Kabupaten Maros

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Kabupaten Maros
Kabupaten
lainnya Transkripsi
 • Lontara Bugᨀᨅᨘᨄᨈᨛᨆᨑᨚ
 • Lontara Mak𑻠𑻤𑻴𑻣𑻦𑻵𑻥𑻭𑻶
Air Terjun Bantimurung di Desa Jenetaesa, Kabupaten Maros
Lambang resmi Kabupaten Maros
Lambang
Julukan: 
Butta Salewangang, Kupu-Kupu Raja, Laskar Marusu, The Kingdom of Butterfly, Butta Bugisi-Mangkasara
Motto: 
Menuju Maros Lebih BAIK
(Bersih, Aman, Inovatif, dan Kreatif)
Lokasi di Sulawesi Selatan dan di Indonesia
Lokasi di Sulawesi Selatan dan di Indonesia
Negara Indonesia
ProvinsiCoat of arms of South Sulawesi.svg Sulawesi Selatan
Ibu KotaKota Turikale (9 Mei 2011 - sekarang)
Kota Maros (4 Juli 1959 - 9 Mei 2011)
Hari Jadi 4 Juli 1959 
Perda Kab. Maros No. 03 Tahun 2012
Dibentuk1471 (Abad 15)
Sinkronisasi Referensi Lontara Maros,
Lontara Gowa, dan Lontara Bone
Didirikan olehKaraeng Loe Ri Pakere
Asal namaKerajaan Marusu'
Kecamatan14
Kelurahan/Desa103
Pemerintahan
 • JenisKabupaten
 • LembagaPemerintahan Daerah Tingkat II
 • BupatiIr. H. Muhammad Hatta Rahman, S.T., M.M. (PAN)
 • Wakil BupatiDrs. H. Andi Harmil Mattotorang, M.M.
Luas
 • Total1.619,12 km2 (4.000.930 acre)
Ketinggian
881 m (2,890 ft)
Populasi
 (2019)[2]
 • Total353.121
 • Peringkat9 dari 24 daerah (Sulawesi Selatan)
 • Kepadatan218,09/km2 (56,490/sq mi)
 • Kepadatan110,37/km2 (28,590/sq mi)
DemonimMarosnese
Demografi
 • Suku bangsaBugis, Makassar, Toraja, Mandar, Madura, Jawa, dll.
 • AgamaIslam 97,95%
Kristen 1,68%
- Protestan 1,50%
- Katolik 0,18%
Hindu 0,02%
Buddha 0,02%
Lainnya 0,33%[3]
 • BahasaDentong, Bugis, Makassar, Melayu Makassar, Jawa, Madura, Indonesia
Zona waktuUTC+8 (WITA)
Kode Pos
90511-90565
Kode Telepon+62 0411
GeocodeID-SL
ISO 3166 codeID-SN
Plat KendaraanProvinsi Sulawesi Selatan → DD
Kabupaten Maros → D
Kode administrasi73.09
APBDRp. 1.497.906.779.871[4]tahun 2019
PADRp. 285 miliar[4]tahun 2019
Belanja DaerahRp. 1.551.449.773.598[4]tahun 2019
IPM68,94 dan 00,52 ( sedang )[5]tahun 2018
Bandar udara utamaBandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin Kecamatan Mandai
Pelabuhan Laut utamaPelabuhan Perikanan Bonto Bahari Kecamatan Bontoa
Situs webmaroskab.go.id

Kabupaten Maros (Bugis: ᨀᨅᨘᨄᨈᨛᨆᨑᨚ, Makassar: 𑻠𑻤𑻴𑻣𑻦𑻵𑻥𑻭𑻶, Inggris: Maros Regency) adalah salah satu Daerah Tingkat II di Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Jauh dari sebelumnya Kabupaten Maros adalah salah satu bekas daerah kerajaan di Sulawesi Selatan. Di daerah ini pernah berdiri Kerajaan Marusu' dengan raja pertama bergelar Karaeng Loe Ri Pakere. Maros memperoleh status sebagai kabupaten pada tanggal 4 Juli 1959 berdasarkan UU No. 29 Tahun 1959. Pada tanggal tersebut juga ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Maros berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Maros Nomor 3 Tahun 2012. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Turikale. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.619,12 km² dan berpenduduk sebanyak 353.121 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk sebesar 218,09 jiwa/km² pada tahun 2019.[2][6]

Bersama Kabupaten Takalar dan Kabupaten Gowa, Kabupaten Maros dikenal sebagai kabupaten penyangga Kota Makassar. Karena Kabupaten Maros merupakan wilayah yang berbatasan langsung dengan ibu kota Propinsi Sulawesi Selatan tersebut dengan jarak kedua kota tersebut berkisar 30 km dan sekaligus terintegrasi dalam pengembangan Kawasan Metropolitan Mamminasata.

Dalam kedudukannya, Kabupaten Maros memegang peranan penting terhadap pembangunan Kota Makassar karena sebagai daerah perlintasan yang sekaligus sebagai pintu gerbang Kawasan Mamminasata bagian utara yang dengan sendirinya memberikan peluang yang sangat besar terhadap pembangunan di Kabupaten Maros. Di daerah ini juga terdapat banyak tempat wisata andalan bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Makassar dan Sulawesi Selatan, yaitu Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung dan objek wisata batu karst terbesar kedua di dunia Rammang-Rammang, selain itu Kabupaten Maros juga memiliki potensi ekonomi karena Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin berada di Kabupaten Maros.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kondisi Geografis[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Maros terletak di bagian barat Sulawesi Selatan antara 40°45′-50°07’ lintang selatan dan 109°205′-129°12′ bujur timur yang berbatasan dengan Kabupaten Pangkep sebelah utara, Kota Makassar dan Kabupaten Gowa sebelah selatan, Kabupaten Bone di sebelah timur dan Selat Makassar di sebelah barat. Kabupaten Maros berada pada rentang ketinggian antara 0 m sampai dengan lebih dari 1.000 m dari permukaan laut. Di wilayah Kabupaten Maros terdapat beberapa gunung dengan jenis gunung yang tidak aktif dan tidak begitu tinggi, seperti Gunung Barro-Barro, Rammang-Rammang, Samaenre, Bulu Saraung, dan Bulu Saukang. Bulu Saukang adalah gunung yang tertinggi di wilayah Kabupaten Maros dengan ketinggian mencapai 260 m di atas permukaan laut.

Dilihat dari lokasi geografi dan topografinya, dari 103 desa/kelurahan yang ada di kabupaten Maros, 10 desa berada pada wilayah pantai, 5 desa berada pada wilayah lembah, 28 desa berada pada wilayah perbukitan, dan sisanya 60 desa/kelurahan berada pada wilayah dataran/landai. Kecamatan Tompobulu merupakan kecamatan yang memiliki wilayah paling luas, sedangkan kecamatan yang wilayahnya paling kecil adalah kecamatan Turikale. Kondisi Topografi Kabupaten Maros sangat bervariasi mulai dari wilayah datar sampai bergunung-gunung. Hampir semua di kecamatan terdapat daerah pedataran yang luas keseluruhan sekitar 70.882 ha atau 43,8% dari luas wilayah Kabupaten Maros. Sedangkan daerah yang mempunyai kemiringan lereng di atas dari 40% atau wilayah yang bergunung-gunung mempunyai luas 49.869 ha atau 30,8 dari luas wilayah Kabupaten Maros.

Dari ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, Makassar, ke ibu kota Kabupaten Maros berjarak kurang lebih 30 km dan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam melewati jalan provinsi yang cukup baik dan lancar. Selanjutnya dari ibu kota Kabupaten Maros sampai ke kota-kota kecamatan di kabupaten tersebut juga dihubungkan oleh jalan aspal yang cukup baik. Namun demikian, belum semua desa-desa di Kabupaten Maros yang terhubungkan dengan jalan beraspal atau beton sampai ke ibu kota kecamatan masing-masing. Masih cukup banyak desa yang dusun-dusunnya hanya terhubungkan oleh jalan setapak. Dusun-dusun tersebut terutamanya ditemukan pada lokasi dimana masyarakat membuka perkampungan dengan merambah atau membuka hutan.

Iklim[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan pencatatan Badan Stasiun Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) rata-rata Suhu udara bulanan di Kabupaten Maros adalah 27,20 °C tiap bulannya. Suhu bulanan paling rendah adalah 23,7 °C (terjadi pada bulan Agustus 2017) sedangkan paling tinggi adalah 33,2 °C (terjadi pada bulan September 2017).

Iklim Kabupaten Maros tergolong iklim tropis basah dengan curah hujan rata-rata sekitar 297 mm setiap bulannya, dengan jumlah hari hujan berkisar 204 hari selama tahun 2017, dengan rata-rata suhu udara minimum 24,4 °C dan rata-rata suhu udara maksimum 31,2 °C.

Penyinaran matahari selama tahun 2017 rata-rata berkisar 58 %. Secara geografis daerah ini terdiri dari 10 % (10 desa) adalah pantai, 5 % (5 desa) adalah kawasan lembah, 27 % (28 desa) adalah lereng/ bukit dan 58 % (60 desa) adalah dataran.

Suhu dan Kelembaban Udara[sunting | sunting sumber]

Rata-rata Suhu dan Kelembaban Udara Menurut Bulan di Kabupaten Maros Tahun 2018
Bulan Suhu Udara (°C) Kelembaban Udara (%)
Maksimal Minimal Rata-rata Maksimal Minimal Rata-rata
Januari 30,00 24,60 26,80 96 68 85
Februari 29,60 24,10 26,10 97 76 89
Maret 30,40 24,10 26,60 97 71 86
April 31,70 24,60 27,60 94 57 81
Mei 32,10 25,20 28,10 94 59 78
Juni 30,90 24,50 27,00 93 60 83
Juli 31,10 23,10 26,60 92 49 77
Agustus 32,30 23,10 27,20 75 56 72
September 33,50 22,80 27,90 78 31 65
Oktober 33,10 23,60 28,10 92 48 71
November 31,70 24,40 27,80 97 67 82
Desember 30,30 24,20 26,80 96 68 85
Sumber Data: Stasiun Klimatologi Kelas I Maros (BMKG) dalam BPS Kabupaten Maros

Tekanan Udara, Kecepatan Angin dan Penyinaran Matahari[sunting | sunting sumber]

Rata-Rata Tekanan Udara, Kecepatan Angin dan Penyinaran Matahari Menurut Bulan di Kabupaten Maros Tahun 2018
Bulan Tekanan Udara (mb) Kecepatan Angin (knot) Penyinaran Matahari (%)
Januari 1.010,5 3 40
Februari 1.012,5 3 32
Maret 1.010,3 3 52
April 1.010,1 3 82
Mei 1.010,3 3 67
Juni 1.010,3 3 65
Juli 1.010,9 3 74
Agustus 1.011,6 4 94
September 1.011,8 4 90
Oktober 1.011,7 4 91
November 1.011,2 3 66
Desember 1.010,4 3 47
Sumber Data: Stasiun Klimatologi Kelas I Maros (BMKG) dalam BPS Kabupaten Maros

Curah Hujan dan Hari Hujan[sunting | sunting sumber]

Jumlah Curah Hujan dan Hari Hujan Menurut Bulan di Kabupaten Maros Tahun 2018
Bulan Curah Hujan (mm³) Hari Hujan
Januari 523 25
Februari 667 19
Maret 594 25
April 213 18
Mei 109 15
Juni 150 15
Juli 51 5
Agustus 1 2
September 8 4
Oktober 116 9
November 184 20
Desember 798 28
Sumber Data: Stasiun Klimatologi Kelas I Maros (BMKG) dalam BPS Kabupaten Maros

Batas wilayah[sunting | sunting sumber]

Batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut:

Utara Kabupaten Pangkep dan Kabupaten Bone
Timur Kabupaten Bone dan Kabupaten Gowa
Selatan Kabupaten Gowa dan Kota Makassar
Barat Selat Makassar

Sungai[sunting | sunting sumber]

Kondisi Sungai Ta'deang di Kabupaten Maros pada tahun 1929.

Di wilayah Kabupaten Maros terdapat beberapa sungai sebagai berikut:

Gunung[sunting | sunting sumber]

Di wilayah Kabupaten Maros terdapat beberapa gunung sebagai berikut:

  • Bulu Saraung (1.353 m dpl)
  • Bulu Saukang (260 m dpl)
  • Gunung Barro-Barro (110 m dpl)
  • Gunung Rammang-Rammang
  • Gunung Samaenre
  • Gunung Sarigan

Demografi[sunting | sunting sumber]

Mata Pencaharian[sunting | sunting sumber]

Mata pencaharian masyarakat Kabupaten Maros, yaitu bekerja sebagai petani sawah/tambak, peternak, pedagang, sopir, guru, pegawai pemerintahan, buruh pabrik/bangunan, dan lain-lain. Dari sekian banyak bidang pekerjaan tersebut, petani sawah/tambak dan pedagang adalah yang mayoritas di Kabupaten Maros.

Jumlah Penduduk[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Maros memiliki luas 1.619,12 km² dan penduduk berjumlah 349.822 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk sebesar 216,06 jiwa/km² pada tahun 2018.

Tahun Laki-laki Perempuan Total Penduduk (jiwa) Pertumbuhan Penduduk (jiwa) Kepadatan Penduduk (jiwa/km2)
1992 - - 234.575 - -
2001 - - 274.394 - -
2002 - - 277.137 - -
2003 140.717 146.043 286.760 - -
2004 141.957 147.427 289.384 - -
2005 145.393 151.057 296.450 - -
2006 145.601 152.017 297.618 - -
2007 141.001 158.661 299.662 - -
2008 148.959 154.252 303.211 - -
2009 152.215 158.562 310.777 - -
2010 - - 319.008 - -
2011 158.182 165.915 324.097 - -
2012 160.180 167.818 327.998 - -
2013 162.088 169.708 331.796 - -
2014 164.008 171.588 335.596 - -
2015 165.881 173.419 339.300 - -
2016 167.724 175.166 342.890 - -
2017 169.433 176.950 346.383 - -
2018 171.117 178.705 349.822 - 216,06
2019 - - 353.121 - -

Indeks Pembangunan Manusia[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Maros termasuk kategori daerah yang memiliki IPM yang sedang dengan capaian 68,94 (2018). Untuk melihat capaian IPM dapat dilihat melalui pengelompokan IPM ke dalam 4 kategori, yaitu: IPM < 60 = IPM rendah, 60 ≤ IPM < 70 = IPM sedang, 70 ≤ IPM < 80 = IPM tinggi, dan IPM ≥ 80 = IPM sangat tinggi. Walaupun belum beranjak dari IPM kategori sedang, IPM Kabupaten Maros terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun sejak tahun 2010.

Keterangan
IPM: Indeks Pembangunan Manusia
AHH: Angka Harapan Hidup
HLS: Harapan Lama Sekolah
RLS: Rata-rata Lama Sekolah
PP: Pengeluaran Perkapita
Tahun AHH HLS RLS PP Hasil IPM Perubahan IPM
2010 68,42 10,82 6,88 8.919,90 64,07 Steady
2011 68,44 11,18 7,10 9.068,87 64,95 00,88
2012 68,47 11,57 7,12 9.154,84 65,50 00,55
2013 68,49 11,96 7,14 9.257,95 66,06 00,56
2014 68,50 12,37 7,17 9.354,53 66,65 00,59
2015 68,55 12,67 7,19 9.468,48 67,13 00,48
2016 68,58 12,96 7,20 9.758,00 67,76 00,63
2017 68,60 12,97 7,42 10.121,00 68,42 00,74
2018 68,74 12,99 7,43 10.558,00 68,94 00,52
Sumber Data: Badan Pusat Statistik RI

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Bahasa resmi instansi pemerintahan di Kabupaten Maros adalah bahasa Indonesia. Menurut Statistik Kebahasaan 2019 oleh Badan Bahasa, terdapat dua bahasa daerah di Kabupaten Maros[7], yaitu bahasa Makassar dan bahasa Bugis (khususnya dialek Dentong).[4]

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Bupati dan Wakil Bupati[sunting | sunting sumber]

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Maros[sunting | sunting sumber]

Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Secara administratif, kabupaten Maros terdiri atas 14 (empat belas) wilayah pembagian administrasi berupa kecamatan sebagai berikut:

No. Kecamatan Kelurahan/Desa Lingkungan/Dusun Ibu Kota Luas (km²) Kode Wilayah
1. Kecamatan Bantimurung 8 37 Pakalu 173,70 73.09.03
2. Kecamatan Bontoa 9 37 Panjalingan 93,52 73.09.05
3. Kecamatan Camba 8 28 Cempaniga 145,36 73.09.02
4. Kecamatan Cenrana 7 34 Bengo 180,97 73.09.10
5. Kecamatan Lau 6 25 Barandasi 53,73 73.09.12
6. Kecamatan Mallawa 11 35 Ladange 235,92 73.09.06
7. Kecamatan Mandai 6 26 Tetebatu 49,11 73.09.01
8. Kecamatan Maros Baru 7 25 Baju Bodoa 53,76 73.09.04
9. Kecamatan Marusu 7 24 Pattene 73,83 73.09.08
10. Kecamatan Moncongloe 5 17 Pamanjengan 46,87 73.09.13
11. Kecamatan Simbang 6 28 Bantimurung 105,31 73.09.09
12. Kecamatan Tanralili 8 32 Ammarang 89,45 73.09.07
13. Kecamatan Tompobulu 8 36 Pucak 287,66 73.09.11
14. Kecamatan Turikale 7 34 Solojirang 29,93 73.09.14
Jumlah 103 418 - 1.619,12 -

Desa/Kelurahan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Maros memiliki 103 desa/kelurahan sebagai berikut:

  1. Desa A'bulosibatang
  2. Desa Alatengae
  3. Desa Allaere
  4. Desa Ampekale
  5. Desa Baji Mangai
  6. Desa Baji Pa'mai
  7. Desa Baruga
  8. Desa Barugae
  9. Desa Batu Putih
  10. Desa Benteng
  11. Desa Benteng Gajah
  12. Desa Bentenge
  13. Desa Bonto Bahari
  14. Desa Bonto Bunga
  15. Desa Bonto Manai
  16. Desa Bonto Manurung
  17. Desa Bonto Marannu
  18. Desa Bonto Marannu
  19. Desa Bonto Matene
  20. Desa Bonto Matene
  21. Desa Bonto Matinggi
  22. Desa Bonto Somba
  23. Desa Bontotallasa
  24. Desa Bontolempangang
  25. Desa Borikamase
  26. Desa Borimasunggu
  27. Desa Cenrana
  28. Desa Cenrana Baru
  29. Desa Damai
  30. Desa Gattareng Matinggi
  31. Desa Jenetaesa
  32. Desa Kurusumange
  33. Desa Laiya
  34. Desa Labuaja
  35. Desa Lebbotengae
  36. Desa Lekopancing
  37. Desa Limampoccoe
  38. Desa Majannang
  39. Desa Mangeloreng
  40. Desa Marannu
  41. Desa Marumpa
  42. Desa Mattampapole
  43. Desa Mattirotasi
  44. Desa Mattoangin
  45. Desa Minasa Baji
  46. Desa Minasa Upa
  47. Desa Moncongloe
  48. Desa Moncongloe Bulu
  49. Desa Moncongloe Lappara
  50. Desa Nisombalia
  51. Desa Pa'bentengan
  52. Desa Padaelo
  53. Desa Pajukukang
  54. Desa Patanyamang
  55. Desa Pattiro Deceng
  56. Desa Pattontongan
  57. Desa Pucak
  58. Desa Purna Karya
  59. Desa Rompegading
  60. Desa Salenrang
  61. Desa Samaenre
  62. Desa Samangki
  63. Desa Sambueja
  64. Desa Sawaru
  65. Desa Simbang
  66. Desa Sudirman
  67. Desa Tanete
  68. Desa Tellumpanuae
  69. Desa Tellumpoccoe
  70. Desa Temmapadduae
  71. Desa Tenrigangkae
  72. Desa Timpuseng
  73. Desa Toddo Pulia
  74. Desa Toddolimae
  75. Desa Tompobulu
  76. Desa Tukamasea
  77. Desa Tunikamaseang
  78. Desa Tupabbiring
  79. Desa Uludaya
  80. Desa Wanua Waru
  81. Kelurahan Adatongeng
  82. Kelurahan Allepolea
  83. Kelurahan Alliritengae
  84. Kelurahan Baji Pamai
  85. Kelurahan Baju Bodoa
  86. Kelurahan Bontoa
  87. Kelurahan Bontoa
  88. Kelurahan Boribellaya
  89. Kelurahan Borong
  90. Kelurahan Cempaniga
  91. Kelurahan Hasanuddin
  92. Kelurahan Kalabbirang
  93. Kelurahan Leang-Leang
  94. Kelurahan Maccini Baji
  95. Kelurahan Mario Pulana
  96. Kelurahan Mattiro Deceng
  97. Kelurahan Pallantikang
  98. Kelurahan Pettuadae
  99. Kelurahan Raya
  100. Kelurahan Sabila
  101. Kelurahan Soreang
  102. Kelurahan Taroada
  103. Kelurahan Turikale

Kondisi Alam[sunting | sunting sumber]

Kawasan Hutan[sunting | sunting sumber]

Kawasan hutan di Kabupaten Maros menurut kategori hutan dapat dibagi atas 3 jenis, yakni hutan menurut fungsinya (Hutan Lindung, Hutan Produksi Biasa/Terbatas, dan Taman Nasional). Luas total kawasan hutan di Kabupaten Maros tahun 2015 adalah 65.022 Ha, yang terdiri atas 14.611 Ha hutan lindung, 15.365 Ha hutan produksi biasa, 6.434 Ha hutan produksi terbatas, dan 28.610 Ha taman nasional.

Tabel Luas Kawasan Hutan Dirinci Menurut Jenis dan Kecamatan di Kabupaten Maros Tahun 2015
No. Kecamatan Fungsi Kawasan Taman Nasional Total Kawasan Hutan (Ha)
Hutan Lindung Hutan Produksi
Hutan Produksi Biasa Hutan Produksi Terbatas
1. Kecamatan Bantimurung 2.417 94 - 6.750 9.261
2. Kecamatan Bontoa 323 - - - 323
3. Kecamatan Camba - - 1.283 3.623 4.906
4. Kecamatan Cenrana 4.972 1.672 2.244 2.825 11.713
5. Kecamatan Lau 87 - - - -
6. Kecamatan Mallawa 574 2.473 1.586 10.024 14.658
7. Kecamatan Mandai - - - - -
8. Kecamatan Maros Baru - - - - -
9. Kecamatan Marusu - - - - -
10. Kecamatan Moncongloe - - - - -
11. Kecamatan Simbang 16 561 - 4.184 4.762
12. Kecamatan Tanralili - 543 - - 543
13. Kecamatan Tompobulu 6.222 10.022 1.321 1.204 18.769
14. Kecamatan Turikale - - - - -
Jumlah 14.611 15.365 6.434 28.610 65.022
Sumber Data: Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Maros dalam BPS Kabupaten Maros

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa wilayah kecamatan yang memiliki kawasan hutan adalah sebanyak 9 kecamatan. Luas kawasan hutan yang terbanyak di Kabupaten Maros adalah Kecamatan Tompobulu dan Mallawa.

Persebaran Hutan[sunting | sunting sumber]

Berikut ini nama-nama persebaran hutan di Kabupaten Maros:

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Pada tahun 2018, tercatat sebanyak 43 pasar yang tersebar di 14 kecamatan di Kabupaten Maros. Sedangkan jumlah pedagang menurut skalanya 147 pedagang menengah, 3.629 pedagang kecil, dan 17.462 pedagang mikro.

Sistem Kepercayaan[sunting | sunting sumber]

Masyarakat Bugis di Kabupaten Maros menganut agama Islam. Masyarakat Bugis juga masih percaya dengan satu dewa tunggal yang mempunyai nama-nama sebagai berikut:

  1. Patoto-e : dewa penentu nasib
  2. Dewata Seuwa-e : dewa tunggal
  3. Turie a'rana : kehendak tertinggi

Masyarakat Bugis Maros menganggap bahwa budaya (adat) itu keramat. Budaya (adat) tersebut didasarkan atas lima unsur pokok panngaderreng (aturan adat yang keramat dan sakral), yaitu sebagai berikut:

  1. Ade (ada dalam bahasa Makassar)
  2. Bicara
  3. Rapang
  4. Wari'
  5. Sara'

Perkembangan pembangunan di bidang spiritual dapat dilihat dari besarnya sarana peribadatan masing-masing agama. Tempat peribadatan umat islam yang berupa masjid, langgar/musholla pada tahun 2012 masing-masing berjumlah 728 dan 50. Tempat peribadatan untuk umat kristiani dan katolik sebanyak 22 yang terdapat di 9 kecamatan. Jumlah jamaah haji yang diberangkatkan dari Kabupaten Maros setiap tahunnya mengalami peningkatan, pada Tahun 2012 jumlah Jamaah Haji perempuan sebanyak 209 orang dan laki-laki sebanyak 104 orang.[8]

Agama yang Dianut[sunting | sunting sumber]

Tabel penduduk Kabupaten Maros menurut agama yang dianutnya tahun 2017 sebagai berikut:

Kecamatan Islam Protéstan Katolik Hindu Buddha Konghucu Lainnya
Bantimurung 30.525 0 0 0 0 0 0
Bontoa 26.974 0 0 0 0 0 0
Camba 12.760 9 0 0 0 0 0
Cenrana 15.469 0 0 0 0 0 0
Lau 24.487 0 138 0 0 0 0
Mallawa 10.900 0 2 0 0 0 0
Mandai 35.054 0 538 0 0 0 0
Maros Baru 24.404 13 0 0 0 0 0
Marusu 26.065 130 0 0 0 0 0
Moncongloe 19.666 63 650 0 0 0 0
Simbang 31.218 0 0 0 0 0 0
Tanralili 24.897 0 0 0 0 0 0
Tompobulu 17.989 0 0 0 0 0 0
Turikale 41.221 111 445 0 0 0 0
Total 341.629 317 1.773 0 0 0 0

Pertanian[sunting | sunting sumber]

Tanaman padi yang menguning siap panen tahun 2010 di area persawahan Lingkungan Majannang Kelurahan Boribellaya Kabupaten Maros.

Sulawesi Selatan merupakan daerah penghasil tanaman pangan terbesar di Kawasan Timur Indonesia. Predikat sebagai lumbung padi nasional mengukuhkan posisi Sulawesi Selatan sebagai produsen tanaman pangan yang cukup potensial. Selain padi sebagai komoditas tanaman pangan andalan, tanaman pangan lainnya yang dihasilkan Sulawesi Selatan adalah jagung, ubi kayu, ubi jalar dan kacang-kacangan. Kabupaten Maros merupakan salah satu daerah lumbung padi di Sulawesi Selatan. Luasnya area persawahan dan juga iklim yang mendukung menjadikan Kabupaten Maros setiap tahun selalu swasembada beras. Produksi padi Kabupaten Maros tahun 2018 sebesar 3.278.113,56 kwintal yang dipanen dari areal seluas 50.523 ha. Sebagian besar produksi padi di Kabupaten Maros dihasilkan oleh jenis padi sawah. Jenis padi ini menyumbang 98,99 % dari seluruh produksi padi. Sedangkan 1,01 % dihasilkan oleh padi ladang. Produksi jagung Kabupaten Maros pada tahun 2018 sebesar 488.101.029 kwintal dengan luas panen 9.556 ha.

Produksi Tanaman Pangan[sunting | sunting sumber]

Produksi padi sawah dan padi ladang tahun 2018 menurut kecamatan di Kabupaten Maros sebagai berikut:

Kecamatan Padi Sawah (kwintal) Padi Ladang (kwintal) Total produksi (kwintal)
Bantimurung 710.608 3.384 713.992
Bontoa 215.542,40 0 215.542,40
Camba 198.752,16 7.560 206.312,16
Cenrana 169.380 993,60 170.373,60
Lau 336.208,20 0 336.208,20
Mallawa 145.433,60 4.018,50 149.452,10
Mandai 163.514 0 163.514
Maros Baru 133.032,50 0 133.032,50
Marusu 72.352 0 72.352
Moncongloe 117.656,36 0 117.656,36
Simbang 363.880 0 363.880
Tanralili 244.343,84 4.200 248.543,84
Tompobulu 242.928 14.726,40 257.654,40
Turikale 129.600 0 129.600
Total 3.243.231,06 34.882,50 3.278.113,56

Tanaman Andalan Daerah[sunting | sunting sumber]

  • Padi Sawah
  • Padi Ladang
  • Jagung
  • Kedelai
  • Kacang Tanah
  • Ubi Kayu
  • Ubi Jalar
  • Bawang Merah
  • Cabai
  • Petsai
  • Kemiri
  • Mangga
  • Durian
  • Jeruk
  • Pisang
  • Pepaya
  • Nanas
  • Semangka
  • Kelapa Hibrida
  • Kopi Robusta
  • Lada
  • Kakao
  • Jambu Mete
  • Aren
  • Kapuk
  • Pala
  • Cengkeh
  • Kelapa Dalam
  • Vanili
  • Padi Varietas Padi Banda (Varietas Lokal)
  • Padi Varietas Padi Lapang (Varietas Lokal)

Perikanan[sunting | sunting sumber]

Komoditas Andalan Daerah[sunting | sunting sumber]

Udang Sitto atau tiger shrimp merupakan salah satu komoditas andalan daerah Kabupaten Maros yang dibudidayakan dengan tambak-tambak di Kecamatan Marusu, Maros Baru, Lau, dan Bontoa.
Salamata atau Kakap putih merupakan salah satu komoditas andalan daerah Kabupaten Maros yang dibudidayakan dengan tambak-tambak di Kecamatan Marusu, Maros Baru, Lau, dan Bontoa. Selain itu, jenis ikan ini juga banyak dijumpai di Sungai Maros oleh sebab itu banyak pemancing tertarik memancing di sungai tersebut

Sumberdaya Perikanan Lainnya[sunting | sunting sumber]

  • Ikan Kandea (Ikan tawas)
  • Ikan Oseng
  • Ikan Mas Sungai
  • Ikan Gabus
  • Ikan Samelang
  • Ikan Sidat/Massapi
  • Belut Sawah/Lenrong
  • Ceda-Ceda (sejenis kerang)
  • Biri-biri (sejenis kerang)
  • Bakaleng (sejenis kerang)
  • Baja Salo (sejenis kerang pasir sungai)
  • Rambo-Rambo (sejenis kerang hijau)
  • Kepiting Sungai
  • Ikan Binisi
  • Kepiting Bakau
  • Rajungan

Pertambangan[sunting | sunting sumber]

Pertambangan di Kabupaten Maros memiliki potensi cukup besar. Beberapa jenis tambang yang dapat dikembangkan di Kabupaten Maros, seperti potensi tambang batu bara di Kecamatan Mallawa, bahan baku semen yang ada di Kecamatan Bantimurung, Bontoa, bahan baku marmer dan beberapa jenis potensi tambang lainnya. Potensi tambang saat ini yang telah dieksplorasi adalah semen yang dikelola oleh investor dalam negeri (PT. Semen Bosowa) yang berada di Desa Baruga Kecamatan Bantimurung. Potensi tambang ini memiliki prospek pengembangan dan pangsa pasar yang luas baik pasar lokal, regional, nasional maupun ekspor. Prospek inilah yang memiliki nilai strategis sehingga diperlukan suatu penetapan fungsi kawasan pertambangan di Kabupaten Maros.

Berikut ini adalah daftar kawasan pertambangan di Kabupaten Maros:

  • Tambang Batu Kapur di Desa Tukamasea Kecamatan Bantimurung
  • Tambang Batu Kapur di Desa Baruga Kecamatan Bantimurung
  • Tambang Pasir di Sungai Maros Kelurahan Boribellaya Kecamatan Turikale
  • Tambang Pasir di Sungai Bukkamata Kecamatan Simbang
  • Tambang Tanah Merah di Kecamatan Tanralili

Transportasi[sunting | sunting sumber]

Kuantitas dan kualitas prasarana dan sarana perhubungan merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk menunjang mobilitas penduduk dan distribusi barang dalam memperlancar roda perekonomian di suatu wilayah. Kondisi prasarana dan sarana sektor perhubungan suatu wilayah akan menentukan tingkat kelancaran komunikasi dan mobilitas penduduk serta memberikan gambaran pencapaian pembangunan. Panjang jalan di Kabupaten Maros pada tahun 2018 untuk jalan kabupaten adalah 1.032,13 km. Kondisi jalan yang dalam kondisi baik 327,08 km, kondisi sedang sepanjang 311,53 km, rusak 152,52 km, dan rusak berat 241 km.

Kendaraan[sunting | sunting sumber]

Pete-Pete berwarna khas biru muda sebagai transportasi umum di Kabupaten Maros.
  • Perahu Jolloro'
  • Pete-Pete
  • Bendi
  • Becak
  • Kuda
  • Motor
  • Mobil
  • Bus
  • Lepa-Lepa (sejenis perahu sampan)
  • Lopi-Lopi (sejenis perahu sampan)
  • Kapal Sungai

Terminal[sunting | sunting sumber]

  • Terminal Angkutan Darat Marusu
  • Terminal Pasar Lama (Pasar Sentral Maros)
  • Terminal Pasar Rakyat Pakalu
  • Terminal Pasar Rakyat Batangase
  • Terminal Pasar Baru (Pasar Tramor Butta Salewangang Maros)

Pelabuhan[sunting | sunting sumber]

  • Pelabuhan Perikanan Bonto Bahari
  • Pelabuhan Rakyat Kuri Lompo

Bandar Udara[sunting | sunting sumber]

Bandara Internasional Sultan Hasanuddin yang berada di wilayah Kabupaten Maros memiliki nilai strategis dalam konstalasi pengembangan wilayah. Bandar udara memiliki peranan yang sangat penting dalam sistem transportasi nasional (SISTRANAS), dimana wilayah Indonesia merupakan wilayah kepulauan, sehingga hubungan antar wilayah secara nasional dapat dilakukan dengan transportasi udara yang memiliki keunggulan dibandingkan moda transportasi lainnya, seperti moda angkutan laut. Potensi inilah yang menjadi peluang strategis pengembangan sistem transportasi udara di Kabupaten Maros. Lokasi bandara udara berada di Kecamatan Mandai yang berbatasan langsung dengan Kota Makassar dan merupakan bagian dari rencana pengembangan Kota Baru Metropolitan Mamminasata.

Dermaga[sunting | sunting sumber]

  • Dermaga Rammang-Rammang I
  • Dermaga Rammang-Rammang II
  • Dermaga Bonto Bahari
  • Dermaga Tapieng Boribellaya
  • Dermaga Labuhan
Pemandangan jalan perkampungan di Maros pada zaman penjajahan Hindia Belanda tahun 1929.
Pemandangan Trans Camba Maros tahun 1948, jalan yang menghubungkan antara Makassar dan Bone dibuat oleh pemerintah Belanda (bagian I).
Pemandangan Trans Camba Maros tahun 1948, jalan yang menghubungkan antara Makassar dan Bone dibuat oleh pemerintah Belanda (bagian II).

Seni dan Budaya[sunting | sunting sumber]

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Salah satu kebudayaan yang juga menjadi daya tarik terbesar suatu daerah adalah tempat wisata. Untuk wilayah Kabupaten Maros sendiri secara umum bisa dibilang memiliki objek wisata yang begitu lengkap yang tersebar hampir di seluruh kecamatan baik wisata alam maupun wisata buatan. Wilayah Kabupaten Maros merupakan wilayah yang memiliki banyak potensi objek dan daya tarik wisata yang terdiri dari atraksi alam dan atraksi budaya. Dengan secara rincian berupa wisata alam, religi, edukasi, kuliner, budaya, dan sejarah. Untuk mendorong pertumbuhan sektor pariwisata di Kabupaten Maros maka pembangunan fasilitas penunjang menjadi prioritas utamanya agar sektor pariwisata di Kabupaten Maros mampu menjadi penyumbang pendapatan/devisa bagi daerah Kabupaten Maros selain sektor pertambangan, pertanian, dan perikanan serta sektor jasa lainnya. Adapun fasilitas penunjang yang dimaksud diantaranya hotel (hotel berbintang dan hotel non berbintang beserta akomodasinya) dan rumah makan atau restoran.

Wisata Sejarah[sunting | sunting sumber]

Benteng Valkenburg Maros pada masa Hindia Belanda tahun 1930. Lokasi diperkirakan sekitar bangunan SMA Negeri 1 Maros Solojirang Kelurahan Turikale, Kabupaten Maros.
  • Situs Prasejarah Leang Akkarrasa Rammang-Rammang: Situs prasejarah ini menyimpan peninggalan prasejarah berupa dua buah gua yang terdapat lukisan prasejarah/kepurbakalaan pada dinding gua yang terdiri dari lukisan cakra 3 buah, lukisan babi rusa 3 ekor, lukisan ikan 1 ekor, dan lukisan perahu 1 buah. Situs prasejarah ini terletak di Desa Salenrang Kecamatan Bontoa.
  • Kompleks Makam Kassi Kebo: Kompleks makam ini merupakan tempat penguburan Karaeng Marusu dan keluarganya. Lokasi ini berada di Jl. Taqwa Kelurahan Baju Bodoa Kecamatan Maros Baru.
  • Kompleks Makam Karaeng Simbang: Kompleks makam ini adalah tempat penguburan Karaeng Simbang dan keluarganya. Makam ini berada di Desa Samangki Kecamatan Simbang.
  • Bangunan Pertahanan Jepang: Bangunan Pertahanan Jepang ini berada di Lingkungan Sanggalea Kelurahan Taroada Kecamatan Turikale. Bangunan ini berbentuk terowongan bawah tanah yang terbuat dari cor beton dibangun pada tahun 1942.
  • Pendopo Pallantikang Karaeng Marusu: Pendopo ini merupakan tempat pelantikan Karaeng Marusu pada masa kerajaan. Tempat ini berada di Kelurahan Pallantikang Kecamatan Maros Baru.
  • Rumah Adat Karaeng Loe Ri Pakere: Rumah adat ini dahulunya adalah istana raja Marusu pertama Karaeng Loe Ri Pakere sekitar abad XV. Rumah adat ini berada di lokasi Dusun Pakere Desa Bontotallasa Kecamatan Simbang yang merupakan salah satu rumah adat yang ada di Kabupaten Maros.
  • Objek Wisata Bulu Sipong: Adalah objek wisata alam yang terletak di Desa Bonto Somba Kecamatan Tompobulu dengan jarak tempuh dari Kota Turikale 25 Km. Bulu Sipong memiliki 5 buah gua yang kesemuanya menyimpan bukti peninggalan prasejarah yang mirip dengan Taman Prasejarah Leang-Leang. Yang membedakannya adalah letak kawasan ini berdiri sendiri, sehingga masyarakat sekitar memberi julukan “Bulu Sipong” yang berarti “gunung yang berdiri sendiri”.
  • Taman Makam Pahlawan Maros di Maccopa, Kelurahan Taroada
  • Benteng Valkenburg Maros di Solojirang, Kelurahan Turikale

Wisata Alam[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Maros menghadirkan paket wisata alam. Paket perjalanan wisata ini diberikan mengingat sejumlah daya tarik wisata ini termasuk dalam jenis wisatawan minat khusus. Pendampingan diberikan dalam bentuk penyediaan pemanduan serta penyediaan fasilitas wisata yang membutuhkan keahlian atau peralatan khusus, antara lain:

  1. Tracking atau Jelajah Hutan – Membutuhkan pemandu yang menguasai medan dan memiliki kecakapan interpretasi serta kemampuan melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). Pembuatan jalur tracking dengan berbagai rute dilakukan demi kenyamanan dan keamanan pengunjung. Peminat kegiatan ini cukup besar terutama wisatawan yang menyukai kegiatan penjelajahan.
  2. Caving atau Penelusuran Gua – Secara umum kegiatan ini membutuhkan perlengkapan lapangan yang mampu menjamin keselamatan, keamanan dan kenyamanan berwisata. Karenanya dibutuhkan tenaga pemandu yang memiliki keahlian dan teknik rescue di dalam gua serta kemampuan interpretasi dan pengetahuan dasar tentang gua.
  3. Rock Climbing atau Panjat Tebing – Merupakan kegiatan yang membutuhkan peralatan khusus, seperti halnya penelusuran gua, kegiatan panjat tebing juga membutuhkan tenaga pemandu yang cakap dan menguasai teknik climbing yang baik.
  4. Animal Watching atau Pengamatan Satwa – Kegiatan minat khusus yang biasa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kecintaan akan satwa khas dan endemik yang masih hidup bebas di alam bebas. Kegiatan ini dapat dilakukan di kawasan Pattunuang dan Karaenta dengan mengamati kehidupan kera hitam Sulawesi (macaca maura), tarsius spectrum dan beragam jenis burung. Wisatawan yang meminati kegiatan ini mayoritas wisatawan mancanegara.

Wisata alam adalah wisata yang berbasis pada alam, baik panorama alam, kondisi alam, keunikan alam, dan bentukan alam, adapun objek wisata alam berbasis alam di Kabupaten Maros adalah sebagai berikut:

Taman Wisata Alam[sunting | sunting sumber]

  • Taman Wisata Alam Bantimurung

Taman Wisata Alam Bantimurung adalah salah satu objek wisata andalan Kabupaten Maros yang terletak di Dusun Bantimurung Desa Jenetaesa Kecamatan Simbang dan terletak di lembah perbukitan kapur/karst yang curam dengan vegetasi tropis yang subur. Selain memiliki objek wisata air terjun yang indah, taman wisata alam ini dikenal juga menjadi habitat yang ideal berbagai spesies kupu-kupu, burung, dan serangga yang langka dan endemik. Pada tahun 1856-1857 seorang naturalis lnggris yang terkemuka bernama Alfred Russel Wallace menghabiskan sebagian hidupnya di kawasan ini untuk menikmati dan meneliti 150 spesies kupu-kupu yang tidak dijumpai di daerah lain seperti spesies Papilio Androcles. Wallace menjuluki kawasan ini the Kingdom of Butterfly karena keanekaragaman jenis kupu-kupu. Di kawasan ini terdapat beberapa gua dengan stalaktit dan stalakmitnya yang menakjubkan dan apabila kita berada dalam gua tersebut serasa di alam mimpi, salah satunya yaitu Gua Mimpi dengan panjang lorong 1.500 m dan memiliki ornamen-ornamen yang menakjubkan. Taman Wisata Alam Bantimurung terletak sekitar 15 km dari Kota Turikale atau 50 km dari Kota Makassar. Objek wisata ini telah dijadikan andalan warga masyarakat perkotaan, khususnya warga Kota Makassar. Bahkan, kawasan Taman Wisata Alam Bantimurung telah dilengkapi berbagai sarana rekreasi yang cukup lengkap bagi para turis. Kawasan ini sudah tidak asing lagi bagi warga masyarakat Sulawesi Selatan. Kawasan ini menjanjikan daya tarik khusus sehingga banyak dikunjungi pengunjung, terutama saat memasuki hari-hari libur. Kawasan ini tidak hanya menyajikan panorama alam nan sejuk dengan kicauan aneka burung-burungnya yang menarik, tetapi juga memiliki air terjun yang indah. Para pengunjung dapat menikmati keindahan alam dan segarnya air terjun dengan beraneka macam kupu-kupu langka beterbangan di sana-sini.

  • Taman Wisata Alam Gua Pattunuang

Taman Wisata Alam Gua Pattunuang adalah salah satu objek wisata yang terletak di Desa Samangki Kecamatan Simbang Kabupaten Maros. Objek wisata alam Gua Pattunuang kaya akan stalaktit dan stalakmit yang menakjubkan. Di kawasan ini terdapat kurang lebih 40 gua yang masih alami dan belum mengalami perubahan-perubahan oleh aktivitas manusia. Berbagai spesies flora dan fauna yang tergolong langka dapat dijumpai ditambah dengan bentangan pegunungan yang curam dan bertebing menjadikan kawasan ini sangat ideal sebagai daerah tujuan wisata petualangan, panjat tebing, dan pendidikan. Panorama alam di sekitar gua sangat indah dan menawan. Dalam kawasan ini terdapat pula batu besar yang berbentuk perahu yang menyimpan legenda yang menarik. Konon menceritakan seorang saudagar Cina yang datang untuk melamar dan mempersunting gadis Samanggi namun lamarannya ditolak. Karena mendapat malu saudagar tersebut mengkaramkan perahunya, perahu inilah yang pada akhirnya menjadi batu. Oleh masyarakat sekitar, batu tersebut dinamakan "Biseang Labboro" yang artinya “perahu yang terdampar”. Pada akhir pekan kawasan ini banyak dikunjungi wisatawan, khususnya remaja yang melakukan camping, caving (penelusuran gua), panjat tebing, atau sekedar menikmati panorama alam.

Cagar Budaya[sunting | sunting sumber]

  • Cagar Budaya Bulu Sipong: Situs gua prasejarah Bulu Sipong adalah nama bukit karst yang berdiri sendiri dan berada di tengah hamparan sawah yang luas. Di kawasan Bulu Sipong terdapat beberapa gua yang memiliki tinggalan budaya berupa gambar cap tangan, babi rusa, perahu, dan ikan.
  • Cagar Budaya Leang Panning'e: Merupakan gua yang selain memiliki stalaktit dan stalakmit juga akan memberikan kenyamanan tersendiri karena gua tersebut diameternya cukup luas dan lapang. Di sekitar gua tersebut juga terdapat sumber air dan gua yang dihuni oleh kelelawar sehingga masyarakat setempat memberi julukan “Leang Panning'e” yang berarti “gua kelelawar”.

Gua[sunting | sunting sumber]

Lukisan telapak tangan manusia prasejarah di Leang Pettae Kelurahan Leang-Leang Kabupaten Maros.
Gua Burung I yang merupakan gua prasejarah dengan temuan sampah dapur manusia purba yang terletak di Kelurahan Kalabbirang Kabupaten Maros.

Situs leang prasejarah di Kabupaten Maros berjumlah 55, terdapat di Kelurahan Leang-Leang dan Kalabbirang, namun tidak menutup kemungkinan masih terdapat leang-leang prasejarah lainnya. Di wilayah Kabupaten Maros inilah pertama kali ditemukan lukisan pada dinding gua tepatnya di leang Pettae. Sejak tahun 1980-an situs gua prasejarah ini telah dikembangkan menjadi Taman Wisata Prasejarah Leang-Leang dan menjadi salah satu objek wisata yang menarik di Kabupaten Maros. Di sekitar Taman Wisata Prasejarah Leang-Leang ini terdapat banyak gugusan bukit karst yang memiliki tinggalan leang prasejarah dengan masing-masing keunikannya. Jarak antar satu leang dengan leang lainnya relatif dekat dan terlihat mengelompok sehingga memudahkan kita untuk mengunjunginya. Salah satu alternatif jalur kunjungan wisata gua prasejarah di Kabupaten Maros ini dapat dimulai dari Taman Prasejarah Leang-Leang, dimana di taman ini kita bisa melihat aneka ragam tinggalan arkeologis di Leang Pettae dan Petta Kere. Aksesibilitas menuju objek ini relatif mudah dengan adanya jalan poros kelurahan.

Objek kedua adalah leang Bulu Ballang. Selain temuan berupa sebaran sisa sampah dapur berupa cangkang mollusca, ditemukan juga porselin dan gerabah. Dinding leangnya dapat dan sering kali dimanfaatkan sebagai areal latihan panjat tebing dengan jalur yang dimulai dari tingkat kesulitan yang rendah hingga menantang. Objek ketiga adalah Leang Cabbu. Berbeda dengan leang Bulu Ballang, di sebelah kiri leang Cabbu telah dijadikan tempat latihan para pemanjat tebing, sehingga tidaklah mengherankan jika pada dinding itu banyak ditemukan hanger atau penahan gantungan. Tepat berhadapan dengan mulut leang terlihat aktivitas pertambangan, hamparan sawah dan bentangan perbukitan karst. Objek keempat adalah Leang Sampeang. Pada leang ditemukan gambar manusia berwarna hitam yang tidak terdapat di leang-leang yang lain. Untuk sampai di objek ini, terdapat jalur penyeberangan basah melewati sungai dan pendakian. Objek selanjutnya adalah Leang Ulu Leang yang memiliki panorama lingkungan menawan dengan tinggalan arkeologi yang beragam mulai dari sebaran mollusca, alat batu dan lukisan dinding gua. Objek terakhir adalah leang Balimukang. Selain tersaji temuan sebaran fragmen mollusca, porselin dan gerabah, di lokasi situs ditawarkan pula areal latihan panjat tebing.

Kawasan karst Maros-Pangkep terbentang seluas 43.750 hektar yang terdiri dari areal penambangan seluas 20.000 hektar dan 23.750 hektar lainnya menjadi bagian dari 43.750 hektar kawasan konservasi Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. Pembagian tersebut dilakukan karena pada saat akan diusulkan menjadi taman nasional, di kawasan ini sudah banyak perusahaan yang mendapat izin melakukan kegiatan penambangan, diantaranya PT Semen Bosowa, PT Semen Tonasa dan puluhan perusahaan lain yang menambang marmer dan batu kapur. Penambangan yang dilakukan di kawasan karst Maros-Pangkep ini merupakan ancaman terhadap ekosistem dan kelestarian situs gua prasejarah dan tinggalan budaya prasejarah yang tersimpan di dalamnya. Salah satu aspek ekosistem yang terancam adalah ketersediaan air tanah di sekitar kawasan karst. Dari tinjauan hidrologis, daerah karst berpotensi sebagai wadah cadangan air. Hal ini terlihat pada beberapa gua yang di dalamnya terdapat su ngai bawah tanah. Disamping itu, di kawasan ini dijumpai sejumlah sumber air berupa sungai besar dan sebagian bermuara di Air Terjun Bantimurung. Selain dikhawatirkan mengancam ketersediaan air, aktivitas penambangan juga dikhawatirkan dapat menghilangkan bukti-bukti sejarah karena gua-gua tersebut menyimpan sejumlah artefak sisa peradaban manusia masa prasejarah.

Cagar Alam[sunting | sunting sumber]

  • Cagar Alam Bantimurung
Di kawasan wisata ini bisa melihat berbagai objek wisata menarik, terutama bagi pengguna kamera, seperti air terjun, bukit kapur, dan gua alami. Cagar alam ini terkenal karena dahulu menjadi tempat riset ilmuwan terkenal Alfred Russel Wallace. Di Cagar Alam Bantimurung terdapat gua yang terkenal, yaitu Gua Mimpi. Tempat ini berada dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung. Keindahan bebatuan unik dan stalaktit yang alami menjadi suguhan utamanya. Pengunjung juga bisa merasakan sensasi menjelajah gua sambil membawa lampu petromaks seperti di film petualangan. Konon, berkunjung ke sini bisa cepat mendapatkan jodoh.
  • Cagar Alam Karaenta
Cagar Alam Karaenta atau dikenal pula sebagai Kawasan Pengamatan Satwa Karaenta adalah kawasan hutan yang dilindungi karena selain berfungsi sebagai daerah cadangan air bawah tanah, juga menjadi habitat berbagai spesies flora dan fauna endemik dan langka sebagai sumberdaya hayati yang bermanfaat untuk kepentingan penelitian. Cagar alam ini adalah laboratorium alam yang menawarkan beragam ilmu, pengetahuan, dan pengalaman yang menarik. Dengan kekayaan alam flora dan fauna, dan kehidupan ekosistem endemik. Menjadikan cagar alam ini sebagai tujuan utama penelitian alam dan ekosistem. Tercatat, banyak peneliti telah menetap selama beberapa tahun di Karaenta, untuk meneliti monyet yang tak berekor (Macaca maura). Yang paling terkenal adalah Prof. Kunio Watanabe dari Universitas Kyoto. Dia meneliti sejak 1980-an hingga akhir 1990-an. Hasil penelitiannya digunakan pemerintah untuk mempelajari cara-cara pelestarian spesies. Selain Watanabe, juga tahun 2010 ada ilmuan dari San Diego University Dr. Erin PhD dan peneliti dari Italia, DR Monica. Bagi para pecinta lingkungan atau peneliti yang haus akan ilmu alam, Kawasan Pengamatan Satwa merupakan tempat yang cocok untuk dikunjungi. Salah satu daya tarik kawasan ini karena memiliki gua yang panjangnya mencapai 2.200 m dan merupakan habitat ideal bagi kera jenis Macaca Maura. Spesies ini merupakan hewan yang dilindungi dan menjadi aset nasional mengingat populasi dan habitatnya yang sudah tergolong langka. Jenis kera ini sangat unik karena ia bersahabat dan dapat dipanggil kapanpun dengan bantuan Jagawana. Panorama alamnya yang indah dan kekayaan flora dan fauna serta letaknya yang strategis. Cagar Alam Karaenta yang terletak di Kecamatan Cenrana ini, semakin populer dan ramai dikunjungi wisatawan. Terdapat pula Gua Salukang Kallang dan sungai yang indah membelah gunung sampai ke Danau Toakala. Objek wisata ini termasuk kawasan hutan yang dilindungi. Lokasinya tak jauh dari kawasan wisata alam Bantimurung. Sebagai kawasan hutan lindung, daerah wisata ini banyak didatangi pengunjung, khususnya mahasiswa pencinta alam atau anggota masyarakat yang sedang melakukan riset atau penelitian ilmiah. Di area cagar alam ini terdapat beraneka ragam flora dan fauna sebagai sumber daya hayati sekaligus merupakan aset nasional yang tak ternilai harganya. Yang menarik, dalam kawasan hutan lindung yang cukup luas ini terdapat pula sebuah gua dan binatang kera jenis Macaca Maura yang sudah langkah. Kera kera ini tidak menakutkan dan cukup bersahabat dengan para jagawana kawasan ini.
Kawasan ini merupakan penggabungan beberapa lokasi kawasan konservasi dan hutan lindung serta hutan produksi. Kawasan ini ditunjuk sebagai kawasan Taman Nasional melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 398/Menhut-II/2004 pada tanggal 18 Oktober 2004. SK Menhut tersebut berisi tentang Perubahan Fungsi Cagar Alam, Taman Wisata Alam, Hutan Lindung, Hutan Produksi Terbatas dan Hutan Produksi Tetap menjadi Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep Provinsi Sulawesi Selatan. Penunjukan menjadi taman nasional melalui proses yang cukup panjang. Proses tersebut dimulai pada tahun 1993 oleh desakan UNESCO kepada Pemerintah Indonesia untuk segera melindungi ekosistem karst melalui penetapan kawasan konservasi, untuk selanjutnya diusulkan menjadi Situs Warisan Dunia (World Heritage Site). Taman nasional ini memiliki luas 43.750 Ha yang terdiri dari wilayah Cagar Alam seluas ± 10.282,65 Ha, wilayah Taman Wisata Alam seluas ± 1.624,25 Ha, wilayah Hutan Lindung seluas ± 21.343,10 Ha, wilayah Hutan Produksi Terbatas seluas ± 145 Ha, dan wilayah Hutan Produksi Tetap seluas ± 10.355 Ha. Atau secara rinci wilayah Cagar Alam Karaenta seluas ± 1.226 Ha, wilayah Taman Wisata Alam Bantimurung seluas ± 1.000 Ha, wilayah Taman Wisata Alam Gua Pattunuang seluas ± 118 Ha, dan wilayah Cagar Alam Bulusaraung seluas ± 5.690 Ha. Wilayah taman nasional ini secara geografis terletak antara 119° 34' 17" - 1 19° 55' 13" Bujur Timur dan antara 4° 42' 49" - 5° 06' 42" Lintang Selatan. Secara administratif pemerintahan terletak di wilayah Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep dengan batas-batas sebagai berikut: sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep; sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Barru, Kabupaten Bone, dan Kabupaten Pangkep; sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Maros dan Kabupaten Bone; dan sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Maros. Taman nasional ini merupakan taman nasional kedua setelah kawasan Taman Nasional Taka Bonerate di Kabupaten Kepulauan Selayar yang dimiliki oleh Provinsi Sulawesi Selatan. Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung sangat kaya dengan kenanekaragaman hayati dan non hayati. Sehingga sangat cocok untuk berwisata alam yang edukatif.
Banyak keunikan yang terdapat di TN Babul ini, antara lain: karst, gua-gua yang dihiasi oleh stalaknit dan stalakmit yang indah, dan yang paling menarik serta terkenal ialah kupu-kupu. Potensi yang cukup tinggi di kawasan taman nasional ini antara lain adalah: potensi flora, potensi fauna, potensi bentang alam, dan peninggalan budaya. Flora TN Babul merupakan jenis-jenis dari vegetasi Karts dan hutan daratan rendah. Jenis-jenis yang tumbuh pada habitat Karts, antara lain: Palanqium sp, Calophilum sp, Leea indica, Sapotaceae, Polyalthia insignis, Pangium edule, Aleurites moluccana, Celastroceae, Cinamomum sp, Leea aculata. Jenis-jenis yang tumbuh pada habitat hutan dataran rendah antara lain Vitex cofassus (bitti), Palaquium obtusifolium (nyato), Pterocarpus indicus (cendrana), Ficus sp (beringin), Sterquila foetida, Dracontomelon dao (Dao), Dracontomelon Mangiferum, Arenga pinnata (aren), Colona sp, Dillenia serrata, Alleurites moluccana (kemiri), Diospyros celebica (kayu hitam), Buchanania Arborescens, Antocepalus cadamba, Myristica sp,Kneam sp, dan Calophyllum inophyllum. Fauna TN Babul merupakan jenis yang khas dan endemik, antara lain: Enggang Sulawesi (Ryticeros cassidix), Enggang Kerdil (Peneloppides exahartus), Musang Sulawesi (Macrogolidia mussenbraecki), Kelelawar, Kera Sulawesi (Macaca Maura), Kuskus (Phalanger celebencis), Tarsius (Tarsius sp) dan lain-lain, serta berbagai jenis kupu-kupu yakni, Papiliio blumei. P. Polites, P. Satapses, Troides halipron, T. Helena, T. Hypolites dan Graphium androcles. Selain itu terdapat jenis fauna yang endemik dalam gua sebagai penghuni gelap abadi seperti ikan dengan mata tereduksi bahkan mata buta (Bostrychus spp), Kumbang buta (Eustra sp), Jangkrik gua (Rhaphidophora sp) serta tungau buta (Trombidiidae).
Kawasan karst Maros Pangkep memiliki keistimewaan dibandingkan dengan kawasan karst lainnya, diantaranya :
• Membentang sepanjang dua wilayah administratif kabupaten, yaitu Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene;
• Memiliki landscape yang indah, berbentuk seperti tower yang tidak ada duanya di dunia;
• Koridor sangat panjang;
• Memiliki nilai dan sumber daya arkeologi yang tinggi;
• Memiliki ornamen gua yang indah dan terkenal di dunia;
• Memiliki nilai jual yang tinggi untuk ekowisata alam;
• Memiliki ratusan gua, walaupun baru 58 gua yang baru tereksplorasi biotanya oleh UPI;
• Memiliki biodiversitas tertinggi se-Asia Tropika;
• Diusulkan untuk menjadi "natural world heritage" (warisan alam dunia) sejak tahun 1998.
Sampai saat ini, telah tercatat 16 buah gua alam yang ditemukan pada eks kawasan Taman Wisata Alam Bantimurung, yaitu antara lain: Gua Anjing (panjang ± 60 m), Gua Bantimurung (panjang ± 150 m), Gua Anggawati I (panjang ± 170 m), Gua Towukala (panjang ± 80 m), Gua Baharuddin (panjang ± 137 m), dan Gua Watang (panjang ± 440 m). Pada wilayah eks Cagar Alam Bantimurung terdapat 34 gua, salah satu yang sangat terkenal adalah Gua Mimpi (panjang ± 1.415 m dan kedalaman ± 48 m). Keseluruhan gua tersebut memiliki panorama alam yang sangat indah dan mudah dijangkau dengan. Di dalam gua terdapat stalaktit, stalakmit, flow stone, helektit, pilar, calcit floor, dan sodastraw. Gua-gua lain yang ditemukan pada eks Cagar Alam Bantimurung ini antara lain Gua Lubang Air, Gua Lubang Kelu (panjang ± 90 m), Gua Buttu (panjang ± 500 m), dan Gua Nasir (panjang ± 800 m).
Keseluruhan gua tersebut menyajikan keindahan stalaktit dan stalakmit serta sebagai tempat berkembang biak burung walet, kalelawar, laba-laba, lipan, kaki seribu dan lain-lain. Pada eks Taman Wisata Alam Gua Pattunuang ditemukan sekitar 40 gua yang masih alami dan belum mengalami perubahan akibat aktivitas manusia. Pada umumnya gua-gua di kawasan ini dapat ditelusuri secara mudah dengan panjang rata-rata 1.000 meter dan kedalaman rata-rata 30 meter. Gua yang ada pada eks Taman Wisata Alam Gua Pattunuang antara lain: Gua Anggawati II (panjang ± 1.000 m), Gua Restaurant (panjang ± 1 .400 m), Gua de Lapisaine (panjang ± 300 m), Gua Pattunuang 1 dan 2 (panjang masing-masing 500 m), Gua Sambueja I dan II (panjang masing-masing 300 m dan 1.400 m), Gua Kado (panjang ± 1.400 m), Gua Jaria (panjang ± 900 m), Gua Aux mains (panjang ± 600 m), dan lain-lain.
Di wilayah eks Cagar Alam Karenta juga ditemukan banyak gua. Di wilayah ini terdapat gua terpanjang di Kabupaten Maros. Gua yang paling dikenal adalah Gua Salukkang Kallang. Menurut hasil ekspedisi gua ini memiliki panjang mencapai 12.463 m. Pemandangan di dalam gua ini sangat menakjubkan oleh banyaknya ornamen serta genangan air yang menjadi habitat ikan dan udang. Selain itu terdapat juga Gua Tanette yang memiliki panjang hingga ± 9.700 m dan ketinggian dinding ± 25 m. Menurut hasil penelitian, Gua Tanette merupakan satu kesatuan dengan Gua Salukkang Kallang. Penyebutan nama dikarenakan perbedaan tempat mulut gua berada. Apabila kedua gua ini ditelusuri dari satu arah, maka panjang lorongnya mencapai ± 22 km dan diduga merupakan gua terpanjang di Indonesia.
Secara geologis, perbukitan karst yang ada di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung didominasi oleh sebaran batu gamping yang terbentuk di dasar laut sejak awal kala Eosen dan terangkat ke permukaan laut selama periode waktu yang panjang. Sifat batu gamping yang mudah tertembus air memungkinkan terbentuknya rongga-rongga yang selanjutnya membentuk fenomena gua-gua alam. Setelah ribuan atau bahkan jutaan tahun berlalu, bersamaan pula dengan surutnya air laut, maka gua-gua tersebut dijadikan sebagai tempat hunian yang ideal oleh manusia pada saat itu. Bukti-bukti temuan seperti alat-alat maros point, flakes, blade, microlith, sampah dapur, dan perhiasan dapat memperkuat teori fungsi gua pada suatu masa tertentu (masa prasejarah).

Pantai[sunting | sunting sumber]

  • Wisata Pantai Pasir Putih & Mangrove Kuri Caddi Nisombalia Selat Makassar: Pantai Kuri adalah salah satu potensi wisata alam yang menawarkan panorama yang menarik bernuansa pantai dengan pasir putih yang membentang sepanjang pesisir pantai. Di sekitarnya juga terdapat aktivitas nelayan yang sekaligus melengkapi kegiatan atraksi wisata pantai. Pada sore hari, lokasi ini dapat disaksikan terbenamnya matahari (sunset) yang menambah nuansa objek, disamping ombak yang lebih tenang sehingga dapat mandi di pantai. Hamparan pasir pantai yang luas dan bersih dapat mendukung kegiatan wisata/rekreasi sambil berjemur. Letak Pantai Kuri sangat strategis karena berada di antara Ibu Kota Maros dan Kota Makassar, menjadikan tempat ini menjadi tujuan pertama yang dapat dikunjungi oleh wisatawan setelah mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.
  • Wisata Pantai & Mangrove Dermaga Sabang Bonto Bahari Selat Makassar

Agrowisata[sunting | sunting sumber]

Agrowisata atau Wisata Agro adalah wisata yang berkaitan dengan kegiatan pertanian berupa perkebunan, peternakan, perikanan, dan persawahan. Adapun objek agrowisata di Kabupaten Maros adalah sebagai berikut:

  • Kebun Raya Pucak/Taman Safari Pucak: Terletak di Desa Pucak Kecamatan Tompobulu, 20 km dari Kota Turikale atau 39 km dari Kota Makassar. Alamnya yang asri dengan perkebunan yang terbentang luas, sangat cocok menjadi tempat agrowisata dan tempat peristirahatan melepas lelah dengan luas areal 150 Ha, kawasan ini dipersiapkan sebagai lokasi kebun binatang terbesar di kawasan Timur Indonesia.
  • Pucak Teaching Farm/Kawasan Agrowisata Pucak: Merupakan daerah pegunungan yang terletak di Desa Pucak Kecamatan Tompobulu. Luas kawasan agrowisata Pucak adalah 107,5 Ha dengan rencana zoning yang terdiri dari zona pariwisata dan kebudayaan, zona perkebunan, zona pertanian, pzona peternakan, dan zona kehutanan.

Kebun Raya berdasarkan Peraturan Presiden nomor 93 Tahun 2011 adalah kawasan konservasi tumbuhan secara ex-situ (di luar habitat) yang memiliki koleksi tumbuhan terdokumentasi dan ditata berdasarkan pola klasifikasi taksonomi, bioregion, tematik, atau kombinasi dari pola-pola tersebut untuk tujuan kegiatan konservasi, penelitian, pendidikan, wisata dan jasa lingkungan.

Pembangunan Kebun Raya di provinsi-provinsi di seluruh Indonesia dicanangkan oleh pemerintah sebagaimana dalam arahan Presiden RI pada peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional tanggal 11 Agustus 2004 di Puspitek Serpong, dan telah ditindaklanjuti dengan surat Menteri Riset dan Teknologi nomor 77/M/VIII/2004 tanggal 23 Agustus 2004 kepada seluruh Gubernur untuk merealisasikan pembangunan kebun raya yang dikoordinasi oleh LIPI.

Ekowisata[sunting | sunting sumber]

  • Danau Kassi Kebo Bantimurung
Secara administratif, Danau Kassi Kebo Bantimurung terletak di Dusun Bantimurung, Desa Jenetaesa, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros.
  • Wae Merrunge Tompo Balang
Secara administratif, Wae Merrunge Tompo Balang terletak di Lingkungan Tompo Balang, Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros.
  • Bendungan Pannampu
Secara administratif, Bendungan Pannampu terletak di Dusun Pajjaiyang, Desa Tukamasea, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros.
  • Sumber Air Panas Reatoa
Secara administratif, Sumber Air Panas Reatoa terletak di Dusun Reatoa, Desa Bentenge, Kecamatan Mallawa, Kabupaten Maros. Selain sebagai tempat rekreasi bagi masyarakat, juga dijadikan sebagai laboratorium alam, riset biologi, dan ilmu pengetahuan oleh mahasiswa untuk melakukan penelitian. Lokasi sumber air panas ini berjarak sekitar 15 km dari Kota Turikale yang merupakan ibu kota Kabupaten Maros.
  • Bukit Kanari Cenrana
Secara administratif, Bukit Kanari Cenrana terletak di Dusun Malaka, Desa Cenrana Baru, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros. Suguhan pemandangan indah dari ketinggian bisa dinikmati dari Bukit Kanari. Di sini juga banyak hiasan-hiasan penunjang kegiatan swafoto. Konon, pengunjung akan bertemu dengan jodohnya selepas dari tempat wisata ini.
  • Bukit Teletubbies Maros
Secara administratif, Bukit Teletubbies Maros terletak di Dusun Watang Bengo, Desa Limampoccoe, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros. Gundukan bukit yang berwarna hijau terlihat sejauh mata memandang. Bentuknya akan membuat kita mengingat masa kecil saat menonton serial Teletubbies. Kesejukannya juga membuat pengunjung betah dan enggan pulang. Kegiatan camping pun cocok untuk dilakukan di tempat wisata ini.
  • Bulu Tombolo Pattiro
Secara administratif, Bulu Tombolo Pattiro terletak di Dusun Pattiro, Desa Labuaja, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros.
  • Ekowisata Tabbua
Secara administratif, Ekowisata Tabbua terletak di Lingkungan Balombong, Kelurahan Mattiro Deceng, Kecamatan Lau, Kabupaten Maros.
  • Helena Sky Bridge Bantimurung
Secara administratif, Helena Sky Bridge Bantimurung terletak di Dusun Bantimurung, Desa Jenetaesa, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros.
  • Penangkaran Kupu-Kupu Bantimurung
Gerbang Wisata Penangkaran Kupu-Kupu Bantimurung di Desa Jenetaesa Kabupaten Maros.
Secara administratif, Penangkaran Kupu-Kupu Bantimurung terletak di Dusun Bantimurung, Desa Jenetaesa, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros. Sebagai tempat perkembangbiakan kupu-kupu terbesar di dunia dan mendapat pengakuan dari publik internasional yang membuat tempat ini dijuluki the kingdom of butterfly.
Secara administratif, Wisata Alam Rammang-Rammang terletak di Dusun Rammang-Rammang dan Dusun Kampung Berua Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros. Wisata Alam Rammang-Rammang menyediakan wisata kuliner cafe, susur sungai, pemandangan menara karst, outbound area, flying fox (di Dusun Rammang-Rammang), susur gua bersejarah, pemandangan pohon lontar dan nipah. Di situs prasejarah Rammang-Rammang terdapat 3 situs gua prasejarah yang masing-masing memiliki peninggalan yang berbeda, salah satunya adalah Gua Berlian (di Dusun Rammang-Rammang). Lukisan dinding di gua prasejarah yang ada di Rammang-Rammang menggambarkan aktivitas berburu yang dilakukan masyarakat pesisir, hal ini tergambar dari lukisan perahu, kura-kura, dan ikan. Sungai Pute Rammang-Rammang merupakan salah satu sungai di Kabupaten Maros yang memiliki panorama alam yang indah. Pohon bakau dan nipah yang tumbuh di sisi kiri dan kanan sungai mempercantik kawasan ini, ditambah dengan pemandangan singkapan batu-batu kapur yang menyembul dari dasar sungai dan tersebar di sepanjang alur sungai. Sesekali pengunjung dapat menyaksikan satwa-satwa endemik seperti kera Sulawesi, elang Sulawesi, dan berbagai jenis kupu-kupu. Gugusan pegunungan kapur di Kabupaten Maros ini memiliki pesona yang tak kalah dari negara lain, seperti Cina ataupun Vietnam. Semakin indah dengan hamparan sawah hijau di tengah-tengahnya. Tak hanya itu, di sini kamu bisa menemukan objek wisata lain seperti Telaga Bidadari, Hutan Batu Kapur, dan Gua Telapak Tangan. Di lokasi ini terdapat pula Bukit Batu Ammarrung (di Dusun Rammang-Rammang), Batu Purba Passaung (di Dusun Rammang-Rammang), dan Taman Batu. Objek wisata Rammang-Rammang merupakan bagian dari kawasan karst Maros-Pangkep dimana merupakan kawasan karst (kapur) terbesar dan terluas di Indonesia dan terluas kedua di dunia setelah yang di Cina. Para pelancong bisa berfoto dengan latar belakang panorama formasi bebatuan eksotis layaknya di Madagaskar, Afrika.
  • Wisata Padang Loang
Secara administratif, Wisata Padang Loang terletak di Dusun Bentenge, Desa Bentenge, Kecamatan Mallawa, Kabupaten Maros. Wisata ini menyediakan tempat camping atau perkemahan, pemandangan danau dan hutan yang masih asri.
  • Wisata Puncak Bulu Saukang
Secara administratif, Wisata Puncak Bulu Saukang terletak di Dusun Balocci, Desa Benteng Gajah, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros. Sebagai wisata pendakian, menyajikan pemandangan di titik tertinggi di Kabupaten Maros dan dapat melihat pemandangan Kota Makassar dari jauh.
  • Wisata Puncak Gunung Barro-Barro
Secara administratif, Wisata Puncak Gunung Barro-Barro terletak di Lingkungan Pakalu, Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros. Dengan ketinggian 100 m di atas permukaan laut, dapat melihat pemandangan indah di wilayah Kecamatan Bantimurung bahkan Kecamatan Turikale sebagai ibu kota Kabupaten Maros.
  • Wisata Ta'deang
Secara administratif, Wisata Ta'deang terletak di Dusun Samanggi, Desa Samangki, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros. Sebagai wisata piknik, berkemah, outbound mahasiswa-mahasiswa Makassar. Area yang lapang, sungai yang mengalir sepanjang tahun memberikan kesejukan pada wilayah ini.
  • Kampung Berua Rammang-Rammang
Secara administratif, Kampung Berua Rammang-Rammang terletak di Dusun Kampung Berua, Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros.

Sungai[sunting | sunting sumber]

Sungai Pute di Desa Salenrang Kabupaten Maros.
  • Susur Sungai Pute: Daerah ini subur dengan aliran Sungai Pute yang memiliki lebar 2 sampai 40 meter dan dapat menikmati pesona terang bulan di area pedesaan memanjakan mata.

Daftar hari penting[sunting | sunting sumber]

  • 17 Januari: Hari Bersejarah Kepahlawanan (17 Januari 1946)
  • 9 Mei: Kota Turikale Ditetapkan Sebagai Ibu Kota Kabupaten Maros (9 Mei 2011)
  • 21 Mei: Berdirinya Persekutuan Adat Lima Kerajaan yang disebut “Toddolimaya ri Marusu” (21 Mei 1977)
  • 4 Juli: Hari Jadi Kabupaten Maros (4 Juli 1959)
  • 3 Agustus: Pembentukan Kecamatan Lau, Kecamatan Moncongloe, dan Perubahan Nama Kecamatan Maros Utara Menjadi Kecamatan Bontoa (3 Agustus 2001)
  • 4 Oktober: Hari Bersejarah Keagamaan (4 Oktober 1834)
  • 17 Oktober: Hari Jadi Maros (17 Oktober 1471)

Flora dan Fauna[sunting | sunting sumber]

Rujukan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ [1]
  2. ^ a b c Kabupaten Maros Dalam Angka 2020. Maros: BPS Kabupaten Maros. 27 April 2020. ISBN 73080.2003 Periksa nilai: invalid character |isbn= (bantuan). 
  3. ^ "Penduduk Menurut Wilayah dan Agama yang Dianut di Kabupaten Maros". www.sp2010.bps.go.id. Diakses tanggal 16 September 2020. 
  4. ^ a b c d Limonu, Najmi (2019-07-02). "APBD Perubahan Kabupaten Maros Ditetapkan Rp 1,497 Triliun". makassar.sindonews.com. Diakses tanggal 2019-08-22.  Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama ":0" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
  5. ^ IPM BPS. "Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Maros". ipm.bps.go.id. Diakses tanggal 2019-08-22. 
  6. ^ maroskab.bps.go.id (2019-08-16). "Kabupaten Maros Dalam Angka 2019". maroskab.bps.go.id. Diakses tanggal 2019-08-23. 
  7. ^ Statistik Kebahasaan 2019. Jakarta: Pusat Data dan Statistik Pendidikan dan Kebudayaan. 2019. hlm. 11. ISBN 9786028449182. 
  8. ^ maroskab.bps.go.id (2013-08-16). "Maros Dalam Angka 2013". maroskab.bps.go.id. Diakses tanggal 2019-06-25. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]