Kabupaten Gianyar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Koordinat: 8°28′S 115°17′E / 8.467°S 115.283°E / -8.467; 115.283

Kabupaten Gianyar
Transkripsi bahasa daerah
 • Aksara Baliᬕ᭄ᬬᬜᬃ
Dari atas ke bawah; kiri ke kanan: Perpustakaan Daerah Gianyar, Terasering di Tegallalang, dan Kawasan Monkey Forest Ubud
Lambang resmi Kabupaten Gianyar
Motto: 
Dharma raksata raksita
(Sanskerta) Barang siapa berbuat kebaikan (Dharma), maka ia akan dilindungi oleh Dharma itu sendiri
Peta
Peta
Kabupaten Gianyar di Kepulauan Sunda Kecil
Kabupaten Gianyar
Kabupaten Gianyar
Peta
Kabupaten Gianyar di Indonesia
Kabupaten Gianyar
Kabupaten Gianyar
Kabupaten Gianyar (Indonesia)
Koordinat: 8°28′00″S 115°17′00″E / 8.4667°S 115.2833°E / -8.4667; 115.2833
Negara Indonesia
ProvinsiBali
Tanggal berdiri19 April 1771
Ibu kotaGianyar
Jumlah satuan pemerintahan
Daftar
Pemerintahan
 • BupatiI Made Agus Mahayastra
 • Wakil BupatiAnak Agung Gde Mayun
Luas
 • Total368,00 km2 (142,09 sq mi)
Populasi
 • Total519.485
 • Kepadatan1.411,64/km2 (3,656,1/sq mi)
Demografi
 • AgamaHindu 95,66%
Islam 3,60%
Kristen 0,48%
- Protestan 0,36%
- Katolik 0,12%
Buddha 0,25%
Lain-lain 0,01%[1]
 • BahasaBali, Indonesia
 • IPMKenaikan 77,70 (2021)
( Tinggi )[2]
Zona waktuUTC+08:00 (WITA)
Kode area telepon0361
Pelat kendaraanDK xxxx K**/L*
Kode Kemendagri51.04 Edit the value on Wikidata
APBDRp 1.926.241.277.262,-[3]
PADRp 695.786.110.666,-
DAURp 716.521.199.000,00- (2019)[4]
Situs webgianyarkab.go.id

Gianyar (bahasa Bali: aksara Bali: ᬕ᭄ᬬᬜᬃ, translit. Gyanyar) adalah sebuah kabupaten di provinsi Bali, Indonesia. Daerah ini merupakan pusat budaya ukiran di Bali. Gianyar berbatasan dengan Kota Denpasar di Barat Daya, Kabupaten Badung di Barat, Kabupaten Bangli di Utara dan Kabupaten Klungkung di Timur. Penduduk Gianyar berjumlah 519.485 jiwa pada tahun 2021.[1]

Sejarah Kota Gianyar[sunting | sunting sumber]

Sejarah Kota Gianyar ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Gianyar No.9 tahun 2004 tanggal 2 April 2004 tentang Hari jadi Kota Gianyar.

Sejarah dua seperempat abad lebih, tepatnya 244 tahun yang lalu, 19 April 1771, ketika Gianyar dipilih menjadi nama sebuah keraton, Puri Agung yaitu Istana Raja (Anak Agung) oleh Ida Dewa Manggis Sakti maka sebuah kerajaan yang berdaulat dan otonom telah lahir serta ikut pentas dalam percaturan kekuasaan kerajaan-kerajaan di Bali. Sesungguhnya berfungsinya sebuah keraton, yaitu Puri Agung Gianyar yang telah ditentukan oleh syarat sekala niskala yang jatuh pada tanggal 19 April 1771 adalah tonggak sejarah yang telah dibangun oleh raja (Ida Anak Agung) Gianyar I, Ida Dewata Manggis Sakti memberikan syarat kepada kita bahwa proses menjadi dan ada itu bisa ditarik ke belakang (masa sebelumnya) atau ditarik ke depan (masa sesudahnya).

Masa kerajaan[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan bukti arkeologis di wilayah Gianyar, diperkirakan bahwa munculnya pemukiman manusia di Gianyar terjadi sudah sejak 2000 tahun yang lalu dengan ditemukannya situs perkakas (artefak) berupa batu, logam perunggu berupa nekara (Bulan Pejeng), relief-relief yang menggambarkan kehidupan candi-candi atau goa-goa di tebing-tebing sungai (tukad) Pakerisan.

Setelah bukti-bukti tertulis ditemukan berupa prasasti di atas batu atau logam terindetifikasi situs pusat-pusat kerajaan dari dinasti Warmadewa di Keraton Singamandawa, Bedahulu. Setelah ekspedisi Gajah Mada (Majapahit) dapat menguasai Pulau Bali maka di bekas pusat markas laskarnya didirikan sebuah Keraton Samprangan sebagai pusat pemerintahan kerajaan yang dipegang oleh Lima Raja Bali, yaitu:

  1. Raja Adipati Ida Dalem Krena Kepakisan (1350-1380), sebagai cikal bakal dari dinasti Kresna Kepakisan, kemudian Keraton Samprangan mampu bertahan selama lebih kurang tiga abad.
  2. Ida Dalem Ketut Ngulesir (1380-1460)
  3. Ida Dalem Waturenggong (1460-1550)
  4. Ida Dalem Sagening (1580-1625)
  5. Ida Dalem Dimade (1625-1651).

Dua Raja Bali yang terakhir yaitu Ida Dalem Segening dan Ida Dalem Dimade telah menurunkan cikal bakal penguasa di daerah-daerah. Ida Dewa Manggis Kuning (1600-an) penguasa di Desa Beng adalah cikal bakal Dinasti Manggis yang muncul setelah generasi II membangun Kerajaan Payangan (1735-1843). Salah seorang putra raja Klungkung Ida Dewa Agung Jambe yang bernama Ida Dewa Agung Anom muncul sebagai cikal bakal dinasti raja-raja di Sukawati (1711-1771) termasuk Peliatan dan Ubud. Pada periode yang sama, yaitu periode Gelgel muncul pula penguasa-penguasa daerah lainnya, yaitu I Gusti Ngurah Jelantik menguasai Blahbatuh dan kemudian I Gusti Agung Maruti menguasai daerah Keramas yang keduanya adalah keturunan Arya Kepakisan.

Masa kolonialisme[sunting | sunting sumber]

Dinamika pergumulan antara elit tradisional dari generasi ke generasi telah berproses pada momentum tertentu, salah seorang di antaranya sebagai pembangunan kota keraton atau kota kerajaan pusat pemerintahan kerajaan yang disebut Gianyar. Pembangunan Kota kerajaan yang berdaulat dan memiliki otonomi penuh adalah Ida dewa Manggis Sakti, generasi IV dari Ida Dewa Manggis Kuning. Sejak berdirinya Puri Agung Gianyar 19 April 1771 sekaligus ibu kota Pusat Pemerintah Kerajaan Gianyar adalah tonggak sejarah. Sejak itu dan selama periode sesudahnya Kerajaan Gianyar yang berdaulat, ikut mengisi lembaran sejarah kerajaan-kerajaan di Bali yang terdiri atas sembilan kerajaan di Klungkung, Karangasem, Buleleng, Mengwi, Bangli, Payangan, Badung, Tabanan dan Gianyar. Namun sampai akhir abat ke-19, setelah runtuhnya Payangan dan Mengwi di satu pihak dan munculnya Jembrana dilain pihak maka Negara): Klungkung, Karangasem, Bangli dan Gianyar (ENI, 1917).

Masa awal kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Ketika Belanda telah menguasai seluruh Pulau Bali, Kedelapan bekas kerajaan tetap diakui keberadaannya oleh Pemerintah Guberneurmen namun sebagai bagian wilayah Hindia Belanda yang dikepalai oleh seorang raja (Selfbestuurder) di daerah Swaprajanya masing-masing. Selama masa revolusi, ketika daerah Bali termasuk dalam wilayah Negara Indonesia Timur (NIT) otonomi daerah kerjaan (Swapraja) ke dalam sebuah lembaga yang disebut Oka, Raja Gianyar diangkat sebagai Ketua Dewan Raja-raja menggantikan tahun 1947. Selain itu pada periode NTT dua tokoh lainnya yaitu Tjokorde Gde Raka Sukawati (Puri Kantor Ubud) menjadi Presiden NIT dan Ida A.A. Gde Agung (Puri Agung Gianyar) menjadi Perdana Menteri NIT, Ketika Republik Indonesia Serikat (RIS) kembali ke Negara Kesatuan (NKRI) pada tanggal 17 Agustus 1950, maka daerah-daerah diseluruh Indonesia dengan dikeluarkan Undang-undang N0. I tahun 1957, yang pelaksanaannya diatur dengan Undang-Undang No. 69 tahun 1958 yang mengubah daerah Swatantra Tingkat II (Daswati II). Nama Daswati II berlaku secara seragam untuk seluruh Indonesia sampai tahun 1960. Setelah itu diganti dengan nama Derah Tingkat II (Dati II).

Namun Bupati Kepala Derah Tingkat II untuk pertama kalinya dimilai pada tahun 1960. Bupati pertama di DATI II Gianyar adalah Tjokorda Ngurah (1960-1963). Bupati berikutnya adalah Drh. Tjokorda Anom Pudak (1963-1964) dan Bupati I Made Sayoga, BA (1964-1965). Ketika dilaksanakannya Undang-Undang No. 18 tahun 1965, maka DATI II diubah dengan nama Kabupaten DATI II. Kemudian disempurnakan dengan dikeluarkannya Undang-Undang No. 5 tahun 1974 yang menggantikan nama Kabupaten. Kepala daerahnya tetap disebut Bupati.

Masa Pemerintahan Kabupaten Gianyar[sunting | sunting sumber]

Dari sisi otonomi jelas tampak bahwa proses perkembangan yang terjadi di Kota Gianyar. Otonomi dan berdaulat penuh melekat pada Pemerintah kerjaan sejak 19 April 1771 kemudian berproses sampai otonomi Daerah di Tingkat II Kabupaten yang diberlakukan sampai sekarang.

Berbagai gaya kepemimpinan dan seni memerintah dalam sistem otonomi telah terparti di atas lembaran Sejarah Kota Gianyar. Proses dinamika otonomi cukup lama sejak 19 April 1771 sampai 19 April 2005 saat ini, sejak kota keraton dibangun menjadi pusat pemerintahan kerajaan yang otonomi sampai sebuah kota kabupaten, nama Gianyar diabadikan. Sampai saat ini telah berusia 234 tahun, para pemimpin wilayah kotanya, dari raja (kerajaan) sampai Bupati (Kabupaten), memiliki ciri dan gaya serta seni memerintah sendiri-sendiri di bumi seniman. Seniman yang senantiasa membumi di Gianyar dan bahkan mendunia.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Bupati[sunting | sunting sumber]

Bupati Gianyar adalah pemimpin tertinggi di lingkungan pemerintah Kabupaten Gianyar. Bupati Gianyar bertanggungjawab kepada gubernur provinsi Bali. Saat ini, bupati atau kepala daerah yang menjabat di Kabupaten Gianyar ialah I Made Agus Mahayastra, didampingi wakil bupati Anak Agung Gde Mayun. Mahayastra dan Mayun, maju dalam Pemilihan umum Bupati Gianyar 2018, dan menang, kemudian dilantik pada 20 September 2018, hingga masa jabatan tahun 2023.[5]

No. Nama Bupati Mulai jabatan Akhir jabatan Prd. Wakil Bupati Keterangan
11 I Made Agus Mahayastra 20 September 2018 Petahana 17 Anak Agung Gde Mayun [5]

Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Berikut ini adalah komposisi anggota DPRD Kabupaten Gianyar dalam dua periode terakhir.[6][7]

Partai Politik Jumlah Kursi dalam Periode
2014-2019 2019-2024
  Gerindra 5 Penurunan 3
  PDI-P 16 Kenaikan 26
  Golkar 7 Penurunan 5
  NasDem 2 Penurunan 0
  Hanura 3 Penurunan 0
  Demokrat 5 Steady 5
  PKPI 2 Penurunan 1
Jumlah Anggota 40 Steady 40
Jumlah Partai 7 Penurunan 5


Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Gianyar terdiri dari 7 kecamatan, 6 kelurahan, dan 64 desa. Pada tahun 2017, jumlah penduduknya mencapai 492.757 jiwa dengan luas wilayah 368,00 km² dan sebaran penduduk 1.339 jiwa/km².[8][9]

Daftar kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Gianyar, adalah sebagai berikut:

Kode
Kemendagri
Kecamatan Jumlah
Kelurahan
Jumlah
Desa
Status Daftar
Desa/Kelurahan
51.04.02 Blahbatuh - 9 Desa
51.04.03 Gianyar 5 12 Desa
Kelurahan
51.04.07 Payangan - 9 Desa
51.04.01 Sukawati - 12 Desa
51.04.04 Tampaksiring - 8 Desa
51.04.06 Tegallalang - 7 Desa
51.04.05 Ubud 1 7 Desa
Kelurahan
TOTAL 6 64

Demografi[sunting | sunting sumber]

Suku bangsa[sunting | sunting sumber]

Upacara keagamaan umat Hindu di Monkey Forest Ubud, Gianyar
Upacara Melasti Gianyar

Sebagian besar suku penduduk yang ada di Gianyar adalah suku Bali. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik dalam Sensus Penduduk Indonesia tahun 2010, sebanyak 95,27% dari 496.777 jiwa penduduk kabupaten Gianyar adalah suku Bali.[10] Kemudian suku Jawa sebanyak 3,26%, dan beberapa lainnya seperti suku Sasak, Sunda, Madura, dan suku lainnya.[10]

Berikut adalah banyaknya penduduk kabupaten Gianyar berdasarkan suku bangsa pada tahun 2010:[10]

No Suku Jumlah
(2010)
%
1 Bali 447.547 95,27%
2 Jawa 15.324 3,26%
3 Sasak 1.512 0,32%
4 Sunda 801 0,17%
5 Bali Aga 696 0,15%
6 Madura 500 0,11%
7 Tionghoa 416 0,09%
8 Flores 146 0,02%
9 Bugis 93 0,02%
10 Melayu 86 0,02%
11 Suku lainnya 2.656 0,57%
Kabupaten Gianyar 469.777 100%

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Berikut adalah beberapa objek wisata yang terdapat di Kabupaten Gianyar:

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b c d e f "Kabupaten Gianyar Dalam Angka 2022". Badan Pusat Statistik. Diakses tanggal 19 April 2022. 
  2. ^ "Metode Baru Indeks Pembangunan Manusia 2020-2021". www.bps.go.id. Diakses tanggal 19 April 2022. 
  3. ^ "APBD 2018 ringkasan update 04 Mei 2018". 2018-05-04. Diakses tanggal 2018-07-06. 
  4. ^ "Rincian Alokasi Dana Alokasi Umum Provinsi/Kabupaten Kota Dalam APBN T.A 2019" (PDF). www.djpk.kemenkeu.go.id. 2019. Diakses tanggal 21 Januari 2021. 
  5. ^ a b "Made Mahayastra Dilantik Jadi Bupati". www.balipost.com. 20 September 2018. Diakses tanggal 24 September 2022. 
  6. ^ Perolehan Kursi DPRD Kabupaten Gianyar 2014-2019
  7. ^ Perolehan Kursi DPRD Kabupaten Gianyar 2019-2024
  8. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli tanggal 29 Desember 2018. Diakses tanggal 3 Oktober 2019. 
  9. ^ "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 72 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Permendagri nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 25 Oktober 2019. Diakses tanggal 15 Januari 2020. 
  10. ^ a b c "Peta Sebaran Penduduk Menurut Suku Bangsa Provinsi Bali" (pdf). bali.bps.go.id. 15 Januari 2015. hlm. 9, 11. Diakses tanggal 24 September 2022. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]