Pemangsa

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Pemangsa atau predator adalah segala jenis hewan yang memiliki kebiasaan memakan hewan lain. Hewan yang diburu pemangsa disebut mangsa. Pemangsa biasanya berasal dari jenis karnivor. Beberapa jenis pemangsa adalah semut dan burung. Keberadaan pemangsa dapat mengendalikan populasi dari suatu spesies hewan khususnya di lahan pertanian. Pemangsa terancam keberadaannya salah satunya oleh pemakaian pestisida.

Rantai makanan[sunting | sunting sumber]

Dalam suatu ekosistem terdapat kondisi di mana makhluk hidup saling memakan dan dimakan. Kondisi ini pada urutan tertentu membentuk rantai makanan. Terbentuknya rantai makanan disebabkan oleh keberadaan dua jenis makhluk hidup, yaitu mangsa dan pemangsa. Makhluk hidup yang menjadi pemakan disebut pemangsa. Sedangkan makhluk hidup yang jadi sasaran untuk dimakan disebut mangsa.[1]

Dalam rantai makanan, pemangsa umumnya disebut sebagai konsumen. Posisi pemangsa pada rantai makanan berada pada trofik tingkat menengah dan trofik puncak.[2] Dalam rantai makanan, pemangsa karnivor memangsa hewan herbivor.[3]

Mangsa[sunting | sunting sumber]

Seekor singa betina sedang memangsa kerbau. Singa adalah salah satu hewan pemangsa.

Pemangsa membunuh mangsanya untuk memenuhi kebutuhan makannya. Proses pemangsaan oleh pemangsa dapat terjadi pada tahap perkembangan apapun pada mangsa. Pemangsa biasanya melumpuhkan mangsanya terlebih dahulu sebelum memakannya. Setelah mangsanya tidak bergerak, pemangsa memakan mangsanya secara cepat. Pemangsa memerlukan mangsa lebih dari satu jenis. Pertumbuhan pemangsa dapat terjadi jika pemangsa memakan lebih dari satu jenis mangsa selama hidupnya. Hewan pemangsa yang berjenis karnivor memangsa hewan lain untuk memakan daging, tulang dan telur mangsanya.[4]

Pemangsa secara umum merupakan hewan yang memiliki tubuh yang lebih besar dibandingkan hewan lain yang jadi mangsanya. Misalnya ular yang memangsa tikus, atau elang yang memakan kelinci. Namun, beberapa pemangsa memiliki tubuh lebih kecil dibandingkan mangsanya. Misalnya, harimau dan singa yang memangsa jerapah dan kerbau.[5]

Jenis[sunting | sunting sumber]

Semut[sunting | sunting sumber]

Pada ekosistem tropis, semut merupakan kelompok pemangsa yang penting. Kemampuan semut sebagai pemangsa adalah pengendalian hayati semut. Spesies semut yang memiliki peran besar dalam pengendalian hayati misalnya semut rangrang. Kemampuannya adalah memangsa telur, larva, pupa dan imago serangga yang menjadi hama. Namun, semut dapat mengalami penurunan kemampuan bersamaan dengan perubahan struktur vegetasi di habitat hidupnya. Semut dalam hal ini berperan menjadi pengendali populasi hama. Keuntungan lainnya adalah semut mampu merekayasa ekosistem dengan aerasi tanah dan membuat sirkulasi nutrien menjadi lebih baik. Pada sisi lain, semut berperan merugikan di habitat tropis. Semut memiliki kemampuan menginvasi lalu menyerang dan mendominasi sehingga mengancam fauna dan flora lokal. Spesies merugikan ini misalnya semut dari spesies Wasmania punctata yang mengurangi keanekaragaman spesies semut lain secara drastis hingga menyebabkan kepunahan spesies semut lain.[6]

Burung[sunting | sunting sumber]

Burung adalah jenis pemangsa dengan mangsa utama berupa serangga. Dalam ekosistem, burung berperan dalam pengendalian populasi serangga.[7]

Pemanfaatan oleh manusia[sunting | sunting sumber]

Pengendalian hayati untuk pertanian[sunting | sunting sumber]

Manusia melakukan rekayasa keberadaan pemangsa untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan. Pemangsa dijadikan sebagai salah satu musuh alami bagi  organisme pengganggu tumbuhan dan pengendali alami yang utama bagi hama. Manusia menggunakan pengetahuan dasar ekologi tentang pengaturan alami populasi serta keseimbangan ekosistem. Pengendalian hayati yang dilakukan dengan pemangsa sebagai agensia hayatinya adalah pengendalian kepadatan populasi dari hama.[8] Populasi pemangsa sebagai agen pengendali alami dalam pengendali hayati dipengaruhi dan ditentukan oleh perkembangan populasi hama.[9]

Keberadaan pemangsa hama tanaman dipertahankan dengan menyediakan lahan refugia. Lahan ini merupakan lahan pertanaman campuran dengan jenis tumbuhan yang berperan sebagai habitat, sumber pakan dan sumber daya bagi pemangsa hama tanaman. Beberapa jenis tanaman refugia yaitu bunga matahari, bunga pukul empat, kenikir, bunga tapak dara, jengger ayam dan kembang kertas. Jenis tumbuhan lain yang dapat digunakan sebagai refugia adalah gulma yang berbunga.[10]

Keberadaan pemangsa pada sistem pertanian tidak dibudidayakan. Namun, keberadaannya menjadi pendukung produksi pertanian bersama dengan mikroorganisme tanah dan penyerbuk.[11]

Ancaman[sunting | sunting sumber]

Pestisida yang digunakan oleh manusia untuk meningkatkan hasil produksi pertanian dapat membunuh hama sasaran. Namun, penggunaan pestisida dalam skala yang luas dapat membunuh makhluk hidup lain selain hama sasaran, termasuk pemangsa hama.[12]

Lihat juga[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Rifa’i, M., dan Subchan (2015). "Analisa Kestabilan dan Kendali Optimal pada Model Pemanenan Prey Predator dengan Fungsi Repon Tipe III" (PDF). Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika UMS 2015: 34. ISBN 978-602-719-934-7. 
  2. ^ Maas, B., dkk. (2018). Dampak Jasa Ekosistem yang Diberikan oleh Burung dan Kelelawar di Kebun Kakao Rakyat di Sulawesi Tengah (PDF). Göttingen university Press. hlm. 80. ISBN 978-602-6619-39-6. 
  3. ^ Rahmadina dan Febriana, H. (2017). Manalu, Kartika, ed. Biologi Sel: Unit Terkecil Penyusun Tubuh Makhluk Hidup (PDF). Surabaya: CV. Selembar Papyrus. hlm. 99. ISBN 978-602-50521-3-2. 
  4. ^ Subaidi, A., Hartati, S., dan Humaedah, U. (2012). Mengenal Pemangsa Hama (Predator) pada Pertanaman Padi (PDF). Bogor: Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. hlm. 2. ISBN 978-979-1415-80-4. 
  5. ^ Jumanta (2020). Buku Pintar Hewan: Segala yang Perlu Kita Tahu tentang Mereka. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. hlm. 4. ISBN 978-602-049-052-6. 
  6. ^ Saputra, A., Arifin, Z., dan Riyanto (2020). "Pola Prilaku Keberadaan Semut Famili Formicidae pada Tepian Sungai Musi Gandus Kota Palembang Sumatera Selatan". Jurnal Biologi Tropis. UPT Mataram University Press. 20 (1): 117. doi:10.29303/jbt.v20i1.1735. 
  7. ^ Kamal, Samsul (2016). "Keanekaragaman Jenis Burung Predator Serangga di Kawasan Hutan Sekunder Rinon Pulo Aceh". Prosiding Seminar Nasional Biotik 2016: 174. ISBN 978-602-18962-9-7. 
  8. ^ Sopialena (2018). Pengendalian Hhayati dengan Memberdayakan Potensi Mikroba (PDF). Samarinda: Mulawarman University Press. hlm. 4. 
  9. ^ Herlinda, S., dan Irsan, C. (2015). Pengendalian Hayati Hama Tumbuhan (PDF). Palembang: Unsri Press. hlm. 1. ISBN 979-587-568-X. 
  10. ^ Sari, D. E., dan Fitrianti (2022). "Perbandingan Jenis-Jenis Arthropoda pada Lahan yang diaplikasikan Pestisida Nabati dan Refugia" (PDF). Bioma: Jurnal Biologi Makassar. 7 (1): 68. ISSN 2528-7168. 
  11. ^ Saleh, Shahabuddin. "Manajemen Agrobiodiversitas untuk Mendukung Sistem Pertanian Berkelanjutan" (PDF). Prosiding Seminar Nasional Biodiversity Conservation: 18. ISBN 978-602-6619-69-3. 
  12. ^ Yuantari, MG C., Widiarnako, B., dan Sunoko, H. R. (2013). "Tingkat Pengetahuan Petani dalam Menggunakan Pestisida: (Studi Kasus di Desa Curut Kecamatan Penawangan Kabupaten Grobogan)" (PDF). Prosiding Seminar Nasional Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan 2013: 142–143. ISBN 978-602-17001-1-2.