Haharu, Sumba Timur

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Haharu
Kecamatan
Negara  Indonesia
Provinsi Nusa Tenggara Timur
Kabupaten Sumba Timur
Pemerintahan
 • Camat Haharu
Luas 601,5 Km²
Jumlah penduduk 6.667 Jiwa
Kepadatan 10 jiwa/km²

Haharu adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Ibu kota kecamatan ini terletak di Desa Rambangaru. Kecamatan Haharu berjarak sekitar 43 Km berkendara dari ibu kota Kabupaten Sumba Timur ke arah barat. Luas wilayahnya 601,5 Km² terbagi menjadi 7 Desa, 15 Dusun, 30 RW, 75 RT. Jumlah penduduk Kecamatan haharu 6.667 Jiwa dengan 1.401 Rumah Tangga.

Batas wilayah[sunting | sunting sumber]

Batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut:[1]

Utara Laut Sawu
Selatan Kecamatan Lewa dan Kecamatan Nggoa
Barat Kecamatan Lewa dan Kabupaten Sumba Tengah
Timur Kecamatan Kanatang

Desa/kelurahan[sunting | sunting sumber]

  1. Kadahang
  2. Kalamba
  3. Mbatapuhu
  4. Napu
  5. Praibakul
  6. Rambangaru
  7. Wunga

Geografi[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Haharu terletak di pulau Sumba tepatnya di bagian barat sebelah utara Kabupaten Sumba Timur. Luas wilayah Kecamatan Haharu adalah 601,5 Km². Topografi wilayahnya sebagian besar berupa perbukitan dengan ketinggian antara 0-400 meter diatas permukaan air laut. Sepanjang wilayah utara merupakan wilayah pesisir yang relatif sempit terutama di sekitar Tanung Sasar. Umumnya disepanjang utara berbukit dan curah hujan yang sangat rendah dan tidak merata tiap tahun. Dimana musim hujan relative lebih rendah dibandingkan musim kemarau. Sungai utama yang melintasi wilayah ini diantaranya adalah Sungai Paluhu dan Sungai Rambangaru.

Penduduk[sunting | sunting sumber]

Jumlah Penduduk[sunting | sunting sumber]

Jumlah penduduk Kecamatan Haharu mencapai 5.667 Jiwa dan dan 1.401 Rumah Tangga.

Data Jumlah Penduduk Kecamatan Haharu Tahun 2009:[2]
No Nama Desa Luas wilayah Laki-laki
Jiwa
Perempuan
Jiwa
Jumlah
Jiwa
1 Desa Kadahang 23,50 Km² 366 345 711
2 Desa Kalamba 34,20 Km² 135 136 271
3 Desa Mbatapuhu 212,40 Km² 480 458 938
4 Desa Napu 142,60 Km² 339 313 808
5 Desa Rambangaru 61,00 Km² 769 756 1525
6 Desa Praibakul 105,00 Km² 398 364 762
7 Desa Wunga 22,4 Km² 420 388 652

Agama[sunting | sunting sumber]

Data Penduduk Menurut Agama dan Aliran Kepercayaan di Kecamatan Haharu tahun 2009:[3]
No Nama Desa Protestan
Jiwa
Katolik
Jiwa
Islam
Jiwa
Marapu
Jiwa
1 Desa Kadahang 485 8 12 147
2 Desa Kalamba 120 - - 151
3 Desa Mbatapuhu 769 - - 169
4 Desa Napu 435 62 - 311
5 Desa Rambangaru 620 160 42 703
6 Desa Praibakul 382 14 3 363
7 Desa Wunga 125 50 - 536

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Objek Wisata di Kecamatan Haharu Tahun 2009[4]

  1. Wisata Seni dan Budaya Kampung Wunga di Desa Wunga
  2. Wisata Seni dan Budaya Kampung Napu di Desa Napu
  3. Gua Patamawai di Desa Mbatapuhu
  4. Danau Wai Mulung di Desa Kadahang

Desa Praibakul[sunting | sunting sumber]

Desa Praibakul terletak di kecamatan Haharu dengan ibu kota desa di Praibakul. Data spesifik Desa Praibakul meliputi:

1.Luas wilayah

Luas wilayah Desa Praibakul: 105 Km2

2.Batas wilayah

Batas-batas wlayah di Desa Praibakul berbatasan dengan:

  • Sebelah Utara berbatasan dengan : Desa Rambangaru
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan : Desa Kalamba
  • Sebelah Timur berbatasan dengan : Desa Rambangaru
  • Sebelah Barat berbatasan dengan : Desa Mbatapuhu

3.Jumlah penduduk

Jumlah penduduk Desa Praibakul mencapai 762 Jiwa. Dengan jumlah penduduk Laki-laki 398 orang dan jumlah penduduk Perempuan 364 orang.

4.Jumlah Dusun, RT/RW dan Rumah Tangga

Desa Praibakul terdiri 2 Dusun, 4 RW, 8 RT dan Rumah Tangga. 2 dusun yang menjadi bagian dari wilayah Desa Praibakul meliputi: Dusun Majangga dan Dusun Watutura.

5.Fasilitas umum

SD I Praibakul (1 buah, SD lama tidak dipakai lagi), Kantor Desa, Gereja(5, 4 Protestan & 1 Katolik ), Polindes (Tidak terpakai/ Rusak berat), Jalan umum (2 jalur), listrik (Baru 10 rumah/ swadaya masyarakat)

Sejarah purbakala[sunting | sunting sumber]

Praibakul berasal bahasa Kapunduk, yaitu gabungan dari 2 kata: Paraing yang berarti Kerajaan dan Bakul yang berarti Besar. Sehingga Praibakul dapat diartikan sebagai suatu kerajaan besar dengan Istana yang megah. Pada mulanya praibakul menganut sistem kerajaan (Pareng) dengan pucuk pimpinan dari seorang raja (Maramba). Kepemimpinan seorang raja diwariskan turun temurun kepada keturunan raja (Ana Maramba).

Konon nenek moyang Orang praibakul dan orang Sumba pada umumnya dikisahkan berasal dari Paraing Wunga (Tanjung Sasar). Dimana dikisahkan perjalanan nenek moyang orang Sumba berawal dari Timur Tengah, melewati Selat Malaka singga ke Ende dan Manggarai kemudian dalam pelayaran terdampar di Tanjung Sasar (Hahar). Yang istilahnya masih dipertahankan sampai sekarang oleh orang Haharu Asli: “Makah-Tabakul, Malaka-Tana Bara, Ende-Ambarai”,yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia: Mekah yang membesarkan kita, Malaisya Tanah Putih, Ende-Manggarai. Dari ungkapan diatas dapat di artikan bahwa perjalanan nenek moyang orang Sumba (Lii Marapu) berawal dari Mekah/ Timur Tengah (mungkin berawal dari runtuhnya Menara Babel*) kemudian berlayar menggunakan rakit bambu dalam bentuk armada besar dengan yakni 8 rakit (8 tangga marapu), melewati India, kemudian ke Selat Malaka (Malaisya), singga ke Ende-Manggarai dan sampai ke Tanjung Sasar.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Menurut PP No. 40 Tahun 1992
  2. ^ Sumber: BPS Sumba Timur 2009 (Jekson H. Pulu)
  3. ^ Sumber: Kantor kecamatan Haharu (Jekson H. Pulu)
  4. ^ Sumber: Kantor kecamatan Haharu (Jekson H. Pulu)

Pranala luar[sunting | sunting sumber]