. & Biswas, M. K. (2016). "Ecopsychosocial aspects of human–tiger conflict: An ethnographic study of tiger widows of Sundarban Delta, India". Environmental Health Insights. 10: 1–29. doi:10.4137/EHI.S24 (tidak aktif 1 July 2025). Pemeliharaan CS1: DOI nonaktif per Juli 2025 (link)
    189. Dhungana, R.; Savini, T.; Karki, J. B.; Dhakal, M.; Lamichhane, B. R. & Bumrungsri, S. (2018). "Living with tigers Panthera tigris: Patterns, correlates, and contexts of human–tiger conflict in Chitwan National Park, Nepal". Oryx. 52 (1): 55–65. doi:10.1017/S0030605316001587. hdl:1887/57668.
    190. Lubis, M. I.; Pusparini, W.; Prabowo, S. A.; Marthy, W.; Tarmizi; Andayani, N. & Linkie, M. (2020). "Unraveling the complexity of human–tiger conflicts in the Leuser Ecosystem, Sumatra". Animal Conservation. 23 (6): 741–749. Bibcode:2020AnCon..23..741L. doi:10.1111/acv.12591.
    191. Neo, W. H. Y.; Lubis, M. I. & Lee, J. S. H. (2023). "Settlements and plantations are sites of human–tiger interactions in Riau, Indonesia". Oryx. 57 (4): 476–480. doi:10.1017/S0030605322000667. hdl:10356/165557.
    192. 1 2 Qureshi, Q.; Jhala, Y. V.; Yadav, S. P. & Mallick, A. (2023). Status of tigers, co-predators and prey in India 2022 (PDF). New Delhi, Dehradun: National Tiger Conservation Authority & Wildlife Institute of India. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 5 May 2024. Diakses tanggal 18 February 2024.
    193. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Global Tiger Recovery Program (2023–34) (Report). Global Tiger Forum and the Global Tiger Initiative Council. 2023. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 8 April 2024. Diakses tanggal 8 April 2024.
    194. DNPWC & DFSC (2022). Status of Tigers and Prey in Nepal 2022 (PDF). Kathmandu, Nepal: Department of National Parks and Wildlife Conservation and Department of Forests and Soil Conservation. Ministry of Forests and Environment. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 8 April 2023. Diakses tanggal 6 August 2022.
    195. Department of Forests and Park Services (2023). "National Tiger Survey 2021–22". Thimphu: Government of Bhutan.
    196. Begum, S. (30 July 2024). "Tiger population in Sundarban rises by 8-10pc in 2024". Daily Observer. Diakses tanggal 6 October 2024.
    197. Sludskii 1992, hlm. 202.
    198. 1 2 Tandin, T.; Penjor, U.; Tempa, T.; Dhendup, P.; Dorji, S.; Wangdi, S. & Moktan, V. (2018). Tiger Action Plan for Bhutan (2018-2023): A landscape approach to tiger conservation (Report). Thimphu, Bhutan: Nature Conservation Division, Department of Forests and Park Services, Ministry of Agriculture and Forests. doi:10.13140/RG.2.2.14890.70089.
    199. 1 2 Aryal, R. S. (2004). CITES Implementation in Nepal and India. Law, Policy and Practice. Kathmandu: Bhrikuti Aademic Publications. ISBN 99933-673-4-6.
    200. Malaysian Conservation Alliance for Tigers (2006). The Malayan Tiger Conservation Programme (PDF) (Report). Kuala Lumpur: Department of Wildlife and National Parks Peninsular Malaysia. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 9 April 2024. Diakses tanggal 9 April 2024.
    201. Ministry of Forestry (2007). Conservation Strategy and Action Plan for the Sumatran Tiger (Panthera tigris sumatrae) Indonesia 2007-2017 (PDF). Jakarta: Government of Indonesia. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 23 September 2023. Diakses tanggal 12 April 2024.
    202. Yeh, E. T. (2012). "Transnational environmentalism and entanglements of sovereignty: The Tiger Campaign across the Himalayas". Political Geography. 31 (7): 408–418. doi:10.1016/j.polgeo.2012.06.003.
    203. Kampongsun, S. (2022). "The future of Panthera tigris in Thailand and globally". IUCN. Diarsipkan dari asli tanggal 11 November 2023. Diakses tanggal 8 April 2024.
    204. Jhala, Y. V.; Mungi, N. A.; Gopal, R.; Qureshi, Q. (2025). "Tiger recovery amid people and poverty". Science. 387 (6733): 505–510. Bibcode:2025Sci...387..505J. doi:10.1126/science.adk4827. PMID 39883754.
    205. Lynam, A. J.; Khaing, S. T. & Zaw, K. M. (2006). "Developing a national tiger action plan for the Union of Myanmar". Environmental Management. 37 (1): 30–39. Bibcode:2006EnMan..37...30L. doi:10.1007/s00267-004-0273-9. PMID 16362487.
    206. Hossain, A. N. M.; Lynam, A. J.; Ngoprasert, D.; Barlow, A.; Barlow, C. G. & Savini, T. (2018). "Identifying landscape factors affecting tiger decline in the Bangladesh Sundarbans". Global Ecology and Conservation. 13 e00382. Bibcode:2018GEcoC..1300382H. doi:10.1016/j.gecco.2018.e00382.
    207. Pisdamkham, C.; Prayurasiddhi, T.; Kanchanasaka, B.; Maneesai, R.; Simcharoen, S.; Pattanavibool, A.; Duangchantrasiri, S.; Simcharoen, A.; Pattanavibool, R.; Maneerat, S.; Prayoon, U.; Cutter, P. G. & Smith, J. L. D. (2010). Thailand Tiger Action Plan 2010–2022. Bangkok: Department of National Parks, Wildlife and Plant Conservation, Ministry of Natural Resources and Environment. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 5 May 2024. Diakses tanggal 16 April 2024.
    208. Chandradewi, D. S.; Semiadi, G.; Pinondang, I.; Kheng, V. & Bahaduri, L. D. (2019). "A decade on: The second collaborative Sumatra-wide Tiger survey". Cat News. 69: 41–42.
    209. Wibisono, H. T. (2021). An Island-wide Status of Sumatran Tiger (Panthera tigris sumatrae) and Principal Prey in Sumatra, Indonesia (Doctor of Philosophy in Entomology and Wildlife Ecology). Delaware: University of Delaware.
    210. Hötte, M. H.; Kolodin, I. A.; Bereznuk, S. L.; Slaght, J. C.; Kerley, L. L.; Soutyrina, S. V.; Salkina, G. P.; Zaumyslova, O. Y.; Stokes, E. J. & Miquelle, D. G. (2016). "Indicators of success for smart law enforcement in protected areas: A case study for Russian Amur tiger (Panthera tigris altaica) reserves". Integrative Zoology. 11 (1): 2–15. doi:10.1111/1749-4877.12168. PMID 26458501.
    211. Lam, W. Y.; Phung, C. C.; Mat, Z. A.; Jamaluddin, H.; Sivayogam, C. P.; Zainal Abidin, F. A.; Sulaiman, A.; Cheok, M. K. Y.; Osama, N. A. W.; Sabaan, S.; Abu Hashim, A. K.; Booton, M. D.; Harihar, A.; Clements, G. R. & Pickles, R. S. A. (2023). "Using a crime prevention framework to evaluate tiger counter-poaching in a Southeast Asian rainforest". Frontiers in Conservation Science. 4 1213552. Bibcode:2023FrCS....413552L. doi:10.3389/fcosc.2023.1213552.
    212. Bhatt, T. R.; Castley, J. G.; Sims-Castley, R.; Bara, H. S. & Chauvenet, A. L. M. (2023). "Connecting tiger (Panthera tigris) populations in Nepal: Identification of corridors among tiger-bearing protected areas". Ecology and Evolution. 13 (5) e10140. Bibcode:2023EcoEv..1310140B. doi:10.1002/ece3.10140. PMC 10227491. PMID 37261321.
    213. Harihar, A.; Pandav, B.; Ghosh-Harihar, M. & Goodrich, J. (2020). "Demographic and ecological correlates of a recovering tiger (Panthera tigris) population: Lessons learnt from 13-years of monitoring". Biological Conservation. 252 108848. Bibcode:2020BCons.25208848H. doi:10.1016/j.biocon.2020.108848.
    214. Rahaman, M. H.; Masroor, M.; Sajjad, H. & Saha, T. K. (2024). "Assessment of habitat suitability and potential corridors for Bengal Tiger (Panthera tigris tigris) in Valmiki Tiger Reserve, India, using MaxEnt model and Least-Cost modeling approach". Environmental Modeling & Assessment. 29 (2): 405–422. Bibcode:2024EMdAs..29..405R. doi:10.1007/s10666-024-09966-w.
    215. Rahman, H.; Hidayat, R. H.; Nofrizal, A. Y.; Wilastra, I. & Nasution, A. F. R. (2023). "Priority corridor zone for human-tiger conflict mitigation: A landscape connectivity approach in West Sumatra region, Indonesia". Journal for Nature Conservation. 76 126501. Bibcode:2023JNatC..7626501R. doi:10.1016/j.jnc.2023.126501.
    216. Paudyal, B. N. (2023). Evaluation of the project on transboundary cooperation on the conservation of Amur tigers, Amur leopards and Snow leopards in North-East Asia (PDF) (Report). Bangkok, Thailand: United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal 7 April 2024. Diakses tanggal 7 April 2024.
    217. Priatna, D.; Santosa, Y.; Prasetyo, L. B. & Kartono, A. P. (2012). "Home range and movements of male translocated problem tigers in Sumatra" (PDF). Asian Journal of Conservation Biology. 1 (1): 20–30.
    218. Rozhnov, V. V.; Naidenko, S. V.; Hernandez–Blanco, J. A.; Chistopolova, M. D.; Sorokin, P. A.; Yachmennikova, A. A.; Blidchenko, E. Yu.; Kalinin, A. Yu. & Kastrikin, V. A. (2021). "Restoration of the Amur Tiger (Panthera tigris altaica) population in the Northwest of its distribution area". Biological Bulletin. 48 (8): 1401–1423. Bibcode:2021BioBu..48.1401R. doi:10.1134/S1062359021080239.
    219. Gray, T. N.; Rosenbaum, R.; Jiang, G.; Izquierdo, P.; Yongchao, J .I. N.; Kesaro, L.; Lyet, A.; Pasha, M. K. S.; Patterson, D. J.; Channa, P.; Jinzhe, Q. I.; Ripple, W. J.; Roberts, J. L.; Roy, S.; Shwe, N. M.; Wolf, C. & Chapman, S. (2023). "Restoring Asia's roar: Opportunities for tiger recovery across the historic range". Frontiers in Conservation Science. 4 1124340. Bibcode:2023FrCS....424340G. doi:10.3389/fcosc.2023.1124340.
    220. Gray, T. N. E.; Crouthers, R.; Ramesh, K.; Vattakaven, J.; Borah, J.; Pasha, M. K. S.; Lim, T.; Phan, C.; Singh, R.; Long, B. & Chapman, S. (2017). "A framework for assessing readiness for Tiger Panthera tigris reintroduction: a case study from eastern Cambodia". Biodiversity and Conservation. 26 (10): 2383–2399. Bibcode:2017BiCon..26.2383G. doi:10.1007/s10531-017-1365-1.
    221. 1 2 Luo, S.-J.; Johnson, W. E.; Martenson, J.; Antunes, A.; Martelli, P.; Uphyrkina, O.; Traylor-Holzer, K.; Smith, J. L. D. & O'Brien, S. J. (2008). "Subspecies genetic assignments of worldwide captive tigers increase conservation value of captive populations". Current Biology. 18 (8): 592–596. Bibcode:2008CBio...18..592L. doi:10.1016/j.cub.2008.03.053. PMID 18424146.
    222. Thapar 2004, hlm. 187–200.
    223. Kothari, A. S.; Chhapgar, B. S.; Chhapgar, B. F., ed. (2005). "The Manpoora Tiger (about a Tiger Hunt in Rajpootanah)". The Treasures of Indian Wildlife. Mumbai: Bombay Natural History Society. hlm. 22–27. ISBN 0-19-567728-5.
    224. Thapar 2004, hlm. 193.
    225. 1 2 Nyhus, P. J. & Tilson, R. (2010). "Panthera tigris vs Homo sapiens: Conflict, coexistence, or extinction?" in Tilson & Nyhus 2010, hlm. 125–142
    226. 1 2 Goodrich, J. M. (2010). "Human–tiger conflict: A review and call for comprehensive plans". Integrative Zoology. 5 (4): 300–312. doi:10.1111/j.1749-4877.2010.00218.x. PMID 21392348.
    227. Mills 2004, hlm. 108–110.
    228. Thapar 2004, hlm. 276.
    229. Green 2006, hlm. 73–74.
    230. Powell, M. A. (2016). "People in peril, environments at risk: coolies, tigers, and colonial Singapore's ecology of poverty". Environment and History. 22 (3): 455–482. Bibcode:2016EnHis..22..455P. doi:10.3197/096734016X14661540219393. hdl:10356/88201. JSTOR 24810674.
    231. Thapar 2004, hlm. 274.
    232. Barlow, A. C.; Ahmad, I. & Smith, J. L. (2013). "Profiling tigers (Panthera tigris) to formulate management responses to human-killing in the Bangladesh Sundarbans". Wildlife Biology in Practice. 9 (2): 30–39. doi:10.2461/wbp.2013.9.6 (tidak aktif 1 July 2025). Pemeliharaan CS1: DOI nonaktif per Juli 2025 (link)
    233. Mills 2004, hlm. 111–113.
    234. Manfredi, P. "The Tiger in the Ancient World" in Thapar 2004, hlm. 173
    235. Thapar 2004, hlm. 179–180.
    236. Green 2006, hlm. 126–130.
    237. "EU's 'unlikely' role in global tiger trade revealed in new WWF, TRAFFIC report". World Wildlife Fund for Nature. 30 September 2020. Diakses tanggal 6 June 2023.
    238. Smith, K. D.; Snider, R. J.; Dembiec, D. P.; Siegford, J. M. & Ali, A. B. (2023). "Effects of a modern exhibit design on captive tiger welfare". Zoo Biology. 42 (3): 371–382. doi:10.1002/zoo.21746. PMID 36478300.
    239. Damasceno, J.; Genaro, G.; Quirke, T.; McCarthy, S.; McKeown, S. & O'Riordan, R. (2017). "The effects of intrinsic enrichment on captive felids". Zoo Biology. 36 (3): 186–192. doi:10.1002/zoo.21361. PMID 29165868.
    240. Thapar 2004, hlm. 202–204.
    241. Green 2006, hlm. 140–141.
    242. Iossa, G.; Soulsbury, C. D. & Harris, S. (2009). "Are wild animals suited to a travelling circus life?". Animal Welfare. 18 (2): 129–140. doi:10.1017/S0962728600000270. S2CID 32259865.
    243. Thapar 2004, hlm. 204–205.
    244. Thapar 2004, hlm. 214.
    245. "June 18 Deadline for Compliance With Big Cat Public Safety Act". U.S. Fish & Wildlife Service. 2023. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 20 February 2024. Diakses tanggal 20 February 2024.
    246. Guidance Document on the export, re-export and intra-EU trade of captive-born and bred live tigers and their parts and derivatives (Report). European Commission. 18 April 2023. Diakses tanggal 6 June 2024.
    247. "Endangered tiger earns its stripes as the world's most popular beast". The Independent. 2004. Diarsipkan dari asli tanggal 20 January 2008. Diakses tanggal 7 March 2009.
    248. Albert, C.; Luque, G. M. & Courchamp, F. (2018). "The twenty most charismatic species". PLOS ONE. 13 (7) e0199149. Bibcode:2018PLoSO..1399149A. doi:10.1371/journal.pone.0199149. PMC 6037359. PMID 29985962.
    249. 1 2 3 Werness, H. B. (2007). The Continuum Encyclopedia of Animal Symbolism in World Art. New York: Continuum. hlm. 402–404. ISBN 978-0-8264-1913-2.
    250. Green 2006, hlm. 39, 46.
    251. Thapar, R. "In Times Past" in Thapar 2004, hlm. 156, 164
    252. Cooper, J. C. (1992). Symbolic and Mythological Animals. London: Aquarian Press. hlm. 227. ISBN 978-1-85538-118-6.
    253. Green 2006, hlm. 60, 86–88, 96.
    254. Green 2006, hlm. 96.
    255. 1 2 Thapar 2004, hlm. 152.
    256. Green 2006, hlm. 72–73, 78, 125–127, 147–148.

    Bibliografi

    [sunting | sunting sumber]

    Pranala luar

    [sunting | sunting sumber]