Kabupaten Raja Ampat

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kabupaten Raja Ampat
Lambang Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat.gif
Lambang Kabupaten Raja Ampat


Moto: Mbilin Kayam



Julukan: Caribbean van Papua


92.05.00 PapuaBarat Raja Ampat.svg
Peta lokasi Kabupaten Raja Ampat di Papua Barat
Koordinat: 01º15LU-o2º15LS & 120º10-121º10BT
Provinsi Papua Barat
Dasar hukum UU Nomor 26 Tahun 2002/LN Nomor 129 Tahun 2002
Tanggal peresmian 12 April 2003
Ibu kota Waisai
Pemerintahan
- Bupati H. Abdul Faris Umlati, SE[1]
- Wakil Manuel Piter Urbinas, S.Pi, M.Si
APBD
- DAU Rp.486.042.052.000.-(2013)[2]
Luas 7.559,60 km² [3][4]
Populasi
- Total 47.885 jiwa (2018)[3]
- Kepadatan 6,33 jiwa/[3]
Demografi
- Suku bangsa Laganyan, Matbat, Wawiyai, Kawe dll
- Agama Kristen 68,10%
- Protestan 67,34%
- Katolik 0,76%
Islam 31,83%
Hindu 0,06%
Buddha 0,01%[5]
- Bahasa Indonesia, Wawiyai
- Zona waktu WIT
- Kode area telepon 0923
- Bandar udara Bandar Udara Domine Eduard Osok
Bandar Udara Marinda
Pembagian administratif
- Kecamatan 24 distrik[4][3]
- Kelurahan 4[4][3]
- Desa 117[4]
Simbol khas daerah
- Flora resmi Anggrek Dendrobium Azureum
- Fauna resmi Maleo Waigeo
Situs web http://www.rajaampatkab.go.id/
Kepulauan Raja Ampat
Pyainemo Raja Ampat

Kabupaten Raja Ampat adalah salah satu kabupaten di provinsi Papua Barat, Indonesia. Ibukota kabupaten ini terletak di Waisai. Kabupaten ini memiliki 610 pulau, termasuk kepulauan Raja Ampat. Empat di antaranya, yakni Pulau Misool, Salawati, Batanta dan Waigeo, merupakan pulau-pulau besar. Dari seluruh pulau hanya 35 pulau yang berpenghuni sedangkan pulau lainnya tidak berpenghuni dan sebagian besar belum memiliki nama. Kabupaten ini memiliki total luas 67.379,60 km² dengan rincian luas daratan 7.559,60 km² dan luas lautan 59.820,00 km².[3]

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Daftar Bupati[sunting | sunting sumber]

Daftar Bupati Raja Ampat

Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Demografi[sunting | sunting sumber]

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Penduduk kabupaten Raja Ampat pada tahun 2018 berjumlah 47.885 jiwa dengan rincian 25.425 jiwa laki-laki dan 22.460 perempuan. Penduduk terbanyak berada di ibukota kabupaten, yakni kota Waisai, sebanyak 8.189 jiwa, dengan kepadatan 125,85 jiwa/km². Sementara penduduk paling sedikit berada di kecamatan kecamatan Warwarbomi yakni 946 jiwa, 498 laki-laki dan 448 perempuan.[3]

Agama[sunting | sunting sumber]

Penduduk kabupaten Raja Ampat mayoritas memeluk agama Kristen. Berdasarkan data Sensus Penduduk Indonesia 2010, pemeluk agama Kristen berjumlah 68,10%, dimana 67,34% adalah Protestan dan sebagian kecil Katolik yakni 0,76%. Pemeluk agama Islam juga cukup signifikan berjumlah 31,83%, kemudian Hindu 0,06% dan Buddha 0,01%.[5]

Suku Bangsa[sunting | sunting sumber]

Sementara itu, etnis yang ada di Raja Ampat cukup multienis. Etnis atau suku asli kabupaten ini termasuk suku Laganyan, Matbat, Wawiyai, Kawei, Ambel, Wardo, dan Usba dan suku lainnya yang tersebar di setiap pulau-pulau Raja Ampat.[6] Selain itu, suku pendatang juga cukup banyak terlebih saat ini kabupaten Raja Ampat menjadi kawasan wisata favorit hingga mancanegara. Pendatang seperti suku Jawa, Bugis, Minahasa, Batak, dan penduduk asli dari berbagai kabupaten di pulau Papua lainnya, mulai banyak bermukim di Raja Ampat.

Budaya[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Raja Ampat memiliki beragam budaya yang menjadi ciri khas kabupaten ini. Salah satu kebudayaan yang ada di Raja Ampat adalah Tradisi Wala. Wala adalah sebuah tradisi lisan berupa nyanyian yang dibawakan bersamaan dengan gerakan tarian.[7] Tradisi Wala dikenal oleh Suku Matbat, yang merupakan suku asli dari pulau Misool dan tradisi Wala hanya digelar pada acara tertentu saja. Penduduk di Misool secara umum mengenal Tradisi Wala. Mereka menyebutnya sebagai 'lan batan o' atau lagu tanah, yang menkisah tentang asal usul 'Batan Me' atau lahirnya komunitas di pulau Misool dan persebaran kehidupan masyarakat suku Matbat.[7]

Tradisi ini sempat hampir punah, karena tidak dipelihara oleh penduduk local. Namun, pada tanggal 08 Oktober 2019, tradisi Wala diakui sebagai budaya nasional dan telah dituangkan dalam bentuk sertifikat yang ditandangani oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan , Prof.Dr.Effendy Muhadjir, di Jakarta.[7]

Foto[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ "Ribuan Warga Sambut Bupati Terpilih Raja Ampat", Tabloit Jubi, 31 Januari 2016
  2. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses tanggal 2013-02-15. 
  3. ^ a b c d e f g "Kabupaten Raja Ampat Dalam Angka 2019". www.rajaampatkab.bps.go.id. Diakses tanggal 22 Februari 2020. 
  4. ^ a b c d "Permendagri no.137 tahun 2017". 27 Desember 2017. Diakses tanggal 12 Juni 2018. 
  5. ^ a b "Penduduk Menurut Wilayah dan Agama yang Dianut di Kabupaten Raja Ampat". www.sp2010.bps.go.id. Diakses tanggal 22 Februari 2020. 
  6. ^ "Bupati Raja Ampat, Abdul Faris Umlati, Dikukuhkan Sebagai Anak Adat Oleh Suku-suku di Pulau Waigeo". www.metrorakyat.com. Diakses tanggal 22 Februari 2020. 
  7. ^ a b c "Budaya Wala sebagai Identitas Suku Matbat". www.travel.detik.com. Diakses tanggal 22 Februari 2020. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]