Jatigede, Sumedang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Lompat ke: navigasi, cari
Jatigede
Kecamatan
Negara  Indonesia
Provinsi Jawa Barat
Kabupaten Sumedang
Pemerintahan
 • Camat Yaya Soetarya Oo Karpia, SE[butuh rujukan]
Luas 93,633 km²
Jumlah penduduk 24.361 jiwa
Desa/kelurahan 12 desa
Acil Bimbo menolak penggenangan Jatigede yang merupakan salah satu kawasan leluhur peradaban Sunda di bekas wilayah Kerajaan Tembong Agung dan Kerajaan Sumedang Larang
Ully Sigar Rusady, budayawan Tatar Pasundan yang aktif dalam kesenian kontemporer ini tidak melupakan akar kebudayaan leluhurnya dan turut peduli dalam memperhatikan pembangunan di Jatigede. [note 1]
Masyarakat pro-ekologi-budaya-sejarah-sosial di Tatar Pasundan memprotes kelayakan proyek Bendungan atau Waduk Jatigede, setidaknya lebih dari 11.000 warga Jatigede yang terdampak harus menjalani fase kehidupan baru dari kultur agraris dan terpencar menjadi masyarakat urban di wilayah hunian baru

Jatigede adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Sumedang, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.

Keadaan Wilayah[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Jatigede adalah perwujudan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Sumedang Nomor 51 Tahun 2000, tanggal 29 Desember 2000. Nama lama untuk kecamatan ini adalah Kecamatan Cadasngampar.

Dengan keluarnya Surat Keputusan Bupati Sumedang Nomor: 61 Tahun 2001, tanggal 24 Februari 2001, tentang Penetapan Desa/Kelurahan dalam wilayah kecamatan di Kabupaten Sumedang, cakupan wilayah Kecamatan Jatigede mengalami perubahan antara lain dengan masuknya Desa Karedok dari Kecamatan Tomo dan lepasnya Desa Cimanintin yang masuk ke wilayah Kecamatan Jatinunggal.

Penggunaan Lahan[sunting | sunting sumber]

Kecamatan Jatigede mempunyai luas wilayah ± 93,633 km² / 9.366,3 ha, yang terdiri dari 7.901,3 ha tanah darat dan 1.435 ha tanah sawah.

Perincian Lahan Menurut Penggunaannya[sunting | sunting sumber]

  • Pesawahan : Sawah teknis irigasi sederhana seluas : 90 ha, Sawah ½ teknis seluas : 259 ha, Sawah tadah hujan seluas : 1.086 ha
  • Perumahan/pekarangan seluas : 173,10 ha
  • Ladang, kebun, huma seluas : 415,5 ha
  • Hutan Negara seluas : 6.250,7 ha
  • Pengangonan seluas : 667 ha
  • Pemakaian lain - lain seluas : 425 ha

Pembebasan Lahan[sunting | sunting sumber]

Dalam kaitannya dengan rencana Proyek Jatigede (yaitu proyek Pembangunan Bendungan Jatigede), luas wilayah yang terkena proyek dan telah dibebaskan pada tahun 1984/1985 seluas: 1.766,06 ha, yang meliputi 6 desa : Desa Cijeungjing, Desa Jemah, Desa Sukakersa, Desa Mekarasih, Desa Ciranggem, dan Desa Kadujaya. [1] [note 2]

Perincian penggunaannya sebagai berikut:

  • Daerah genangan : 1.711,11 ha (Desa Cijeungjing, Desa Jemah, Desa Sukakersa, Desa Ciranggem dan Desa Mekarasih)
  • Acces Road : 13,17 ha (Desa Cijeungjing)
  • Home Road : 2,43 ha (Desa Cijeungjing dan Desa Kadujaya)
  • Base Camp : 8,73 ha (Desa Cijeungjing)
  • Borrow Area : 21,80 ha (Desa Cijeungjing dan Desa Kadujaya)
  • Power Station Acces : 8,82 ha

Batas Wilayah[sunting | sunting sumber]

utara Kecamatan Tomo
selatan Kecamatan Jatinunggal dan Kecamatan Wado
barat Kecamatan Darmaraja dan Kecamatan Situraja
timur Kecamatan Jatinunggal dan Kabupaten Majalengka

Catatan[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Tidak itu Ully tak segan menyuarakan aspirasi suara masyarakat yang dipandangnya bertentangan dengan nurani. Penolakannya bersama elemen pro-lingkungan dan bersama masyarakat Tatar Pasundan terhadap penggenangan Proyek Waduk Jatigede yang telah dirintis sejak era Sukarno. Masyarakat Tatar Pasundan memandang Jatigede menyisakan persoalan yang kompleks, selain mengakibatkan enam belas ribu warga Kabupaten Sumedang yang terdampak, bencana ekologi yang menyebabkan hilangnya sekitar 1 juta lahan hijau produktif, ancaman pengangguran massif, puluhan situs kebudayaan Sunda sejak era abad ke-8 hingga Kerajaan Pajajaran terancam ditenggelamkan. Proyek multinasional tersebut menyisakan persoalan yang belum terselesaikan hingga detik peluncuran penggenangan yang rencananya akan dibuka oleh Presiden Jokowi akhir Agustus 2015
  2. ^ Tempo melansir laporan bahwa anggaran pembebasan lahan proyek waduk Jatigede berpotensi membengkak dari Rp741,57 miliar lantaran masih ada 12.000 pengaduan masyarakat yang diajukan kepada pemerintah. Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera) Mudjiadi mengatakan pembayaran dana relokasi dan santunan kepada 10.924 kepala keluarga yang lahannya digunakan untuk proyek waduk Jatigede siap dicairkan mulai 26 Juni 2015. [2]

Referensi[sunting | sunting sumber]

  1. ^ Hafizd Multi Ahmad (Kamis, 30/07/2015 13:02 WIB). "Jatigede: Cerita Panjang Persoalan Pembebasan Lahan". CNN Indonesia. Diakses tanggal 19 September 2015. 
  2. ^ "Anggaran Pembebasan Lahan Proyek Waduk Jatigede Membengkak". bisnis.tempo.co. Jum'at, 19 Juni 2015 12:55 WIB.