Kabupaten Jembrana

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Koordinat: 8°18′S 114°40′E / 8.300°S 114.667°E / -8.300; 114.667

Kabupaten Jembrana
Nusa Tenggara 1rightarrow blue.svg Bali
Lambang Kab Jembrana.png
Lambang
Motto: 
Tri Ananta Bhakti
"Tiga Pengabdian yang Kekal; Mengabdi Kepada Tuhan, Mengabdi KepadaTanah Air, dan Mengabdi Kepada Hidup"
Lokasi Kabupaten Jembrana
Kabupaten Jembrana berlokasi di Kepulauan Sunda Kecil
Kabupaten Jembrana
Kabupaten Jembrana
Kabupaten Jembrana berlokasi di Indonesia
Kabupaten Jembrana
Kabupaten Jembrana
Koordinat: 8°18′S 114°40′E / 8.3°S 114.67°E / -8.3; 114.67
Negara Indonesia
ProvinsiBali
Ibu kotaNegara
Pemerintahan
 • BupatiI Putu Arta
 • WakilKembang Hartawan
Luas
 • Total841,80 km²[1] km2 (Formatting error: invalid input when rounding sq mi)
Populasi
 ((2017)[1])
 • Total323,211 jiwa jiwa
Zona waktuWITA (UTC+08:00)
Kode telepon0365
Kode Kemendagri51.01 Edit the value on Wikidata
Jumlah kecamatan5[1]
Jumlah kelurahan10[1]
Jumlah desa41[1]
DAURp. 552.643.376.000,-(2018)[2]
PADRp. 128.271.931.580,-
APBDRp.1.114.793.253.249,-[2]
IPM70,38 (2016)[3]
Situs webhttp://www.jembranakab.go.id/

Kabupaten Jembrana adalah sebuah kabupaten yang terletak di ujung barat pulau Bali, Indonesia. Ibu kotanya berada di Negara. Kabupaten Jembrana berbatasan dengan Kabupaten Tabanan di timur, Kabupaten Buleleng di Utara, Selat Bali di barat dan Samudera Hindia di selatan.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan bukti-bukti arkeologis dapat diinterprestasikan bahwa munculnya pemukiman di Jembrana sudah sejak 6000 tahun yang lalu. Dari perspektif semiotik, asal-usul nama tempat atau kawasan mengacu nama-nama fauna dan flora. Munculnya nama Jembrana berasal dari kawasan hutan belantara (Jimbar-Wana) yang dihuni raja ular (Naga-Raja). Sifat-sifat mitologis dari penyebutan nama-nama tempat telah menjadi tradisi melalui cerita turun-temurun di kalangan penduduk.

Berdasarkan cerita rakyat dan tradisi lisan (folklore) yang muncul, memberi inspirasi di kalangan pembangun lembaga kekuasaan tradisional (raja dan kerajaan) Raja dan pengikutnya yaitu rakyat yang berasal dari etnik Bali Hindu maupun dari etnik non Bali yang beragama Islam telah membangun kraton sebagai pusat pemerintahan yang diberi nama Puri Gede Jembrana pada awal abad XVII oleh I Gusti Made Yasa (penguasa Brangbang). Raja I yang memerintah di kraton (Puri) Gede Agung Jembrana adalah I Gusti Ngurah Jembrana. Selain kraton, diberikan pula rakyat pengikut (wadwa), busana kerajaan yang dilengkapi barang-barang pusaka berupa tombak dan tulup. Demikian pula keris pusaka yang diberi nama "Ki Tatas" untuk memperbesar kewibawaan kerajaan. Tercatat bahwa ada tiga orang raja yang berkuasa di pusat pemerintahan yaitu di Puri Agung Jembrana.

Sejak kekuasaan kerajaan dipegang oleh Raja Jembrana I Gusti Gede Seloka, Puri baru sebagai pusat pemerintahan dibangun. Puri yang dibangun itu diberi nama Puri Agung Negeri pada awal abad XIX yang kemudian lebih dikenal dengan nama Puri Agung Negara. Patut diketahui bahwa raja-raja yang memerintah di Kerajaan Jembrana berikutnya pun memusatkan birokrasi pemerintahannya di Puri Agung Negara. Patut dicatat pula bahwa ada dua periode birokrasi pemerintahan yang berpusat di Puri Agung Negara.

Periode pertama ditandai oleh birokrasi pemerintahan kerajaan tradisional yang berlangsung sampai tahun 1855. Tercatat pada lembaran dokumen arsip pemerintahan Gubernemen bahwa kerajaan Jembrana yang otonom diduduki oleh Raja Jembrana V (Sri Padoeka Ratoe) I Goesti Poetoe Ngoerah Djembrana (1839-1855). Dalam pemerintahannya telah ditandatangani piagam perjanjian persahabatan bilateral antara pihak pemerintah kerajaan dengan pihak pemerintah Kolonial Hindia Belanda (Gubernemen) pada tanggal 30 Juni 1849.

Periode kedua selanjutnya digantikan oleh birokrasi modern, melalui tata pemerintahan daerah (Regentschap) yang merupakan bagian dari wilayah administratif Karesidenan Banyuwangi. Pemerintahan daerah Regentschap dikepalai oleh seorang kepala pribumi (Regent) sebagai pejabat yang dimasukkan dalam struktur birokrasi Kolonial Modern Gubernemen yang berpusat di Batavia. Status pemerintahan daerah (Regentschap) berlangsung selama 26 tahun (1856 - 1882).

Pada masa Kerajaan Jembrana VI, I Gusti Ngurah Made Pasekan (1855 - 1866) mengalami dua peralihan status yaitu 1855 - 1862 sebagai Raja Jembrana dan 1862 - 1866 sebagai status Regent (Bupati) kedudukan kerajaan berada di Puri Pacekan Jembrana. Ketika reorganisasi pemerintahan di daerah diberlakukan berdasarkan Staatblad Nomor 123 tahun 1882, maka untuk wilayah administratif Bali dan Lombok diberi status wilayah administratif Keresidenan tersendiri. Wilayah Keresidenan Bali dan Lombok dibagi lagi menjadi dua daerah (Afdelingen) yaitu Afdeling Buleleng dan Afdeling Jembrana berdasarkan Staatblad Nomor 124 tahun 1882 dengan satu ibu kota yaitu Singaraja.

Selanjutnya daerah Afdeling Jembrana terbagi atas distrik-distrik yang waktu itu terdiri dari tiga distrik yaitu Distrik Negara, Distrik Jembrana dan Distrik Mendoyo. Masing-masing distrik dikepalai oleh seorang Punggawa. Selain distrik juga diberlakukan jabatan Perbekel, khusus yang mengepalai komunitas Islam dan komunitas Timur Asing sebagai kondisi daerah yang unik dari sudut interaksi dan integrasi antar etnik dan antar umat beragama.

Sejak reorganisasi tahun 1882 telah ditetapkan dan disahkan nama satu ibu kota untuk Keresidenan Bali dan Lombok yaitu Singaraja, yang akan membawahi daerah-daerah (Afdeling) Buleleng dan Jembrana. Akan tetapi, pada proses selanjutnya, memperhatikan munculnya aspirasi masyarakat di dua daerah afdeling (Buleleng dan Jembrana), maka pihak Gubernemen menanggapi positif. Respon positif pihak Gubernemen di Batavia dapat dibuktikan dengan diterbitkannya sebuah Lembaran Negara (Staatsblad) tersendiri untuk melakukan pembenahan (reorganisasi) tata pemerintahan daerah di daerah-daerah (Afdeling) Buleleng dan Jembrana.

Pihak Gubernemen dan segenap jajaran bawahan di Departemen Dalam Negeri (Binnenlandsch Bestuur) memperhatikan dan mendukung aspirasi masyarakat untuk menetapkan nama-nama ibu kota Daerah-daerah Afdeling Buleleng dan Afdeling Jembrana. Pihak Gubernemen dalam pertimbangannya ingin mengakhiri kebiasaan yang menyebut nama Ibu kota Afdeling Buleleng dan Jembrana di Keresidenan Bali dan Lombok dengan nama lebih dari satu. Semula (tahun 1882-1895) hanya diberlakukan satu nama Ibu kota yaitu Singaraja untuk wilayah Keresidenan Bali dan Lombok yang membawahi daerah Afdeling Buleleng dan Afdeling Jembrana. Sejak disetujui dan untuk kemudian, ditetapkanlah nama ibu kota daerah tersendiri terhadap Afdeling Buleleng dan Afdeling Jembrana di Keresidenan Bali dan Lombok.

Berdasarkan Staatsblad Van Nederlandsch - Indie Nomor 175 Tahun 1895, sampai seterusnya ditetapkanlah Singaraja dan Negara sebagai ibu kota dari masing-masing Afdeling. Dengan demikian, sejak 15 Agustus 1895 berakhirlah nama satu ibu kota: Singaraja sebagai ibu kota Keresidenan Bali dan Lombok yang membawahi Daerah-daerah Afdeling Buleleng dan Afdeling Jembrana.

Sejak itu pula dimulailah nama-nama Ibu kota: Singaraja untuk Keresidenan Bali dan Lombok dan daerah bagiannya di Afdeling Buleleng, serta Negara untuk Daerah Bagian Afdeling Jembrana. Munculnya nama-nama Jembrana dan Negara hingga sekarang, memiliki arti tersendiri dari perspektif historis. Nama yang diwarisi itu telah ada dalam lembaran sejarah sejak digunakan sebagai nama Puri yaitu Puri Gede / Agung Jembrana dan Puri Agung Negeri Negara. Karena Puri adalah pusat birokrasi pemerintahan kerajaan tradisional, maka dapat dikatakan bahwa Jembrana dan Negara merupakan Puri yang dibangun pada permulaan abad XVIII dan permulaan abad XIX adalah tipe kota-kota kerajaan yang bercorak Hindu.

Jembrana sebagai sebuah kerajaan yang ikut mengisi lembaran sejarah delapan kerajaan (asta negara) di Bali. Sejak 1 Juli 1938, Daerah (Afdeling, regentschap) Jembrana dan juga daerah-daerah afdeling (Onder-afdeling, regentschap) lainnya di Bali ditetapkan sebagai daerah-daerah swapraja (Zelfbestuurlandschapen) yang masing-masing dikepalai oleh Zelfbestuurder (Raja).

Raja di Swapraja Jembrana (Anak Agoeng Bagoes Negara) dan Raja-raja di swapraja lainnya di seluruh Bali terlebih dahulu telah menyatakan kesetiaannya terhadap pemerintah Gubernemen. Anak Agung Bagoes Negara memegang tampuk pemerintahan di swapraja Jembrana secara terus-menerus selama 29 tahun meskipun terjadi perubahan tatanegara dalam sistem pemerintahan. Kepemimpinannya di Jembrana berlangsung paling lama dibandingkan dengan kepemimpinan yang dipegang oleh pejabat-pejabat sebelumnya.

Selama kepemimpinannya pula, dua nama yaitu Jembrana dengan ibu kotanya Negara senantiasa terpateri dalam sejarah pemerintah di Jembrana, baik dalam periode Pendudukan Jepang (tahun 1943-1945), periode Republik Indonesia yang hanya beberapa bulan (tahun 1946-1950) maupun pada waktu kembali ke periode bentuk Negara Indonesia Timur (Tahun 1946-1950) maupun pada waktu kembali ke periode bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (tahun 1950-1958).

Dapat dikatakan bahwa, sejak gelar "Bupati" yang mengepalai pemerintahan di Daerah Tingkat II Jembrana untuk pertama kali diberlakukan pada tahun 1959 sampai saat ini, nama "Negara" sebagai ibu kota Daerah Kabupaten Jembrana tetap dilestarikan.[5]

Geografi[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Jembrana adalah satu dari 9 (sembilan) Kabupaten dan Kota yang ada di Provinsi Bali. Kabupaten Jembrana terletak di belahan Barat pulau Bali, membentang dari arah Barat ke Timur pada 8°09'30"–8°28'02" LS dan 114°25'53"–114°56'38" BT. Luas wilayah Kabupaten Jembrana secara keseluruhan adalah 841,80 Km² atau 84.180 Ha.[6]

Batas wilayah[sunting | sunting sumber]

Batas-batas wilayah Kabupaten Jembrana adalah sebagai berikut:

Utara Kabupaten Buleleng
Timur Kabupaten Tabanan
Selatan Samudera Indonesia
Barat Selat Bali

Topografi[sunting | sunting sumber]

Kondisi topografi wilayah Kabupaten Jembrana meliputi daerah pegunungan di bagian utara dan dataran rendah (pesisir pantai) di bagian selatan yang berbatasan dengan Samudera Indonesia. Pada bagian tengah merupakan daerah perkotaan. Berdasarkan tingkat kemiringan lereng, wilayah Kabupaten Jembrana dapat diklasifikasi ke dalam empat (4) kelompok, yaitu:

  1. Wilayah dengan kemiringan lereng 0–2% (datar), tersebar di seluruh kecamatan Kabupaten Jembrana, khususnya di Kecamatan Jembrana dan Kecamatan Negara.
  2. Wilayah dengan kemiringan lereng 2–15% (landai), tersebar hampir di seluruh kecamatan di Kabupaten Jembrana.
  3. Wilayah dengan kemiringan lereng 15–40% (bergelombang/berbukit), tersebar hampir di seluruh kecamatan di Kabupaten Jembrana.
  4. Wilayah dengan kemiringan lereng >40% (curam sampai sangat curam), merupakan bagian terluas dari keseluruhan luas wilayah Kabupaten Jembrana.

Bagian utara wilayah Kabupaten Jembrana mempunyai morfologi dan fisiografi pegunungan yang dibentuk oleh deretan pegunungan Penginuman, Gunung Klatakan, Gunung Bakungan, Gunung Nyangkrut, Gunung Sanggang dan Gunung Batas. Ketinggian tempat bervariasi antara 250–700 m dpl. Sementara itu, bagian selatan wilayah Kabupaten Jembrana topografinya relatif datar hingga bergelombang dengan ketinggian tempat berkisar antara 1–250 m dpl.[6]

Geologi[sunting | sunting sumber]

Secara geologi, Kabupaten Jembrana terdiri dari batuan gunung api yang terdiri dari lava, breksi, tufa, yang diperkirakan berumur kwarter kawah dan daerah dataran yang sebagian daerah persawahan terbentuk dari batuan yang tergabung dan disebut dengan Formasi Palasari yang terdiri dari batu pasir, konglomerat dan batu gamping terumbu dan diperkirakan berumur kwarter, sedangkan untuk daerah pesisir pantai pada umumnya endapan aluvium yang terdiri dari pasir, lanau, lempung dan kerikil, yang dijumpai di sekitar daerah pantai di Pengambengan, Tegalbadeng, Perancak, Yeh Kuning, Mendoyo dan di pantai Gilimanuk. Wilayah Kabupaten Jembrana tersusun dari lima jenis batuan, yaitu

  • Formasi Gamping Agung
  • Batuan Gunung Api Jembrana
  • Formasi Palasari
  • Formasi Alluvium
  • Alluvium Formasi Sorga

Gunung yang terdapat di Kabupaten Jembrana berjumlah 17 buah termasuk gunung yang tidak aktif. Dari jumlah tersebut, Kecamatan Melaya mempunyai gunung paling banyak sehingga topografi di Kecamatan Melaya termasuk berbukit-bukit. Dari 17 gunung yang dijumpai di Kabupaten Jembrana, ternyata Gunung Merbuk merupakan gunung tertinggi (1.386 m dpl) di Kabupaten Jembrana yang terletak di Kecamatan Jembrana, kemudian disusul dengan Gunung Mesehe (1.300 mdpl) di Kecamatan Mendoyo, Gunung Bangul (1.253 m dpl) di Kecamatan Negara, dan Gunung Lesung (1.047 m dpl) di Kecamatan Mendoyo. Jenis tanah yang berada di wilayah Kabupaten Jembrana terdiri dari:

  1. Tanah Latosol Coklat dan Litosol (Inceptisol), Jenis tanah ini tersebar di lima wilayah Kabupaten Jembrana, yang paling luas terdapat di Kecamatan Mendoyo ( 25.985 ha), di Kecamatan Melaya (16.319 ha), Kecamatan Negara dan Jembrana (14.130 ha), dan Kecamatan Pekutatan (12.169 ha).
  2. Tanah Alluvial Coklat Kelabu, jenis tanah ini merupakan tanah endapan sungai dengan luas kurang lebih 10.750 Ha sebagian besar terdapat di Kecamatan Negara dan Kecamatan Jembrana (5.725 ha).
  3. Tanah Regosol Cokelat Kelabu, jenis tanah ini sebagian besar terdapat di Kecamatan Negara dan Kecamatan Jembrana seluas 772 ha dan di wilayah Kecamatan Mendoyo seluas 648 ha. Tanah ini terbentuk oleh induk vulkanik intermedier dengan bentuk wilayah landai sampai berombak.
  4. Tanah Alluvial Hidromorf, jenis tanah ini terdapat di wilayah Kecamatan Negara dan Kecamatan Jembrana khususnya di sepanjang wilayah pantai selatan dan di sekitar Desa Pengambengan dan Desa Cupel. Luas jenis tanah ini kurang lebih 1.420 Ha. Tanah ini merupakan sedimen darat dan laut yang dibentuk oleh lempeng pasir dan pecahan karang.[6]

Iklim[sunting | sunting sumber]

Suhu udara di wilayah Kabupaten Jembrana bervariasi antara 19°–33°C, untuk wilayah perbukitan dan pegunungan biasanya suhu bisa berada kurang dari 19°C. Tingkat kelembapan nisbi di wilayah ini pun bervariasi setiap bulannya antara 75%–81%. Wilayah Kabupaten Jembrana beriklim muson tropis (Am) dengan dua musim yang dipengaruhi pergerakan angin muson, yaitu musim penghujan yang dipengaruhi oleh hembusan angin muson barat yang bersifat lembab dan basah dan musim kemarau yang dipengaruhi angin muson timur–tenggara yang bersifat kering dan dingin. Musim kemarau di wilayah Jembrana berlangsung pada periode MeiSeptember yang merupakan periode bertiupnya angin muson timur–tenggara dan puncak musim kemarau terjadi pada bulan Juli. Sementara itu, musim penghujan di Kabupaten Jembrana berlangsung pada periode bulan-bulan basah NovemberMaret dan puncak musim hujan terjadi pada bulan Januari dengan curah hujan bulanan lebih dari 290 mm per bulan. Curah hujan tahunan di wilayah Kabupaten Jembrana berkisar antara 1.300–1.900 mm per tahun dengan jumlah hari hujan berkisar antara 80–140 hari hujan per tahun. Selain kedua musim tersebut, terdapat pula musim pancaroba yang merupakan musim peralihan antara musim penghujan dan musim kemarau ataupun sebaliknya dan musim ini terjadi pada bulan April dan Oktober.

Data iklim Jembrana, Bali, Indonesia
Bulan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des Tahun
Rata-rata tertinggi °C (°F) 32.3
(90.1)
32.3
(90.1)
32.3
(90.1)
32.4
(90.3)
31.8
(89.2)
31.1
(88)
30.6
(87.1)
31.7
(89.1)
32.6
(90.7)
33.7
(92.7)
33.3
(91.9)
32.9
(91.2)
32.25
(90.04)
Rata-rata harian °C (°F) 27.1
(80.8)
27.3
(81.1)
28.1
(82.6)
27.1
(80.8)
26.5
(79.7)
25.6
(78.1)
25.1
(77.2)
25.9
(78.6)
26.9
(80.4)
27.8
(82)
28.4
(83.1)
27.5
(81.5)
26.94
(80.49)
Rata-rata terendah °C (°F) 22
(72)
22.3
(72.1)
22
(72)
21.8
(71.2)
21.2
(70.2)
20.2
(68.4)
19.6
(67.3)
20.9
(69.6)
21.3
(70.3)
22
(72)
22.5
(72.5)
22
(72)
21.48
(70.8)
Presipitasi mm (inci) 300
(11.81)
230
(9.06)
213
(8.39)
120
(4.72)
72
(2.83)
40
(1.57)
33
(1.3)
51
(2.01)
84
(3.31)
122
(4.8)
209
(8.23)
251
(9.88)
1.725
(67,91)
Rata-rata hari hujan 20 18 17 10 7 4 2 5 8 10 15 19 135
% kelembapan 81 80 80 79 77 75 75 76 77 78 79 80 78.1
Rata-rata sinar matahari bulanan 185 179 210 243 265 272 291 294 287 276 219 199 2.920
Sumber #1: Climate-Data.org[7]
Sumber #2: Weatherbase[8]

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Daftar Bupati[sunting | sunting sumber]

Berikut adalah nama-nama Bupati Jembrana dari masa ke masa.[9]

No. Foto Nama Mulai jabatan Akhir jabatan Wakil Bupati Keterangan Ref.
1 Ida Bagus Gede Dosther 1959 1967
Bupati pertama
2 Kapten R. Syafroni 1967 1969
3 Drs. Putu Suasnawa 11 Maret 1969 30 Juni 1969
4 I Ketut Sirya 30 Juni 1969 31 Juli 1974
5 Drs. I Nyoman Tastra 31 Juli 1974 28 Juli 1975
Pjs Bupati
6 Letkol. Liek Rochadi 28 Juli 1975 26 Agustus 1980
7 Drs. Ida Bagus Ardana 26 Agustus 1980 27 Agustus 1990
8 Ida Bagus Indugosa,S.H 27 Agustus 1990 27 Agustus 1995
9 27 Agustus 1995 27 Agustus 2000
10 I Ketut Widjana, S.H 27 Agustus 2000 15 Nopember 2000
Plt. Bupati
11 Prof.Dr.drg. I Gede Winasa 15 Nopember 2000 10 Oktober 2010
12 I Putu Artha SE, MM. 16 Februari 2011 16 Pebruari 2016
I Made Kembang Hartawan, SE, MM.
[10]
13 16 Pebruari 2016 2021

Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kabupaten Jembrana dalam dua periode terakhir.[11][12]

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2014-2019 2019-2024
Logo PKB.svg PKB 2 Steady 2
Logo Gerindra.svg Gerindra 4 Steady 4
LOGO- PDIP.svg PDI Perjuangan 14 18
GolkarLogo.png Golkar 4 6
Partai NasDem.svg NasDem 1 0
Contoh Logo Baru PKS.jpg PKS 2 0
Logo PPP.svg PPP 0 1
Logo Hanura.svg Hanura 4 1
Logo of the Democratic Party (Indonesia).svg Demokrat 4 3
Jumlah Anggota 35 Steady 35
Jumlah Partai 8 7

Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Jembrana terdiri dari 5 kecamatan, 10 kelurahan, dan 41 desa. Pada tahun 2017, jumlah penduduknya mencapai 323.211 jiwa dengan luas wilayah 841,80 km² dan sebaran penduduk 384 jiwa/km².[13][14]

Daftar kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Jembrana, adalah sebagai berikut:

Kode
Kemendagri
Kecamatan Jumlah
Kelurahan
Jumlah
Desa
Status Daftar
Desa/Kelurahan
51.01.05 Jembrana 4 6 Desa
Kelurahan
51.01.04 Melaya 1 9 Desa
Kelurahan
51.01.02 Mendoyo 1 10 Desa
Kelurahan
51.01.01 Negara 4 8 Desa
Kelurahan
51.01.03 Pekutatan 8 Desa
TOTAL 10 41
Peta Kabupaten Jembrana

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Tempat Wisata[sunting | sunting sumber]

  • Pura Rambut Siwi
  • Pura Jati
  • Pura Majapahit
  • Pantai Baluk Rening
  • Pantai Delod Berawah
  • Perancak
  • Taman Nasional Bali Barat
  • Bendungan Palasari
  • Pantai Medewi
  • Tukad Gelar
  • Bendungan Benel
  • Bunut Bolong
  • Pantai Pengeragoan
  • Teluk Gilimanuk
  • Taman Siwa Mahadewa Gilimanuk
  • Air Terjun Juwuk Manis
  • Taman dan Pura Jagatnatha
  • Taman Pecangakan

Galeri[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diakses tanggal 05-12-2018. 
  2. ^ a b "APBD 2018 ringkasan update 04 Mei 2018". 2018-05-04. Diakses tanggal 2018-07-06. 
  3. ^ "Indeks Pembangunan Manusia 2016". Diakses tanggal 2018-07-06. 
  4. ^ "Kabupaten Jembrana Dalam Angka 2016"
  5. ^ info@jembranakab.go.id. "Pemerintah Daerah Kabupaten Jembrana". jembranakab.go.id. Diakses tanggal 2018-10-22. 
  6. ^ a b c "Profil Kabupaten Jembrana" (PDF). 
  7. ^ "Negara, Bali, Indonesia". Climate-Data.org. Diakses tanggal 23 September 2020. 
  8. ^ "Negara, Bali, Indonesia". Weatherbase. Diakses tanggal 23 September 2020. 
  9. ^ "Pemerintah Daerah Kabupaten Jembrana". jembranakab.go.id. Diakses tanggal 2018-10-22. 
  10. ^ "DILANTIK KEMBALI, ARTHA KEMBANG LANGSUNG KERJA FOKUS BANGUN PARIWASATA, DESA DAN KELURAHAN". Portal Website Resmi Pemerintah Kabupaten Jembrana. Diakses tanggal 2019-05-06. 
  11. ^ Perolehan Kursi DPRD Kabupaten Jembrana 2014-2019
  12. ^ Perolehan Kursi DPRD Kabupaten Jembrana 2019-2024
  13. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 Desember 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2019. 
  14. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Permendagri nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 25 Oktober 2019. Diakses tanggal 15 Januari 2020. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]