Kabupaten Sumedang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Kabupaten Sumedang
SMANTURA
ᮊᮘᮥᮕᮒᮨᮔ ᮞᮥᮙᮨᮓᮀ
Lambang Kabupaten Sumedang.png
Lambang Kabupaten Sumedang
SMANTURA
ᮊᮘᮥᮕᮒᮨᮔ ᮞᮥᮙᮨᮓᮀ


Moto: Insun Medal



Peta kabupaten sumedang.pngKesalahan pengutipan: Tag <ref> harus ditutup oleh </ref>
Peta lokasi Kabupaten Sumedang
SMANTURA
ᮊᮘᮥᮕᮒᮨᮔ ᮞᮥᮙᮨᮓᮀ di Jawa Barat
Koordinat: 6°51′35″LS,107°55′15″BT
Provinsi Jawa Barat
Dasar hukum Undang - Undang Nomor 14 Tahun 1950
Tanggal peresmian 22 April
Ibu kota Kota Sumedang[1]
Pemerintahan
-Bupati H. Donny Ahmad Munir, S.T., M.M.
-Wakil Bupati H. Erwan Setiawan, S.E.
APBD
-DAU Rp. 1.036.263.413.000.-(2013)[2]
Luas 1.522.21 km2
Populasi
-Total 1.112.153 jiwa (2007)[3]
-Kepadatan 2.130 jiwa/km²
Demografi
-Bahasa Sunda, Indonesia
-Kode area telepon 0261 dan 022 (wilayah Tanjungsari, Jatinangor, Cimanggung dan Sukasari)
Pembagian administratif
-Kecamatan 26
-Kelurahan 270
Simbol khas daerah
Situs web www.sumedangkab.go.id

Kabupaten Sumedang (Sunda: ᮊᮘᮥᮕᮒᮨᮔ᮪ ᮞᮥᮙᮨᮓᮀ, Latin: Kabupaten Sumedang) adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah kecamatan Sumedang Utara, Sumedang,[1] sekitar 45 km Timur Laut Kota Bandung.

Geografi[sunting | sunting sumber]

Kabupaten Sumedang terdiri atas 26 kecamatan, 7 kelurahan, dan 270 desa. Sumedang, ibukota kabupaten ini, terletak sekitar 45 km dari Kota Bandung. Kota ini meliputi kecamatan Sumedang Utara dan Sumedang Selatan. Sumedang dilintasi jalur utama Bandung - Cirebon.

Bagian Barat Daya wilayah Kabupaten Sumedang merupakan kawasan perkembangan Kota Bandung. IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri), sebelumnya bernama STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri), UPI (Universitas Pendidikan Indonesia), ITB (Institut Teknologi Bandung), serta Universitas Padjajaran berlokasi di Kecamatan Jatinangor.

Sebagian besar wilayah Sumedang adalah pegunungan, kecuali di sebagian kecil wilayah Utara berupa dataran rendah. Gunung Tampomas (1.684 mdpl), merupakan dataran tertinggi di kabupaten ini yang berada di utara Sumedang.

Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

Kabupaten ini berbatasan dengan:

Utara Kabupaten Indramayu
Selatan Kabupaten Garut
Barat Kabupaten Subang dan Kabupaten Bandung
Timur Kabupaten Majalengka

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Mahkota Binokasih, Mahkota Kerajaan Pajajaran yang diserahkan kepada Prabu Geusan Ulun disimpan di Museum Prabu Geusan Ulun oleh para Kandaga Lante Kerajaan Pajajaran sebagai legitimasi untuk meneruskan tirah Siliwangi
Keris Panunggul Naga adalah Keris milik Prabu Geusan Ulun yang merupakan raja Kerajaan Sumedang Larang yang terakhir
Keris Naga Sasra yang digunakan oleh Pangeran Kornel (Pangeran Kusumadinata IX) saat bersalaman menggunakan tangan kiri (pertanda adanya perlawanan terhadap kebijakan Belanda dalam pembangunan Jalan Raya Pos dengan Gubernur Jenderal Daendels pada peristiwa Cadas Pangeran

Masa Kerajaan Galuh[sunting | sunting sumber]

Pada mulanya, Kabupaten Sumedang adalah sebuah kerajaan di bawah kekuasaan Raja Galuh. Didirikan oleh Prabu Geusan Ulun Aji Putih atas perintah Prabu Surya Dewata sebelum Keraton Galuh dipindahkan ke Pakuan Pajajaran, Bogor.

Seiring dengan perubahan zaman dan kepemimpinan, nama Sumedang mengalami beberapa perubahan. Pertama, menjadi Kerajaan Tembong Agung (Tembong artinya tampak dan Agung artinya luhur) dipimpin oleh Prabu Guru Aji Putih pada abad ke-12. Kemudian pada masa zaman Prabu Tadjimalela, diganti menjadi Himbar Buana yang berarti menerangi alam, dan kemudian diganti lagi menjadi Kerajaan Sumedang Larang (Sumedang berasal dari kata Insun Medal/Insun Medangan yang berarti aku dilahirkan; aku menerangi dan Larang berarti sesuatu yang tidak ada tandingannya).

Masa Kerajaan Sumedang Larang[sunting | sunting sumber]

Sumedang Larang mengalami masa kejayaan pada waktu dipimpin oleh Pangeran Angkawijaya atau Prabu Geusan Ulun sekitar tahun 1578, dan dikenal luas hingga ke pelosok Jawa Barat dengan daerah kekuasaan meliputi :

Kerajaan ini kemudian menjadi vazal (anak kerajaan) dari Kesultanan Cirebon, dan selanjutnya berada di bawah kendali Kesultanan Mataram, pada masa Sultan Agung. Pada masa Mataram inilah teknik persawahan diperkenalkan di tanah Pasundan dan menjadi awal istilah "gudang beras" untuk daerah antara Indramayu hingga Karawang/Bekasi. Dalam strategi penyerangan Sultan Agung ke Batavia wilayah Sumedang dijadikan wilayah penyedia logistik pangan. Selain itu, aksara Hanacaraka juga diperkenalkan di wilayah Pasundan pada masa ini, dan dikenal sebagai Cacarakan. Pusat kota Sumedang juga dirancang pada masa ini, mengikuti pola dasar kota - kota Mataraman lainnya. Sebelum Bandung dibangun pada abad ke - 19, Sumedang adalah salah satu pusat budaya Pasundan yang penting.

Masa Pendudukan Belanda[sunting | sunting sumber]

Pemandangan dan air terjun di Sumedang (litografi berdasarkan lukisan oleh Abraham Salm, 1865-1872)
Pangeran Aria Soeriaatmadja (Bupati Sumedang pada tahun 1882 – 1919), juga dikenal dengan julukan "Pangeran Mekkah", karena wafat di Makkah

Ketika Pakubuwono I harus memberikan konsesi kepada VOC, wilayah kekuasaan Sumedang diberikan kepada VOC, yang kemudian dipecah-pecah, sehingga wilayah Sumedang menjadi seperti yang dikenal pada masa kemerdekaan Indonesia sekarang.

Sumedang mempunyai ciri khas sebagai kota kuno khas di Pulau Jawa, yaitu terdapat Alun - alun sebagai pusat kota yang dikelilingi Masjid Agung, rumah penjara, dan kantor pemerintahan. Di tengah alun-alun kota terdapat bangunan yang bernama Lingga, tugu peringatan yang dibangun pada tahun 1922. Dibuat oleh Pangeran Siching dari Negeri Belanda dan dipersembahkan untuk Pangeran Aria Suria Atmaja atas jasa - jasanya dalam mengembangkan Kabupaten Sumedang. Lingga diresmikan pada tanggal 22 Juli 1922 oleh Gubernur Jenderal Mr. Dr. Dirk Fock. Sampai saat ini Lingga dijadikan lambang daerah Kabupaten Sumedang dan tanggal 22 April diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Sumedang. Lambang Kabupaten Sumedang, Lingga, diciptakan oleh R. Maharmartanagara, putra seorang Bupati Bandung Rd. Adipati Aria Martanagara, keturunan Sumedang. Lambang ini diresmikan menjadi lambang Sumedang pada tanggal 13 Mei 1959.

Hal-hal yang terkandung pada logo Lingga :

  1. Perisai : Melambangkan jiwa ksatria utama, percaya kepada diri sendiri
  2. Sisi Merah : Melambangkan semangat keberanian
  3. Dasar Hijau : Melambangkan kesuburan pertanian
  4. Bentuk Setengah Bola dan Bentuk Setengah Kubus Pada Lingga : Melambangkan bahwa manusia tidak ada yang sempurna
  5. Sinar Matahari : Melambangkan semangat dalam mencapai kemajuan
  6. Warna Kuning Emas : Melambangkan keluhuran budi dan kebesaran jiwa
  7. Sinar yang ke 17 Angka : Melambangkan Angka Sakti tanggal Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
  8. Delapan Bentuk Pada Lingga : Lambang Bulan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia
  9. 19 Buah Batu Pada Lingga, 4 Buah Kaki Tembik dan 5 Buah Anak Tangga : Lambang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 1945
  10. Tulisan Insun Medal erat kaitannya dengan kata Sumedang yang mengandung arti:
  • Berdasarkan Prabu Tadjimalela, seorang tokoh legendaris dalam sejarah Sumedang, Insun Medal berarti (Insun : Aku, Medal : Keluar).
  • Berdasarkan data di Museum Prabu Geusan Ulun; Insun Medal berarti (Insun: Daya, Madangan: Terang)

Kedua pengertian ini bersifat mistik.

  • Berdasarkan keterangan Prof. Anwas Adiwilaga, Insun Medal berasal dari kata Su dan Medang, (Su: bagus dan Medang: sejenis kayu yang bagus pada Jati, yaitu huru yang banyak tumbuh di Sumedang dulu), dan pengertian ini bersifat etimologi.

Menurut Bujangga Manik, di dekat Gunung Tampomas terdapat Kerajaan Kahiyangan, yang diserang pasukan Cirebon dalam masa pemerintahan Surawisesa.

Belum jelas, adakah hubungan antara Medang Kahiyangan dan Sumedang Larang. Namun pada saat Bujangga Manik memasuki Medang Kahiyangan, menurut versi lainnya, saat itu sudah terdapat kerajaan yang disebut Sumedang Larang.

Dalam Kropak 410 disebutkan, Pendiri Kerajaan Sumedang Larang tak lain adalah Prabu Resi Tadjimalela. Ia berkedudukan di Tembong Agung yang disebut Mandala Himbar Buana.

Masih belum jelas pula asal - usulnya tokoh Legendaris leluhur Sumedang ini. Sebab, Tadjimalela adalah nama lain dari Panji Romahyang, putra Damung Tabela Panji Ronajaya dari Dayeuh Singapura (Rintisan Penelusuran silam sejarah Jawa Barat).

Sumber lain menjelaskan, baik Kitab Waruga Jagat, Layang Darmaraja, maupun riwayat yang berdasarkan tradisi lisan yang masih hidup, disebutkan bahwa Prabu Tadjimalela adalah putra Prabu Guru Aji Putih, salah seorang keturunan raja Galuh yang masih bersaudara dengan Sri Baduga Maharaja. Ia melakukan petualangan hingga ke kawasan Timur sekitar pinggiran Sungai Cimanuk.

Prabu Tadjimalela masih memiliki sejumlah nama, antara lain: Prabu Resi Agung Cakra Buana, Batara Tuntang Buana, dan Aji Putih.

Dalam Waruga Jagat yang telah disalin dari huruf Arab ke dalam tulisan latin (1117 H), antara lain dikatakan: "Ari putrana Sang Dewa Guru Haji Putih, nyaeta Sang Aji Putih."

Kehadiran Prabu Guru Haji Putih melahirkan perubahan baru dalam kemasyarakatan, yang telah dirintis sejak abad ke-8 oleh Sanghyang Resi Agung. Secara perlahan dusun-dusun di sekitar pinggiran sungai Cimanuk itu diikat oleh suatu struktur pemerintahan dan kemasyarakatan hingga berdirilah Kerajaan Tembong Agung yang merupakan cikal bakal Kerajaan Sumedang Larang. Kerajaan Tembong Agung tersebut, menurut riwayat teletak di Kampung Muhara, Desa Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja.

Prabu Guru Haji Putih berputra Prabu Resi Tadjimalela. Berdasarkan perbandingan generasi dalam Kropak 410 Tadjimalela sejajar dengan tokoh Ragamulya (1340 - 1350) penguasa di Kawali dan tokoh Surya Dewata, ayahanda Batara Gunung Bitung di Majalengka.

Memang belum diperoleh keterangan sumber yang menyebut - nyebut siapa gerangan istri Sang Prabu Resi Tadjimalela. Namun, dalam beberapa sumber baik lisan maupun tertulis, dikatakan Prabu Resi Tadjimalela mempunyai dua orang putra: Prabu Gajah Agung dan Lembu Agung.

Tahta kerajaan Sumedang Larang dari Prabu Tadjimalela raja pertama dilanjutkan oleh putranya bernama Atmabrata yang lebih dikenal dengan sebutan Gajah Agung sebagai raja kedua Kerajaan Sumedang Larang yang berkedudukan di Cicanting.

Kisah awal raja ini memang mirip dengan kisah awal Kerajaan Mataram. Menurut versi Babad Tanah Jawi, antara Ki Ageng Sela dengan Ki Ageng Pamanahan, Ki Ageng Sela memetik dan menyimpan buah kelapa muda, lalu ia pergi. Datang Ki Ageng Pamanahan yang kemudian meminumnya. Maka kemudian yang menjadi raja Ki Ageng Pamanahan.

Demikian pula dalam naskah Layang Darmaraja, yang mengisahkan Prabu Lembu Agung dan Gajah Agung yang melanjutkan tahta kepemimpinan dari Prabu Resi Tadjimalela.

Dikisahkan, pada suatu ketika Prabu Tadjimalela memanggil kedua putra kembarnya Lembu Agung dan Gajah Agung. Prabu Tadjimalela berkata kepada mereka agar ada di antara salah seorang putranya ini yang bersedia melanjutkan kepemimpinannya.

"Adinda, adindalah kiranya yang lebih tepat menjadi raja," ujar Lembu Agung kepada adiknya. "Kakanda, sungguh tidak pantas adinda yang masih muda usianya, bila harus menjadi raja. Kakandalah yang lebih tepat," jawab Gajah Agung. Setelah di antara kedua putranya, masing - masing saling menunjuk siapa di antara mereka yang pantas menjadi raja, akhirnya Prabu Resi Tadjimalela memetik buah kelapa muda lalu disimpannya kelapa tadi serta sebilah pedang.

Mereka berdua disuruh menungguinya. "Adinda, tolong jaga kelapa ini. Kakanda hendak pergi ke jamban dulu," kata Lembu Agung seraya pergi meninggalkan Gajah Agung. Tiba - tiba sepeninggal Lembu Agung, Gajah Agung merasakan haus yang bukan kepalang.

Apa boleh buat, untuk menghilangkan dahaganya, Prabu Gajah Agung kemudian mengupas kelapa itu dan diminumlah airnya. Karenanya, ketika Lembu Agung kembali lagi, Gajah Agung langsung menyampaikan permohonan maaf kepada Lembu Agung karena rasa bersalahnya telah meminum air kelapa yang semestinya dijaganya.

Semula Prabu Gajah Agung menyangka, Prabu Lembu Agung akan memarahinya. Namun ternyata, dengan kebesaran jiwa Prabu Lembu Agung malah berkata: "Adinda, tampaknya suratan takdir telah menentukan, dengan diminumnya air kelapa tadi oleh adinda, sudah barang tentu Adindalah yang sekarang terpilih menjadi raja," ucap Lembu Agung.

Singkat cerita, jadilah Prabu Gajah Agung meneruskan kepemimpinan Prabu Tadjimalela, yang kemudian ia meninggalkan tempat menuju daerah di pinggiran Kali Cipeles untuk mendirikan kerajaan yang sekarang disebut Ciguling.

Kemudian ia bergelar Prabu Pagulingan. Sementara kepemimpinan Prabu Gajah Agung kemudian digantikan oleh putranya, Wirajaya, yang lebih dikenal Sunan Pagulingan sebagai raja ketiga Kerajaan Sumedang Larang. Dalam Rintisan Penelusuran Masa Silam Sejarah Jawa Barat, Sunan Pagulingan berkedudukan di Cipameungpeuk.

Namun ada pula yang mengisahkan, kedudukan Kerajaan Sumedang Larang pada saat itu berada di Ciguling, Kelurahan Pasanggrahan, Kecamatan Sumedang Selatan.

Yang jelas, ketiga raja Sumedang Larang yang pertama ini masing - masing berkedudukan di tempat yang berbeda - beda. Ini merupakan suatu gejala, bahwa kerajaan tersebut belum permanen yang dapat ditinggali turun temurun oleh para penerus pemegang kekuasaannya. Keadaan tersebut berlangsung sampai beberapa generasi berikutnya.

Putri Sulung Pagulingan bernama Ratu Ratnasih alias Nyi Mas Rajamantri diperistri Sri Baduga Maharaja. Karena itu, adiknya bernama Martalaya menggantikan kedudukan ayahnya menjadi penguasa Kerajaan Sumedang Larang yang keempat dengan gelar Sunan Guling.

Sunan Guling digantikan oleh putranya bernama Tirtakusumah atau Sunan Patuakan sebagai raja kelima Kerajaan Sumedang Larang. Kemudian, ia digantikan lagi oleh putri sulung bernama Sintawati alias Nyi Mas Patuakan sebagai raja keenam Sumedang Larang.

Antara Ibu dan anak ini mempunyai gelar yang sama, yaitu Patuakan.

Ratu Sintawati berjodoh dengan Sunan Corenda, raja Talaga. Putra Ratu Simbar Kencana dari Kusumalaya, putra Dewa Niskala. Dengan demikian, ia menjadi cucu menantu penguasa Galuh.

Sunan Corenda mempunyai dua permaisuri, yakni Mayangsari putri Langlangbuana dari Kuningan dan Sintawati dari Sumedang.

Dari Mayangsari, Sunan Corenda memperoleh putri Bernama Ratu Wulansari alias Ratu Parung. Ratu Parung berjodoh dengan Rangga Mantri alias Sunan Parung Gangsa (Pucuk Umum Talaga), putra Munding Surya Ageung. Tokoh ini putra Sri Baduga. Sunan Parung Gangsa ditaklukkan oleh Cirebon tahun 1530 dan masuk Islam.

Dari Sintawati putri sulung Sunan Guling, Sunan Corenda mempunyai putri bernama Setyasih, yang kemudian menjadi penguasa ketujuh Kerajaan Sumedang Larang dengan gelar Ratu Pucuk Umum. Ratu Pucuk Umum Menikah dengan Ki Gedeng Sumedang yang lebih dikenal dengan nama Pangeran Santri. Pangeran ini adalah putra Pangeran Pamelakaran dari putri Sindangkasih. Pangeran Pamelekaran putra Maulana Abdurrahman alias Pangeran Panjunan putra Syekh Datuk Kahfi.

Dengan perkawinan antara Ratu Setyasih dan Ki Gedeng Sumedang inilah agama Islam mulai menyebar di Sumedang pada tahun 1529.

Pangeran Santri dinobatkan sebagai penguasa kedelapan Kerajaan Sumedang Larang pada tanggal 13 bagian gelap bulan Asuji tahun 1452 Saka, atau kira - kira 21 Oktober 1530 M, tiga bulan setelah penobatan Pangeran Santri.

Pada tanggal 12 bagian terang bulan Margasira tahun 1452 di Keraton Pakungwati diselenggarakan perjamuan "syukuran" untuk merayakan kemenangan Cirebon atas Galuh dan sekaligus pula merayakan penobatan Pangeran Santri.

Hal ini menunjukkan, bahwa Sumedang Larang telah masuk dalam lingkaran pengaruh Cirebon. Pangeran Santri adalah murid Susuhunan Jati. Pangeran Santri sebagai penguasa Sumedang pertama yang menganut Islam. Ia pula yang membangun Kutamaya sebagai Ibukota baru untuk pemerintahannya.

Dari perkawinannya dengan Ratu Pucuk Umum alias Ratu Inten Dewata, Pangeran Santri yang bergelar Pangeran Kusumahdinata I ini dikaruniai enam orang anak, yaitu :

  • Pangeran Angkawijaya (Prabu Geusan Ulun)
  • Kiyai Rangga Haji
  • Kiyai Demang Watang Walakung
  • Santowaan Wirakusumah
  • Santowaan Cikeruh
  • Santowaan Awiluar

Yang melahirkan keturunan anak - cucu di Kecamatan Pagaden

Pangeran Santri wafat 2 Oktober 1579. Di antara putra - putri Pangeran Santri dari Ratu Inten Dewata (Pucuk Umum), yang melanjutkan pemerintahan di Sumedang Larang ialah Pangeran Angkawijaya bergelar Prabu Geusan Ulun sebagai raja kesembilan. Menurut Babad, daerah kekuasaan Geusan Ulun dibatasi :

  • kali Cipamali di sebelah Timur,
  • Kali Cisadane di sebelah Barat, sedangkan
  • di sebelah Selatan dan Utara dibatasi laut.

Daerah kekuasaan Geusan Ulun dapat disimak dari isi surat Rangga Gempol III yang dikirimkan kepada Gubernur Jenderal Willem Van Outhoorn. Surat ini dibuat hari Senin, 2 Rabi'ul Awal tahun Je atau 4 Desember 1690, yang dimuat dalam buku harian VOC di Batavia tanggal 31 Januari 1691.

Dalam surat tadi, Rangga Gempol III (Pangeran Panembahan Kusumahdinata VI) menuntut agar kekuasannya dipulihkan kembali seperti kekuasaan buyutnya, yaitu Geusan Ulun. Rangga Gempol III mengungkapkan bahwa kekuasaan Geusan Ulun meliputi 44 penguasa daerah Parahyangan yang terdiri dari 26 Kandaga Lante dan 18 umbul.

  • Kabupaten Bandung, dipimpin oleh Ki Astamanggala Umbul Cihaurbeuti, gelar Tumenggung Wirangun - Angun
  • Kabupaten Parakanmuncang, dipimpin oleh Ki Somahita Umbul Sindangkasih, gelar Tumenggung Tanubaya.
  • Kabupaten Sukapura, dipimpin oleh Ki Wirawangsa Umbul Sukakerta, gelar Tumenggung Wiradegdaha (R. Wirawangsa)

Ke - 44 daerah di bawah kekuasaan Geusan Ulun meliputi :

I. Di Kabupaten Bandung

  1. Timbanganten
  2. Batulayang
  3. Kahuripan
  4. Tarogong
  5. Curugagung
  6. Ukur
  7. Marunjung
  8. Daerah Ngabei Astramanggala

II. Di Kabupaten Parakanmuncang

  1. Selacau
  2. Daerah Ngabei Cucuk
  3. Manabaya
  4. Kadungora
  5. Kandangwesi (Bungbulang)
  6. Galunggung (Singaparna)
  7. Sindangkasih
  8. Cihaur
  9. Taraju

III. Di Kabupaten Sukapura

  1. Karang
  2. Parung
  3. Panembong
  4. Batuwangi
  5. Saung Watang (Mangunreja)
  6. Daerah Ngabei Indawangsa di Taraju
  7. Suci
  8. Cipiniha
  9. Mandala
  10. Nagara (Pameungpeuk)
  11. Cidamar
  12. Parakan Tiga
  13. Muara
  14. Cisalak
  15. Sukakerta

Berdasarkan data yang dikirimkan Rangga Gempol III pada masa VOC, maka kekuasaan Prabu Geusan Ulun meliputi Sumedang, Garut, Tasikmalaya, dan Bandung.

  • Batas di sebelah Timur adalah Garis Cimanuk - Cilutung ditambah Sindangkasih (daerah muara Cideres ke Cilutung).
  • Di sebelah Barat garis Citarum - Cisokan.
  • Batas di sebelah Selatan laut.
  • Namun di sebelah Utara diperkirakan tidak meliputi wilayahnya karena telah dikuasai oleh Cirebon.

Masa kekuasaan Prabu Geusan Ulun (1578 - 1601) bertepatan dengan runtuhnya Kerajaan Pajajaran akibat serangan Banten di bawah Sultan Maulana Yusuf.

Sebelum Prabu Siliwangi meninggalkan Pajajaran mengutus empat Kandaga Lante untuk menyerahkan Mahkota serta menyampaikan amanat untuk Prabu Geusan Ulun yang pada dasarnya Kerajaan Sumedang Larang supaya melanjutkan kekuasaan Pajajaran. Geusan Ulun harus menjadi penerus Pajajaran.

Dalam Pustaka Kertabhumi I/2 yang berbunyi : "Ghesan Ulun nyakrawartti mandala ning Pajajaran kangwus pralaya, ya ta sirna, ing bhumi Parahyangan. Ikang kedatwan ratu Sumedang haneng Kutamaya ri Sumedang mandala" (Geusan Ulun memerintah wilayah Pajajaran yang telah runtuh, yaitu sirna, di bumi Parahyangan. Keraton raja Sumedang ini terletak di Kutamaya dalam daerah Sumedang), selanjutnya diberitakan "Rakyan Samanteng Parahyangan mangastungkara ring sira Pangeran Ghesan Ulun" (Para penguasa lain di Parahiyangan merestui Pangeran Geusan Ulun).

Keempat orang bersaudara, senapati dan pembesar Pajajaran yang diutus ke Sumedang tersebut, yaitu :

  • Jaya Perkosa (Sanghyang Hawu);
  • Wiradijaya (Nangganan);
  • Kondang Hapa; dan
  • Pancar Buana (Embah Terong Peot).

Dalam Pustaka Kertabhumi I/2 menceritakan keempat bersaudara itu : "Sira paniwi dening Prabu Ghesan Ulun, Rikung sira rumaksa wadyabala, sinangguhan niti kaprabhun mwang salwirnya" (Mereka mengabdi kepada Prabu Geusan Ulun. Di sana mereka membina bala tentara, ditugasi mengatur pemerintahan dan lain - lain), sehingga penobatan Prabu Geusan Ulun sebagai nalendra penerus Kerajaan Sunda Pajajaran dan Raja Sumedang Larang ke - 9 mendapat restu dari 44 penguasa daerah Parahyangan yang terdiri dari 26 Kandaga Lante, Kandaga Lante adalah semacam kepala yang satu tingkat lebih tinggi daripada cutak (camat) dan 18 umbul dengan cacah sebanyak ± 9000 umpi, untuk menjadi nalendra baru pengganti penguasa Pajajaran yang telah sirna. Pemberian pusaka Pajajaran pada tanggal 22 April 1578 akhirnya ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Sumedang.

Jaya Perkosa adalah bekas senapati Pajajaran, sedangkan Batara Wiradijaya sesuai julukannya bekas Nangganan. Menurut Kropak 630, jabatan Nangganan lebih tinggi setingkat dari menteri, namun setingkat lebih rendah dari Mangkubumi.

Di samping itu, menurut tradisi hari pasaran Legi (Manis), merupakan saat baik untuk memulainya suatu upaya besar dan sangat penting. Peristiwa itu dianggap sangat penting karena pengukuhan Geusan Ulun sebagai "nyakrawartti" atau nalendra merupakan semacam proklamasi kebebasan Sumedang yang mensejajarkan diri dengan Kerajaan Banten dan Kerajaan Cirebon. Arti penting lain yang terkandung dalam peristiwa itu adalah pernyataan bahwa Sumedang Larang menjadi ahli waris serta penerus yang sah dari kekuasaan Kerajaan Pajajaran, di bumi Parahyangan.

Mahkota dan beberapa atribut kerajaan yang dibawa oleh senapati Jaya Perkosa dan diserahkan kepada Prabu Geusan Ulun merupakan bukti legalisasi kebesaran Sumedang Larang, sama halnya dengan pusaka Majapahit menjadi ciri keabsahan Demak, Pajang, dan Mataram.

Berdasarkan bukti sejarah, baik yang tertulis maupun babad atau cerita rakyat, maka penetapan Hari Jadi Sumedang ditetapkan berdasarkan pertimbangan sejarah.

Serangan laskar gabungan Banten, Pakungwati, Demak, dan Angke pada abad XVI ke Pajajaran, merupakan peristiwa yang membuat Kerajaan Pajajaran runtag (runtuh).

Berakhirnya Pajajaran pada waktu itu, tidak menyeret Sumedang Larang dibawah kepemimpinan Pangeran Santri ikut runtuh pula. Soalnya, sebagian rakyat Sumedang Larang pada itu sudah memeluk Agama Islam. Justru dengan berakhirnya masa kekuasaan Pajajaran, Sumedang Larang kian berkembang.

Penetapan Hari Jadi[sunting | sunting sumber]

Penetapan Hari Jadi Kabupaten Sumedang erat kaitannya dengan peristiwa di atas. Terdapat tiga sumber yang dijadikan pegangan dalam menentukan Hari Jadi Kabupaten Sumedang:

  • Pertama : Kitab Waruga Jagat, yang disusun Mas Ngabehi Perana tahun 1117 H. Kendati tak begitu lengkap isinya, namun sangat membantu dalam upaya mencari tanggal tepat untuk dijadikan pegangan atau penentuan Hari Jadi Sumedang. "Pajajaran Merad Kang Merad Ing Dina Selasa Ping 14 Wulan Syafar Tahun Jim Akhir," artinya: Kerajaan Pajajaran runtuh pada 14 Syafar tahun Jim Akhir.
  • Kedua : Buku Rucatan Sejarah yang disusun Dr. R. Asikin Widjaya Kusumah yang menyertakan antara lain: "Pangeran Geusan Ulun Jumeneng Nalendra (harita teu kabawa kasasaha) di Sumedang Larang sabada burak Pajajaran," artinya: Pangeran Geusan Ulun menjadi raja yang berdaulat di Sumedang Larang setelah Kerajaan Pajajaran berakhir.
  • Tiga : Dibuat Prof. Dr. Husein Djajadiningrat berjudul: Critise Beshuocing van de Sejarah Banten. Desertasi ini antara lain menyebutkan serangan tentara Islam ke Ibukota Pajajaran terjadi pada tahun 1579, tepatnya Ahad 1 Muharam tahun Alif.

Mengacu pada ketiga sumber di atas, maka dalam diskusi untuk menentukan Hari Jadi Sumedang yang dihadiri para sejarawan masing - masing Drs. Said Raksa Kusumah; Drs. Amir Sutaarga; Drs. Saleh Dana Sasmita; Dr. Atja dan Drs. A Gurfani, berhasil menyimpulkan bahwa 14 Syafar Tahun Jim Akhir itu jatuh pada tahun 1578 Masehi, bukan tahun 1579, tepatnya 22 April 1578.

Atas dasar itu DPRD Daerah Tingkat II Sumedang waktu itu, dalam Keputusan Nomor 1/Kprs/DPRD/Smd/1973, Tanggal 8 Oktober 1973, menetapkan tanggal 22 April 1578 sebagai Hari Jadi Kabupaten Sumedang.

Litografi berdasarkan lukisan oleh Josias Cornelis Rappard yang menggambarkan kediaman assistent - resident Belanda di Sumedang pada tahun 1880 - an

Pemerintahan[sunting | sunting sumber]

Daftar Bupati[sunting | sunting sumber]

No. Foto Nama Bupati Mulai Menjabat Akhir Menjabat Wakil Bupati Keterangan Ref.
1 Masa Kerajaan Sumedang Larang
1 Prabu Guru Aji Putih 900
2 Prabu Agung Resi Cakrabuana / Prabu Taji Malela 950
3 Prabu Gajah Agung 980
4 Sunan Guling 1000
5 Sunan Tuakan 1200
6 Nyi Mas Ratu Patuakan 1450
7 Ratu Pucuk Umun / Nyi Mas Ratu Dewi Inten Dewata 1530 1578
8 Pangeran Kusumahdinata I (Pangeran Santri) 1530 1578
9 Prabu Geusan Ulun / Pangeran Angkawijaya 1578 1601
2 Nama Bupati Wedana, Masa Pemerintahan Mataram II
10 R. Suriadiwangsa / Pangeran Rangga Gempol I 1601 1625
11 Pangeran Rangga Gede 1625 1633
12 Pangeran Rangga Gempol II 1633 1656
13 Pangeran Panembahan / Pangeran Rangga Gempol III 1656 1706
3 Nama Bupati Wedana, Masa Pemerintahan VOC, Inggris, Belanda dan Jepang
14 Dalem Tumenggung Tanumaja 1706 1709
15 Pangeran Karuhun 1709 1744
16 Dalem Istri Rajaningrat 1744 1759
17 Dalem Anom 1759 1761
18 Dalem Adipati Surianagara 1761 1765
19 Dalem Adipati Surialaga 1765 1773
20 Dalem Adipati Tanubaja (Parakan Muncang) 1773 1775
21 Dalem Adipati Patrakusumah (Parakan Muncang) 1775 1789
22 Dalem Aria Sacapati 1789 1791
23 Pangeran Kornel / Pangeran Kusumahdinata 1791 1800
24 Bupati Republik Batavia Nederland 1800 1810
25 Bupati Kerajaan Nederland, dibawah Lodewijk, Adik Napoleon Bonaparte 1805 1810
26 Bupati Kerajaan Nederland, dibawah Kaisar Napoleon Bonaparte 1810 1811
27 Bupati Masa Pemerintahan Inggris 1811 1815
28 Bupati Kerajaan Nederland 1815 1828
29 Dalem Adipati Kusumahyuda / Dalem Ageung 1828 1833
30 Dalem Adipati Kusumahdinata / Dalem Alit 1833 1834
31 Dalem Tumenggung Suriadilaga / Dalem Sindangraja 1834 1836
32 Pangeran Suria Kusumah Adinata / Pangeran Soegih 1836 1882
33 Pangeran Aria Suria Atmaja / Pangeran Mekkah 1882 1919
34 Dalem Adipati Aria Kusumahdilaga / Dalem Bintang 1919 1937
35 Dalem Tumenggung Aria Suria Kusumah Adinata / Dalem Aria Sumantri 1937 1942
36 Bupati Masa Pemerintahan Jepang 1942 1945
37 Bupati Masa Peralihan Republik Indonesia 1945 1946
4 Bupati Masa Pemerintahan Republik Indonesia
38 Raden Hasan Suria Sacakusumah 1946 1947
5 Bupati Masa Pemerintahan Belanda / Indonesia
39 Raden Tumenggung M. Singer 1947 1949
6 Bupati Masa Pemerintahan Negara Pasundan
40 Raden Hasan Suria Sacakusumah 1949 1950
7 Bupati Masa Pemerintahan Republik Indonesia
* Radi (Sentral Organisasi Buruh Republik Indonesia) 1950
41 Raden Abdurachman Kartadipura 1950 1951
42 Sulaeman Suwita Kusumah 1951 1958
43 Antan Sastradipura 1958 1960
44 Muhammad Hafil 1960 1966
45 Adang Kartaman 1966 1970
46 Drs. Supian Iskandar 1970 1972
47 Drs. Supian Iskandar 1972 1977
48 Drs. Kustandi Abdurahman 1977 1983
49 Drs. Sutarja 1983 1988
50 Drs. Sutarja 1988 1993
51 Drs. H. Moch. Husein Jachja Saputra 1993 1998
52 Drs. H. Misbach 1998 2003
53 H. Don Murdono,SH. Msi 2003 2013
54 Drs. H. Endang Sukandar, M.Si 2013 2 November 2013 Wafat saat menjabat Bupati.
55 Drs. H. Ade Irawan, M.Si 2013 28 Maret 2016 (Dilantik Januari 2014)

Diberhentikan tanggal 28 Maret 2016 karena korupsi DPRD Cimahi

56 Ir. H. Eka Setiawan, Dipl., S.E., M.M. 28 Maret 2016 20 September 2018
57 H. Dony Ahmad Munir, S.T., M.M. 20 September 2018

Dewan Perwakilan[sunting | sunting sumber]

Kecamatan[sunting | sunting sumber]

Pusat pemerintahan Kabupaten Sumedang berada di Kecamatan Sumedang Selatan. Kabupaten Sumedang terbagi atas 26 kecamatan, 7 kelurahan, dan 270 desa.[4] Yakni :

  1. Kecamatan Buahdua
  2. Kecamatan Cibugel
  3. Kecamatan Cimalaka
  4. Kecamatan Cimanggung
  5. Kecamatan Cisarua
  6. Kecamatan Cisitu
  7. Kecamatan Conggeang
  8. Kecamatan Darmaraja
  9. Kecamatan Ganeas
  10. Kecamatan Jatigede
  11. Kecamatan Jatinangor
  12. Kecamatan Jatinunggal
  13. Kecamatan Pamulihan
  14. Kecamatan Paseh
  15. Kecamatan Rancakalong
  16. Kecamatan Situraja
  17. Kecamatan Sukasari
  18. Kecamatan Sumedang Selatan
  19. Kecamatan Sumedang Utara
  20. Kecamatan Surian
  21. Kecamatan Tanjungkerta
  22. Kecamatan Tanjungmedar
  23. Kecamatan Tanjungsari
  24. Kecamatan Tomo
  25. Kecamatan Ujung Jaya
  26. Kecamatan Wado

Transportasi Darat[sunting | sunting sumber]

  1. Bus Jaya Kusuma, Jurusan Depok - Sumedang via Tol Purbaleunyi
  2. Elf Buhe Jaya/Rukun Wargi, Jurusan Bandung - Cikijing (lewat Sumedang) dari Terminal Leuwi Panjang
  3. Elf Jurusan Bandung - Cirebon (lewat Sumedang) dari Terminal Cicaheum
  4. Bus Medal Sekarwangi (MS), Jurusan Sumedang - Jakarta Terminal Kampung Rambutan

Lihat Pula[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Pranala luar[sunting | sunting sumber]