Jatinangor, Sumedang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Jump to navigation Jump to search
Jatinangor
Kecamatan
Negara  Indonesia
Provinsi Jawa Barat
Kabupaten Sumedang
Pemerintahan
 • Camat Syarif Effendi Badar[1][2]
Luas 262.0 km²[3]
Jumlah penduduk 113,913 (2017)[4]
Kepadatan 981.72 jiwa/km² (2017)[5]
Desa/kelurahan 12 Kelurahan/Desa[6]

Jatinangor adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.

Sejarah[sunting | sunting sumber]

Jatinangor sekitar tahun 1885.

Pada masa penjajahan, Jatinangor merupakan kawasan perkebunan teh dan pohon karet yang dikuasai oleh perusahaan swasta milik Belanda, Maatschappij tot Exploitatie der Baud-Landen yang berdiri tahun 1841, dengan luas saat itu mencapai 962 hektar, membentang dari tanah—yang saat ini merupakan kawasan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) hingga Gunung Manglayang. Perusahaan tersebut dimiliki oleh seorang pria berkebangsaan Jerman, bernama Willem Abraham Baud (1816–1879) atau lebih terkenal di masyarakat dengan sebutan Baron Baud.[7] Untuk mengontrol perkebunannya yang luas, Baron Baud membangun sebuah menara. Menara ini dilengkapi dengan sebuah lonceng yang terletak di puncak menara dan tangga untuk sampai ke puncaknya. Menara ini kemudian dikenal sebagai Menara Loji.[8]

Untuk memperlancar transportasi hasil perkebunan tersebut, pada tahun 1916 dibangun jalur rel kereta api yang menghubungkan Rancaekek ke Tanjungsari dalam program proyek rel kereta api Rancaekek-Tanjungsari-Citali sepanjang 15 km, sesuai Koninklijke Besluit (Peraturan Negara) tanggal 4 Januari 1916 serta Lembaran Negara Nomor 36.[9] Awalnya hanya akan dibangun rel kereta api Rancaekek-Jatinangor saja sepanjang 5,25 km untuk keperluan mengangkut hasil perkebunan Jatinangor saja. Atas permintaan pihak militer rel kereta api itu agar digunakan untuk keperluan angkutan umum juga, maka diperpanjanglah jalur rel tersebut hingga ke Tanjungsari dan Citali sepanjang 11,5 km.[10] Tetapi kemudian rel kereta api hingga Citali ditangguhkan karena kekurangan biaya dan peralatan untuk menembus alam di sana sehingga rel kereta api itu hanya sampai Stasiun Tanjungsari.[11] Jalur kereta api tersebut dioperasikan pada 13 Februari 1921.

Kemudian, pada tahun 1918, Staat Spoorwagen Verenidge Spoorwegbedrijf, sebuah perusahaan kereta api milik Belanda membangun sebuah jembatan rel kereta penghubung Rancaekek-Tanjungsari yang disebut sebagai Jembatan Cikuda atau yang lebih dikenal sebagai Jembatan Cincin.[12] Jembatan ini dilewati oleh kereta api yang menunjang lancarnya perkebunan karet dan transportasi masyarakat.[13]

Jembatan Cikuda tahun 1924.

Memasuki masa kemerdekaan Indonesia, tanah perkebunan karet Jatinangor tersebut dinasionalisasikan, dan menjadi milik Pemerintah Daerah (Pemda) Sumedang. Sayangnya, Pemda tidak melakukan penjagaan yang baik terhadap situs ini. Pada tahun 1980, lonceng Menara Loji dicuri. Hingga kini, kasus pencurian ini belum terselesaikan.[14]

Pada tahun 1990, area perkebunan dialihfungsikan menjadi kawasan pendidikan dengan dibangunnya empat perguruan tinggi, yakni Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Institut Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin), Universitas Padjadjaran dan Universitas Winaya Mukti.[15] Nama Jatinangor sebagai nama kecamatan baru dipakai sejak tahun 2000-an.[16] Seiring dengan hadirnya kampus-kampus tersebut, Jatinangor juga mengalami perkembangan fisik dan sosial yang pesat. Sebagaimana halnya yang menimpa lahan pertanian lain di Pulau Jawa, banyak lahan pertanian di Jatinangor yang berubah fungsi menjadi rumah sewa untuk mahasiswa ataupun pusat perbelanjaan.[17][18] Institut Teknologi Bandung kemudian membangun kampusnya di kawasan ini pada tahun 2010.[19]

Pada tahun 2015, Kecamatan Jatinangor menjadi salah satu wilayah yang ditetapkan sebagai kawasan kota metropolitan Bandung Raya.[20] Penetapan Jatinangor menjadi kawasan kota metropolitan di Bandung Raya tersebut, telah tertuang dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) di pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten.[21]

Geografi dan administrasi[sunting | sunting sumber]

Batas-batas wilayah[sunting | sunting sumber]

Dengan luas wilayah 262 km²,[3] Kecamatan Jatinangor terletak di koordinat antara 6°53'43,3"–6°57'41" LS dan 107°45'8,5"–107°48'11" BT.

Kecamatan Jatinangor memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut:[22]

Utara Kecamatan Sukasari dan Tanjungsari
Selatan Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung
Barat Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung.
Timur Kecamatan Tanjungsari dan Cimanggung.

Pembagian administratif[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Jatinangor terbagi atas 12 desa/kelurahan. Desa Cilayung merupakan kelurahan dengan luas wilayah terbesar, sedangkan Desa Mekargalih memiliki wilayah terkecil.[3]

No Nama Desa/Kelurahan Luas Wilayah[3]
1 Cibeusi 18,4 km²
2 Cikeruh 21,3 km²
3 Cilayung 34,8 km²
4 Cileles 32,0 km²
5 Cinta Mulya 13,4 km²
6 Cipacing 17,9 km²
7 Cisempur 16,0 km²
8 Hegarmanah 33,1 km²
9 Jatimukti 19,0 km²
10 Jatiroke 20,9 km²
11 Mekargalih 12,0 km²
12 Sayang 23,2 km²

Galeri[sunting | sunting sumber]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Nurman, Iman (28 Juli 2017). "Syarif Effendi Jabat Camat Jatinangor". Sumedang Ekspres. Diakses tanggal 30 Juli 2017. 
  2. ^ "Camat Jatinangor Hari ini Lantik 2 Pjs Kepala Desa". El Jabar. 14 September 2018. Diakses tanggal 15 September 2018. 
  3. ^ a b c d BPS 2018, hlm. 3.
  4. ^ BPS 2018, hlm. 11.
  5. ^ BPS 2018, hlm. 12.
  6. ^ BPS 2018, hlm. 1.
  7. ^ "Sejarah Jatinangor". Himpunan Mahasiswa Sastra Prancis Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran. 23 September 2014. Diakses tanggal 25 September 2014. 
  8. ^ "Menara Loji: Saksi Sejarah Jatinangor yang Terabaikan". Jatinangorku. 28 Maret 2012. Diakses tanggal 29 Maret 2012. 
  9. ^ Abdullah, Azis (12 Juni 2017). "Sejarah Jalur Kereta Api di Jatinangor, Dibangun Untuk Kebutuhan Militer". Kabar Priangan. Diakses tanggal 15 Juli 2017. 
  10. ^ ANRI 1976, hlm. 71.
  11. ^ ANRI 1976, hlm. 105.
  12. ^ Baihaqi, Hakim (18 September 2018). Tarsisius Sutomonaio, ed. "Jembatan Cikuda, Jalur Kereta Api Nonaktif yang Kerap Dipakai untuk Pesta Minuman Keras". Tribun Jabar. Diakses tanggal 19 September 2018. 
  13. ^ Wibowo, Wasis (14 Juli 2017). "Jembatan Cincin dan Menara Loji, Sisa Kejayaan Perkebunan di Jatinangor". Sindonews.com. Diakses tanggal 15 Juli 2017. 
  14. ^ Fricylia, Pamela (22 Januari 2014). Darajat Arianto, ed. "ITB Cari Lonceng Pengganti hingga ke Belanda". Tribun Jabar. Diakses tanggal 23 Januari 2014. 
  15. ^ Rizky, Miradin Syahbana (14 Oktober 2015). "Jatinangor Belum Menjadi Kawasan Pendidikan Ideal". Pikiran Rakyat. Diakses tanggal 15 Oktober 2015. 
  16. ^ "HUT Jatinangor ke-18, kupas Sejarah Tokoh dan Seni Budaya Lokal". Radio Republik Indonesia. 12 Maret 2018. Diakses tanggal 13 Maret 2018. 
  17. ^ "Pembangunan di Jatinangor Alami Peningkatan Cukup Signifikan". Kabar Sumedang. 5 Januari 2015. Diakses tanggal 6 Januari 2015. 
  18. ^ "Pembangunan Jatinangor Abaikan Tata Ruang". Jatinangorku. 26 Maret 2014. Diakses tanggal 27 Maret 2014. 
  19. ^ "Sejarah Kampus ITB Jatinangor". Direktorat Eksekutif ITB Jatinangor. Diakses tanggal 27 Maret 2018. 
  20. ^ Saputra, Ragil Wisnu (10 Januari 2016). Dicky Fadiar Djuhud, ed. "Jatinangor Ditetapkan Sebagai Kota Metropolitan di Bandung Raya". Tribun Jabar. Diakses tanggal 12 Januari 2016. 
  21. ^ Jukardi, Adang (25 Desember 2015). "Lima Kecamatan di Sumedang, Masuk RTRW Pusat dan Provinsi". Pikiran Rakyat. Diakses tanggal 28 Desember 2015. 
  22. ^ BPS 2018, hlm. 7.

Bacaan lebih lanjut[sunting | sunting sumber]

  • ANRI (1976), Memori van Overgave, 1921-1930, West Java [Memori Serah Jabatan, 1921-1930, Jawa Barat], Jakarta: Arsip Nasional Republik Indonesia, OCLC 5855839 
  • Bervoets, J. A. A. (1990), Inventaris van het archief van de Maatschappij tot Exploitatie der Baud-Landen 1920-1944, Den Haag: Nationaal Archief 
  • BPS (2018), Kecamatan Jatinangor Dalam Angka 2018, Sumedang: Badan Pusat Statistik Kabupaten Sumedang 
  • Fasseur, Cornelis (1994), The Politics of Colonial Exploitation : Java, the Dutch, and the Cultivation System, Ithaca, NY: Southeast Asia Program Publications – Cornell University Press, ISBN 978-0877277071 
  • Silitonga, P. H. (1993), Peta Geologi Lembar Bandung, Djawa, Bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, OCLC 1038279594 
  • Tia & Aci (September 2004), "Saksi sejarah nan Terabaikan", dJatinangor (edisi ke-XIV, tahun VII), Jatinangor: Lembaga Penerbitan Pers Mahasiswa dJatinangor Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, hlm. 15