Borikamase, Maros Baru, Maros

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Borikamase
Negara Indonesia
ProvinsiSulawesi Selatan
KabupatenMaros
KecamatanMaros Baru
Kode Kemendagri73.09.04.2004 Edit the value on Wikidata
Luas5,24 km² tahun 2017
Jumlah penduduk3.808 jiwa tahun 2017
Kepadatan726,72 jiwa/km² tahun 2017

Borikamase (Makassar: ᨅᨚᨑᨗᨀᨆᨔᨙ) adalah nama sebuah desa yang berada di wilayah Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Desa Borikamase berstatus sebagai desa definitif dan tergolong pula sebagai desa swasembada. Desa Borikamase memiliki luas wilayah 5,24 km² dan jumlah penduduk sebanyak 3.808 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk sebanyak 726,72 jiwa/km² pada tahun 2017.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Penamaan Desa[sunting | sunting sumber]

Sejarah penamaan Desa Borikamase tidak terlepas dari sejarah penamaan dari lima dusun yang ada di desa ini. Adapun lima dusun tersebut adalah Dusun Lekoala, Dusun Pammentengan, Dusun Tebbange, Dusun Tebbang Orai, dan Dusun Padang Assitang. Lima dusun tersebut mempunyai kisah-kisah tersendiri, seperti dengan Dusun Padang Assitang bahwa konon menurut cerita di dusun ini pernah ada kejadian pada saat terjadi perang, dan merupakan tempat pertemuan para pejuang zaman dahulu. Dusun Pammentengan menggambarkan pemimpin-pemimpin dan mempunyai masyarakat yang mempunyai karakter rajin bekerja seakan akan hidup selamanya. Lima dusun tersebut semuanya menggambarkan niat dan tujuan yang baik. Menurut orang Bugis, daerah ini dinamakan sebagai kampung yang penuh dengan kasih. Sehingga muncul istilah Borikamase. Dari dasar itu orang-orang tua terdahulu pada sekitar tahun 1967, mereka sepakat memberi nama Desa Borikamase. Namun tiap-tiap dusun di dalamnya menggambarkan ciri dan karakter masing-masing. Dari lima karakter ini jika itu dimiliki dan dijalankan dengan baik, maka Desa Borikamase bisa menjadi desa yang disegani, mandiri, damai, dan sejahtera. Dari nama Desa Borikamase terdapat tujuan dan cita-cita yang sangat mulia untuk untuk selalu berbuat, berniat ke arah yang lebih baik, namun titipan sejarah ini tentu tidak mudah namun menjadi tantangan dan kewajiban warga Desa Borikamase.

Pemekaran Wilayah[sunting | sunting sumber]

Pada awalnya, Desa Borikamse memiliki wilayah yang luas. Namun, pada tahun 1990 terjadi pemekaran wilayah dengan terbentuknya desa baru yang berdiri sendiri, yaitu Desa Majannang dan Desa Mattirotasi.

Peristiwa[sunting | sunting sumber]

Sejak periode 1960-2012, Desa Borikamase merupakan langganan banjir terbesar di Kabupaten Maros.

Kondisi Geografis dan Topografis[sunting | sunting sumber]

Desa Borikamase adalah daerah dataran rendah, dengan ketinggian 300 meter di atas permukaan laut. Kondisi alam Desa Borikamase adalah lahan pertanian dan tambak dengan sebagian besar irigasi tekhnis. Jalan menuju desa ini sebagian besar masih tanah berbatu (pengerasan) dan sebagian kecil telah dibeton, dengan jarak kurang lebih 4 km dari ibu kota kecamatan (Baju Bodoa) dan 7 km dari ibu kota kabupaten (Turikale), diperlukan waktu sekitar 15 menit dari ibu kota kabupaten tersebut untuk mencapainya.

Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Desa Borikamase memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut:

Sebelah Berbatasan
utara Desa Majannang dan Desa Mattirotasi
selatan Kecamatan Marusu
barat Kelurahan Baji Pamai dan Desa Mattirotasi
timur Desa Borimasunggu

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Wilayah Pembagian Administrasi[sunting | sunting sumber]

Desa Borikamase memiliki lima wilayah pembagian administrasi berupa dusun sebagai berikut:

  1. Dusun Lekoala
  2. Dusun Padang Assitang
  3. Dusun Pammentengan
  4. Dusun Tebbange
  5. Dusun Tebbang Orai

Daftar Kepala Desa[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah daftar Kepala Desa Borikamase dari awal berdiri hingga saat ini:

No. Foto Nama Awal Menjabat Akhir Menjabat Keterangan
1. - H. Zainuddin Karaeng Tarang - - Kepala Desa Pertama
2. - H. Muh. Yusuf - - -
3. - H. Abu Nasrum - - -
4. - H. Muh. Jais - - -
5. - H. A. Zainuddin Dg Tarang - - -
6. - Abd. Hafid - - -
7. - Ir. H. Abdullah HD - 14 mei 2013 -
8. - Aswing 15 mei 2013 sedang menjabat periode I masa tugas 15 mei 2013 - 14 mei 2019 & periode II 15 mei 2019 - 14 mei 2025

Daftar Sekretaris Desa[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah daftar Sekretaris Desa Borikamase:

No. Foto Nama Awal Menjabat Akhir Menjabat Keterangan
TBA TBA TBA TBA TBA TBA
TBA TBA TBA TBA TBA TBA
TBA TBA Darmawaty TBA sedang menjabat

Daftar Sekolah[sunting | sunting sumber]

  • SD Negeri 109 Inpres Lekoala
  • SD Negeri Pammentengan

Fasilitas Kesehatan[sunting | sunting sumber]

  • Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) Dusun Padang Assitang

Sistim Kepercayaan[sunting | sunting sumber]

Agama islam adalah agama yang dianut oleh masyarakat Desa Borikamase. Sebagai pemeluk agama islam masyarakat Desa Borikamase berpedoman pada kitab suci Al-Qur'an. Di samping itu pula sebagian masyarakat Desa Borikamase melakukan sikkiri' dan barasanji yang mereka warisi dari leluhur mereka.

Bahasa[sunting | sunting sumber]

Karena mayoritas masyarakat Desa Borikamase terdiri dari Suku Bugis dan Suku Makassar. Maka, dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Borikamase menggunakan Bahasa Bugis dan Bahasa Makassar dalam berkomunikasi tentunya dengan logat atau dialek Maros sebagai penciri yang membedakannya dengan bahasa daerah lain. Akan tetapi Bahasa Indonesia tetap digunakan sebagai lingua franca (bahasa pengantar) bila lawan tutur bukan pengguna Bahasa Bugis atau Bahasa Makassar.

Adat dan Budaya[sunting | sunting sumber]

Masyarakat Desa Borikamase melestarikan adat-istiadat atau kebiasaan masyarakat yang dianggap bernilai positif, adapun adat-istiadat/kebiasaan turun temurun yang ada di Desa Borikamase adalah:

  • Tolak Bala (Mohon Doa)
Acara tolak bala ini adalah proses dimana semua masyarakat berkumpul di rumah adat mengadakan ritual keagamaan yang disertai dengan zikir, pada umumnya ibu-ibu membawa kue-kue tradisional, seperti kue apang, onde-onde, kue lapis, dan kue-kue tradisional lainnya. Semua jenis kue sebagai simbol harapan dari masyarakat.
  • Mabbaja (Membersihkan)
Kegiatan mabbaja dilakukan oleh masyarakat sekampung secara gotong-royong yang dipimpin kepala dusun guna membersihkan fasilitas umum, seperti saluran irigasi, jalanan kampung, lokasi kuburan. Mabbaja rutin dilaksanakan setiap tahunnya, dalam acara ini masyarakat secara sukarela menyiapkan makanan.
  • Mappammula (Memulai)
Kegiatan ini adalah kegiatan permulaan menanam padi dimana pada umumnya masyarakat secara bersamaan pada hari itu memulai menanam padi, dan tidak ada yang boleh menanam sebelum hari yang telah disepakati dan apabila ada yang melanggar maka akan diberi sanksi berupa makan songkolo, akan tetapi dengan catatan makanan itu harus dihabiskan dengan disaksikan oleh warga, kepala dusun, dan tokoh adat.
  • Acara Mappasili Kandungan
Dilakukan pada saat usia kandungan sang ibu berumur 7 (tujuh) bulan. Dilaksanakan sebagai ritual untuk memohon keselamatan agar ibu dapat melahirkan bayinya dengan selamat.
  • Aqiqah
Aqiqah yang pada dasarnya adalah tuntunan dalam agama islam telah menjadi hal yang sangat membudaya pada masyarakat Desa Borikamase. Acara ini merupakan rasa syukur keluarga sang bayi sekaligus merupakan kesempatan untuk memberi nama bagi sang bayi.
  • Sunatan/Khitanan
Acara khitanan adalah kegiatan yang akan menandai berakhirnya masa anak-anak seseorang menuju remaja. Khitanan sekaligus ritual yang dianggap secara resminya seorang anak manusia memeluk agama islam. Seorang anak yang belum dikhitan dianggap belum muslim meskipun dia terlahir dari orang tua muslim. Oleh karena itu ritual khitanan sering juga diistilahkan dengan pengislaman. Ritual pengislaman di Desa Borikamase pada umumya telah memakai jasa medis, akan tetapi masih ada masyarakat menggunakan cara tradisional.


Bagi warga Desa Borikamase yang telah akan mengakhiri masa lajangnya merupakan saat-saat yang sangat krusial bagi diri dan keluarga besarnya. Proses pernikahan sering kali dianggap sebagai saat untuk melepaskan sang anak dari keluarganya menuju kehidupan yang riil. Dalam proses pernikahan ini akan dia laksanakan beberapa ritual yaitu:

  • Mammanu'–manu' (Penyelidikan)
Proses penyelidikan keluarga laki-laki tentang status gadis yang akan dipinang.
  • Massuro (Melamar)
Pihak laki-laki secara resmi melamar sang gadis, terkadang menjadi kesempatan untuk membicarakan tentang besarnya mahar, uang belanja, dan waktu pelaksanaan pernikahan.
  • Mappaenre Balanca (Membawa uang belanja)
Pihak laki–laki membawa uang belanja kepada pihak perempuan, sesuai dengan kesepakatan pada saat pembicaraan sebelumnya.
  • Mappaccing (Malam Pacar/Inai)
Dilaksanakan pada malam hari menjelang pernikahan besoknya. Dalam Kesempatan ini keluarga besar calon pengantin akan berkumpul untuk mendoakan sang calon pengantin. Dalam prosesi ini dirangkaikan dengan acara mappatemme' (Khatam Al-Qur'an).
  • Mannikkah (Menikah)
Merupakan acara puncak, yakni saat pengucapan ijab kabul sang pengantin laki-laki di hadapan imam atau pegawai KUA dengan disaksikan oleh keluarga kedua belah pihak.
  • Makka'do' Caddi/Mappasewa Ada
Adalah proses untuk mengakrabkan sang pengantin baru juga untuk mengakrabkan keluarga kedua belah pihak. Setiap warga Desa Borikamase yang meninggal akan diperlakukan sesuai dengan agama yang dianutnya, umumnya warga Desa Borikamase menganut agama islam.

Sistim Kemasyarakatan[sunting | sunting sumber]

Sistem kemasyarakatan yang ada di Desa Borikamase adalah sebagai berikut:

  1. Pemerintahan/Organisasi Kemasyarakatan, yaitu a. Struktur Kelembagaan (Lembaga Adat), b. Tugas, Fungsi dan Kewenangan, dan c. Sumber Penghasilan Kepala Desa
  2. Hukum Adat/Norma dan Sanksi
  3. Sistim Nilai, yaitu a. Adat yang berkaitan dengan gotong royong, b. Adat yang Berkaitan dengan musyawarah, dan c. Adat yang berkaitan dengan keadilan, kejujuran, dan kesederhanaan

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Mata Pencaharian[sunting | sunting sumber]

Warga Desa Borikamase sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani sawah, petani tambak, nelayan, dan pengusaha ternak sapi, kerbau, dan ayam. Semua diusahakan secara tradisional (tidak dikandangkan) melainkan dilepas ke kebun atau pekarangan warga.

Kerajinan Masyarakat[sunting | sunting sumber]

Kerajinan masyarakat Desa Borikamase, yaitu:

  • Merajut jala
  • Merajut pukat ikan
  • Kerajinan yang terbuat dari bahan bambu lainnya

Tempat Menarik[sunting | sunting sumber]

  • Dermaga Wisata Sungai Tebbang Orai
  • Rumah Adat Turiolo dengan deretan satu arah (Bola Mangngolo Olau)

Organisasi Kemasyarakatan[sunting | sunting sumber]

  • Karang Taruna Desa Borikamase

Prestasi dan Penghargaan[sunting | sunting sumber]

  • Penghargaan dari Gubernur Sulawesi Selatan kepada Desa Borikamase atas dorongan dan partisipasi masyarakat untuk memajukan desa (27 September 2018)
  • BUMDes Beringin Desa Borikamase juara tingkat Provinsi Sulawesi Selatan (2019)

Pranala luar[sunting | sunting sumber]