Buruan, Blahbatuh, Gianyar

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian
Buruan
Desa
Negara Indonesia
ProvinsiBali
KabupatenGianyar
KecamatanBlahbatuh
Kodepos80581
Luas4,21 km²[1]
Jumlah penduduk6.714 jiwa(2015)[2] 6.488 jiwa(2010)[3]
Kepadatan1.542 jiwa/km²(2010)
Situs webhttp://desamandara.baliprov.go.id/desa-buruan-2/

Buruan adalah salah satu desa yang berada di kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, provinsi Bali, Indonesia. Desa Buruan memiliki luas wilayah 421 Ha dengan jumlah penduduk sebanyak 6.488 jiwa (Sensus BPS 2010). Saat ini, dipimpin oleh I Gusti Ngurah Aryawan yang menggantikan I Ketut Sumarda.

Sejarah Desa Adat Buruan[sunting | sunting sumber]

Pada awal abad ke-11, icaka warsa leng angapit lawang atau tahun caka 929, (Leng artinya 9 (sembilan lubang), apit artinya dua, lawang artinya 9 (lawang berarti pintu atau dwara-dwara sanga)), atau pada tahun 1007 M, semenjak Sri Ratu Bali Pulina Sri Gunapria Darmapatmi wafat, abunya didharmakan atau disemayamkan di Candi Bhurwan di hutan Kutri (Datu Lumaheng Buruan). Nama desa Buruan itu mengambil nama candi tersebut yaitu Bhurwan yang berasal dari bahasa sanskerta (Bhur berarti tanah dan Wan berarti mulia atau suci). Karena perubahan pengucapan disesuaikan dengan kemampuan lafal orang Bali lama kelamaan menjadi Buruan. Sebagai candi, raja Bali menempatkan prajurunya (pengurus) dan pengayah (pembantu) untuk mengurus candi Bhurwan tersebut yang kemudian bermukim di sana. Lama kelamaan menjadi sebuah pemukiman yang semula belum menetap meskipun hanya beberapa kubon saja.

Pada icaka Leng Panca Nawa (tahun caka 959), di sebelah timur Buruan ini berdiri pesraman seorang pendeta yang bernama Empu Kidul. Asramanya didirikan pada Ceruk (lekukan atau gua) sehingga tempat ini sampai sekarang dikenal bernama desa Celuk.

Pada abad ke 14 M, sewaktu Gajah Mada menyerang kerajaan Bedahulu, beliau menyusun rencana (siasat) di padukuhan dukuh Dangka (kedangkan) di sebelah barat Buruan yang lazim disebut Kedangan.

Pada abad ke 16 M, I Gusti Ngurah Jelantik pindah dari Gelgel ke Tojan, diantar oleh Ki Gusti Panji Sakti dari Den Bukit dengan mengendarai gajah. Selama beberapa hari, Ki Gusti Panji Sakti berada di daerah Tojan untuk mengisi waktu menghibur diri. Ki Gusti Panji Sakti bersama I Gusti Ngurah Jelantik kemudian memutuskan berburu di lokasi perburuan yang berada di dekat Candi Bhurwan. Binatang yang diburunya adalah binatang kecil seperti kelesih (trenggiling), landak dan biawak yang banyak terdapat di tempat itu. Tempat berburu itu amat indah sekali dan di sebelah selatannya terdapat kumpulan pohon mangga (getes) yang menghutan. Karena itu, tempat ini juga diberi nama Buruan. Sedangkan Gajah Ki Gusti Panji Sakti digembalakan di sebelah barat tempat berburu ini yang diberi nama Angon Liman. Angon berarti mengembala dan Liman berarti Gajah. Lama-kelamaan lebih dikenal dengan nama Bangunliman.

Melalui proses yang panjang, terjadilah pemukiman dengan pola menetap. Karena penduduk semakin banyak dan tempat memenuhi kebutuhan hidup sudah ada serta terdorong oleh persamaan nasib dan penderitaan berdirilah pekraman yang berangsur-angsur mempunyai pura parahyangan (kahyangan tiga). Pekuburannya terletak di sebelah selatan Pura Dalem Buruan. Kemudian terjadi lagi perpindahan penduduk dari desa Bedahulu (penyungsung Pura Samuan Tiga) bermukim disebelah selatan desa. Disana mendirikan pemujaan berbentuk Lingga dan Yoni, Ratu Panji dan lain-lain. Ditempat mendirikan pemujaan prahyangan itu ada pohon embacang (pakel) yang besar. Sehingga parhyangan itu disebut Pura Penataran Batan Pakel. Sedangkan wilayah pemukiman penyungsungnya disebut Hyang Angga Yoni atau Yangloni.

Beberapa puluh tahun kemudian, saat keturunan I Gusti Ngurah Jelantik sudah menetap di Blahbatuh dan memegang kekuasaan, beliau berunding dengan Ida I Dewa Pemayun di Puri Agung Blahbatuh untuk meminta salah seorang putranya memimpin desa Buruan (sebagai pacek- Kepala Desa), maka disetujuilah salah seorang putranya menjadi pacek di Buruan yang kemudian disebut sebagai I Dewa Buruan saha iringan panjak dari Blahbatuh dan tombak pusaka luk telu. Mulailah pekraman itu ditata lebih baik untuk memperkuat kedudukan I Gusti Ngurah Jelantik disebelah utara dibentuklah prajurit yang disebut bekelan yaitu:

  • Bekelan Teruna (pasukan tempur pelopor) diberi bagian tanah awinih sibak (kurang lebih 25 are).
  • Bekelan Senapang (pasukan bedil) diberi tanah awinih tenah (kurang lebih 36 are).
  • Bekelan Manca (pengawal) diberi tanah awinih tenah.

Dengan demikian, mulailah pekraman itu ditata dengan tertib serta pembagian tanah dikelompokkan menjadi subak. Karena tata pemukiman semakin baik dengan jalan dan lorongnya, maka setra (kuburan disebelah selatan Pura Dalem Buruan) dipandang kurang tepat letaknya, kemudian dipindahkan ke sebelah timur.

Semakin lama menjalani proses, pekraman itu semakin baik termasuk penataan pura. Merajapati yang semula terletak di lokasi Pura Dalem, dipindahkan sesuai dengan fungsinya yaitu di setra Buruan, sedangkan pejenengan bekas mrajapati itu disebut Ratu Sekar Pule. Demikianlah proses menuju pembaharuan sesuai dengan perkembangan jaman berjalan terus. Sampai dengan jaman pemerintahan Belanda masih tetap disebut Krama Desa (desa pekraman). Hanya bedanya sudah mulai tampak perbedaan tampuk pimpinan, ada kelian yang mengurus dinas dan Bendesa yang mengurus urusan adat.

Setelah masa kemerdekaan Indonesia barulah nama desa adat itu menjadi jelas. Fungsi desa adat dan dinas dibedakan dengan jelas.[4]

Pembagian Administratif[sunting | sunting sumber]

Desa ini tersebar di 7 Banjar dinas yaitu:

  1. Kutri
  2. Buruan
  3. Celuk
  4. Bangunliman
  5. Getas Kawan
  6. Getas Kangin
  7. Griya Ketandan

Sementara dalam konteks pemerintahan adat, wilayah Desa Buruan terbagi dalam 8 Desa Pekraman wilayah subak. Disamping kondisi wilayah yang sangat strategis, Desa Buruan juga memiliki potensi-potensi di luar sektor pertanian seperti, Peternakan, Kerajinan, Kesenian, Pariwisata, Koperasi dan Jasa Lainnya.

Tempat Wisata[sunting | sunting sumber]

Pura Bukit Dharma Durga Kutri Gianyar[sunting | sunting sumber]

Berdasarkan prasasti di berbagai wilayah di Bali yang menunjuk keberadaan pura ini, Pura Bukit Dharma Durga Kutri diperkirakan sudah berdiri sejak 835 caka. Pada saat itu Bali diperintah oleh Raka Sri Kesari Warmadewa. Lokasi pura berada di lingkungan Banjar Kutri, di samping jalan utama menuju Blahbatuh, Gianyar. Yang unik adalah pada bagian mandala utama terdapat bukit yang diselimuti hutan kecil. Pada puncaknya itulah distanakan arca Durga Mahisamardini Astabuja.

Pura ini berawal dan berkembang sebagai sebuah kahyangan jagat dari pemerintahan Sri Kesari Warmadewa, Ugrasena, Tabanendra, Jayasingha, Mahadewi, Udayana. Pada saat pemerintahan Udayana, beliau ditemani permaisuri Gunapriya Dharmapatni sehingga disebut sebagai raja sejoli. Beliau berkuasa sekitar abad ke 10 M. Kekuasaan kerajaan Bali pada saat itu hingga mencapai Timor Timur. Prasasti yang mendukung keberadaan pura ini adalah Prasasti Peguyangan, Tengkulak, Trunyan, Prangsada, dsb.

Dalam prasasti Prangsada disebutkan: Sang Ari Anak Wungsu, Kunang Sira Sang Ibu Murwa Sira Mantuking Suryatmaka Dinarma Sira Ring Candi Ibu yang artinya Prabu Anak Wungsu meyakini ibunya Ratu Mahendradatta Udayana setelah wafat kembali ke inti Surya yaitu Wisnu, bersatu secara simbolis (Arcanam) di tempat pemujaan beliau (Candi Burwan). Dari prasasti tersebut dapat dijabarkan makna yang terkandung di dalamnya, yaitu Raja dan umat pada saat itu merupakan Pemuja Surya (Wisnu) dan Pura Bukit Dharma sudah ada pada masa Ratu Mahendradatta memerintah, di mana terdapat suatu benda dalam bentuk Arca Durga Ma (Ibu Durga). Hal ini terlihat pada kalimat beliau bersatu dengan yang dipuja di tempat beliau memuja. Yang dimaksud dengan dipuja di tempat beliau memuja adalah Suryatmaka (Inti Surya yaitu Wisnu), Hyang Widhi (Tuhan) dalam fungsi memelihara jagat raya. Dengan demikian Pura Bukit Dharma adalah Kahyangan Widhi.

Prasasti lain yang mendukung adalah Prasasti Peguyangan. Prasasti ini menjabarkan keagungan Tuhan yang dipuja di Buruan dijadikan dasar hidup bernegara dan beragama oleh masyarakat di bawah kekuasaan Ratu Mahendradata Udayana. Barang siapa yang sudah melaksanakan hidup bermasyarakat Grahasta, diwajibkan menjalani hidup bernegara dan beragama seperti yang ditetapkan oleh pemerintah pada saat itu.

Apabila dalam kehidupan umat berjalan dijalan dharma (kebaikan) sesuai dengan pemujaan di Pura Bukit Dharma maka beliau akan selalu memberkati. Arca Durga Mahesamardini Astabuja yang disimbolkan dalam bentuk arca seorang wanita cantik bertangan delapan berkendaraan lembu memiliki makna perwujudan Gayatri. Arca tersebut simbol dari penyatuan kekuatan Brahma, Wisnu, dan Siwa (Utpeti, Stiti, Pralina). Penataan Pura Bukit Dharma ditata dengan konsep Tri Loka, Bru Loka (Pura Manik Tirtha), Bhuah Loka (Pura Pentaran Agung), dan Swah Loka (Pura Pucak Dharma). Pada pucak inilah diistanakan arca tersebut. Konsep Tri Mandala juga tertuang dalam penataan pura yaitu Nista Mandala (di depan candi bentar), Madya Mandala (di depan candi kurung), dan Utama Mandala (setelah memasuki candi kurung).

Selain arca yang terdapat di puncak, di penataran agung juga terdapat beberapa arca yang masih terkait yaitu arca-arca Gedong Pesaren, Arca Budha, Siwa, Lingga Yoni, arca gedong Doho. Arca Gedong Doho ini kemungkinan berkaitan dengan leluhur Raja Sejoli.

Stadion Kapten I Wayan Dipta[sunting | sunting sumber]

Stadion kapten I Wayan Dipta adalah sebuah stadion multifungsi, yang utamanya dipakai untuk pertandingan sepak bola, terletak di Gianyar, Bali, Indonesia. Kapasitasnya berjumlah 20.000 kursi. Awalnya, stadion ini merupakan markas kesebelasan asal Gianyar, yakni Persegi Gianyar, namun menyusul klub tersebut sudah tidak aktif atau sudah tidak ada, maka Stadion ini hampir tidak difungsikan lagi untuk waktu yang lama.

Pada tahun 2010, sejak bergulirnya Liga Primer Indonesia, Stadion Dipta kembali difungsikan dan untuk sementara menjadi homebase satu-satunya kesebelasan asal Pulau Dewata yakni Bali Devata FC.

Pada tahun 2014, Stadion Dipta merupakan markas Bali United Pusam yg bermain di kompetisi Indonesia Super League yg sebelumnya tim ini bernama Persisam Putra Samarinda yg bermarkas di Stadion Segiri, kota Samarinda, Kalimantan Timur.

Demografi[sunting | sunting sumber]

Penduduk desa Buruan sampai dengan tahun 2015 berjumlah 6.714 jiwa terdiri dari 3.417 laki-laki dan 3.297 perempuan dengan sex rasio 103.[5]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]