Kabupaten Maros

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kabupaten Maros
Tana Maru'
Butta Marusu'
Transkripsi bahasa daerah
 • Lontara Bugisᨈᨊ ᨆᨑᨘ
 • Lontara Makassarᨅᨘᨈ ᨆᨑᨘᨔᨘ
Lambang resmi Kabupaten Maros
Etimologi:
Makassar: "Rusung" / Bugis: "Marusung"
(suatu keadaan yang sederhana baik sebagai individu maupun kelompok masyarakat)[1]
Julukan: 

Makassar: Butta Saléwangang
Bugis: Tana Saléwangêng
tanah atau wilayah yang makmur, aman, damai, dan sejahtera
Motto: 
Menuju Maros Lebih BAIK
(Bersih, Aman, Inovatif, dan Kreatif)
Himne daerah: (Makassar) Marusu Butta Salewangang, ciptaan oleh Rusli Etta Mappe
Kabupaten Maros di Sulawesi Selatan
Kabupaten Maros
Kabupaten Maros
Kabupaten Maros di Sulawesi
Kabupaten Maros
Kabupaten Maros
Kabupaten Maros di Indonesia
Kabupaten Maros
Kabupaten Maros
Koordinat: 5°0′59.38″S 119°34′28.08″E / 5.0164944°S 119.5744667°E / -5.0164944; 119.5744667 (Maros)
Negara Indonesia
Provinsi Sulawesi Selatan
Tanggal berdiri1471 atau Abad Ke-15 (sebagai berdirinya Kerajaan Marusu')
sinkronisasi referensi Lontara Maros,
Lontara Gowa, dan Lontara Bone

1900 (pembentukan Onderafdeeling Maros)
4 Juli 1959 (sebagai daerah tingkat II/kabupaten)
Dasar hukumUndang-Undang Nomor 29 Tahun 1959
Hari jadi 4 Juli 1959 (umur 64) 
Perda Kab. Maros No. 03 Tahun 2012
PendiriKaraeng Loe Ri Pakere
Dinamai berdasarkanKerajaan Marusu'
Ibu kotaTurikale (9 Mei 2011 - sekarang)
Maros (4 Juli 1959 - 9 Mei 2011)
Jumlah satuan pemerintahan[2]
Daftar
Pemerintahan
 • JenisPemerintah Daerah Kabupaten Maros
 • BupatiDr. H.A.S. Chaidir Syam, S.I.P., M.H. (PAN)
 • Wakil BupatiHj. Suhartina Bohari, S.E.
 • Sekretaris DaerahAndi Davied Syamsuddin, S.STP, M.Si.
 • Ketua DPRDH. Andi Patarai Amir, S.E.
Luas
 • Total1.619,12 km2 (625,15 sq mi)
Ketinggian1.363 m (4,472 ft)
Ketinggian tertinggi
1.363 m (4,472 ft)
Ketinggian terendah
0 m (0 ft)
Populasi
 (2022)[2]
 • Total403.774
 • Kepadatan250/km2 (650/sq mi)
DemonimMarosnese
To Maru'
Tau Maru'
Tau Marusu'
Demografi
 • Agama
Daftar
 • BahasaResmi di instansi pemerintahan daerah:
Indonesia

Bahasa daerah yang utama dan diajarkan sebagai muatan lokal di sekolah tingkat SD sederajat–SMP sederajat:
- Bugis (Dialek Maros)
- Makassar (Dialek Lakiung)

Bahasa daerah yang dituturkan secara informal:
- Dentong
- Melayu Makassar
Lainnya

Bahasa asing yang diajarkan di sekolah tingkat SD sederajat–perguruan tinggi:
- Inggris
- Arab
- Jerman
- Mandarin
 • IPMKenaikan 71,00 (+ 00,59)
Tinggi (2022)[5]
Zona waktu[[UTC]] (WITA (UTC +8))
Kode pos
Kode BPS
7308 Edit nilai pada Wikidata
Kode area telepon+62 0411
Kode ISO 3166ID-SN
Pelat kendaraanDD xxxx D*/T*
Kode Kemendagri73.09
Kode SNI 7657:2023MRS
APBDRp 1.437.792.246.614,00- (TA 2023)[7][8]
PADRp 296.932.440.614,00- (TA 2023)[7][8]
DAURp 695.261.651.000,00- (TA 2023)
DAKRp 104.026.463.000,00- (fisik, TA 2023)
Rp 186.134.809.000,00- (nonfisik, TA 2023)
Rp 290.161.272.000,00- (total, TA 2023)
Semboyan daerahKalau Bukan Kita Siapa Lagi?, Kalau Bukan Sekarang Kapan Lagi?

Maros Sejahtera, Religius, dan Berdaya Saing
Slogan pariwisataVisit Maros
Ke Maros Aja, Semua Ada
Maros: Exotic Place in Celebes
Flora resmiKayu hitam sulawesi
Fauna resmiPapilio blumei
Situs webwww.maroskab.go.id
peta administrasi kabupaten Maros

Kabupaten Maros (Bugis: ᨈᨊ ᨆᨑᨘ, translit. Tana Maru'; Makassar: ᨅᨘᨈ ᨆᨑᨘᨔᨘ, translit. Butta Marusu') adalah sebuah kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Jauh dari sebelumnya Kabupaten Maros adalah salah satu bekas daerah kerajaan di Sulawesi Selatan. Di daerah ini pernah berdiri Kerajaan Marusu' dengan raja pertama bergelar Karaeng Loe Ri Pakere. Maros memperoleh status sebagai kabupaten pada tanggal 4 Juli 1959 berdasarkan UU No. 29 Tahun 1959. Pada tanggal tersebut juga ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Maros berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Maros Nomor 3 Tahun 2012. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kecamatan Turikale. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.619,12 km² dan berpenduduk sebanyak 353.121 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk sebesar 218,09 jiwa/km² pada tahun 2019.

Bersama Kabupaten Takalar dan Kabupaten Gowa, Kabupaten Maros dikenal sebagai kabupaten penyangga Kota Makassar. Karena Kabupaten Maros merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan tersebut dengan jarak kedua kota tersebut berkisar 30 km dan sekaligus terintegrasi dalam pengembangan Kawasan Metropolitan Mamminasata.

Dalam kedudukannya, Kabupaten Maros memegang peranan penting terhadap pembangunan Kota Makassar karena sebagai daerah perlintasan yang sekaligus sebagai pintu gerbang Kawasan Mamminasata bagian utara yang dengan sendirinya memberikan peluang yang sangat besar terhadap pembangunan di Kabupaten Maros. Di daerah ini juga terdapat banyak tempat wisata andalan bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Makassar dan Sulawesi Selatan, yaitu Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung dan objek wisata batu karst terbesar kedua di dunia Rammang-Rammang, selain itu Kabupaten Maros juga memiliki potensi ekonomi karena Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin berada di Kabupaten Maros.

Kondisi geografis[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Maros terletak di bagian barat daya Sulawesi Selatan antara 40°45'–50°07' Lintang Selatan dan 109°205'–129°12' Bujur Timur yang berbatasan dengan Kabupaten Pangkep sebelah Utara, Kota Makassar dan Kabupaten Gowa sebelah Selatan, Kabupaten Bone dan Kabupaten Gowa di sebelah Timur, dan Selat Makassar di sebelah Barat. Kabupaten Maros berada pada rentang ketinggian antara 0 meter sampai dengan 1.363 meter di atas permukaan laut. Ketinggian 0 meter berada di pesisir barat Kabupaten Maros yang berbatasan langsung dengan Selat Makassar sedangkan puncak tertinggi berada di Gunung Saringan sebelah timur Kabupaten Maros yang berbatasan dengan Kabupaten Gowa. Di wilayah Kabupaten Maros terdapat beberapa gunung dengan jenis gunung yang tidak aktif dan tidak begitu tinggi, seperti Gunung Barro-Barro, Saringan, Rammang-Rammang, Samaenre, dan Bulu Saukang.[butuh rujukan]

Dilihat dari lokasi geografi dan topografinya, dari 103 desa/kelurahan yang ada di Kabupaten Maros, 10 desa berada pada wilayah pantai, 5 desa berada pada wilayah lembah, 28 desa berada pada wilayah perbukitan, dan sisanya 60 desa/kelurahan berada pada wilayah dataran/landai. Kecamatan Tompobulu merupakan kecamatan yang memiliki wilayah paling luas, sedangkan kecamatan yang wilayahnya paling kecil adalah kecamatan Turikale. Kondisi Topografi Kabupaten Maros sangat bervariasi mulai dari wilayah datar sampai bergunung-gunung. Hampir semua di kecamatan terdapat daerah pedataran yang luas keseluruhan sekitar 70.882 ha atau 43,8% dari luas wilayah Kabupaten Maros. Sedangkan daerah yang mempunyai kemiringan lereng di atas dari 40% atau wilayah yang bergunung-gunung mempunyai luas 49.869 ha atau 30,8 dari luas wilayah Kabupaten Maros.[9]

Iklim[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan pencatatan Badan Stasiun Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) rata-rata Suhu udara bulanan di Kabupaten Maros adalah 27,20 °C tiap bulannya. Suhu bulanan paling rendah adalah 23,7 °C (terjadi pada bulan Agustus 2017) sedangkan paling tinggi adalah 33,2 °C (terjadi pada bulan September 2017).[butuh rujukan]

Iklim Kabupaten Maros tergolong iklim tropis basah dengan curah hujan rata-rata sekitar 297 mm setiap bulannya, dengan jumlah hari hujan berkisar 204 hari selama tahun 2017, dengan rata-rata suhu udara minimum 24,4 °C dan rata-rata suhu udara maksimum 31,2 °C.[butuh rujukan]

Penyinaran matahari selama tahun 2017 rata-rata berkisar 58 %. Secara geografis daerah ini terdiri dari 10 % (10 desa) adalah pantai, 5 % (5 desa) adalah kawasan lembah, 27 % (28 desa) adalah lereng/ bukit dan 58 % (60 desa) adalah dataran.[butuh rujukan]

Suhu dan Kelembaban Udara[sunting | sunting sumber]

Rata-rata Suhu dan Kelembaban Udara Menurut Bulan di Kabupaten Maros Tahun 2018
Bulan Suhu Udara (°C) Kelembaban Udara (%)
Maksimal Minimal Rata-rata Maksimal Minimal Rata-rata
Januari 30,00 24,60 26,80 96 68 85
Februari 29,60 24,10 26,10 97 76 89
Maret 30,40 24,10 26,60 97 71 86
April 31,70 24,60 27,60 94 57 81
Mei 32,10 25,20 28,10 94 59 78
Juni 30,90 24,50 27,00 93 60 83
Juli 31,10 23,10 26,60 92 49 77
Agustus 32,30 23,10 27,20 75 56 72
September 33,50 22,80 27,90 78 31 65
Oktober 33,10 23,60 28,10 92 48 71
November 31,70 24,40 27,80 97 67 82
Desember 30,30 24,20 26,80 96 68 85
Sumber Data: Stasiun Klimatologi Kelas I Maros (BMKG) dalam BPS Kabupaten Maros

Tekanan Udara, Kecepatan Angin dan Penyinaran Matahari[sunting | sunting sumber]

Rata-Rata Tekanan Udara, Kecepatan Angin dan Penyinaran Matahari Menurut Bulan di Kabupaten Maros Tahun 2018
Bulan Tekanan Udara (mb) Kecepatan Angin (knot) Penyinaran Matahari (%)
Januari 1.010,5 3 40
Februari 1.012,5 3 32
Maret 1.010,3 3 52
April 1.010,1 3 82
Mei 1.010,3 3 67
Juni 1.010,3 3 65
Juli 1.010,9 3 74
Agustus 1.011,6 4 94
September 1.011,8 4 90
Oktober 1.011,7 4 91
November 1.011,2 3 66
Desember 1.010,4 3 47
Sumber Data: Stasiun Klimatologi Kelas I Maros (BMKG) dalam BPS Kabupaten Maros

Curah Hujan dan Hari Hujan[sunting | sunting sumber]

Jumlah Curah Hujan dan Hari Hujan Menurut Bulan di Kabupaten Maros Tahun 2018
Bulan Curah Hujan (mm³) Hari Hujan
Januari 523 25
Februari 667 19
Maret 594 25
April 213 18
Mei 109 15
Juni 150 15
Juli 51 5
Agustus 1 2
September 8 4
Oktober 116 9
November 184 20
Desember 798 28
Sumber Data: Stasiun Klimatologi Kelas I Maros (BMKG) dalam BPS Kabupaten Maros

Batas wilayah[sunting | sunting sumber]

Batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut:

Utara Kabupaten Pangkep dan Kabupaten Bone
Timur Kabupaten Bone dan Kabupaten Gowa
Selatan Kabupaten Gowa dan Kota Makassar
Barat Selat Makassar

Geologi[sunting | sunting sumber]

Struktur geologi Kabupaten Maros di bagian utara yang berupa pegunungan batu kapur

Aspek geologi merupakan aspek yang mempunyai kaitan yang erat hubungannya dengan potensi sumberdaya tanah. Struktur geologi tertentu berasosiasi dengan ketersediaan air tanah, minyak bumi, dan lain-lain. Selain itu struktur geologi selalu dijadikan dasar pertimbangan dalam pengembangan suatu wilayah, misal pengembangan daerah dengan pembangunan jalan, permukiman, bendungan, selalu menghindari daerah yang berstruktur sesar, kekar, struktur yang miring dengan lapisan yang kedap air dan tidak kedap air. Di Kabupaten Maros terdapat beberapa jenis batuan, seperti batu pasir, batu bara, lava, breksi, batu gamping, batu sedimen. Keadaan geologi secara umum menggambarkan jenis, kedudukan, sebaran, proses dan waktu pembentukan batuan induk, serta kemampuan morfologi tanah seperti sesar tebing kaldera dan lain-lain.[butuh rujukan]

Sedangkan Jenis tanah berdasarkan hasil identifikasi yang pernah dilakukan di Kabupaten Maros terdapat lima jenis tanah yang tersebar di beberapa wilayah seperti jenis tanah aluvial, litosol, latosol, mediteran, dan podsolik. Jenis tanah aluvial biasanya berwarna kelabu, coklat, atau hitam. Jenis tanah ini tidak peka terhadap erosi karena terbentuk dari endapan laut, sungai atau danau dan jenis tanah ini terdapat di sepanjang pantai sebelah barat Kabupaten Maros, luas penyebarannya 56.053 ha atau 34%. Jenis tanah litosol terbentuk dari batu endapan, batuan beku, jenis tanah ini mempunyai sifat beraneka ragam dan sangat peka terhadap erosi serta kurang baik untuk tanah pertanian, luas penyebarannya 51.498 ha atau 31%. Jenis tanah mediteran terbentuk dari batu endapan berkapur, batuan baku basis, intermedion dan metamorf, jenis tanah ini berwarna merah sampai coklat dan kurang peka terhadap erosi, luas persebarannya 45.632 ha atau 28%. Jenis podsolik terbentuk dari batuan endapan dan bekuan berwarna kuning sampai merah mempunyai sifat asam dan peka terhadap erosi. Jenis tanah ini dapat dijadikan tanah pertanian dan perkebunan. Jenis tanah ini terdapat di daerah berbukit sampai bergunung, luas persebarannya 8.729 ha atau 5% dan jenis tanah latosol mempunyai luas persebaran 17.862 ha atau 11%.[10]

No. Jenis Tanah Luas
(Ha)
Persentase (%)
1. Aluvial 38.191 23,50%
2. Mediteran 51.498 32,00%
3. Litosol 45.632 28,10%
4. Podsolik 8.729 5,40%
5. Latosol 17.862 11,00%
Kabupaten Maros 161.912 Ha 100%

Demografi[sunting | sunting sumber]

Suku bangsa[sunting | sunting sumber]

Tari Pajoge khas baik Bugis maupun Makassar di Maros (sekitar tahun 1870)

Sebagian besar penduduk Kabupaten Maros adalah suku Bugis dan Makassar yang merupakan suku asli. Berdasarkan data Sensus Penduduk Indonesia 2000, orang Bugis di Kabupaten Maros sebanyak 149.030 jiwa (54,77%) dan orang Makassar di Kabupaten Maros sebanyak 107.721 jiwa (39,59%) dari total penduduk 272.089 jiwa yang terdata. Sementara penduduk dari suku lainnya sebagian besar adalah orang Jawa, diikuti orang Toraja, Mandar, Luwu, Duri, kemudian Selayar, dan suku lainnya. Berikut adalah besaran penduduk Kabupaten Maros berdasarkan suku bangsa menurut data Sensus Penduduk Indonesia tahun 2000:[11]

No. Suku Jumlah
(2000)
%
1. Bugis 149.030 54,77%
2. Makassar 107.721 39,59%
3. Jawa 5.423 1,99%
4. Toraja 2.901 1,07%
5. Mandar 560 0,21%
6. Luwu 123 0,05%
7. Duri 106 0,04%
8. Selayar 62 0,02%
9. Suku lainnya 6.163 2,26%
Kabupaten Maros 272.089 jiwa 100%

Mata pencaharian[sunting | sunting sumber]

Mata pencaharian masyarakat Kabupaten Maros, yaitu bekerja sebagai petani sawah/tambak, peternak, pedagang, sopir, guru, pegawai pemerintahan, buruh pabrik/bangunan, dan lain-lain. Dari sekian banyak bidang pekerjaan tersebut, petani sawah/tambak dan pedagang adalah yang mayoritas di Kabupaten Maros.[butuh rujukan]

Jumlah penduduk[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Maros memiliki luas 1.619,12 km² dan penduduk berjumlah 403.774 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk sebesar 249,38 jiwa/km² pada tahun 2022. Adapun rasio jenis kelamin penduduk Kabupaten Maros pada tahun tersebut adalah 101. Artinya, tiap 101 penduduk perempuan ada sebanyak 100 penduduk laki-laki. Berikut ini adalah data jumlah penduduk Kabupaten Maros dari tahun ke tahun:[butuh rujukan]

Indeks Pembangunan Manusia[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Maros termasuk kategori daerah yang memiliki IPM yang sedang dengan capaian 68,94 (2018). Untuk melihat capaian IPM dapat dilihat melalui pengelompokan IPM ke dalam 4 kategori, yaitu: IPM < 60 = IPM rendah, 60 ≤ IPM < 70 = IPM sedang, 70 ≤ IPM < 80 = IPM tinggi, dan IPM ≥ 80 = IPM sangat tinggi. Walaupun belum beranjak dari IPM kategori sedang, IPM Kabupaten Maros terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun sejak tahun 2010.[butuh rujukan]

Perkembangan Pembangunan Manusia Kabupaten Maros[sunting | sunting sumber]

Keterangan
IPM: Indeks Pembangunan Manusia
AHH: Angka Harapan Hidup
HLS: Harapan Lama Sekolah
RLS: Rata-rata Lama Sekolah
PP: Pengeluaran Perkapita

Posisi IPM Kabupaten Maros di Sulawesi Selatan[sunting | sunting sumber]

Capaian pembangunan manusia Kabupaten Maros pada tahun 2022 ditandai dengan angka IPM sebesar 71,00 yang dikategorikan tinggi. Perolehan ini membuat Kabupaten Maros tetap mempertahankan peringkat sepuluh IPM tertinggi di antara kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Sembilan kabupaten/kota dengan peringkat di atas Kabupaten Maros secara berurutan dari peringkat pertama adalah: Makassar, Palopo, Parepare, Luwu Timur, Enrekang, Sidenreng Rappang, Pinrang, Barru, dan Luwu. Di tingkat provinsi, pembangunan manusia Provinsi Sulawesi Selatan mencatatkan nilai IPM sebesar 72,82. Terlihat bahwa pada tahun 2022, terdapat lima kabupaten/kota dengan nilai IPM di atas IPM provinsi. Sementara itu, IPM Kabupaten Maros masih di bawah IPM Provinsi Sulawesi Selatan, terpaut 1,82 poin. Terdapat satu kota yang bertetangga (berbatasan langsung) dengan Kabupaten Maros yang memiliki IPM di atas IPM provinsi, yakni Kota Makassar, dengan IPM yang lebih tinggi 12,12 poin dibandingkan dengan IPM Kabupaten Maros.[butuh rujukan]

Kabupaten Maros berbatasan langsung secara geografis dengan empat kabupaten/kota, yaitu Kota Makassar, Kabupaten Gowa, Kabupaten Bone, dan Kabupaten Pangkep. Dan kesemuanya mudah diakses dari Kabupaten Maros. Posisi geografis antar regional dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan penduduknya. Misalnya, penduduk di perbatasan terkadang lebih mudah mengakses fasilitas publik di kota tetangga. Fenomena ini dapat menyumbang nilai pembangunan manusia, namun proporsinya tidak signifikan. Seperti yang terlihat pada tabel peringkat, antara Kabupaten Maros dan daerah di sekitarnya, ternyata terlihat memiliki capaian IPM yang cenderung heterogen satu sama lain.[butuh rujukan]

Keterangan:

  • Kenaikan : naik
  • Steady  : tetap
  • Penurunan : turun
       80,01 ke atas (sangat tinggi)
       72,51 sampai 80,00 (tinggi)
       70,01 sampai 72,50 (tinggi)
       65,01 sampai 70,00 (sedang/menengah)
       60,01 sampai 65,00 (rendah)
       55,01 sampai 60,00 (rendah)
       55,00 ke bawah (sangat rendah)

Posisi IPM Kabupaten Maros di tingkat nasional[sunting | sunting sumber]

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Bahasa resmi instansi pemerintahan di Kabupaten Maros adalah bahasa Indonesia. Menurut Statistik Kebahasaan 2019 oleh Badan Bahasa, terdapat dua bahasa daerah di Kabupaten Maros,[32] yaitu bahasa Makassar dan bahasa Bugis (khususnya dialek Dentong).[33]

Indeks desa membangun kabupaten[sunting | sunting sumber]

Indeks Desa Membangun (IDM) merupakan Indeks Komposit yang dibentuk berdasarkan tiga indeks, yaitu Indeks Ketahanan Sosial (IKS), Indeks Ketahanan Ekonomi (IKE), dan Indeks Ketahanan Ekologi/Lingkungan (IKL). Perangkat indikator yang dikembangkan dalam Indeks Desa Membangun dikembangkan berdasarkan konsepsi bahwa untuk menuju desa maju dan mandiri perlu kerangka kerja pembangunan berkelanjutan di mana aspek sosial, ekonomi, dan ekologi menjadi kekuatan yang saling mengisi dan menjaga potensi serta kemampuan desa untuk mensejahterakan kehidupan desa. Kebijakan dan aktivitas pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa harus menghasilkan pemerataan dan keadilan, didasarkan dan memperkuat nilai-nilai lokal dan budaya, serta ramah lingkungan dengan mengelola potensi sumber daya alam secara baik dan berkelanjutan. Dalam konteks ini ketahanan sosial, ekonomi, dan ekologi bekerja sebagai dimensi yang memperkuat gerak proses dan pencapaian tujuan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa.[butuh rujukan]

Indeks Desa Membangun memotret perkembangan kemandirian desa berdasarkan implementasi Undang-Undang Desa dengan dukungan dana desa serta pendamping desa. Indeks Desa Membangun mengarahkan ketepatan intervensi dalam kebijakan dengan korelasi intervensi pembangunan yang tepat dari Pemerintah sesuai dengan partisipasi masyarakat yang berkorelasi dengan karakteristik wilayah desa, yaitu tipologi dan modal sosial.[butuh rujukan]

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Kepala daerah[sunting | sunting sumber]

Kantor Pemerintahan Kabupaten Maros

Bupati merupakan jabatan tertinggi dalam pemerintahan kabupaten Maros. Saat ini, bupati Maros dijabat oleh Chaidir Syam, dan didampingi oleh wakil bupati, Suhartina Bohari. Chaidir dan Suhartina menang pada Pemilihan umum Bupati Maros 2020, untuk masa jabatan 2021–2024. Mereka dilantik bersamaan dengan 10 pasangan bupati-wakil bupati/wali kota-wakil wali kota lainnya hasil pemenang Pilkada 2020 oleh gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah, pada 26 Februari 2021 di Gedung Baruga Karaeng Pattingalloang, Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Selatan di Jl. Jenderal Sudirman, Kota Makassar. Proses pelantikan ini dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat di masa pandemi Covid-19.[39][40][41]

Potret Bupati Awal Akhir Periode Wakil Potret
H.A.S. Chaidir Syam, S.IP, M.H. 26 Februari 2021 Petahana 18
(2020)
Hj. Suhartina Bohari, S.E.

Dewan perwakilan[sunting | sunting sumber]

DPRD Kabupaten[sunting | sunting sumber]

Gedung DPRD Kabupaten Maros

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Maros adalah lembaga perwakilan rakyat daerah kabupaten yang berkedudukan sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah di Kabupaten Maros. DPRD Kabupaten Maros sebagai lembaga legislatif unikameral yang menjadi mitra kerja Pemerintah Kabupaten Maros berkedudukan di Kecamatan Turikale. Saat ini DPRD Maros memiliki 35 anggota yang dipilih melalui pemilihan umum setiap lima tahun sekali dan tersebar di 10 partai politik, dengan perolehan mayoritas diraih oleh Partai Golongan Karya dengan 7 kursi, kemudian disusul oleh Partai Amanat Nasional (6 kursi), dan Partai NasDem (5 kursi). Pimpinan DPRD Kabupaten Maros terdiri dari 1 Ketua dan 2 Wakil Ketua yang berasal dari peraih kursi terbanyak pertama, kedua, dan ketiga.[butuh rujukan]

Pimpinan dewan
No. Ketua Wakil Ketua I Wakil Ketua II Periode Keterangan
13.

H. Andi Patarai Amir, S.E. (Golkar; 3 September 2019–sekarang)

Hj. Haeriah Rahman, S.P. (PAN; 14 Desember 2020–sekarang)

Hj. Fatmawati, S.M. (NasDem; 3 September 2019–sekarang)
2019–sekarang Era Reformasi


Komposisi anggota

Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kabupaten Maros dalam dua periode terakhir:

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2014–2019 2019–2024
PKB Kenaikan 1 Kenaikan 4
Gerindra Kenaikan 4 Penurunan 3
PDI-P Steady 1 Penurunan 0
Golkar Penurunan 4 Kenaikan 7
NasDem (baru) 3 Kenaikan 5
PKS Steady 2 Steady 2
PPP Steady 2 Steady 2
PAN Kenaikan 10 Penurunan 6
Hanura Steady 3 Kenaikan 4
Demokrat Penurunan 3 Penurunan 1
PBB Kenaikan 2 Penurunan 1
Jumlah Anggota Steady 35 Steady 35
Jumlah Partai Penurunan 11 Penurunan 10


Alokasi kursi

Berdasarkan penetapan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia di Jakarta untuk Pileg 2024, Pemilihan umum legislatif DPRD Kabupaten Maros dialokasikan jumlah kursi sebanyak 35 kursi dan dibagi ke dalam 6 daerah pemilihan (dapil) dengan rincian sebagai berikut:[42]

Daerah Pemilihan Wilayah Kecamatan Alokasi Kursi
MAROS 1
Maros Baru, Turikale
7
MAROS 2
Bontoa, Lau
5
MAROS 3
Bantimurung, Simbang
5
MAROS 4
Camba, Cenrana, Mallawa
4
MAROS 5
Moncongloe, Tanralili, Tompobulu
6
MAROS 6
Mandai, Marusu
8
TOTAL 35

DPRD Provinsi[sunting | sunting sumber]

Daerah pemilihan

Berdasarkan penetapan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia di Jakarta untuk Pileg 2024, Kabupaten Maros pada Pemilihan umum legislatif DPRD Provinsi Sulawesi Selatan berada di daerah pemilihan (dapil) Sulawesi Selatan VI sebagai berikut:[43]

Daerah Pemilihan Wilayah Dapil Alokasi Kursi
SULAWESI SELATAN I
Makassar A (Mariso, Mamajang, Makassar, Ujung Pandang, Wajo, Bontoala, Tallo, Ujung Tanah, Tamalate, Rappocini, Kepulauan Sangkarrang)
9
SULAWESI SELATAN II
Makassar B (Panakkukang, Biringkanaya, Tamalanrea, Manggala)
6
SULAWESI SELATAN III
Takalar, Gowa
9
SULAWESI SELATAN IV
Kepulauan Selayar, Bantaeng, Jeneponto
7
SULAWESI SELATAN V
Sinjai, Bulukumba
6
SULAWESI SELATAN VI
Maros, Pangkajene dan Kepulauan, Barru, Parepare
9
SULAWESI SELATAN VII
Bone
7
SULAWESI SELATAN VIII
Soppeng, Wajo
7
SULAWESI SELATAN IX
Sidenreng Rappang, Pinrang, Enrekang
9
SULAWESI SELATAN X
Toraja Utara, Tana Toraja
5
SULAWESI SELATAN XI
Luwu Timur, Luwu, Luwu Utara, Palopo
11
TOTAL 85

DPR RI[sunting | sunting sumber]

Daerah pemilihan

Berdasarkan penetapan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia di Jakarta untuk Pileg 2024, Kabupaten Maros pada Pemilihan umum legislatif DPR RI berada di daerah pemilihan (dapil) Sulawesi Selatan II sebagai berikut:[44]

Daerah Pemilihan Wilayah Dapil Alokasi Kursi
SULAWESI SELATAN I
Kepulauan Selayar, Bantaeng, Jeneponto, Takalar, Gowa, Makassar
8
SULAWESI SELATAN II
Bulukumba, Sinjai, Bone, Maros, Pangkajene dan Kepulauan, Barru, Soppeng, Wajo, Parepare
9
SULAWESI SELATAN III
Sidenreng Rappang, Pinrang, Enrekang, Toraja Utara, Luwu Timur, Luwu, Tana Toraja, Luwu Utara, Palopo
7
TOTAL 24

DPD RI[sunting | sunting sumber]

Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Maros terdiri dari 14 kecamatan, 23 kelurahan, dan 80 desa. Pada tahun 2017, kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.619,12 km² dan jumlah penduduk sebesar 397.937 jiwa dengan sebaran penduduk 246 jiwa/km².[45][46]

Daftar kecamatan dan jumlah kelurahan masing-masing kecamatan di Kabupaten Maros, adalah sebagai berikut:

Kode
Kemendagri
Kecamatan Jumlah
Kelurahan
Jumlah
Desa
Status Daftar
Desa/Kelurahan
73.09.03 Bantimurung 2 6 Desa
Kelurahan
73.09.05 Bontoa 1 8 Desa
Kelurahan
73.09.02 Camba 2 6 Desa
Kelurahan
73.09.10 Cenrana 7 Desa
73.09.12 Lau 4 2 Desa
Kelurahan
73.09.06 Mallawa 1 10 Desa
Kelurahan
73.09.01 Mandai 2 4 Desa
Kelurahan
73.09.04 Maros Baru 3 4 Desa
Kelurahan
73.09.08 Marusu 7 Desa
73.09.13 Moncongloe 5 Desa
73.09.09 Simbang 6 Desa
73.09.07 Tanralili 1 7 Desa
Kelurahan
73.09.11 Tompobulu 8 Desa
73.09.14 Turikale 7 - Kelurahan
TOTAL 23 80

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Grand Mall Maros, mal mewah dan bergaya klasik Eropa pertama di Indonesia

Pada tahun 2018, tercatat sebanyak 43 pasar yang tersebar di 14 kecamatan di Kabupaten Maros. Sedangkan jumlah pedagang menurut skalanya 147 pedagang menengah, 3.629 pedagang kecil, dan 17.462 pedagang mikro.[butuh rujukan]

Proyek investasi[sunting | sunting sumber]

Kawasan Industri Maros (KIMAS)

Pada periode beberapa tahun terakhir, terjadi perbedaan perkembangan sektor industri antara Kota Makassar dan Kabupaten Maros. Dimana untuk Kota Makassar ada kecenderungan tingkat persentase pertumbuhannya menurun, sementara Kabupaten Maros cenderung semakin naik, sehingga perkembangan industri di Kabupaten Maros sangat memungkinkan untuk berkembang lebih pesat di masa yang akan datang.[butuh rujukan]

Rencana Kawasan Industri Maros terletak di bagian selatan Kabupaten Maros meliputi wilayah Desa Bonto Mate'ne, Kecamatan Marusu dan Kelurahan Pallantikang, Kecamatan Maros Baru. Kawasan akan didirikan di atas lahan seluas 200 Ha. KIMAS berada dijalur utama Trans-Sulawesi lebih mudah diakses oleh transportasi pengangkut bahan baku yang bersumber dari sejumlah daerah di Sulawesi Selatan. Terutama bahan baku untuk barang atau komoditi bernilai ekspor seperti kakao, kopi, cengkih, merica, kopi, rumput laut, hasil-hasil pertanian, peternakan dan berbagai komoditi lain yang banyak dihasilkan di daerah kabupaten bagian dalam pulau Sulawesi.[butuh rujukan]

Selain transportasi darat, KIMAS memiliki akses yang terbuka melalui transportasi laut. Dibanding dengan daerah lain di Sulawesi Selatan, jarak Kabupaten Maros dengan Pelabuhan Internasional Soekarno–Hatta Makassar terbilang lebih dekat. Pesisir Kabupaten Maros yang masuk dalam perairan Makassar juga sangat potensial untuk dikembangkan sebagai kota pelabuhan. Begitu pula untuk transportasi udara, dari KIMAS ke Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin hanya ditempuh kurang lebih 30 sampai 40 menit.[47]

Kawasan Industri Kecamatan Marusu

Lokasi pengembagan Kawasan Industri Kabupaten Maros pada lokasi yang tersedia saat ini, yakni Desa Pa'bentengang di Kecamatan Marusu dengan luas ± 100 Ha, di lokasi ini telah berdiri beberapa industri, namun sebagian besar masih kosong. Lokasi ini sebagian merupakan lahan milik masyarakat yang merupakan bekas sawah atau ladang yang tidak digunakan lagi. Posisi lokasi investasi ini berada pada 50°3'04.05" Lintang Selatan dan 119°30'48.26" Bujur Timur dan berjarak 7,2 Km dari Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin yang dapat ditempuh dalam waktu 14 menit.[butuh rujukan]

Sementara lokasi pengembangan kawasan industri yang baru berlokasi di Desa A'bulosibatang, Desa Tellumpoccoe, dan Desa Bonto Mate'ne dengan luas mencapai ± 800 Ha. Lahan ini masih bersifat bruto dan belum dilakukan pengukuran di lapangan. Peluang/kegiatan investasi pengembangan Kawasan Industri Maros lokasi Desa A'bulosibatang, Desa Tellumpoccoe, dan Desa Bonto Mate'ne di Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros dengan nilai perkiraan investasi sebesar Rp 770 miliar. Pengembangan Kawasan Industri Maros yang terdiri dari beberapa kegiatan investasi antara lain:

a. Pembebasan lahan seluas 100 Ha b. Pembuatan jalan dan drainase c. Pembangunan jaringan listrik dan infrastruktur pendukung lainnya.[47]

Sistem kepercayaan[sunting | sunting sumber]

Masjid Agung Maros

Masyarakat Bugis di Kabupaten Maros menganut agama Islam. Masyarakat Bugis juga masih percaya dengan satu dewa tunggal yang mempunyai nama-nama sebagai berikut:

  1. Patoto-e : dewa penentu nasib
  2. Dewata Seuwa-e : dewa tunggal
  3. Turie a'rana : kehendak tertinggi

Masyarakat Bugis Maros menganggap bahwa budaya (adat) itu keramat. Budaya (adat) tersebut didasarkan atas lima unsur pokok panngaderreng (aturan adat yang keramat dan sakral), yaitu sebagai berikut:

  1. Ade (ada dalam bahasa Makassar)
  2. Bicara
  3. Rapang
  4. Wari'
  5. Sara'

Perkembangan pembangunan di bidang spiritual dapat dilihat dari besarnya sarana peribadatan masing-masing agama. Tempat peribadatan umat islam yang berupa masjid, langgar/musholla pada tahun 2012 masing-masing berjumlah 728 dan 50. Tempat peribadatan untuk umat kristiani dan katolik sebanyak 22 yang terdapat di 9 kecamatan. Jumlah jamaah haji yang diberangkatkan dari Kabupaten Maros setiap tahunnya mengalami peningkatan, pada Tahun 2012 jumlah Jamaah Haji perempuan sebanyak 209 orang dan laki-laki sebanyak 104 orang.[48]

Agama yang Dianut[sunting | sunting sumber]

Tabel penduduk Kabupaten Maros menurut agama yang dianutnya tahun 2017 sebagai berikut:[butuh rujukan]

Kecamatan Islam Protéstan Katolik Hindu Buddha Konghucu Lainnya
Bantimurung 30.525 0 0 0 0 0 0
Bontoa 26.974 0 0 0 0 0 0
Camba 12.760 9 0 0 0 0 0
Cenrana 15.469 0 0 0 0 0 0
Lau 24.487 0 138 0 0 0 0
Mallawa 10.900 0 2 0 0 0 0
Mandai 35.054 0 538 0 0 0 0
Maros Baru 24.404 13 0 0 0 0 0
Marusu 26.065 130 0 0 0 0 0
Moncongloe 19.666 63 650 0 0 0 0
Simbang 31.218 0 0 0 0 0 0
Tanralili 24.897 0 0 0 0 0 0
Tompobulu 17.989 0 0 0 0 0 0
Turikale 41.221 111 445 0 0 0 0
Total 341.629 317 1.773 0 0 0 0

Pertanian[sunting | sunting sumber]

Tanaman padi yang menguning siap panen tahun 2010 di area persawahan Lingkungan Majannang Kelurahan Boribellaya Kabupaten Maros.

Sulawesi Selatan merupakan daerah penghasil tanaman pangan terbesar di Kawasan Timur Indonesia. Predikat sebagai lumbung padi nasional mengukuhkan posisi Sulawesi Selatan sebagai produsen tanaman pangan yang cukup potensial. Selain padi sebagai komoditas tanaman pangan andalan, tanaman pangan lainnya yang dihasilkan Sulawesi Selatan adalah jagung, ubi kayu, ubi jalar dan kacang-kacangan. Kabupaten Maros merupakan salah satu daerah lumbung padi di Sulawesi Selatan. Luasnya area persawahan dan juga iklim yang mendukung menjadikan Kabupaten Maros setiap tahun selalu swasembada beras. Produksi padi Kabupaten Maros tahun 2018 sebesar 3.278.113,56 kwintal yang dipanen dari areal seluas 50.523 ha. Sebagian besar produksi padi di Kabupaten Maros dihasilkan oleh jenis padi sawah. Jenis padi ini menyumbang 98,99 % dari seluruh produksi padi. Sedangkan 1,01 % dihasilkan oleh padi ladang. Produksi jagung Kabupaten Maros pada tahun 2018 sebesar 488.101.029 kwintal dengan luas panen 9.556 ha.[butuh rujukan]

Produksi Tanaman Pangan[sunting | sunting sumber]

Produksi padi sawah dan padi ladang tahun 2018 menurut kecamatan di Kabupaten Maros sebagai berikut:[butuh rujukan]

Kecamatan Padi Sawah (kwintal) Padi Ladang (kwintal) Total produksi (kwintal)
Bantimurung 710.608 3.384 713.992
Bontoa 215.542,40 0 215.542,40
Camba 198.752,16 7.560 206.312,16
Cenrana 169.380 993,60 170.373,60
Lau 336.208,20 0 336.208,20
Mallawa 145.433,60 4.018,50 149.452,10
Mandai 163.514 0 163.514
Maros Baru 133.032,50 0 133.032,50
Marusu 72.352 0 72.352
Moncongloe 117.656,36 0 117.656,36
Simbang 363.880 0 363.880
Tanralili 244.343,84 4.200 248.543,84
Tompobulu 242.928 14.726,40 257.654,40
Turikale 129.600 0 129.600
Total 3.243.231,06 34.882,50 3.278.113,56

Tanaman Andalan Daerah[sunting | sunting sumber]

  • Padi Sawah
  • Padi Ladang
  • Jagung
  • Kedelai
  • Kacang Tanah
  • Ubi Kayu
  • Ubi Jalar
  • Bawang Merah
  • Cabai
  • Petsai
  • Kemiri
  • Mangga
  • Durian
  • Jeruk
  • Pisang
  • Pepaya
  • Nanas
  • Semangka
  • Kelapa Hibrida
  • Kopi Robusta
  • Lada
  • Kakao
  • Jambu Mete
  • Aren
  • Kapuk
  • Pala
  • Cengkeh
  • Kelapa Dalam
  • Vanili
  • Padi Varietas Padi Banda (Varietas Lokal)
  • Padi Varietas Padi Lapang (Varietas Lokal)

Perkebunan dan kehutanan[sunting | sunting sumber]

Luas dan total produksi tanaman perkebunan, yang terdiri dari kelapa seluas 526 Ha dan total produksi 125 ton, kakao seluas 1.730 Ha dan total produksi 586,80 ton. Sedangkan kemiri seluas 6.300 Ha dengan total produksi 2.099,8 ton. Menurut fungsinya, kawasan hutan di Kabupaten Maros terdiri atas 3 jenis, yakni hutan lindung, suaka alam/taman nasional/pelestarian alam, dan hutan produksi terbatas/biasa. Luas total kawasan hutan di Kabupaten Maros tahun 2015 adalah 65.022 Ha, yang terdiri atas 14.611 Ha hutan lindung, 15.365 Ha hutan produksi biasa, 6.434 Ha hutan produksi terbatas, dan 28.610 Ha taman nasional. Wilayah kecamatan yang memiliki kawasan hutan adalah sebanyak 9 kecamatan. Luas kawasan hutan yang terbanyak di Kabupaten Maros adalah Kecamatan Tompobulu dan Mallawa. Kabupaten Maros memiliki potensi kehutanan berupa tegakan pinus yang terdapat di 4 kecamatan, yakni Kecamatan Tompobulu, Kecamatan Cenrana, Kecamatan Camba, dan Kecamatan Mallawa. Persebaran hutan di Kabupaten Maros antara lain hutan mangrove di Desa Bonto Bahari, hutan mangrove di Kuri Caddi dan Kuri Lompo, Desa Nisombalia, Hutan Pinus Pendidikan Unhas di Bengo-Bengo Kecamatan Cenrana, Hutan Pinus Cenrana, Hutan Pinus di Desa Bonto Manurung, Hutan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Hutan Tanralili, dan lain-lain.[butuh rujukan]

Perikanan[sunting | sunting sumber]

Usaha perikanan di Kabupaten Maros terdiri atas perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Produksi perikanan tangkap yang terdiri dari perikanan laut 15.259,6 ton, perikanan sungai/danau/rawa 523,2 ton dengan total produksi 15.782,8 ton. Untuk perikanan budidaya, produksinya masing-masing adalah budidaya laut 7,4 ton dan sawah 39,7 ton dengan total produksi sebesar 14.378,7 ton.[butuh rujukan]

Komoditas Andalan Daerah[sunting | sunting sumber]

Udang Sitto atau tiger shrimp merupakan salah satu komoditas andalan daerah Kabupaten Maros yang dibudidayakan dengan tambak-tambak di Kecamatan Marusu, Maros Baru, Lau, dan Bontoa.
Salamata atau Kakap putih merupakan salah satu komoditas andalan daerah Kabupaten Maros yang dibudidayakan dengan tambak-tambak di Kecamatan Marusu, Maros Baru, Lau, dan Bontoa. Selain itu, jenis ikan ini juga banyak dijumpai di Sungai Maros oleh sebab itu banyak pemancing tertarik memancing di sungai tersebut

Sumberdaya Perikanan Lainnya[sunting | sunting sumber]

  • Ikan Kandea (Ikan tawas)
  • Ikan Oseng
  • Ikan Mas Sungai
  • Ikan Gabus
  • Ikan Samelang
  • Ikan Sidat/Massapi
  • Belut Sawah/Lenrong
  • Ceda-Ceda (sejenis kerang)
  • Biri-biri (sejenis kerang)
  • Bakaleng (sejenis kerang)
  • Baja Salo (sejenis kerang pasir sungai)
  • Rambo-Rambo (sejenis kerang hijau)
  • Kepiting Sungai
  • Ikan Binisi
  • Kepiting Bakau
  • Rajungan

Pertambangan[sunting | sunting sumber]

Bekas pertambangan marmer di Dusun Pajjaiyang, Desa Tukamasea
Bekas pertambangan batu bara di Desa Uludaya

Pertambangan di Kabupaten Maros memiliki potensi cukup besar. Potensi bahan galian di Kabupaten Maros terdiri dari bahan galian golongan A dan golongan C. Sektor pertambangan dan bahan galian dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukkan angka pertumbuhan secara signifikan. Melihat peningkatan potensi hasil pertambangan dan bahan galian di Kabupaten Maros yang beraneka ragam dan tersebar sehingga menuntut kemampuan daerah untuk pengelolaan melalui kemudahan investasi di sektor pertambangan dan penggalian. Potensi sumber daya mineral di Kabupaten Maros menurut jenisnya, meliputi lempung, batu gamping, marmer, pasir kuarsa, oker, basal, andesit, diorit, granodiorit, trakit, batu pasir formasi camba, kerikil dan batu sungai, serta pasir sungai. Potensi pertambangan galian di Kabupaten Maros telah terinvestasi melalui kegiatan penambangan. Salah satu perusahaan tambang yang memiliki pengaruh cukup besar adalah Bosowa Group yang memiliki dua perusahaan bahan galian besar di Maros yang memproduksi semen dengan produksi 1,8 juta ton/tahun dan marmer 0,1 juta ton/tahun dengan perkiraan terdapat kapasitas 2,6 miliar cadangan marmer di Maros.[butuh rujukan]

Beberapa jenis tambang yang dapat dikembangkan di Kabupaten Maros, seperti potensi tambang batu bara di Kecamatan Mallawa, bahan baku semen yang ada di Kecamatan Bantimurung dan Bontoa, bahan baku marmer dan beberapa jenis potensi tambang lainnya. Potensi tambang saat ini yang telah dieksplorasi adalah semen yang dikelola oleh investor dalam negeri (PT. Semen Bosowa) yang berada di Desa Baruga, Kecamatan Bantimurung. Potensi tambang ini memiliki prospek pengembangan dan pangsa pasar yang luas baik pasar lokal, regional, nasional maupun ekspor. Prospek inilah yang memiliki nilai strategis sehingga diperlukan suatu penetapan fungsi kawasan pertambangan di Kabupaten Maros.[butuh rujukan]

Saat ini kawasan pertambangan di Kabupaten Maros terkonsentrasi di beberapa titik, seperti tambang batu kapur di Desa Tukamasea dan Desa Baruga di Kecamatan Bantimurung, tambang pasir di Sungai Maros Kelurahan Boribellaya Kecamatan Turikale, tambang pasir di Sungai Bukkamata Kecamatan Simbang, tambang tanah merah di Kecamatan Tanralili dan Moncongloe.[butuh rujukan]

Daftar hari penting[sunting | sunting sumber]

  • 17 Januari: Hari Bersejarah Kepahlawanan (17 Januari 1946)
  • 9 Mei: Kota Turikale Ditetapkan Sebagai Ibu Kota Kabupaten Maros (9 Mei 2011)
  • 21 Mei: Berdirinya Persekutuan Adat Lima Kerajaan yang disebut “Toddolimaya ri Marusu” (21 Mei 1977)
  • 4 Juli: Hari Jadi Kabupaten Maros (4 Juli 1959)
  • 3 Agustus: Pembentukan Kecamatan Lau, Kecamatan Moncongloe, dan Perubahan Nama Kecamatan Maros Utara Menjadi Kecamatan Bontoa (3 Agustus 2001)
  • 4 Oktober: Hari Bersejarah Keagamaan (4 Oktober 1834)
  • 17 Oktober: Hari Jadi Maros (17 Oktober 1471)

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Makkasau, Andi Fahry (1990). Kerajaan-kerajaan di Maros dalam Lintas Sejarah. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 
  2. ^ a b c BPS Kabupaten Maros (28 Februari 2023). "Kabupaten Maros Dalam Angka 2023". maroskab.bps.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-07-18. Diakses tanggal 18 Juli 2023. 
  3. ^ Tim redaksi peakery.com. "Bulu Saringan". peakery.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-07-21. Diakses tanggal 21 Juli 2023. 
  4. ^ "Penduduk Menurut Wilayah dan Agama yang Dianut di Kabupaten Maros". www.sp2010.bps.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-09-13. Diakses tanggal 16 September 2020. 
  5. ^ BPS RI. "Indeks Pembangunan Manusia 2021-2022". www.bps.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-12-01. Diakses tanggal 18 Juli 2023. 
  6. ^ Ainun, Nur (4 Februari 2023). "Kode Provinsi Sulawesi Selatan Lengkap 24 Kabupaten/Kota". www.detik.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-08-05. Diakses tanggal 10 Agustus 2023. 
  7. ^ a b Tim redaksi www.matamaros.com (24 November 2022). "APBD 2023 Kabupaten Maros, Disdik Rp484 M, Dinkes Rp268 M". www.matamaros.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-07-18. Diakses tanggal 19 Juli 2023. 
  8. ^ a b Tim redaksi maroskab.go.id (Maret 2023). "Ringkasan APBD Kabupaten Maros Tahun Anggaran 2023" (PDF). maroskab.go.id. Diarsipkan (PDF) dari versi asli tanggal 2023-04-01. Diakses tanggal 19 Juli 2023. 
  9. ^ Pemkab Maros. "Topografi Kabupaten Maros". maroskab.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-07-27. Diakses tanggal 27 Juli 2023. 
  10. ^ Pemkab Maros. "Geologi Kabupaten Maros". maroskab.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-07-26. Diakses tanggal 26 Juli 2023. 
  11. ^ Badan Pusat Statistik (2001). Penduduk Sulawesi Selatan Hasil Sensus Penduduk 2000 (pdf) (dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris). Jakarta: PT Dharma Citra Putra. hlm. 75. ISBN 9795989693. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-07-22. Diakses tanggal 24 Juli 2023. 
  12. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p BPS Kabupaten Maros (2006-01-20). Maros Dalam Angka 2006. maroskab.bps.go.id. BPS Kabupaten Maros. hlm. 30–37. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-07-25. Diakses tanggal 2023-07-25. 
  13. ^ a b BPS Kabupaten Maros (2008-02-07). Kabupaten Maros Dalam Angka 2008. maroskab.bps.go.id. BPS Kabupaten Maros. hlm. 37–46. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-07-25. Diakses tanggal 2023-07-25. 
  14. ^ BPS Kabupaten Maros (2011-10-31). Maros Dalam Angka 2009. maroskab.bps.go.id. BPS Kabupaten Maros. hlm. 64–72. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-07-25. Diakses tanggal 2023-07-25. 
  15. ^ BPS Kabupaten Maros (2011-10-31). Maros Dalam Angka 2010. maroskab.bps.go.id. BPS Kabupaten Maros. hlm. 32–37. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-07-25. Diakses tanggal 2023-07-25. 
  16. ^ BPS Kabupaten Maros (2011-10-31). Maros Dalam Angka 2011. maroskab.bps.go.id. BPS Kabupaten Maros. hlm. 60–74. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-07-23. Diakses tanggal 2023-07-23. 
  17. ^ BPS Kabupaten Maros (2013-01-08). Kabupaten Maros Dalam Angka 2012. maroskab.bps.go.id. BPS Kabupaten Maros. hlm. 49–60. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-07-23. Diakses tanggal 2023-07-23. 
  18. ^ BPS Kabupaten Maros (2013-08-16). Kabupaten Maros Dalam Angka 2013. maroskab.bps.go.id. BPS Kabupaten Maros. hlm. 49–58. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-07-23. Diakses tanggal 2023-07-23. 
  19. ^ BPS Kabupaten Maros (2014-06-26). Kabupaten Maros Dalam Angka 2014. maroskab.bps.go.id. BPS Kabupaten Maros. hlm. 52–58. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-07-23. Diakses tanggal 2023-07-23. 
  20. ^ BPS Kabupaten Maros (2015-10-31). Kabupaten Maros Dalam Angka 2015. maroskab.bps.go.id. BPS Kabupaten Maros. hlm. 51–79. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-07-23. Diakses tanggal 2023-07-23. 
  21. ^ BPS Kabupaten Maros (2016-07-15). Kabupaten Maros Dalam Angka 2016. maroskab.bps.go.id. BPS Kabupaten Maros. hlm. 47–54. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-07-23. Diakses tanggal 2023-07-23. 
  22. ^ BPS Kabupaten Maros (2017-08-11). Kabupaten Maros Dalam Angka 2017. maroskab.bps.go.id. BPS Kabupaten Maros. hlm. 51–63. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-07-22. Diakses tanggal 2023-07-22. 
  23. ^ BPS Kabupaten Maros (2018-08-16). Kabupaten Maros Dalam Angka 2018. maroskab.bps.go.id. BPS Kabupaten Maros. hlm. 45–56. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-07-22. Diakses tanggal 2023-07-22. 
  24. ^ BPS Kabupaten Maros (2019-08-16). Kabupaten Maros Dalam Angka 2019. maroskab.bps.go.id. BPS Kabupaten Maros. hlm. 45–56. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-07-22. Diakses tanggal 2023-07-22. 
  25. ^ BPS Kabupaten Maros (2020-04-27). Kabupaten Maros Dalam Angka 2020. maroskab.bps.go.id. BPS Kabupaten Maros. hlm. 29–49. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-09-17. Diakses tanggal 2023-07-22. 
  26. ^ BPS Kabupaten Maros (2021-02-26). Kabupaten Maros Dalam Angka 2021. maroskab.bps.go.id. BPS Kabupaten Maros. hlm. 29–41. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-07-22. Diakses tanggal 2023-07-22. 
  27. ^ BPS Kabupaten Maros (2022-02-25). Kabupaten Maros Dalam Angka 2022. maroskab.bps.go.id. BPS Kabupaten Maros. hlm. 29–49. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-07-22. Diakses tanggal 2023-07-22. 
  28. ^ "Visualisasi Data Kependudukan - Kementerian Dalam Negeri 2022" (Visual). www.dukcapil.kemendagri.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2018-09-24. Diakses tanggal 26 Juli 2023. 
  29. ^ BPS Kabupaten Maros (2023-02-28). Kabupaten Maros Dalam Angka 2023. maroskab.bps.go.id. BPS Kabupaten Maros. hlm. 37–49. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-07-18. Diakses tanggal 2023-07-22. 
  30. ^ "Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 2020-2022". sulsel.bps.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-07-23. Diakses tanggal 2023-07-23. 
  31. ^ "[Metode Baru] Indeks Pembangunan Manusia 2021-2022". www.bps.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2021-01-27. Diakses tanggal 2023-07-24. 
  32. ^ Statistik Kebahasaan 2019. Jakarta: Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan. 2019. hlm. 11. ISBN 9786028449182. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-04-30. Diakses tanggal 2020-05-24. 
  33. ^ "Bahasa di Provinsi Sulawesi Selatan". Bahasa dan Peta Bahasa di Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2020-06-13. Diakses tanggal 23 Mei 2020. 
  34. ^ Tim Penyusun Kemendes PDTT RI (2016). Peringkat Status Indeks Desa Membangun (IDM) Provinsi Kabupaten Kecamatan Desa Tahun 2016. idm.kemendesa.go.id. Kemendes PDTT RI. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-05-29. Diakses tanggal 2022-05-30. 
  35. ^ Tim Penyusun Kemendes PDTT RI (2018). Peringkat Indeks Desa Membangun (IDM) Tahun 2018. idm.kemendesa.go.id. Kemendes PDTT RI. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-06-09. Diakses tanggal 2022-06-09. 
  36. ^ Tim Penyusun Kemendes PDTT RI (2019). Peringkat Indeks Desa Membangun (IDM) Provinsi Kabupaten Kecamatan Tahun 2019. idm.kemendesa.go.id. Kemendes PDTT RI. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-06-23. Diakses tanggal 2022-06-23. 
  37. ^ Tim Penyusun Kemendes PDTT RI (2020). Peringkat Status Indeks Desa Membangun (IDM) Provinsi Kabupaten Kecamatan Desa Tahun 2020. idm.kemendesa.go.id. Kemendes PDTT RI. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-05-28. Diakses tanggal 2022-05-28. 
  38. ^ Tim Penyusun Kemendes PDTT RI (2021). Peringkat Status Indeks Desa Membangun (IDM) Provinsi Kabupaten Kecamatan Desa Tahun 2021. idm.kemendesa.go.id. Kemendes PDTT RI. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2022-05-27. Diakses tanggal 2022-05-27. 
  39. ^ Rinovsky, Riky (26 Februari 2021). "Gubernur Nurdin Abdullah Melantik Pasangan Chaidir Syam – Suhartina Bohari Bupati Dan Wakil Bupati Maros". gurindam.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-07-24. Diakses tanggal 24 Juli 2023. 
  40. ^ Tim redaksi www.reaksipress.com (26 Februari 2021). "Bupati-Wakil Bupati Maros Dilantik Hari Ini". www.reaksipress.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-07-24. Diakses tanggal 24 Juli 2023. 
  41. ^ Zakaria, Andi Ade (26 Februari 2021). "Dilantik Hari Ini, Masa Jabatan Cuma 3,5 Tahun, Chaidir Syam: Kami Minta OPD Bekerja Cepat". menitindonesia.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-07-24. Diakses tanggal 24 Juli 2023. 
  42. ^ Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (9 Februari 2023). "Rekapitulasi Jumlah Daerah Pemilihan dan Alokasi Kursi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota dalam Pemilihan Umum Tahun 2024". infopemilu.kpu.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-07-27. Diakses tanggal 27 Juli 2023. 
  43. ^ Tim redaksi papuabarat.tribunnews.com (12 Februari 2023). "Ini Pembagian 11 Dapil DPRD Sulsel dengan 85 Kursi pada Pemilu 2024, Kota Makassar Tersedia 15 Kursi". papuabarat.tribunnews.com. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-07-27. Diakses tanggal 27 Juli 2023. 
  44. ^ Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (2023). "Daerah Pemilihan DPR RI". infopemilu.kpu.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-07-27. Diakses tanggal 27 Juli 2023. 
  45. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 Desember 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2019. 
  46. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Permendagri nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 25 Oktober 2019. Diakses tanggal 15 Januari 2020. 
  47. ^ a b Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Provinsi Sulawesi Selatan (2020). "Profil Kabupaten Maros". dpmptsp.sulselprov.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2023-07-21. Diakses tanggal 25 Juli 2023. 
  48. ^ maroskab.bps.go.id (2013-08-16). "Maros Dalam Angka 2013". maroskab.bps.go.id. Diarsipkan dari versi asli tanggal 2019-06-24. Diakses tanggal 2019-06-25. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]