Kabupaten Sumba Timur

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kabupaten Sumba Timur
Nusa Tenggara 1rightarrow blue.svg Nusa Tenggara Timur
Lambang Kabupaten Sumba Timur.jpg
Lambang
Motto: 
Matawai Amahu pada Njara Hamu
Lokasi Nusa Tenggara Timur Kabupaten Sumba Timur.svg
Kabupaten Sumba Timur berlokasi di Kepulauan Sunda Kecil
Kabupaten Sumba Timur
Kabupaten Sumba Timur
Kabupaten Sumba Timur berlokasi di Indonesia
Kabupaten Sumba Timur
Kabupaten Sumba Timur
Koordinat: 9°53′00″S 120°15′00″E / 9.88333°S 120.25°E / -9.88333; 120.25
Negara Indonesia
ProvinsiNusa Tenggara Timur
Tanggal peresmian1958
Ibu kotaWaingapu
Pemerintahan
 • BupatiDrs. Gidion Mbiliyora, M.S
 • Wakil bupatiUmbu Lili Pekuwali, ST, MT
Luas
 • Total7.000,5 km2 (27,029 sq mi)
Populasi
 • Total258.486 jiwa
Demografi
 • AgamaKristen 91,97%
Protestan 81,70%
Katolik 10,27%
Islam 7,84%
Hindu 0,18%
Buddha 0,01%[2]
Zona waktuWITA (UTC+08:00)
Kode telepon0387
Kode Kemendagri53.11 Edit the value on Wikidata
Jumlah kecamatan22 Kecamatan
Jumlah kelurahan-
DAURp. 515.736.111.000.-(2013)[3]
Situs webhttp://www.sumbatimurkab.go.id/
Kantor DPRD Kabupaten Sumba Timur di Kota Waingapu

Kabupaten Sumba Timur merupakan salah satu kabupaten yang berada di provinsi Nusa Tenggara Timur. Pada masa lalu, kabupaten ini berada di bawah Keresidenan Timor. Kabupaten Sumba Timur sendiri meliputi 60% wilayah yang ada di pulau Sumba. Kabupaten memiliki penduduk ditahun 2019 sebanyak 258.486 jiwa, dan pusat pemerintahan terletak di kota Waingapu.[1]

Geografis[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Sumba Timur merupakan salah satu kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Timur yang terletak pada koordinat 119°45'–120°52' Bujur Timur (BT) dan 9°16'–10°20' Lintang Selatan (LS). Luas wilayah Kabupaten Sumba Timur adalah 7.000,5 km² atau 700.050 Ha. Dari 98 pulau-pulau kecil di sekelilingnya, hanya 3 pulau sudah dihuni yaitu Pulau Salura, Pulau Menggudu, dan Pulau Kotak.[4]

Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Sumba Timur menempati wilayah timur Pulau Sumba dengan batas-batas wilayah sebagai berikut:

Utara Selat Sumba
Timur Laut Sabu
Selatan Samudra Hindia
Barat Kabupaten Sumba Tengah

Selain itu kabupaten Sumba Timur juga meliputi empat pulau kecil di selatan, yakni Pulau Salura, Pulau Mengkudu, Pulau Kotak dan Pulau Nusa.

Topografi[sunting | sunting sumber]

Kondisi topografi Sumba Timur secara umum datar (di daerah pesisir), landai sampai bergelombang (wilayah dataran rendah <100 meter) dan berbukit (pegunungan). Daerah dengan ketinggian di atas 1000 meter hanya sedikit di wilayah perbukitan dan gunung. Lahan pertanian terutama di dataran pantai utara yang memiliki cukup air di permukaan maupun sungai-sungai besar. Setidaknya terdapat 88 sungai dan mata air yang tidak kering di musim kemarau.

Rangkaian pegunungan dan bukit-bukit kapur curam yang menguasai wilayah bagian tengah dengan empat puncak: Mawunu, Kombapari, Watupatawang dan Wanggameti. Dataran rendah terdapat di sepanjang pesisir dengan bagian yang cukup luas di Tanjung Undu (pesisir paling barat). Amplitudo suhu yang tinggi mengakibatkan batu-batuan menjadi lapuk, tanah merekah dan terjadi seleksi alam terhadap tumbuhan dan hewan yang dapat hidup dalam kondisi demikian. Karena itu, jenis tumbuhan yang ada umumnya berupa tanaman keras seperti jati, kelapa dan aren, sementara hewan peliharaan umumnya adalah sapi, kerbau dan kuda yang telah menyesuaikan diri dengan keadaan alam Sumba yang berpadang sabana luas.

Keadaan tanah di Sumba Timur mengandung pasir, kapur dan batu karang karena ratusan ribu tahun yang lalu daerah ini berada di bawah permukaan laut. Setelah zaman es berlalu, daratan ini muncul di atas permukaan laut, sehingga sering dijumpai berbagai jenis hewan laut seperti kerang, ikan dan tanaman laut yang telah menjadi fosil di bukit-bukit karang. Rumput-rumput pun tumbuh di atas batu-batu karang.

Iklim[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Sumba Timur beriklim sabana tropis (Aw) dengan musim hujan yang relatif singkat dan musim kemarau yang panjang (±8 bulan). Suhu rata-rata adalah 22,5 derajat sampai 31,7 derajat Celsius dan tingkat kelembapan nisbi sebesar ±73% per tahun. Musim penghujan biasanya terjadi di bulan Desember sampai akhir bulan Maret dengan rata-rata curah hujan ≥150 mm per bulan. Sementara itu, musim kemarau biasanya berlangsung sejak pertengahan bulan April sampai dasarian kedua bulan November dengan puncak musim kemarau yakni pada bulan JuliSeptember. Jumlah curah hujan yang cenderung sedikit dalam setahun yakni sebesar 700–1200 milimeter per tahun dengan jumlah hari hujan tahunan berkisar antara 60–120 hari hujan per tahun menyebabkan sebagian besar daerah Kabupaten Sumba Timur termasuk dalam wilayah yang kering.

Data iklim Waingapu, Sumba Timur, Indonesia
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Tahun
Rata-rata tertinggi °C (°F) 30.8
(87.4)
31.4
(88.5)
31.7
(89.1)
32.5
(90.5)
32.7
(90.9)
31.1
(88)
30.5
(86.9)
31.3
(88.3)
32.1
(89.8)
33.3
(91.9)
32.3
(90.1)
31.7
(89.1)
31.78
(89.21)
Rata-rata harian °C (°F) 25.7
(78.3)
26.5
(79.7)
27
(81)
26.8
(80.2)
25.2
(77.4)
24.4
(75.9)
23.7
(74.7)
24
(75)
25.1
(77.2)
26.2
(79.2)
27.7
(81.9)
26.4
(79.5)
25.72
(78.33)
Rata-rata terendah °C (°F) 21.6
(70.9)
21.9
(71.4)
22
(72)
21.4
(70.5)
20.6
(69.1)
19.5
(67.1)
18
(64)
19.2
(66.6)
20.5
(68.9)
21.2
(70.2)
22.3
(72.1)
22.1
(71.8)
20.86
(69.55)
Presipitasi mm (inci) 213.9
(8.421)
195.7
(7.705)
176.3
(6.941)
61.4
(2.417)
23.2
(0.913)
2.5
(0.098)
0.4
(0.016)
0.3
(0.012)
1.2
(0.047)
20.1
(0.791)
52.6
(2.071)
183.4
(7.22)
931
(36.652)
Rata-rata hari hujan 16 15 13 7 3 0 0 0 0 2 6 13 75
% kelembapan 83 83 81 76 72 69 65 63 65 67 73 79 73
Rata-rata sinar matahari bulanan 190 171 201 258 267 258 274 288 280 292 247 213 2.939
Sumber #1: Climate-Data.org[5]
Sumber #2: Weatherbase[6]

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Daftar Bupati[sunting | sunting sumber]

Berikut adalah Daftar Bupati Sumba Timur dari masa ke masa.

No Bupati Mulai menjabat Akhir menjabat Prd. Ket. Wakil Bupati
1
Rangga Horo
1946
1950
1
2
Umbu Tipuk Marisi
1950
1958
2
3
Lesu Djaga Dapawolle
1958
1967
3
4
Umbu Haramburu Kapita
1967
1978
4
5
dr.
Lapoe Moekoe
1978
1984
5
6
Adrianus Zooai
1984
1989
6
7
T. P. Munthe
1989
1994
7
8
Drs.
Lukas Mb Kaborang
1994
1999
8
9
Ir.
Umbu Mehang Kunda
2000
2005
9
Ir.
Emanuel Babu Eha
M.Si.
2005
2008
10
Drs.
Gidion Mbiliyora
M.Si.
Drs.
Gidion Mbiliyora
M.Si.
2008
2010
10
2010
2015
11
dr.
Matius Kitu
Sp.B
Yohanes L. Hawula
SH., M.Si
2015
2016
(10)
Drs.
Gidion Mbiliyora
M.Si.
17 Februari 2016
17 Februari 2021
12
[7]
Umbu Lili Pekuwali
ST., MT

Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Sumba Timur dibagi menjadi 22 kecamatan, yaitu:

  1. Haharu
  2. Kahaungu Eti
  3. Kambata Mapambuhang
  4. Kambera
  5. Kanatang
  6. Karera
  7. Katala Hamu
  8. Kota Waingapu
  9. Lewa
  10. Lewa Tidahu
  11. Mahu
  12. Matawai Lapau
  13. Ngadu Ngala
  14. Nggaha Oriangu
  15. Paberiwai
  16. Pahunga Lodu
  17. Pandawai
  18. Pinu Pahar
  19. Rindi
  20. Tabundung
  21. Umalulu
  22. Wulla Waijelu

Demografi[sunting | sunting sumber]

Seorang gadis Sumba Timur dari golongan menengah (kabisu) pada tahun 1930

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Jumlah Penduduk Kabupaten Sumba Timur (2002) adalah 190.214 jiwa atau dengan kepadatan rata-rata 27 jiwa/km². Kepadatan tertinggi di Kecamatan Waingapu, yaitu 1.049 jiwa/km², sedang kepadatan terendah ada di Kecamatan Haharu, yaitu 13 jiwa/km². Disamping orang Sumba Timur asli juga terdapat orang Sabu, keturunan Tionghoa, Arab, Bugis, Jawa dan penduduk yang berasal dari daerah Nusa Tenggara Timur lainnya. Bahasa daerah yang digunakan adalah Bahasa Sumba Kambera. Tahun 2017, penduduk kabupaten Sumba Timur mwncapai 252.704 jiwa dengan kepadatan 36,09 jiwa/km².[1]

Agama[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik kabupaten Sumba Timur mencatat bahwa sebagian besar penduduk di kabupaten ini menganut agama Kristen sebanyak 91,97% (Protestan 81,70% dan Katolik 10,27%). Selebihnya penganut agama Islam sekitar 7,84% yang kebanyakan tinggal di ibukota kabupaten, kemudian Hindu 0,18% dan Budha 0,01%.[2] Sejumlah penduduk Sumba Timur masih memegang tradisi leluhur dengan menganut aliran tradisional yakni Marapu,[1] aliran kepercayaan di pulau Sumba yang masih ada hingga saat ini. Pemerintah telah menjamin dan mengakui setiap aliran kepercayaan yang ada di Indonesia.

Meskipun keadaan tanahnya kurang subur, lebih dari separuh penduduk kabupaten Sumba Timur ini adalah petani. Selain itu ada juga yang bekerja sebagai peternak, pegawai, buruh, nelayan dan lain-lain. Walaupun sektor pertanian menempati tempat pertama dalam pendapatan regional, luas sawah yang bisa digarap baru 11 persen dari luas tanah kabupaten seluruhnya. Penggarapan sawah ini dilakukan dengan cara tradisional yang disebut renca, yaitu pengerahan tenaga manusia dan kerbau dalam jumlah besar di atas tanah sawah yang akan ditanami. Kaki-kaki kerbau yang berjumlah puluhan ini digunakan sebagai pengganti bajak dan pekerjaan renca ini diawali dan diakhiri dengan upacara keagamaan (ritus). Kehidupan sehari-hari penduduknya pada dasarnya merupakan cerminan kehidupan agama tradisional mereka. Hal ini bisa dilihat saat mereka melaksanakan berbagai upacara adat berkenaan dengan daur hidup seperti upacara kelahiran (habola), perkawinan (lalei atau mangoma) dan kematian (pa taningu).

Perekonomian[sunting | sunting sumber]

Perekonomian penduduk Sumba Timur ini sebagian besar adalah pertanian, (termasuk peternakan), industri rumah tangga (terutama kerajinan tekstil/tenun) serta pariwisata.

Kerajinan[sunting | sunting sumber]

Industri rumah tangga di Sumba Timur didominasi kerajinan kain tenun ikat yang terdapat di hampir seluruh penjuru kabupaten. Kerajinan kain tenun ikat ini sudah terkenal sejak ratusan tahun. Ada dua kelompok pengrajin, yaitu yang menggantungkan seluruh penghasilannya pada pekerjaannya dan yang melakukannya hanya sebagai kerjaan sambilan. Seniman sambilan ini umumnya adalah mereka yang secara sosial masih memiliki fungsi adat seperti kaum bangsawan (maramba). Walaupun merupakan hasil sambilan, tenun jenis ini bermutu tinggi karena sebenarnya tenunan tersebut bukanlah barang dagangan, hanya sebagai koleksi atau digunakan dalam upacara adat. Ada beberapa daerah yang terkenal dengan kain tenunnya, seperti Desa Kaliuda yang terletak di Kecamatan Pahungalodu, Rindi dan Watuhadang yang terletak di kecamatan Rindiumalulu, Rambangaru yang terletak di kecamatan Pandawai dan Kelurahan Prailulu. Tenunan dari daerah ini bermutu tinggi karena dibuat dengan menggunakan ramuan tradisional dan membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikannya. Tidak jarang ada tenunan yang lama penyelesaiannya hingga tahunan, yang menyebabkan harga jualnya pun mencapai jutaan rupiah, terutama yang berasal dari Rindi, Kaliuda dan Kampung Pau.

Kerajinan tenun ini juga mendukung kegiatan pariwisata di kabupaten ini.

Pertanian tanaman[sunting | sunting sumber]

Pada sektor pertanian tanaman, padi, jagung dan ubi kayu menjadi andalan. Hasil pertanian lainnya adalah cengkih, kapuk, kemiri, kelapa, ubi jalar, kacang tanah, kacang hijau, sorgum dan jambu mete. Hasil pertanian tersebut telah dikembangkan sejak tahun 1977.

Peternakan[sunting | sunting sumber]

Ekspor Sapi dari Sumba sekitar 1948

Sektor peternakan memiliki sejarah panjang dan cukup berbeda dari daerah lain di Indonesia, oleh sebab keadaan alam wilayah ini yang memiliki musim penghujan pendek dan padang rumput (sabana) luas. Sumba Timur terkenal sebagai pusat penangkaran dan perdagangan kuda sejak abad ke-19. Kuda sandel yang merupakan hasil perbaikan (grading up) kuda lokal dengan kuda Arab telah menjadi maskot daerah dan figurnya dimasukkan dalam lambang daerah.

Pada awal abad ke-20 (1906-1907) pemerintah Hindia Belanda memasukkan empat ras sapi ke Sumba, sapi jawa, sapi madura, sapi bali dan sapi ongole dari India. Hanya yang terakhir yang diketahui bisa beradaptasi dengan baik dan segera menjadi komoditas peternakan unggulan, menggeser kuda.[8] Tujuh tahun sejak introduksi, pemerintah menetapkan Sumba sebagai pusat penangkaran sapi ongole murni dan sejak itu biakannya dikenal sebagai ras SO (Sumba Ongole) dan ini berlangsung hingga sekarang.

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Senja di Pantai Walakiri

Pantai Kalala, Pantai Alfon Ndawa Lu, Tarimbang, Purukambera dan Walakiri sudah mendunia dan dikenal sebagai tempat berselancar yang indah. Sisa-sisa kebudayaan megalitik berupa kubur batu dan rumah-rumah adat asli yang sering menjadi tempat pelaksanaan upacara adat penguburan jenazah bangsawan menarik minat para wisatawan. Wisata alam dapat dilakukan di Taman Nasional Laiwangi Wanggameti.[9]

Tempat wisata populer lainnya adalah Londa Lima, Watuparunu dan Purukambera. Selain itu, Sumba Timur juga mempunyai objek wisata alam Air Terjun Laputi.[10]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d "Kabupaten Sumba Timur Dalam Angka 2020". BPS Kabupaten Sumba Timur. Diakses tanggal 7 Oktober 2020. 
  2. ^ a b "Persentase Pemeluk Agama Menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Nusa Tenggara Timur 2018". www.nttprov.go.id. Diakses tanggal 16 Januari 2020. 
  3. ^ "Perpres No. 10 Tahun 2013". 2013-02-04. Diakses tanggal 2013-02-15. 
  4. ^ "Profil Sumba Timur" (PDF). 
  5. ^ "Waingapu, Sumba Timur, Indonesia". Climate-Data.org. Diakses tanggal 10 Agustus 2020. 
  6. ^ "WAINGAPU, INDONESIA". Weatherbase. Diakses tanggal 11 Agustus 2020. 
  7. ^ Media, Kompas Cyber (2018-10-02). "Bupati Sumba Timur: Pasca-gempa, Warga Jangan Panik - Kompas.com". KOMPAS.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2018-11-07. 
  8. ^ Artikel "Seabad Sapi Ongole di Sumba Timur" dari arsip Kompas Online edisi 29 Oktober 2005, laporan Cokorda Yudistira
  9. ^ Artikel tentang "Kabupaten Sumba Timur" di laman Kompas Online edisi 3 Mei 2002, dari Litbang Kompas (diambil dari cache google)
  10. ^ "Air Terjun Laputi: Salah Satu Air Terjun Cantik di Sumba Timur". Travelmate Kamu. Diakses tanggal 17 April 2015. 

Pustaka[sunting | sunting sumber]

  • Ensiklopedia Nasional Indonesia.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]