Allepolea, Lau, Maros

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Allepolea
Negara Indonesia
ProvinsiSulawesi Selatan
KabupatenMaros
KecamatanLau
Kodepos
90514[1]
Kode Kemendagri73.09.12.1001 Edit the value on Wikidata
Luas5,19 km² tahun 2017
Jumlah penduduk8.044 jiwa tahun 2017
Kepadatan1.549,90 jiwa/km² tahun 2017

Allepolea (Makassar: ᨕᨒᨙᨄᨚᨒᨙᨕ) adalah nama sebuah kelurahan yang berada di wilayah kecamatan Lau, kabupaten Maros, provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Kelurahan Allepolea berstatus sebagai kelurahan defenitif dan tergolong pula sebagai kelurahan swasembada. Kelurahan Allepolea memiliki luas wilayah 5,19 km² dan jumlah penduduk sebanyak 8.044 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk sebanyak 1.549,90 jiwa/km² pada tahun 2017.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Kahar Muzakkar merupakan salah seorang tokoh yang sangat disegani dan dicari-cari oleh pemerintah saat itu. Keterlibatannya dalam setiap aksi dan peristiwa yang selalu diidentikkan dengan pemberontakan, menyebabkan Kahar Muzakkar menjadi sasaran penangkapan. Tiap daerah di Sulawesi Selatan tak luput dari pencarian. Setiap aksi yang terjadi di tiap daerah, selalu diindikasikan bahwa dalangnya adalah Kahar Muzakkar. Begitu pula yang terjadi di Kabupaten Maros. “Tangkap orang itu”, kata salah seorang serdadu Belanda yang masih berkuasa di Kabupaten Maros saat itu. Orang yang dimaksud adalah H.A. Mapparessa. Beliau adalah seorang kepala distrik Karaeng Turikale. H.A. Mapparessa difitnah telah melakukan aksi yang mengarah kepada perlawanan terhadap pemerintah saat itu. Aksi yang dilakukan itu, yang sebenarnya bukan H.A. Mapparessa yang melakukannya. Namun, karena H.A. Mapparessa saat itu adalah kepala distrik jadi dianggap beliau yang memprovokasinya. H.A. Mapparessa dianggap sebagai salah seorang kapten dari DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar.

Mengakui perbuatan yang tak dilakukan merupakan suatu hal yang sangat berat. Namun, hal itu harus dilakukannya, demi menghindari korban yang lebih banyak dari masyarakat Maros yang tak berdosa. H.A. Mapparessa ditangkap dan dijebloskan ke dalam jeruji besi. Tertangkapnya H.A. Mapparessa, Karaeng Turikale menjadikan masyarakat Maros sakit hati terhadap serdadu Belanda saat itu. Dengan demikian terjadi kekosongan jabatan kepala distrik. Untuk mengisi kekosongan itu, maka ditunjuklah salah seorang penggantinya.

Masyarakat merasa sangat kehilangan dengan tertangkapnya H.A. Mapparessa. Mereka berusaha mencari bukti bahwa H.A. Mapparessa tidak bersalah dan bukan merupakan anggota dari DI/TII pimpinan Kahar Muzakkar. Bukti demi bukti dikumpulkan, namun tak mendapat sambutan dari Belanda. Rakyat merasa putus asa. Namun mereka mengharapkan, akan ada keajaiban yang dapat membantu membebaskan Karaeng Turikale, H.A. Mapparessa. Beberapa kepala kampung yang bersimpati kepada Karaeng Turikale tersebut adalah: Kepala Kampung Bontokapetta (Datuk Ishak Daeng Masikki), Kepala Kampung Bontocabu (Abdul Rahim), Kepala Kampung Talamangape (Abdul Latif), dan Kepala Kampung Pakalli. Mereka selalu memperlihatkan beberapa bukti, namun bukti tersebut tak diterima. Akhirnya kelima kepala kampung itu pun ikut dijebloskan ke dalam penjara dengan alasan mendukung orang yang bersalah (H.A. Mapparessa). Dengan demikian jabatan kelima kepala kampung itu, digantikan sesuai dengan nama yang telah ditentukan oleh penguasa saat itu.

Saat yang dinanti-nantikan pun tiba. Muncul seorang yang merupakan kaki tangan Kahar Muzakkar, yakni Bahar Muttakin. Kehadiran Bahar Muttakin ini membawa angin segar bagi masyarakat Maros umumnya dan Turikale khususnya. Kesempatan ini tak disia-siakan oleh H.A. Mapparessa. H.A. Mapparessa secara diam-diam menugaskan salah seorang anggotanya untuk bertanya, apakah memang dalam daftar nama-nama anggota DI/TII ada tertera nama H.A. Mapparessa?. Bahar Mustakim, membuka buku besarnya yang berisi daftar nama-nama anggota DI/TII, ternyata nama HA. Mapparessa tidak terdapat dalam daftar nama anggota DI/TII. Keterangan itu digunakan untuk membebaskan Karaeng Turikale dari penjara.

Keterangan tersebut diterima, dan H.A. Mapparessa dibebaskan. Demikian juga kelima kepala kampung yang ikut membela H.A. Mapparessa turut dibebaskan. Setelah dibebaskannya, kelima kepala kampung tersebut kembali ke jabatannya semula. Salah satunya adalah Datuk Ishak Daeng Masikki. Dengan dipangkunya kembali jabatan sebagai kepala kampung Bontokapetta, maka Bontokapetta dialihkan menjadi Allepolea dalam bahasa Makassar yang berarti "diambil kembali" atau "diduduki kembali" setelah keluar dari penjara.

Kondisi Geografis[sunting | sunting sumber]

Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Kelurahan Allepolea memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut:

Sebelah Berbatasan
utara Kelurahan Maccini Baji
selatan Kecamatan Turikale
barat Kelurahan Soreang
timur Kecamatan Turikale

Kondisi Demografis[sunting | sunting sumber]

Jumlah Penduduk[sunting | sunting sumber]

Kelurahan Allepolea memiliki luas 5,19 km² dan penduduk berjumlah 8.044 jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk sebesar 1.549,90 jiwa/km² pada tahun 2017. Berikut ini adalah data jumlah penduduk kelurahan Allepolea dari tahun ke tahun:

Tahun Laki-laki Perempuan Jumlah Rumah Tangga Total Penduduk (jiwa) Pertumbuhan Penduduk (jiwa) Kepadatan Penduduk (jiwa/km²)
2000 - - - - - -
2001 - - - - - -
2002 - - - - - -
2003 - - - - - -
2004 - - - - - -
2005 - - - - - -
2006 - - - - - -
2007 - - - - - -
2008 - - - - - -
2009 - - - - - -
2010 3.666 3.708 1.570 7.374 - 1.420,81
2011 3.706 3.748 1.585 7.454 80 1.436,22
2012 3.748 3.785 1.597 7.533 79 1.451,45
2013 - - - - - -
2014 3.863 3.916 1.648 7.779 - 1.498,84
2015 3.908 3.962 1.664 7.870 91 1.516,38
2016 3.953 4.000 1.682 7.953 73 1.532,37
2017 3.995 4.049 1.699 8.044 91 1.549,90
2018 - - - - - -
2019 - - - - - -
2020 - - - - - -
Kependudukan Kelurahan Allepolea Sumber: BPS Kabupaten Maros

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Pembagian Wilayah Administrasi[sunting | sunting sumber]

Kelurahan Allepolea memiliki enam wilayah pembagian administrasi berupa lingkungan sebagai berikut:

  1. Lingkungan Bonto Kapetta I
  2. Lingkungan Bonto Kapetta II
  3. Lingkungan Bonto Manai
  4. Lingkungan Kasuarrang
  5. Lingkungan Pammelakkang Je'ne
  6. Lingkungan Talamangape

Daftar Lurah[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah daftar lurah Allepolea:

No. Foto Nama Awal Menjabat Akhir Menjabat Keterangan
1. - - - - -
2. - - - - -
3. - - - - -
4. - - - - -
5. - - - - -
6. - - - - -
7. - - - - -
8. - - - - -
9. - Sulaeman Samad 1999 2001 -
10. - Tenri Buana A. Nurzal, S.E. - sedang menjabat -

Fasilitas[sunting | sunting sumber]

  • Kantor Lurah Allepolea
  • Kantor Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Holtikultura (BPTPH) Kabupaten Maros

Ekonomi[sunting | sunting sumber]

Perusahaan[sunting | sunting sumber]

  • Warkop Dg. Tonji
  • CV Aziizu
  • UD Lila Food (penggilingan daging)

Agama[sunting | sunting sumber]

Masjid[sunting | sunting sumber]

  • Masjid Nurul Amin (Lingkungan Talamangape)
  • Masjid Nurul Ittihad Hj. Asseng Taba
  • Masjid Nuruttaqwa

Pendidikan[sunting | sunting sumber]

Fasilitas[sunting | sunting sumber]

  • Universitas Maros YAPIM
  • SMP Negeri 2 Unggulan Maros
  • SMK Negeri 1 Maros
  • SMK Swasta Pergis Yapki Maros
  • Ponpes Darussunnah Imam Nawawi

Kelompok/Perkumpulan[sunting | sunting sumber]

  • Majelis Taklim Assakinah Allepolea
  • Generasi Pemuda Bonto Kapetta (Gembok)
  • Kelompok Tani Tunas Harapan

Kesehatan[sunting | sunting sumber]

Fasilitas[sunting | sunting sumber]

Infrastruktur[sunting | sunting sumber]

Jalan[sunting | sunting sumber]

  • Jalan Dr. Ratulangi
  • Jalan Pasar Ikan
  • Jalan Poros Maros-Pangkep
  • Jalan Samudera
  • Jalan Sukamaju

Adat dan Budaya[sunting | sunting sumber]

  • Pertunjukan Kesong-Kesong/Sinrili'
  • Mappacci
  • Madduppabotting
  • Mappenre' Botting
  • Massikkiri'
  • Ma'barasanji
  • Tari Padduppa
  • Angngaru

Tempat menarik[sunting | sunting sumber]

  • Balai Penelitian Tanaman Serealia Kabupaten Maros

Event dan Acara[sunting | sunting sumber]

  • Jalan Santai Kelurahan Allepolea (2018)

Bencana Daerah[sunting | sunting sumber]

No. Jenis Bencana Lokasi Dampak Waktu Kejadian
1. Angin kencang Kelurahan Allepolea 12 unit rumah rusak 17 November 2018
2. Banjir Kelurahan Allepolea 40 kepala keluarga (KK) mengungsi 22-25 Januari 2019

Informasi[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]