Kabupaten Gianyar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Koordinat: 8°28′S 115°17′E / 8.467°S 115.283°E / -8.467; 115.283

Kabupaten Gianyar
ᬓᬩᬸᬧᬢᬾᬦ᭄ᬕᬶᬳᬜᬃ
Lambang Kabupaten Gianyar
Lambang Kabupaten Gianyar
ᬓᬩᬸᬧᬢᬾᬦ᭄ᬕᬶᬳᬜᬃ


Moto: Dharma Raksata Raksita (ᬥᬃᬫᬭᬓ᭄ᬱᬝᬭᬓ᭄ᬱᬶᬢ)
"Barang siapa yang berbuat Kebaikan (Dharma), maka ia akan dilindungi oleh Dharma itu sendiri"



Location Gianyar Regency.png
Peta lokasi Kabupaten Gianyar
ᬓᬩᬸᬧᬢᬾᬦ᭄ᬕᬶᬳᬜᬃ di Bali
Koordinat: 8°18'48"-8°38'58" LS dan 115°22'23" BT
Provinsi Bali
Ibu kota Gianyar
Pemerintahan
-Bupati I Made Agus Mahayastra
-Wakil Bupati Anak Agung Mayun
APBD
-APBD Rp.1.926.241.277.262,-[1]
-PAD Rp. 695.786.110.666,-
-DAU Rp. 693.573.732.000,-(2018)[1]
Luas 368,00 km²[2]
Populasi
-Total 492.757 jiwa (2017)[2]
-Kepadatan 1.339 jiwa/km2
Demografi
-Agama Hindu 98.38%
Islam 0.94%
Buddha 0.47%
Kristen Protestan 0.14%
Katolik 0.07%[3]
-Bahasa Bali, Indonesia
-IPM 75,70 (2016)[4]
-Zona waktu UTC +8 WITA
-Kode area telepon 0361
Pembagian administratif
-Kecamatan 7[2]
-Kelurahan 6[2]
-Desa 64[2]
Simbol khas daerah
Situs web http://www.gianyarkab.go.id/

Kabupaten Gianyar adalah sebuah kabupaten di provinsi Bali, Indonesia. Daerah ini merupakan pusat budaya ukiran di Bali. Gianyar berbatasan dengan Kota Denpasar di barat daya, Kabupaten Badung di barat, Kabupaten Bangli di timur dan Kabupaten Klungkung di tenggara.

Sejarah Kota Gianyar[sunting | sunting sumber]

Sejarah Kota Gianyar ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Gianyar No.9 tahun 2004 tanggal 2 April 2004 tentang Hari jadi Kota Gianyar.

Sejarah dua seperempat abad lebih, tepatnya 244 tahun yang lalu, 19 April 1771, ketika Gianyar dipilih menjadi nama sebuah keraton, Puri Agung yaitu Istana Raja (Anak Agung) oleh Ida Dewa Manggis Sakti maka sebuah kerajaan yang berdaulat dan otonom telah lahir serta ikut pentas dalam percaturan kekuasaan kerajaan-kerajaan di Bali. Sesungguhnya berfungsinya sebuah keraton, yaitu Puri Agung Gianyar yang telah ditentukan oleh syarat sekala niskala yang jatuh pada tanggal 19 April 1771 adalah tonggak sejarah yang telah dibangun oleh raja (Ida Anak Agung) Gianyar I, Ida Dewata Manggis Sakti memberikan syarat kepada kita bahwa proses menjadi dan ada itu bisa ditarik ke belakang (masa sebelumnya) atau ditarik ke depan (masa sesudahnya).

Masa kerajaan[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan bukti arkeologis di wilayah Gianyar, diperkirakan bahwa munculnya pemukiman manusia di Gianyar terjadi sudah sejak 2000 tahun yang lalu dengan ditemukannya situs perkakas (artefak) berupa batu, logam perunggu berupa nekara (Bulan Pejeng), relief-relief yang menggambarkan kehidupan candi-candi atau goa-goa di tebing-tebing sungai (tukad) Pakerisan.

Setelah bukti-bukti tertulis ditemukan berupa prasasti di atas batu atau logam terindetifikasi situs pusat-pusat kerajaan dari dinasti Warmadewa di Keraton Singamandawa, Bedahulu. Setelah ekspedisi Gajah Mada (Majapahit) dapat menguasai Pulau Bali maka di bekas pusat markas laskarnya didirikan sebuah Keraton Samprangan sebagai pusat pemerintahan kerajaan yang dipegang oleh Lima Raja Bali, yaitu:

  1. Raja Adipati Ida Dalem Krena Kepakisan (1350-1380), sebagai cikal bakal dari dinasti Kresna Kepakisan, kemudian Keraton Samprangan mampu bertahan selama lebih kurang tiga abad.
  2. Ida Dalem Ketut Ngulesir (1380-1460)
  3. Ida Dalem Waturenggong (1460-1550)
  4. Ida Dalem Sagening (1580-1625)
  5. Ida Dalem Dimade (1625-1651).

Dua Raja Bali yang terakhir yaitu Ida Dalem Segening dan Ida Dalem Dimade telah menurunkan cikal bakal penguasa di daerah-daerah. Ida Dewa Manggis Kuning (1600-an) penguasa di Desa Beng adalah cikal bakal Dinasti Manggis yang muncul setelah generasi II membangun Kerajaan Payangan (1735-1843). Salah seorang putra raja Klungkung Ida Dewa Agung Jambe yang bernama Ida Dewa Agung Anom muncul sebagai cikal bakal dinasti raja-raja di Sukawati (1711-1771) termasuk Peliatan dan Ubud. Pada periode yang sama, yaitu periode Gelgel muncul pula penguasa-penguasa daerah lainnya, yaitu I Gusti Ngurah Jelantik menguasai Blahbatuh dan kemudian I Gusti Agung Maruti menguasai daerah Keramas yang keduanya adalah keturunan Arya Kepakisan.

Masa kolonialisme[sunting | sunting sumber]

Dinamika pergumulan antara elit tradisional dari generasi ke generasi telah berproses pada momentum tertentu, salah seorang di antaranya sebagai pembangunan kota keraton atau kota kerajaan pusat pemerintahan kerajaan yang disebut Gianyar. Pembangunan Kota kerajaan yang berdaulat dan memiliki otonomi penuh adalah Ida dewa Manggis Sakti, generasi IV dari Ida Dewa Manggis Kuning. Sejak berdirinya Puri Agung Gianyar 19 April 1771 sekaligus ibu kota Pusat Pemerintah Kerajaan Gianyar adalah tonggak sejarah. Sejak itu dan selama periode sesudahnya Kerajaan Gianyar yang berdaulat, ikut mengisi lembaran sejarah kerajaan-kerajaan di Bali yang terdiri atas sembilan kerajaan di Klungkung, Karangasem, Buleleng, Mengwi, Bangli, Payangan, Badung, Tabanan dan Gianyar. Namun sampai akhir abat ke-19, setelah runtuhnya Payangan dan Mengwi di satu pihak dan munculnya Jembrana dilain pihak maka Negara): Klungkung, Karangasem, Bangli dan Gianyar (ENI, 1917).

Masa awal kemerdekaan[sunting | sunting sumber]

Ketika Belanda telah menguasai seluruh Pulau Bali, Kedelapan bekas kerajaan tetap diakui keberadaannya oleh Pemerintah Guberneurmen namun sebagai bagian wilayah Hindia Belanda yang dikepalai oleh seorang raja (Selfbestuurder) di daerah Swaprajanya masing-masing. Selama masa revolusi, ketika daerah Bali termasuk dalam wilayah Negara Indonesia Timur (NIT) otonomi daerah kerjaan (Swapraja) ke dalam sebuah lembaga yang disebut Oka, Raja Gianyar diangkat sebagai Ketua Dewan Raja-raja menggantikan tahun 1947. Selain itu pada periode NTT dua tokoh lainnya yaitu Tjokorde Gde Raka Sukawati (Puri Kantor Ubud) menjadi Presiden NIT dan Ida A.A. Gde Agung (Puri Agung Gianyar) menjadi Perdana Menteri NIT, Ketika Republik Indonesia Serikat (RIS) kembali ke Negara Kesatuan (NKRI) pada tanggal 17 Agustus 1950, maka daerah-daerah diseluruh Indonesia dengan dikeluarkan Undang-undang N0. I tahun 1957, yang pelaksanaannya diatur dengan Undang-Undang No. 69 tahun 1958 yang mengubah daerah Swatantra Tingkat II (Daswati II). Nama Daswati II berlaku secara seragam untuk seluruh Indonesia sampai tahun 1960. Setelah itu diganti dengan nama Derah Tingkat II (Dati II).

Namun Bupati Kepala Derah Tingkat II untuk pertama kalinya dimilai pada tahun 1960. Bupati pertama di DATI II Gianyar adalah Tjokorda Ngurah (1960-1963). Bupati berikutnya adalah Drh. Tjokorda Anom Pudak (1963-1964) dan Bupati I Made Sayoga, BA (1964-1965).

Ketika dilaksanakannya Undang-Undang No. 18 tahun 1965, maka DATI II diubah dengan nama Kabupaten DATI II. Kemudian disempurnakan dengan dikeluarkannya Undang-Undang No. 5 tahun 1974 yang menggantikan nama Kabupaten. Kepala daerahnya tetap disebut Bupati.

Masa Pemerintahan Kabupaten Gianyar[sunting | sunting sumber]

Dari sisi otonomi jelas tampak bahwa proses perkembangan yang terjadi di Kota Gianyar. Otonomi dan berdaulat penuh melekat pada Pemerintah kerjaan sejak 19 April 1771 kemudian berproses sampai otonomi Daerah di Tingkat II Kabupaten yang diberlakukan sampai sekarang.

Berbagai gaya kepemimpinan dan seni memerintah dalam sistem otonomi telah terparti di atas lembaran Sejarah Kota Gianyar. Proses dinamika otonomi cukup lama sejak 19 April 1771 sampai 19 April 2005 saat ini, sejak kota keraton dibangun menjadi pusat pemerintahan kerajaan yang otonomi sampai sebuah kota kabupaten, nama Gianyar diabadikan. Sampai saat ini telah berusia 234 tahun, para pemimpin wilayah kotanya, dari raja (kerajaan) sampai Bupati (Kabupaten), memiliki ciri dan gaya serta seni memerintah sendiri-sendiri di bumi seniman. Seniman yang senantiasa membumi di Gianyar dan bahkan mendunia.

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Daftar Bupati[sunting | sunting sumber]

No Bupati[5] Mulai menjabat Akhir menjabat Prd. Wakil Bupati Ket.
1
Anak Agung Gde Raka
1950
1958
1
[Ket. 1]
1958
1960
2
2
Tjokorde Ngurah
1960
1963
3
3
Tjokorde Dalem Pudak
1963
1964
4
4
I Made Sayonga
1964
1965
5
5
I Made Kembar Kerepun
1965
1969
6
6
Anak Agung Gde Putra
1969
1983
7
8
9
7
Tjokorda Raka Dherana
1983
1993
10

[6]


11
8
Tjokorda Gde Budi Suryawan
1993
2003
12
[6]
13
9
A.A.G. Agung Bharata
2003
2008
14
I Dewa Putu Wardhana
10
Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati
2008
2013
15
Dewa Sutanaya
(9)
A.A.G. Agung Bharata
20 Februari 2013
20 Februari 2018
16
I Made Agus Mahayastra
I Ketut Rochineng
20 Februari 2018
20 September 2018
[Ket. 2]
11
I Made Agus Mahayastra
20 September 2018
2023
17
Anak Agung Mayun
[8]
Catatan
  1. ^ Bupati pertama
  2. ^ Pejabat Bupati[7]

Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Gianyar

Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Gianyar terdiri dari 7 kecamatan, 6 kelurahan, dan 64 desa. Pada tahun 2017, jumlah penduduknya mencapai 492.757 jiwa dengan luas wilayah 368,00 km² dan sebaran penduduk 1.339 jiwa/km².[2]

Daftar kecamatan dan kelurahan di Kabupaten Gianyar, adalah sebagai berikut:

Kemendagri Kecamatan Jumlah
Kelurahan
Jumlah
Desa
Daftar
Desa/Kelurahan
51.04.02 Blahbatuh, Gianyar 9
51.04.03 Gianyar, Gianyar 5 12
51.04.07 Payangan, Gianyar 9
51.04.01 Sukawati, Gianyar 12
51.04.04 Tampaksiring, Gianyar 8
51.04.06 Tegallalang, Gianyar 7
51.04.05 Ubud, Gianyar 1 8
TOTAL 6 64

Pariwisata[sunting | sunting sumber]

Tempat Wisata[sunting | sunting sumber]

Tidak kalah dengan daerah lainnya di Bali, Kabupaten Gianyar memiliki daya tarik tersendiri dengan berbagai objek wisata yang khas. ke khasan objek wisata di Gianyar ini lebih mengedepankan nuansa panoram pedesaan yang alami dan asri. Berikut adalah beberapa objek wisata yang terdapat di Kabupaten Gianyar:

  • Air terjun Tegenungan
  • Bali Bird Park
  • Bali Safari & Marine Park
  • Desa Batuan
  • Desa Batubulan
  • Desa Celuk
  • Desa Mas
  • Goa Gajah
  • Gunung Kawi
  • Monkey Forest
  • Pasar Sukawati
  • Tampaksiring
  • Ubud
  • hidden canyon guwang
  • pasar seni guwang
  • pasar seni desa pekraman sukawati
  • pantai ketewel
  • pantai purnama
  • pantai lebih
  • pantai masceti
  • pantai saba
  • bali zoo
  • bali bird park
  • kompleks pura payogan agung
  • museum purbakala
  • beji guwang ketewel
  • taman nusa
  • stadion dipta
  • taman kota gianyar
  • kompleks pura samuan tiga
  • terasering ceking
  • penglukatan tirta empul
  • penglukatan sebatu
  • istana presiden tampaksiring
  • pasar seni pagi sukawati

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ a b "APBD 2018 ringkasan update 04 Mei 2018". 2018-05-04. Diakses tanggal 2018-07-06. 
  2. ^ a b c d e f "Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 137 Tahun 2017 tentang Kode dan Data Wilayah Administrasi Pemerintahan". Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Diakses tanggal 05-12-2018.  Kesalahan pengutipan: Tanda <ref> tidak sah; nama "Permendagri" didefinisikan berulang dengan isi berbeda
  3. ^ . Badan Pusat Statistik "Kabupaten Gianyar Dalam Angka 2016" https://gianyarkab.bps.go.id/index.php/publikasi/138/"Kabupaten Gianyar Dalam Angka 2016" Periksa nilai |url= (bantuan). Diakses tanggal 2016.  Tidak memiliki atau tanpa |title= (bantuan)
  4. ^ "Indeks Pembangunan Manusia 2016". Diakses tanggal 2018-07-06. 
  5. ^ "Bupati dari Masa ke Masa". Pemerintah Kabupaten Gianyar. Diakses tanggal 20 Februari 2019. 
  6. ^ a b Bali, Nusa. "'Kami di Internal Keluarga Tak Mau Terkontaminasi Politik'". www.nusabali.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2019-04-16. 
  7. ^ Post, Redaksi Portal Bali (2018-02-21). "Gubernur Pastika Lantik Penjabat Bupati Gianyar | BALIPOST.com". BALIPOST.com. Diakses tanggal 2018-09-17. 
  8. ^ "KPU Gianyar Tetapkan AMAN Jadi Bupati dan Wakil Bupati Gianyar |Balipuspanews.com - Berita Aktual Bali". Balipuspanews.com - Berita Aktual Bali. 2018-07-26. Diakses tanggal 2018-09-17. 

Pranala luar[sunting | sunting sumber]